CHAPTER 2

Jarum jam sudah menunjukan pukul 4 sore, namun Eunkwang belum juga pulang ke apartemen yang ditinggalinya bersama Minhyuk sejak mereka menikah. Sedangkan Minhyuk yang sudah pulang sejak satu jam yang lalu kini sedang sibuk di depan laptopnya, melihat akun-akun jejaring sosial suaminya untuk mencari tau perihal yeojachingu itu. Diam-diam Minhyuk cemburu juga ternyata.

"Minhyuk-ah, aku pulang…"

Minhyuk menoleh ke arah sumber suara dan segera menutup browsernya, ia tak ingin suaminya tau apa yang sedang dilakukannya.

"Sedang apa, Minhyuk-ah?" tanya Eunkwang sambil mendudukkan dirinya di sofa, di samping Minhyuk.

"Ani, hanya sedang menunggumu," jawab Minhyuk. "Ehm, soal yeojachingu yang tadi, apa itu benar?"

Eunkwang mengangguk. "Ne, itu benar. Wae? Kau cemburu? Kau bilang kau tidak menyukaiku dan hanya menikah denganku karena perjodohan itu?" goda Eunkwang, ia mengedip kan matanya, membuat Minhyuk semakin salah tingkah.

"Eee.., eh, ani," sangkal Minhyuk. "Kau harus mengenalkannya padaku."

Eunkwang mengulurkan tangannya untuk merangkul pundak Minhyuk, membuat namja yang berstatus sebagai istrinya tersebut semakin mendekat. "Tentu, aku akan mengenalkannya padamu, dan kau juga harus mengenalkan yeojachingumu padaku."

DEG!

Minhyuk merasakan sakit di dadanya, jadi benar suaminya memiliki seorang yeojachingu?

"Kapan kita akan mempertemukan yeojachingu kita?"

"Yeojachingu kita?"

Eunkwang mengangguk. "Yeojachinguku dan yeojachingumu."

"Lalu… Kau akan memperkenalkanku sebagai istrimu kepadanya?"

Lagi-lagi Eunkwang mengangguk. "Ne, sebenarnya yeojachinguku sudah mengetahui perihal pernikahan kita."

DEG!

Sekali lagi jantung Minhyuk seakan berhenti berdetak.

"Dia mengetahuinya? Dan menyetujuinya?"

Eunkwang mempererat rangkulan tangannya pada bahu Minhyuk. "Ne, kita kan sama-sama namja, dan kita menjadi suami istri bukan untuk selamanya. Kita akan bercerai setelah tiba saatnya, aku akan kembali pada yeojachinguku, dan kau akan kembali pada yeojachingumu."

DEG!

Minhyuk semakin merasakan sesak di dadanya. "Jadi Eunkwang tidak serius dengan pernikahan ini, ia akan menceraikanku suatu hari nanti?" tanya Minhyuk dalam hati.

"Ttaa… tapi… Hyung, aku tidak punya yeojachingu…"

Eunkwang tersenyum manis, senyuman yang semakin menyakiti hati Minhyuk. "Aku akan membantumu mencari yeoja yang tepat untuk menjadi pendamping hidupmu."

.

.

.

~Minhyuk pov~

Malam ini aku tidak bisa tidur memikirkan kata-kata suamiku tadi. Sungguh, saat ini aku sudah mulai mencintainya, tapi perasaannya padaku sama sekali tidak berubah. Seandainya aku bisa mengungkapkan perasaanku padanya… Segera kutepis pikiran itu, percuma saja, walaupun ia mengetahui perasaanku, tapi ia masih mencintai yeojachingunya, ia akan meninggalkanku suatu saat nanti. Bukankah ia telah berjanji untuk selalu mencintai dan menyayangiku dalam segala situasi dan kondisi? Lalu apa gunanya janji pernikahan itu? Apa dia menganggap pernikahan ini sebagai sesuatu yang tidak penting? Sedangkan pernikahan ini adalah nyata.

Aku mengangkat tangan kiriku, memandangi cincin emas yang melingkar indah di jari manisku, cincin pernikahanku dengan Eunkwang, Eunkwang yang memasangkan cincin ini di jariku. Kubalikkan tubuhku menghadap Eunkwang yang tengah tertidur membelakangiku, aku mendongakkan kepalaku untuk melihat tangan kirinya, ya, cincin pernikahan kami masih melingkar indah di jari manisnya. Aku tersenyum bahagia melihatnya.

.

.

.

"Hyung… Hyung… Ireona!" Aku menggoyang-goyangkan tubuh Eunkwang yang masih saja terlelap. "Sudah jam tujuh."

Perlahan Eunkwang membuka matanya, mengerjap beberapa kali hingga kemudian ia benar-benar bangun. "Mwo? Jam tujuh?!" pekiknya setelah sadar dan melihat jam dinding berbentung spongebob yang menempel di dinding. Ia segera menyibakkan selimutnya dan berlari ke kamar mandi.

Aku hanya bisa tersenyum melihat suamiku, kini aku benar-benar menikmati peranku sebagai seorang istri, walaupun aku tau ini hanya untuk sementara waktu.

"Aku tunggu di ruang makan, hyung."

"Kau makan saja dulu, Minhyuk-ah! Punyaku tolong dimasukkan ke dalam kotak makan saja, aku akan memakannya di sekolah, aku tidak mau terlambat," jawab Eunkwang dari dalam kamar mandi.

"Ne hyung…"

Aku yang sudah mengenakan seragam lengkap + sepatu langsung menuju ke ruang makan untuk sarapan setelah sebelumnya menyiapkan bekal makanan untuk suamiku.

.

.

.

"Hyung, aku berangkat denganmu ya," ucapku saat Eunkwang keluar dari kamar sudah dalam kondisi sangat rapi.

"Tumben, biasanya kau menolak untuk berangkat bersamaku."

"Ne hyung, mian, tapi mulai hari ini aku ingin berangkat bersamamu, hyung," ucapku dengan nada semanja mungkin.

"Ne, kajja!"

Eunkwang menjalankan mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata karena sekarang jam sudah menunjukkan pukul tujuh lebih dua puluh lima menit yang berarti tinggal lima menit waktu yang tersisa sebelum bel masuk berbunyi, sementara mereka masih jauh dari sekolah, jarak sekolah dari apartement mereka memang cukup jauh.

Walaupun sudah menjalankan mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata tapi tetap saja keduanya sampai di sekolah saat gerbang sudah ditutup, untungnya Eunkwang adalah seorang songsaengnim jadi tetap dibukakan gerbang oleh satpam yang bertugas menjaga gerbang sekolah pagi ini.

"Cepat ke kelasmu, kajja!" ucap Eunkwang sambil berbelok menuju ke ruang guru sementara aku langsung menuju ke kelasku.

Sudah sepi, sepertinya pelajaran sudah dimulai atau setidaknya songsaengnim yang mengisi jam pelajaran pertama sudah ada di dalam. Pelan-pelan aku mengetuk pintu kelas, kemudian membukanya perlahan.

"Maaf, songsaengnim, saya terlambat," ucapku sambil membungkukkan badan sembilan puluh derajat kepada Jung songsaengnim, guru matematika yang benar sudah ada di dalam.

"Terlambat? Bagaimana kamu bisa masuk kalau terlambat? Bukankah jam setengah delapan gerbang sudah ditutup dan siswa yang terlambat tidak diperbolehkan masuk?" tanya namja yang mirip dengan Kim Yukwon BlockB tersebut.

Harus jawab apa aku sekarang? Masa iya aku harus bilang kalau aku berangkat bersama Eunkwang?

"Kenapa diam saja, Lee Minhyuk-ssi?" Jung songsaengnim mendesakku.

"Ehm, tadi saya dibukakan gerbang kok," jawabku akhirnya.

"Bagaimana bisa?"

"Ya memang bisa," jawabku ngasal.

"Kalau begitu sekarang kau tunggu di luar, belajarlah di koridor sampai jam pelajaran saya selesai." Jung songsaengnim mempersilahkanku keluar kembali. Terpaksa aku menuruti perintahnya dan duduk di lantai koridor.

"Minhyuk-ah, kenapa kau disini?" suara seorang namja yang sangat familiar di telinga membuatku tersentak.

Aku mendongak ke arah sumber suara yang ternyata adalah suamiku sendiri, ia sudah berdiri di sampingku dengan membawa tas di tangannya.

"Aku tidak diperbolehkan mengikuti pelajaran oleh Jung songsaengnim karena terlambat," aku mengadu kepada suamiku secara tidak langsung. "Hyung kenapa disini?"

"Hush…" Eunkwang menempelkan telunjuk di depan bibirnya. "Jangan panggil hyung, panggil aku Eunkwang songsaengnim selama kita berada di lingkungan sekolah."

"Ne…"

KRIIIINGG!

Bel tanda pergantian jam pelajaran berbunyi.

"Jung Ilhoon, kau menghukum Minhyuk?" tanya Eunkwang begitu ia melihat Jung songsaengnim keluar dari dalam kelas.

"Ne, ia terlambat tapi tetapi entah bagaimana bisa melewati gerbang," jawab Jung songsaengnim santai.

"Ia berangkat bersama denganku," ucap Eunkwang.

Jung songsaengnim buru-buru membungkukkan badan kepada suamiku. "Mian, aku tidak tau kalau ia berangkat bersamamu. Memangnya ada hubungan apa kalian hingga berangkat bersama?"

Eunkwang terlihat sedikit gugup ketika Jung songsaengnim menanyakan hubungan kami. "Ehm…, ini…, dia adikku, eh, adik sepupu yang tinggal di rumahku."

"Oh…"

Aku sedikit kecewa mendengar jawabannya kepada Jung songsaengnim, itu berarti ia tidak mengakuiku sebagai istri sahnya…

TBC

Mian, yeojachingunya Eunkwang baru bisa muncul di chapter 3 soalnya dia masih sibuk sekarang =.="