Hallo, minna-san kembali lagi nih :D
cerita yang dibuat sahabat author ini lanjut lagi dengan berbagai kekonyolan yang terjadi saat membuatnya.
Yang mengetikan namanya Haida, sahabat author juga yang lugu dan polos :D
Yang menyediakan laptop namanya Haruno, sahabat autho juga yang super-super konyol hahha :D
oke tanpa basa-basi lagi langsung baca saja deh :D
Gomen lama :D
.
.
.
Pagi yang cerah namun tak menutup kemungkinan untuk membuat hati seorang menjadi kelabu. Begitu pula dengan suasana hati Hinata. Mendung, penuh awan hitam pekat di dalamnya, berlainan dengan cuaca di luar sana.
Mata bulannya tak henti mengeluarkan liquit bening, meluncur begitu ringan di pipi gembilnya. Tubuh ringkih itu terus bergatar menahan isak tangis yang tiada henti mengalun sejak pagi. Entah berapa lama ia menatap potret di hadapannya. Gambaran orang yang paling berharga di dalam hidupnya.
Teman silih berganti berdatangan, mengucap kata berduka atas kehilangan yang begitu mendalam. Tapi sekali lagi, manik kosong itu hanya menatap nanar ke arah potret yang di kelilingi bunga berwarna lembut di hadapannya. Itu potret ayahnya, Hiashi.
Tadi pagi pagi sekali, Naruto mengajaknya ke kantor kepolisian. Tidak tau apa yang akan terjadi. Intinya seorang pemuda bersyal hijau menghampirinya, memberinya sebuah foto. Foto yang sukses membuatnya menumpahkan airmata, berteriak histeris penuh emosi.
Disana, di foto tersebut ayahnya tergolek lemah penuh darah dengan hampir 5 lubang peluru bersarang di dadanya. Tentu saja Hinata marah, namun rasa sedihnya mengalahkan rasa marah di hatinya.
Itu ayahnya. Ayah yang selalu memberikan hal-hal terbaik bagi Hinata. Ayah yang dengan sabar merawat, menjaga dan membesarkannya. Dan sekarang dengan tak berprikemanusiaan mereka telah membunuh ayah tercintanya.
Tangannya terkepal erat hingga buku buku jarinya memutih. Ingin rasanya ia membantai habis setiap orang yang melukai tubuh ayahnya barang se inchi pun. Kala pikirannya menjelah liar, sepasang tangan berkulit tan melingkar dipinggangnya, mendekap hangat tubuh dengan sejuta kesedihan didalamnya. Tangan itu berusaha menyalurkan ketenangan kepada wanita tersebut.
"Tenanglah, masih ada aku disini." 1001 kata manis akan Naruto lontarkan untuk Hinata, berharap Hinata sedikit melepas kesedihannya. Ia tahu hati dan pikiran Hinata tengah dalam keadaan hancur. Iapun pasti akan sehancur ini jika hal tersebut terjadi padanya.
Namun ia tak mau Hinata terlalu terpuruk dalam kesedihannya.
"Kita pulang tenangkan hatimu dirumah" ujar Naruto seraya mengecup pelipis wanitanya. Menarik tangan Hinata menjauhi ruangan tersebut.
Tapi sebelum meninggalkan ruangan tersebut Hinata berbalik melirik kembali potret ayahnya.
'Tunggulah semua orang yang membuatmu terluka akan mendapatkan akibatnya, ayah'
Ketika semua seolah berbalik meninggalkannya dan seolah tak perduli dengan keadaannya, dulu selalu ada pria paruh baya yang akan menenangkannya dan memberikan sejuta penenang yang membuatnya pulih kembali.
Dan kali ini semuanya hilang, itu semua tak akan pernah terulang lagi, bahkan jik ia menangis darahpun ayahnya tak akan pernah kembali.
"Makanlah, semenjak kita pulang kau tak menyentuh sedikitpun makananmu. Kau tidak maukan kalau kau sakit?" Naruto kini tenah menimang semangkuk penuh bubur yang ia buat sendiri, berharap Hinata akan menyentuhnya.
Namun nihil, untuk melirikpun nampakny Hinata enggan.
Narutopun meletakan mangkuknya dimeja didepannya. Ia menghela nafas berat. Lalu mendekat diri pada sang istri. Pria dengan mata kucing itu menatap raut wajah Hinata yang tak dapat diartikan, begitu kosong dan hampa.
Dengan penuh kelembutan, tangannya merambat naik kewajah manis istrinya. Mengusapnya pelan seolah Hinata adalah benda yang akan hancur jika disentuh. Tapi nyatanya memang begitu. Hinata kini bagai benda rapuh, dan Naruto harus tetap menjaganya agar tetap utuh.
"Aku tahu, kau begitu kehilangan. Tapi jangan begini kau hanya akan membuatku khawatir dengan keadaanmu." Bisik Naruto tepat dialat dengar istrinya.
Netra bulat bulan itu memandang Naruto penuh dengan kesedihan dan tak lama lagi-lagi keping bening itu menyalurkan air mata. Sontak dengan segera Naruto merengkuh Hinata, mengusap punggung Hinata penuh cinta.
"Aku... aku... t-takut Naruto" ucap Hinata putus-putus.
"Sssstttttttt... ada aku, masih banyak orang-orang disisimu. Kau tak perlu khawatir"
Hinata merenggangkan pelukannya, dan kembali memangku pada Naruto.
"Jangan tinggalkan aku, dan berjanjilah untuk mengungkap siapapun pelaku pembunuhan ayahku."
"A...aku, aku berjanji." Pernyataan tegas Hinata dijawab ragu oleh Naruto. Entahlah, dia sendiri juga tidak yakin dengan hal yang ia ucapkan tadi. Tapi dia segera menepis pemikiran bodoh diotaknya. "sudah yah. Kau perlu energi. Karena ku yakin hampir seluruh tenagamu untuk menangis sepanjang hari. Jadi ayo makan"
Hinata mengangguk dan menerima suapan dari sang suami.
"Kau tidak akan mundur bukan?"
"Tidak, aku tidak akan pernah mundur"
"Bagus, kita hanya perlu membuat gasis itu menderita, lalu dengan otomatis Narutopun aka ikut terpuruk"
"Aku tidak sabar dengan itu"
"Tentu dan kita akan membalas semua yang telah mereka perbuat"
Pagi-pagi betul Naruto datang kekantornya. Dan bukan hal itu yang menjadi pusat perhatian anak buahnya, melainkan seorang wanita yang mengapit tangan Naruto.
Yah Naruto datang bersama Hinata.
Tadi, sejak ia bangun tidur hingga sudah siap berangkat, Hinata tidak mau lepas dari dirinya. Bahkan kalau tidak dilarang pasti Hinata sudah ikut mau masuk ke kamar mandi bersamanya.
"Duduk, aku akan keluar sebentar."
"Kau mau kemana?" Hinata bertanya sambil menggenggam tangan Naruto.
"Aku perlu mengambil dokumen diruangan Shikamaru."
"Aku ikut"
"Tidak perlu, aku tidak mau anak buahku gagal konsentrasi gara-gara melihat wajah cantimu" ucap Naruto jahil.
Sekejap wajah Hinata memanas dan dengan terpaksa ia melepaskan genggaman tangannya.
Tidak lama ia ditinggalkan oleh Naruto, seseorang mengetuk pintu dari luar memaksa Hinata bangkit dari duduknya.
"Nono Hinata" sapa orang tersebut.
"Kau... eeeuuummm, Kono..."
"Konohamaru"
"Oh ya Konohamaru, mencari Naruto?" tanya Hinata masih berdiri diambang pintu.
"Tidak, ketua memintaku mengantarkan laporan." Ucap pemuda tersebut sambil mengacungkan beberapa map.
"Aahhh, masuklah dan letakan dimejanya."
Konohamarupun masuk, melangkah menuju meja atasannya. Dan saat ia berbalik pemuda tersebut telah mendapati Hinata duduk ditempatnya semula.
Konohamaru berjalan mendekati wanita. Dia dapat bersumpah kalau didalam mata Hinata, dia dapat melihat luka yang dalam, membuatnya tidak tega saja.
"Nona, saya turut berduka dengan meninggalnya tuan Hiashi"
Hinata melirik Konohamaru, lalu tersenyum tipis kearah pemuda itu. "tak apa itupun sudah terjadi."
"Baiklah nona saya permisi keluar dulu. Jika perlu apa-apa saya akan siap sedia mebantu anda."
"Konohamaru..." ucap Hinata menghentikan langkah Konohamaru.
"Iya nona?"
"Dimana toiletnya?"
Sungguh, Hinata sama sekali tidak ingat kalau dia sedang sakit. Setahunya ia baik baik seja, tapi tadi saat ia tengah menunggu naruto .kembali dari ruangan temannya, ia merasa ada yang aneh dari tubuhnya. Hingga ia memutuskan untuk pergi ke toilet.
Setibanya dari toilet, ia langsung kembali ke ruangan Naruto. Takut takut kalau sang suami telah tiba dan menyangkanya sudah pulang karna ia tak ada di sana.
Ia memacu kakinya cepat cepat, mengabaikan grasak grusukorang di sekitarnya.
Di dalam hatinya, entah kenapa ada sedikit rasa khawatir yang menggelitik. Seolah akan terjadi sesuatu pada seseorang, Naruto mungkin.
Hingga ia pun berhenti tepat di depan pintu ruangan Naruto, sedikit merapikan penampilannya. Hingga ia pun membuka pintu tersebut. Lalu apa yang ia lihat sehingga mematung di sana?
Sesuatu yang membuat dadanya sesak, seperti di himpit tembok tebal. Naruto memang ada di sana, tapi tak sendirian. Ada seseorang wanita di sana, menemaninya, dan mereka tertawa bersama begitu lepas.
Bukan karena mereka tertawa, tapi karena wanita itu adalah wanita masalalu Naruto.
"Shi-shion?"
Tbc...
A/N:
Baiklah jangan lupa direview ya :D
Semoga suka :)
