Six Reason for Love you
.
Shingeki no Kyojin © Isayama Hajime
Six Reason for Love You © Shigeyuki Zero
.
Lagu yang nyempil di chapter ini adalah lagu 'Paper Umbrella' dari Yesung
Thanks for waiting this fict
RnR
Happy reading
Enjoy
.
.
.
16 Juni 2016
Levi memejamkan lagi matanya setelah sadar bahwa hari ini ia libur mengajar. Matanya yang masih berat tak menghalanginya untuk mulai memikirkan apa yang akan ia lakukan siang nanti. Sejauh ini memang tak ada hal spesial yang dapat Levi lakukan di waktu senggangnya, dan ia hampir lupa untuk menghibur diri dalam rutinitas mengajarnya yang terbilang padat.
Merajut asa, menghilangkan jejak perasaan yang bertautan dengan masa lalu, mencari kesibukan pikiran pada satu orang yang mampu mengalihkan kehidupannya, seakan menjadi tabu bagi Levi.
Dengan cahaya hangat yang menembus jendela kamarnya, Levi bisa mengira pukul berapa sekarang. Meski ia sadar dirinya harus mulai melakukan pekerjaan rumah, tubuhnya yang berat seakan memberontak untuk bangkit dari tempat tidur. Bagaikan burung kenari yang yang menolak untuk lepas dari kandangnya, mengurung diri dalam terbakar cahaya.
Dalam hening ruangan yang berukuran 3,5 x 4 meter itu seolah menjadi saksi setiap pergerakan Levi yang mulai gelisah dalam posisinya, menandakan dirinya harus segera bangun.
(Sial.. sebentar lagi saja tak bisakah aku lanjutkan tidurku..)
Dalam hitungan menit akhirnya Levi menyerah, dengan sekali hentakan ia langsung menarik tubuhnya untuk berada dalam posisi duduk. Matanya mulai berusaha beradaptasi dengan cahaya hangat di sekitarnya. Mata yang tampak kesepian itu langsung menatap layar ponsel yang menyala di meja samping tempat tidurnya, sebuah pesan masuk.
'Kopi untuk hari ini?'
Levi yakin bertul siapa yang mengirim pesan itu, tak lain adalah wanita yang mengunjunginya ke rumah malam itu. Baiklah, ia rasa Mikasa memiliki maksud yang tidak ingin ia baca meskipun sudah bisa ia tebak. Ajakan-ajakan ringan yang tidak ingin berakhir dengan perpisahan seperti dulu.
Dengan malas Levi meraih ponselnya, membalas pesan singkat itu.
'Aku akan pergi ke suatu tempat dulu. Jika kau memang menginginkannya, mungkin nanti malam aku kosong.'
Terkirim. Dan Levi bisa tahu bahwa Mikasa langung membaca pesannya dari tulisan 'read' yang muncul dengan cepat.
'Baiklah, tak masalah. Jam 7 di kafe yang biasa.'
Levi membaca balasan itu dari layar notifikasinya, karena ia tidak mau membalas pesan itu lagi. Tidak ingin terlalu banyak berbasa-basi agar ia tidak kembali merasa nyaman dengan wanita itu.
.
oOo
.
13.46
Entah apa yang dipikirkan Levi saat membawa mobil hitamnya menuju sebuah klinik di daerah dekat pusat kota. Ia hanya sadar saat dirinya sudah berdiri di depan pintu klinik bergaya eropa klasik itu. Pakaiannya terlihat santai dan rapi, kemeja broken white yang lengannya dilipat sampai ke siku dipadukan dengan celana bahan berwarna coklat tua. Jam tangan yang terlihat mahal terpasang di tangan kirinya.
Ia tahu bahwa klinik itu sekarang tengah tutup karena di pintu itu terpampang jelas tulisan 'closed'. Tapi Levi juga tahu bahwa di dalam klinik itu ada seseorang, ia bisa mendengar suara sebuah lagu dari dalam sana. Lagu itu terdengar sangat familiar bagi Levi, familiar dengan makna lagunya. Bahasa yang dipakai dalam lagu itu bukanlah bahasa yang selalu digunakan dalam kesehariannya, itu adalah bahasa negara tetangganya.
nega tteonan geu sungan
(Saat kau pergi)
on sesangi naegeseo deungeul dollideora
(Seluruh dunia menjauhiku)
michin saramgati bogo sipeo hemaeneunde
(Aku berkeliaran seperi orang gila karena merindukanmu)
neoneun jigeum eodini
(Dimana kau?)
Tanpa berpikir untuk mundur dari langkahnya yang sudah sampai sini, Levi langsung membuka pintu dihadapannya. Ia bisa melihat ruangan resepsionis seperti yang pernah ia lihat di klinik-klinik lain. Dan tak jauh dari meja resepsionis yang Levi lihat, ada sebuah sofa panjang yang ia yakini digunakan untuk pasien menunggu. Di sofa itu ada seorang wanita yang tengah duduk dengan pandangan kosongnya, wanita yang memberikan kartu nama dari klinik ini, Petra Ral.
seotureuge saranghan geoscheoreom
(Sama seperti aku yang mencintaimu dengan buruk)
heeojimkkaji tto seotulleoseo mianhae
(Maaf perpisahan ini juga berakhir dengan buruk)
amugeosdo moreugo neol bonaen naraseo
(Karena aku melepasmu pergi tanpa tahu apapun)
Tidak bermaksud untuk mengendap-endap, namun Levi tetap berjalan dengan hati-hati saat sadar akan raut wajah Petra saat mendengarkan lirik demi lirik dilantunkan si penyanyi dengan lembut. Wajahnya tampak sedih.
Meski tak pernah belajar formal mengenai bahasa yang didengar Levi dalam lagu itu, ia dapat dengan mudah mengerti artinya karena saat ia kuliah dulu dirinya sempat pergi ke Korea untuk pertukaran mahasiswa. Dan Levi akui, lagu ini memang memiliki arti lain dalam hidupnya beberapa bulan lalu.
Mata karamel yang tampak kosong itu masih terbuka, namun Petra bisa menyadari ada seseorang yang berjalan mendekatinya. Petra ingin menebak, namun ia tidak mau kecewa dengan tebakannya.
Levi kini berada tepat di samping wanita itu, berdiri tanpa makna dan hanya menatapnya. Seolah larut dalam pandangan dan pendengaran, ia hanyut dengan kecantikan Petra yang ia akui saat pertama kali bertemu. Dalam waktu yang sama pun ia terhayut dengan lantunan lagu yang terdengar semakin sarat akan emosi penyanyinya, disajikan dengan apik.
onda, tteoreojinda
(Datang, berjatuhan)
nae jjijeojin haneul sairo
(Di antara langit yang robek)
han bangul. du bangul. bomnarui sonagi
(Satu tetes, dua tetes, hujan di musim semi)
neoreul geuryeoboda bulleoboda
(Aku membayangkanmu, memanggilmu)
gieogi bicheoreom naerin saebyeok
(Saat fajar turun seperti hujan)
bamsae nan geu bissoge jongiro doen usaneul sseugo issne
(Sepanjang malam, aku kehujanan di bawah payung kertas)
Petra tampak menutup matanya kali ini. Tampak menahan sesuatu agar tidak keluar dari kedua kelopak matanya. Levi membeku. Sudah begitu lama ia tidak merasa peduli dengan wanita yang menahan tangisnya. Pria itu sadar akan satu hal, ia takut terjatuh pada sosok wanita ini. Takut terjatuh jika akhirnya ia tak akan diobati akan lukanya.
Jarak Levi dengan Petra cukup dekat saat ini, cukup untuk sekedar menahan lengan bawah Levi saat pria itu mencoba untuk mundur beberapa langkah darinya. Ya, Petra menahan pria itu agar tetap tinggal. Meski ia tidak tahu siapa yang ia genggam pergelangan tangannya ini.
Levi semakin membeku di tempat. Banyak pertayaan dalam benaknya yang muncul bertubi. Dan tak satupun ada jawabannya.
"Tinggallah jika kau datang untuk menemuiku." Suara Petra akhirnya terdengar meski terasa parau. "Jika kau pergi lagi, untuk apa singgah." Lanjutnya lebih pelan.
Alis Levi berkerut, bukan karena kesal, namun berkerut untuk melembutkan rautnya yang terlihat tegang. Perkataan itu tampak menusuknya dengan baik, dan menusuk sisi lain dalam dirinya yang disebut 'masa lalu'. Seperti dirinya mengerti apa yang sudah Petra alami.
Akhirnya Levi mencoba melepaskan tangan Petra yang menahannya –dengan lembut seolah wanita itu akan pecah jika tidak disentuh dengan hati-hati. Kali kedua dirinya menyentuh kulit mulus itu.
"Aku yakin kau bukan Farlan." Petra kembali bersuara, mencoba meyakinkan diri.
"Ya, aku memang bukan orang yang kau sebut namanya tadi."
Mendengar suara yang sangat ia ingat, suara bariton yang meski terdengar dingin namun seolah mengelus pundaknya dengan lembut, Petra melembutkan wajahnya. Senyuman tipis terlihat.
"Ah.. lama tidak bertemu. Akhirnya kau datang ke klinikku."
"Kau bisa mengingatku?"
"Tentu. Aku suka suaramu."
Levi melirik sebentar jam yang ia kenakan, memastikan bahwa ia masih memiliki banyak waktu untuk bersantai.
"Maaf mengecewakanmu jika kau datang untuk berobat. Aku belum bisa membuka klinik lagi. Dan maaf juga aku tidak bisa menyuguhkan apapun untukmu disini. Setidaknya.. duduklah sejenak."
Sebelum memustuskan untuk duduk di samping Petra, Levi memerhatikan seisi ruangan. Cukup bersih menurutnya, dan tatanan perabot sesuai dengan image wanita ini. Lembut dan menenangkan.
"Levi Ackerman."
"Hm?"
"Namaku."
Petra kembali tersenyum. Ia mulai menyenderkan punggungnya di sandaran sofa. Lagu yang ia putar sudah hampir selesai. Mungkin sebentar lagi perbincangan yang lebih akrab akan terjadi.
"Aku boleh bertanya sesuatu?" Levi bertanya tepat saat musik tidak lagi terdengar di ruangan itu.
"Tentu."
"Apa kondisimu yang membuat klinik ini tutup?"
Petra tidak langsung menjawab pertanyaan itu. Ia sedikit memberi jeda sejenak. Menimbang—nimbang apa ia akan menceritakan semuanya atau tidak.
"Singkatnya iya. Dan sungguh, ini cobaan paling berat yang pernah aku alami di dunia."
Hening.
"Ini pertemuan kedua kita kan, Levi-san? Apa aku lancang jika berharap bisa bertemu denganmu lagi?"
"Tidak, aku rasa.. aku juga akan menemuimu lagi di hari lain."
Mulai ada kehangatan saat mereka bercakap. Mungkin setelahnya mereka akan sering melakukan hal ini untuk mengisi waktu senggang. Toh keduanya tampak tak memiliki hubungan spesial dengan siapapun, sejauh ini.
oOo
20.06
Levi berjalan cepat di dalam sebuah kafe yang sudah lama tak ia kunjungi. Ia hampir melupakan janjinya dengan Mikasa. Padahal tak biasanya Levi datang terlambat seperti ini, seolah seperti ada hal yang mengalihkan dunianya, mengalihkan pandangannya sampai melupakan janji yang sudah ia sanggupi saat pagi. Sebenarnya Levi tak berharap Mikasa masih berada disana. Namun alangkah lebih baik jika ia menjelaskan keteledorannya ini secara langsung.
Napasnya terengah setelah sampai di sebuah bangku yang dulu menjadi tempat favorit mereka. Dalam hitungan detik langsung menghembuskan napas lega karena Mikasa masih berada disana, dengan secangkir kopi yang sudah hampir habis.
Manik kelam Mikasa langsung menyadari keberadaan Levi disana. Dan dengan santai langsung terseyum, tak ada raut amarah sedikitpun.
"Aku kira aku saja yang datang terlambat." Ujar wanita berambut hitam itu, seperti menutupi sesuatu. Menutupi kenyataan bahwa dirinya sudah datang bahkan setengah jam sebelum jadwal yang dijanjikan.
"Kau juga baru datang?" Levi ingin meyakinkan.
"Ya."
Napas lega kembali terdengar. Kali ini Levi mendudukkan tubuh lelahnya di kursi, berhadapan dengan Mikasa. Tanpa menurunkan senyuman di bibirnya, Mikasa menggerakkan tangannya dengan anggun untuk memanggil pelayan kafe. Dan tak lama kemudian pelayan itu datang.
"Ekspreso."
Tanpa melihat menu, Levi langsung mengatakan pesanannya. Seperti sudah sangat biasa ia datang dan memesan hal yang sama. Ya, dulu. Saat dirinya masih menjalin kebahagiaan dengan Mikasa.
"Sepertinya hanya perasaanmu padaku yang berubah. Hal lain tak ada yang berubah darimu." Mikasa memulai obrolan setelah pelayan yang ia panggil pergi.
Dengan tatapan yang tampak lelah, Levi melirik wanita itu. Seakan menimbang-nimbang jawaban apa yang akan ia berikan padanya. Memilih menyenangkan wanita itu, atau membalas rasa sakit yang pernah Levi terima darinya.
"Saat tiba-tiba sesuatu hilang dalam hidup seseorang, tak ada pilihan lain selain berubah dan memikirkan hal lain yang lebih pasti."
Dengan tenang, Mikasa menyelipkan helai hitamnya ke balik telinga, nampak seperti seseorang yang Levi kenal. Levi meyakinkan dirinya sekali lagi untuk tidak terhanyut dalam pemikiran masa lalu yang sudah lama ia lepas belenggunya, tak ia sisakan setitik perasaan pun.
"Bagaimana karirmu?" Levi mencoba mengalihkan topik.
"Dugaanku yang lain, sepertinya kau masih tidak tertarik untuk membeli majalah-majalah mode. Meski ada aku di dalamnya." Jawab Mikasa menerawang.
"Itu bukan hobiku."
"Ya.. kau lebih suka buku-buku tanpa gambar, hanya berisikan tulisan membosankan tentang riset-riset terbarukan dunia ini. Padahal kau guru sastra, bukan guru sains."
"Jika aku hanya membaca buku sastra, aku akan tertinggal dengan para pendidik lain di dunia ini. Guru harus mengetahui segalanya." Kali ini Levi lebih merilekskan tubuhnya saat membalas, tampak menikmati.
Pesanan Levi datang tak lama kemudian. Keduanya sempat terdiam juga beberapa menit, seperti kehilangan fokus pembicaraan. Sampai..
"Apa kau sedang dekat dengan seseorang?"
Levi menghentikan gerakannya saat hendak membawa cangkirnya. Sedikit tersentak dengan pertanyaan Mikasa yang terkesan sangat pribadi. Setelah sudah sedikit tenang, Levi melanjutkan geraknya, menyesap kopi itu kemudian.
"Tidak terlalu dekat. Mungkin waktu yang akan menjawabnya."
Diam-diam Mikasa menghembuskan napasnya yang sempat tertahan menunggu jawaban. Antara lega dan tidak.
"Apa kau menyukainya?"
Entah mengapa pertanyaan itu begitu lancar Mikasa kemukakan, tanpa berpikir apa yang akan ia dapat dari jawaban lawan bicaranya tersebut.
"Aku belum tahu, namun aku rasa aku merasa nyaman dengannya."
Sekali lagi napasnya tercekat. Entah jawaban yang ia dapat benar atau tidak adanya, namun sejauh yang ia ingat Levi bukanlah orang yang gemar berbohong dalam pembicaraan seperti ini.
"Setidaknya aku rasa dia tidak akan meninggalkanku saat aku begitu ketergantungan padanya." Levi tiba-tiba melanjutkan, seperti bermaksud menyindir. Padahal dirinya tak pernah melakukan hal ini.
Levi tak mendapat balasan dari Mikasa. Wanita itu hanya sibuk memikirkan sesuatu, mungkin masa lalunya. Dari mimik yang dimiliki Mikasa, Levi yakin bahwa ia sangat kecewa dengan pernyataannya tadi. Tapi sungguh, untuk apa seseorang memungut apa yang sudah ia buang –dengan sadar.
Lama mereka terdiam. Seperti pasangan yang tengah dilanda masalah. Dan Levi membenci situasi ini. Entah apa yang akan membuat Mikasa bersedia untuk kembali berbincang seperti sebelumnya. Apa ia harus bertanya? Akan hal yang sudah jelas Levi ketahui dari tindakan Mikasa saat pertama kali mereka bertemu lagi setelah sekian lama?
"Kau masih mencintaiku?" akhirnya Levi bersuara, memastikan yang sudah pasti.
Mikasa tak menjawab dengan suara. Ia hanya mendongak, menatap Levi dengan sorot mata yang terkejut. Dan dari sana Levi sudah mendapat jawaban sebenarnya. Meski, sedetik kemudian Mikasa menjawab pertanyaan itu.
"Ya, aku sudah mengatakannya secara tidak langsung saat di rumahmu waktu itu."
Mimik Levi tak lagi terlihat santai. Terlukis sebuah emosi yang bergejolak tak terkira disana. Siap untuk mengorek semua pertanyaan yang dulu ia tumpuk setiap hari dalam dirinya.
"Lalu kenapa kau meninggalkanku? Kenapa kau pergi seolah tak mencintaiku lagi? Kenapa kau bahkan tak membalas semua pesanku setelah hari itu? Kenapa kau-" Levi berhenti bertanya, suaranya tercekat oleh emosi. Jika ia melanjutkan pertanyaannya, ia khawatir akan adanya bantingan meja setelah ini –olehnya.
Mikasa masih menatap lekat manik biru kelabu yang menunjukkan emosinya itu. Menyelaminya agar menemukan satu alasan agar ia bisa menggenggam lagi tangan dingin itu.
"Aku.. tidak berpikir jernih saat itu, aku memutuskannya dengan cepat karena desakan pekerjaanku yang terus membelit. Aku tidak ingin hubungan kita merenggang hanya karena aku terlalu sibuk bekerja, aku-"
"Dan kau pikir setelah melepaskanku kau akan tetap berhubungan baik denganku? Kau pikir hubungan kita tidak merenggang setelah hari itu? Kau pikir aku tidak mampu untuk bersabar menunggumu selesai bekerja? Kau pikir aku terlalu lemah untuk mengerti seberapa sibuknya kau di dunia modelmu itu? Kau terlalu meremehkanku."
"Tunggu, Levi.. sungguh, aku tidak ingin mendebatkan ini sekarang denganmu. Aku ingin memperbaiki hubungan kita yang sempat merenggang itu."
"Kau pikir aku akan membuka tanganku lebar-lebar saat kau kembali ke hadapanku? Aku yang dulu kau lepaskan begitu saja tanpa penjelasan apapun, ingin kau dapatkan lagi? Egoisnya.."
Levi tampak mengacak rambutnya dengan kasar. Jika dikatakan kesal, ya ia kesal saat ini. Untuk pertama kalinya berbicara dengan banyak penekanan seperti tadi pada Mikasa, wanita yang dulu sangat ia jaga senyumannya.
"Aku tidak ingin menyakitimu dengan perkataanku, aku sebenarnya bukan seorang pendendam yang akan membalas duri dengan duri, tapi entahlah.. aku rasa semua yang aku katakan tadi memang benar adanya." Suara Levi sedikit melunak.
"Maafkan aku.."
Mikasa tak lagi menatap manik dihadapannya. Ia tak berani sama sekali. Karena semua yang dikatakan Levi tak bisa ia sanggah dengan benar, tak ada yang bisa ia sanggah.
"Aku sudah mengatakannya waktu itu, aku tidak ingin mempercayakan hatiku pada orang yang sudah melukainya. Ku harap kau mengerti maksud dari perkataanku, aku tak mau berhubungan lagi denganmu selain sebagai teman."
Kali ini Levi sudah tak memiliki alasan lagi untuk tetap duduk tenang disana. Ia langsung bangkit dan meninggalkan Mikasa yang masih duduk membatu. Pria itu tentu menghampiri bagian kasir terlebih dahulu sebelum benar-benar meninggakan kafe itu, tak melupakan tagihan yang harus ia bayar dari apa yang mereka pesan –meski nyatanya Levi hanya menikmati ekspresonya seteguk saja.
Langkahnya langsung ia lanjutkan menuju mobil yang terparkir di halaman kafe, memasukinya kemudian. Suara bantingan pintu mobil terdengar sedikit memekakan telinga. Meski sudah siap dengan kemudi dan sabuk pengaman yang membelit tubuh tegapnya, nyatanya Levi belum menyalakan mesin mobilnya. Ia masih menunggu sesuatu. Maniknya perlahan menyusuri jendela kafe yang menampakkan semua pengunjung yang ada disana, ia mendapati Mikasa masih berada di tempat duduknya. Dengan lemah Levi menyenderkan tubuhnya, dengan mata yang masih tertuju pada Mikasa di dalam sana.
(Kenapa harus saat aku sudah berhasil menghilangkan perasaanku..)
Detik sudah berganti menit. Tinggal menunggu menit-menit yang terkumpul itu menjadi jam. Namun sebelum hal itu terjadi, apa yang Levi tunggu kini keluar dari kafe. Wanita itu berjalan dengan lemas, tanpa menyadari keberadaan Levi yang ada di dalam mobil. Levi tahu perkataannya tadi sangatlah keterlaluan, dan ia juga sangat tahu bahwa hal itu akan sangat mudah menyakiti hatinya. Hanya tinggal menunggu esok untuk mengetahui sikap yang akan diambil Mikasa padanya.
Dalam diam Levi memerhatikan wanita itu masuk ke dalam mobil putih yang terparkir berjauhan dengan mobilnya. Tentu saja wanita itu sudah berani membawa mobil sendiri kan? Tidak seperti dulu, saat Mikasa baru lancar mengemudi setelah diajari Levi selama 2 bulan.
Tak lama lampu mobil putih itu bercahaya, menandakan mesinnya sudah berjalan dan siap untuk melaju meninggalkan tempat ini. Dan dengan sabar Levi tetap memerhatikan setiap liuk mobil yang mulai bergerak itu, ingin memastikan bahwa Mikasa bisa mengendarainya dengan baik. Dan ya, mobil itu dengan mulus melaju meninggalkannya. Levi menghembuskan napas lega, emosinya sudah menguap begitu saja.
(Bodoh.. bukan hanya aku yang berubah kan?)
Dan Levi memutuskan untuk pergi juga setelah 5 menit berlalu dari perginya Mikasa. Ia perlu istirahat, untuk semua perasaan yang ia dapat hari ini, juga luapan emosi yang ia keluarkan hari ini pula. Mungkin suatu hari ia harus memilih, untuk tetap tinggal di masa lalu atau melangkah menuju masa depan.
oOo
.
-To be Continued-
