Selama masa pacaran dengan Bolt, Sarada nampak lebih sering tersenyum. Saat di rumah pun Chouchou sering mendengar senandung lagu cinta keluar dari bibir dingin Sarada. Ia bahkan menemukan puisi indah yang dikirim Sarada pada salah satu situs di internet. Chouchou jadi turut merasa miris pada sahabatnya, tidak terasa ia sekarang sedang mengusap matanya yang panas karena airmata yang membendung.
"Chou, kau kenapa? Sedang lapar?"
Bugh!
Satu tinju mematikan dari tangan Akimichi Chouchou sukses mendarat pada wajah tidak berdosa yang dipasang lawan bicaranya. Bolt yang menjadi korban, terkapar sambil memegangi hidung dan bibirnya yang berdarah. Mengingat Sarada hanya meruntuhkan kesabaran yang mati-matian Chouchou sudah bangun sesaat sebelum masuk apartemen Bolt. Chouchou berlari menuju apartemen sebelah.
"Inojin, antar aku." pinta Chouchou, sambil menarik tangan sahabat pirangnya, lalu bergegas pulang.
.
.
.
.
.
Naruto belongs to Masashi Kishimoto
AU, (katanya sih bukan) crackpair, multi-chap, typos, DLDR.
.
.
.
.
Thank You, Sarada by Biya Edogawa
Chapter 2
Himawari dan Chouchou memasuki area kampus saat sudah agak ramai. Gadis berbeda angkatan itu memilih untuk ke kantin terlebih dahulu karena tadi melewatkan acara sarapan. Apalagi Chouchou yang sejak tadi uring-uringan tidak jelas, kentara sekali ia hanya butuh makanan saat ini. Tanpa ragu, mereka langsung menuju tempat Shikadai dan Inojin yang memang tersisa dua kursi.
"Aku kesal. Tidak sarapan, tidak bawa snack. Hari terburuk yang kulewati minggu ini." Keluh Chouchou seraya menjejali mulutnya dengan roti isi stroberi.
"Memangnya kenapa kalian bisa kesiangan?" Tanya Shikadai mengganti tangan untuk bertopang dagu.
Inojin terkekeh seakan mengetahui alasan kenapa dua gadis ini bangun telat. "Dasar tidak mengaca. Kau yang membawa Hima-chan kencan sampai lupa waktu,"
Himawari menghentikan kegiatan makannya karena tersedak. Wajahnya merah padam. Reaksi Shikadai malah terlampau biasa, hanya mengedikkan bahu. "Salah sendiri lupa bawa kunci cadangan."
"Hey! Bukan sepenuhnya salahku juga, Tukang Tidur!" Chouchou menempeleng kepala nanas itu penuh nafsu. "Padahal Sarada sudah rajin mengatakan: tidak baik pulang hingga larut malam!"
Chouchou tersentak oleh ucapannya sendiri. Keempat orang di meja makan itu disekap kesunyian di tengah keramaian kantin. Tidak ada yang ingin menyinggung Sarada saat ini, masih jelas ingatan mereka saat Sarada berubah kembali menjadi seorang yang dingin. Ada rasa kekhawatiran yang hinggap pada Himawari saat ingat 'kakak'nya itu sama-sama belum sarapan tadi, dan memutuskan untuk langsung masuk kelas.
Apa Sarada-nee tidak lapar? Apa dia bisa konsentrasi belajar?
"Sarada bagaimana?" Tanya Shikadai membuyarkan tiga kepala yang sedang hanyut dalam pikiran masing-masing.
Belum sempat salah satu dari mereka menjawab pertanyaan yang diajukan Shikadai, tenggorokan mereka tercekat saat sepasang manusia berlawanan jenis menduduki meja tepat disamping mereka. Chouchou menggeram tertahan. Wajah Inojin yang biasanya terlatih untuk mengumbar senyum—meski palsu sekalipun, kini mengeras.
Itu Bolt. Tidak ada yang berbeda darinya. Rambut pirang dan iris biru terang itu masih sama—minus wajah karena wajahnya masih setia dihiasi lebam pada salah satu sisi bibirnya. Hanya saja ia bersama seorang gadis berkulit putih nan mulus dengan helaian rambut berwarna coklat gelap yang dicat pirang hanya pada bagian ujungnya.
"Ohayou, Hima." Sapa Bolt pada adiknya yang duduk tepat di sisi kirinya. Hanya terpaut beberapa meter.
"Ohayou, nii-san. Hai, Hibari-san, kau bersama kakakku?" Himawari menyapa gadis yang sedang menggamit tangan Bolt erat.
Ia adalah Hanayashiki Hibari. Gadis yang bisa dikategorikan sebagai primadona kampus. Berada satu angkatan diatas Himawari, dan berada satu angkatan dibawah Bolt, Sarada dan kawan-kawan. "Eh, hai, Hima. Aku senang Bolt-kun memilih tempat duduk yang dekat denganmu,"
Himawari tertawa dalam hati mendengar panggilan Hibari kepada kakaknya. Sarada saja tidak pernah memanggil Bolt dengan embel-embel –kun dibelakangnya. "Aku juga. Kalian sedang apa? Mengerjakan tugas bersama?"
"Iie. Aku hanya sedang main bersama Bolt-kun."
"Main, ya?" Chouchou bangkit dari kursi yang didudukinya. "Sepertinya seru. Aku boleh ikut?"
"E-eh, go… gomen, Chou-senpai. Aku sedang bersama dengan Bolt-kun saja."
Chouchou melirik sinis putra sulung Uzumaki Naruto. Hanya segitu? Perjuangan Bolt untuk Sarada hanya sebatas curhat sekali dengannya? Chouchou tidak habis pikir Bolt bisa secepat ini mendapatkan pengganti Sarada. Sementara Sarada masih dihantui rasa bersalah pada Bolt karena merasa sifat mengaturnya yang menjadi alasan hubungan mereka kandas.
Lagi, Chouchou melirik Bolt dingin. Lalu beralih menjadi tatapan geli yang ia daratkan pada Hibari. Apa memang perempuan seperti ini yang Bolt inginkan? Chouchou memang bukan tipe gadis yang suka bergosip, apalagi membicarakan keburukan orang lain. Karui—ibunya—tidak pernah mengajarkan begitu. Tapi, ayolah, siapa yang tidak tahu Hibari hanyalah bagaikan piala bergilir bagi pria-pria yang berhasil memacarinya?
"Omae no baka yaro!"
Himawari dan Inojin terpaksa bekerja sama menarik Chouchou menjauh. Aura tidak enak sudah menguar dari tubuh gadis pemakan keripik tersebut. Kalu sudah begini kantin kampus bisa beralihfungsi menjadi arena pertarungan tidak imbang antara Chouchou dan Hibari. Membayangkannya saja ngeri. Bisa-bisa wajah mulus terawat Hibari tidak berbentuk lagi.
"Selera kakakmu itu jelek sekali, Hima. Bayangkan saja, Hibari Si Piala Bergilir dia kencani! Tidak ada apa-apanya dibanding Sarada," serentetan protes meluncur dari bibir Akimichi Chouchou tanpa ada macet sedikitpun.
Shikadai yang sedari tadi adem ayem ikut menyumbang suara. "Padahal Sarada itu cantik, pintar, rajin, baik hati, yah mulutnya tajam tapi tidak mengurangi kadar imutnya—"
"Hey!"
Shikadai tersenyum penuh kemenangan melihat wajah cemberut Himawari. Segera ia menghampiri bungsu Uzumaki tersebut, dan menggenggam tangannya erat. Shikadai mendaratkan tatapan meyakinkan pada Himawari—yang masih mencoba mengabaikan godaan Chouchou dan Inojin. Cukup Sarada dan Bolt saja yang mengalami konflik serumit ini. Sampai kapanpun Shikadai tak akan membiarkan Himawari dan dirinya terjerumus pada masalah seperti ini.
"Kuantar ke kelasmu, Hime."
.
.
.
Malam ini Chouchou dan Himawari satu kamar. Setelah lelah bermain seharian bersama Shikadai dan Inojin, Chouchou terlanjur lelap di ranjang ungu milik Himawari. Himawari tidak keberatan tidur satu ranjang dengan Chouchou, tubuhnya yang memang mungil tidak akan mengurangi kenyamanannya. Pun, berbagi kamar bukan hal yang baru bagi mereka.
Tepat tengah malam, ponsel Chouchou menjeritkan melodi panggilan masuk. Gadis berkulit gelap itu hanya menilik sebentar, lalu mengabaikannya. Setelah dering ponsel Chouchou mati, kini ponsel Himawari yang berbunyi. Himawari mengerjapkan matanya setengah sadar. Setelah melihat nama yang muncul, ia langsung mengangkatnya.
"Moshi-moshi," sapa Himawari sambil mengucak matanya. "Eh?! H-ha'i aku kesana sekarang," Entah apa yang dikatakan lawan bicaranya di sebrang, ekspresi Himawari seketika berubah. Gadis bersurai indigo itu menyingkap selimutnya dengan tergesa-gesa.
"Chou-nee! Chou-nee, bangun!"
Chouchou menggeliat sebentar dan menggerutu karena tidurnya terganggu. "Ada apa, Hima?"
"Bolt-nii dan Hibari kecelakaan."
.
.
.
.
.
[to be continued]
.
.
.
.
.
.
A/N:
*Hanayashiki Hibari adalah OC, tapi namanya fully inspired dari salah satu tokoh dorama Hanazakari no Kimitachi e. Tadinya saya memberi nama OC itu Miyano Yuki, jadi kalau ada typo nama mohon dimaklumi.
*Untuk frasa bahasa Jepang, kalau salah mohon dimaafkan/dikoreksi ya
Yeah, I know… Very late update… Gomen! Maaf kalau pendek dan Sarada-nya gak muncul, yah ini fokus utamanya bukan Sarada atau Bolt tapi BoruSara's relationship itself so… Tapi nanti akan ada bonus chapter/side story kok :D Terimakasih review/fav/follow dari chapter kemarin, maaf saya gak bisa ketik satu per satu nama-nama yang sudah review/fav/follow~
Ditunggu tanggapan chapter ini di kolom review ya ^^
.
.
.
Special thanks to : Kak berithslies
.
.
hugs and kisses,
Bi.
