-Chapter 2
Sepasang insan tampak bercumbu di sudut ruangan. Si wanita yang duduk dipangkuan lelaki itu terdengar mendesah kala si lelaki menciumi lehernya dan memberikan beberapa kissmark disana. Mereka saling menautkan bibir masing-masing, Menjilat, Menggigit, Dan mendesah. Ketika si wanita mulai memanas dan terangsang, Si lelaki—yang diketahui bernama Naruto—menolak halus tubuh si wanita dan bangkit berdiri.
"Tidak hari ini, Ruka,"
Wanita yang dipanggil Ruka itu memanyunkan bibir seksinya menyaksikan Naruto yang mungkin akan meninggalkannya sebentar lagi. Tapi tidak, Pria itu hanya diam ditempatnya dengan sorot berbeda—penuh nafsu. Ruka menyeringai melihat perubahan itu, Tak menyangka taktiknya memasukkan obat perangsang pada alkohol Naruto akan berhasil. Dan lagi ia menggunakan obat perangsang hasil racikan yang terkenal sangat ampuh dan berefek tahan lama.
Mengerti maksud seringaian Ruka, Naruto tertawa kecil dan berjalan mendekatinya.
"Wanita nakal,"
Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk menyambung kegiatan yang sempat terhenti tadi disalah satu kamar yang ada di bar tersebut.
Naruto mencium, Mengulum kasar bibir Ruka yang disambut desahan nikmat gadis itu. Desahannya makin menggila kala Naruto meremas payudara yang masih tertutupi baju tersebut. Persetan dengan rencananya yang tidak akan berhubungan seks hari ini! Jika sudah begini rencananya untuk istirahat pun rela ia korbankan hanya untuk memuasi nafsu birahi.
Membuka kancing baju Ruka dengan kasar dan langsung meremas payudaranya yang masih tertutupi bra menghasilkan teriakan antusias wanita nomor 1 dibar tersebut. Tangannya mulai mengerayangi badan Naruto dan membuka kemeja lelaki itu dengan tak sabar, Memandang tubuh atletik Naruto dengan nafsu yang mendalam hingga tak sadar jika kini tubuhnya sudah tak tertutupi oleh sehelai benang pun.
Merasa sesak dibawah sana, Naruto pun membuka celananya cepat dan menunjukkan miliknya yang tampak menegang keras menghadiahkan tawa kecil dari Ruka. Merasa kesal lelaki itu pun langsung memasukkan miliknya pada mulut Ruka membuat wanita itu kelabakan, Namun dengan cepat langsung melakukan apa yang dipinta oleh Naruto.
"Hmphh…,"
Wanita itu mengulum dan menggigit, memainkan lidahnya mencoba untuk menggoda Naruto. Merasa tak sabar, Cepat-cepat Naruto memegang rambut wanita itu untuk memaju-mundurkan miliknya yang kian menegang.
"Janghh—ah! Menggodaku, Ruka,"
DRRRRT
"Ah—Lidahmu sanghh..at nikmat,"
DRRRRT
DRRRRT
"Sed—ah! Sedikit lagi-,"
DRRRRT
DRRRRT
DRRRRT
Dan Naruto merutuki bunyi handphone yang tidak mau berhenti dan dirinya yang tidak jadi keluar.
PROBLEM
FANFICTION BY ALICEY RIZ
Warn : Mature Content, Typo, EYD tidak sempurna
I don't Own NARUTO, MASASHI is
Naruto tidak mengerti mengapa ia bisa berada disini, Terjebak menonton film lama bersama Ayahnya—Minato. Ia juga tidak mengerti saat ibunya mulai membawa album kecil dan menunjukkan foto-foto gadis padanya. Ia ingat setengah jam yang lalu mendapati telfon dari Minato untuk datang padanya saat itu juga. Jika saja yang menelfonnya adalah orang lain dan bukan orang tuanya, Sudah dipastikan orang tersebut akan mati saat itu juga ditangan Namikaze Naruto.
Pasalnya, Naruto yang saat itu tengah memuasi nafsunya dan hampir mencapai puncak nikmatnya malah terganggu oleh panggilan telfon. Tentu saja hal itu membuatnya tidak jadi mencapai puncak dan sekarang merasakan ketidak-nyamanan yang teramat sangat pada tubuh bagian bawahnya.
Mencoba memendam nafsunya yang serasa ingin meledak, Ia mulai melihat foto-foto gadis yang ada di album. Naruto tidak bodoh, Ia mengerti mengapa Kushina memperlihatkan foto gadis-gadis cantik itu, Alasannya tentu saja untuk mencarikan istri baru bagi Naruto. Tapi ayolah! Mengapa ia harus diperlihatkan foto gadis-gadis itu pada saat jam hampir menunjukkan pukul 1.00 pagi?!
Ini gawat, Disuguhi foto gadis cantik disaat seperti ini tidak membantu sama sekali
Menyerah, Naruto lebih memilih memfokuskan diri pada film yang sedang diputar. Setidaknya ia bisa mulai meredam nafsunya tanpa perlu repot-repot pergi ke kamar mandi.
"Jadi…yang mana yang kau sukai, Naruto?" Ujar Kushina membuka pembicaraan.
"Tidak ada yang kusukai,"
Setidaknya Naruto berkata jujur. Setengah dari album yang sudah ia lihat tak menampakkan wanita yang bisa benar-benar membuatnya terpesona. Ia memang ingin menyetubuhi mereka jika bisa, Tapi tidak untuk menikah. Pemikiran menikah lagi tak pernah terlintas dibenaknya pasca dikhianati oleh mantan istrinya terdahulu—Shion. Bercerita tentang Shion mengingatkan Naruto pada hidup lama yang pernah dijalaninya. Benar-benar memuakkan.
"Ayolah, Naruto. Menikahlah demi Bolt,"
"Bolt sudah memiliki Ino, Ia tidak perlu memiliki dua ibu,"
"Naruto," Kini suara berat khas Minato lah yang terdengar, "Walaupun ia ingin, Ino tidak akan bisa selamanya menjadi ibu bagi Bolt,"
Menarik nafas dan menyandarkan diri pada sofa, Naruto menatap orang tuanya malas. Tanpa perlu ditegaskan Naruto pun menyadari jika Ino tak akan bisa menjadi sosok ibu bagi Bolt selamanya. Sama halnya bagi Naruto yang selalu ingin bersikap lembut pada Bolt, Tapi tak bisa. Bolt terlalu mengingatkannya pada Shion, Membuat Naruto tanpa sadar ikut bersikap kasar pada bocah 7 tahun tersebut.
Ngomong-ngomong soal Bolt, Bukankah Naruto belum menjemputnya?!
"…Bolt!"
"Tenang saja, Tadi sore aku mendapat telfon dari Bolt bahwa ia sudah pulang dengan selamat dan saat ini mungkin masih bersama dengan Hyuuga-san," Ujar Kushina menyadari kegelisahan Naruto.
"Hyuuga-san…"
Oh ia ingat sekarang, Putri sulung keluarga Hyuuga yang menjabat menjadi wali kelas Bolt. Wanita dengan surai indigo dan manik amethyst, Serta jangan lupakan badannya yang montok itu. Suatu aset berharga bagi kaum wanita.
"Ngomong-ngomong, Mengapa aku dipanggil tengah malam pagi seperti ini? Bukan hanya untuk diperlihatkan foto-foto gadis itu, Kan?"
"Jangan kesal begitu Naruto, Kau tidak tahu betapa sulit untuk bisa bertemu denganmu akhir-akhir ini, Kudengar dari Shikamaru kau memiliki hari libur besok dan aku berfikir 'Oh! Mengapa tidak kuajak anakku bersantai sedikit malam ini!',"
Naruto mengernyit kesal, Ia tahu kenyataan Minato mengajaknya bersantai adalah kebohongan belaka dan pastinya sebentar lagi kepala keluarga Namikaze itu akan berbicara bisnis dengannya. Meskipun memutuskan untuk pensiun setelah Naruto menikah, Tapi Minato tetap saja mengawasi dan akan memarahi Naruto jika ia mendapati suatu keganjilan. Ia sendiri bingung mengapa Minato memilih pensiun dan mengurusi resort kecil yang ada di Karuizawa.
Menghela nafas lelah, Naruto menyerah, "Baiklah,"
Rasa itu muncul kembali. Rasa untuk menyetubuhi seorang wanita kala melihat gadis bersurai indigo dihadapannya. Nafsu yang sempat menghilang seiring pertemuannya dengan Minato malah dengan cepat kembali sedetik setelah ia melihat sosok Hyuuga Hinata. Miliknya sudah menegang dan cara berjalannya menjadi aneh. Mencoba menahan diri dan menghiraukan gadis yang tengah memanggilnya tersebut, Naruto berjalan cepat menuju kamarnya.
Nyatanya usahanya untuk menahan diri gagal karena kenaifan gadis Hyuuga tersebut.
"Hyuuga-san-," Mengelus pipi Hinata, "—Bukankah kau sangat nakal? Padahal aku sedang menahan diri dari tadi,"
Nada dan pandangan Naruto pada Hinata tampak berubah, Membuat si pemilik surai indigo itu tampak terkejut dan refleks mundur hingga tubuh belakangnya menyentuh pintu.
"A…apa maksudmu, Namikaze-san—"
Naruto mendekatkan dirinya pada Hinata, Memeluk gadis itu dan mulai menciumi leher Hinata, Mengelus bagian belakang tubuh Hinata yang sensitive. Mengerti apa yang diinginkan Naruto, Hinata terus mendorong tubuh lelaki itu, Tak akan dibiarkannya lelaki itu mendapatkan apa yang ia inginkan. Tertawa kecil melihat usaha sia-sia Hinata, Naruto mendekatkan bibirnya pada telinga Hinata dan menjilatinya, Seraya berbisik,
"Jangan lakukan hal yang percuma, Hyuuga-san, Karena aku akan mendapatkan hal yang kuinginkan,"
Hinata takut. Lelaki dihadapannya ini tidak seperti Namikaze Naruto yang ia tau—atau mungkin Hinata memang tak pernah tau jati diri lelaki tersebut?
Naruto menciumnya dengan kasar, Saat Hinata enggan untuk membuka mulut, Lelaki itu menggigit bibirnya dengan kuat membuat Hinata sedikit menjerit dan membuka mulutnya. Rasa hambar terasa, Bibirnya berdarah. Tak peduli, Naruto memasukkan lidahnya pada mulut Hinata, Memainkan lidah Hinata penuh nafsu. Tangannya yang satu tampak memagang kepala Hinata tak membiarkan gadis itu untuk menolak ciuman Naruto, Dan satunya lagi mencoba untuk membuka pintu kamar dengan tak sabar.
Hinata tak bisa membiarkan lebih dari ini. Ia menggigit lidah Naruto dengan kuat, membuat si empunya yang tak menyangka akan hal itu sontak melepaskan tautan bibir dan pegangan pada Hinata. Langsung saja hal tersebut Hinata manfaatkan dengan mendorong dada bidang Naruto sekuat tenaganya. Lelaki bersurai pirang itu terdorong kebelakang sejauh dua langkah, Membuka peluang bagi Hinata untuk kabur.
Namun sekali lagi, Kenaifan Hinata makin mempersulit keadannya. Naruto langsung menarik kasar tangan Hinata, Mendorong hingga gadis tersebut jatuh diatas ranjang.
Cklik
Bunyi pintu yang terkunci secara otomatis membuat Hinata merasa panik. Ditambah lagi tatapan tak senang dan senyum mengejek yang Naruto berikan sambil menindihnya makin membuatnya ngeri.
"Sudah kukatakan, Hyuuga, Aku akan mendapatkan yang kuinginkan,"
Hinata bahkan tak diberi kesempatan untuk menjawab ataupun melawan kala pemuda Namikaze itu kini tengah menciumi lehernya dan mencoba untuk membuka kemeja yang ia kenakan. Hinata meronta, Tangannya mencakar tangan Naruto dengan kuku-kuku panjangnya. Sedikit menjerit, Naruto menjauhkan mukanya pada leher Hinata dan menatapnya marah.
"Kumohon hentikan, Namikaze-san,"
Melihat Hinata memohon dengan air mata menggenangi pelupuk matanya malah membuat Naruto menggila. Dengan brutalnya Naruto mengoyak kancing baju Hinata membuat gadis itu menjerit ketakutan, Membuka dan membuang asal bra Hinata.
Air mata Hinata terus berjatuhan seiring dengan tubuhnya yang kian melemah. Ia menjerit kesakitan kala Naruto meremas kasar payudaranya, Terus memohon agar lelaki itu tak melakukan hal yang lebih jauh. Naruto tak mendengarnya, Ia malah menjilati, Memainkan nipple Hinata untuk membuatnya bungkam. Sontak saja Hinata menggigit bibirnya, Tak akan ia biarkan desahan keluar dari mulutnya.
Mengerti maksud Hinata, Naruto menciumi bibir Hinata penuh nafsu, memainkan payudara Hinata hingga tanpa sengaja gadis itu membuka mulutnya dan mengizinkan lidah Naruto masuk. Hinata ingin berteriak kala ia merasakan sesuatu mencoba masuk ke daerah kewanitaannya namun mulutnya dibungkam oleh mulut Naruto. Bodohnya ia tak menyadari bahwa seseorang telah berhasil melepas rok dan celana dalam yang ia kenakan.
Teriakannya terdengar kala Naruto melepas tautan bibir mereka dan beralih pada leher Hinata, Payudara, Serta perut, meninggalkan banyak kissmark disana. Sedangkan jarinya mulai bergerak maju-mundur di daerah kewanitaan Hinata memberi sensasi aneh pada gadis tersebut. Jeritan kesakitan terdengar lagi kala Naruto langsung memasukkan jari kedua dan ketiga pada lubang vagina Hinata, Menggerakkannya tanpa peduli jeritan kesakitan yang terdengar. Gejolak aneh untuk mengeluarkan sesuatu ia rasakan setelah beberapa menit, keluar begitu deras dan banyak membasahi jari-jari Naruto. Lelaki itu melepas jarinya pada vagina Hinata dan menjilati cairan-cairan di tangannya sampai habis menghadiahi tatapan jijik dari Hinata yang tampak kelelahan.
Nafas Hinata tercekat kala melihat Naruto mulai melepas kemeja dan celana yang digunakan pemuda pirang tersebut. Air matanya tak bisa berhenti dan ia tak memiliki tenaga lagi untuk melawan.
"Aaakh!"
Ia menjerit kesakitan kala sesuatu yang besar mencoba masuk pada lubang vaginanya, mencoba mengoyak sesuatu.
"Tidak, kumohon hentikan ini, Namikaze-san! Ini sakit, Kumohon,"
Dan dengan satu hentakan kuat disertai jerit kesakitan Hinata berhasillah Naruto mengambil harta paling berharga bagi wanita bersurai indigo tersebut. Tanpa menunggu wanita itu membiasakan diri pada milik Naruto yang besar, lelaki itu langsung memaju-mundurkan kejantanannya dengan tempo cepat. Lubang Hinata yang masih sempit membuatnya makin bergairah dan makin mempercepat tempo permainan
"Hentika—hhnn.. i—ni sakit,"
"Sud—ah! Sejauh ini dan kau ingin berhenti, Hyuuga?"
Hinata mengangguk lemah, ia menggigit bibir bawahnya menahan perih yang ia rasakan. Ia menjerit lagi kala Naruto makin mempercepat tempo maju-mundurnya setelah beberapa menit.
"Sak—hit, Hentikan, Kumohon,"
Gejolak itu muncul lagi, Gejolak untuk mengeluarkan sesuatu disertai dengan menegangnya sesuatu yang berada di dalam vaginanya. Naruto mengeluarkan kejantanannya dan menghentakkan secara kasar pada lubang Hinata, menghadiahi teriakan perempuan itu dan cairan Hinata dan Naruto yang keluar secara bersamaan.
Hinata merasa lelah dan jijik merasakan sesuatu menyemprot masuk ke dalam tubuhnya, tapi itu tak berlangsung lama kala ia merasa kejantanan Naruto mulai bergerak maju-mundur kedalam vaginanya.
"Apahh yang kau lakukan, Tidak cukupkahh-kau menyemprot spermamu kedalam tubuhhkuhh?"
Menyeringai lebar sambil mulai menaikkan tempo permainan, Naruto menjawab, "Kau fikir satu ronde akan cukup memuasiku? Kau harus membantuku menghilangkan efek obat sialan ini,"
Hinata melotot tajam sambil meremas sprei menahan sakit. Orang yang menyetubuhinya ini gila! Mengapa ia harus membantunya padahal jelas-jelas lelaki itu telah berlaku kasar padanya?! Ia mendesah lega saat cairannya keluar diselingi cairan Naruto yang memenuhi rahimnya.
Sakit makin ia rasakan kala Naruto menggendongnya tanpa melepas tautan mereka, Membuat Hinata mau tak mau memeluk lelaki tersebut agar mengurangi rasa sakitnya. Lelaki itu memberikan ciuman-ciuman di bahu Hinata, Menyandarkannya pada tembok yang dingin dan mulai menggerakkan kejantanannya dengan cepat. Tangannya yang satu memeluk tubuh Hinata, Dan satunya lagi menopang kaki wanita tersebut agar ia lebih leluasa.
Desahan dan jerit kesakitan Hinata menjadi suara yang merdu baginya, Dan ketika cairan miliknya dan milik wanita tersebut menyatu untuk kesekian kalinya, Hinata ambruk dipelukannya, Kelelahan dan tak sadarkan diri.
Naruto menggeram. Ia belum puas dan efek perangsang yang diminumnya belum menghilang, Malah terasa semakin kuat kala meletakkan tubuh Hinata pada ranjang. Akal sehatnya serasa sudah menghilang, Ia terus melanjutkan pada tubuh Hinata yang tak sadarkan diri. Desahan ia keluarkan kala merasa tubuh Hinata yang merespon, tak butuh waktu lama baginya untuk mencapai puncak kenikmatan dan menyemprotkan spermanya pada rahim Hinata. Ia berhenti bermain kala pagi mulai menjelang dan tanpa melepaskan kontak, Ia berbaring disamping Hinata dan memeluk tubuh wanita tersebut. Dengan selimut yang menutupi keduanya dan kontak yang masih terhubung, Naruto pun memejamkan matanya, Membentuk seringai dibibirnya sebelum benar-benar terlelap dalam tidurnya.
Manik amethyst itu tampak terbuka perlahan, Mengerjap bingung mendapati sosok dada bidanglah yang ia lihat pertama kali. Tersadar akan ingatan yang terjadi semalam, Ia mulai terlihat panik merasakan tangan kekar tengah memeluknya dengan protektif. Badannya terasa pegal, Vaginanya terasa perih dan tak nyaman, Sesuatu yang ia rasa penis Naruto masih menancap kuat pada lubang vaginanya.
Ia ingin bergerak dan menolak pemuda itu sekuat yang ia bisa, Tapi sesuatu yang menancap dilubang vaginanya itu seolah tak memberi izin. Gerakan kecil yang HInata lakukan membuat vaginanya terasa makin perih dan ngilu. Ia tak bisa menggerakkan kakinya yang seolah mati rasa.
"Apa kau sudah bangun?"
Suara serak khas bangun tidur Naruto membuyarkan fikirannya. Ia menengadah dan menatap Naruto tajam yang hanya dibalas tawa geli pemuda pirang tersebut.
"Jangan menatapku seperti itu, Hyuuga-san, Kau tidak tahu betapa puasnya aku semalam memasukimu terus menerus-,"
"Diam kau, Namikaze, Aku tak ingin mendengar permainan gilamu semalam,"
"Oh, Kau harus mendengarnya, Hyuuga-san, Karena kau tak sadarkan diri setelah ronde ketiga. Bukankah ronde ketiga itu baru pembukaan?"
"Kau gila! Kau memperkosaku, Mengambil hal yang berharga bagi kaum wanita, Dan terus memuasi nafsumu dengan tubuhku yang sudah tak sadarkan diri?!"
Seringai Naruto menghilang digantikan dengan tatapan tak suka. Ia memang gila semalam tapi—Hey! Siapa juga yang tak akan merasa gila jika orang yang kita setubuhi memiliki badan sebagus itu! Dan lagi seolah diciptakan khusus untuknya, kejantanannya menancap pas pada lubang vagina Hinata, membuatnya tak ingin melepas kontak barang sebentar.
Berdiri, Naruto melepas kontak secara paksa membuat wanita Hyuuga itu menjerit tertahan dan meremas selimut yang menutupi tubuhnya. Hinata memalingkan wajahnya tak ingin melihat Naruto yang mulai memakai bajunya. Matanya sedikit berair kala merasa sakit yang teramat sangat di vaginanya.
"Mandilah, Kita akan membicarakan hal ini sesudahnya. Ah-," Melirik Hinata yang tampak mencoba duduk dengan susah payah, Seringai Naruto muncul, "—Aku lupa kalau kau tak bisa berjalan, Ya?"
"…Keparat," Maki Hinata mencoba menahan amarahnya yang bisa meledak saat itu juga.
Tertawa kecil, "Hyuuga-san, Kau lucu sekali. Tunggulah, Akan kusiapkan air untukmu,"
Hinata diam saja melihat Naruto yang mulai menghilang dibalik pintu kamar mandi. Jika saja ia bisa berjalan dan tubuhnya tak merasa lemah seperti ini, Takkan mau ia menuruti permintaan untuk menunggu lelaki itu. Hinata melihat sekelilingnya, menatap nanar pada pakaian bagian atasnya yang tampak tak bisa lagi ia kenakan. Jam menunjukkan pukul 10.12 pagi dan ia masih merasakan lelah. Menghela nafas berat, Perasaannya terasa campur aduk. Ia meniduri tubuhnya dengan hati-hati, Menjerit tertahan kala merasa sakit dan menghela nafas lega kala berhasil mengambil posisi tidur. Ia merasa kelelahan, Baik fisik dan jiwanya. Untuk sekejap saja ia ingin tertidur.
Naruto keluar dari kamar mandi 30 menit kemudian hanya untuk mendapati Hinata yang tertidur lelap. Deru nafasnya tampak teratur dan melihat wajah polos Hinata membuat Naruto tak tega membangunkannya. Ada sedikit rasa penyesalan karena telah menyakiti wanita tersebut namun digubrisnya jauh-jauh. Ia mendekati tubuh Hinata, Tangannya terulur menyentuh pipi gembul Hinata, mengelusnya perlahan.
Manik Hinata membuka perlahan mendapati Naruto yang tengah menatap datar dirinya. Rambut pirang itu terlihat basah, Mengisyaratkan si empunya baru saja selesai membersihkan diri.
"Aku akan menggendongmu sampai kamar mandi, Bagaimana?"
Hinata hanya mengangguk pelan. Menolak pun percuma saja, Ia tak bisa berjalan, Saat ini ia hanya ingin mandi dan cepat-cepat meninggalkan neraka ini.
Mencengkram kuat kedua bahu Naruto kala ia merasa sakit pada tubuh bagian bawahnya. Ia menenggelamkan kepalanya pada leher Naruto sambil sedikit merintih kala lelaki itu menggendongnya. Naruto berjalan perlahan dan hati-hati, tak ingin menyakiti wanita bersurai indigo itu lebih dari ini. Ia menuruni Hinata pada bathtub dengan perlahan, Menaruh sabun dan sampo pada jangkauan wanita tersebut.
"Aku akan menyiapkan baju Ino untukmu," Kata Naruto kemudian menghilang dari balik pintu.
Hinata menatap tubuhnya dalam diam, Melihat tubuhnya yang dipenuhi dengan kissmark membuatnya jijik. Ia menggosok tubuhnya dengan kasar seiring air matanya jatuh. Tak pernah ia merasa serendah ini, Disetubuh dan kini ditolong oleh orang yang menyetubuhinya?!
Kehormatan yang selalu ia jaga selama 23 tahun hidupnya menghilang dalam waktu semalam karena pemuda Namikaze itu. Rasanya ia ingin berteriak, Impian untuk memberi kehormatannya pada suaminya kelak kini hancur. Entahlah, Sepertinya Hinata tidak ingin menikah dalam hidupnya setelah kejadian ini.
Hinata menyelesaikan berendamnya kala ia merasa tubuh bagian bawahnya tak begitu sakit. Meskipun kesusahan, Ia sudah bisa berjalan. Cepat-cepat ia menyudahi mandinya dan membalut tubuh dengan handuk yang disediakan Naruto.
Was-was saat membuka pintu kamar mandi, Ia tak mendapati Naruto. Dengan cepat Hinata mengutip pakaian dalamnya dan mengenakannya. Diatas meja terdapat kemeja besar dan rok panjang yang terlipat rapih. Hinata mengenakannya, Menatap sekeliling sekali lagi, Kemudian berjalan pergi keluar kamar.
Mempersilahkan Hinata duduk diseberangnya, Naruto menyajikan teh hangat. Hinata tak ingin meminum teh itu, Ia hanya ingin pulang dan menenangkan dirinya.
"Dimana Bolt?" Tanya Hinata menyadari absennya bocah pirang itu.
"Aku menyuruh Shikamaru mengurusnya hari ini," Meletakkan cangkir kopi dan menatap lurus manik Hinata, "Maaf,"
"Kau fikir maaf bisa memecahkan segala masalah?"
"…Kuanggap kau tak dapat memafkanku? Baiklah—" Seringai terpancar dibibir Naruto, membuat Hinata langsung mempersiapkan diri hal buruk apa yang akan dilakukan pemuda itu padanya.
"Hyuuga-san, Maukah kau membuat perjanjian denganku?"
"Perjan—jian?" Suatu pemikiran terlintas dibenaknya kala melihat seringai Naruto, "Jangan katakan kau ingin menjadikanku alat pemuas nafsumu?"
"Ini sedikit berbeda bagimu, Hyuuga-san—" Seringainya makin membesar, "Bagaimana jika kau menjadi ibu Bolt?"
"…Apa?"
"Seperti yang kukatakan, Aku akan bertanggung jawab dengan menikahimu. Dan sebagai gantinya kau pun akan menjadi ibu Bolt dan memuasiku, Hyuuga-san. Ah tentu saja aku akan memenuhi kebutuhanmu, Bagaimana, Tidak buruk, Kan?"
Keadaan hening sesaat, Hinata terlalu syok untuk merespon. Apakah lelaki yang dihadapannya ini mencoba membelinya? Membuat perjanjian yang menguntungkan sepihak seperti itu, tentu saja Hinata tak mau! Apa bedanya dengan menjadi alat, Toh ia juga ditunjuk sebagai pemuas nafsu lelaki itu. Menjadi ibu Bolt bukanlah hal yang buruk baginya, Tapi menikahi Naruto tak pernah terlintas diotaknya. Tak pernah meskipun seusai kejadian semalam. Menjadi single selamanya tak masalah daripada menjadi pemuas lelaki itu!
"…Jangan—"
"Hm, Jangan?"
"Jangan bercanda! Bukankah itu sama saja dengan menjual tubuhku?! Apa bedanya dengan menjadi alat—" Berdiri dan menggebrak meja, Tak mempedulikan sakit yang kembali ia rasakan, "—Lupakan! Aku akan pulang,"
Hinata berjalan meninggalkan Naruto, Mengambil tas miliknya yang masih tergeletak diatas sofa dan memakai asal sepatu kerjanya, Keluar dari apartemen itu. Ia bernafas lega kala sampai pada lantai dasar apartemen. Kakinya masih terasa sakit dan lemas, Merasa belum bisa membawa mobil sendiri, Hinata lebih memilih pulang menaiki taksi.
Naruto menatap kepergian Hinata dengan seringai yang terukir jelas diwajahnya. Ia tak mencegah kepergian wanita itu, Tapi jika boleh dibilang ia cukup merasa kecewa. Ia tak berbohong ingin memperistri Hinata. Diantara wanita lainnya, Ia lebih memilih untuk menjadikan Hinata ibu Bolt. Entahlah, Mungkin tanpa sadar ia telah terpesona pada sosok wanita bersurai indigo itu.
TBC
Halo bertemu lagi! seperti yang sudah author-san bilang sebelumnya, di chapter ini bakalan ada lemon, dan maaf lemonnya tidak hot. ini kali pertama membuat lemon, dan membuat naruto yang benar-benar bajingan merupakan hal sulit-_-
maaf hinata tersiksa disini dan mulai chapter depan konflik mulai muncul/? tapi fic ini mungkin memang nggak bakal banyak chapternya, sekitar 7 atau 10 udah banyak banget, dan lagi chapter depan merupakan perkenalan tokoh-tokoh lain:D mungkin akan update sedikit lama, tapi tolong ikuti terus ya!
Pengumuman penting, "Author-san sedang mencari beta reader yang mau mengedit, memberi saran, dan membantu membuat adegan lemon!:D yang berminat tinggal pm author!:
