Chapter Two
A Talk
.
.
.
"Hyung, bangun! Kau janji akan pergi ke studio bersama-sama." Yoongi terbangun akan sebuah suara rengekan menjengkelkan dari Kim Taehyung yang, sudah 20 berusia tahun.
"Demi Tuhan, Taehyung. Kau bilang kau punya seorang gadis yang sedang kau incar, pergi dan ganggu dia. Aku perlu tidur." Yoongi mengeluh tanpa bergerak.
"Hei, hyung! Ini adalah Sabtu pagi di mana semua orang di dunia berencana untuk nongkrong di suatu tempat! C'mon! Rise and shine!" Taehyung mengetuk pintu kamar Yoongi sekali lagi. Dia sudah berada di apartemen Yoongi. Dia tahu password apartermen Yoongi dan berencana untuk mengejutkan Yoongi tetapi semuanya gagal karena Yoongi juga mengunci kamarnya.
"Tapi, it's fucking 4AM now. Bahkan matahari belum terbit. Kebanyakan orang normal masih tidur di jam empat pagi, jika kau tidak tahu itu." Teriak Yoongi.
"Kalau begitu, aku tidak akan menyanyi untuk lagu barumu. Itu adalah sebuah peringatan. Aku tidak main-main." Taehyung mencoba mengancamnya. Tapi, dia tidak mendapat respon dari hyung-nya. Tipikal Min Yoongi.
"Hyung aku-" Taehyung baru saja akan berbicara lagi ketika dia mendengar pintu dibuka dan dia disambut oleh Yoongi yang jengkel.
"Hai, hyung. Selamat pagi." Taehyung polos tersenyum.
"Aku akan mandi dulu. Jangan sentuh apa pun atau aku akan melemparmu keluar jendela." Yoongi memperingatkan kemudian berjalan ke kamar mandinya.
Taehyung hanya tersenyum dan berbaring di tempat tidur Yoongi. Kemudian dia bermain dengan ponsel Yoongi yang dia juga tahu password-nya.
Yoongi dan Taehyung adalah sepupu. Mereka tumbuh bersama di Daegu, sebelum akhirnya berakhir berada di sini, di kota besar, Seoul. Mereka sepupu tapi mereka jarang bertemu untuk waktu yang cukup lama dulu, namun, ketika mereka berdua tumbuh besar dan entah bagaimana tinggal di Seoul, mereka menjadi lebih dekat.
Taehyung meletakkan ponsel Yoongi kembali tempatnya. Dia bosan. Tidak ada yang menyenangkan di apartemen sepupunya. Well, Yoongi juga bukan orang yang menyenangkan.
Hari ini Taehyung memutuskan untuk tidak bermain 'play-pretend' dengan fangirl Yoongi dan membalas pesan mereka kepada Yoongi. Dia juga mendapat banyak fangirl yang menunggu jawabannya. Entahlah, dia sedang bosan berpura-pura menjadi Yoongi.
Mari kita lupakan gadis-gadis itu untuk hari ini. Taehyung bergerak ke laci di sebelah tempat tidur Yoongi dan berpikir apakah dia akan menemukan sesuatu yang menyenangkan di sana.
Dia sangat bosan.
.
Yoongi berjalan keluar kamar mandi dan menemukan Taehyung sedang berbaring di tempat tidurnya dengan dompet Jimin di tangannya. Yoongi tidak terkejut sama sekali. Dia Kim Taehyung. Apa yang kau harapkan dari Kim Taehyung?
"Taruh kembali, Taehyung." Yoongi hanya berjalan ke lemari pakaiannya dan mengabaikannya.
"Hyung! Kenapa dompet ini ada padamu?" Taehyung mengerutkan keningnya.
Yoongi tetap diam.
"Oh Hyung!" Taehyung tiba-tiba berteriak.
Bagus sekali. Kim Taehyung dan asumsi bodohnya. Bagus sekali.
"Apa? Kau berpikir dia menghabiskan malam di sini dan meninggalkannya?" Kata Yoongi sambil berjalan keluar dari walking closet-nya dan memukul punggung Taehyung.
"Aww, hyung!" Taehyung mengeluh.
"Aku tidak pernah mengatakan apa-apa tentang dia menghabiskan malam di sini." Katanya lagi sambil mengusap punggungnya. Yoongi hanya melemparkan tatapan kemudian memeriksa di telepon.
"Aku berpikir kau menemukannya di suatu tempat atau, maksudku-apakah kau pernah membaca catatan di sini, hyung?" Taehyung menunjukkan Yoongi beberapa catatan yang tertulis di beberapa kertas warna pastel yang lucu.
"Apa pentingnya?" Yoongi memandang Taehyung kemudian mengambil catatan itu dari tangan Taehyung. Tepat setelah dia membacanya dia tertawa mengejek.
"Ini adalah jadwalku." Yoongi mendesah.
"Tepat sekali." Taehyung terkekeh tanpa alasan.
"Jangan tertawa. Ini tidak lucu sama sekali." Yoongi mengambil dompet Jimin dari Taehyung. Dia mamasukan catatan itu ke dalam dompet. Itu mungkin alasan mengapa Yoongi tiba-tiba menemukan dompet Jimin. Ini mungkin takdir, sehingga dia akan tahu bahwa gadis menyeramkan itu punya jadwalnya untuk selama seminggu penuh. Bahkan Yoongi tidak ingat jadwalnya sendiri.
"Tidak, hyung. Ini lucu. Aku yakin dia pasti menulis ini sendiri setelah menghabiskan begitu banyak waktu mengintaimu." Taehyung tersenyum.
"Katakan padaku bagian mana yang lucu dari menguntit seseorang terlalu sering? Dia bahkan menulis jadwal ketika aku mengunjungi studioku selama hari kerja dan akhir pekan." Yoongi menggeleng.
"Tunggu, apa? Bahkan kau sendiri tidak akan tahu. Biarkan aku melihatnya lagi." Kata Taehyung.
"Damn. Kau benar. Aku tidak pernah tahu jadwalku sendiri. Tangkap!" Yoongi melemparkan dompet Jimin kembali ke Taehyung.
"Wow. Ini benar-benar bermanfaat, hyung! Lihatlah sisi terangnya, kau akhirnya berhasil mengetahui jadwalmu sendiri sekarang." Kata Taehyung sambil membalik kertas-kertas pastel itu dengan kagum.
"Oh, diamlah. Kau ikut atau tidak? Aku akan ke studio." Kata Yoongi sambil menyambar dompet Jimin dan memasukkannya ke dalam ranselnya.
"Tentu saja, aku ikut. Untuk apa dibawa?" Tanya Taehyung bingung.
"Untuk memberikannya kepada pemiliknya dan mendapatkan beberapa penjelasan, aku kira. Aku yakin kita akan bertemu dia hari ini." Kata Yoongi.
"Penjelasan? Aku pikir semuanya sudah jelas. Dia jatuh cinta padamu." Taehyung mengedipkan matanya.
"Setahuku tidak ada yang bisa jatuh cinta dengan seseorang yang tidak pernah kau ajak bicara." Yoongi benar-benar lelah akan percakapan semacam ini.
"Yah hyung, apa yang kau tahu tentang cinta? Cinta adalah cinta tak peduli betapa gilanya." There, Taehyung sudah memulainya.
"Nah, sebagai seseorang yang tidak tahu banyak tentang cinta, aku akan menyebutnya penyakit bukan cinta." Yoongi mengangkat bahunya.
Taehyung sudah siap dengan argumen lain tapi Yoongi melemparkannya kunci mobilnya dan berkata "Diam. Kau yang bawa."
"Kalau dipkir-pikir, aku pikir aku tidak akan menemukan catatan itu jika kau tidak datang menggangguku." Kata Yoongi tiba-tiba
"Kalau begitu, berterima kasihlah padaku, hyung. Kau yang bawa." Taehyung protes yang diabaikan oleh Yoongi.
.
Jimin dan Jungkook berjalan di sepanjang gang seperti orang gila Sabtu pagi ini.
"Sialan kau, Park Jimin untuk membuat Sabtu damaiku sengsara. Aku benci kau!" Gerutu Jungkook.
"Jungkook. Aku takut jika aku benar-benar meninggalkannya di klub? Mungkin, di atas meja VVIP... NO! Aku akan bunuh diri." Jimin meneriakan teriakan yang menakutkan.
"ASTAGA! Tenang. Aku lelah berurusan dengan obsesimu akan Yoongi." Jungkook berteriak marah.
"Tapi, bagaimana jika Yoongi menemukannya kemudian dia melihat catatan-catatan yang aku buat dan...dan dia akan lebih membenciku..." Jimin merengek.
"Ugh. Dasar bodoh! Apa alasan bodoh apa yang membuatmu meninggalkan dompetmu? Kau tidak bisa ikut ujian akhir tanpa kartu mahasiswamu! Kau harusnya khawatir tentang hal itu bukannya delusi tentang Yoongi menemukan itu atau apa pun!" Jungkook mengangkat suaranya. Dia benar-benar lelah akan semua ini.
"Aku sedang menulis jadwal baru Yoongi saat itu! Dia bilang bahwa dia akan menjadi tamu reguler selama satu bulan di klub itu." Jelas Jimin.
"Apa? Di depan Seokjin eonnie yang menakutkan? I'm so done of you!" Jungkook menepuk keningnya sendiri sambil berteriak frustrasi. Adakah orang yang lebih bodoh dari Park Jimin?
"Itu bukan salahku, aku terlahir bodoh." Jimin hamper menangis.
Jungkook melunakan wajahnya sedikit. Jika dia jadi Jimin, dia akan panik seperti ini juga. Meskipun dia tahu bahwa dia tidak akan melakukan setengah dari hal gila yang Jimin lakukan untuk Yoongi.
"Eonnie-ah, tenang. Kita semua tahu Yoongi adalah orang yang paling bebal dan tidak peduli akan orang lain di dunia ini. Dia tidak akan mungkin menemukannya. Kau sudah memiliki nasib yang sangat buruk dengan dikenal Yoongi. Jadi, dia, menemukan itu, adalah sebuah bencana." Jungkook memeluk Jimin.
"Ah, kau benar! Aku harusnya bersyukur jika dia menemukannya, hahaha, itu berarti aku akan punya kesempatan untuk berbicara dengan dia dengan benar... hahaha, tidak mungkin." Jimin mengangguk.
"Ya, tersenyumlah, eonnie." Jungkook tersenyum.
"Bantu aku menemukannya, oke?" Jimin memohon.
"Iya! Itu pasti di klub itu!" Jungkook tiba-tiba mendapat ide.
"Oke sudah diputuskan. Tujuan berikutnya, klub!" Jimin mengangkat tangan kanannya ke langit kemudian, mereka berdua tertawa dan pergi ke halte bus.
Jimin memang sedikit ceoboh. Bukan-bukan. Jimin memang sangat ceroboh tapi, Jungkook sangat menyayangi Jimin. Jadi, kapan pun Jimin butuh bantuannya, Jungkook pasti akan membantunya.
.
Jadi, mereka berdua sekarang di sebuah kafe di dekat studio Yoongi. Yoongi itu sedang minum Americano dingin dan menikmati muffin tanpa gula. Setelah selesai bekerja di studio, dia biasanya mengunjungi kafe ini dan beristirahat di sana.
"OH! Jungkook lihat! Dia mengenakan kaos biru! Wow. 12 November, tidak pakai kaos hitam seperti biasanya." Jimin tertawa saat menulis hal-hal di jurnal yang dia buat khusus untuk menuliskan semua hal tentang Yoongi.
"Aku sangat mengkhawatirkanmu dan kau menipu aku sekali lagi." Jungkook berdecih. Seharusnya dia tidak percaya Park Jimin.
"Please, Jungkook. Kita sudah meminta manajer klub untuk mencarinya. Tidak ada masalah. Yang perlu kita lakukan sekarang adalah menunggu kabarnya." Jimin menjelaskan dengan senyum. Jungkook hanya mengumpat perlahan. Dia membatalkan dua kencan untuk ini. Dia sangat berterima kasih pada Jimin.
"Kau sangat jahat." Dia merengek.
"Apa? Jungkook, ssshh. Dia akan mendengar kita. Makan es krimmu." Jimin tersenyum kecil pada Jungkook.
"Seolah-olah dia tidak kenal kau sama sekali." Jungkook berdecih dan makan sesendok es krimnya. Jimin mengabaikannya dan memilih mengambil gambar Yoongi .
"Kau tahu apa, eonnie? Aku sudah memikirkan ini... Yoongi tidak benar-benar kenal kau, kan? Mungkin dia kenal kau sebagai seseorang yang selalu menguntit dia. Tapi, bagaimana jika kau yang berpura-pura tidak tahu apa-apa tentang itu dia berkenalan secara formal dan normal?" Jungkook menatap es krimnya sambil berpikir.
"Tidak. Terima kasih." Jimin menjawab dengan cepat.
"Kau tidak bisa hidup seperti ini selamanya," Jungkook menatap Jimin tajam.
"Aku tidak bisa dan tidak akan. Aku akan berhenti jika Yoongi menemukan seorang yang dia benar-benar suka. "
"Kemudian, setelah kau berhenti?" Tanya Jungkook. Jimin hanya menatap Jungkook kosong.
"Lihat? Bicara saja dengannya. Dia tidak akan pernah membuat langkah pertama atau apa pun. Dia tidak tahu kau ada." Jungkook mendesah. Jimin terlihat akan menangis senbentar lagi.
"Tapi, aku jelek, tidak berbakat, bodoh dan miskin. Dia tidak akan menyukaiku." Jimin menarik napas sedih.
"Tapi, kau tidak akan pernah tahu sampai kau melakukannya." Jungkook hampir berteriak. Itu embuat Jimin diam sepenuhnya. Mereka diam selama 5 menit, satu-satunya suara yang bisa didengar di sekitar mereka adalah suara klik dari kamera ponsel Jimin.
"Oh. Dia datang. Ah, kita harusnya tidak pilih kursi ini. Dia akan berjalan keluar kafe melewati kita." Jimin panik.
"Apa yang harus dilakukan? Kita tidak bisa tiba-tiba bergerak. Itu akan lebih buruk." Jungkook juga panik.
"Mari kita duduk dan bertindak seperti tidak ada yang terjadi." Kata Jimin.
"Ah iya. Kita harus pergi keluar kafe tepat setelah dia keluar." Tambah Jungkook. Jimin hanya mengangguk.
Yoongi berjalan melewati mereka. Jimin kemudian mengirimkan sinyal pada Jungkook untuk mengikutinya tapi bukannya melakukan hal yang sudah mereka rencanakan, Jungkook menyeringai dan dia mendorong Jimin ke Yoongi.
Jimin jatuh ke tanah di depan Yoongi. Jimin baru saja akan mengutuk pada dirinya tapi dia bisa melakukannya nanti. Sekarang-oh Tuhan.
"Ahh, eonnie, kau baik-baik saja?" Jungkook memasang wajah cemas palsu. Jimin mengirim beberapa sinyal pembunuh pada Jungkook. Dia kemudian mendongak untuk melihat Yoongi yang menatapnya kesal.
"Oh! Aku benar-benar menyesal. Maafkan aku." Jimin dengan cepat bangkit dan membungkuk. Yoongi menatapnya dengan ekspresi datar tapi Jimin kenal ekspresi itu dengan baik sehingga Yoongi sangat siap untuk mengeluarkan beberapa kata yang buruk atau yang lain.
"Tsk. Park Jimin. Aku sedang mencarimu." Yoongi menyeringai membuat Jimin kaget. Jimin begitu tercengang. Apakah Min Yoongi tadi memanggil namanya? Atau dia sedang berhalusinasi?
"Bagaimana... kau tahu namaku?" Tanya Jimin tapi Yoongi hanya memutar matanya.
"Ka-Kau... Kau mencariku? Mencariku? Kau?" Jimin bertanya dengan tergagap.
"Ya, dan aku tahu kau akan datang ke sini hari ini juga." Yoongi mencibir. Jimin hanya menatap Yoongi kagum. Dia bahkan tidak akan berani untuk bermimpi tentang ini. Dia berbicara dengan Yoongi!
"Serius, berhenti menatapku. Apakah kau tidak berpikir bahwa kau terlalu frontal?" Kata Yoongi mengejek. Tapi, Jimin terus menatapnya. Yoongi hanya mendesah kesal.
"Dengar, aku perlu bicara denganmu, tapi tidak di sini." Yoongi meraih tangannya dan berjalan keluar kafe.
Jimin masih sibuk dengan mimpinya. Sampai Yoongi memegang tangannya dan menyeretnya pergi. Jimin berteriak. Dia meletakkan tangannya yang lain di mulutnya kemudian mencubit pipinya sendiri. Kulitnya terasa terbakar karena disentuh oleh Yoongi. MIN YOONGI IS HOLDING MY HAND. Dia tidak tahu apa yang terjadi tapi dia punya perasaan bahwa itu pasti bukan sesuatu yang baik sama sekali. Jimin melirik ke Jungkook, yang tersenyum lebar seolah-olah dia memenangkan lotre, sebelum dia dan Yoongi meninggalkan kafe.
.
Jimin dibawa ke tempat parkir oleh Yoongi. Dia sekarang qdq di depan mobilnya. Yoongi sudah melepaskan tangannya sejak mereka meninggalkan kafe. Dia masih tidak tahu apa yang akan Yoongi bicarakan tapi, dia tidak peduli. Dia dengan Yoongi.
Mereka sekarang di depan sebuah Audi A7 hitam milik Yoongi yang mereka berdua tahu betul. Dia sekali lagi terjebak dalam permainan saling menatap tapi sekarang dengan mobil Yoongi. Dia membayangkan berada di dalamnya bersama Yoongi, dia biasanya melihat mobil ini sehari-hari. Dia masih membayangkan, dia bahkan membayangkan memiliki mobil ini, tentu saja dengan Yoongi, sebagai mobil pernikahannya. Sampai Yoongi sekali lagi menarik tanganya.
"Masuklah." Yoongi membukakan pintu untuknya.
"Tapi... tapi Yoongi-ssi kau..." Jimin terbata-bata.
"Kau tidak ingin masuk, oke." Yoongi hampir menutup pintu mobilnya sebelum Jimin berteriak.
"Ah tidak! Tidak! Jangan ditutup! Aku ingin masuk!" Jimin berseru kemudian masuk ke dalam mobil. Yoongi hampir tertawa. Jimin, jujur, sangat manis jika Jimin bukan penguntit yang menyeramkan. Yoongi hampir tertawa. Hampir. Yoongi menutup pintunya setelah Jimin masuk kemudian juga masuk dari sisi lain.
Ketika Yoongi masuk di dalam dia disambut oleh pemandangan: Jimin menatap semua yang ada di dalam mobilnya dengan mata berbinar. Dia bahkan mengeluarkan kata 'wow' setiap kali dia menyentuh sesuatu. Dia terlalu terpikat akan mobil Yoongi untuk melihat Yoongi yang menatapnya kesal. Yoongi pura-pura batuk kemudian Jimin dengan cepat menatapnya dengan seringaian bodoh.
"Maafkan aku, Yoongi-ssi. Aku belum pernah melihat mobil seperti ini sebelumnya." Jimin terkikik. Kemudian, Jimin mendengar suara pintu yang terkunci. Dia menjadi panik.
"Err... Yoongi-ssi kenapa kau mengunci pintunya?" Jimin bertanya hati-hati.
"Kenapa? Kau takut?" Yoongi menjawa Jimin asal kemudian melepas syalnya.
"Tidak... Ini hanya sedikit menakutkan..." Jimin tersenyum cangung.
Yoongi mendesah kemudian mengulurkan tangannya untuk mengambil sesuatu dari laci mobilnya. Semua yang Jimin lakukan hanya mengagumi jari-jari indah Yoongi. Oh. Tiba-tiba Jimin memerah. Dia membayangkan berbagai macam hal akan jari Yoongi.
Yoongi kemudian mengambil sebuah dompet dari laci mobilnya dan Jimin menjerit. Keras. Terlalu keras sampai Yoongi mengernyit tidak suka.
"Apa? Aku belum melakukan apa pun." Yoongi mengerutkan keningnya.
"Itu milikku..." Kata Jimin perlahan sambil menutupi wajahnya dengan tangannya. Mengapa Yoongi memiliki dompet Pororonya? Yoongi melontarkan senyum yang benar-benar menakutkan sambil menganggukkan kepalanya. Dia membuka dompet itu untuk mengambil beberapa catatan. Jimin menjerit lagi. Kali ini lebih keras.
"Stop. Fucking. Screaming." Yoongi memutar matanya malas.
"Maafkan aku." Jimin berusaha menyembunyikan wajahnya dengan tangannya, tapi dia tidak bisa karena tangannya terlalu kecil.
"Baik. Sekarang aku ingin mendengar klarifikasi tentang hal ini." Yoongi melempar catatan itu ke pangkuan Jimin.
"Bagaimana... Bagaimana...Mengapa... dompetku... catatanku..." Jimin menatap Yoongi takut.
"Kau menjatuhkannya kemarin." Yoongi hanya menyibukkan dirinya dengan ponselnya dan menjawab beberapa pesan.
"Oh..." Jimin bergedik takut. Wow. Akhirnya hari ini telah datang. Salah satu dari beberapa khayalan gila yang dia buat di dalam pikirannya menjadi kenyataan! Dia harus segera menemukan alasan. Dia melirik dompetnya dengan cemas.
"Ya, aku benar-benar menyesal Yoongi-ssi. Terima kasih banyak sudah menemukannya." Jimin mengambil dompetnya dan tersenyum kaku.
"Tidak secepat itu, Park Jimin. Aku perlu penjelasanmu terlebih dahulu." Yoongi menghentikannya dengan merebut kembali dompet itu dari tangannya. Jimin hanya menundukkan kepalanya dan menautkan jari-jarinya sendiri.
"Katakan saja kenapa kau punya jadwalkku and we're good to go." Kata Yoongi dengan wajah datar ikoniknya.
"Hah. Kita akan pergi kemana?" Tanya Jimin.
"Berhenti berbelit-belit. Aku pantas mendapatkan sebuah penjelasan. Aku sudah mencoba menjadi orang baik." Yoongi mulai menggeram.
"Tapi aku benar-benar tidak tahu harus berkata apa." Jimin menundukkan kepalanya.
"Katakan saja apa yang ingin kau katakan," Yoongi hampir memutar matanya.
"Aku... aku penggemarmu, hanya itu alasannya." Jimin masih tetap menunduk.
"Penggemar?" Yoongi mengangkat alisnya.
"Iya. Aku sangat menyukaimu, itu juga alasanya." Jimin tersenyum. Yoongi tertawa. Sekali lagi, ini akan menjadi sangat manis jika Jimin bukan penguntit yang menyeramkan.
"Kau bisa mengatakan kau suka aku dengan mudahnya. Wow." Yoongi bertepuk tangan.
"Tapi itu alasan sebenarnya..." Jimin menggigit bibirnya, masih menundukkan kepalanya.
"Baiklah, terima kasih. Sudah lama sejak terakhir kali aku tertawa seperti ini. Ini hari baik." Yoongi tertawa.
"Hahahaha." Jimin bergabung Yoongi dan tertawa canggung.
"Tapi, dengar, Park Jimin. Aku tidak ingin melihatmu melakukan hal ini lagi." Yoongi berkata tegas dengan ekspresi datar yang menakutkan. Jimin, kemudian mendengar suara pintu dibuka.
"Silakan," Yoongi kemudian menambahkan. Dia memberi Jimin dompetnya. Jimin hanya menatapnya dengan ekspresi sedih dan kecewa. Dia pasti mengira aku akan membawanya ke suatu tempat, Yoongi berpikir.
Jimin membuka pintu mobil Yoongi perlahan dan meraihdompetnya. Dia melirik Yoongi untuk terakhir kalinya kemudian keluar dari mobil. Dia menutup pintu dan Yoongi segera melaju pergi, meninggalkan Jimin sendirian.
.
Jungkook membelai punggung Jimin lagi kemudian lebih banyak kata-kata manis padanya. Jungkook sangat kecewa. Dia tadinya sangat bersemangat untuk melihat apa yang terjadi. Ternyata…
"Eonnie, lihat sisi terangnya. Dia tidak benar-benar membencimu! Dia bahkan tidak mengatakan kata-kata kasar atau memakimu. Wow, jika aku jadi dia aku pasti sudah memintamu untuk fuck off. Jangan menangis, please." Nah, rupanya itu tidak manis.
"I know right?! Aku harusnya senang dia tidak membenciku. Tapi, aku tidak tahu mengapa aku hanya ingin menangis." Jimin terisak-isak.
"Sekarang pulang. Mandi, yang lama, dengan air hangat. Kau akan baik-baik saja." Jungkook menepuk bahu Jimin. Jimin memandang Jungkook dengan mata berkaca-kaca dan dia memberinya pelukan hangat.
"Terima kasih, Jungkook. Aku pasti tidak bisa melakukan sesuatu dengan benar tanpamu." Jimin memeluk Jungkook erat.
"Hahaha. Sekarang kau sadar. Tidak masalah. Pikirkan tentang ujian akhir yang sudah dekat. Itu akan membuatmu lupa tetang dia untuk sementara waktu." Jungkook tersenyum pahit. Sudah berapa kali Jimin menangis karena Yoongi?
"Aku pasti akan begitu! Terima kasih!" Jimin mengambil tasnya lalu berjalan keluar dari kamar Jungkook.
"Katakan pada ahjumoni, makan malam yang luar biasa, seperti biasanya." Tambah Jimin.
Jungkook hanya tersenyum. Bagaimana Park Jimin membuat sebuah makan malam menjadi luar biasa? Berbicara dengan Jimin kadang-kadang memang agak sulit. Tapi, sekali lagi, Jimin memang punya pikiran yang berputar-putar. Jadi tidak apa-apa. Jungkook menyaksikan Jimin berjalan ke rumah bibinya sambil melambaikan tangan. Lalu dia bergegas kembali ke kamarnya. Dia buru-buru meraih ponselnya untuk menghubungi seseorang.
"Halo?" Jawab seorang pria. Jungkook ketakutan saat suara itu terdengar terlalu datar.
"Ah, halo Taehyung! Aku minta maaf bahwa aku tidak bisa datang hari ini." Suara Jungkook begitu tegang.
"Tidak apa-apa, Kookie. Kita selalu punya besok." Jungkook lega saat Taehyung tidak terdengar marah sama sekali.
"Oh ya? Aku pikir kau sudah menonton film-nya dengan orang lain." Jungkook berbisik.
"Siapa? Aku ingin menonton film itu karena kau." Jungkook tersenyum. Ah. Itu manis.
"Lalu, dari mana saja kau? Kau tidak menjawab pesanku." Jungkook cemberut.
"Aku pergi ke tempat sepupuku untuk makan." Taehyung tertawa dan Jungkook memekik sedikit. Tawanya terlalu manis.
"Oh..." Jungkook hanya menanggapi dengan sebuah anggukan yang sebenarnya tidak bisa Taehyung lihat.
"Tapi kau, dari mana saja kau? Kau tidak menjawab panggilanku." Jungkook tertawa sedikit, dia benar-benar bisa membayangkan bagaimana Taehyung cemberut.
"Aku akan memberitahumu semuanya tentang hal itu besok. Kau perlu tahu sesuatu." Jungkook tersenyum, senyumnya begitu berarti.
Seteah ini, Jimin pasti akan berterima kasih padanya.
.
.
.
a/n: Tadaaaaaaaaaaaa~~ Chapter dua
Laptop saya udah sembuh! Yuhuuu~~ ^^
Makasih sudah baca. Sorry for typo ya.
Special thanks buat yang udah review di chapter satu dan ngasih semangat buat lanjutin kkkk~
Kasper-nim, JiminVivi, Diana, Yoongiena, Hanami96, AzaleARMY957, Zyan Chim-Chim, nabits0613, Jchimchimo, ichikameyora, avis alfi, IoriNara, esazame, sxgachim, Primadonagirl, minsabiru, minimin dan Yuzuki Chaeri
Muachhhh~~~ ^0^
