Bleach by Tite Kubo
Lady Street Racer by RiiXHitsuHina
Maaf blakangan ini jarang update cerita.. Musim ulangan harian. BAYANGIN!
Masa' 1 minggu berturut-turut ulangan mulu? DP gila!
Chapter 2
Siapa?!
"Tok, tok, tok.. Momo, ayo bangun!" teriak seseorang dari luar kamar Momo. Ia pun kaget dan terbangun dari tidurnya.
"Eh? Ah!? Iya! Iya! Aku akan segera siap-siap ke sekolah!! Tunggu sebentar!!" teriaknya panik, tapi baru setengah bangun.
"Eh? Ke sekolah?" kata suara ibu Momo bingung. "Ini baru jam 5 sore Momo. Ayo cepat bangun dan turun ke ruang makan! Ada oleh-oleh untukmu."
"Oh.. Maaf. Kenapa ya ibu pulang sangat cepat hari ini? Pasti ada sesuatu yang penting," pikir Momo.
Ia pun turun ke ruang makan setelah selesai menyisir rambutnya yang berantakan karena baru habis bangun tidur. Didapatinya ibunya yang sedang duduk santai sambil menikmati segelas teh hangat.
"Ah, sudah sadar sepenunya Momo?" kata Ranochi sedikit mengejek.
"Ia, ia! Sudah sadar 100 % kok, Bu.." jawab Momo.
"Ok, ok. Baiklah, oh iya, ada beberapa potong buah peach untukmu. Tadi di obral di toko buah Yamada di dekat kantor ibu. Ini," ia pun menyerahkan sebuah kantong hitam berisi beberapa buah peach.
Momo sangat senang, dia memang menyukai buah peach dan semangka. "Hahaha.. Terima kasih Ibu! Kamu memang paling mengerti!!"
Sambil mengamati anaknya yang sedang makan, Ranochi memulai pembicaraan. "Tadi Kira menelfonku, Momo. Mengapa tiba-tiba dia berhenti sebelum hari gajiannya? Apa sesuatu terjadi antara kamu dan Kira?" Momo mulai deg-degan. "Atau antara kamu dan motornya Kira?"
"Eh? Kira-kun berhenti kerja? Berarti tidak ada yang mengantarku ke sekolah lagi dong?" kata Momo pura-pura 'innocent'.
"Momo Hinamori, kau belum menjawab pertanyaan ibumu!" Ranochi kesal.
"Oh, iya.. Heheh.. Tidak terjadi apa-apa kok antara aku dan Kira, atau aku dan motornya Kira," jawab Momo. Ibunya mengangkat alis kananya tanda tidak percaya.
"Apa?? Jangan pasang tampang seperti itu dong, Bu! Dia kan mahasiswa, wajar kan kalau dia makin sibuk terus tidak bisa bekerja menjadi supir lagi?!" Momo mulai kesal.
"Lalu kenapa harus sehari sebelum hari gajiannya?"
"Kebetulan! Atau ada sesuatu yang lain mungkin?! Aku tidak tahu!"
Akhirnya Ranochi percaya karena alasan yang dibuat Momo memang masuk akal. "Ya sudah. Jangan lupa belajar setelah makan.. Ayahmu mungkin pulang agak telat. Sedikit kerja lembur. Ibu mau mandi dulu."
"Mmm.. Hohe, hohe (Oke, oke)!!"
KRING! KRING! Terdengar suara telpon dari ruang tamu. "Oh!? Hahu hangkat (aku angkat)!!" teriak Momo. "Ya, gulp, halo, selamat malam, Keluarga Hinamori."
"Halo Momo!?" terdengar suara seorang gadis dari seberang.
"Eh?! Rukia!? Ada apa telpon malam-malam begini? Mau tanya tugas bahasa indonesia?" jawab Momo.
"Tidak, tidak. Aku hanya ingin menginformasikan, aku sudah mendapatkan MAX 6 dari pelelangan di kota sebelah!"
"Benarkah?!" Momo mulai melompat-lompat ga jelas. "Keren! Keren! Eh? Tapi pasti mahal ya kalau pelelangan?"
"Lumayan. Tapi akhirnya bisa kudapatkan! Sebenarnya kakakku sih… MAX 6 juga baru dipasarkan 2 buah lho! Yang satunya lagi didapatkan .. Aku lupa. Tapi dia menawar sampai 2 kali lebih tinggi dari kakakku."
"Wow.. Dasar keluarga-keluarga kolongmerat!"
"Ya sudah, besok akan aku informasikan lebih jauh lagi! Jangan lupa besok ngumpulin tugas bahasa! Ja."
"Ja."
Dan telpon pun ditutup. Wajah Momo sendiri sudah menunjukkan kegembiraan yang amat sangat sampai-sampai neneknya heran. "Ada apa Momo? Kok senang sekali?"
Momo hanya bisa berbohong. "Hohohoho! Tidak ada sesuatu yang spesial kok! Heheh.. Aku mau belajar di kamarku dulu ya! Jangan ganngu, nek.."
"Siapa yang mau ganggu? Sudah, belajar sana biar pintar!!" balas neneknya tidak kalah semangat.
Bukannya belajar, Momo malah melompat-lompat tidak karuan di kamarnya. "MAX 6! MAX 6 sudah didapatkan!!!!" bisiknya masih sambil melompat-lompat.
"Momo!" tiba-tiba ibunya masuk ke kamarnya. Ia pun langsung berhenti lompat-lompat dan jadi patung batu.
"I, iya? Ada apa bu?!"
Ranochi sendiri heran, sepertinya tadi anaknya sedang melompat-lompat. "Ah, tidak, itu… Berhubung Kira sudah berhenti, aku merekrut supir baru. Dia anak tetangga ibu yang baru pindah 2 minggu lalu itu."
"Oh, yang 5 blok di samping kita itu?" Momo balas bertanya.
"Iya. Dia juga katanya sekolah di SMP Desa Puteri juga. Jadi sekaligus kan? Sudah, lanjutkan saja melompat-lompatmu itu!", ejek Ranochi dan otomatis Momo sweatdrop.
"Hehe.. Ternyata lompat-lompatku tadi kelihatan.."
-LSR-
Pagi hari telah datang, ayam berkokok seperti biasa, begitu pula kegiatan Keluarga Hinamori berjalan seperti biasa. Tapi sepertinya, jam alarm Momo tidak berdering seperti biasa yang mengakibatkan Momo bangun tidak seperti biasa alias kesiangan.. (hehehhe)
"Nenek!!!Aku pergi dulu ya!!!" pamit Momo pada Remu.
"Iya! Ah, Momo, kamu lupa bekalmu makan siangmu! Jangan seperti kemarin!" teriak Remu sambil melempar bekal makan siang Momo.
"Hup! Dapat! Makasih nek! Pergi dulu!" dan ia pun keluar dari gerbang rumahnya, tapi tidak mendapati supirnya seperti biasa. "Lha? Kok tidak ada supirku? Jangan-jangan ibu tidak jadi merekrut supir, AAAHH!!!!"
Momo terkejut saat melihat sebuah motor MAX 6 berwarna biru es dengan motif naga es terukir di body-nya. Bentuknya benar-benar persisi seperti yang dilihat Momo di majalah, hanya saja warnanya lain.
"Tidak! Tidak! Jangan bilang ini MAX 6!!! INI MAX 6 SUNGGUHAN!!! Kok bisa ada di depan rumahku ya?" pikir Momo sambil menaiki motor itu.
Karena ia tidak melihat ada seorang pun yang sepertinya memilikinya, ia kembali berpikir. "Jangan-jangan ini hadiah dari Rukia. Tidak mungkin! Aku tidak diberikan kuncinya! Apa mungkin ini berkah Tuhan ya??"
Tiba-tiba, ada seorang pemuda berambut perak-putih, bermata emerald, dan berseragam SMP Desa Puteri yang mirip dengan seragam Momo muncul dari dalam rumah Momo. "Apa yang kaulakukan!? Itu motorku! Turun dari sana!"
"Hah? Motormu? Oh, maaf. Aku hanya terlalu senang melihat MAX 6!" Momo pun turun dari motor itu. "Tapi, SIAPA KAMU? APA YANG KAMU LAKUKAN DI DALAM RUMAHKU TADI?!"
"Berisik! Aku hanya pinjam toilet tadi! Masa' kamu tidak lihat aku di dalam ruang tamumu tadi?"
Momo membeku. Sepertinya ada yang salah dengan penglihatannya karena buru-buru tadi. "Ow. Maaf. Aku tidak lihat..", wajahnya memerah karena malu. "Tapi kamu siapa?"
Pemuda itu hanya menjawab dengan ketus. "Toushiro Hitsugaya. Supir barumu," sambil melemparkan helm Momo yang berwarna krem.
Entah terkena guna-guna apa, Momo hanya diam terpaku di samping MAX 6 karena melihat penampilan Toushiro. Rambut dan matanya memang sangat jarang ditemui, tidak heran orang bertanya-tanya dengan tampangnya itu.
Merasa terus-menerus dilihat, Toushiro berkata, "Mau pergi sekolah tidak? Sudah hampir telat nih!"
Momo pun terbangun dari lamunannya. "Ah, I, iya!"
BRUM, BRUM, Toushiro men-'start' motornya. Momo merasa ada yang salah karena ia biasanya yang membonceng orang, bukan dibonceng.
"Sudah siap belum?" tanya Toushiro.
Momo ragu bertanya, tapi akhirnya keluar juga dari mulutnya. "Eem, Toushiro, boleh aku yang mengendarai motornya tidak?"
Toushiro hanya tertawa. "Hahahah! Perempuan sepertimu?? Mengendarai MAX 6? TIDAK MUNGKIN! Kalu pun ada seorang perempuan yang boleh mengendarai motor ini, itu hanya satu orang!"
"Apa!? Memangnya kenapa tidak boleh!? Lagipula, apa kurangku dibandingkan perempuan yang boleh yang kamu bicarakan?!" teriak Momo kesal.
"Aku tidak tahu. Tapi sudah jelas, perempuan itu adalah Ratu Jalanan, ketua Kelompok Lady Street Racer."
Momo terdiam. "Lady apa?"
"Lady Street Racer!!!! Sudahlah, kamu juga mana mungkin mengenalnya. Anak rumahan sepertimu tidak mungkin mengenalnya."
"Terserah!!! Yang penting sekarang tidak boleh terlambat dulu!!!! Gas motornya!!!!" perintah Momo yang masih kesal.
Padahal dalam hati, Momo berpikir. "Kita lihat nanti siapa yang anak rumahan!"
BRUUUMM!!!! MAX 6 pun melaju kencang. Saking kencangnya sampai-sampai Momo harus memeluk pinggang Toushiro supaya tidak terjatuh kebelakang. Persisi seperti saat Momo yang mengendarai motor dengan Kira sebagai yang dibonceng.
"Sial. Sekarang aku mengerti perasaan Kira-kun kalau kubonceng."
-LSR-
Setelah 15 menit perjalanan di atas MAX 6 yang menakutkan, mereka berdua pun sampai di SMP Desa Puteri dengan selamat.
"Terima kasih, Toushiro," kata Momo dengan nada yang dingin dan ketus.
"Sama-sama. Jangan lupa sisr dulu rambutmu yang sudah seperti afro itu!" ejek Toushiro sambil menahan ketawa.
"Tidak perlu diingatkan juga aku sudah tahu!" dan Momo pun berlalu dari tempat parkir motor.
-LSR-
"Was, wes, wos.. Was, wes, wos…" terdengar suara berisik dari lingkungan kelas 9. Mereka sedang membicarakan seorang murid baru berambut putih perak dan matanya bermata emerald. Meskipun keberadaannya belum diumumkan oleh pihak sekolah karena belum saatnya kelas dimulai, tapi tetap saja para murid sudah mempertanyakannya terlebih dahulu.
"Eh, eh, Moo-moo, itu siapa sih?!" tanya Rangiku pada Momo. Ia sudah terbiasa memanggil Momo seperti menirukan suara sapi.
"Anak baru. Namanya Toushiro Hitsugaya," jelas Momo.
""Hee!!! Hebat! Moo-moo sudah tahu namanya!! Tadi sempat kenalan ya? Tapi tampangnya dia sepertinya tidak bersahabat!"
"Biasa saja. Dia supirku yang baru. Kira-kun sudah berhenti."
"Ooo.. Begitu. Ah, itu dia Rukia-chan!! Selamat pagi Rukia! Sini! Duduk di depan kami!" teriak Rangiku sambil melambaikan tangannya ke arah Rukia.
"Ah, iya, Rangiku, Momo, selamat pagi," ia pun duduk di kursi di depan Momo dan Rangiku. "Siapa itu? Yang rambutnya berwarna putih? Anak baru ya?"
"Iya! Iya! Dan ternyata, anak itu supir barunya Moo-moo! Namanya Toushiro Hitsugaya!" jelas Rangiku penuh semangat.
"Hoo.. Berarti Kira sudah berhenti ya? Oh iya! Aku harus mencari Tatsuki! Aku belum bilang padanya kalau aku sudah mendapatkan MAX 6!" kata Rukia yang sudah mau pergi ke kelas sebelah.
"Iya. Sayang sekali ya, aku tidak bisa membantumu, Rukia. Kalau dijual di toko-toko, bukan di pelelangan, aku dan Inoue pasti bisa menurunkan harganya sedikit…"
Tapi ternyata Rangiku bicara sendiri. "Mm.. Rangiku, Rukia sudah pergi tuh.." kata Momo dengan wajah yang menahan tawa.
-LSR-
"Heh, heh! Cepat kembali ke tempat duduk kalian!" kata Pak Urahara, guru Fisika, pada murid-murid yang masih berjalan-jalan di koridor. "Bel masuk sudah berbunyi!"
Dan saat semua murid kelas 9.A sudah duduk tenang, Pak Urahara berkata, "pagi anak-anak! Hari ini seperti yang sudah kalian lihat, kita kedatangan murid baru. Yang merasa murid baru, tolong maju ke depan."
Lalu Toushiro pun maju ke depan kelas, memulai perkenalan yang bagi Momo sangantlah membosankan tapi sangat menarik bagi gadis-gadis lainnya. Satu-satunya hal yang menarik bagi Momo tentang Toushiro adalah motornya.
"Kenapa laki-laki aneh itu bisa mendapatkan MAX 6 padahal baru 2 buah saja yang dipasarkan?! Jangan-jangan dia itu orang yang menawar lebih tinggi daripada Rukia di pelelangan di kota sebelah lagi!? Kalau memang begitu, kenapa di menjadi supir?! Kenapa,"
PLANK! Lemparan kapur mendarat tepat di atas kepala Momo yang sedang melamun, "Momo Hinamori, tolong perhatikan saat aku sedang menjelaskan!"
"Ya ampun, ternyata sudah masuk ke pelajaran toh. Iya, iya.. Baik, Pak," jawab Momo santai tapi agak jengkel.
"Sedang melamun apa? Toushiro ya?" ledek Urahara. Sementara seisi kelas pun tertawa, kecuali beberapa anak perempuan yang cemburu.
"Si, siapa yang lamunin dia!? Kurang kerjaan, Pak!"
"Hoo.. Mukamu merah! Jangan-jangan benar ya? Ya sudah, ya sudah. Kembali ke pelajaran!"
-LSR-
Saat istirahat…
"Moo-moo, Moo-moo, aku tadi lihat wajahmu merah karena digoda Pak Urahara!" ledek Rangiku pada Momo.
"Iiih!!! Harus berapa kali kukatakan itu tidak benar!" balas Momo.
"Terserah, benar atau tidak benar. Yang penting, sekarang kita harus memikirkan cara mendaftar ke perlombaan selanjutnya," timpal Tatsuki.
"Ya. Benar, benar. MAX 6-nya pasti sudah menunggu untuk digunakan, Momo," tambah Rukia yang sedang makan bentonya.
"Ah, iya. Oh, ya Rukia, kira-kira, siapa yang mendapatkan MAX 6 yang satunya?" tanya Momo penasaran.
"Eh? Aku tidak tahu. Yang ikut pelelangan itu sebenarnya kakakku, Hisana dan Byakuya suaminya. Jadi aku tidak tahu apa yang terjadi di sana. Tapi kalau kamu mau tahu, aku bisa tanyakan ke kakakku," jawab Rukia ringan.
"Tidak usah. Lalu, Tatsuki, pertandingan berikutnya kapan? Di mana?"
Tatsuki mengingatsejenak lalu menjawab. "Mmm.. Kalau aku tidak salah, di jalan raya Karakura, 7 hari lagi."
"Dekat dengan gang Karakura dong. Eh?! Di jalan raya Karakura? Kan di sana banyak jurang dan lubangnya! Berbahaya!!!" teriak Inoue.
"Tenang saja, Inoue. Kalau Tatsuki sudah berhasil memodif MAX 6, aku pasti bisa memenangkan perlombaan itu dengan mudah!" kata Momo penuh semangat.
"Iya juga ya.. Maaf, aku terlalu khawatir. Tatsuki sudah mendaftarkan kita kan?"
Tatsuki pun menjawab, "Ah, itu sih tidak perlu Inoue! Kita kan punya hak istimewa."
"Iya, sih, tapi setahuku, ada kelompok dari Timur juga nanti! Katanya kemampuan mereka sama dengan kita, kelompok dari Barat, tapi harus tetap mendaftar," jelas Inoue.
"Oh, begitu. Nanti aku coba tanyakan lagi deh!"
-LSR-
CHAPTER 2
OWARI
Maaf.. Aku tidak kuat menjawab beberapa review.. Tapi terima kasih pada Yuinayuki-chan, Yumemiru Ririn, Quinsi Vinis, dan Shirayuki Haruna. Nemu di sini adalah kakak Momo... Makasih, tanda2 baca sudah diperbaiki. Semoga kesalahan jadi berkurang banyak.. C u! Zzzz...
HITSUHINA FOREVER!
