Agak menyebalkan karena belakangan ini aku sungguh sial. Kedua hape dan tab ku rusak bersamaan, menyisakan hape jadul yang sudah 5 tahun ini alih fungsi jadi mp4 . Lucu deh, hape dan tab yang rusak baru 5 dan 2 tahun di pakai sementara yang jadi mp4 sudah 8 tahun gak ada masalah =_='. Barang jaman dulu memang beda kualitasnya. Hidup nokia C5! Ululululul! #ketularan

Udah lah, unek2 author yang ngak waras ini ngak usah kalian perdulikan. Mumpung aku ada waktu mari kita liat aja chapter 2 dari cerita ngawur buatan Rin yang makin gaje! SEMUA SIAP DI TEMPAT! #akukangenmegatoaku

Kru : SIAP!

Rin : MULAI!

KHR not mine, but this story is my idea!

Interest? Please read!

Doesn't? please click back!

.

.

.

.

"Operasi matanya bisa dilakukan dua minggu lagi setelah hasil tes keseluruhan keluar." ujar dokter yang menangani sang raven.

"Lakukan saja apa yang diperlukan." ujar Byakuran singkat. Sang dokter pun mengangguk maklum karena Primo Gesso memang terkenal tak mau pusing untuk urusan yang tidak disukainya. Tanpa menunggu lama sang dokter permisi untuk kembali ke rumah sakit untuk menghubungi rekannya yang seorang ahli saraf mata.

.

.

.

"..." Byakuran bertopang dagu menatap kedua kristal ungu selama ini dia bawa. Beberapa saat lalu dia merasakan kehadiran seseorang yang dia pikir adalah salah satu dari sepupunya. Hanya beberapa detik, sehingga belum sempat dia melacak keberadaan mereka. Dia juga tak merasakan apapun setelahnya, tak ada tanda kedatangan siapapun. "Apa cuma sekadar lewat?"

"Apanya?" tanya Shouichi yang mendengar gumaman Byakuran.

"Burung lewat." jawab sang albino asal sehingga temannya makin bingung. "Nee...Shou-chan."

"Hm?" memilih mengacuhkan, pemegang mare ring element matahari pun menyesap teh hitam yang dikirim Hibari dari Cina.

"Kau lebih suka perempuan atau laki-laki?" Bruosh! Byakuran hamil? Mana mungkin, jadi hanya satu yang terlintas di otak jenius Shouichi. Siapa sangka Byakuran bisa mikir soal perasaan macam itu? "Kenapa kau kaget?"

"Soalnya kau kan...tidak pernah punya pacar-"

"Bukan berarti aku tak tertarik. Jawab dulu pertanyaanku!"

"...perempuan. Aku masih waras."

"Paling kau takut jadi uke." goda Byakuran yang membuatnya mendapat deathglare yg 'rare' dari Shouichi "Ngomong-ngomong...kapan kerjaan ini habis sih?" orb amethyst menatap absurb semua dokumen yang menumpuk di sekitarnya. 'Pengen bikin ubi bakar pake tuh semua dokumen' tapi itu cuma akan menambah kerjaannya saja. "Aku bosan..."

"Baiklah, kita istirahat sampai jam 5 sore." Shouichi menyerah melihat tampang 'mau mati bosan' dari Bossnya, meski dia juga mengakui dirinya sendiri kurang tidur karena kerjaan numpuk.

"Aku mau jalan-jalan di halaman."

Byakuran melangkahkan kakinya keluar ruang kerjanya sambil melakukan perenggangan ringan untuk otot leher dan tangannya yang kaku. Orb Amethyst-nya menyapu tiap jengkal koridor yang dilewatinya hingga matanya teralihkan pada sebuah pintu kamar yang terbuka perlahan. Senyum kecil muncul di wajahnya, dia tahu siapa yang ada di kamar itu dan sengaja memperkecil suara yang ditimbulkan langkah kakinya ketika menghampiri sosok yang keluar dari kamar itu.

.

.

.

Di dalam kamar besar, sosok raven yang mungil terasa makin kecil karena dirinya merasa tak berguna karena matanya tak bisa melihat. Bahkan untuk mandi, berpakaian dan ke toilet pun dia harus dibantu oleh 2 orang kakak -maid- yang menjaganya sejak dia membuka mata.

"Aku ingin keluar kamar..." desahnya. Dia tahu letak pintu keluar karena secara tak langsung telah menghitung luas ruangan dan letak benda di dalamnya. Terus terang dia terkejut karena kamar ini sama besarnya dengan apartement yang disewanya. Orang super kaya, itu yang muncul dipikirannya begitu sadar siapa yang menolong sekaligus pelaku tabrakan yang membuatnya buta "Kedua kakak itu kemana ya? Apa mereka kira aku belum bangun?"

Perlahan kakinya melangkah ke pintu kamarnya, tangannya terulur ke depan untuk menghindari menabrak apapun yang mungkin dia sentuh tanpa sengaja. Akhirnya tangannya menyentuh gagang pintu dan perlahan menariknya hingga terbuka. Kemarin dia sempat dituntun keluar kamar untuk sekedar berkeliling hingga keluar ke halaman membuatnya sadar ukuran rumah ini memang luar biasa besar. Mungkin sama besarnya dengan istana presiden di negaranya. Kepalanya menengok keluar dari pintu, berusaha menajamkan telinga untuk mendengar apapun yang bergerak di sekitanya.

"Kemana semua orang?" keluhnya "Aku mau ke halaman." mengingat arah yang harus ditujunya, sang raven melangkah tanpa tahu di depannya kini ada seseorang yang tersenyum geli karena melihatnya melangkah menyusuri tembok dan menabrak vas besar yang jadi hiasan ruangan. Langkahnya terhenti karena tembok yang disusurinya telah habis. Kini dia mengingat harus berpindah arah lain karena tangga untuk menuju lantai pertama ada di seberang ujung tembok yang disusurinya. Sayangnya dia meleset beberapa langkah sehingga tak menemukan ujung pegangan tangga dan nyaris terjun bebas dari ujung 21 anak tangga di hadapannya. Orang yang sejak tadi mengawasinya pun segera menarik tubuh kecilnya sebelum celaka lagi.

"Sebaiknya kamu panggil seseorang jika ingin keluar kamar, nona cilik."

"T-tuan Byakuran?!" tentunya dia kaget tangan kekar sang pemilik rumah menariknya dengan kuat.

"Kau mau terjun bebas dari tangga?"

"Eh? Tidak! Saya cuma mau ke halaman!"

"...kau memang suka cari masalah. Sadar sedikit keadaanmu itu bukan untuk berkeliaran sendirian." well, Byakuran memang tidak mau masalahnya bertambah karena kecerobohan remaja mungil yang tidak bisa diam ini.

"Maaf..."

"...kamu bosan di kamar?" anak itu mengiyakan "Baiklah, aku akan membawamu." tanpa basa basi Byakuran menggendong sang raven ala bridal style dan menuruni tangga seakan tanpa beban.

"K-saya bisa jalan sendiri!"

"Lama. Malahan kamu bisa jatuh lagi kalau turun sendiri. Jadi bersikaplah manis dan diam."

"Ugh..." Byakuran tersenyum geli, anak yang digendongnya tak tahu kalau nada bicara Byakuran sengaja di tekan padahal tampangnya cengar cengir.

Setiap langkah sang primo menggema sepanjang koridor. Remaja dalam gendongannya tampak berusaha melihat sekelilingnya meski matanya tak dapat melihat. Sepintas Byakuran teringat akan dirinya sendiri di masa lalu dimana dia lah yang selalu digendong saat kelelahan oleh sepupunya. 'Marga...'

"Tadi anda bilang apa?"

"Huh?"

"Barusan bilang sesuatu?"

"Hum...kamu lebih berat dari yang terlihat." celetuk iseng membuat sang raven merona malu.

"Kalau berat turukan saja!" pekiknya panik.

"H-hey, aku cuma bercanda! Jangan meronta begitu!"

"Turunkan!"

"Sudah dekat, jadi jangan membuatku melemparmu."

"Hiii! Ampun!"

.

.

.

Byakuran menurunkan sang Raven di bawah naungan pohon maple. Tanpa disadarinya sayapnya keluar dengan sendirinya ketika menghirup udara awal musim dingin. Pemuda itu sama sekali tak merasa dingin, remaja bersurai raven pun tampaknya tak peduli dengan suhu udara yang cukup dingin. Keduanya tampak menikmati hembusan angin dan keheningan hingga sang Primo Gesso menyadari ada flame yang familiar mendekati mereka.

"Apa yang akan kamu lakukan padanya?" suara tajam membuat pemilik surai putih menoleh. "Mainan baru?"

"Jangan merusak imageku di depan anak-an-AWCH!" sebuah tendangan mendarat di tulang kering kaki kanan Byakuran. "Kyouya-kun, jangan main kasar dong!" hei, kau bicara dengan The Almighty Hibari, mana dia mau nurut #author didepak

"Aku dengar kau hampir membunuh orang. Tsunayoshi bilang pada Shouichi untuk memotong jatah cemilanmu."

"KENAPA DIA MENGHUKUMKU SEKEJAM ITU?!"

"Jangan tanya aku."

"Pasti kamu sendiri yang suruh Shouichi!" Hibari Kyouya menyeringai menyeramkan.

"Uhm..." perhatian keduanya teralihkan pada sang raven yang terlupakan. Tentu saja remaja itu tak tahu dengan siapa sang raven, tapi dari nada bicaranya sepertinya cukup akrab. Hibari mengerdikkan bahunya seakan bertanya 'siapa?'

"Ah, Kyouya-kun. Dia anak yang...ku...tabrak." lidahnya terasa kelu karena harus mengakui kesalahannya di depan orang yang paling menyebalkan baginya.

"Lalu kau memungutnya?" suer, Byakuran sangat ingin menonjok Hibari jika saja dia bukan ally Vongola."Kau sungguh sial bertemu albino ini, kecil." sindir Hibari. Tak ada respon dari Rikha membuat sang mantan prefek bertanya-tanya. Hibari mengayunkan tangannya di depan wajah gadis yang ada di samping Byakuran 'Buta dan tuli?' batinnya. Satu yang Hibari dan Byakuran lupa mereka bicara dalam bahasa Italia sehingga sang raven tak tau harus merespon apa. "Bisu juga?"

"Dia ngak ngerti bahasa Italia tau! Percuma kamu bicara padanya." Byakuran yang pertama sadar dengan bahasa yang mereka gunakan. Sudah kebiasaan aktif secara otomatis jika ada yang bertanya dengan bahasa yang memang mereka kuasai, mereka akan menjawab dengan bahasa yang sama meski lawan bicara mereka adalah beberapa orang dengan bahasa yang berbeda.

"Um. Lalu mau kau apakan dia?" tanpa peduli sang Skylark tetap tak mengubah gaya bicaranya.

"Akan dilakukan operasi penyembuhan matanya. Tentu saja aku juga harus memberinya ganti rugi."

"Diluar dugaan kamu bisa tanggung jawab."

"Woi!"

.

.

.

.

.

"Tuan Byakuran, anda ditunggu di mobil oleh Shouichi." Kikyo yang sejak tadi mencari Byakuran akhirnya menemukan Bossnya ada di dapur bersama gadis kecil yang sebulan ini menjadi penghuni sementara Gesso HQ Jepang. Keduanya sedang makan kue yang dibuatkan koki pagi tadi "Satu jam lagi kita ada undangan."

"Ah, aku hampir lupa." Byakuran segera melahap Chocholate Fudge Marsmallownya "Nanti tolong antar dia ke kamarnya." pesan Byakuran pada maid yang sedang mengecek isi ruang penyimpanan bahan makanan. "Rikha, jangan berkeliaran seenaknya." pesannya pada sang raven yang dibalas anggukan mengerti. Segera Primo Gesso meninggalkan dapur dengan Kikyo mengikutinya.

"Sibuk sekali." gumam sang raven "Pekerjaannya apa?"

"Itu..." para pekerja saling lempar pandang. Mereka dilarang mengatakan yang sebenarnya pada anak itu. "Mereka adalah pengusaha muda. Bergerak dibidang multiusaha."

"Orangtuanya tidak tinggal disini?"

"Tuan Byakuran sudah Yatim piatu sejak kecil."

"...Eh...begitu..." untungnya chef mereka memberikan jawaban yang membuat anak itu diam dan meneruskan makannya dengan perlahan karena takut menjatuhkan makanannya.

"Oh, iya, Nona yang suka menyanyi malam-malam, ya?" tanya seorang maid yang selama ini mengurusnya.

Pipi remaja itu merona "T-terkadang...jika tak bisa tidur atau bosan. Maaf kalau berisik." semua di ruangan itu mengerdipkan matanya beberapa kali melihat ekspresi malu yang membuat remaja yang mereka lihat selalu berwajah datar tampak manis dan...normal. "T-tak akan kulakukan jika mengganggu."

"Tidak, kami tak keberatan kok." Mereka saling melempar senyum geli melihat sikap salah tingkah sang raven.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Aku capek sekali!" seru Byakuran begitu sampai di kamarnya lewat tengah malam. Shouichi dan Kikyo juga lelah tapi mereka tetap harus memberitahu Byakuran untuk memeriksa dan menandatangani beberapa berkas. Maid datang mengantarkan snack tengah malam yang memang diminta oleh sang Albino tadi siang "Anak itu sudah tidur?"

"Maaf, sampai sejam lalu dia masih menolak tidur."

"Hm..., kalian istirahat saja. Aku akan memeriksanya sebelum tidur. Besok pagi-pagi kalian bisa ambil di mejaku."

Kikyo dan Shouichi saling bertukar pandang "Baiklah, sampai besok Byakuran-sama."

"Met malam."

"Jangan lupa gosok gigi!" kata Shouichi yang membuat semua orang sweat drop.

"Che..., memangnya aku anak SD?" Gerutu Byakuran ngak terima. Begini-begini dia rajin sikat gigi 3 kali sehari tau! Kalau males, paling tidak permen karet pembersih gigi lah. (Ziho : Bukannya itu author ya?)

.

.

.

.

.

Meski ingin tidur, orb amethyst milik sang albino tetap tak mau terpejam. Menyerah, akhirnya dibiarkannya kakinya sekali lagi melangkah ke kamar gadis kecil yang tampaknya memang menolak ajakan malam untuk tidur. Terdengar suara nyanyian dari dalam kamar, sebuah lagu yang sempat didengarnya ketika berkunjung ke rumah Tsuna, Still alive dari Lisa Miskovsky.

"Rikha, aku boleh masuk?" Byakuran sengaja bertanya tanpa mengetuk. Beberapa detik kemudian jawaban terdengar dengan nada ragu. "Hey nona cilik, ini sudah lewat tengah malam."

"Aku belum ngantuk, tuan."

"Ukh, bisakah berhenti memanggilku begitu?"

"...Byakuran-sama?"

"Bisa jangan pake 'sama'?"

"Hm..., banyak maunya."

"Oi, jangan jadi Hibari kedua deh!"

"Hibari?" sepertinya gadis itu lupa soal Hibari yang dia temui tadi siang. Toh sang Skylark tidak memperkenalkan dirinya.

"Oh iya, soal orangtuamu." Byakuran bisa melihat ekspresi sang raven mengeras "Aku menemukan mereka, tapi keduanya sudah bercerai. Ibu-mu sepertinya mengangkat anak."

"Mama memang tak bisa punya anak lagi setelah kecelakaan dan kehilangan bayi pertamanya. Anda juga tahu aku anak angkat kan?"

"Lalu, apa kamu akan kembali ke rumah setelah sehat?" anak itu menggeleng "Kau masih mau tinggal di Jepang?"

"Aku tak mau pulang, toh tak ada yang bisa kulakukan di sana. Setidaknya aku bisa lebih tenang di sini."

"Lebih tenang? Kamu masih dibawah umur, belum genap 14? Tak kusangka ternyata selain lompat kelas kamu juga memalsukan umur untuk kerja sambilan."

"...setidaknya aku memang anak SMA." yeah, cuma yang itu yang benar.

"Aku juga sudah menghubungi paman Iemitsu, dia akan datang beberapa hari lagi bersama istrinya."

'Matilah aku' batin sang raven tapi ada hal yang lebih mengganjal di pikirannya "... Kalian ini sebenarnya siapa?"

"Maksudmu?"

"Terlalu hebat untuk seorang pengusaha." kini sang Albino yang tercekat. Orang pada umumnya, dalam keadaan buta takkan punya kecurigaan berlebihan pada sekitarnya. Apa lagi orang awam akan beranggapan orang kaya akan bisa melakukan apa saja. "Kalian semua menyembunyikan sesuatu."

"Tidak penting kan? Toh aku tetap bertanggung jawab hingga kau sehat. Yang perlu kau tahu hanya aku bukan orang yang akan lari dari tanggung jawab." sedikit banyak Byakuran terpengaruh oleh sifat dingin Hibari yang paling sering ditemuinya jika ada urusan dengan Vongola. (ziho : Aku juga mau kayak hibari!, All: imposible!)

"...hm...terserah kalian. Terimakasih sudah merawatku. Tapi aku ini hanya buta bukan tuli atau bodoh, jadi anda tak perlu terlalu memikirkan siapa aku dan bagaimana aku hidup setelah ini."

"Kau memang mirip dengannya, menyebalkannya pun sama."

"Ngomong soal siapa sih?" Byakuran mengacuhkannya. Jam dinding kini hampir menunjukkan pukul 1 pagi, membuatnya menghela nafas berat. Kantuknya pun tak kunjung datang, sepertinya dia akan begadang mengerjakan apa yang akan dia kerjakan besok dan minta Shouichi dan Kikyo memberinya waktu tidur ekstra.

"Tidur sana!"

"...ngak."

"Keras kepala!"

"Apa bedanya memejamkan mata dengan tidak sekarang ini untukku? Kalau anda lelah, kembali saja ke kamar anda."

"..." Byakuran mengerut kening bingung, kok ada anak perempuan seperti ini. Mungkin dia tak kenal banyak gadis tapi ini pertama kali dia melihat anak perempuan yang sangat perhitungan, tertutup, keras kepala, tak perduli dengan hidupnya sendiri, jika bisa mungkin apa yang tak disukai akan dia lenyapkan. Dalam hati sang albino merasa jika anak ini mirip dengan Hibari atau... "Amerrha Khayasye..." bisiknya pada dirinya sendiri.

"Memangnya ayahmu kenapa?" sahut anak itu membuat Byakuran serasa disambar petir. Apa yang diucapkannya tadi adalah bahasa yang tak mungkin diketahui oleh manusia, setidaknya yang berasal dari dimensi ini. "Byakuran-san?"

"Kau...tidur sana!" seketika Byakuran keluar dengan membanting pintu. Anak itu jelas kaget karena suara pintu dan nada memerintah yang ditujukan padanya.

"Salahku apa? Tanya saja tak boleh." merebahkan tubuhnya dengan gusar, pikirannya melayang kemana-mana, entah bagaimana dia harus melanjutkan sekolah, mencari tempat tinggal, mengurus keterangan imigrasi dan yang terakhir adalah satu-satunya keluarganya "Mama..."

.

.

.

.

.

Sejak malam itu, keduanya tak lagi bertegur sapa, bahkan perang dingin. Byakuran menyibukkan dirinya dengan pekerjaan, itu adalah hal yang baik namun agak aneh bagi Shouichi dan Kikyo. Perduli apa, setidaknya mereka tidak usah pusing mengejar sang boss Gesso idiot itu untuk menyelesaikan pekerjaannya. Apa lagi Shouichi dipanggil ke Vongola karena Gokudera dan Hibari berulah hingga menghancurkan ruang penyimpanan kendaraan dan senjata. Walhasil para mekanik Vongola seperti Spanner, Giannini dan Shouichi harus kerja ekstra untuk membetulkan yang rusak bahkan membuat penganti yang hancur. Sang raven sendiri jadi makin pendiam, bahkan para maid tak lagi mendengar nyayian di malam hari ataupun siang hari darinya. Dia memilih menghabiskan waktu di kamar, keluar pun hanya jika para maid sengaja menyeretnya karena wajahnya yang pucat karena tak kena sinar matahari. Pada akhirnya hari operasi tiba, tak satu pun yang menunggui sang raven. Hingga waktu untuk perbannya di buka pun akan tiba, hampir 3 minggu keduanya tak pernah bertemu.

"Silahkan cemilan malamnya." Byakuran berkutat dengan tumpukan dokumen hingga larut seperti biasa "Tuan, dokter bilang perban mata anak itu akan dibuka besok." lapor maid yang menjaga tamu sementara mereka. Hanya gumaman singkat yang menjadi jawaban sebelum sang maid kembali melanjutkan tugasnya. Pena yang sejak pagi digenggamnya kini tergeletak begitu saja di meja. Jemari pucatnya mengusap wajahnya yang sama pucatnya. Desahan berat terdengar dalam ruangan sepi, diikuti suara geseran kursi kerja sang Primo Gesso.

"Marga..., apa kau bisa mendengarku?" ucapnya lirih sembari menyentuh kaca jendela yang ada di hadapannya. Beberapa detik kemudian hanya bagian kaca yang disentuhya menghitam, menampilkan sosok laki-laki bersurai kemerahan panjang agak berantakan yang tampaknya bangun dari tidurnya karena panggilan Byakuran. "Oh, kau sedang tidur."

"Tak apa Bya. Ada perlu apa?"

"Apa...ada warga yang bertahan hidup selain kita bertiga?" tanpa basa basi diutarakannya isi pikirannya yang mengganggu.

"Memang ada, tapi mereka adalah para pedagang dan rakyat biasa yang telah membuang 'bahasa ibu' dan 'energi alam' untuk bisa hidup di dunia luar. Mereka ada di luar planet sebelum perang terjadi. Jika ada keturunannya, maka sayap mereka pun akan makin memudar warnanya di setiap generasi baru. Tidak tertutup juga sayap mereka lenyap."

"Bahasa...kau yakin mereka tak menggunakannya lagi?" tanyanya dengan nada tak puas.

"Bya, semua yang menggunakan bahasa asli kita sudah musnah. Aku sudah pernah memasuki planet kita dan hanya ada rint liar, hewan dan monster yang tersisa di sana. Aku pun sempat pergi ke beberapa galaksi, planet dan dimensi yang aku rasakan ada keberadaan orang Setylon tapi mereka keturunan yang belasan bahkan puluhan generasi sejak nenek atau kakek buyut mereka meninggalkan Planet."

"Sungguh hanya kita yang tahu?"

"Jangan berputar-putar dengan pertanyaanmu itu, Pangeran Muda." nada kalem sang brunette menjadi agak menekan membuat pemilik surai albino pun menengang.

Byakuran menempelkan keningnya ke kaca, tangannya mengepal kuat "Ada yang masih hidup...bahkan tahu bahasa kita. Dia bahkan mengajarkan anak angkatnya bahasa kita."

"Kemungkinan selalu ada, seperti aku dan adikku. Kau tahu, kami terpisah karena badai di perbatasan dimensi dan waktu. Terpisah dengan perbedaan 1000tahun dari dimensiku berada hingga terjadi distorsi saat aku membawanya dengan paksa. lalu apa yang terjadi hingga ekspresi wajahmu hancur begitu?"

"Aku...hampir membunuh anaknya..." aku sang albino, tak berani menatap wajah kakaknya saat mengakuinya.

"...aku sudah ingatkan agar berhati-hati dengan semua kemungkinan. Meski aku berharap keberadaan yang aku rasakan hanya keberadaan mereka yang telah kehilangan sayapnya. Ingatan mengerikan karena perang itu pasti berat." Marga menghela nafas pelan "Kau sudah menemuinya?"

"..." tak ada jawaban dari sang albino.

"Masih ragu?" Byakuran mengangguk "Berapa usianya?"

"40."

"Kau?"

"Dalam wujud ini, 21tahun. wait, itu ngak penting!"

"Lalu?"

"BAGAIMANA AKU HARUS MENANYAKANNYA?!" teriaknya frustasi " 'Halo, apa kamu adalah orang dari galaksi lain?' atau 'Apakah kamu adalah pelarian dari tempat yang sama denganku?' Memangnya segampang itu?!" jeritnya kesal. "Bagaimana aku harus menghilangkan perasaan mengganjal ini?!"

"Itu urusanmu. Jangan jadi pengecut disaat begini, kau itu mantan penjahat." JLEB! dadanya serasa ditusuk panah.

"Sialan! Tak ada hubungannya! Lagipula anaknya itu, dia sangat aneh! Dia itu tidak normal! Labil!"

"Karena itu jadi tugasmu untuk meluruskannya, anggap saja sebagai permintaan maaf. Aku harap ibu anak itu baik-baik saja menyembunyikan kekuatannya. Jika ketahuan, manusia pasti membuat mentalnya rusak karena terus-menerus menganggapnya tidak normal bahkan monster."

"Kalau itu aku belum selidiki. Sialan, merepotkan juga."

"Pangeran Muda, aku harap kau jaga bicaramu meski sekesal apapun."

"Marga, terimakasih sudah mendengarkanku!"

"Tentu saja kau harus berterimakasih. Aku sudah mendengar semua keluhan, protes bahkan mulut kotormu itu tengah malam begini, jadi aku harap kali ini aku tak harus repot membantumu. Aku punya banyak pekerjaan."

"Hehehe, maaf." Byakuran tertawa kecut. Sepertinya dia sudah membuat kesal sepupunya itu. "Qloxuz hezzuza, Maha." (Maaf merepotkanmu, kak.")

"Hum…, Meyholdzy, kozxe." (tidak masalah, gadis kecil.) Balas sang brunette sebelum bayangannya lenyap.

"Ukh….JANGAN BERHARAP!" teriak Byakuran penuh emosi. "Ukh...baiklah aku menyerah..." Byakuran segera keluar menuju kamar sang raven. Diketuknya kamar itu beberapa kali, tak ada jawaban. 'Sudah tidur?' meski hanya sebentar, dia penasaran ingin melihat sang raven. Masuk dengan sangat perlahan, didekatinya ranjang tanpa suara dan yang didapatinya adalah ranjang itu kosong. 'Ke toilet?' tapi dia bisa merasakan tak ada keberadaan siapapun di dalam sana. Korden yang tertiup angin membuatnya menoleh ke arah pintu balkon yang ternyata terbuka, dia pun menghampirinya. Dari dekat dia bisa melihat surai panjang anak itu tertiup angin "Rikha, apa yang kamu lakukan di...situ..." Orb amethyst sang albino melebar melihat keadaan sang Raven, remaja itu pun tampaknya kaget karena Byakuran tiba-tiba datang ke kamarnya setelah sekian lama mereka tak bicara. Tubuh mungil itu bersandar di pinggir balkon namun bukan itu yang membuat Byakuran kaget, nyaris kehilangan suaranya.

"Byakuran-san-"

"Kenapa..., kenapa kamu memilikinya?!"

.

.

.

.

.

TBC

Kalau kalian bertanya bahasa apa itu makaaku bilang tidak ada. Itu hanya buatanku, dan yah, di cerita asli, Marga memang membuat adik sepupunya kembali menjadi perempuan XD. Tapi itu lain urusan dengan disini.

Makasi sudah menyempatkan membaca fic abal ini. See you next time! Cao, cao!