CheolSoo Love Story

Chapter II: Jealous

Seventeen Fanfiction.

Rating T (Belum mau menjerumuskan kok)

Seungcheol x Jisoo (CheolSoo)

[!] BxB. AU. Gaje. OOC. Typos. Alur kecepetan. DLDR.

A/n: Anggaplah para cast disini memiliki umur yang tidak berbeda jauh 8") Ini juga bayanginnya CheolSoo era Adore U yak. Semoga tulisan saya yang ini tidak membingungkan /deep bow

©Lee Mico Malfoy

.

.

.

Siang ini matahari bersinar lumayan terik, tampak seorang pria ber-dimple tengah mengipasi dirinya sendiri dibawah pohon yang lumayan rindang. Choi Seungcheol -si pria tersebut- tampak sibuk melirik ke kanan dan ke kiri, seperti mencari sesuatu, atau mungkin seseorang?

"Seungcheol!" Sebuah tepukan lumayan keras pada bahunya membuat Seungcheol menoleh. Kedua iris kembarnya mendapati seorang gadis berambut ikal tengah tersenyum lebar ke arahnya.

"Kau mengagetkanku." Seungcheol nampak acuh tak acuh pada gadis disampingnya, dan kembali pada acara mari-menengok-kanan-dan-kiri-nya lagi.

"Ish! Memangnya kau tidak rindu padaku?" Gadis itu merajuk kesal.

"Tidak." Seungcheol sepertinya sedang berada dalam flat modenya, sampai-sampai..

'Dugh!'

Sebuah jitakan bersarang manis dikepalanya.

"Yak! Kenapa kau memukulku, Gayoung?!" Seungcheol mendelik ke arah Gayoung yang nampak puas telah mendaratkan 'hadiah' kecil di kepala sahabat anehnya ini.

"Siapa suruh mengabaikanku? Lagipula, apa yang kau lakukan disini? Tumben sekali jam istirahat dan kau tidak menyerbu cafe." Pria bermarga Choi tersebut mendesah karena jengah.

"Bukan urusanmu." Dan jawaban seorang Choi Seungcheol hari ini benar-benar lebih menyebalkan daripada tugas-tugas STC sir Jaerim.

"Selama seminggu aku tidak ada, apakah ada sesuatu yang membentur kepalamu atau telah meracuni otakmu, Choi? Pasti ada sesuatu yang terjadi saat aku pergi dan kau harus menceritakannya. Se-ka-rang." Gayoung menuntut. Seungcheol menghembuskan nafas beratnya. Kadang membiarkan seseorang mengetahui terlalu banyak tentang diri kita itu merepotkan juga, mungkin begitulah pemikiran seorang Choi Seungcheol saat ini.

"Tidak ada, jangan sok tau." Seungcheol mencubit pipi gadis ikal tersebut, membuat si empunya meringis kesal.

"Yak! Kau berbohong! Kalau kau mau main rahasia, aku tidak mau jadi sahabatmu lagi." Gayoung kembali merajuk, namun sayangnya nampak lucu sehingga membuat Seungcheol terkekeh.

"Oke, aku akan memberitahumu. Tapi nanti, okay? Ini rahasia besar yang hanya boleh aku dan kau yang tau." Seungcheol mendekatkan wajahnya pada Gayoung sambil berbisik pelan dengan wajah yang di buat sok serius.

"Uh, kau membuatku penasaran, sekarang saja!" Pria itu menggeleng, membuat gadis yang sedang berbicara dengannya itu ber-pout ria.

"Tidak. Aku bilang nanti, ya nanti. Tenanglah, aku pasti cerita. Aku berjanji." Seungcheol mengacak rambut ikal Gayoung. Membuat si empunya menggeram kesal, dan sayangnya hal tersebut membuat Seungcheol tertawa.

"Jisoo..?" Tawa renyah Seungcheol terhenti kala melihat seseorang yang ditunggunya sedari tadi tampak berjalan dikoridor seberang lapangan dengan dirangkul seorang pria tinggi. Dari tinggi pria tersebut, Seungcheol sudah mengetahui dia pasti salah satu Elf, matanya memicing, memastikan siapa yang berani-beraninya menyentuh aset berharga miliknya.

"Kim-Min-gyu.." Pria ber-dimple itu menggumam pelan, aura gelap mendadak muncul disekitarnya.

"Yak! Choi! Kau kenapa?" Gayoung yang sedari tadi sibuk menggerutu dan memaki Seungcheol, baru menyadari perubahan aura dari pria disampingnya ini. Hening, tak ada jawaban.

"Yak! Choi Seungcheol! Ada apa?" Seungcheol menatap tajam gadis yang baru saja menyerukan namanya dengan suara yang entah kenapa rasanya benar-benar mengganggu. Mendapat tatapan kurang mengenakan membuat nyali gadis itu sedikit ciut.

"Temui aku diperpustakaan, meja biasa jam 7 malam ini." Dan tanpa kata pamit, pria blonde tersebut beranjak dari duduknya, meninggalkan Gayoung yg kembali meneriakinya dengan umpatan-umpatan yang sama-sekali tidak didengar Seungcheol.

.

.

.

"Fokus Seungcheol!" Ini sudah kali ke empat sir Taekwoon meneriaki pria tampan dengan surai blonde itu. Gara-gara melihat Jisoo dan Mingyu berjalan ber-rangkulan di koridor tadi, fikirannya tidak bisa fokus sama-sekali.

"Istirahat 20 menit. Choi Seungcheol, tolong kau lebih berkonsentrasi setelah istirahat nanti." Seungcheol menatap pria tinggi bermata sipit dihadapannya sebentar sebelum membungkukan badannya.

"Maaf, Sir. Saya akan lebih fokus lagi."

.

.

.

"Ada apa denganmu, Cheol? Kau berlaku aneh hari ini. Kau tau? Tadi sir Taekwoon sampai meneriakimu empat kali! Bahkan kau hampir terkena pedang Vernon dua kali saat latihan tadi. Apa yang mengganggumu sebenarnya sampai kau tidak fokus begitu? Kalau begini terus, kau bisa habis jadi makan malam Krakken saat Labyrinthum Battle nanti!" Jihyun mengoceh panjang lebar dipinggir lapangan. Istirahat latihan selama 20 menit, dan sudah ia habiskan kurang lebih 7 menit untuk mengomel pada adik sepupunya ini.

"Aku tak apa noona, hanya lelah. Jangan buang waktumu untuk memperdulikanku." Jihyun memijat pelipisnya. Apa yang terjadi pada mahluk aneh penyayang ranjang ini sebenarnya?

"Bagaimana aku tidak peduli? Kau adikku. Dan kau anggota Knight. Aku tidak mau sampai ada anggota yang terluka hanya karena ia tidak fokus. Atau kau benar-benar ingin jadi makan malam krakken?" Jihyun kembali berceramah, namun nampaknya tidak terlalu didengar Seungcheol. Fikiran pria ber-dimple itu hanya tertuju pada sosok pria tinggi berkulit tan yang dengan sangat tidak sopannya, berani merangkul Jisoo-NYA.

Kali ini Tuhan sedang membenci Seungcheol sepertinya, karena tepat saat ia mengalihkan pandangan dari kakak sepupunya, retinanya mendapati pria bermarga Kim yang sejak tadi diumpatnya dalam hati tengah tertawa di koridor bersama Jisoo-NYA. Hei, senyum dan tawa Jisoo itu hanya boleh untuk seorang Choi Seungcheol!

"Yak! Choi Seungcheol! Kau tidak mendengarkanku?!" Seungcheol dipaksa untuk melirik kakak sepupunya karena terikan nyaring barusan. Oh, tidak bisakah kakak sepupunya ini diam? Moodnya benar-benar dalam kondisi tidak baik.

"Istirahat selesai. Ayo kembali latihan! Kalian harus siap untuk battle nanti." Dan kali ini ia sedikit bersyukur karena waktu istirahat berlalu lumayan cepat, setidaknya mendengar suara pedang yang beradu dengan tameng lebih baik dibanding mendengar ocehan kakak sepupunya.

.

.

.

Seungcheol berjalan gontai ke bangku pojok di perpustakaan, lengannya menenteng buku tugasnya. Hanya ditenteng ke dalam perpustakaan kok, bukan mau dikerjakan. Moodnya sedang tidak bagus untuk berhadapan dengan kode-kode dan teka-teki dari sir Jaerim.

"Maaf sedikit terlambat." Seungcheol mengambil tempat disebelah Gayoung yang tampak sedang berkutat dengan buku tentang ramuan atau ntah apalah itu, Seungcheol tidak terlalu peduli.

Gayoung menutup bukunya setelah menyelipkan tanda pada halaman yang terakhir ia baca. Iris kembarnya menatap pria blonde yang tampak seperti orang putus asa dengan sedikit khawatir. Separah apapun mood Seungcheol, ia pasti akan menampakan senyumnya jika sudah bertemu Gayoung. Tapi sekarang? Bahkan tidak seperti Choi Seungcheol yang ia kenal.

"Cheol? Apa kau sudah siap bercerita?" Gayoung bertanya dengan hati-hati, takut-takut pria dihadapannya ini malah mengeluarkan aura menyeramkannya seperti tadi. Seungcheol menatap Gayoung, kemudian menghela nafas beratnya.

"Kenapa cinta itu kadang terasa menyakitkan?" Gayoung mengernyit. Cinta? Seungcheol membicarakan cinta? Apa saat ia tidak ada, pria ini benar-benar terbentur sesuatu?

"Sakit sekali rasanya.. Melihat orang yang kau cintai berjalan berangkulan dan tertawa bersama orang lain." Gayoung menatap tak percaya pada Vampire pecinta ranjang tersebut.

"Cheol? Kau tidak sakit bukan? Kepalamu tidak terbentur kan?" Gayoung menempelkan punggung tangannya pada dahi Seungcheol, lalu mengecek kepala pria ber-dimple tersebut dengan panik.

"Yak! Aku tidak sakit. Aku serius Gayoung!"

"O-oke.. Jadi, ada apa sebenarnya? Coba ceritakan padaku semuanya." Seungcheol kembali menghela nafas beratnya.

"Apa kau tau murid pindahan baru bernama Hong Jisoo?" Gayoung mengangguk.

"Ia sekelas denganku di kelas Wizard. Kenapa?"

"Dia... Kekasihku."

"APA?! Hong Jisoo ke-hmpp." Seungcheol dengan sigap membekap mulut gadis ikal yang duduk disampingnya.

"Yak! Jangan berteriak! Kau mau semua orang mendengar?" Gayoung masih melongo. Antara percaya dan tidak. Seungcheol dan Jisoo, adalah sepasang kekasih? Oh sungguh, sahabatnya ini pasti terbentur. Ia sangat tau Seungcheol dan semua sifat modusnya pada setiap gadis atau pria cantik disekolahnya ini, dan sekarang ia bilang, ia adalah kekasih seorang Hong Jisoo? Mereka sudah menjadi teman bahkan sebelum Seungcheol memasuki sekolah ini, jadi tentu saja Gayoung kaget dengan perubahan sikap Seungcheol yang menurutnya drastis.

"Aku kira kau tidak mengenal apa itu cinta." Dan perkataan Gayoung barusan sukses membuat Seungcheol kembali mencubit pipinya.

"Ck, kau tau Kim Mingyu kan? Yang tubuhnya mirip tiang listrik itu? Apa dia memang dekat dengan Jisoo? Bukankah adik kelas kita? Tapi kenapa ia selalu menempel pada Jisoo-Ku?" Pertanyaan beruntun Seungcheol cukup membuat Gayoung terkesiap. Jisoo benar-benar hebat, ia bisa membuat sahabat gilanya ini bertambah gila lagi fikir Gayoung.

"Hei, Jawab. Aku tidak mengajakmu kemari untuk melihatmu melamun Gayoung." Seungcheol menatap Gayoung tak sabar.

"O.. Ke. Aku tau Kim Mingyu. Dia memang adik kelas. Kelas Wizard sedang ada program tutor oleh senior, jadi setiap siswa level 4, harus mengajari siswa level 3. Oleh karena itulah Mingyu selalu menempel pada Jisoo karena Jisoo bertugas sebagai tutornya." Gigi Seungcheol bergemeletuk karena kesal. Oh siapa yang dengan seenaknya memasangkan Jisoo-NYA dengan pria yang mirip tiang listrik tersebut.

"Ayo kembali ke asrama. Aku butuh tidur." Dan satu anggukan menjadi jawaban atas ajakan Seungcheol barusan. Keduanya melangkah keluar dari perpustakaan, tanpa menyadari dua pasang mata tengah memperhatikan mereka.

.

.

.

Angin malam berhembus lumayan kencang, dinginnya terasa menusuk kulit. Seungcheol menatap Gayoung yang asik melahap roti kismisnya. Ingatkan Seungcheol untuk tidak sering-sering mengajak Gayoung keluar sebelum ia makan, atau kejadiannya akan sama seperti barusan. Gayoung menariknya ke arah cafe dan memaksa mentraktirnya.

Deg!

Langkah Seungcheol terhenti ketika melihat pria tiang listrik yang sedari tadi ia sebalkan tengah mengacak rambut kekasihnya di depan pintu asrama mereka. Dan keduanya tersenyum. Oh, ingin sekali rasanya Seungcheol mendaratkan tinjunya pada wajah pria tinggi itu. Gayoung yang melihat perubahan aura Seungcheol menghentikan kegiatan mari-menikmati-roti-kismis-nya.

"Oh pertanda buruk." Gumamnya pelan.

"Ekhem, apa yang dilakukan seorang Elf didepan asrama Vampire pada malam hari?" Seungcheol menatap wajah pria yang lebih tinggi darinya itu tak bersahabat.

"Ah aku hanya mengantar Jisoo hyung pulang. Maaf, aku pamit dulu. Jisoo-hyung, sampai jumpa besok." Dan dengan wajah tanpa dosa, pria jangkung itu melenggang pergi. Menyisakan Seungcheol yang menatap seolah minta penjelasan pada Jisoo, dan Jisoo yang menatap jengah pada Seungcheol.

"H-halo Jisoo." Gayoung muncul dibelakang Seungcheol dengan cengiran canggung, yang dibalas tatapan sendu dari Jisoo.

"Halo juga, Gayoung. Aku lelah, aku masuk duluan ya? Sampai jumpa besok." Dan Seungcheol terperangah kali ini. Jisoo mengabaikannya? Sudah seminggu mereka berhubungan, dan Jisoo tidak pernah mengabaikannya sama-sekali. Oh ralat, Jisoo mengabaikannya malam ini.

"Kim Mingyu sialan.."

.

.

.

Gadis berambut ikal itu tampak kebingungan didepan pintu asrama para Elf. Melirik ke kanan dan kiri, berharap ia tidak perlu mencari objek tujuannya ke dalam.

"Gayoung noona? Mencari siapa?" Dewi fortuna sepertinya sedang berpihak pada gadis pecinta roti kismis ini.

"Mingyu! Aku mencarimu!"

.

.

.

"Cemburu? Padaku?" Pria tinggi berkulit tan itu menunjuk dirinya sendiri.

"Jisoo hyung itukan hanya tutorku." Ia menambahkan.

"Begitulah. Aku tau kalian hanya berteman, tapi Seungcheol tetap saja cemburu. Kurasa kita harus segera membuat mereka berdua bicara. Seungcheol bilang, Jisoo seperti menghindar darinya juga akhir-akhir ini. Apa kau punya ide?" Gayoung menatap Mingyu yang nampak tengah berfikir.

"Sepertinya, aku punya ide bagus." Pria tinggi itu tersenyum lebar.

.

.

.

"Halo? Yak! Apa-apaan kau menelponku malam-malam? Hah? Apa? Hotus garden? Apa yang kau lakukan disana? Ini sudah Jam 8 malam lewat. Halo? Gayoung? Halo? Yak!" Seungcheol mengumpat kesal, apa sahabatnya ini tidak lulus kelas manner? Sopan sekali menelpon orang malam-malam, lalu mematikan telpon seenaknya.

"Ck, menyusahkan." Dengan langkah malas Seungcheol mengambil mantelnya dan melangkah keluar asrama.

"Astaga, dingin sekali." Entah kenapa pria bermarga Choi ini sepertinya senang sekali menggerutu sekarang. Kalau saja Gayoung bukan sahabatnya, ia tak akan mau meninggalkan kamarnya yang nyaman hanya untuk menjemput gadis ikal yang menelponnya dan bilang 'takut kembali sendirian' ke asrama. Lagipula apa yang ia lakukan di ruangan praktek para Wizard tersebut semalam ini? Pelajaran paling lambat selesai jam 6 bukan? Ah sudahlah, masa bodoh. Yang penting ia harus segera menghampiri gadis tersebut dan menyeretnya kembali ke asrama agar ia bisa kembali bermesraan dengan ranjangnya.

"Hotus Garden." Seungcheol membaca tulisan yang tertera pada bagian depan bangunan yang berada di ujung timur asramanya tersebut. Tungkainya melangkah masuk. Satu kata untuk ruangan belajar para Wizard ini. Gelap, hanya cahaya bulan yang menjadi penerangan satu-satunya diruangan ini.

"Jisoo?" Seungcheol terkejut kala melihat pria cantik yang ia rindukan tengah berada dalam ruangan berdinding kaca tersebut sendirian. Walau hanya bisa melihat dari biasan cahaya bulan, tapi Seungcheol yakin, bahwa pria yg berdiri diselatan ruangan ini adalah Hong Jisoo, kekasihnya.

"Hyung.." Suara tersebut terdengar begitu lirih, namun terdengar sangat jelas ditelinga Seungcheol.

"Apa yang hyung lakukan disini?" Ada yang berbeda dari nada suara Jisoo malam ini. Dingin. Tidak seperti nada suara Jisoo yang biasanya, lembut dan hangat.

"Hm.. Mencari Gayoung." Seungcheol dapat melihat guratan kesedihan di wajah pria cantiknya yang ia sendiri tidak mengerti kenapa.

"Apa yang kau lakukan semalam ini disini? Kau bisa sakit."

"Menunggu Mingyu." Mingyu lagi. Sudah hilang rasanya kesabaran Seungcheol mendengar nama itu.

"Ada hubungan apa sebenarnya antara kau dan Mingyu? Kenapa kau seperti menjauhiku? Apa aku memiliki kesalahan? Jelaskan." Seungcheol berjalan mendekati Jisoo. Menatap kedua irisnya yang tampak seperti berair.

"Aku tidak ada hubungan apapun dengan Mingyu. Kami hanya sebatas senior dan junior. Aku juga tidak menjauhimu." Jisoo mengalihkan pandangannya ke arah tanaman-tanaman ajaib dalam ruangan tersebut. Enggan menatap wajah pria dihadapannya, takut-takut air mata yang ditahannya sedari kemarin menetes.

"Kalau kau tidak ada apa-apa? Kenapa kau tidak menghubungiku sama sekali? Sebegitu menyenangkannya kah bersama Mingyu hingga kau melupakanku?" Ingin rasanya Jisoo menampar wajah tampan kekasih anehnya ini yang menyimpulkan seenaknya.

"Kenapa kau diam? Aku hanya ingin tau alasanmu. Kau tau? Aku sudah seperti orang gila memikirkanmu terus-terusan dari kemarin. Kau tidak menghubungiku, tampak seperti menghindar saat aku ingin mendekat. Dan terus-terusan menempel pada pria bertubuh mirip tiang listrik itu. Kau tau? Rasanya seperti ada ribuan pisau menusuk-nusuk hatiku. Aku... Cemburu." Jisoo terperangah akan perkataan Seungcheol. Pria tampan itu nampak menunduk dengan nafas beratnya.

"Sejak kemarin aku berfikir, kesalahan apa yang sudah kuperbuat sampai kau seolah mendiamkanku. Aku kalut. Aku... Takut. Aku takut kehilangan dirimu."

"Hiks.." Seungcheol mengangkat kepalanya kala mendengar suara isakan. Jisoo menangis. Ia membuat Jisoo menangis.

"H-hei, kenapa kau menangis?" Seungcheol segera menarik Jisoo kedalam pelukannya. Lengannya mengelus punggung sempit kekasih cantiknya mencoba membuatnya tenang.

"Apa aku salah berbicara? Maafkan aku dear." Jisoo menggeleng dalam pelukan Seungcheol, masih sibuk dengan isakannya. Hening, tidak ada suara selain hembusan angin dan isakan Jisoo

"Bodoh." Jisoo membuka suara duluan.

"Seungcheol hyung bodoh. Aku tidak pernah ada apa-apa dengan Mingyu, dan aku tidak mungkin melupakanmu. Bagaimana aku bisa melupakanmu, jika aku begitu mencintaimu?" Dan untuk kedua kalinya Seungcheol terkaget malam ini.

Ditangkupnya kedua pipi pria cantiknya. Ibu jarinya bergerak menghapus air mata yang membasahi pipi Jisoo. Matanya menatap lekat manik kekasihnya.

"Katakan sekali lagi dear. Katakan bahwa kau mencintaiku." Wajah cantik itu merona.

"Aku mencintaimu, Vampire jel-hmpph.." Mata kucing itu membulat kala merasakan benda kenyal menempel pada bibirnya.

Seungcheol menciumnya! Ciuman yang lama-lama berubah menjadi lumatan dan hisapan pada bibirnya. Seungcheol memeluk pinggang Jisoo erat, sedangkan Jisoo yang mulai terbawa suasana mulai mengalungkan lengannya di leher Seungcheol.

"Nghh.. Janganh hyunghh.." Jisoo meremas rambut Seungcheol kala pria blonde itu menurunkan ciuman pada lehernya, bukan hanya mencium, tapi juga menhisapnya sehingga menimbulkan bekas keunguan disana. Sepertinya Seungcheol lupa bahwa ruang belajar para Wizard ini bukanlah kamarnya.

'Brakk! Bruk! Bruk! Bruk!'

Dan suara jatuhnya pot bunga serta langkah kaki orang yang tergesa-gesa membuat Seungcheol menghentikan kegiatan mari-mewarnai-leher-Jisoo-nya. Retinanya mendapati seorang gadis berambut ikal dan pria tinggi yang nampak berjalan, ah tidak, berlari dikoridor. Tanpa diberitahu, ia sudah tau siapa kedua orang yang sepertinya mengintip kegiatannya bersama Jisoo barusan.

"H-hyung, itu apa?"

"Bukan apa-apa, hanya suara kucing. Mengganggu memang. Ayo kembali ke asrama, kita lanjutkan yang barusan dikamarku. Bagaimana?" Seungcheol memamerkan cengiran khasnya yang membuat wajah Jisoo bertambah merona.

"Mesum!"

Fin.

Akhirnya beres 8") Absurd sekali yhaaa /nyebur ke Red Ocean/. Maafkan karena ini amat sangat gak jelas. Ide di otak saya kabur-kaburan jadi ya beginilah hasilnya.

FF ini dipersembahkan spesial teruntuk Hong Jisoo-ku tersayang. Happy 11th monthsarry dear! Maaf FFnya telat, pake banget 8") Semoga kamu gak baca ff ini tapi /lha

Saya ucapkan terimakasih banyak yang sudah review di chapter kemarin. Terimakasih banyak~ /tumbalkan Mingyu untuk dipeluk reader /no. Semoga kedepannya ide-ide saya gak mampet lagi seperti untuk chapter ini. Maaf juga karena CheolSoo momentnya sedikit disini. Soalnya lagi saya umpetin buat chap selanjutnya/? /yha

Dan, saya mau minta saran dari para reader, apa perlu ff ini saya publish Jisoo sidenya? Jadi yaa, kali-kali aja reader mau tau perasaan Jisoo yang sebenarnya belum saya jelaskan diatas secara gamblang/? Dan rencananya, saya mau buat chapter kedepannya ini Jisoo -ehem- hamil dan ngidam/? Tapi apa pada minat kalau saya jadikan ff ini ada M-pregnya?/? Silahkan tinggalkan saran di kolom review :'v

Oh iya, kemarin ada yang nanya, saya ini seorang csc dari rp twitter wkwk. Udah sekian cuap-cuapnya, salam kecup dari Mingyu/? Karena kecup dari saya, hanya untuk Jisoo.

And then, mind to review, please?