WARNING:

mungkin bakal ada sedikit spoiler (secara tersirat), trutama bagi orang2 yang belum baca manga-nya ampe chapter 50-an…

Time line: setelah chapter 58 (Haruhi sadar klo dia naksir Tamaki), sebelum chapter 60 (Hikaru bilang ke Tamaki kalo dia naksir Haruhi)

Disclamer: Walopun Ru pengen banget memiliki Hitachiin Brothers —terutama Kaoru— tapi mereka milik Bisco Hatori-sensei… sigh.. sigh..


Secret(s)

Haruhi mendesah. Tadi ia baru saja mendapat telepon dari ayahnya kalau sang ayah ingin mengajak beberapa temannya makan malam di rumah. Alhasil, ia terpaksa belanja di supermarket.

"Fujioka-kun?" Haruhi yang hendak membayar belanjaannya terkejut saat si penjaga kasir menegurnya.

"Ah, maaf, sepertinya aku salah orang," kata penjaga kasir itu. Tidak mungkin dia, kan? pikirnya.

"Eh? Uchiyama-san? Oh ya, kalau tidak salah, kemarin kamu bilang kalau hari Jumat kamu kerja di supermarket ya?" kata Haruhi saat mengenali bahwa penjaga kasir itu adalah Mika.

"EEH?! Kau benar-benar Fujioka-kun? Tapi…." Rina menatap jepitan dan pakaian Haruhi yang terkesan 'cewek'.

"Oh… Ini ya?" Haruhi menyentuh jepitan yang ia pakai. "Aku sebetulnya cewek kok…." kata Haruhi dengan gaya cueknya seperti biasa.

"Eh?? Tapi kok…"

"Maaf, saya juga ingin membayar," tegur seorang ibu yang mengantri di belakang Haruhi.

"Ah, maaf! 820 yen, Fujioka-kun," kata Mika.

"Mungkin lain kali kita ngobrol lagi ya, Uchiyama-san," kata Haruhi.

"Ya! Harus!" sahut Mika cepat. Haruhi hanya tersenyum tipis melihat wajah Mika yang terlihat sangat penasaran. Ia pun berjalan pulang.

--

Hari itu hari Minggu. Walaupun jam baru menunjukkan pukul 7, tetapi Kaoru sudah berpakaian rapi. Ia tidak sabar untuk bertemu dengan Mika lagi. Setelah menghabiskan sarapannya, Kaoru langsung berniat pergi ke taman, tapi tiba-tiba ia teringat sesuatu.

"Ah, betul juga…" Kaoru bergumam pada dirinya sendiri, kemudian berjalan ke kamar Hikaru.

"Ne, Hikaru, aku mau jalan-jalan ke taman nih. Mau ikut nggak?" katanya sambil mengguncang-guncang tubuh Hikaru.

"Ng…" Hikaru hanya bergumam tidak jelas, lalu menarik selimutnya lebih rapat. Kaoru menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kakak kembarnya itu.

"Ya udah, aku pergi," kata Kaoru. Dan tanpa menunggu jawaban Hikaru —karena hampir bisa dipastikan dia tidak akan menjawab― ia berjalan menuju taman.

Kaoru tiba di taman sekitar pukul 07.20. Di sana, sosok Mika masih belum terlihat. Sepertinya ia datang terlalu pagi.

"Meong..." Kaoru agak terkejut saat mendengar suara kucing. Ketika ia menoleh, dilihatnya anak kucing yang minggu lalu bermain bersamanya, sedang menatapnya.

"Hee… Kau masih ingat padaku ya, Neko-chan?" katanya sambil berjongkok dan membelai kucing yang kelihatan menyukainya itu. "Hm… Uchiwa-chan belum datang, kau temani aku dulu ya!" katanya lagi. Kucing itu mengeong seolah mengiyakan. Kaoru tertawa kecil melihatnya. Akhirnya, ia menunggu Mika sambil bermain dengan anak kucing itu.

"Kau jadi datang rupanya." Sebuah suara membuat Kaoru menoleh. Ternyata Mika sudah datang.

"Meong..."

"Wuah!" Mika sangat terkejut saat melihat kucing yang ada dipangkuan Kaoru.

"Hahahaha…. 'Wuah' katanya! Hahahaha… Betul-betul nggak manis!" Kaoru tertawa terbahak-bahak.

"Kamu tuh nggak bisa ya nggak ketawa sehariii aja?!" kata Mika kesal.

Kaoru yang sudah bisa mengontrol tawanya membalas, "Ne, biasanya, cewek itu kalo kaget teriak 'kyaa' bukan 'wuah'," katanya dengan seringai usilnya.

Wajah Mika memerah. "Biar aja!! Terserah aku dong!"

Kaoru terkekeh, lalu kembali mengelus kucing yang kelihatan begitu nyaman dipangkuannya itu.

"Kayaknya kucing itu suka padamu," kata Mika. Ia duduk di sebelah Kaoru, tapi agak jauh. Seolah-olah takut kalau-kalau kucing itu tiba-tiba melompat ke arahnya.

"Iya. Hh… Sebetulnya aku ingin sekali melihara dia. Tapi ibu-ku pasti nggak akan setuju. Habisnya, gawat juga kalo dia ngerusak baju-baju koleksi ibuku," kata Kaoru.

"Ah, iya! Dari kemarin aku kepikiran… Jangan-jangan….kau ada hubungan sama Hitachiin Yuzuha ya?" tanya Mika ragu-ragu.

"Iya. Dia ibuku," jawab Kaoru santai.

"HEEEE??"

"Apa, sih? Kenapa wajahmu seperti orang nggak percaya gitu? Nggak sopan!" Kaoru cemberut.

Sejak aku tau dia sekolah di Ouran, aku udah ngira kalo dia orang kaya. Tapi Hitachiin Yuzuha?? Dia sih super kaya!! pikir Mika shock. Ah, kalo begitu…

"Um…Hitachiin-kun…kau baik deh… Hehehe…."

"A-ah.. Ada cewek yang merayuku supaya aku ngajak dia main ke rumah. Seramnya…" kata Kaoru tanpa ekspresi.

Mika menggembungkan pipinya. Ternyata cowok usil itu sudah tahu keinginannya, dan malah menggodanya.

"Hehehehe… Aku bercanda." Kaoru nyengir lebar. "Yah, bukannya aku nggak bisa atau nggak mau ngajak kamu main ke rumah sih…"

"Aku nggak minta diajak main ke rumahmu! Aku cuma mau ketemu ibumu!!" kata Mika agak tersinggung. Baginya kata-kata 'main ke rumah (cowok)' terkesan punya konotasi negatif.

"Iya, iya. Hm… Masalahnya, sekarang ini ibu lagi promosi desain-desain terbarunya di luar negeri. Aku nggak tau dia bakal pulang kapan. Mungkin seminggu lagi. Atau mungkin juga lebih…." kata Kaoru.

"Ah, begitu ya…." Mika kelihatan agak kecewa.

"Nanti kalo ibuku udah pulang, aku kasih tau deh."

"Beneran?" tanya Mika tak percaya. Cowok dihadapannya mengangguk sambil tersenyum, membuat Mika ikut tersenyum senang. "Arigatou, Hitachiin-kun!!"

"Kaoru!" kata Kaoru tiba-tiba.

"Hah??"

"Panggil aja Kaoru. Kalo Hitachiin aja, ada Hikaru juga kan," kata Kaoru tanpa memandang Mika.

"Um, kalo gitu…."

"Ne, Uchiwa-chan, kau bawa makanan di tas-mu ya? Tas-mu diendus-endus Neko-chan tuh!" Kaoru menunjuk tas Mika.

"Waa!!" Mika cepat-cepat menyelamatkan tas-nya. Tapi malah membuat kucing itu mendekatinya. "Aaah!! Sana jauh-jauh!!" Mika yang panik hanya bisa mengibas-ngibaskan tangannya, berharap bisa membuat anak kucing itu menjauh.

Seperti biasa, Kaoru tertawa terbahak-bahak melihatnya. Kemudian ia mengangkat kucing itu dan meletakkannya kembali di pangkuannya. "Kayaknya dia lapar," kata Kaoru.

"Ng, aku bawa bento sih… Ada ikannya," kata Mika sambil mengeluarkan bento nya dari dalam tas, lalu memberikan sedikit ikannya pada anak kucing itu.

"Kawaii…" kata Kaoru sambil memperhatikan anak kucing yang makan dengan lahap itu. "Kalo Hikaru ada di sini, dia juga pasti mau memelihara kucing ini."

Mendengar Kaoru menyebut-nyebut Hikaru, Mika teringat akan sesuatu. "A..ano… Aku tau lho tentang Fujioka-san," katanya agak ragu. Sebetulnya ia hanya ingin memastikan, apa Kaoru juga tahu kalau Haruhi adalah perempuan.

"Ah, iya. Kata Haruhi, Jumat kemarin kau bertemu dengannya ya? Katanya kau keliatan sangat kaget melihat dia pakai pakaian bebas. Gimana? Dia kawaii kan?" kata Kaoru sambil nyengir lebar.

Mika kaget melihat respon Kaoru. Ia pikir, kenyataan kalau Haruhi adalah cewek merupakan rahasia besar. Tapi Kaoru kelihatan tidak keberatan sama sekali kalau Mika mengetahui hal itu. Jadi ini hal besar bukan sih? pikir Mika bingung.

"Kau pasti bingung ya?" tanya Kaoru saat melihat wajah heran Mika. "Sebetulnya bukan salah Haruhi sih kalo dia nyamar jadi cowok di sekolah. Ini cuma karena kami maksa dia. Habisnya, kalo cewek, nggak bisa jadi anggota klub kami sih… " jelas Kaoru.

"Hah? Emangnya kalian anggota klub apa sih?" tanya Mika heran.

"Host club," jawab Kaoru santai.

HAAAH?? Orang kaya emang nggak bisa dimengerti. pikir Mika, tambah pusing.

"Kalo Haruhi jadi cewek, dia kan nggak bisa terus-terusan di host club dan nggak mungkin dia bisa jalan-jalan bareng kita-kita. Makanya, kita-kita tetep maksa dia supaya nyamar jadi cowok. Ah, tapi dibilang maksa juga nggak sih. Haruhi nya sendiri keliatan nggak keberatan sih. Hehehe…" Kaoru kembali nyengir.

"Kau…suka Fujioka-san ya?" tanpa sadar, Mika malah menanyakan hal itu. Ia sendiri langsung menutup mulutnya setelah bertanya.

"Wah, ternyata keliatan sekali ya?" Kaoru malah meresponnya dengan tenang. "Berarti yang bodoh memang cuma mereka bertiga aja ya?" katanya sambil menyeringai.

"Hah??"

"Sebetulnya, apa aja yang udah kamu tau sih, Uchiwa-chan?" Kali ini Kaoru menatap Mika lekat-lekat, membuat Mika gugup.

Mika agak bingung juga bagaimana meresponnya. Ia takut kalau-kalau Kaoru marah karena ia sudah mencampuri urusan orang lain, tapi Kaoru sendiri tidak menunjukkan wajah keberatan. Jadi, dia harus jawab jujur atau tidak, nih?

"Bu…bukannya aku tau! Aku cuma ngira-ngira doang kok! Abisnya, tatapanmu dan Hikaru ke Fujioka-san keliatan beda sih… AH!" Mika langsung menutup mulutnya lagi. Mika bodoh!! Gimana kalo dia nggak tau kalo Hikaru juga merhatiin Fujioka-san? Gimana kalo nanti mereka malah berantem gara-gara kamu ngomong kayak gitu?! Dasar bodoh!! Mika mengutuk dirinya sendiri.

"Ah, jadi Hikaru juga ketauan ya? Ternyata kau hebat juga," puji Kaoru.

Mika menghembuskan napas lega. Setidaknya Kaoru sudah tahu perasaan Hikaru sebelumnya. Tapi, tetap saja Mika ikut campur kan? Takut-takut ia memandang Kaoru. Cowok itu kelihatan berpikir keras.

"Ah! Betul juga!" Kaoru tiba-tiba menepukkan tangan kanannya keatas tangan kirinya. "Aku butuh teman untuk rencana mencomblangkan Hikaru dan Haruhi nih. Bagaimana kalau kau membantuku?" Kaoru menyeringai.

"Heee??"

"Tenang, nanti aku yang bikin rencana. Kamu tinggal bantu doang kok. Apalagi kamu kan cewek, jadi lebih gampang deketin Haruhi. Kayaknya aku punya rencana bagus. Khukhukhu…" Kaoru malah terkekeh.

"Ng..Kau…kau nggak apa-apa?" Mika tiba-tiba memotong khayalan Kaoru.

"Hah?"

"Kamu kan suka Fujioka-san juga, tapi kenapa kau membantu Hikaru? Memangnya kamu nggak apa-apa?" tanya Mika dengan wajah memerah. Masa bodo' mau dibilang ikut campur! Aku udah terlanjur terlibat sih! pikir Mika.

"Ah, kau mengkhawatirkan aku ya?" Kaoru memandang Mika dengan lembut.

"Si-siapa yang khawatir?!" Wajah Mika semakin memerah ditatap seperti itu.

"Arigatou…" Kaoru malah tersenyum, membuat Mika merasa bahwa wajahnya seperti terbakar.

"Ja..jadi?"

"Jadi?" Kaoru menatap Mika dengan tatapan tak mengerti.

"Jadi kau tetap membantu Hikaru-kun?" tanya Mika lagi.

Kaoru tertawa kecil sebelum menjawab. "Aku memang suka pada Haruhi. Tapi itu udah selesai kok. Aku udah bertekad untuk bantu Hikaru karena buatku, Hikaru jauh lebih penting," katanya.

"Terus kamu mau ngorbanin perasaanmu sendiri? Kamu nggak boleh kayak gitu!! Hikaru-kun juga pasti nggak akan seneng kalo kamu berkorban buat dia!!"

Kaoru tersentak mendengar perkataan Mika, tetapi ia kembali tersenyum lembut. Kata-kata itu…sama seperti Haruhi….

"Aku bukannya ngorbanin diri, kok. Tapi, buatku, Hikaru lebih penting daripada Haruhi. Lagipula, Hikaru udah tau semuanya. Yah, bisa dibilang, Haruhi itu masa lalu buatku. Ah, tapi mungkin aku memang harus belajar buat betul-betul ngelupain Haruhi ya? Habisnya kamu yang baru kenal aja bisa langsung tau kalo aku suka Haruhi. Hehehe…" Lagi-lagi Kaoru tersenyum kecil. Dada Mika berdebar-debar melihat Kaoru seperti itu.

Kaoru-kun itu ternyata dewasa, ya…. Keren. Kok aku jadi deg-deg-an ya? Apa aku suka sama dia? Hah? Mika, kamu nggak denger tadi? Dia udah naksir orang lain! Dasar bodoh!! Masa sekalinya naksir sama orang, langsung patah hati sih?!

"Hooi... Bumi memanggil Uchiwa-chan!!" Suara Kaoru membuat Mika kembali tersadar. "Udah jam 10 lho… Kau nggak telat?" kata Kaoru lagi.

Mika melihat jam tangannya. Ternyata betul, sudah jam 10!

"Waaa!! Aku bisa telat! Aku pergi dulu!!" Seru Mika panik. Tanpa menunggu jawaban Kaoru, ia segera berlari menuju sepeda-nya.

"Uchiwa-chan! Masalah misi-nya nanti kita bicarakan lagi ya! Ini rahasia lho! Jangan bilang siapa-siapa!" teriak Kaoru sebelum Mika terlalu jauh.

"Iya!" Mika asal menyahut saja. Lagipula, memangnya dia mau bilang sama siapa?

Kaoru memandang punggung cewek itu sambil tersenyum. Kemudian, ia kembali beralih pada anak kucing yang sejak tadi menatapnya. "Nah, aku akan temanin kamu main lagi sebentar, Neko-chan."

"Meong..."

To be continue…..


Huwaahh.. akhirnya aku lanjutin juga!! Makasih buat yang udah nunggu… (emangnya ada? Hwehehe…)

Sebetulnya lama banget nge-update bukan karena nggak ada ide. Idenya sih uda ada ampe selesai. Cuma masalahnya… Aku lagi males nulis… ditimpukin

Hehehe.. Buat yang udah nge-review, thanks yah!! Soalnya salah satu alasan aku nge-update karena ada yang review. Abisnya kalo nggak ada yang review, jadi males.. Hehe… ditimpuk lagi

Maaf kalo ada kekurangan di sana sini. Nulisnya cepet2 sih. Abisnya kalo nggak kebut, dijamin bakal macet2 & nggak selesai2. Tadi juga nge-burning gara2 baca ulang mangascan-nya. Kaoru love!! Pokoknya saran & kritik ditunggu lho, nyaa...