FLUSTERED HEART
CAST : Jeon Wonwoo, Kim Mingyu, dll.
RATE : M
YAOI (BXB), DLDR, OOC, TYPO(S)
.
.
.
"Eomma ! Lihat ! Appa ada di dalam televisi !" pekik senang seorang bocah.
Eomma sang bocah yang sedang berada di dapur segera menghampiri ruang tengah dimana anaknya berada setelah mendengar pekikan senang anaknya yang mengatakan bahwa suaminya masuk televisi.
'Pernikahan Termegah Tahun Ini : Han Jae Suk dan Jung Hae Ra.'
Ia bisa melihat anaknya begitu senang dengan senyuman lebar di wajahnya melihat Appa-nya tanpa mengerti keadaan yang sebenarnya terjadi, sementara sang Eomma hanya bisa memandang pedih tayangan berita di televisi saat itu.
.
.
.
"Jeon Wonwoo, ayolah."
"Harus kukatakan berapa kali Mingyu-ssi ? Aku bilang aku tidak mau."
"Tapi kukira kau menyukaiku."
"Itu saat aku tak tahu kau sudah punya kekasih."
"Aku bisa memutuskan Jeonghan sekarang juga jika kau mau, Wonwoo-yah."
Wonwoo menghembuskan nafasnya kasar. Harus ia akui pemuda dihadapannya ini benar-benar seorang pekerja keras dan pantang menyerah sekaligus pemuda paling brengsek yang pernah ia temui. Sudah terhitung seminggu terakhir ini pemuda sialan yang bernama Kim Mingyu itu mengejarnya. Pertama kali ia menawari untuk makan siang bersama, tentunya sebagai teman yang baik Wonwoo mau menemaninya. Oh, tenang saja, rasa suka Wonwoo pada Mingyu kini sudah sirna entah kemana setelah tahu Kim Mingyu sudah memiliki kekasih. Meski tidak pernah ia sangkal, ada kalanya Wonwoo seperti tersedot dalam sebuah gairah seksual yang berpusat pada Kim Mingyu. Itu tidak sering terjadi, tapi pernah beberapa kali terjadi. Well, Mingyu itu seksi dan tak ada yang bisa memungkirinya.
Setelah ajakan makan siang yang disambut dengan baik hati oleh Wonwoo, sepertinya pemuda tampan itu makin melonjak. Setelah makan siang kemudian makan malam. Karena pada saat itu mereka pergi bersama Jeonghan dan Soonyoung tentu saja Wonwoo tidak keberatan. Tapi nyatanya selama acara makan malam pada saat itu Jeonghan selalu sibuk mengobrol tanpa henti dengan Soonyoung, yang artinya secara tidak langsung mereka meninggalkan ia dan Mingyu dalam situasi yang canggung. Bagaimana tidak canggung ? Wonwoo tahu di balik alas meja makan malam saat itu tangan Mingyu dan Jeonghan selalu bertautan, tapi tatapan mata Mingyu selalu terarah padanya. Wonwoo merasa tatapan Mingyu malam itu seperti tatapan predator terhadap mangsanya. Dan tempat duduknya yang berhadapan dengan Mingyu sama sekali tak memperbaiki keadaan yang ada.
Kembali ke masa sekarang. Saat ini Wonwoo masih berada di sekolah bersama Mingyu yang sedari tadi terus menerus mengekorinya. Membujuknya ini itu, berjanji melakukan ini itu, dan dengan sukarela akan melakukan apapun untuk Wonwoo. Tidakkah itu terlalu berlebihan hanya untuk menuruti kemauan Kim Mingyu agar Jeon Wonwoo bersedia menemaninya menonton bioskop. Wonwoo tidak akan bilang itu berlebihan jika saja yang pergi menonton hanya ia dan Mingyu.
"Dengar Kim, Jeonghan adalah sahabatku dan aku tidak akan membiarkan manusia brengsek sepertimu menyakitinya." Ancam Wonwoo.
"Hei ! Apa kau selalu bilang brengsek pada semua orang yang mengajakmu nonton ?!" desak Mingyu.
"Tidak, jika saja orang itu tidak dengan mudahnya mengatakan akan memutuskan kekasihnya yang sialnya adalah sahabatku." Jawab Wonwoo.
Mereka saat ini sedang berada di taman belakang sekolah mereka yang sangat sepi karena tak ada orang yang mau kesana. Ada mitos bodoh yang mengatakan dulunya disini ada orang gila yang bunuh diri disini. Dan Wonwoo merasa arwah orang gila itu sedang bersemayam di otak Mingyu, sehingga lelaki itu menjadi sedikit tidak waras saat ini. Wonwoo segera melangkahkan kakinya menjauhi Mingyu tak tahan jika terlalu lama berdekatan dengan Mingyu. Berdekatan dengan Mingyu sama saja seperti sedang berdekatan dengan api yang membara. Panas, indah, tetapi tetap saja berbahaya.
Tapi belum dua langkah Wonwoo pergi dari sana. Ia merasa pinggangnya ditarik ke belakang secara tiba-tiba. Dan kini yang Wonwoo rasakan sekarang adalah tubuhnya sekarang berada di pelukan Mingyu yang sialnya terasa hangat dan nyaman. Ia bisa dengan jelas menghirup aroma tubuh Mingyu karena wajahnya kini berhadapan dengan leher Mingyu. Wonwoo juga merasakan sepasang lengan yang melingkari pinggangnya dengan lembut. Aroma tubuh Mingyu membuat tubuhnya lemas, hingga tak ada yang bisa ia lakukan selain memasrahkan seluruh beban tubuhnya pada tubuh kekar Mingyu. Dengan posisi seperti ini Wonwoo bisa merasakan dengan jelas detak jantung Mingyu yang sangat cepat, tak jauh berbeda dengan detakan jantungnya. Dan hembusan nafas Mingyu yang secara langsung mengenai pipinya.
'YA TUHAN, AKU SEDANG DIPELUK PACAR SAHABATKU !' teriak Wonwoo dalam hati.
"Akui saja Wonwoo-yah, kau tertarik padaku dan kabar baiknya aku juga tertarik denganmu." Bisik Mingyu di telinganya.
'That's right ! Aku memang tak bisa menyangkalnya' batin Wonwoo.
"Diam berarti iya."
Setelah berkata seperti itu, Mingyu mengeratkan pelukannya dan menyandarkan kepalanya di bahu Wonwoo dan berhadapan dengan leher Wonwoo. Mingyu menghirup aroma tubuh Wonwoo dengan rakus seolah ia tak akan diberi kesempatan boleh melakukannya lagi.
"Sial ! Aku benar-benar tidak tahan lagi"
Cup
Sebuah ciuman singkat awalnya, tapi jika hanya kecupan biasa itu bukan gaya Mingyu. Tangannya yang berada di pinggang Wonwoo berusaha mempersingkat jarak antara keduanya dan menekan tubuh Wonwoo adar tubuhnya semakin melekat padanya. Wonwoo yang awalnya terkejut, lama-lama memejamkan matanya menikmati sensasi bibir Mingyu di atas bibirnya dan lengannya yang daritadi terbujur lemas disamping tubuhnya kini melingkari leher Mingyu. Mingyu yang merasa mendapat respon positif mulai memberanikan diri melumat dan menghisap bibir manis itu. Mingyu membawa tangannya yang sedari tadi hanya diam di pinggang Wonwoo kini mulai mengelus perlahan punggung Wonwoo dari atas ke bawah mengundang lenguhan seksi dari Wonwoo.
"Eunghh …"
Sesuatu dalam diri Mingyu memekik senang mendengar suara lenguhan Wonwoo yang bahkan lebih seksi dari kekasihnya sendiri. Berbicara tentang kekasihnya, dengan tidak rela Mingyu melepas bibirnya dari ciuman panas itu. Mingyu masih bisa ingat ia punya janji dengan Jeonghan untuk makan siang bersama di kantin saat ini.
"Kau benar-benar menggoda, Wonwoo-yah."
Jempol Mingyu mengusap lembut sudut bibir Wonwoo yang terdapat saliva entah milik siapa. Ia pandangi wajah Wonwoo yang memerah dan pandangannya yang sayu. Sekalu lagi ia dekatkan wajahnya ke wajah Wonwoo, namun bukan untuk mencium bibirnya tetapi Mingyu mengarahkan bibirnya ke kening Wonwoo. Mengecup dengan penuh kasih sayang dahi Wonwoo seolah Wonwoo terbuat dari kaca yang mudah pecah.
"Aku akan tunggu di depan rumahmu, hari sabtu jam setengah delapan. Aku tidak menerima penolakan." Ucap Mingyu setelah itu meninggalkan Wonwoo yang sepertinya masih belum pasca ciuman panasnya dengan Mingyu.
"Omo ! Aku baru saja berciuma dengan pacar sahabatku sendiri." Gumam Wonwoo setelah sadar Mingyu telah meninggalkannya.
Wonwoo pikir Mingyu benar-benar kehilangan kewarasannya karena menyukainya sementara ia sudah mempunyai kekasih yang sempurna. Dan Wonwoo pikir ia juga ikutan gila karena nyatanya rasa suka yang ia pikir sudah hilang kini malah muncul lagi. Wonwoo juga menyukai Mingyu.
.
.
.
Wonwoo memandang pemandangan di depannya dengan kesal. Ia kesal pada dirinya sendiri yang membiarkan Mingyu menciumnya dengan seenak jidatnya. Ia kesal pada dirinya sendiri karena seharusnya ia marah pada Mingyu, harusnya ia tonjok Mingyu hingga lelaki itu babak belur bukannya malah melenguh keenakan karena ciuman lelaki itu. Dan ia kesal kenapa juga ia harus kesal melihat Mingyu dan Jeonghan bermesraan di depannya ? Kenapa ia harus kesal saat melihat Jeonghan dengan seenak jidatnya mencium Mingyu di depannya ? Ini kan kantin sekolahan, tempat umum. Itu karena Jeonghan adalah kekasih Mingyu, jadi ia bebas mencium Mingyu dimana saja kapan saja. Dan sialnya Wonwoo juga kesal dengan alasan itu.
"Ramenmu akan dingin jika tidak dimakan, Wonwoo baby."
Itu Jun, Wen Junhui. Satu-satunya orang yang berani memanggil Wonwoo dengan embel-embel 'baby', seolah-olah Wonwoo ini adalah bayinya. Dan Jun adalah ibunya. Membayangkan Jun harus menyusuinya membuatnya mual seketika. Untuk itu Wonwoo tidak pernah mau terlalu dekat dengan Jun. Ia hanya bisa memberikan jawaban singkat seperti 'ya', 'tidak', 'mungkin', 'tidak tahu'. Dan hal seperti itu malah membuat Wonwoo merasa ia sedan bermain kuis dengan Jun.
"Ya, terima kasih sudah mengingatkan Jun."
Akhirnya Wonwoo merubah pikirannya. Seminggu belakangan ini, Wonwoo berusaha menepis rasa canggungnya dengan Jun dan membiasakan dirinya dengan panggilan manis dari Jun. dan ternyata tidak terlalu buruk rasanya dipanggil seperti itu, tentunya dengan menghilangkan bayangan dimana Jun menyusuinya layaknya ibu pada bayinya.
"Apapun untukmu, sweetheart." Balas Jun dengan senyuman lebarnya.
Tanpa sadar sepasang mata memandang mereka dengan tatapan tajamnya. Lebih tepatnya tatapan cemburu.
.
.
.
"Soonyoung !" teriak Wonwoo memanggil teman sebangkunya.
Yang dipanggil pun menoleh ke sumber suara dan melihat teman sebangkunya sedang berlari kearahnya.
"Wae ?" tanya Soonyoung singkat.
"Aku mencarimu kemana-mana, bodoh ! Jam istirahat sebentar lagi akan habis, mana buku milikku ?" kesal Wonwoo.
"Hehe, mianhe. Jja kita harus ke kelas. Bye my baby Woozi." Soonyoung melambai pada lelaku mungil di sebelahnya.
Wonwoo bahkan tak menyadari lelaki itu sedari tadi berdiri disana. Lelaki itu lebih pendek dari Soonyoung, terlihat manis. Yah, tipe bottom sekali. Tunggu dulu-
"KAU TOP ?!" teriak Wonwoo.
"Huh ?"
"Kau ini top, Soonyoung-ah ? Tadi itu pacarmu ?!" tanya Wonwoo tak percaya.
"Yah ! Apa maksudmu bertanya sepert itu ?! Tentu saja aku ini top. Dan ya, tadi itu pacarku. Awas saja kalau kau berani merebutnya dariku !" ancam Soonyoung.
"Well, asal kau tahu saja aku ini bottom. Aku tak selera dengan yang imut-imut seperti itu." Ucap Wonwoo.
"Ya ya ya. Aku tahu. Ngomong-ngomong tadi aku melihatmu bersama Mingyu di taman belakang sekolah. Sedang apa kalian disana ?" tanya Soonyoung.
"K-kau melihatnya ?" tanya Wonwoo gugup.
"Hanya sekilas sih, aku tidak tahu tapi sepertinya kalian sedang berbicara serius sekali. Apa sih yang kalian bicarakan ?" tanya Soonyoung penuh selidik.
"Mingyu hanya bertanya beberapa hal padaku." Jawab Wonwoo singkat.
Dalam hatinya ia berdoa semoga Soonyoung tidak bertanya macam-macam padanya.
"Hal apa ?" tanya Soonyoung lagi.
Rasa-rasanya Wonwoo ingin berlari dari situasi seperti ini. Keadaannya sama seperti saat ia ketahuan selingkuh oleh orang lain. Hampir mirip sih. Mingyu yang berselingkuh, bukan Wonwoo.
"Ia memintaku untuk mengajarinya matematika karena nilai ulangannya jelek kemarin." Elak Wonwoo.
"Jinja ? Wah, kalau begitu aku juga mau diajari olehmu, ya ? Ya ? Bolehkan ? Boleh ya ? Wonwoo-ya ? Kau kan sahabatku. Boleh-"
"Ish, iya iya."
Dalam hati Wonwoo bernafas lega. Setidaknya Soonyoung tidak melihat apa yang seharusnya memang tidak boleh dilihat oleh orang lain.
.
.
.
"Wonwoo-yah, mau pulang bersama ?" tawar Jeonghan.
"Uhmm…" Sebenarnya Wonwoo ingin menolak ajakan Jeonghan tapi melihat Mingyu menatapnya dengan pandangan tajamnya, Wonwoo jadi bingung harus bagaimana.
"Aku, Mingyu dan Soonyoung akan mampir ke café seperti biasa. Mau ikut ?" tawar Jeonghan lagi.
Ikut dan melihat Jeonghan dan Mingyu bermesraan lagi ? Hell no !
"Ikut saja, Wonwoo-yah." Bujuk Soonyoung.
"Baiklah, tapi-"
"Wonwoo akan pulang denganku." Jun tiba-tiba dating dan menggenggam tangan Wonwoo.
"Uh ? Ya, aku akan pulang dengan Jun saja." Ucap Wonwoo buru-buru.
"Tapi Wonwoo sudah bilang 'iya' tadi." Desak Mingyu tak terima.
Cukup panas ternyata melihat Wonwoo berada dalam genggaman Jun, walau nyatanya Jun itu adalah sahabatnya.
"Wonwoo berubah pikiran. Ia akan pulang denganku." Ucap Jun tak terima.
"Tapi Wonwoo sudah lebih dulu bilang-"
"Sudahlah Mingyu-yah. Kita masih bisa pulang bersama lain hari." Jeongham mencoba menenangkan Mingyu yang entah kenapa tiba-tiba marah.
"Baiklah, aku pulang dulu Wonwoo-yah." Pamit Soonyoung pada sahabatnya.
Setelah mobil Mingyu berlalu dari parkiran, kini tinggal Wonwoo dan Jun saja yang masih disana. Wonwoo menundukkan kepalanya. Ternyata susah juga menyukai pacar sahabatnya sendiri.
"Kau menyukai Mingyu, ya ?" tanya Jun tiba-tiba
.
.
.
UPDATE ! Thanks buat kalian semua yang sudah berkenan review di chap kemarin. Seneng rasanya bisa baca review kalian. Bikin aku semangat nerusin ff-nya. Aku harap chap kali ini ngga mengecewakan kalian semua. Terima kasih.
Review please.
