Pemuda berambut hitam itu terdiam. Ia menatap secara bergantian kearah mobil berwarna oranye itu dan Naruto.

"Uh... Sasuke...?"

Sang Uchiha perlahan melangkah mendekat. Ia menatap lurus kearah mata sebiru lautan itu. "Bisakah kau mengantarku ke Rumah Sakit...?"

Naruto tak merespon. Wajah sang Uchiha yang terbilang cukup dekat dengan wajahnya ini membuatnya kembali Terpesona. Bahkan ia bisa melihat dengan jelas bekas luka memar di dahi Sasuke akibat ulahnya kemarin.

"Bisa...?" Ulangnya lagi.

Naruto tersadar. Ia menggelengkan kepalanya dan mengangguk nervous. "T-tentu saja bisa! Silahkan..." Dengan gugup Naruto berjalan kearah kemudi mobil. Jantungnya tidak berhenti berdegup dengan kencang. Bahkan ia sampai membuang jus jeruk favoritnya beserta cake yang baru saja ia beli ketempat sampah.

VROOOM

Naruto mengemudikan mobilnya dengan perlahan. Ia sedang gugup bagaimana jika ia menabrak nantinya?

"Uh... Rumah Sakit yang kau maksud itu Konoha Hospital...?" Tanya Naruto.

"Hn..."

Naruto mengangguk. Jujur saja ini kali pertamanya bercengkrama dengan sang Uchiha. Gugup? Jangan ditanya lagi. Ia bahkan mengeluarkan keringat dingin saat berbicara dengan Sasuke.

'Ayolah Naruto! Jangan membuat dirimu tampak konyol! Santailah sedikit...' Batinnnya dalam hati seraya menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. "Uh... Maafkan aku soal kemarin. Aku sedang buru-buru hingga berlari dan menabrakmu..."

"Hn..."

Naruto menggaruk kepalanya. Ia tidak menyangka jika ternyata sang Uchiha bisa bersikap sangat dingin. Bahkan Naruto bisa merasakan beberapa bongkah es menari-nari seakan mengejek didalam hatinya. 'Bagaimana mungkin aku bisa tertarik kepada pemuda kaku dan dingin sepertinya...' Batinnya lagi dalam hati.

Setelah 25 menit mengemudi, Naruto memakirkan mobilnya basement sebuah rumah sakit ternama di Konoha. "Kita sudah sam– hey? Sasuke...?" Belum sempat ia membuka safetybelt miliknya, pria bermarga Uchiha ini sudah lebih dahulu meninggalkannya.

"H-hey? Sasuke tunggu!" Naruto berlari mengikuti sang Uchiha. Ia berkali-kali memanggil pria berkulit pucat itu namun Sasuke tidak menghiraukannya. Ia tetap berlari kearah sebuah kamar yang terletak di ujung koridor.

Dengan napas yang tersengal-sengal Naruto menghentikan langkahnya ditengah-tengah koridor rumah sakit yang terbilang sepi itu. 'Mengapa ia terlihat begitu gusar? Apakah keluarganya yang sakit?' Batin Naruto. Dengan perlahan ia berjalan menuju kamar yang dituju oleh Sasuke sebelumnya.

Jemari tan itu perlahan menggapai kenop pintu. Membukanya dengan perlahan. Lalu terhenti saat kedua matanya melihat pemandangan dihadapannya. Pupil biru itu membulat. Sasuke terlihat sedang memeluk sesosok pria lainnya yang cukup familiar diingatannya, ia terbaring diatas kasur. Wajahnya sangat pucat dan ia terlihat cukup kesakitan.

'Neji...?' Batinnya.

Naruto terdiam. Ia menjauhkan tangannya dari kenop pintu itu. Ada apa ini? Mengapa ia merasakan rasa aneh didalam dadanya. Dengan cepat Ia berbalik dan berjalan menyusuri koridor rumah sakit itu. Namun langkahnya terhenti saat seorang wanita berdiri dihadapannya.

"Naruto-kun?" Panggilnya.

.

Sesekali wanita berpupil lavender ini melirik kearah Naruto. Pria pirang di sampingnya terlihat tampak berbeda. Ia mencoba membuka mulutnya. Tetapi ia tahu ini bukanlah waktu yang tepat.

"Uhh... Naruto-kun? Kau mau jus? Aku akan membelikannya untukmu..." Ia mencoba mengalihkan perhatian Naruto. Tetapi pria pirang itu hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.

Hinata tersenyum kaku, ia menundukan kepalanya mengerti. Kondisi disekitarnya menjadi kaku. Bagaimana mungkin Naruto yang selalu banyak bicara kini menjadi pendiam. Apakah mungkin ia sudah mengetahuinya?

Entahlah...

Hinata hanya bisa terdiam dan menatap kearah sebuah dahan pohon yang bergoyang karena tertiup angin dihadapannya.

Cukup lama mereka terdiam disebuah taman yang terletak disamping rumah sakit ternama itu. Sampai Naruto menoleh kearahnya dan tersenyum.

"Aku harus kembali. Katakan pada Neji semoga lekas sembuh..." Ia bangkit dari atas kursi. Merogoh saku celananya dan berjalan perlahan.

"Naruto-kun..." Panggil Hinata. Membuat pria pirang itu menoleh dan menatapnya. "Kau... Sudah mengetahuinya...?" Hinata terlihat menundukan wajahnya. Ia melangkah menghampiri Naruto seraya memamerkan senyum palsunya.

"Maafkan aku. Karena menyembunyikan ini semua darimu..." Tubuhnya bergetar. Ia mencoba tidak mengeluarkan airmatanya, namun ia tak mampu. "A-aku... Hanya tidak tahu bagaimana menjelaskanya padamu..."

Biru menatap Lavender. Sesosok gadis dihadapannya terlihat begitu rapuh, ini kali keduanya Naruto melihat Hinata menahan tangisnya. Gadis manis yang mudah menangis.

Perlahan jemari tan itu menyentuh kepala Hinata. Mengusapnya dengan lembut dan perlahan. "Kau ini gampang sekali menangis. Berapa liter air mata yang kau keluarkan setiap harinya Hinata...?" Goda Naruto.

Hinata menghapus air matanya. Sejujurnya ia malu, setiap bertemu dengan Naruto ia selalu menangis.

"Kau tidak perlu menjelaskannya padaku, aku sudah tahu..." Naruto merogoh saku celananya. Mengeluarkan sebuah sapu tangan berwarna jingga miliknya dan mengusap airmata yang menetes dari mata sang Hyuuga. "Saat pulang sekolah, aku bertemu dengan Sasuke. Ia memintaku untuk mengatarnya kesebuah rumah sakit. Saat sampai di basement ia meninggalkanku dan berlari menuju kamar yang terletak diujung ruangan..." Jelas Naruto. "Aku ini bodoh sekali ya? Seharusnya sejak awal aku tidak usah mencampuri urusannya..." Naruto tersenyum dan menepuk dahinya.

"Naruto-kun..."

Naruto memutar tubuh Hinata dan mendorongnya perlahan. "Kembalilah, Neji pasti mencemaskanmu..." Ia menepuk bahu Hinata dan berlari meninggalkan wanita itu seorang diri. "Sampai jumpa besok..." Teriaknya dari kejauhan.

.

"Selamat datang, makanannya sudah siap. Naruto-Sama...?" Anko meletakan jus jeruk itu keatas meja. Matanya tidak lepas memandang kearah Naruto yang hanya terdiam tanpa membalas sapaannya. "Tumben sekali, ada apa dengan anak itu...?"

BRUGH

Ia menghempaskan tubuhnya keatas kasur. Lagi-lagi ia harus melewati hari yang cukup melelahkan. "Mengapa ini semua terjadi padaku..." Keluhnya seraya mengacak rambut pirangnya. "Aaarrgghhh..."

"Naruto-sama...?"

Tubuhnya terlonjak kaget. Ia menoleh kearah pintu dan menatap Anko yang sedang berdiri disana. "A-Anko...?" Dengan wajah yang memerah ia mendudukan dirinya dan melirik takut-takut kearah wanita yang lebih tua 13 tahun darinya ini.

Anko tersenyum. Ia melangkah mendekat dan mendudukan dirinya di sebelah Naruto. "Jika kau memiliki masalah, kau bisa mengatakannya padaku..." Ia mengacak rambut Naruto. Membuat pria bermata biru ini memprotesnya.

"Hey! Rambutku ini sudah kutata dengan rapih kau tahu?"

"Pffftt... Kau bilang itu rapih?" Anko menahan tawanya. Ia tahu jika ia tertawa Naruto akan semakin marah. "Jadi biar kutebak. Ada sesuatu hal yang mengganggumu bukan?"

Naruto menggerutu. Ia kembali menghempaskan tubuhnya keatas kasur dan berbalik memunggungi Anko. "Hn..." Gumamnya.

Anko bangkit dari atas kasur dan menunduk. "Baiklah, tunggu sebentar. Aku akan membuatkanmu beberapa snack dan kau bisa bercerita padaku..." Lalu ia melangkahkan kakinya keluar dari kamar.

Naruto terdiam. Menatap kosong kearah sebuah lampu yang terletak diatas meja. 'Sasuke dan Neji...' Batinnya dalam hati. Ia kembali menepuk dahinya. "Bodoh...bodoh...bodoh..." Ucapnya berulang kali.

Ya, ia sangat bodoh. Jika saja ia tidak mencampuri urusan Sasuke ia tidak akan patah hati secepat ini.

tok...tok...tok

Suara ketukan pintu terdengar sebelum Anko melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar. Ia membawa beberapa snack beserta jus jeruk favorit sang pirang.

Menyadari keberadaan Anko. Pria berusia 17 tahun ini menoleh dan mengambil sebuah gelas berisikan jus jeruk favoritnya.

Anko menatap kedua pupil berwarna biru itu. "Jadi katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi..."

Naruto mengedikan bahunya dan menghela napasnya. "Ada seseorang di kelasku. sejak awal bertemu, Aku sudah terpesona olehnya. Tetapi sepertinya ia tidak akan pernah melihatku..." Naruto menyesap jus jeruk miliknya. Rasa asam dan manis yang bercampur di tenggorokannya membuat sang pirang memejamkan matanya.

Anko tersenyum, ia mengusap kepala Naruto dan menatap kedua pupil berwarna biru itu. "Mengapa kau sangat yakin jika ia tidak akan pernah melihatmu...?"

Naruto meletakan gelasnya keatas meja. Ia tersenyum dan mengacak rambutnya. "Karena memang itu kenyataannya..." Ia kembali mengedikan bahunya dan tertawa. "Aku sangat lelah. Kurasa aku akan tidur sekarang..." Ucapnya pelan. Ia merebahkan tubuhnya keatas kasur dan memejamkan matanya.

Anko terdiam. Lalu ia menunduk dan tersenyum. "Baiklah, selamat tidur Naruto-sama..." Ucapnya sebelum berjalan perlahan keluar dari ruangan yang didominasi warna oranye itu.

Perlahan kelopak mata itu terbuka. Memamerkan kedua pupil biru miliknya. Tentu saja ia tidak lelah, Ia hanya berpura-pura. "Maafkan aku Anko..." Ucapnya pelan. 'Aku hanya tidak bisa mengatakan padamu jika aku menyukai seseorang laki-laki yang telah dimiliki oleh laki-laki lainnya...' Batin Naruto dalam hati.

.

Naruto meletakan tas miliknya keatas meja. Seperti biasa ia membalas sapaan dari para temannya seraya memakan roti isi yang ia bawa dari rumah.

"Selamat pagi Naruto-kun..." Sapa Hinata.

Naruto tersenyum dan mengangkat tangannya. "Hey..." Lalu ia kembali memakan roti miliknya. 'Hinata menghadiri kelas hari ini...' Batinnya dalam hati. Lalu ia melirik kearah bangku dimana biasanya seorang pemuda berambut hitam duduk disana. 'Apakah ia juga akan menghadiri kelas hari ini?'

"Selamat pagi Sasuke-kun!" Teriak salah seorang gadis di kelasnya. "Kau masih tampan seperti biasa..."

Pupil biru itu membulat. Ia menoleh kearah pintu. Menatap sesosok pria yang telah menghuni pikirannya sejak dua hari lalu.

Biru dan hitam saling menatap. Walaupun hanya sesaat, karena Naruto segera mengalihkan wajahnya dari Sasuke.

Tak lama kemudian, kelas di mulai.

Naruto melewati 8 jam penuh itu dengan fokus pada bukunya. Ia sama sekali tidak menoleh kekiri atau kekanan. Tidak di pungkiri, pria pirang ini memang menyukai sang Uchiha. Tetapi melihat bagaimana Neji dan Sasuke saling mencintai. Ia bertekad untuk melupakan sedikit demi sedikit pria bermbut hitam yang berhasil memikat hatinya itu.

"Sampai jumpa besok..." Naruto melambaikan tangannya dan melangkahkan kakinya perlahan.

Pukul 3 sore, pria pirang ini tidak berniat untuk kembali kerumah. Ia melangkahkan kakinya ke perpustakaan yang terletak di lantai paling bawah. Jujur saja ia bukanlah seseorang yang gemar membaca, hanya saja ia menginginkan waktu tenang untuk dirinya seorang.

drrrrt...drrrrrt...drrrrt

Naruto meletakan bukunya keatas meja. Ia merogoh saku celananya dan mengangkat panggilan telpon itu.

"Naruto-sama? Ini sudah pukul 8 malam. Mengapa kau tidak pulang..."

"Huh? A-apa? Ini sudah pukul 8 malam?!" Naruto mematikan ponselnya. Ia melihat kearah jam yang menggantung di sisi kanan dinding. Betapa kagetnya sang pirang. Ia bergegas membereskan seluruh buku miliknya dan memasukannya kedalam tas.

"Sial...Sial...Sial...!" Ia berteriak seraya berlari disepanjang koridor. Sekolah disaat malam hari memang sangat mengerikan. Tidak ada lampu yang menyalah, hanya beberapa di ruangan tertentu saja. Jika saja ia tahu membaca buku bisa membuatnya lupa waktu seperti ini, ia tidak akan mengulanginya lagi.

Naruto berhenti berlari. Hampir saja ia terpleset saat menginjak genangan air. "Hujan?!" Teriaknya. "Brengsek! Apakah hari ini bisa bertambah menjadi lebih buruk lagi?!"

Ia menutupi kepalanya dengan tas miliknya. Dengan cepat ia berlari meninggalkan bangunan sekolah yang menurutnya sangat mengerikan itu.

BLAM

"Hah... Hah... Hah..." Dengan napas tersengal Naruto melemaskan tubuhnya diatas jok mobil. Hujan membuat bajunya basah kuyup. Ia melempar tas miliknya kesembarang tempat. Dengan tergesa-gesa ia merogoh saku celananya dan menghidupkan mobil miliknya. Jika saja ia lebih lama berada di sekolah ini, mungkin saja ia akan melihat sesosok hantu.

"WHOAAAAAA!"

Naruto mengehentikan mobilnya saat lampu mobil miliknya menyorot sesosok mahluk yang berdiri tepat dihadapannya.

Perlahan mahluk itu mendekat. Membuat jantung Naruto seakan copot saat itu juga. "JANGAN MENDEKAT! BRENGSEK! JANGAN MENDEKAT! KAU HANTU TULI! KUKATAN JANGAN MENDEKAT...!"

BLAM

"Ck, Dobe. Hentikan ocehanmu..."

'Eh...? Suara ini...?' Batinnya. Naruto membuka matanya perlahan. Dengan takut-takut ia menoleh kearah samping. "SASUKE...?!"

Pria berkulit pucat itu menoleh. Rambut dan pakaiannya basah kuyup, dan bibirnya sedikit membiru. "Apa yang kau tunggu? Nyalahkan mobilnya..." Perintahnya.

Naruto menatapnya bingung. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali dan menggaruk kepalanya yang basah. "Kau benar Sasuke kan...?" Jemarinya menyentuh pipi pucat itu.

Dingin.

Sudah berapa lama pria ini berdiri dibawah hujan? Apa yang ia lakukan?

Sasuke menepis tangan Naruto. "Ck, cepatlah nyalahkan mobilnya. Kau membuatku mati kedinginan..."

Naruto mengangguk dan menyalahkan mobilnya. Ia tidak tahu dimana rumah Sasuke dan pria berambut hitam disebelahnya ini juga tidak memberikan alamat rumahnya, jadi ia berpikir untuk membawanya kerumahnya saja.

"Selamat datang Na–" Anko terdiam. Pupilnya menatap lurus kearah pria berkulit pucat di hadapannya yang basah kuyup. 'Dimana aku pernah melihat pemuda ini...' Batin Anko.

Naruto mengerutkan alisnya. "Anko?"

"Ah... Maafkan aku!" Ia menundukan tubuhnya. Dengan tergesa ia mendorong tubuh Naruto dan Sasuke keatas tangga. "Aku akan membuatkan susu hangat untuk kalian. Rendam tubuh kalian didalam bathtub dengan air hangat. Dan aku akan membawakan handuk untuk kalian..."

Naruto mengedikan bahunya dan berjalan gontai kedalam kamarnya. "Silahkan masuk..." Ucapnya mempersilahkan Sasuke.

Sasuke mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan. Cukup besar untuk ukuran sebuah kamar tidur. "Ini kamarmu?"

Naruto menaikan sebelah alisnya. Dengan malas ia membuka pakaiannya yang basah kuyup dan langsung saja membuat Sasuke salah tingkah. "Aku tidak tahu seperti apa type pakaianmu, jadi kau bisa mengambilnya sendiri dari lemariku..." Ucap Naruto seraya mengeringkan tubuhnya dan memakai pakaian miliknya. "Jika Anko bertanya. Bilang saja aku sudah mandi..." Lanjutnya lagi.

"Aku tidak menyangka kau bagian dari Uzumaki..."

Naruto tertawa nervous, ia merebahkan tubuhnya keatas kasur dan mengedikan bahunya. "Banyak yang berkata seperti itu..." Sesekali ia melirik kearah Sasuke yang memunggunginya. 'Sadarlah Naruto, ia sudah memiliki kekasih..." Ia menggelengkan kepalanya dan berbalik memunggungi sang Uchiha.

"Hn..."

Baru saja ia akan memejamkan kelopak matanya. Ia merasakan gerakan halus di atas kasur miliknya. Ia menoleh, mendapati Sasuke yang terduduk di tepi ranjang.

"Kau sudah mengetahuinya?"

Sebuah pertanyaan terlontar dari mulutnya. Sangat pelan. Tetapi Naruto masih bisa menangkapnya dengan jelas.

Sesaat Naruto terdiam. Ia tahu maksud dari pertanyaan yang di lontarkan Sasuke. "Ya..." Sahutnya pelan.

Sasuke menoleh, menatap kedua pupil berwarna biru itu. "Karena itukah kau menghindariku...?"

Naruto mengerutkan alisnya. Menatap bingung kearah Sasuke.

Sasuke tertawa. "Kau merasa jijik padaku? Karena dua pria tidak seharusnya bersama bukan...?"

Pupil biru itu menatap lurus kearah sang Uchiha. "Aku tidak pernah merasa jijik padamu. Aku hanya..." Naruto terdiam. Tidak mungkin ia mengatakan pada Sasuke jika ia mencintainya. "Aku... Hanya..."

Sasuke terdiam, ia tersenyum. Sebuah senyuman lirih yang ia berikan kepada Naruto. "Aku harus pulang..."

"Tidak. Sasuke tunggu!" Jemari tan itu menarik lengan Sang Uchiha. Membawa kepelukannya dan mencium bibir biru yang terasa amat dingin saat menyentuh bibirnya.

Sebuah ciuman lembut yang terasa amat dingin di bibirnya.

Tersadar. Naruto menjauhkan dirinya dari Sasuke, tangannya terkepal dengan sangat erat dan jantungnya berpacu dengan cepat. "Maafkan aku..." Ia berbalik dan mencoba menetralkan emosinya. Betapa bodohnya ia. Bagaimana mungkin ia bisa mencium Sasuke?

tok...tok...tok

Pintu terbuka, Anko membawa dua gelas susu hangat dan sup beserta handuk. "Siapa namamu Tuan..?"

"Sasuke..." Sahutnya. "Permisi..."

Anko menahan lengannya. "Ini sudah sangat larut, dan kau basah kuyup. Tinggalah disini, besok kau bisa memakai seragam milik Naruto-Sama bukan...?" Ia meletakan susu dan handuk itu diatas kasur. Lalu Anko menundukan tubuhnya. "Selamat malam..."

"A-apa? Anko?!" Naruto mengacak rambutnya frustasi. Bagaimana mungkin ia akan bermalam bersama sang Uchiha setelah apa yang terjadi barusan.

"Hn..." Sasuke bergumam. Ia mengambil handuk yang dibawakan oleh Anko dan berjalan menuju kamar mandi. Meninggalkan Naruto dengan wajahnya yang memucat.

'Bagaimana ini? bagaimana...?!' Batin Naruto dalam hati. Berkali-kali ia berjalan memutar di kamarnya. Jika saja tadi ia tidak mencium Sasuke, sudah pasti ia akan tidur tenang malam ini.

Mendengar suara shower dimatikan, sontak Naruto melompat keatas kasur. Memejamkan matanya dan berpura-pura tidur.

krieeeet

Suara pintu terbuka beserta langkah kaki. Membuat jantung sang pirang berdegup lebih kencang.

"Kau berpura-pura tidur setelah apa yang kau lakukan? Sangat kekanakan sekali..." Ejeknya.

Kelopak mata itu terbuka sempurna. Ia berbalik menatap Sasuke dengan penuh emosi. Namun sepertinya pemandangan didepannya cukup membuat ia susah bernapas.

Sang Uchiha berdiri menghadapanya dengan segelas susu di tangannya. Tubuhnya hanya terbalut oleh handuk dibagian bawah saja. Bahkan Naruto tidak menyangka jika tubuh sang Uchiha ternyata seramping ini.

"Mengapa kau melihatku seperti itu dobe?" Celetuk sang Uchiha seraya meletakan gelas susunya keatas meja. Membuat wajah Naruto memerah sempurna.

Naruto menggelengkan kepalanya. "Enak saja kau teme!" Ia berbalik dan kembali merebahkan tubuhnya diatas kasur. 'Sial! Mengapa aku harus melihat tubuhnya itu...!' Batin Naruto.

Tidak peduli dengan sang pirang, Sasuke mengeringkan tubuhnya dan memakai pakaian milik Naruto yang terbilang cukup besar di tubuhnya. Dengan malas ia melangkahkan kakinya mendekat kearah kasur dan merebahkan tubuhnya disana.

"Hey! Apa yang kau lakukan?!" Protes Naruto saat Sasuke tertidur disebelahnya.

"Pelankan suaramu, aku ingin tidur..."

"A-apa?! Hey! Ini kasur milikku kau tahu?!"

Sasuke menoleh, pupil hitamnya menatap lurus kearah Naruto. "Dobe, aku tidak akan melakukan apapun. Jika kau masih merasa tidak enak padaku soal ciuman tadi. Lupakan saja, aku tidak mempermasalahkannya..."

Naruto terdiam, ia tahu jika tindakannya terlihat sangat kekanakan. Ia memalingkan wajahnya dari Sasuke. Mencoba mengatur napasnya dan jantunganya yang masih berdegup kencang. "Maafkan aku..." Ucapnya pelan.

"Hn..."

Cukup lama mereka saling terdiam. Tidak ada yang mau memulai topik pembicaraan. Hanya suara air conditioner yang menemani mereka.

Naruto menoleh kearah Sasuke. "Teme..." Panggilnya. "Aku tahu ini bukan urusanku, tetapi apa yang sebenarnya terjadi pada Neji...?" Ia menatap punggung sang Uchiha. Berharap mendapat jawaban dari pertanyaan yang di lontarkannya.

"Hanya sakit biasa..." Sahutnya dingin.

Naruto terdiam, hanya sakit biasa tetapi Neji terlihat begitu kesakitan. Cukup lama kembali terdiam hingga ia menggelengkan kepalanya dan kembali menoleh kearah Sasuke. "Lalu apa yang kau lakukan sehingga membuatmu basah kuyup seperti tadi...?"

Sasuke tidak menyahut. Wajahnya memerah hingga ketelinga. "Itu bukan urusanmu..." Ucapnya.

"Oh ayolah! Kau tidak memberitahuku tetapi kau menumpang didalam mobilku kau ingat?" Kesal. Naruto kembali merebahkan tubuhnya keatas kasur.

"Ck, aku menunggumu dobe!" Sahutnya.

"A-apa...?"

"Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih karena kau mengantarku ke Rumah Sakit kemarin..." Jelasnya. "aku akan tidur, selamat malam..." Sasuke menarik selimutnya hingga menutupi leher. Membuat Naruto sedikit kesal karena sejujurnya ia masih ingin berbicara dengan sang Uchiha.

"Hey! Kau akan tidur secepat itu? Ayolah! Aku masih ingin berbicara denganmu! Jangan seperti anak kecil...!" Naruto menarik selimut tebal berwarna oranye itu. Namun bukan Sasuke namanya jika ia tidak melawan. Ia kembali menarik selimut itu.

Dan perang pun di mulai.

Sasuke melempari Naruto dengan bantal. Sedikit emosi karena ia memang mengantuk dan pemuda berambut pirang ini mengacaukan jam tidurnya.

"Ouch! Ow! T-teme...!"

Kesal, Naruto menarik bantal di tangan Sasuke. Karena ia mengerahkan seluruh tenaganya, bahkan tubuh Sasuke ikut tertarik dan berakhir didalam pelukan Naruto.

Biru dan hitam saling menatap. Jarak mereka sangat dekat. Bahkan Sasuke bisa merasakan hangatnya tubuh Naruto. Entah apa yang menghantui pikiran Naruto. Perlahan, ia mendekatkan wajahnya. Memejamkan matanya dan mencium bibir sang Uchiha.

Tanpa disadari, Sasuke mengalungkan kedua tangannya di leher Naruto. Menikmati semua permainan yang dilakukan pria pirang ini terhadapnya.

Lumatan lembut itu berubah menjadi sedikit lebih kasar. Sasuke harus merelakan seluruh rongga mulutnya dijelajahi oleh lidah hangat milik sang pirang.

"Nhh– hhh–" desah Sasuke saat jemari Naruto membelai tubuhnya. Mengirimkan sebuah sensasi aneh yang menjalar di seluruh tubuhnya.

Pupil biru itu berkilat penuh nafsu. Ia melepas pagutannya dan menjilat turun kearah leher sang Uchiha. Membuat beberapa kissmark disana. Erangan sang Uchiha membuatnya tidak bisa lagi mengontrol nafsunya.

Sasuke mencengkram rambut pirang itu saat Naruto menghisap putingnya perlahan. "Ahh– akh...d-dobe..." Bahkan ia harus menahan napas saat merasakan jari sang pirang masuk kedalam celananya dan menekan dengan lembut lubang miliknya. "Hahh– ah–!"

"Sasuke..." Bisik Naruto di telinganya. Ia menggerakan jemarinya perlahan. Membuat Sasuke mengerang saat jari Naruto berhasil mengenai sweetspotnya.

"Akh–! N-Naruto..." Kepalanya tersentak kebelakang. Napasnya tersengal, dan Jemarinya memerah karena ia mencengkram sprei itu dengan sangat erat.

Naruto menarik jarinya, ia kembali mencium bibir sang Uchiha saat memasukan kejantanannya perlahan.

"Nhh–! Mhh– hhh–!" Desah Sasuke tertahan, kejantanan Naruto yang cukup besar untuk ukuran pemuda seumurannya seakan ingin merobek lubang pantatnya. "Mhh– Akh–!" Sasuke melepaskan pagutannya dengan paksa. Salivanya menetes melalui sudut bibirnya.

"Sasuke– mmh... Nhh–!" Tidak mau menyakiti Sasuke, Naruto menggerakan pinggulnya perlahan. Dengan susah payah ia menahan hawa napsunya, erangan Sasuke membuat libidonya semakin bertambah.

Ia mencengkram pundak Naruto dengan kukunya. "Aghh– ahh–! Naruto! Khhh–" tenggorokannya terasa kering. Naruto membuatnya sama sekali tidak bisa berhenti mendesah.

Sang pirang mengertakan giginya. Ia menggerakan pinggulnya lebih cepat saat dirasakannya ia hampir mencapai puncak. "Nhh– S-Sasuke..."

"Aghh– Nhh–AKH! Naruto–Agh! A-aku hampir...!"

Naruto memejamkan matanya saat merasakan lubang itu menghimpitnya dengan erat. "Khh– Nhh– S-Sasuke...!" Ia menghentakan pinggulnya lebih dalam dan mengeluaran seluruh cairannya didalam Sang Uchiha.

"Hahh– ah–! Naruto!" Ia mengeluarkan seluruh cairannya keatas sprei dan mengenai perut Naruto. "Nhh– hhh–"

Keringat mengucur dari pelipisnya. Perlahan Naruto menarik kejantanannya, dan merebahkan dirinya tepat disebelah sang Uchiha. "S-sasuke aku..."

"Ne...ji...?" Ucap Sasuke tidak jelas sebelum matanya terpejam dan ia tertidur dengan lelap.

Pupil matanya membulat sempurna, Naruto menoleh kearah pemuda yang terlelap di sampingnya. "Neji katanya...?"

Ya, Ia memang mencintai Sasuke, pesona pemuda ini seakan merampas seluruh hatinya. Tetapi bagaimana mungkin ia bisa lupa jika Sasuke adalah kekasih Neji? Bagaimana mungkin ia bisa bertindak sebodoh ini?

Kini hatinya terasa sangat sakit dan ini semua terjadi karena ulah bodohnya. Ia tertawa lirih. "Bodoh sekali..." Ucapnya pelan seraya menepuk dahinya dengan keras. "Kau sangat bodoh Naruto..."

.

Kelopak mata itu terbuka perlahan saat merasakan gerakan halus yang berasal dari sisi kirinya. Ia menoleh menatap kearah seorang pemuda dengan seragam lusuh miliknya.

"Aku harus pergi..." Ucapnya dingin.

Sontak Naruto bangkit dari atas kasur dan menarik lengan sang Uchiha. "Sasuke tunggu..."

Naruto menelan ludahnya. Ia tahu ini semua karena kesalahannya, karena itu ia ingin meminta maaf sebelum semuanya terlambat.

"Aku..." Ucapnya pelan. "Aku..." Jantungnya berdegup kencang, Bagaimana mungkin meminta maaf bisa menjadi sesulit ini.

"Aku..."

Sasuke menoleh, menatap kedua mata berwarna biru itu dengan wajah kaku dan dingin miliknya.

"Aku..."

Naruto menggertakan giginya penuh emosi. Ia tidak bisa mengatakannya. Ia tidak bisa mengatakan kata 'maaf' kepada pemuda hadapannya ini. 'Brengsek...!' Batinnya dengan wajah yang tertunduk.

Ah...

Sudahlah...

Kini ia menyadari jika ia benar-benar mencintai sang Uchiha. Ia tidak peduli jika kini Sasuke dimiliki oleh Neji, yang ia tahu, kini Ia hanya ingin selalu berada didekatnya. Ingin melihatnya tersenyum, dan ingin memiliki seluruh hatinya walaupun mungkin tidak untuk sekarang.

Perlahan ia mengangkat wajahnya. Balik menatap kedua pupil onyx itu dengan lembut. "Aku mencintaimu Sasuke, sejak awal bertemu aku sudah jatuh cinta denganmu..." Naruto terdiam, ia menggenggam lengan Sasuke lebih erat. "Jadi... Bolehkah aku mencintaimu...?" Lanjutnya lagi dengan lirih.

Sasuke terdiam, raut wajahnya yang kaku kini menghilang tergantikan dengan raut wajah bingungnya. "A-aku harus pergi..." Dengan cepat Sasuke menarik lengannya dari genggaman tangan Naruto. Melangkah kearah pintu seraya jemarinya menggapai kenop pintu.

Namun, ia kembali menoleh sebelum memutar kenop pintu itu. "Naruto..." Panggilnya. "Asalkan kau berjanji tidak memberitahu Neji..." Ucapnya pelan sebelum meninggalkan ruangan bertema oranye itu.

"S-Sasuke...?"

.

Continued