SUMMARY: Seperti yang sudah direncanakan pemerintah 2 tahun yang lalu, akhirnya Konoha Senior High School jadi dipindahkan ke Hoshiroki Gakuen. Sekolah yang paling elit dan termewah di seluruh Jepang. Hal itu membuat kehidupan seluruh murid Konoha senior high school berubah, termasuk Haruno Sakura./"Selamat datang di Hoshiroki Gakuen.."/"Kau harus merasakan hukumannya kalau kau berani mendekatinya…"/ Fanfic untuk menggantikan 'Cause Paparazzi'/ AU. NS, SI, SH/RnR?

.

.

.

.

Kakashi memandang Naruto dengan tatapan malas miliknya. Begitu juga Naruto, tubuh tegapnya ia sandarkan di sandaran kursi yang berada di depan meja kantor Kakashi.

"Sensei sudah menawarkan hal itu berkali-kali, maka aku juga akan menolaknya secara berkali-kali." Kata Naruto sambil melonggarkan dasi merahnya dari kerah seragam putihnya. Blazer biru tua miliknya ia lempar begitu saja ke sofa yang berada di sudut kantor Kakashi.

Kakashi menghela nafas, "Sebenarnya aku lelah memberimu tawaran seperti ini terus. Tapi Baa-chanmu itu –"

"Baa-chan, Baa-chan, Baa-chan! Kenapa Sensei mau mendengarkan permintaan konyolnya itu?!"Naruto menggeram kesal, "Haah…aku lebih suka Baa-chan memusatkan perhatiannya pada penuaan di wajahnya."

Kakashi mendengus geli. Jika dipikir-pikir, apa untungnya Tsunade—nenek Naruto—menginginkan cucunya menjadi aktor. Padahal cucunya sudah terkenal walau tidak menyandang status itu. Namun begitulah sifat Tsunade, menginginkan keluarga besarnya memeliki 'status' istimewa di setiap anggotanya.

Minato dan Jirayya sebagai pengusaha yang sudah terkenal dimana-mana, Kushina sebagai model dan designer terkenal, sedangkan Naruto belum menjadi apa-apa. Setidaknya begitulah pemikiran Tsunade.

Trrr…

Smartphone Naruto berdering di dalam saku celananya, dengan sedikit malas Naruto mengambilnya dan menekan tombol hijau.

"Moshi-moshi?"

'Ah, Naruto-kun. Selamat siang…Daijoubu deska?'

Naruto melihat nama yang tertera di layar sentuh smartphone miliknya. Senyum tipis menghiasi wajahnya.

"Kau…dari mana saja? Sombong sekali, tidak menghubungiku selama 4 bulan." Jawab Naruto tanpa menjawab pertanyaan tentang kabarnya.

Terdengar suara dengusan diseberang telepon, 'Kau tahu, aku sibuk mengurus karya-karya milikku di Amerika. Dan sibuk bersekolah di Whitney High School.'

"Wakatta." Naruto mengabaikan Kakashi yang memerhatikannya, 'Baiklah, kapan kau masuk Hoshiroki Gakuen, Sai?'

'Besok…'

Naruto terkejut, "Apa? Itu berarti kau sudah pulang ke Jepang, kan? Kenapa tidak mengabariku? Aku dan Sasuke 'kan bisa menjemputmu di bandara."

'Tidak perlu. Itu rahasia. Ah, kau baik sekali, Naruto-kun.'

Giliran Naruto yang mendengus, "Kau bodoh. Kita 'kan teman sejak kecil, Sai."

Sai tertawa kecil, 'Baiklah. Sampai juga besok.'

Sai menyudahi panggilan. Membuat Naruto kembali kedalam topik pembicaraan 'tidak berguna' dengan Kakashi.

Mata onyx Kakashi melihat Naruto yang terlihat sengaja mengalihkan pandangannya pada dirinya. Kakashi sudah tahu hal ini akan terulang lagi. Naruto akan terus menolak permintaannya untuk menjadi aktor. Kakashi sedikit merasa kerepotan diberikan perintah oleh pemilik Senju Corp alias Tsunade itu. Walaupun ia mantan manager aktor Uchiha Obito, bukan berarti merayu Naruto itu hal yang mudah.

Sepertinya Kakashi harus memberikan ancaman yang sudah disiapkannya dari dulu, "Dengar, Naruto."

Naruto sedikit melirik ke arah Kakashi. Tiba-tiba suasana menjadi sepi. Ditambah sekolah yang semakin sepi karena bel pulang sudah berbunyi satu jam yang lalu.

Kakashi menatap Naruto lekat-lekat, "Baa-chanmu berjanji memindahkan sekolahmu ke Suna. Atau lebih tepatnya ke asrama untuk pria. Itu kalau kau tidak mau menuruti permintaannya."

BRAK!

"NANI?! Kalau aku tidak bisa makan ramen lagi bagaimana?!" Naruto berteriak histeris.

Mendengarnya, Kakashi menahan senyumnya. Kalau menyangkut Ichiraku ramen, Naruto bisa kalah. Ayolah, kenapa ia tidak dari dulu saja memakai rencana ini?

.

.

.

WILL NOT CHANGE

MASASHI KISHIMOTO|岸本 斉

Uzumaki Naruto| Haruno Sakura

NaruSaku

Romance| Friendship

Rated T

WARNING: TYPO(S), OOC, AU, ETC…

.

.

Ino menatap jengkel Shikamaru yang berjalan dengan tenang di belakangnya. Mereka sedang melewati koridor luas yang cukup ramai. Menuju kelas mereka.

'Bisakah Shika mempercepat langkahnya dan berjalan beriringan? Huh..' pikir Ino. Perasaan sedih dan jengkel sama-sama berputar dalam dirinya.

Sakura yang berjalan lumayan jauh dari Ino dan Shika hanya diam saja. Tapi mata emeraldnya memperhatikan Kiba, Chouji, dan Shino yang sedang berbicara dua langkah didepannya.

"Sakura-chaaan!" teriak seseorang dari belakang Sakura.

Sakura menoleh dan mendapati Sara berlari kecil mendekatinya. Senyum ceria menghiasi wajah putihnya.

"Sara? Ada apa?" sahut Sakura.

Sara memegang bahu kanan Sakura sebentar, "Bagaimana? Ada perkembangan mengejar Sasuke-kun?"

Mendengar pertanyaan Sara, Sakura sedikit tersenyum kecut, "Belum. Tapi tenang saja. Dia kan masih belum dengan siapa-siapa."

"Bodoh, Perempuan clan Hyuuga itu akan mendapatkan Sasuke-kun." Jawab Sara sambil sedikit menyisir rambut merah miliknya yang tergerai di depan dadanya.

"Hey, hey, Hinata menyukai Naruto. Mengerti?"

"Lalu, apa Naruto-kun menyukai Hinata?"

Telak. Sakura terdiam.

Sara tersenyum sinis ke arah Sakura yang tiba-tiba saja terdiam.

Sakura memandang pintu kelasnya yang semakin dekat serta Ino dan Shika yang sebentar lagi akan memasuki kelas. Ia sudah merasa muak meladeni Sara disebelahnya.

Sara melambaikan tangannya kedepan wajah Sakura yang lurus memandang ke depan, "Kenapa diam, Saku—"

"Itu Sai-kuun!"

"Sai-kun bersekolah disini?!"

"Kya~ senangnya bisa satu sekolah dengan Sai-kun!"

"Itu Shimura Sai, kan? Sepupu Shimura Shion, kan?"

"Kuharap ia sekelas denganku!"

"Tidak! Denganku saja!"

Sara dan Sakura mengalihkan pandangannya menuju jendela KSHS dari ujung lorong ke ujung lainnya yang dipenuhi oleh siswi-siswi. Jendela didepan kelas mereka pun begitu.

Sara berjalan menuju kerumunan, "Aku ingin melihat Sai-kun!"

Sakura yang melihat Sara menerobos kerumunan akhirnya memutuskan untuk ikut menerobos.

Setelah mendapat tempat untuk bisa memandang pemandangan dibawah mereka, Sara dan Sakura mendapati pria berambut hitam dan bermata onyx berjalan beriringan bersama Shion, berjalan menuju pintu utama gedung Hoshiroki Gakuen.

Sara mendengus, "Hmph! Untuk apa Shion berjalan disebelah Sai-kun?"

Sakura terus memusatkan perhatiannya pada pemandangan diluar jendela.

"Mungkin Shion sebagai pemandu jalan untuknya. Lagipula, mereka 'kan sepupuan." Ujar Sakura. Dalam hati ia mengakui kalau Sai sedikit mirip dengan Sasuke-kun.

"Hah, sudahlah, aku lebih baik memehatikan Naruto-kun lebih lama dari pada harus melihatnya. Lagi pula disana ada Shion, merusak pemandangan saja." Kata Sara. Ia pun berbalik dan meniggalkan kerumunan—menuju kelasnya dan Sakura.

Kerumunan semakin berkurang ketika Sai dan Shion sudah hilang dari pandangan. Begitu juga Sakura, ia berjalan menuju kelasnya.

.

.

.

"Kita punya murid baru." Ujar Kakashi sambil meletakkan buku cetak sainsnya di atas meja guru.

Sontak, seluruh siswi bersorak.

"Hey, hey, Sakura-chan!" Ino memanggil Sakura yang duduk di sebelah mejanya. Sontak Sakura melihat kearahnya, senyum menghiasi wajahnya.

"Ya, Pig?"

Ino mencondongkan tubuhnya kesamping—meja Sakura, "Sepertinya kau senang. Karena sepertinya Sai-kun sekelas dengan kita!"

Senyum bahagia menghiasi wajah Ino, Sakura mengangguk semangat mengiyakan.

"Aku merasa sedikit beruntung, haha!" jawab Sakura.

Shikamaru yang duduk tepat dibelakang Ino hanya mendengus. Ia akui kalau ia risih mendengar pembicaraan Sakura dan Ino yang terdengar olehnya.

"Baiklah, Kau boleh masuk." Perintah Kakashi kepada seseorang yang sudah menunggu didepan pintu.

Murid baru itu pun memasuki kelas dan berdiri tepat disamping Kakashi.

"Perkenalkan dirimu." Perintah Kakashi lagi.

"Shimura Sai desu. Pindahan dari xxxxxxxxxx. Salam kenal!"

.

.

.

.

Jam menunjukan pukul setengah satu siang, dan waktunya untuk kelas 2-4 memenuhi ruang ganti di gedung olahraga. Karena mereka akan mengikuti pelajaran renang yang dipimpin Guy-sensei.

Sebagian murid ada yang sudah selelsai berganti baju dan duduk di kursi tribun. Termasuk Naruto dan Sasuke.

"Kau melihat Sai?" Tanya naruto pada Sasuke yang sekarang sudah memakai baju renang hitamnya, kacamata renangnya ia biarkan tergantung di lehernya. Sama seperti Naruto.

"Tidak tahu." Jawab Sasuke singkat.

Naruto menhela nafas, "Kau jarang memerhatikan sekeliling, sih…"

Tapi kedua mata Naruto menangkap tatapan Sasuke tertuju pada…

"Kau hanya perhatian kepada Hinata-chan." Ujar Naruto lagi.

"Tsk," Sasuke sedikit kesal.

Mata onyx Sasuke memang sedari tadi tertuju pada Hinata yang kini sudah siap dengan pakaian renang biru muda miliknya. Sasuke akui ia merasa sedikit senang apabila pelajaran berenang tiba. Yah, bisa melihat Hinata dengan…

"Jangan memandangnya terus, Sasuke"

Merasa itu bukan suara Naruto, Sasuke berbalik. Dan mendapati Sasori duduk dibelakang kursi yang ia duduki.

"Kau bisa membuatnya takut dan mengundang tatapan berbahaya dari Neji." Ujar Sasori, kini dibarengi dengan anggukan dari Gaara yang sudah duduk disebelahnya.

"Teme! Dia melihatmu!" ujar Naruto sambil menyenggol lengan Sasuke.

Sontak Sasuke melihat Hinata, namun kekecewaan yang ia dapat.

'Ia melihatmu, dobe…'

PRIIT!

Suara peluit yang sudah dikenal betul murid 2-4 itu berbunyi nyaring. Membuat beberapa murid menutup kedua lubang telinganya.

"Ayo baris! Anak-anak muda!" seru Guy-sensei.

Semua pun berbaris, termasuk Ino dan Sakura yang sudah berdiri sebelahan.

"Haah, aku benar-benar tidak terbiasa dengan pakaian renang rancangan Hoshiroki Gakuen…" bisik Sakura dengan nada mengeluh.

Sakura menarik-narik kain hitam yang menempel di tangannya, "Sama, Ino-chan. Tapi bagaimana lagi? Kita diwajibkan membeli ini waktu itu untuk memakainya saat pelajaran renang."

"Uhukk, uhukk." Batuk seseorang. Dan suara itu tepat disamping kiri Sakura.

Batuk itu memang pelan, tapi karena intruksi Guy-sensei untuk mendengar ocehannya membuat batuk itu terdengar sampai ke telinga seluruh murid disana termasuk Guy-sensei.

Guy yang mendengar itu segera melihat ke asal suara begitu juga dengan murid yang lainnya.

Mata mereka semua menangkap Hyuuga Hinata sedang menutup mulutnya dengan kedua tangannya.

"Hyuuga-san, ada apa? Kau sakit?" Tanya Guy. Sepertinya kondisi Hinata kurang baik.

"Hinata-chan, kau sepertinya kurang sehat!" ujar Shion khawatir. Kini ia yang berbaris didepan Hinata sudah berbalik dan memegang kedua bahu Hinata. Naruto, Sai, dan Sasuke yang berdiri di paling belakang ikut menatap khawatir Hinata.

Naruto yang berbaris tepat dibelakang Hinata mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi, "Sensei, izinkan aku mengantar Hinata ke UKS."

Guy yang mendengar itu hanya mengangguk. Seprtinya Hinata memang kurang sehat, terlihat dari kedua pipinya yang memerah.

Guy mengelus dagunya, "Baiklah, tolong antar Hyuuga-san ke UKS gedung olah raga. Dan dibantu dengan…" Guy mengedarkan pandangannya, "Haruno-san."

Sakura terhenyak, "Eh, aku?"

"Siapa lai yang bermarga Haruno disini, Sakura-chan?" ujar Ino.

Shion yang mendengar perintah Guy hanya cemberut. Pertama, ia tidak suka Hinata dekat dengan Naruto walau ia tahu Naruto tidak menyukai Hinata dan walaupun Hinata termasuk sahabatnya. Yah, cinta bisa membuat semuanya berubah.

"Hai' Sensei." Ujar Naruto.

"Ha-hai'.'" ujar Sakura sedikit gugup. Secara, ia tidak dekat dengan Naruto dan Hinata yang merupakan anggota dari kelompok terkenal di Hoshiroki Gakuen.

Naruto segera mengambil tangan kanan Hinata dan segera merangkulkannya di belakang lehernya. Begitu juga Sakura.

Sasuke yang melihat itu hanya memandang datar. Dalam hatinya ia sedikit tidak suka. Kenapa bukan ia yang dipilih Guy-sensei?

Melihat Naruto, Hinata, dan Sakura yang sudah menjauh membuat Guy-sensei kembali melanjutkan intruksinya.

Sakura pergi dan membuat satu barisan yang kosong. Kini disebelah Ino tidak ada siapa-siapa.

Tapi karena Sai berada dibelakang barisan kosong itu, Sai maju dan alhasil sekarang ia tepat disamping Ino.

Menyadari itu, Ino membeku.

'Ka-kami-sama…Sa-Sai-kun disebelahkuu?' batin Ino histeris.

Perlahan wajahnya ia tolehkan ke arah Sai yang sedang menatap serius ke depan.

'Tampan sekali…' batinnya lagi.

Sai yang menyadari dirinya diperhatikan oleh orang disebelahnya, akhirnya menoleh ke orang itu.

Senyum menghiasi wajah putihnya, "Hai." Sapanya singkat.

Sontak, Ino memerah, " Ha-hai…"

.

.

.

.

Naruto dan Sakura kini sedang menunggu di sofa besar yang berada disamping salah satu ranjang besar di UKS gedung olahraga. Kini mereka berdua sedang menunggu Hinata yang sedang digantikan bajunya menjadi baju UKS oleh Shizune-san dibalik tirai hijau besar di ujung ruangan itu.

Kini hanya keheningan yang menyelimuti Naruto dan Sakura. Didalam htai, Sakura merasakan kecanggungan luar biasa.

Karena Naruto tidak suka suasana seperti itu, akhirnya Naruto memberanikan diri untuk bicara.

"Bagaimana…"

Mendegar Naruto mengeluarkan suara, Sakura menoleh ke arah Naruto yang menatap ke arahnya.

Melihat Naruto sedekat itu dengan membuat Sakura sedikit…memerah? Yah, tentu karena wajah tampan khas Namikaze milik Naruto.

"Bagaimana menurutmu sekolah disini? Berhubung kau termasuk anak baru…" Naruto nelanjutkan kata-katanya.

Sakura tersenyum, "Uhm, menyenangkan. Disini…teman-temanku menjadi beragam."

Naruto hanya tersenyum tipis, kedua mata shappirenya melihat ke rambut pink Sakura yang kini sudah keluar dari penutup kepala renang. Sama seperti dirinya.

"Kau tahu," Naruto menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa, "Hanya kau anak baru yang aku ketahui namanya."

Mendengar itu, Sakura merasakan pipinya kian memerah. Segera ia menundukan kepalanya—menyembunyikan semburat merah di pipi putihnya.

"Ke-kenapa begitu?" Tanya Sakura.

"Karena…rambutmu paling mencolok. Dan kau lumayan sering menjawab soal-soal dari sensei-sensei. Padahal kau murid baru. Kuakui kau pintar."

"Ah, terima kasih…" Sakura memberanikan diri untuk menatap Naruto kembali dan tersenyum. Tidak mempedulikan sembuat merah yang masih bertahan dikedua pipinya.

Keheningan kembali menguasai mereka sepersekian detik.

"Ah, maaf lama menunggu!" Tiba-tiba Shizune muncul dari balik tirai ruang ganti seraya menuntun Hinata. Segera ia membaringkan tubuh Hinata di kasur dibantu dengan Naruto dan Sakura.

Hinata yang sudah berbaring segera menatap Naruto dan Sakura, "Terima kasih Naruto-kun, Sakura-chan."

Naruto tersenyum lebar, "Yosh!"

"Ya, semoa cepat sembuh, Hinata-chan." Balas Sakura dengan snyuman.

Shizune merogoh jas putih yang selalu dipakainya apabila di UKS. Mengeluarkan amplop berwarna putih dan memberikannya kepada Naruto.

"Naruto-kun, ini surat izin sakit Hinata-chan. Tolong berikan ke setiap sensei yang mengajar kalian."

Naruto menerima amplop itu, "Wakatta." Tidak lupa denga senyuman diwajahnya.

"Baiklah, kalau begitu aku kembali ke kolam renang dulu, Shizune-san." Izin Naruto. Begitu juga Sakura.

Shizune hanya mengangguk kecil sambil tersenyum. Dan terus memerhatikan Naruto dan sakura sampai menghilang dibalik pintu.
.

.

.

"Namikaze-san! Sakura-san! Cepat melakukan pemanasan! Kalian akan berlomba setelah Sai, Shikamaru, dan Sasori!" perintah Guy begitu kedua matanya mendapati Naruto dan Sakura sudah masuk kembali ke gedung olah raga.

"Tunggu, sensei!" ujar Naruto dan Sakura bersamaan. Mereka berlari kecil ke arah Guy yang berdiri di sisi kolam renang.

"Hm, ada apa?" Tanya Guy ketika Naruto dan Sakura sudah sampai dihadapannya.

Naruto memnyodorkan amplop putih ke arah Guy.

"Ini, surat izin dari—"

"WHOAA! AWAAS!" teriak seseorang.

BYUUR!

Kini tatapan semua orang tertuju kepada tiga orang yang terjatuh secara tiba-tiba kedalam kolam renang yang luas itu. Bahkan membuat Sai, Shikamaru, dan Gaara yang sedang berlomba menghentikan perlombaannya.

Terlihat rambut kuning, pink, dan hitam muncul ke permukaan air. Yang diketahui itu adalah Naruto, Sakura, dan…Lee.

Naruto memasang tampang datar, Sakura sedikit terengah karena air kolam renang berkaporit itu tidak sengaja terminum olehnya, dan Lee memasang wajah gugup.

Mendapatai Naruto yang memasang wajah datar padanya membuatnya takut, "Go-gomennasai, Naruto-kun! Sakura-chan! Aku tidak sengaja! Aku didorong oleh Ten—"

Omongannya terhenti saat melihat Tenten mendeathglare ria kearahnya. Lebih tepatnya pandangan Tenten menunjukan, jangan-adukan-atau-akan-kubuat-tulangmu-patah.

Yah, tadi Tenten memang mendorong Lee karena kesal. Kesal karena Lee terus-terusan mengganngunya dengan semangat muda miliknya.

Naruto memang merasa kesal kalau seperti ini. Bisa-bisanya ia terdorong ke kolam renang. Bahkan tadi dia mendorong tubuh Sakura sehingga ia menimpa Sakura saat memasuki kolam renang.

"Haah, Lee, Naruto, Sakura, cepat naik! Dan Lee, segera meminta maaf!" perintah Guy. Lalu ia berpaling melihat Sai, Shikamaru, dan Sasori yang terdiam, "Dan kalian, lanjutkan perlombaannya dari awal!"

.

.

.

.

"Sakura-chan, Kakimu benar-benar terluka. Ada lebam berwarna keunguan." Ujar Ino khawatir sambil memangku kaki kiri Sakura disampingnya. Kini tribun sudah lumayan sepi. Hanya ada Sakura, Ino, Shikamaru, Kiba, Shino, dan Chouji.

Kiba berjalan mendekati Sakura, "Kenapa kakimu bisa terluka seperti ini?"

Sakura mendongak menghadap Kiba, "A-ah, ini karena Lee mendorong aku dan Naruto kedalam kolam renang. Naruto menimpaku, saat jatuh, tulang keringku menabrak keramik kolam renang."

Ino meri ngis, "A-aw, sudahlah Forehead! Jangan ceritakan lagi! Aku ngeri membayangkannya."

Shikamaru yang duduk disebelah Ino dengan kedua mata tertutup hanya diam saja.

"Baiklah, ayo kita pulang." Ajak Shino.

"Hei, Sakura-chan bagaimana?" Tanya Choji sambil membuka bungkus keripik kentang miliiknya.

"Biar aku yang menggen—"

"Tidak usah, aku pulang belakangan pulang saja duluan." Ujar Sakura memotong perkataan Kiba.

"Tapi.." ujar Ino tak yakin.

Sakura tersenyum kea rah Ino, "Tidak apa."

Setelah membutuhkan waktu lama untuk meyakinkan teman-temannya, akhirnya teman-temannya sudah pulang duluan. Menyisakan Sakura yang sendirian di tribun dekat kolam renang.

Tanpa disadarinya, ada Naruto dan Sai yang menunggu di balik tembok ruang ganti laki-lak yang dekat kolam ronang. Sedangkan Sasuke sudah pergi ke UKS untuk menjenguk plus mengantar Hinata pulang ke mansion Hyuuga.

"Apa teman-temannya sudah pergi?" Tanya Naruto kepada Sai yang sekarang berdiri di sampingnya.

Sai mengintip keluar sebentar, dan melihat Sakura sendirian di tribun.

"Sudah."

Naruto mendengus, "Dasar, tidak kusangkan Sakura terluka. Aku akan bertanggung jawab." Ujar Naruto

"Bertanggung jawab? Tapi itu 'kan salah Lee." Jawab Sai.

Naruto mulai berjalan keluar dari balik dinding ruang ganti, "Tapi aku tetap merasa bersalah."

Sai menghela nafas, lalu mengikuti Naruto dari belakang. Senyum menghiasi wajahnya, "Baiklah…"

.

.

.

TBC~

Akhirnya chapter 2 muncul. Ah, aku minta maaf atas keterlambatan update. Saat liburan seperti ini semua keluargaku datang dari seluruh Indonesia(?) sehingga aku sibuk dan baru sempat mengetik sekarang. Dan soal Naruto menerima tawaran Kakashi untuk terkenal, jawabannya ada di chapter depan.

Oh ya sekali lagi, maaf atas Fic Cause Paparazzi yang dihapus, maaf, maaf, maaf. :"""(

Yosh! Special thanks to:

L-YunJae, .indohackz, Natsuyakiko32, OhhunnyEKA, Hiko-chan Tsuyoshi, EgaoCheryl, Elderwand48, Manguni, Legend Madara, Yuki Takiya, Tanpa Nama, NS, Bumble bee, Guest, gintama girl's, spring field linda, ahmad azman, Kagawa, Waraney, Dinda, G Dragon, Namikaze nada, Red devils!

Mind To Review?