disclaimer: Gundam Seed -Sunrise
warning: i thought the charas are kinda ooc :( (i have to put this), may contain typo(s), etc.
special thanks:
kak Cyaaz, popcaga, titania546, amirae, via256, and readers.
-i made it on time (seriously, lol). oh, whatever, this is for you :D
The Wind that Had Swept His Voice
[Bab I]
.
.
.
Cagalli Hibiki terlihat seperti orang linglung. Memang benar saat ini ia sedang menghadap komputernya untuk bekerja, tapi Miriallia merasa Cagalli tidaklah seceria biasanya.
Si pirang itu terlihat sering menopang dagu berkali-kali. Bahkan dari sudut pandang Miri -begitu Miriallia biasa dipanggil, helaan napas Cagalli tak luput dari pendengarannya sejak tadi pagi. Cagalli hari ini juga terlihat malas untuk berinteraksi dengan rekan kerja, ia hanya membalas singkat setiap kali ditanya. Lalu seolah-olah tidak ingin diganggu oleh siapapun, Cagalli menyumpal kedua telinganya dengan earphone.
Padahal, yang sebenarnya terjadi adalah Cagalli itu masih shock atas kejadian tadi pagi.
Menemukan Athrun Zala setelah sekian lama tak bertemu adalah hal yang mengejutkan. Terlebih lagi dengan tiba-tiba ia ada di samping balkon apartemennya tanpa tanda-tanda kabar dari pria itu sebelumnya. Tidak perlu menjadi jenius, itu sudah menandakan bahwa pria itu memang sudah tinggal di sana, kan? Apalagi setahu si pirang itu apartemen di sebelah miliknya sebelum ini pernah kosong selama sebulan.
Lalu kalau mengingat reaksi konyolnya tadi pagi membuat Cagalli hampir mati karena malu. Jatuh terjengkang hanya karena kaget melihat 'kenalan' lama agaknya terlalu berlebihan. Ia kemudian buru-buru bangkit dan lari masuk ke dalam kamar kembali. Gadis itu meyakinkan dirinya sendiri bahwa Athrun Zala yang dia lihat tadi adalah sesosok hantu.
Beberapa waktu kemudian, saat ia membuka pintu apartemen untuk mulai menjalankan aktivitas ia malah bertemu lagi dengan pria berambut biru itu yang sama-sama baru saja menginjakkan kaki di lorong apartemen. Pria itu tersenyum dan akan menyapa. Mata Cagalli membelalak seakan tidak percaya bahwa Athrun Zala memang nyata ada di hadapannya. Ia salah tingkah. Detik berikutnya Cagalli langsung pergi, meninggalkan Athrun dan sapaannya yang menggantung di udara.
Cagalli Hibiki mengutuk si gadget pemutar musik kesayangannya.
Anehnya, saat berangkat ke kantor Cagalli terus-terusan perang batin karena ingin mendengar lagi lagu yang ia putar di balkon apartemen. Padahal itu jelas-jelas akan membuatnya mengingat si pria berambut biru itu.
Tapi jadinya ... Sekarang, ia terus mengulang putaran lagu tersebut.
Duh.
"Cagalli kau kenapa sih dari tadi melamun." Miriallia mengguncang bahu Cagalli berharap agar gadis itu kembali ke dunia nyata karena tidak tahan dengan helaan napas yang terlalu banyak ia dengar hari ini. Seperti depresi saja.
Cagalli terhenyak lalu menatap Miri bingung. Kemudian ia mengedipkan kedua mata dan menggeleng. Ia melepas earphone dari kedua telinganya,"Tunggu sebentar aku akan cuci muka."
Miriallia melorot di kursinya. "Ya ampun." Ia sungguh tak percaya Cagalli bisa tidak fokus seperti itu.
Gadis berambut coklat itu kemudian melirik komputer Cagalli untuk mengetahui sejauh mana progress pengeditan majalah yang sudah ia lakukan. Kecurigaannya benar. Miriallia memutar mata. Pekerjaan Cagalli masih sama seperti saat sebelum jam makan siang berlangsung alias nol tak ada pembaharuan. Miriallia penasaran apa saja yang gadis pirang itu pikirkan selama seharian sampai mengorbankan pekerjaannya.
Tidak seberapa lama mata bermanik aquamarine Miriallia tertuju pada pemutar musik digital Cagalli yang terletak di atas meja. Pemutar musik itu berwarna merah dengan earphone putih yang masih menancap. Selalu ingin tahu adalah dasar dari sifat Miriallia yang berprofesi sebagai wartawati lepas dan fotografer itu. Jadi jangan salahkan rasa penasaran gadis berusia 24 tahun ini, jika sekarang ia meminjam pemutar musik itu tanpa seijin pemiliknya.
Miriallia sekarang mendengar apa yang didengar oleh Cagalli beberapa saat yang lalu. Kebetulan Cagalli tidak menghentikan lagu yang sedang dimainkan.
"Suaranya enak. Tapi lagu siapa, ya? Aku tidak pernah mendengarnya ...,"gumam Miriallia.
Ekspresinya jelas bahwa ia menikmati lagu tersebut.
"Milly ...!" seru Cagalli yang tiba-tiba kembali muncul. "Apa yang kau lakukan?" gadis pirang itu menarik paksa earphone yang tertancap di telinga rekan kerjanya. Cagalli mengamankan benda kesayangannya dari jangkauan Miriallia, dengan menyembunyikannya di balik punggung seperti anak kecil yang menyembunyikan permen rahasia dari sang ibu. Cagalli yang ekspresinya terlihat lebih cerah dibandingkan sebelum ia pergi ke toilet, menggembungkan pipi yang agak merona tersebut.
Miriallia gagal paham.
"Ya ampun, Cagalli. Kau hiperbolis."
Gadis pirang itu membelalakkan mata, dan Miriallia sama sekali tak menghiraukannya. Si sulung Haw itu malah mencecar Cagalli dengan pertanyaan dan ungkapan yang antusias. "Siapa penyanyinya? Lagunya juga enak banget. Suaranya hampir-hampir mirip siapa, ya? Eh, tapi dijual bagus, tuh! Sayang kualitas rekamannya masih rendah."
"Ssh! Sudah lupakan! Ini bukan siapa-siapa, kau dengar saja album yang baru kupinjamkan!" desis Cagalli sambil mengambil tempatnya kembali.
"Oh, ayolah! Aku terlanjur suka, nih. Aku ingin mendengarnya lagi."
"Tidak-tidak," Cagalli melambaikan tangan, kukuh pada pendirian."Tidak boleh," ia menekan Miriallia.
"Cagalli pelit sekali, sih. Astaga."
Hanya dengusan yang didapat Miriallia.
"Oh, ayolah ...," sekali lagi Miriallia mencoba untuk membujuk. Lagu akustik yang diputar di music player Cagalli barusan sudah mengambil hatinya. Jadi ia harus mencari tahu apa judul lagu itu. Sayang ia tak sempat membaca judulnya karena Cagalli keburu datang.
Si pirang menggeleng. Ia menyeret kursi berodanya dan menempatinya lagi. Tapi masih bergaya untuk bertahan dari Miriallia yang tingkat ingin tahunya sudah level kepo berat, dan itu membahayakan. Cagalli menjaga jarak.
"Percuma kalau aku memberitahumu, Milly. Pencipta dan penyanyinya amatir. Seperti yang kau bilang, kualitas rekamannya masih rendah –dan, tidak! Tidak ada di internet. Aku bisa bertaruh," ucap Cagalli cepat sebelum Miriallia memotongnya.
Miriallia nampak berpikir, kedua alisnya bertaut. "Maksudmu ... itu lagu hanya kau yang punya?"
Tanpa sadar Cagalli mengangguk. Detik berikutnya ia menyesal, refleksnya terlalu cepat.
"Ah! Jadi lagu itu untukmu? Dari mantan pacarmu?" Miriallia heboh.
"Bu-bukan begi –,"
"Oh, jadi kau galau! Padahal deadline kita besok sor –umph!"
"Hush!" Cagalli menutup mulut Miriallia menggunakan tangannya. Dia tahu persis bahwa temannya yang berambut pendek ini ingin balas dendam kepadanya karena tak bisa mendapatkan lagu barusan. Miriallia sengaja mengeraskan suaranya agar Murrue Ramius, supervisor yang memiliki ruangan di seberang kedua gadis itu bisa mendengarnya. Kemampuan analisis dan simpulan Miriallia mengerikan.
"Bisa tidak kalau volumenya dikecilkan," Cagalli mendesis. "Dan, sudahlah. Lupakan! Anggap kau tidak mendengar apa-apa, Mir."
"Heheh. Kasian Nicole," komentar Miriallia saat tangan Cagalli sudah tidak menyumbat suaranya.
"Ssh!"
"Hah, kau ini bagaimana, Cagalli. Dia kan mantan. Hanya mantan. Memangnya kenapa kalau muncul. Kecuali kalau memang ada sesuatu yang belum selesai di antara kalian, sih."
Cagalli cukup tertohok dengan kalimat barusan. Miriallia bisa menjadi orang yang paling menyebalkan sedunia jika ia mau.
"Tapi lagu barusan beneran deh, bagus. Kau coba bilang padanya bagaimana kalau dia melakukan debut? Aku bantu akses dengan produser kenalanku."
Cagalli memijat pangkal hidung menggunakan tangan kiri. "Mana bisa, Milly. Lima tahun –," sedangkan tangan kanan ia gunakan untuk mengacungkan kelima jarinya di hadapan Miriallia. " –lima tahun tidak ada komunikasi sama sekali." Dan kemudian ia sadar akan sesuatu. Cagalli hampir keceplosan soal orang itu yang tiba-tiba muncul di samping balkon apartemennya. Yang barusan juga seakan mengakui bahwa orang itu mantan pacarnya. Duh.
Gadis itu menahan diri dan mengubah topik dengan cepat sebelum apa yang ia rasakan hari ini keluar semua. "S-sudahlah! Ngomong-ngomong Kira dan Lacus mengundangku untuk makan malam bersama di panti asuhan. Kira menitipkan salam padamu. Dearka –ehem," tambahnya agar memperoleh efek dramatis dan tujuannya mendistraksi Miriallia tercapai. " –juga akan datang. Kau ikut, kan?"
Penghapus yang dilempar Miriallia mengenai dahi Cagalli.
"Nah, tidak bisa. Hari ini aku harus menemani Meyrin untuk liputan fansign the Extended. Sampaikan salamku untuk mereka semua," jawab Miriallia, dengan tiba-tiba berlagak judes sebelumnya.
Fiuh! Sepertinya selamat.
"Salam cinta untuk Dearka?"
"Tidak usah, lah ya!"
"Lacus! Lama tidak bertemu ..."
Cagalli baru saja menyelesaikan pekerjaannya tiga puluh menit yang lalu. Kira, saudara laki-laki yang terpaut dua tahun dengannya itu sejak sore sudah memperingatkan bahwa ia harus datang malam ini ke panti. Tapi ia terpaksa terlambat datang karena konsekuensi yang harus ia lakukan karena sejak pagi sampai siang bukannya malah menyelesaikan pekerjaan, tapi justru ia gunakan untuk melamun. Cagalli mengambil jam lembur.
Setelah dirasa cukup yang ia kerjakan –agar esok hari ia tidak memiliki sisa pekerjaan yang terlalu banyak, sepulang dari kerjanya Cagalli pergi ke stasiun dan naik kereta untuk mencapai panti asuhan.
Dan di sinilah ia sekarang. Lacus menyambutnya di depan gerbang panti. Mereka saling berpelukan hangat. Kedua gadis itu sempat mengobrol sedikit ketika mereka melangkahkan kaki untuk masuk ke sebuah ruangan setelah pintu utama yang biasa digunakan oleh anak-anak panti untuk berkumpul.
"Selamat atas pertunangan kalian," ucap Cagalli tulus. Ia mendengar dari Kira bahwa saudara laki-lakinya itu sudah memberanikan diri untuk melamar si gadis pink seminggu yang lalu. Kemungkinan tidak lama lagi akan digelar pesta pertunangan mereka. Sedangkan malam ini, Kira dan Lacus memang sengaja mengundang kawan-kawan mereka untuk acara makan malam bersama. Tidak banyak, hanya para sahabat yang sering berkumpul bareng.
"Kau bisa mengucapkannya saat resminya nanti, Cagalli."
Nah, kebetulan.
Suara Kira barusan tidak cukup mengejutkan Cagalli, tapi ia senang mendengar suara Kira yang ikut menimpali. Ternyata pria berusia 26 tahun itu muncul dari koridor di ujung ruangan. Lacus tersenyum kepada calon suaminya.
"Kira!" seru Cagalli. Gadis itu tertawa dan berlari menyambutnya, kemudian mereka berpelukkan dengan erat untuk saling melepas kangen. Cagalli dan Kira memang sudah sebulan ini tidak bertatap muka secara langsung, meskipun sebenarnya sesekali Kira melakukan video call dengan Cagalli. Yah, dia cukup rindu dengan wujud nyata Kira. "Selamat, Kak. Akhirnya ...," si pirang meninju bahu saudara yang tak memiliki warna mata ataupun rambut yang sama dengannya itu. Tinju Cagalli benar-benar menyakitkan.
Kira meringis sambil menggosok tempat yang baru saja Cagalli pukul. Adiknya itu masih kasar seperti yang dulu-dulu. "Sakit, Dik." Kira mendorong kepala Cagalli main-main untuk membalasnya. Meskipun sudah berusia di atas dua puluh tahun, mereka berdua masih sering berlaku seperti anak-anak. Hal ini kadang menjadi hiburan tersendiri bagi Lacus yang sudah menjalin hubungan dengan Kira selama tiga tahun lebih.
"Trims, anyway," ucap Kira tulus.
Si bungsu berhe-he-he ria.
"Cagalli! Saudari tersetiaku!" seseorang muncul di balik bahu Kira. Dia tinggi dan nampak kasual. Kulitnya eksotis dan memiliki rambut pirang. Baru-baru ini bekerja sebagai penyiar radio, karena bakatnya menjadi tukang gosip meskipun dia laki-laki. Siapa lagi kalau bukan si jenaka, Dearka Elthman.
Pria itu mendorong Kira untuk memeluk Cagalli. Dari dulu Dearka memang terkenal playboy, hanya saja Cagalli sudah dianggap seperti adiknya sendiri, dan bahkan Cagalli sering menjadi pendukung Dearka jika mereka memiliki suatu rencana nakal. Namun perhatian Dearka pada Cagalli hanya sekilas karena setelah memeluk gadis pirang itu ia menyadari ada sesuatu yang kurang. "Milly ... tidak bersamamu?" Dearka celingukan.
Cagalli memutar mata, "Dia tidak bisa datang. Ada liputan ... maklum, wartawan." Jawabnya enteng.
Dearka memasang wajah kecewa yang menurut mereka –tidak termasuk Lacus, sangat-sangat tidak cocok dengan tampang setengah bulenya. Membuat Cagalli tidak tahan untuk berkomentar. "Jijik, De." Cagalli tertawa. "Sok imut."
Semua orang tertawa minus Yzak Joule yang hanya mendengus saja. Ah, ya ... pria berambut pendek silver itu juga ada di sana, muncul berbarengan dengan Kira dan Dearka tadi.
Cagalli menyapanya, "Senior Joule." Gadis itu mengangguk dan menjabat tangan Yzak dengan gaya agak formal. Cagalli dan Yzak memang memiliki gaya pertemanan yang aneh. Mereka tidak terlalu dekat, dan kadang terlalu resmi seperti pejabat pemerintahan, tapi terkadang saling melemparkan sarkasme. Tapi semua orang juga tahu bahwa Cagalli memiliki respek kepada pria itu sebagai seniornya.
"Masih baik rupanya," komentar Yzak pendek.
"Geez, tentu saja." Merekapun bertukar tinju.
Yzak mengeluarkan seringaian khasnya, "Coba lihat sebentar lagi."
Cagalli Hibiki adalah orang termuda kedua setelah Shinn Asuka (ngomong-ngomong, pria muda itu masih belum terlihat batang hidungnya) di dalam lingkaran pertemanan kakaknya, Kira. Dulu sebelum sibuk dengan dunia mereka masing-masing, Kira Hibiki adalah seorang anggota band yang beranggotakan teman-teman Kira yang saat ini di antara mereka (minus Lacus). Cagalli yang sering ikut kegiatan Kira mau tidak mau menjadi akrab dan secara tidak resmi Cagalli menjadi salah satu anggota lingkaran teman dekat Kira. Baru-baru ini mereka memang sering tidak bertemu karena kesibukan masing-masing. Berhubung Kira memiliki momen spesial, pria berambut coklat itu memutuskan untuk memanfaatkannya. Hanya acara makan malam sederhana, tapi niatnya untuk berkumpul dengan kawan lama dapat terlaksana.
Cagalli memutar mata sekali lagi sebagai balasan ucapan Yzak. Ia berkacak pinggang. Sebenarnya gadis itu tidak begitu mengerti maksud Yzak. Dan ia akan membalas tapi karena di detik berikutnya ruangan dipenuhi dengan bau manis dari kue kukis yang baru saja keluar dari open, tentu saja si rambut pirang lebih memilih untuk mengisi perutnya. Otaknya terdisktraksi oleh rasa lapar akibat undangan dari bau enak yang dia cium.
Bertepatan dengan itu Lacus menepukkan kedua tangannya dua kali untuk menarik perhatian, seakan sudah mengerti apa yang mereka inginkan.
"Aku rasa makan malam sudah siap sekarang. Shall we?"
Tentu, tidak ada yang menolak tawaran tersebut.
Punggung Cagalli menegak, tidak menduga bahwa objek yang menjadikan dirinya kacau selama setengah hari sewaktu di kantor tadi saat ini sedang berada di seberang kursi miliknya. Pria itu nampak menikmati hidangan makan malam sambil sesekali menimpali pertanyaan-pertanyaan yang Kira ajukan. Kadang pria itu mengangguk, atau berbicara setelah menelan makanan.
Dia nyata. Athrun Zala benar nyata.
Sekarang Cagalli jadi tidak fokus. Ia gelisah, dan selalu bergerak tidak nyaman di kursinya.
Tadinya Cagalli memang tidak terpikirkan kalau pria itu akan ikut diundang makan malam juga. Atau mungkin dia diundang oleh Kira dan Lacus namun ada sesuatu yang menghalanginya untuk hadir seperti yang sudah-sudah. Absennya orang tersebut memang sudah menjadi kebiasaan. Belum lagi gadis itu tengah sibuk dengan pekerjaannya sepanjang sore jadi tidak ada lagi pikiran-pikiran menuju ke orang itu. Apalagi saat Cagalli, Kira, Lacus, Dearka, dan Yzak sibuk mengobrol tadi tak ada yang mengungkit satupun tanda-tanda kehadirannya. Oh, tidak. Ada satu.
Ternyata di waktu yang bersamaan Athrun Zala sedang berada di dapur bersama Shinn Asuka serta selusin anak-anak panti asuhan sedang menyiapkan makan malam.
Ya, sekarang dia tau maksud dari Senior Joule.
Si rambut perak itu hanya mendengus saja.
Sial.
"Jadi kau akan tinggal di sini sampai dua tahun ke depan?" tanya Kira. Tampangnya serius.
Yang ditanya mengangguk sambil menelan makanannya.
Selama beberapa tahun ini Athrun Zala memang tidak tinggal di sekota dengan kawan-kawan lamanya. Pria berambut biru itu memutuskan untuk melanjutkan studi ke Copernicus, sekitar tiga jam perjalanan menggunakan pesawat dari Orb, kota di mana sekawanan itu pernah tinggal satu wilayah. Sudah lama Cagalli tidak mengetahui bagaimana kondisi pria yang tiba-tiba muncul di samping balkon apartemennya tadi pagi itu. Karena Cagalli telah kehilangan kontak dengannya setelah setengah tahun pria tersebut pergi dari Orb.
"Tsk, Athrun! Kau harus menghilangkan kebiasaan menghilang terus kembali, menghilang lagi terus kembali lagi," Dearka berkomentar di tengah kebisingan anak-anak yang sedang melahap makan malam. Lacus sempat menegur mereka agar untuk mengecilkan volume suara.
"Hah? Jadi dia pernah kembali?" batin Cagalli. Gadis itu sedang jaim. Sama sekali tidak membuka suara sejak makan malam dimulai. Meskipun ingin mengajaknya berbicara, dan banyak pertanyaan tentang Athrun Zala yang berkecamuk di dalam kepalanya tapi Cagalli sama sekali tidak bisa mengungkapkan. Jadi dia diam saja.
"Khe, aku setuju dengan Senior Dearka, Athrun. Carilah pekerjaan tetap. Yang kau sukai, kek. Ah, tapi setidaknya kau tidak lagi menginap di rumahku."
Menginap di rumah Shinn? Ini informasi baru yang masuk di kepala si pirang itu.
"Hn. Akan kupikirkan," jawab Athrun pendek dan tidak terlalu peduli.
Ada sesuatu yang tidak Cagalli ketahui di sini. Sedangkan teman-teman kakaknya tahu apa yang terjadi pada Athrun Zala selama lima tahun ini. Dia mengambil kesimpulan sementara bahwa pria berambut biru itu tetap menghubungi teman-temannya, sedangkan tidak padanya.
Ya, memangnya kamu siapa?
Ah, Cagalli jadi pusing mendadak.
Tak sampai satu menit kemudian terdengar dehaman Athrun di tengah ruang makan yang masih bising dengan suara anak-anak panti yang berada di lain meja dengan mereka, mengabaikan teguran Lacus tadi. Dehaman Athrun tidak dimaksudkan untuk anak-anak itu, tapi hal ini cukup membuat fokus mata Cagalli berpindah. Entah kenapa kepalanya langsung mendongak dan melihat Athrun lurus-lurus.
Dengan pandangan bertanya yang normal, tidak ada petir menyambar, Athrun berbicara kepadanya, "Dari tadi kau melihat makananku terus, apa kau mau sesuatu dariku, Cagalli?"
Damn, Athrun.
Cagalli tersedak. Kemudian terbatuk-batuk.
Sekarang semua kepala menoleh ke arah si bungsu Hibiki. Membuat gadis itu semakin gugup dan terus mengeluarkan suara batuk. Ia bahkan sampai menepuk dadanya berkali-kali.
Sial.
Muka yang dibingkai rambut pirang itu terlihat kemerahan, entah karena ia kesulitan mengambil napas karena tersedak atau perhatian yang diberikan oleh Athrun Zala barusan.
Ini memalukan. Lagi.
Bahkan sebagai saudara yang baik, Kira yang duduk di sebelah adiknya itu berusaha menenangkan Cagalli dengan menepuk-nepuk punggung gadis tersebut. Dan Cagalli yang kesusahan sedang memberi kode kepada Kira dengan mengibas-ngibaskan telapak tangan untuk mengambilkan air yang berada di atas meja.
Shinn dan Yzak mendengus bersamaan.
Dearka menggeleng dan menghela napas.
Kira dan Lacus menatap Cagalli dengan khawatir.
Sedangkan Athrun ...,
Percayalah, ia terlihat untuk menahan tawanya agar tidak pecah.
Makan malam kemudian dilanjutkan dengan suasana yang menyenangkan setelah Cagalli tenang. Sekawanan itu masih terlihat asik menyantap hidangan dan sesekali mengobrol akrab tentang masa-masa saat mereka berkumpul. Anak-anak panti yang penasaran pun tengah memerhatikan mereka, dan bertanya sesekali tentang apa yang terjadi saat itu. Dearka yang biasanya lebih vokal dalam urusan ini. Apalagi dengan komentar-komentar jenaka yang ia keluarkan turut menyemarakkan suasana.
Mereka berenam kadang terlalu asik menimpali, minus Lacus karena ia mengenal Kira beberapa tahun belakangan. Meskipun demikian tidak serta merta Lacus mereka lupakan, apalagi gadis pink itu juga termasuk orang yang mudah untuk berbaur. Jadi tidak ada jarak di antara mereka.
Lain halnya dengan Cagalli yang bolak balik harus menghindari untuk tidak melihat ke direksi Athrun Zala.
Memang benar mereka masih saling menanggapi walau jarang, tapi jelas terlihat Cagalli masih kaku dalam urusan ini.
Saat semua telah menghabiskan makan malam, para wanita dan anak-anak perempuan bertugas untuk membereskan sisanya. Mereka membersihkan meja makan dan mencuci piring. Sedangkan para pria dan anak laki-laki memutuskan untuk menyingkir dan mencari permainan baru yang dapat menghibur mereka atau sekedar meneruskan apa yang dibicarakan saat di meja makan.
Cagalli dan Lacus sekarang sudah hampir menyelesaikan pekerjaannya. Mereka berdua menyuruh anak yang ikut membantu mereka untuk menyusul para lelaki sambil membawakan mereka camilan ringan dan minuman. Tinggallah mereka berdua sekarang, dengan Cagalli yang sibuk mengelapi piring dan gelas yang basah sedangkan Lacus yang menatanya kembali ke rak.
"Ngomong-ngomong aku tidak tahu ada hubungan apa kamu dengan Athrun Zala, Cagalli. Tapi sungguh, kau terlihat manis jika berhadapan dengannya," ucap Lacus sambil mengikik membayangkan apa yang terjadi pada Cagalli dan Athrun tadi.
Darah naik ke wajah Cagalli dengan cepat. "Lacus!" tegurnya. Ia bahkan memelototi calon kakak iparnya itu. Cagalli lebih memilih Lacus untuk diam saat ini dari pada mengatakan hal yang tidak-tidak.
Nah, pelototan itu tentu tidak berpengaruh pada si gadis pink. Sesungguhnya Lacus lebih seram kalau urusan ancam mengancam, Cagalli tidak ada apa-apanya. Lacus yang lebih pendek beberapa sentimeter dari Cagalli itu malah melanjutkan tawanya. Membuat Cagalli membuang muka karena malu.
Ia tidak menimpali Lacus lagi karena nanti pasti akan lebih diolok, jadi gadis pirang itu hanya menghela napas saja.
"Baiklah, baiklah!" tangan Lacus diangkat ke udara dan mengeluarkan tawa terakhirnya. "Bagaimana kalau sekarang kita temui mereka?"
"Asal jangan usil lagi padaku, Kakak Ipar." Cagalli mencubit salah satu pipi Lacus gemas.
Lacus dan Cagalli menyusul teman-teman mereka yang berada di ruang tengah setelah menyelesaikan semua pekerjaan di dapur. Saat sampai di tempat, kedua gadis itu tidak menyangka kalau para laki-laki itu hanya duduk-duduk saja. Terlihat membosankan. Tadinya Cagalli sempat membayangkan kalau mereka berlima akan bermain musik atau semacamnya untuk menghilangkan rasa kangen. Melakukan koor bersama selusin anak hingga suasana menjadi meriah.
Ngomong-ngomong, Cagalli jadi kangen melihat kakaknya bermain musik lagi dengan orang-orang ini.
Dulu sewaktu Cagalli kelas dua SMA, gadis itu sering melihat kakaknya untuk manggung di live house kecil. Waktu itu Kira merupakan member baru di dalam band yang telah terbentuk, hanya saja salah satu anggota yang memegang alat musik bass telah mengundurkan diri. Singkat cerita, Kira yang saat itu berteman dekat dengan Athrun entah bagaimana bisa menjadi anggota band tersebut menggantikan si bassist yang mengundurkan diri. Padahal yang Cagalli tahu, kakaknya itu tidak pandai bersosialisasi. Pertama kali tampil dipanggung pun saat itu Kira hampir kencing.
Cagalli ingat band mereka bernama the Jukevox (1), setelah mengganti dari nama band yang sebelumnya yaitu RED (2). Pergantian nama bertepatan saat Kira telah menyelesaikan panggung pertamanya dan resmi menjadi band yang beranggotakan Shinn Asuka sebagai vokalis, Yzak Joule memegang lead guitar, Athrun Zala accoustic guitar, Dearka Elthman sebagai drummer, dan Kira Hibiki si anggota baru yang memegang bass, sesekali piano. Jukevox terus berlari panggung demi panggung untuk merealisasikan hasrat masa muda mereka.
Ya, itu memang dulu saat mereka belum menemukan waktu dewasanya. Sekarang mereka berlima dan Cagalli Hibiki yang menjadi penggemar pertama Jukevox sekaligus saksi perjalanan panggung mereka telah disibukkan oleh tuntutan hidup orang dewasa. Bekerja dan bekerja. Mereka jarang menemukan waktu luang untuk saling bertemu seperti ini.
Inilah yang membuat Cagalli ingin mengulang masa itu.
"Huh, kukira kalian akan bermain sesuatu yang menyenangkan. Kenapa hanya duduk mengobrol saja, sih? Membosankan. Seperti om-om saja!"
Cagalli melipat kedua tangannya.
Lacus yang sudah mengambil tempat di sebelah Kira hanya tersenyum melihat polah calon adik iparnya itu.
"Habis main apa? Kau menyuruh kami ikut anak-anak itu bermain tebak angka?" Shinn mengendikkan dagu ke arah sudut ruang yang cukup besar di mana anak-anak yang sedang berkelompok sedang terlihat bermain sekaligus belajar dipandu oleh Myrna seorang pendidik sekaligus salah satu orang dari penjaga di panti. Sedangkan mereka tadinya berada di sudut lain mengawasi sambil mengobrol.
"Ya ... main musik, kek."
Berkebalikan dengan bayangannya di mana mereka semua akan mengangguk antusias lalu bangkit dan sesegera mungkin mencari alat musik yang dapat ditemukan di tempat itu, para mantan anggota the Jukevox itu malah terlihat tidak bergerak sama sekali.
Ada apa?
Cagalli mengamati ekspresi mereka satu-satu. Kira terlihat cemas dengan mengarahkan kedua bola mata ungunya ke direksi lain. Begitu pula dengan Shinn dan Dearka, Yzak hanya bergerak kaku dan menyilangkan kedua tangannya sambil memelototi seseorang. Cagalli bingung. Kenapa mereka jadi begini?
Apa hanya Cagalli yang merasakan suasana jadi tidak enak begini?
"Main yang lainnya saja, lah ...," si pirang berkulit hitam yang buka suara duluan setelah setengah menit yang canggung. Dan Dearka sedang memaksakan senyum sekarang.
Cagalli akan membuka suara, tetapi dipotong oleh si rambut biru, Athrun Zala.
"Tidak apa kalau kalian main. Aku akan ... mm–," Athrun nampak berpikir untuk menyusun satu kalimat. "–yah, aku akan melakukan hal yang lain." Athrun menggosok tengkuknya dan tersenyum canggung.
Tunggu.
"Kau, yakin?" balas Shinn.
Tunggu.
"Ya ... membantu Myrna untuk menidurkan anak-anak nanti sepertinya lebih menyenangkan." Athrun mengangkat bahu.
Dearka menyipitkan mata, tidak percaya dengan apa yang dikatakan Athrun barusan. Shinn bereaksi 'ew' saja. Bahkan Lacus saja terlihat heran dengan pria yang duduk di seberangnya itu. Aneh ketika mendengar pria itu malah menghindar dari kegiatan usulan Cagalli.
Kira yang selalu bisa membaca suasana akhirnya mengeluarkan pendapat dan sarannya. "Aku rasa ... tadi aku membawa game sepak bola," ucap Kira mengalihkan perhatian mereka.
"Nah!" Shinn, Dearka, dan Athrun bereaksi cepat secara bersamaan. Dibandingkan dengan ajakan Cagalli tadi sekarang jawaban mereka terlalu berlebihan.
Tunggu dulu! Ada apa dengan mereka semua?
"Kalian menghiraukanku!"
Duh.
Ada secuil penyesalan atas sikap kekanak-kanakan yang membuat seluruh pasang mata melihat kepada gadis itu sekarang. Tapi ia benci dihiraukan apalagi posisinya tidak mengerti dengan apa yang mereka bicarakan, dan mengapa mereka menolak usulannya untuk bermain musik. Bukankah itu yang sering mereka mainkan saat berkumpul? Dan kadang Cagalli memang bersikap bossy. Sekarang ia memelototi ke arah mereka semua menuntut penjelasan.
Terlihat pria itu melempar pandangan bertanya pada Kira.
Seseorang berdeham. Itu Yzak, yang dari tadi tidak menimpali apa-apa. Saat ini mata biru jernihnya menatap lurus-lurus pada Cagalli. Siap untuk menjawab pertanyaannya. "Untuk informasimu pirang-Hibiki, salah satu dari kita ada yang alergi dengan musik sekarang," ujarnya singkat.
Yzak memang tidak pernah tedeng aling-aling. Shinn dan Dearka memberikan tatapan menegur pada Yzak yang tentu saja dihiraukan oleh si pria pemarah di saat mudanya dulu itu.
Alergi ... musik?
Tidak perlu bertanya siapa karena Cagalli merupakan pengamat jeli. Hanya saja informasi itu seketika membuat rasa canggung itu kembali datang. Bahunya melorot. Netra bewarna madu gadis itu kemudian beralih pada siapa lagi kalau bukan orang itu. Mereka bersirobok beberapa detik, mata Cagalli dan satu-satunya sepasang mata bewarna hijau di ruang itu. Siapa lagi kalau bukan milik Athrun Zala.
Seorang pria dari kehidupannya lima tahun lalu, yang tiba-tiba muncul di samping balkon apartemen gadis itu pagi ini.
Sekarang muncul satu pertanyaan lain di kepala Cagalli Hibiki.
Kenapa?
(tbc)
A/N:
(1) Jukevox = plesetan dari jukebox (alat pemutar musik kuno yang harus masukin koin)
(2) RED = nama band indie consist Shinn (vo.), Athrun (gt.&bkvo), Yzak (lead gt), Heine (ba.), Dearka (dr.) pernah bikin fiknya di tahun 2012, pernah pengen bikin multichapnya, tp ga kesampaian orz. ya udahlah, ya ... X'D
Dan iya, Athrun nyanyi. Saya tahu kok Akira Ishida ituuuuu (?) /tanggung bener XD. Emang dia kalau ngomong aja aduhai (kalo nyanyi i'm not sure ._.) . Tapi saya nemuin illustrasi suara buat Athrun yang cocok, bagus, tapi tidak menonjol (?). Dan itu sebagai basic dari munculnya fik ini dan Athrun yang bisa nyanyi *love*, suaranya jadi inspirasi ;v;.
Tapi aku simpan dulu buat chapter 3 ya.
Sampai ketemu lagi! ;)
Next update: i cant tell the date but it should be 2 weeks from now on (hopefully)
Anyway, Thanks for read, and review!
