.

.

HAEHYUK FANFICTION

.

.

TWO PEOPLE

.

.

Warn: YAOI, BL, 2S, OOC, AU, RCL, DLDR, etc.

.

Selamat Membaca ^^

.

.

BRUG...

Suara debuman cukup keras itu terdengar, kemudian disusul dengan suara pintu yang ditutup pelan. Donghae tersenyum melihat Hyukjae yang begitu saja merebahkan diri di ranjang king size yang berada di ruangan ini. Tak peduli dengan keadaannya yang bahkan masih menggunakan sepatu. Donghae perlahan mendekat sebelum ikut berbaring menyamping menghadap Hyukjae yang memejamkan matanya.

Tangan kanannya terangkat, menyingkirkan poni yang menjuntai menutupi kening istrinya sebelum menanamkan satu kecupan di sana. Menerima perlakuan sang suami, kelopak mata Hyukjae terbuka. Memandang wajah tampan Donghae dengan raut lelah yang begitu kentara di wajahnya.

" Hae... Lelah.."

Hyukjae merengek kecil sebelum bergerak memeluk tubuh Donghae, sedang yang dipeluk hanya terkikik kecil sambil tangannya tak berhenti mengelus surai halus Hyukjae.

" Jelas kau lelah, sejak tiba di sini kita sama sekali belum istirahat."

Di sini mereka sekarang, di reshort mewah milik Donghae yang akan mereka tempati selama mereka berada di Hawai. Hawai? Ya, pasangan pengantin baru itu berada di sini sekarang, di pulau yang terkenal akan keindahannya. Mereka tiba pagi tadi. Setelah meletakkan barang di reshort, Hyukjae merengek untuk segera berkeliling tempat itu. Terlalu asik hingga saat hari mulai gelap mereka baru kembali.

Hyukjae semakin meneggelamkan kepalanya dalam dekapan Donghae. merasakan kehangatan yang begitu nyaman melingkupinya. Dewi mimpi hampir saja menjemputnya saat Donghae mengguncang pelan tubuhnya.

" Hei... Jangan tidur dulu sayang. Kau harus membersihkan tubuhmu dulu."

" Nghh.. Tapi aku lelah Hae-ah."

Suara Hyukjae sedikit teredm karena sedari tadi ia masih belum menjauhkan kepalanya. Donghae tersenyum jahil saat satu pemikiran terlintas di benaknya.

" Ahh... Jadi istriku kelelahan hm? Baiklah, kalau begitu aku yang akan membersihkan tubuhmu Chagia."

SRAK...

Tepat setelah kalimat Donghae selesai, Hyukjae bangkit dan tanpa berkata apapun, tanpa menoleh sedikitpun, dengan kesal ia melangkah ke kamar mandi.

BRAK..

Dan tawa Donghae pecah saat melihat tingkah istrinya itu.

" Hyukkie, kenapa kau tutup pintunya sayang. Kalau kau lelah aku bisa membantumu baby." Donghae berteriak kencang yang tentunya Hyukjae di dalam kamar mandi bisa mendengarnya dengan jelas.

" MESUUUUMMM!" dan tawa Donghe kembali menggema di sana.

::

::

Donghe sedang duduk di ranjang sambil memainkan ponselnya saat ia mendengar suara pintu kamar mandi dibuka. Tak berapa lampai sampai sosok Hyukjae keluar dari sana dengan mengenakan piyama kuning bercorak strawberry. Melihat itu Donghae tersenyum, Aish... Istrinya benar-benar menggemaskan.

Meletakkan ponselnya di meja nakas, Donghae melambaikan tangan mengisyaratkan Hyukjae untuk bergabung bersamanya. Hyukjae mendekat kemudian menyambut uluran tangan Donghae. Menurut begitu saja saat suaminya itu membimbing tubuhnya untuk duduk di depan Donghae, dan segera saja lengan kekar itu melilit pinggangnya.

" Bagaimana? Lebih baik kan setelah mandi?"

Hyukjae mengangguk sambil tersenyum kemudian menyandarkan punggungnya pada dada bidang Donghae sepenuhnya. Hyukjae begitu menyukai suasana seperti ini. Saat Donghae memeluknya dengan erat, membuatnya merasa hangat dan nyaman.

" Iya, tapi badanku sedikit pegal."

Rengekan itu lagi-lagi muncul. Entah kenapa Donghae merasa jika sekarang ini Hyukjae sering kali merengek. Bukannya ia tak suka karena Hyukjae yang bertingkah seperti itu sangat manis menurutnya.

" Benarkah?"

Pertanyaan Donghae hanya dijawab anggukan kepala dari Hyukjae. Bergerak, Donghae membawa tangannya yang sedari tadi merengkuh pinggang istrinya ke arah pundak sempit itu. Memberikan sedikit pijatan membuat tubuh di depannya semakin rileks.

" Apa begini nyaman?"

Dan gumaman Hyukjae sebagai jawabannya. Kedua mata namja manis itu terpejam erat, menikmati pijatan Donghae yang terasa begitu nyaman untuknya. Donghae masih melakukan kegiatannya, sampai mata nakalnya tertuju pada pemandangan di depannya.

Tepat didepan matanya, ia bisa melihat sisi leher jenjang Hyukjae yang terekspose sepenuhnya karena istrinya itu sedikit memiringkan kepalanya ke kanan. Jangan lupakan pula, bahunya yang sedikit terlihat karena piyamanya yang memang berukuran besar. Donghae menyeringai penuh arti, yang tentu saja tak bisa dilihat oleh Hyukjae.

" Kau menikmatinya sayang?" Bisikan seduktif itu mengalun lirih tepat di samping telinga Hyukjae.

" Iyahhh... Ngghhhh."

Nada itupun mengalum begitu saja saat Donghae mulai mengecupi sisi leher Hyukjae tanpa menghentikan pijatannya.

" Haehhh... Berhh... hentihhh nghhh..."

Hyukjae mulai bergerak resah saat dirasakannya Donghae tak hanya mengecup, tetapi kini sesekali benda basah nan lunak turut menyentuh kulit lehernya.

Masih dengan pijatannya, namun bibir Donghae kini bergerak. Menyusuri leher jenjang sang istri hingga sampai ke telinga kirinya, berbisik seduktif di sana.

" Kau bilang kau menyukainya, kenapa kau memintaku berhenti hm?"

Meniupnya perlahan dan setelahnya Donghae mengulum lembut daun telinga Hyukjae, membuat tubuh istrinya itu menegang. Tangan Hyukjae yang sedari tadi terkulai di sisi tubuhnya kini bergerak. Meremas kedua paha Donghae yang berada tepat di sampingnya mengingat posisinya yang berada di antara dua kaki donghae yang terbuka. #Ribetbangetbahasanya -_-*abaikan.

" Ti-tidak.. Tap- Tapi kau ngghhhh..."

Lenguhan itu kembali mengalun saat Donghae justru menghisap keras telinga istrinya. Tangannya yang masih bergerak di bahu Hyukjae kini beralih ke lengan namja manis itu. Masih sama, memijatnya pelan seperti apa yang ia lakukan di bahu Hyukjae.

Merasa cukup dengan salah satu titik sensitif istrinya bibir Donghae kembali beralih. Kali ini bibir nakalnya merambah bahu sang istri. Mengecupnya lembut sesekali menggigit kecil bahu yang masih tertutupi piyama itu, namun tetap mampu memberikan sengatan kecil pada tubuh Hyukjae.

Tangan kokohnya beralih, yang semula masih memijat kini mulai bergerak nakal. Tangan kanan Donghae menelusup ke bawah baju piyama Hyukjae sedang tangan kirinya menarik kerah piyama kuning itu, sehingga membuatnya bisa lebih leluasa mengecup kulit lembut sang istri.

Hyukjae semakin melenguh, terutama saat merasakan telapak tangan Donghae membelai lembut bagian depan tubuhnya. Semakin bergerak ke atas hingga menemukan apa yang dicarinya, dua benda mungil yang sedikit menonjol di dada sang istri. Mengusapnya lembut tanpa meninggalkan cumbuannya di leher Hyukjae.

Hyukjae mendongak, memejamkan matanya erat dengan kepala bersandar pada bahu kanan Donghae, memberikan akses lebih pada bibir nakal sang suami. Donghae tak berhenti, bahkan semakin bersemangat melihat respon tubuh indah di depannya. Jangan lupakan alunan menggoda yang tak pernah berhenti keluar dari bibir penuh itu. Tak bisa menahan diri lebih lama Donghae membalik sedikit kasar tubuh Hyukjae kemudian menghempaskannya ke ranjang. Menahan tubuh yang lebih kecil itu ke dalam kungkungannya.

Pandangan keduanya beradu, Hyukjae yang menatap Donghae sayu dengan wajah yang kini memerah serta nafas yang terengah-engah. Sedang Donghae sendiri tersenyum begitu lembutnya sembari menatap dalam mata Hyukjae. Merendahkan tubuhnya kemudian menanamkan satu kecupan yang begitu lembut di kening Hyukjae, membuat Hyukjae memejamkan matanya menikmati kehangatan yang menyapa sampai relung hatinya.

Beberapa kali mengecup kening Hyukjae, berlanjut ke arah kedua mata yang masih terpejam itu, kemudian bergerak lagi. Mengecup kedua belah pipi lembut Hyukjae, menyusuri rahangnya dengan kecupan kecupan ringan. Masih berlanjut pada dagu Hyukjae sebelum menawan bibir merah merekah yang begitu menggoda. Keduanya terlarut, saling melumat lembut menyampaikan perasaan tak terhingga di antara keduanya.

Tak lama sampai pagutan lembut itu Donghae akhiri saat Hyukjae menepuk bahunya sedikit keras, menandakan jika paru-parunya membutuhkan asupan udara. Donghae terkekek kecil melihat Hyukjae yang merengut sebal ke arahnya.

" Hah..Hah... Hah... Kauhh... Gila.. Hah... Kau mauhh... hah... membunuhku eoh?"

Bahkan gerutuan Hyukjae pun terdengar begitu manis di telinga Donghae. Mengerling sekilas dan Donghae kembali menyambar belahan penuh milik Hyukjae. Melumatnya sedikit kasar, sesekali menjilat dan menghisap bibir atas dan bawah Hyukjae. Terasa begitu manis dan memabukkan. Menjilat bibir bawah hyukjae beberapa kali sampai Hyukjae mengerti apa yang diinginkan suaminya. Bibir itu terbuka memberikan akses pada sang dominan untuk menjelajah salah satu ruang hangatnya.

" Ngmhhh... cpk...cpk..."

lenguhan Hyukjae disertai suara kecipak saliva itu meramaikan suasana sunyi di kamar luas itu. Tangan Donghae kembali bekerja. Masih menggunakan tangan kiri sebagai penyangga tubuhnya agar tak menindih tubuh Hyukjae sepenuhnya, sedang tangan kanannya bergerak membuka satu persatu kancing piyama Hyukjae.

Merasa Hyukjae mulai bergerak resah dan tak ada lagi kancing yang perlu dibuka Donghae melepas pagutannya di mulut Hyukjae, membuat namja manis di bawahnya segera meraup udara sebanyak yang ia bisa. Tak membiarkan Hyukjae mengambil nafas dengan tenang, Donghae kembali mencumbu leher depan Hyukjae. Memainkan lidahnya di jakun kecil itu kemudian bergerak turun. Tak dibiarkan seinci pun bagian tubuh Hyukjae terlewatkan olehnya.

Merambah dada Hyukjae kali ini cumbuan Donghae semakin intens. Lidah terlatihnya mengitari salah satu tonjolan berwarna merah muda di sisi kiri dada Hyukjae tanpa menyentuh puncaknya (?), sedang tangan kirinya memainkan benda yang satunya. Mengusapnya lembut kemudian memberikan beberapa cubitan kecil di sana. Tanpa menjauhkan kepalanya, Donghae melirik ke atas guna melihat bagaimana menggodanya ekspresi Hyukjae saat ini.

Keningnya mengernyit menampilkan kerutan kecil dengan mata yang terpejam erat menahan nikmat atas sensasi yang di berikan Donghae pada tubuhnya. Menutup mulut dengan punggung tangannya dan sesekali kepalanya bergerak resah ke kanan dan kiri tak beraturan. Di tengah apa yang dilakukannya Donghae sedikit menyeringai, puas akan reaksi tubuh Hyukjae yang begitu sensitif atas sentuhannya. Dan dada itu terangkat, semakin membusung saat tanpa aba-aba Donghae memasukkan nipple Hyukjae ke mulutnya. Mengulum, menghisap, dan sesekali menggigit benda menggemaskan yang entah kenapa bisa terasa manis di mulutnya.

" Ngghhh... Haehh... Akhhhh..."

Kali ini Hyukjae tak bisa menahan erangan kenikmatan itu keluar dari mulutnya. Donghae memang selalu tahu di mana titik sensitif tubuhnya sehingga membuatnya kelimpungan seperti ini.

Merasa hambar dengan apa yang tengah dinikmatinya, mulut Donghae beralih. Kali ini menghisap nipple kanan Hyukjae, memperlakukannya seperti tadi, sedang tangan kanannya menggantikan kerja mulutnya.

" AKH!" Pekikan itu cukup keras saat sekali Donghae menghisap keras nipplenya sebelum melepas kulumannya.

Donghae meninggalkan semua kegiatannya kemudian menegakkan tubuh guna memandang lebih jelas raga yang tengah terbaring tak berdaya di depannya. Entah kenapa melihat keadaan Hyukjae yang seperti ini membuat tenggorokan Donghae tiba-tiba terasa kering bahkan ia measa sulit menelan salivanya sendiri. Ingatkan Donghae untuk tak segera menerkan makhluk menggoda itu.

Hei bagaimana tak menggoda jika di depanmu sekarang sesosok tubuh tengah tergolek pasrah. Wajah manis yang kini memerah dengan pandangan sayu menatap ke arahmu serta bibir merah merekahnya yang sedikit terbuka. Dengan tubuh putih tanpa cela yang hanya terbalut piyama yang bahkan kancingnya terbuka semua. Jika kau turunkan pandanganmu, maka kau bisa lihat sesuatu yang tampak begitu menegang di sana, sesuatu yang tak cukup besar namun tentunya begitu menggoda dan menggemaskan. Donghae menjilat bibir bawahnya yang ia rasakan benar-benar kering saat ini.

" Haehh..." Panggilan itu terdengar begitu mendayu.

" Hyuk... Aku benar-benar sudah tak tahan. Kau sangat menggoda baby. Cukup main-mainnya, kita ke inti sekarang."

Tepat setelah kalimat itu selesai Donghae menarik begitu saja celana Hyukjae beserta under wearnya, menampakkan milik Hyukjae yang sudah tampak begitu keras dan tegang. Sepertinya istri manisnya itu sudah dalam posisi terangsang berat, terbukti juga dengan cairan bening yang mengalir dari ujung kejantanan Hyukjae.

" Lihat...Lihat... Siapa yang bangun hmm?."

Nada usil yang Donghae lontarkan tak ayal membuat wajah Hyukjae yang memerah semakin bertambah merah. Berniat menyilangkan kaki untuk menutupi bagian pribadinya, namun dengan cepat Donghae menahan kedua kaki Hyukjae. Dan Hyukjae bersumpah, baru pertama kalinya ia melihat Donghae menyeringai seperti itu.

" Jangan buang waktu sayang, aku benar-benar tak tahan dan aku harus mempersiapkanmu terlebih dahulu."

" Ngghhh... Ahhh... Akhh..."

Lenguhan itu kembali menjadi jawaban saat tanpa aba-aba Donghae menggenggam cukup erat batang milik Hyukjae. Mengurutnya pelan, bergerak atas bawah sampai cairan precum Hyukjae melumuri telapak tangan kanannya. Merasa cukup Donghae menggunakan tangan kirinya untuk membawa satu kaki Hyukjae ke pundaknya, sedang tangan kanannya yang kini terasa licin mulai menyentuh perlahan opening Hyukjae.

" Ahhh... Haehhh..."

" Tenang sayang, kau butuh persiapan dulu."

Dengan perlahan Donghae memasukkan telunjuknya, membuat tubuh Hyukjae sedikit menengang.

" Sakitkah?"

Dan gelengan Hyukjae seolah menjadi komando bagi Donghae untuk melanjutkan kegiatannya. Menggerakkan satu jarinya keluar masuk, setelah dirasa lubang Hyukjae mulai beradaptasi Donghae menambahkan satu jarinya. Sama seperti tadi, menggerakkannya maju mundur namun sesekali memutarnya, mencoba sedikit melebarkan lubang sempit itu. Dan satu jari terakhir Donghae turut serta ikut andil. Menerobos tempat hangat yang sebentar lagi akan 'disinggahinya'. Seiring pergerakan jarinya yang semakin leluasa Donghae mempercepat gerakan jarinya, melesakkan semakin dalam sampai ia merasakan salah satu ujung jarinya menumbuk sesuatu di dalam tubuh Hyukjae.

"AKHHH... HAEHH.. Akhhh"

Dan pekikan serta pinggul Hyukjae yang terangkat meyakinkan Donghae jika ia sudah berhasil menyentuh titik kenikmatan sang istri. Melihatnya Donghae semakin bersemangat, menggerakkan jarinya semakin cepat guna memberikan Hyukjae kenikmatan yang lebih.

" Akhhh... ahhh.. Haehhh... Ahh.."

desahan Hyukjae menggema, merasakan sensasi memabukkan yang melanda tubuhnya. Ada sesuatu yang ia rasa menggelitik perutnya, membuatnya ingin mengeluarkan sesuatu dari tubuhnya.

" Haeh.. Akuh... Ah.. Ak.. AKH HAEHHH!.."

Dan demi apapun, Hyukjae hampir sampai pada titik klimaksnya saat dengan tiba-tiba Donghae menarik keras jarinya, memutus gelombang yang sebentar lagi melanda tubuh Hyukjae.

" Hae.. A-Apa yang kau .. Ak... AKKHHH..."

Tubuh Hyukjae melengkung sempurna, bersamaan dengan cairan putih keruh yang mengucur dari ujung kejantanannya, saat dengan tiba-tiba Donghae menghujamkan miliknya dengan ujung yang tepat menyentuh prostat Hyukjae. Sakit? Tentu saja Hyukjae merasakannya, bagaimana tidak jika sesuatu yang begitu besar itu tiba-tiba saja menyeruak membuka lubang sempitnya. Namun seprtinya sakit itu tak sepadan dengan kenikmatan yang menyapanya. Tubuh ramping itu bergetar dengan pandangannya yang sekejab terasa kabur, hanya warna putih yang melingkupi pandangannya.

" Hah...Hah...Hah..."

Nafas Hyukjae terengah menahan gejolak nikmat yang masih begitu kental dirasakannya. Donghae mendiamkan miliknya, membiarkan Hyukjae menikmati sisa-sisa klimaks yang melanda namja manis itu. Menundukkan tubuhnya, Donghae mengecup singkat bibir Hyukjae membuat istri manisnya itu membuka mata.

" Kau menikmatinya sayang."

Donghae tersenyum memandang istrinya sembari mengusap peluh yang mengalir di pelipis Hyukjae. Satu lumatan di bibir tipisnya ia dapatkan sebagai jawaban dari sang istri.

" Kita lanjutkan. Sekarang giliranku..."

" Nghhh..."

Tanpa mengubah posisi Donghae menggerakkan pinggulnya. Apakah sudah ku katakan jika Donghae melepas pakaiannya?. Hei.. Jangan kalian fikir namja tampan itu naked saat ini. Bahkan tubuh Donghae masih lengkap terbalut piyama birunya, hanya saja celananya ia turunkan sebatas paha untuk membebaskan miliknya yang kini berada di dalam tubuh Hyukjae.

Donghae membuat intensitas gerakan pelan namun menghujam dalam dan keras di bagian bawah tubuh Hyukjae, sehingga ia benar-benar bisa merasakan bagaimana miliknya yang sudah mengeras dan membesar jauh dari ukuran biasa bergesekan dengan dinding rectum Hyukjae yang seakan bergerak meremas kencang miliknya. Hyukjae mendesah menyuarakan kenikmatan yang dirasakannya, sedang Donghae sesekali mendesis nikmat saat miliknya serasa dipijat lembut namun kuat di dalam tubuh Hyukjae.

" AKH..."

Donghae kini menambah intensitas gerakannya saat tahu jika miliknya sudah menemukan titik di mana ia bisa memanjakan Hyukjae.

" Ahh.. ahhh... haehh.. Ahhh.."

Hyukjae mendesah, satu tangannya mencengkeram erat bahu Donghae sedang satunya lagi meremas lembut surai brunnete suaminya. Kejantanan Donghae yang begitu intens menumbuk prostat sumber kenikmatannya benar-benar membuatnya kelimpungan.

" Sshhh.. Hyukkiehhh... Ahhss... Shhh..."

Merasa milik sang istri semakin menjepit kuat miliknya, Donghae tahu jika Hyukjae semakin dekat dengan klimaksnya. Begitupun dengan dirinya yang tak bisa lagi bertahan merasakan kenikmatan yang disuguhkan lubang hangat Hyukjae.

" Hahhh... Ahhhh... Haehhh.. Akuhhh.. Akuhhh"

Mengerti maksud perkataan Hyukjae, Donghae semakin bergerak liar mengejar klimaks keduanya. Gerakan tubuh kekar itu tak main-main. Tubuh Hyukjae yang terhentak-hentak dipeluknya erat. Bahkan suara derit ranjang turut meramaikan suasana malam itu.

" Bersamah... Sshhh... Bersama Sayanggghh..."

" Nghhh.. Haehhh.. Akuhh... Akk... AHHHHH"

" HYUKKIEHHHHH..."

Pekikan keras dari dua orang itu menggema bersamaan saat gelombang kenikmatan menghampiri keduanya. Tubuh Hyukjae terhempas ke ranjang sedang tubuh Donghae menegang dengan kepala menengadah menahan nikmat. Cairan cinta itu masih mengucur, milik Hyukjae yang membasahi perutnya dan juga Donghae, serta milik Donghae yang menyeruak masuk ke dalam Hyukjae. Memberikan sensasi hangat yang terasa nikmat untuk Hyukjae.

" Hah... Hah... Hah..."

Deru nafas itu terdengar bersahutan, seolah saling memburu guna mendapatkan pasokan oksigen setelah melakukan kegiatan yang cukup menguras tenaga. Hyukjae merasakan lelah yang amat sangan menghampirinya, membuat kelopak matanya seakan begitu berat untuk dibuka. Merasa nafasnya mulai kembali normal, Donghae menatap wajah Hyukjae. Menepuk pelan pipi Hyukjae yang memerah sesekali mengecup kecil bibir bengkak Hyukjae.

" Hyukkie... Sayang... Hei, kau benar-benar sudah tidur baby?"

Hyukjae mendengar suara itu, namun rasanya ia benar-benar lelah bahkan hanya untuk bergumam menjawab pertanyaan Donghae. Tak mendapatkan respon, dengan jahilnya Donghae menggerakkan miliknya yang masih bersarang dalam lubang Hyukjae, dan ia tersenyum geli saat Hyukjae terusik.

" Ngghh Haeh sudah. Aku lelah, biarkan aku tidur."

Hyukjae berbicara lirih tanpa membuka matanya. Donghae mengerti benar kondisi Hyukjae saat ini. Dengan sangat pelan menarik miliknya yang masih sedikit tegang dari tempat singgahnya, kemudian kembali memakai celananya.

Mengancingkan kembali baju piyama Hyukjae yang tadi terbuka, tanpa perlu repot memakaikan celana untuk sang istri. Donghae mengambil selimut tebal yang entah sejak kapan tergeletak di lantai, kemudian menyelimuti tubuh Hyukjae yang half naked.

Setelahnya Donghae bergegas ke kamar mandi hendak membersihkan tubuhnya karena tadi ia juga belum sempat mandi. Sekalian mengatasi 'adik' nya yang sepertinya masih belum puas dengan permainan tadi. Yah, mau bagaimana lagi. Hyukjae tampak begitu kelelahan dan Donghae tak akan mungkin membangunkan Hyukjae hanya untuk melampiaskan nafsunya.

Hampir tiga puluh menit berada di kamar mandi Donghae selesai dengan kegiatannya. Melangkah menuju ranjang di mana sang istri sudah jauh terlelap kemudian membaringkan tubuhnya di samping Hyukjae. Mencium bibir Hyukjae sekilas, lalu membawa tubuh ramping itu ke pelukannya.

" Selamat tidur sayang. Aku mencintaimu."

.

.

..::: HAEHYUK :::..

.

.

Sinar matahari yang begitu menyengat Donghae rasakan menerpa wajahnya, membuatnya yang semula masih asik dengan dunia mimpi mau tak mau harus membuka mata. Meraba tempat di sisi kiri ranjangnya, kosong. Tak ada seseorang yang seharusnya menempati sisi itu tadi malam. Masih menyesuaikan pandangannya dengan cahaya, namja tampan itu mendudukkan tubuhnya. Bisa dilihatnya matahari di luar sana bersinar dengan teriknya, mengingat balkon kamar yang ditempatinya hanya disekat dengan pintu kaca tepat menghadap laut lepas.

Matanya melirik jam kecil di meja nakasnya. Jam sembilan lewat tiga puluh menit, ah berarti dia amat sangat terlambat bangun. Kenapa sang istri tak membangunkannya. Memutuskan bangkit dari ranjang Donghae menuju kamar mandi guna sedikit membersihkan wajahnya supaya lebih segar. Tak lama sampai ia selesai kemudian memutuskan keluar kamar mencari seseorang yang belum ia lihat sejak ia bangun tadi.

::

::

Harum aroma masakah menyeruak memenuhi ruangan yang biasa di sebut dapur. Terlihat seorang namja berdiri di depan counter dapur dengan mengenakan apron merwarna kuning di tubuh rampingnya. Tubuh itu sedikit tersentak saat tiba-tiba ia rasakan seseorang memeluk tubuhnya dari belakang, namun hanya sekejab karena ia tahu benar siapa yang berada di belakang tubuhnya.

" Kau sudah bangun Hae?" tanpa menolehkan wajah Hyukjae bertanya, yang hanya ditanggapi gumaman kecil dari Donghae. namja tampan itu justru semakin mengeratkan pelukannya dengan dagu yang bertimpu di bahu kiri Hyukjae.

" Hae jangan seperti ini, aku sedang menyiapkan sarapan untuk kita." Tak menghiraukan ucapan Hyukjae, Donghae justru semakin mengeratkan pelukannya. Sesekali bibir tipisnya mengecupi tengkuk Hyukjae yang terpampang jelas di sepannya.

" Nghh... Haeh.. Jangan seperti ini. Kau tak lapar memang, ini sudah lewat dari jam sarapan." Tak peduli pada suaminya yang masih tak melepaskan dekapannya, Hyukjae kembali berkutat dengan kegiatannya.

" Tentu saja aku lapar sayang, aku bekerja keras semalam." Ucapan Donghae tak ayal membuat wajah putih itu merona merah sekarang.

" K-Kalau begitu lepaskan. Aku harus menyelesaikannya."

TRANG..

Suara yang tak begitu keras itu terdengar saat Hyukjae tak sengaja melepaskan pegangannya karena Donghae semakin dalam mengecup tengkuknya.

" Nghh.. Haehhhh..."

Kedua tangan Hyukjae bertumpu pada sisi counter dapur saat Donghae semakin menekan punggungnya. Masih menciumi tengkuk sang istri, perlahan Donghae melepas ikatan apron yang dikenakan Hyukjae, membuat selembar kain itu terlepas begitu saja.

Memutuskan membalik tubuh ramping di depannya menghadap tepat ke arahnya, kemudian menyambar bibir merah merekah yang selalu menjadi candunya. Tak memberi kesempatan Hyukjae untuk melakukan protes apapun, Donghae melumat sedikit kasar bibir Hyukjae. menyesapnya beberapa kali sebelum menyapa gua hangat sang istri dan mengajak si tuan rumah untuk bermain. Kedua tangan Hyukjae bertumpu pada dada bidang suaminya, sedang punggungnya bersandar penuh pada counter dapur.

Entah berapa menit yang mereka gunakan untuk saling memagut satu sama lain sampai Hyukjae memukul keras dada Donghae karena sesak yang kini menekan dadanya. Donghae yang mengerti kondisi sang istri segera mengubah daerah jajahannya. Yang tadinya masih menginfasi bibir Hyukjae kini berpindah ke leher Hyukjae.

Diiringi lenguhan Hyukjae yang seakan menjadi melodi yang begitu indah di telinga Donghae, bibir tipis itu tak henti mengecup, menggigit, kemudian menyesap keras kulit putih sang istri meninggalkan noda yang justru terlihat begitu indah di matanya..

Secara otomatis kepala Hyukjae condong ke kiri saat bibir Donghae kini menyusuri sisi kanan lehernya. Bergerak naik dari leher, menyusuri rahang, kemudian sampai pada telinga kanan Hyukjae. Menghembuskan nafas hangatnya di sana, membuat tubuh yang masih berada di kungkungannya itu mengejang sekilas.

" Ngghh... Haehhh..."

Kedua tangan Hyukjae berada di pundak Donghae, menahan agar tubuh sang suami tak semakin menghimpitnya.

" Kau sexy sekali baby."

Dan setelah kalimat dengan nada seduktif itu terucap, Donghae kembali bermain dengan benda di depannya. Menggigit kecil daun telinga Hyukjae, kemudian menjilat bagian belakangnya sebelum mengulumnya dengan begitu sensual.

" Ahhh.. Haehh... Ngghhh..."

Menerima perlakuan sang suami, Hyukjae merasakan tubuhnya melemas dengan suhu yang tiba-tiba memanas di sekitarnya. Bisa dipastikan ia akan merosot ke bawah jika saat ini lengan kiri Donghae tak menahan pinggangnya, serta dirinya tak bersandar pada counter dapur di belakangnya.

Berpindah tempat, sekarang perpotongan leher dan bahu Hyukjae yang menjadi sasaran Donghae. Sama seperti perlakuan sebelumnya dan tak butuh waktu lama sampai beberapa noda merah kembali muncul di sana. Mata Hyukjae terpejam erat, meresapi setiap rasa yang tercipta akibat perbuatan Donghae. Ia bisa merasakan kancing kemejanya mulai dibuka oleh suaminya. Hanya dua kancing teratasnya namun cukup untuk membuat kedua bahunya terekspos karena ia memang mengenakan kemeja putih milik Donghae yang tentunya kebesaran di tubuhnya. Mengalungkan kedua lengan di leher kokoh sang suami saat ia merasakan bibirnya kembali diserang.

Tanpa melepaskan pagutannya, dengan sekali gerak Donghae mengangkat tubuh Hyukjae, melingkarkan kedua kaki ramping itu di pinggangnya, kemudian berjalan menuju meja makan yang memang tak tersekat dengan dapur. Donghae membawa Hyukjae mendekati meja makan kemudian mendudukkannya di sana.

Kedua bibir itu saling menyesap satu sama lain dengan lidah yang juga tak henti bertaut, sampai jarak itu tercipta saat Donghae mendorong kasar tubuh ramping itu. Sebagian tubuh Hyukjae terlentang di atas meja dengan kakinya yang masih menjuntai ke bawah. Wajahnya memerah dengan bibir yang terlihat basah dan sedikit bengkak. Dadanya bergerak tak beraturan dengan deru nafas yang memburu, juga mata setengah terpejam yang menatap Donghae.

Perlahan Donghae merendahkan tubuhnya, menciptakan jarak yang begitu sempit antara dirinya dan sang istri sehingga mata keduanya beradu. Donghae tersenyum lembut, sebelum menyeringai yang entah kenapa membuat Hyukjae sedikit bergidik.

" Kemarin kita sudah bersenang-senang seharian di luar kan sayang?"

Dengan telunjuknya, Donghae menyusuri setiap bagian wajah Hyukjae. Menelan ludahnya kasar kemudian Hyukjae mengangguk perlahan, membuahkan senyum di bibir Donghae.

" Jadi, untuk seharian ini kita akan bersenang-senang di sini."

" H-hae... Tap-tapi kau kan b-belum makan. Ka-kau bilang lapar kan?"

Hyukjae mencoba mengalihkan perhatian Donghae, dan ia hampir bangkit dari posisinya kalau saja Dongahe tak kembali mendorong tubuhnya.

" Tentu sayang, aku lapar. SANGAT LAPAR." Donghe menekankan dua kata terakhirnya.

" K-kalau begitu, akan ku siapkan makanannya sekarang. Hae menyingkirlah."

" Tak perlu sayang, karena makananku sudah di sini sekarang. Selamat makan."

Dan setelahnya bibir penuh itu kembali menjadi santapan Donghae. Kedua tangannya mencengkeram kemeja depan yang dikenakan Hyukjae kemudian menariknya berlawanan arah membuat kancingnya terlepas ke sembarang arah dan tentu saja tak dipedulikan olehnya. Donghae kembali menjauhkan tubuhnya. Matanya menatap nyalang tubuh Istrinya yang bahkan masih terhiasi puluhan kiss mark yang dibuatnya semalam.

Tak butuh waktu lama sampai Donghae menjelajahi hamparan putih itu. Memainkan dua tonjolan kecil di sana dengan tangan dan mulutnya bergantian. Tak lupa dengan iringan desahan erotis Hyukjae yang semakin membangkitkan libido seorang Lee Donghae. Tangan kanannya perlahan turun, tak perlu basa-basi sampai ia menarik lepas hot pants yang dikenakan Hyukjae memperlihatkan sesuatu yang sudah mulai ereksi di sana.

Donghae menarik salah satu kursi yang ada di sana kemudian duduk menghadap tepat ke arah Hyukjae. Posisi meja makan yang sedikit lebih tinggi membuat Donghae berhadapan langsung dengan selangkangan istrinya. Hyukjae hendak bangkit saat lagi-lagi Donghae menahannya. Hanya kepalanya saja yang bisa ia tundukkan sedikit untuk melihat suaminya.

" Hae, a-apa yang mau kau lakukan?" Hyukjae bertanya sedikit gugup.

" Tentu saja 'sarapan' sayang. Diamlah baby dan jangan menggangguku mengerti."

Hyukjae yang mengerti maksud suaminya hanya bisa menggigit bibir bawahnya, antara ia merasa malu dan sedikit gugup. Dengan perlahan Donghae membawa dua kaki ramping itu ke pundaknya. Bibirnya bergerak pelan menyelusuri setiap inci bagian kaki jenjang itu. Donghae bersumpah, ia merasakan semua bagian tubuh Hyukjae yang dikecapnya terasa begitu amat manis dan ia tak akan mau menyia-nyiakannya sedikitpun.

" Anghhh... Haehhh..."

Hyukjae melenguh keras saat ciuman Donghae merambah paha dalamnya. Saat satu di kecup dengan lembutnya, maka yang lain akan dibelai dengan tak kalah lembut, membuat Hyukjae benar-benar kelimpungan merasakannya. Miliknya semakin mengeras dengan precum yang sedari tadi tak henti mengalir.

" Ahh... Haehh.. I-Ituhhh... Arggghhhh."

Hyukjae mengerang saat ia mulai frustasi dengan perlakuan Donghae. Sedari tadi Donghae hanya menggodanya, memberikan sentuhan intim bahkan sampai pada pangkal pahanya namun tak juga menyentuh kejantananya. Hyukjae sudah terangsang berat dan ia ingin miliknya juga dimanjakan. Merasa suaminya tak akan melakukan apa yang ia mau, Hyukjae menggerakkan tangan kanannya hendak meraih miliknya. Namun belum sempat tersentuh, Donghae dengan kasar menepis tangannya.

" Jangan nakal Hyukkie. Itu milikku."

" Haehhh.. P-please... i-ituhhh..."

Melihat istri manisnya yang seperti tak tahan untuk dijamah lebih, dengan santainya Donghae meraih kejantanan Hyukjae, menggenggamnya sedikit erat. Mengurut pelan batang yang kini mengeras sempurna dengan beberapa otot yang terlihat menegang, semakin lama semakin cepat. Seringainya kembali muncul saat Hyukjae mengerang penuh kenikmatan akan perlakuannya.

" Ahhh...Haeh... Ahhh... Anghhh"

Kocokan Donghae di kejantanan istrinya semakin cepat. Melepaskan tangannya yang sedri tadi bekerja, Donghae menggantikan tugas dengan mulutnya. Memasukkan benda yang tak seberapa jika dibandingkan dengan miliknya kemudian mulai bermain dengan itu. Mengulum, menghisap, sambil sesekali ia gesekkan giginya dengan kulit kelamin sang istri membuat Hyukjae semakin belingsatan.

" Haehh... Ouchh.. Haehhh... Anghh."

Kedua tangan Donghae memegang erat kaki Hyukjae yang masih berada di pundaknya sehingga ia bisa lebih leluasa melakukan kegiatannya. Desahan Hyukjae semakin keras terdengar, menunjukkan bagaimana kenikmatan yang diterimanya saat ini.

" Haeh... Akuhhh... Ham...Pir.. Nghhh..."

Merasa mendapat kode Donghae semakin bersemangat, bisa dirasakannya milik Hyukjae berkedut di dalam mulutnya, menunjukkan jika istrinya itu akan melepaskan hasratnya sebentar lagi.

" HAEHHH..."

Dan benar saja, tak sampai satu menit tubuh Hyukjae menegang disertai dengan cairan yang Donghae rasakan mengalir di mulutnya. Tanpa rasa jijik Donghae menelannya, bahkan ia masih menghisap milik Hyukjae seakan tak rela jika cairan itu terbuang sia-sia.

SREKK

Suara kursi di geser, Donghae bangkit dari duduknya. Memandang lembut pada Hyukjae yang masih menikmati klimaksnya. Tangannya bergerak, mengusap peluh di dahi Hyukjae kemudian mengecupnya singkat. Tak berkata apapun, Donghae membawa tubuh yang masih terkulai itu di gendongannya. Melangkah perlahan menuju sebuah sofa merah maroon yang menghadap langsung ke arah televisi. Perlahan Donghae meletakkan tubuh Hyukjae di sana.

Merasakan tubuhnya berbaring nyaman Hyukjae membuka mata. Dilihatnya sang suami yang berdiri di sampingnya dengan senyum misterius tersungging di bibir tipisnya.

" Kita lanjutkan sayang."

Donghae berucap sembari mengerling pada Hyukjae. Tangannya tanpa ragu bergerak melepas pakaiannya sendiri. Hyukjae tak melewatkannya sedikitpun, pandangannya begitu intens menatap Donghae. Mulai dari bagaimaan kancing piyama itu dibuka sampai kini ia bisa melihat dengan jelas tubuh atletis seorang Lee Donghae sepenuhnya dari ujung kaki sampai ujung kepala. Dan wajahnya tak bisa untuk tak merona saat melihat sesuatu di antara pangkal paha Donghae yang kini sudah menegang dan tentunya lebih besar dari ukuran normal.

" Kau menyukainya baby?"

Dan Donghae terkikik geli saat istrinya itu memalingkan wajah karena malu, ah kenapa Hyukjae begitu menggemaskan. Perlahan Donghae mengambil posisi, menempatkan tubuhnya diantara kaki Hyukjae yang kini ditekuknya. Donghae hendak melakukan persiapan pada lubang Hyukjae saat sentuhan lembut itu dirasakannya. Mengkerutkan kening bingung saat Hyukjae menatap ragu ke arahnya.

" H-Hae, langsung saja. Tak perlu persiapan." Kerutan di keningnya semakin dalam saat mendengar permintaan Hyukjae.

" Tapi Hyuk. Kita belum pernah melakukannya tanpa mempersiapkanmu dulu." Jujur Donghae ragu bila harus melakukan itu tanpa persiapan. Hei... walaupun mereka sering melakukannya, tetap saja man hole Hyukjae akan kembali menyempit seperti sedia kala.

" Tak apa. Lakukan sekarang Hae."

Meskipun ragu namun Donghae mengikuti permintaan Hyukjae. Mengurut sebentar batangnya yang kini menegang sempurna kemudian mulai memposisikannya tepat di depan opening Hyukjae.

" Jika ini menykitimu, berjanjilah untuk menghentikanku sayang." Dan anggukan mantap dari Hyukjae sebagai jawabannya.

Hyukjae memejamkan matanya saat ia merasakan lubangnya dibuka paksa. Perih itu bisa dirasakannya saat ujung kejantanan Donghae mulai menyeruak masuk. Mata terpejamnya kemudian terbuka saat ia merasa Donghae berhenti bergerak. Ia bisa melihat mata teduh itu menatapnya khawatir seakan berkata 'apa kau baik-baik saja?'.

Hyukjae yang mengerti arti tatapan suaminya tersenyum. Jemarinya terulur, mengenggam erat lengan Donghae seolah menunjukkan pada sang suami jika memang ia baik-baik saja. Membalas genggaman Hyukjae begitu erat, Donghae kembali mendorong perlahan miliknya. Matanya tak lepas melihat setiap ekspresi Hyukjae saat ia semakin masuk lebih dalam.

Mata cantik itu terpejam erat dengan kening berkerut dalam. Ringisan di bibir Hyukjae juga tak lepas dari pandangan Donghae, juga genggaman tangan Hyukjae yang begitu erat meremas tangannya. Donghae menunduk, merengkuh tubuh Hyukjae kemudian memeluknya erat.

" AAAKKHHH!"

pekikan itu begitu keras terdengar di telinga Donghae saat ia memasukkan miliknya dalam sekali hentak. Bisa dirasakan juga perih di punggungnya yang tanpa sengaja Hyukjae cakar. Dinding lubang Hyukjae mencengkeram miliknya begitu kuat sehingga membuatnya juga sedikit meringis karena ngilu yang ia rasakan. Merasa tubuh di bawahnya tak lagi tegang serta dinding lubang Hyukjae yang sedikit rileks, Donghae menggerakkan perlahan miliknya.

Tangan kirinya menahan berat tubuhnya, sedang tangan kanannya ia gunakan mengusap peluh di pelipis sang istri. Ringisan perih itu perlahan berkurang digantikan dengan lenguhan Hyukjae yang perlahan mulai mengalun.

" Nghh.. Ahh... Ahhh."

Hyukjae mendesah pelan saat gerakan Donghae di dalamnya mulai memberikan rasa nikmat baginya. Kedua lengannya mengalung erat di leher Donghae kemudian ia berusaha membangkitkan tubuhnya. Tahu maksud istrinya Donghae membantu Hyukjae, disangganya punggung halus itu kemudian membawa tubuh ramping itu sehingga posisi Hyukjae sekarang berada di pangkuannya.

" Kau mau di atas?"

Donghae berucap lembut dan anggukan malu-malu dari Hyukjae membuat seringai di bibir Donghae muncul begitu lebarnya. Digesekkannya hidungnya dengan milik Hyukjae kemudian menggigitnya sekali.

" Nakal sekali eoh? Baiklah, lakukan baby. Ride me."

Setelah berkata demikian, Donghae merebahkan tubuhnya membiarkan Hyukjae untuk sementara mengambil alih permainan. Kedua tangan Hyukjae bertumpu di dada bidang Donghae dan tubuh yang kini terlapis peluh itu terangkat perlahan.

" Ahhhhhhh..."

Lenguhan penuh nikmat itu mengalun bersamaan dari bibir keduanya saat Hyukjae menurunkan tubuhnya, sehingga kejantanan Donghae melesak masuk begitu dalamnya. Ingin merasakan kenikmatan lebih, Hyukjae semakin bersemangat menggerakkan tubuhnya.

" Hah.. ahh... ahhh.. hahhh..."

Desahan Hyukjae semakin menggila saat ia merasakan kenikmatan yang semakin bertambah ketika intensitas gerakannya semakin cepat. Tak mau Hyukjae beraksi sendiri, Donghae meraih kejantanan Hyukjae yang sedari tadi menusuk perutnya. Dikocoknya kejantanan sang istri seirama dengan tempo hentakan tubuh Hyukjae.

" Ahhh... Haehh... angghhh... Ohhh..."

Gerakan itu semakin lambat saat kenikmatan yang melanda tubuhnya tak lagi dapat ditahan. Donghae yang mengetahui kondisi Hyukjae dengan cepat mengambil alih. Masih tanpa mengubah posisi, Donghae menghujam lubang Hyukjae keras. Menggerakkan pinggulnya naik turun dengan begitu cepat. Menumbuk satu titik terdalam tubuh Hyukjae dengan intens, membuat tubuh penuh peluh itu terhentak-hentak tak beraturan. Jangan lupakan tangannya yang masih setia dengan tugasnya.

" Ahhh.. Ahh... Akkkhh... Haehhhh..."

Letupan sperma Hyukjae mengucur begitu saja membasahi tangan, perut, serta dada Donghae. Tak peduli dengan tubuh Hyukjae yang masih bergetar merasakan klimaksnya, Donghae justru semakin cepat menggerakkan pinggulnya, mengejar klimaks yang seakan sudah berada di ujung. Tiga kali hentakan keras, Donghae menyusul Hyukjae. Menumpahkan benihnya yang cukup banyak di lubang Hyukjae.

" Hah...Hah...Hah...Hah..."

Hyukjae yang seakan tak mampu menahan berat tubuhnya kini merebah di dada Donghae. Nafas keduanya masih bertalu, mengisi paru-paru masing-masing yang seakan kehabisan udara karena pergumulan panas mereka. Merasakan nafasnya mulai stabil tangan Donghae terangkat, memeluh tubuh Hyukjae di atasnya kemudian membelai lembut punggung Hyukjae. Dikecupnya rambut Hyukjae yang basah karena keringat itu.

" Kau hebat... Sayang... Ini sungguh menggairahkan." Donghae tertawa kecil setelah kalimat pujiannya untuk Hyukjae terucap.

" Kauh... juga... Hah... Haeh.. Hah... Hah.." Dengan nafas yang masih tersengal Hyukjae membalas ucapan Donghae.

Beberapa menit berlalu namun mereka masih betah dengan posisi saat ini. Lubang Hyukjae masih terisi penuh dengan milik Donghae, serta posisi keduanya yang saling menindih. Keduanya memejamkan mata, bukannya tidur akan tetapi masih meresapi sisa kenikmatan yang baru saja melanda mereka.

Sekali berguling ke arah kanan Donghae membawa Hyukjae merabah di sampingnya. Bibir penuh itu merintih kecil saat merasakan gesekan yang terjadi akibat gerakan yang Donghae ciptakan. Kedua pasang mata itu saling menatap dalam, manyampaikan perasaan cinta lewat pandangan masing-masing. Donghae tersenyum yang tentunya dibalas senyuman yang begitu manis dari Hyukjae.

" Masih ingin melanjutkan tuan Lee?" Hyukjae berkata nakal dengan jari telunjuknya ia gerakkan menyusuri rahang Donghae, membuat suaminya menyeringai mesum.

" Ish...Ish...Ishhh... Kau memang nakal nyonya Lee. Jangan salahkan aku jika kau benar-benar harus berbaring seharian besok."

Setelahnya tubuh kekar itu membawa tubuh ramping Hyukjae ke gendongannya. Berjalan ke kamar kemudian menutup pintu dengan karas tanpa perlu repot menguncinya. Kita tahu benar apa yang terjadi di sana, karena desahan dan erangan itu begitu jelas terdengar. Dan bisa dipastikan itu tak kan berhenti sampai beberapa jam ke depan.

.

.

..::: HAEHYUK :::..

.

.

Kedua tubuh polos itu masih berbaring nyaman di ranjang king size yang dilapisi bed cover putih. Tak menunggu lama sampai sepasang kelopak mata dengan bulu lentik itu perlahan bergerak menampilkan manik bening yang kini terbuka. Mengerjab beberapa kali sebelum menemukan kesadaran sepenuhnya.

Menoleh ke arah kanan, tepat di depannya terpampang wajah tampan yang masih tenang dalam tidurnya. Bibir merekahnya tersenyum kemudian menanamkan satu kecupan selembut kapas di bibir suaminya. Pandangannya mengedar ke seluruh sudut ruangan. Senyum geli masih merekah di bibirnya kala mengingat bagaimana ia dan suaminya bermain dengan liarnya seharian. Tak ada tempat yang tak terjamah oleh kegiatan panas mereka yang tentunya berakhir dengan keduanya yang tertidur di ranjang.

Dengan perlahan Hyukjae menyingkirkan lengan Donghae yang melingkar di pinggangnya. Tanpa berniat mengganggu istirahat Donghae perlahan Hyukjae bangkit dari ranjang. Sedikit tertatih melangkah menuju lemari besar di sisi ruangan kemudian menarik satu kemeja biru milik Donghae yang tentunya kebesaran di tubuhnya. Memang sengaja Hyukjae memilihnya, karena kemeja besar itu sudah cukup menutupi sampai setengah pahanya.

Pandangannya teralih ke arah balkon yang terhalang pintu kaca kemudian kaki rampingnya melangkah ke sana. Membuka sedikit pintu itu, membiarkan semilir angin menerpa wajah cantiknya. Matanya menyinarkan kekaguman saat pandangannya menangkap cahaya surya yang kini berwarna jingga, menunjukkan jika hari sudah mulai sore sekarang.

Senyumnya kembali merekah, sungguh Hyukjae tak menyangka. Dirinya dan Donghae benar-benar menghabiskan waktu seharian untuk bercinta bahkan mengabaikan waktu sarapan dan makan siangnya. Tak heran jika sekarang dirinya merasa lapar.

Tubuhnya tersentak saat tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang hangat melingkupi tubuhnya. Tak perlu menoleh karena ia tahu benar siapa yang melakukannya.

" Tak membangunkanku lagi hmm?"

Donghae berucap manja sembari meletakkan dagunya di bahu kanan Hyukjae. sesekali mengecupnya sambil merapatkan selimut yang ia bawa melingkupi tubuhnya dan sang istri.

" Aku tak mau mengganggumu Hae, kau lelap sekali tadi."

Menyandarkan punggungnya sepenuhnya di tubuh Donghae, Hyukjae menyamankan posisinya. Kedua insan manusia itu tersenyum lebar, dengan pandangan menatap lurus ke arah cakrawala di mana sang surya mulai kembali ke peraduannya. .Menikamti suasana yang begitu romantis di sore yang indah itu

" Hae.."

" Hmm?"

" Aku lapar." Bibir merah itu mengerucut sempurna saat Hyukjae merengek lapar.

" Benarkah? Hm.. Aku juga."

" Kalau begitu, malam ini kau ingin makan apa?" Hyukjae bertanya antusias saat Donghae berkata jika namja tampan itu juga lapar saat ini.

" Hmm...apa ya?" Donghae masih berpikir sampai satu ide lagi-lagi mampir ke otaknya.

" Bagaimana kalau_" menggantungkan ucapannya, ia dekatkan bibirnya ke telinga Hyukjae.

" Memakanmu sayanghhh..."

DUG

ARGGG...

Pelukan itu terlapas saat Hyukjae menyikut rusuk Donghae cukup keras. Memasang wajah tak berdosanya, dengan santai Hyukjae melangkah meninggalkan Donghae yang meringis kesakitan.

" Yak... Aww... Baby, kau mau kemana. Tunggu aku sayang..."

Dan Donghae dengan segera menyusul langkah Hyukjae yang sudah meninggalkan kamar mereka terlebih dahulu.

:::

:::

Dua orang berbeda, dengan segala hal yang jauh dari kata sempurna. Menjadi satu kesatuan, saling menekan ego pribadi masing-masing membuahkan suatu ikatan yang begitu indah. Tak perlu kesempurnaan pada diri mereka, karena pada nyatanya kesempurnaan itu hanya akan di dapat jika mereka mereka bersama. Karena Donghae dan Hyukjae adalah kesempurnaan itu sendiri.

.

.

.

END

.

.

Maaf *BOW.

Tapi saya tak berharap banyak untuk cerita nista ini. Saya benar-benar tak punya feel lebih untuk ini.

Untuk yang sudah menyempatkan mampir ke kotak review di chap sebelumnya saya mengucapkan banyak terima kasih. Chap dua ini aku persembahkan untuk kalian Guys. Maaf tak bisa balas dan sebutin satu per satu. Semoga chap ini tak terlalu mengecewakan.

Terima Kasih Semuanya... *KecupSatuSatu