Disclaimer:

Saint Seiya© Kurumada Masami

Saint Seiya The Lost Canvas© Shiori Teshigori

Tales © Convallarie

Alternative Universe

Second Story :

Paradise View

Aspros x Sisyphus

Warning :

OOC, typo's

.

.

.


Alkisah...

Di sebuah lembah yang dikelilingi dengan rerumputan hijau membentang, hiduplah sepasang anak kembar yang bekerja sebagai peternak domba.

Pun dikatakan kembar, keduanya tidak benar-benar bisa dikatakan sama persis. Meski wajah mereka sama, tetapi sang kakak memiliki garis wajah yang lembut dan diberkahi kulit seputih bulu domba. Sedangkan sang adik memiliki garis wajah lebih keras namun penuh kehangatan, juga warna kulit yang lebih gelap.

Sang kakak sangat gemar mempelajari hal-hal baru melalui buku-buku yang didapatkannya. Tiap kali kembali dari kota untuk menjual hasil perahan susu, ia pasti akan pulang dengan membawa setidaknya satu buku. Sedangkan sang adik lebih senang menjelajahi alam liar bersama partner setianya, seekor anjing ber-ras setengah serigala yang memiliki bulu perpaduan antara warna hitam dan putih.

Meskipun tanpa kehadiran sosok orang tua, keduanya hidup dalam damai. Senyuman dan tawa selalu mewarnai hari-hari mereka.

.


.

Suatu hari, seperti biasa sang kakak pergi ke kota untuk menjual hasil ternak mereka. Sedangkan sang adik memilih untuk tetap tinggal di rumah.

Setelah menerima imbalan dari hasil menjual bulu domba, sang kakak memutuskan untuk segera pulang ke rumah. Namun tiba-tiba saja terdengar ribu-ribut yang berasal dari warga sekitar. Seorang wanita berkata pada wanita lainnya "Mereka bilang sang Raja sedang melakukan kunjungan di pusat kota."

Penasaran, sang kakak mengikuti rombongan warga yang berbondong-bondong menuju pusat kota untuk bertatap muka dengan sang Raja. Pasalnya, sepanjang dirinya hidup, ia juga belum pernah melihat langsung bagaimana sosok orang yang menyandang gelar sebagai pemimpin negeri tempatnya tinggal.

Jujur saja, sang kakak sangat mengagumi sosok sang Raja yang mampu memimpin negeri dengan sangat baik dan memberi kemakmuran bagi rakyatnya.

.

Sekembalinya dari kota, dengan suara yang menggebu-gebu sang kakak memanggil-manggil nama adiknya yang tengah meruncingkan kayu dengan pisau kecilnya. Sesampainya ia di hadapan sang adik, mulailah ia bercerita tentang hal yang ia alami sewaktu di kota tadi.

"Sudah kuputuskan, ketika besar nanti, aku ingin menjadi seorang Raja seperti Raja kita!"

Sayangnya, sang adik nampaknya tidak terlalu antusias ketika mendengarnya. Meski jengkel, sang kakak tidak marah. Ia terbiasa hidup dengan sikap cuek sang adik. Dijegalnya leher sang adik kuat-kuat yang tentu saja menuai protes dari yang bersangkutan. Namun keduanya tertawa begitu lepas setelahnya.

.


.

Tahun-tahun berlalu, keduanya kini sudah berusia enam belas tahun dan tumbuh menjadi sepasang pemuda yang tampan. Seperti yang diharapkan, sang kakak tumbuh dengan kecerdasan luar biasa. Tekadnya untuk bisa menjadi seorang pemimpin ternyata bukan bualan semata. Sejak saat itu, ia sudah belajar mati-matian demi mimpinya.

Cuaca hari itu begitu cerah. Sekembalinya dari mengembala, sang adik melihat seekor kuda kerajaan terparkir di dekat kediamannya. Ternyata seorang utusan dari kerajaan datang untuk memberi undangan ke istana. Tentu saja undangan tersebut ditujukan untuk sang kakak. Siapa yang menyangka, rumor tentang kejeniusan sang kakak bisa sampai terdengar ke dalam ruang lingkup istana dan membuat sang Raja tertarik.

Keesokan harinya sang kakak berpamitan untuk pergi ke istana dengan dijemput kereta kuda kerajaan. Karena yang diundang hanya sang kakak, si adik tentu saja hanya bisa menunggu sang kakak kembali sambil mendoakannya.

.

Malam itu, sang kakak kembali dengan mengenakan pakaian yang kelewat bagus. Bahkan sang adik hampir saja salah mengenalinya sebagai anak para bangsawan.

Di tengah ruangan yang hanya bernyalakan cahaya lilin, sepasang kakak beradik melakukan perbincangan cukup panjang yang diakhiri dengan kabar mengejutkan. Sang Raja dan Ratu yang ternyata tidak dikaruniai keterunan menginginkan sang kakak untuk dijadikan Putra Mahkota mereka.

Mendengarnya, sang adik hanya bisa ikut merasa senang atas pencapaian sang kakak. Ia berpikir, mungkin ini bisa menjadi langkah yang baik untuk sang kakak menuju impiannya.

Kabar buruknya, sang adik tidak bisa ikut tinggal bersama sang kakak di istana.

"Akan kubuatkan kerajaan dimana kau dan aku bisa hidup bahagia selamanya."

Janji sang kakak yang merupakan kata-kata terakhirnya untuk sang adik sebelum mereka berpisah.

.


.

Di tahun kesepuluh diangkatnya sang kakak menjadi Putra Mahkota, perang antar negeri ke-dua pecah. Akibatnya, banyak nyawa menjadi korban dan kesengsaraan bagi rakyat biasa.

Bersama dengan sang Raja, sang kakak yang kini menyandang status sebagai putra mahkota mengambil garis depan di pertempuran penentuan. Jika mereka memenangkan perang ini, maka impian sang kakak tak lama lagi akan terwujud.

Namun sayang, kenyataan tidak selalu sesuai ekspektasi. Kerajaan mereka kalah total dalam pertempuran. Bahkan sang Raja menjadi korban yang gugur dalam pertempuran. Sang Putra Mahkota sendiri kini hanya bisa berbaring di tengah mayat yang bergelimpangan. Luka di sekujur tubuhnya terus-menerus mengalirkan darah. Rasa ngeri, sakit dan keputus asaan menjadi satu. Ia ingin berteriak, memanggil nama adiknya, namun percuma. Yang bisa ia lakukan hanya menunggu sang ajal datang menjemput.

"Hal apa yang kau inginkan?"

Saat pandangannya mulai menggelap, suara lembut bisikan tertangkap indera pendengar sang putera mahkota. Dalam kesadaran yang hampir lenyap ia pun membalasnya.

"Kekuatan. Aku ingin kekuatan."

Setelahnya, suara bisikan itu terus mengajukan pertanyaan di setiap jawaban yang telah diberikan oleh sang Putra Mahkota. Hingga berakhir dengan sebuah keputusan yang diucapkan suara misterius tersebut.

"Akan kukabulkan harapanmu. Namun satu hal yang perlu kau ingat, apapun yang kau dapatkan setelahnya, jangan terbuai. Atau sesuatu yang buruk akan menimpamu berserta kerajaanmu."

Di tengah kegelapan, seberkas cahaya putih menyeruak. Sang Putra Mahkota membuka matanya. Sepasang sayap putih berkilau menyambut kedua bola matanya yang berwarna safir. Sesosok malaikat berambut cokelat tersenyum lembut padanya.

.

Masa mencekam peperangan telah berakhir. Sang Putra Mahkota pulang dengan membawa bendera kemenangan. Sayangnya, dalam peperangan kali ini, mereka kehilangan sang Raja tercinta.

Hari di mana seharusnya diadakan perayaan, berubah menjadi sebuah acara pemakaman. Banyak pelayat yang datang untuk mengucapkan belasungkawa, terlampau sedih mengetahui salah satu orang terkasih mereka telah tiada.

Suasana berkabung tidak boleh dibiarkan berlangsung lama. keesokan harinya, atas perintah sang Ratu dan keputusan dewan istana, acara pengangkatan Putra Mahkota sebagai raja selanjutnya pun dilangsungkan.

Meskipun rasa pilu masih bersemayam di hati, perayaan disambut penuh suka cita. Khalayak berbondong-bondong memberikan ucapan selamat dan hormat kepada sang Raja baru.

.


.

Tahun kian terlewati, didampingi sang malaikat penyelamat, sang kakak berhasil membangun sebuah negeri yang begitu ideal. Mengukir sejarah baru sebagai raja paling arif dan bijaksana yang begitu dicintai rakyatnya.

Hanya saja, ia mulai melupakan satu hal terpenting dari semua tujuan yang ingin dicapainya selama ini. Adiknya.

.


.

Suatu hari, sang ibunda datang membawa sebuah pertanyaan.

"Kapan kiranya kau akan menemukan wanita yang cocok sebagai permaisurimu?"

Sang Raja sangat paham dengan situasinya. Negeri tanpa Ratu sama saja seperti sebuah keluarga yang tidak memiliki sosok seorang ibu. Namun sang Raja tidak pernah berpikir untuk meminang gadis manapun. Entah itu gadis dari rakyat biasa, putri bangsawan maupun tuan putri dari negeri tetangga.

Hanya satu alasannya: ia jatuh cinta pada sang malaikat yang telah memberikan semua kebahagiaan ini padanya.

Malaikat dilarang jatuh cinta pada manusia. Jika itu terjadi, sesuatu yang buruk akan menimpanya. Ia akan mati.

Bagaimana kalau itu hanyalah mitos belaka?

.


.

Malam itu bulan purnama pertama di tahun yang baru. Di bawah sinar sang dewi malam, sayap sang malaikat memancarkan sinar yang jauh lebih indah dari biasanya. ia bersenandung, melantunkan melodi angin yang begitu merdu.

Disaat yang bersamaan, sang Raja datang menghampiri. Membelai lembut sayap putih sang malaikat, menghirup aromanya yang memabukan, kemudian melayangkan sebuah kecupan.

Sang malaikat yang terkejut menghentikan lantunan melodinya. Bola matanya yang sehijau rerumputan musim semi menatap sang Raja sayu.

"Kita seharusnya tidak, tuanku."

"Kumohon, malam ini saja. sebelum hari esok menyosong, ketika raga ini dimiliki oleh sosok selain dirimu."

Sulit menolak permintaan dengan nada begitu memelas, sang malaikat tidak memiliki pilihan lain. Ia sudah pernah melakukan satu kali pelanggaran, tidak masalah bukan, jika sekali lagi ia menambah daftar dosanya?

.

Denting suara lonceng gereja membangunkannya.

Sang malaikat terjaga di atas ranjang tanpa busana. Matanya menerawang ke luar jendela. Dari kejauhan, samar terdengar suara riuh penuh suka cita. Hari bahagia untuk negeri ini, hari di mana 'sang anak' menyambut 'ibu' baru mereka.

Bagaimana dengan dirinya? Haruskah ia juga ikut merasa bahagia?

Tidak, dia memang bahagia. Kebahagiaan rajanya adalah kebahagiaan untuk dirinya.

Meski surga menolaknya, pun kehilangan warna sucinya. Sang malaikat akan selalu berbahagia untuk sang raja.

Menggenggam sehelai bulu sepekat malam, sang malaikat memanjatkan lantunan do'a.

.


.

Angin pertama musim semi datang disertai dengan suara tangisan pertama seorang Pangeran kecil.

Menyambut kelahiran sang pewaris tahta, perayaan diadakan secara besar-besaran. Berbagai jenis makanan dan hiburan tersedia secara cuma-cuma. Sepenjuru negeri menari gembira. Khalayak berbondong-bondong mendatangi istana, sekedar ingin memberi berkat dan hadiah pada calon raja di masa depan.

.


.

Musim demi musim berlalu, kini sang Pangeran mulai belajar berjalan. Sang malaikat menonton sambil menjaga dari kejauhan.

Suatu ketika, sang Raja bertanya kepada sang malaikat.

"Malaikatku, mengapa kau tidak pernah mau berdekatan denganku lagi? Tidak tahu kah kau betapa kesepiannya diriku?"

Dengan menyunggingkan seulas senyuman, sang malaikat berkata:

"Bagaimana bisa hamba berada di sisi tuanku jika sang Pangeran selalu menangis ketika melihat sayap hitam milik hamba."

.


.

Tiap harinya, helai bulu pada sayapnya tanggal satu persatu.

.


.

Siang itu, seperti biasa, sang malaikat mengamati sang Pangeran (yang kini genap berusia tiga tahun) bermain di taman istana dari kejauhan. Sesekali ia tertawa geli melihat tingkah sang Pangeran yang begitu menggemaskan.

Tak lama kemudian, sang Ratu datang, menggendong sang Pangeran ke dalam pelukannya. Sebelum beranjak pergi, sang Ratu melirik ke arah sang malaikat. Tersenyum sambil sedikit membungkukkan badan. Berterima kasih karena telah bersedia menjaga buah hatinya.

.


.

Di usianya yang ke-tujuh, sang Pangeran menderita sakit parah.

Tidak diketahui apa penyebabnya. Pun semua jenis obat-obatan sudah dicoba, seluruh tabib terbaik dari sepenjuru negeri didatangkan, namun tetap nihil hasilnya. Akhir terburuknya, nyawa sang Pangeran tak terselamatkan.

.

Angin musim gugur berhembus disertai gugurnya helai daun pertama.

Sang malaikat membuat keputusan penting.

.


.

Sang Pangeran berlari penuh semangat ke dalam dekapan sang Ratu dan Raja.

Rasa senang bukan kepalang tentu saja mewarnai suasana ruangan itu saat ini. Bagaimana tidak, secara ajaib, sang Pangeran yang divonis nyawanya tidak akan bertahan lebih lama lagi kini tertawa penuh ceria dalam pelukan sang ibunda.

Tangis haru pecah seketika. Entah itu para pelayan, penjaga dan tabib istana, mereka semua menyayangi sosok mungil sang Pangeran.

Hanya saja, dalam moment tersebut sang Raja kembali teringat tentang kisah masa lalu. Ketika dirinya tengah menanti ajal di area pertempuran. Ketika sang malaikat membagi setengah nyawa miliknya untuk dirinya.

Tidak mungkin.

Detik itu juga, sang Raja berlari keluar ruangan meninggalkan seribu pertayaan untuk orang-orang yang berada di sana.

.

Pintu dibuka dengan kasar. Sang Raja menerobos masuk mencari sosok pemuda bersayap.

Terkulai lemah di atas dinginnya lantai marmer. Di bawah terpaan sinar mentari senja, sepasang sayap tidak sanggup lagi untuk mengepak.

Tidak!

Menghambur memeluk raga nyaris tak bernyawa, sang Raja meneriakan pilu mengorek jiwa.

Bersamaan dengan kembalinya sang mentari ke peraduannya, menyambut hadirnya sang dewi malam. Sosok sang malaikat melebur menjadi jutaan butir cahaya. Terbang tinggi bersama hembusan angin musim gugur. Menyisakan sehelai bulu putih bersinar.

.


.

Di sebuah lembah yang dikelilingi rerumputan hijau membentang. Sepasang pria berupa sama baru saja akan memulai sebuah perbincangan panjang.

"Maukah kah kau mendengarkan cerita kakakmu ini yang bertemu dengan malaikat?"

-Fin-


.

.

.

Author's note:

Halo! Apa kabar fandom ini?

Saya kembali setelah sekian lama pergi dengan meninggalkan banyak hutang. Tolong tepuk tangannya! *disambit*

Oke, melanjutkan project chuunibyou ini, sesuai janji, saya membawakan AspSisy ke cerita kedua. Meski pun ini lebih gak jelas dari cerita pertama dan ngerubah gaya penulisan coretyangterinspirasidarifanfickakkuocoret. Bahkan nggak disebut nama sama sekali di dalamnya. Tapi mudah-mudahan sih kalian ngeh itu siapa-siapa aja.

Cuma jujur aja, waktu nulis Ratu (bininya Aspros) saya terus kepikiran Calvera. Kemudian sadar, Calvera punya Kardia. pasangan lurus buat bang Asep mah si Chris, ya. #yaudah

Di cerita ke-tiga mungkin ada yang mau rikues pairing? Tapi jangan yang aneh-aneh ataupun OC, ya. Saya angkat tangan kalau begitu. Terus, paling saya buat juga kalau mood dan itu entah kapan. Bisa jadi tahun depan. Haha

Well, udah deh kayaknya.

Salam kangen,

Convallarie