ONE LOVE

.

.

.

Author : dyanrosdiana

CAST :

Jeon Wonwoo

Kim Mingyu

Jeon Jungkook

Kim Taehyung

Seventeen & BTS Member

Genre : Humor, Romance, Friendship

Rating : T

WARNING! BL, Yaoi, Typo

.

.

.

Sebelumnya aku mau mengucapkan terima kasih banyak untuk kalian semua yang sudah bersedia untuk membaca, follow, favorite dan review FF ini! ^^

Special Thanks To :

kureyrey, Inne751, Nyanyanyanya, BSion, ErllaUji96, gg0098, ririsasa, kookies, alightphoenix

.

.

.

HAPPY READING! ^o^

.

.

.

"Lihat saja nanti, aku akan menghajarmu, Jeon Jungkook!" Gerutu Wonwoo kesal. Lalu menendang sebuah kaleng soda kosong yang berada didepannya.

PLETAK

"Argh—" Tiba-tiba saja terdengar suara seseorang meringis. Hal itu tentu saja membuat Wonwoo menoleh ke asal suara tersebut.

Dan sepertinya kaleng soda itu telah mendarat di sebuah tempat yang tidak pernah diharapkan oleh Wonwoo. Lihat saja sekarang. Wonwoo mengerjapkan kedua matanya beberapa kali, sebelah tangannya menutup mulutnya yang saat ini nyaris saja membentuk huruf O. Ia pun segera berjalan perlahan mendekati seseorang yang sedang meringis sambil mengusap wajahnya itu.

.

.

.

ONE LOVE - CHAPTER 1 (Keberuntungan atau Sebaliknya?)

.

.

.

Saat ini, Wonwoo hanya bisa merutuki kebodohan dirinya sendiri. Bagaimana bisa kaleng soda yang ia tendang itu mengenai seseorang? Bahkan ia tak melihat namja jangkung yang tengah berjongkok tak jauh darinya itu."A—Apa kau baik-baik saja? Maaf, aku tak sengaja" Tanya Wonwoo gugup.

Namja jangkung bername tag Kim Mingyu itu pun segera berdiri. "Yang benar saja, membuang sampah sembarangan! Kau pikir wajahku ini tempat sampah?!"

Lagi. Wonwoo hanya mengerjapkan kedua matanya bingung. Sepertinya namja dihadapannya ini tidak mau memaafkannya. Tapi yang benar saja, hanya karena masalah kecil seperti itu, masa ia tak mau memaafkannya. Wonwoo kan tidak sengaja. "Maafkan aku! Lagi pula itu bukan sampah milikku"

Mingyu melipat kedua tangannya di depan dada. Ia menatap Wonwoo dengan malas. "Lalu kalau itu bukan sampah milikmu, kau bisa seenaknya saja membuang sampah itu ke wajahku?!"

Wonwoo berdecak kesal. Namja dihadapannya ini sungguh menyebalkan. Tapi, ia harus sedikit lebih bersabar. Karena ia menyadari, ini memang salahnya. "Ya ampun! Aku kan sudah minta maaf! Kenapa kau malah memperpanjang masalah? Lagi pula kenapa kau berjongkok di tengah jalan seperti itu?"

"Kau tidak lihat ya? Tadi aku sedang mengikat tali sepatuku" Sahut Mingyu tak kalah kesal sambil menunjuk sepasang sepatu hitam yang ia kenakan itu.

"Ck! Bahkan kau tiba-tiba saja muncul"

"Hey, kau ini benar-benar tidak bisa melihat ya? Sejak tadi aku disini. Bahkan aku bisa mendengarmu mengoceh sendiri seperti orang gila" Ucap Mingyu dengan santainya. Namun, terdengar seperti sedang mengejek namja manis itu.

"Apa katamu?" Sepertinya, Wonwoo tambah kesal. Hey, memangnya siapa yang tidak kesal jika kau disebut orang gila oleh seseorang yang bahkan mengenalmu saja tidak.

"Orang gila"

Sungguh, Wonwoo menyadari bahwa ini adalah kesalahannya. Tapi mendengar ucapan namja jangkung itu, hanya membuat kedua indera pendengarannya semakin memanas. Oh ayolah, Kim Mingyu! Ini adalah puncak dari kesabaran seorang Jeon Wonwoo. "Katakan sekali lagi!"

"Orang gi—Arghh—" Ucapan Mingyu terhenti karena Wonwoo menendang kakinya dengan sangat keras. Hal itu tentu saja membuat Mingyu meringis kesakitan. Ia memegangi kakinya yang telah menjadi korban tindak kekerasan namja dihadapannya itu.

Wonwoo tersenyum manis. Tapi bagi Mingyu yang melihatnya, senyuman itu lebih pantas jika disebut dengan sebuah senyuman manis yang mengejek. Apa katanya tadi? Senyuman manis? Tidak, tidak, tidak! Lenyapkan segera ungkapan itu dari pikiranmu, Kim Mingyu! "Rasakan itu! Dasar tidak sopan!" Ucap Wonwoo kesal. Lalu ia mulai berjalan meninggalkan Mingyu. Namun, baru selangkah ia berjalan. Mingyu menahannya. Namja jangkung itu memegangi sebelah tangan Wonwoo. "Apa lagi?!"

"Kau yang tidak sopan! Kenapa tidak meminta maaf?!" Sahut Mingyu sambil menunjukan jari telunjuknya ke wajah Wonwoo.

Wonwoo menatap horror jari telunjuk Mingyu. Mungkin, jari telunjuk itu akan segera menusuk mata miliknya, jika saja ia tak menepisnya dengan cepat. "Haruskah?" Tanya Wonwoo yang hanya dibalas sebuah anggukan oleh Mingyu. "Tidak mau!" Sahutnya sambil menggeleng.

"Minta maaf padaku!" Pinta Mingyu dengan memaksa.

Wonwoo menghela napas. Lalu menggelengkan kepalanya cepat. "Tidak, tidak, tidak! Aku tidak mau minta maaf! Aku hanya mau ke sekolah!" Serunya kesal.

Minggyu mengernyit. Mendengar ucapan namja itu, membuatnya teringat akan satu hal. Ia segera melirik sebuah jam tangan hitam yang melingkar di lengan kirinya. Masih pukul setengah tujuh. Sebenarnya ia tak ingin pergi, sebelum namja dihadapannya itu meminta maaf pada dirinya. Tapi kalau ia terus menerus berdebat dengan namja itu, ia bisa terlambat sampai di sekolah. "Ya ampun! Aku juga harus ke sekolah" Ucap Mingyu. Ia segera beranjak dari tempatnya berdiri.

Namun, sebelum Mingyu benar-benar pergi. Kini giliran Wonwoo yang menahan namja itu untuk pergi. "Tunggu!" Ucap Wonwoo sambil memegangi tangan kiri Mingyu. Membuat namja itu menoleh ke arah Wonwoo dengan terpaksa. "Apa lagi?" Tanya Mingyu.

Wonwoo menatap Mingyu dari atas kepala hingga ujung sepatunya dengan tatapan yang sulit diartikan. Setelah selesai memperhatikan Mingyu, namja bersurai hitam itu pun tersenyum misterius. Mingyu yang melihatnya pun langsung bergidik ngeri. Sepertinya namja dihadapannya itu benar-benar sudah tidak waras. "Kau juga bersekolah di Pledis High School?"

"Menurutmu?" Ucap Mingyu sambil menepis tangan Wonwoo yang sejak tadi memeganginya.

"Ternyata kita satu sekolah" Ucap Wonwoo yang baru menyadari bahwa seragam sekolah miliknya itu sama persis dengan seragam sekolah yang dikenakan oleh namja dihadapannya itu. Mengingat ia mungkin saja tersesat. Karena Jungkook, adik sepupunya yang kurang ajar itu dengan tega meninggalkan dirinya di tengah jalan seperti ini. Maka, Jeon Wonwoo telah memutuskan bahwa namja jangkung dihadapannya itu, bisa dimanfaatkan olehnya sebagai penunjuk jalan menuju ke sekolah. "Sebagai permintaan maafku, aku akan menemanimu berangkat ke sekolah" Ucap Wonwoo sambil tersenyum manis.

"APA KATAMU?!"

.

.

.

"Telat lagi!" Ucap seorang namja manis yang kini tengah berdiri di depan pagar rumah miliknya itu. Ia melipat kedua tangannya di depan dada.

"V hyung, maafkan aku!" Ucap Jungkook sambil menggaruk surai hitam miliknya itu.

"Kau bangun kesiangan lagi?" Tanyanya lagi sambil menatap Jungkook kesal. Sungguh, ia kesal. Karena ini sudah yang kesekian kalinya, Jungkook datang terlambat. Sebenarnya, ia tak terlalu masalah jika kekasih tampannya ini terlambat menjemputnya. Hanya saja, yang menjadi masalah besar adalah jika Jungkook terlambat datang ke rumahnya. Maka, kemungkinan besar mereka berdua juga bisa terlambat datang ke sekolah. Dan Taehyung tidak ingin hal itu terjadi.

"Tidak. Ini semua karena Wonwoo hyung"

Namja bernama lengkap Kim Taehyung itu hanya mengerjapkan kedua matanya bingung. "Wonwoo?"

Jungkook menganggukan kepalanya. "Iya. Kakak sepupu yang kuceritakan padamu, hyung. Dia yang membuatku telat seperti ini" Ucapnya sambil mempoutkan bibirnya kesal.

"Memangnya apa yang dia lakukan sampai kau telat seperti ini?" Ucap Taehyung sambil menutup pagar rumah miliknya.

"Dia ingin berangkat sekolah bersama kita"

"Lalu dimana dia?" Ucap Taehyung. Kedua matanya menatap ke sekitarnya. Ia sedang mencari keberadaan sesosok namja yang ia ketahui bernama Jeon Wonwoo itu.

"Dia sudah berangkat sekolah sendiri" Sahut Jungkook dengan santainya.

"Memangnya dia tahu jalan ke sekolah?" Tanya Taehyung. Kini kedua namja berbeda usia itu pun mulai melangkahkan kakinya menuju ke sekolah.

Jungkook menggedikan kedua bahunya. Sejujurnya saja, ia ragu bahwa kakak sepupunya itu akan menemukan jalan menuju ke sekolah barunya. Terlebih lagi, tadi ia belum memberitahu Wonwoo jalan menuju ke sekolahnya itu. "Entahlah. Sebenarnya aku juga tidak yakin"

Taehyung menatap Jungkook dengan tatapan menyelidik. "Kalau begitu kenapa kau tidak mengajaknya bersama kita?"

Jungkook menggeleng pelan. Lalu merangkul Taehyung yang berjalan di sebelahnya itu. "Tidak! Nanti dia akan menganggu kita. Dia itu sangatlah menyebalkan hyung!"

"Benarkah seperti itu?"

Jungkook menganggukan kepalanya. "Iya. Dia itu manja. Sama sepertimu, hyung" Ucapnya sambil mengacak pelan surai milik Taehyung.

"APA?!" Teriak Taehyung sambil menjauhkan dirinya dari Jungkook.

Jungkook terkejut ketika Taehyung berteriak kesal padanya seperti itu. Apa ia salah berbicara? Mengapa Taehyung terlihat begitu kesal padanya? "Maksudku—"

.

.

.

Jeon Wonwoo dan Kim Mingyu.

Sesuai kesepakatan, kedua namja berbeda tingkatan itu kini berjalan menuju ke sekolah bersama. Ah tidak! Lebih tepatnya, setelah Wonwoo memaksa Mingyu untuk berangkat ke sekolah bersama dengannya. Yang sebenarnya, Wonwoo sendiri melakukan semua itu karena terpaksa. Jika saja Jungkook tidak sekejam itu pada dirinya. Mungkin ia tak akan berakhir seperti ini. Berjalan berdampingan bersama dengan seorang namja yang menurutnya sangat menyebalkan itu. Sepertinya setelah ini Wonwoo benar-benar akan menghajar adik sepupunya itu.

"Mau sampai kapan kau akan terus mengikutiku?" Tanya Mingyu.

"Sampai kita tiba di sekolah"

Mingyu menghentikan langkah kakinya yang kemudian di ikuti oleh Wonwoo. "Pergilah! Aku tidak mau berangkat sekolah bersamamu!"Usir Mingyu.

Namun, bukan Wonwoo namanya. Jika ia, mau menuruti keinginan namja itu begitu saja. "Sudahlah terima saja! Lagi pula ini kan sebagai permintaan maafku!" Sahut Wonwoo sambil merangkul sok akrab pada namja itu. Kalau boleh jujur, Wonwoo sendiri merasa geli telah bertingkah laku seperti itu. Tapi mau bagaimana lagi? Mingyu berdecak kesal, lalu mendorong namja di sebelahnya itu pelan. Kemudian, keduanya kembali melanjutkan perjalanan yang sempat terhenti itu.

Setelah berjalan cukup lama. Langkah kaki keduanya pun terhenti tepat di depan sebuah rumah yang tampak sederhana itu. Wonwoo pun memperhatikan lingkungan sekitarnya. Ia kembali mengernyit bingung. "Apakah ini sekolah?" Tanya Wonwoo dengan polosnya.

Sebenarnya pertanyaan namja manis itu terdengar cukup aneh. Hanya saja, Mingyu tidak terlalu menanggapinya. "Kelihatannya?"

"Rumah" Sahut Wonwoo.

"Kalau sudah tahu, kenapa masih bertanya?"

"Apa ini rumahmu?" Tanya Wonwoo bingung. Lalu menatap Mingyu yang berdiri di hadapannya.

Mingyu menggelengkan kepalanya. "Mustahil! Kalau ini memang rumahku, mungkin aku sudah masuk ke dalam sejak tadi" Sahut Mingyu kesal, lalu berjalan memasuki halaman rumah sederhana itu. Wonwoo tampak berpikir keras. Sedetik yang lalu, namja itu bilang ini bukan rumahnya? Tapi sekarang, ia justru melesat masuk melewati pagar rumah ini. Dasar aneh!

Sepertinya tanpa butuh waktu yang cukup lama, berbagai pertanyaan yang sedang berputar di kepala Wonwoo itu pun terjawab. Sesosok namja tampan, baru saja muncul dari dalam rumah itu. Wonwoo yakin sekali bahwa sesosok namja tampan itu adalah pemilik rumah ini. Mengingat, namja jangkung menyebalkan yang berstatus sebagai penunjuk arahnya menuju ke sekolah itu tidak mengakui bahwa rumah ini adalah miliknya.

"Siapa dia?" Bisik namja tampan itu pada Mingyu yang berjalan mendekatinya.

"Orang gila yang kutemukan di jalan" Sahutnya santai.

Namja itu menggeleng pelan. Lalu menatap tidak percaya pada namja manis yang masih berdiri di depan pagar rumahnya itu. "Tidak mungkin"

"Annyeong!" Sapa Wonwoo sambil tersenyum ramah. Ia tidak tahu saja, apa yang sedang dibicarakan oleh Mingyu tentang dirinya.

"Mingyu-ya, kau pasti berbohong! Dia itu manis sekali" Pujinya. Yang tentu saja tidak akan terdengar oleh Wonwoo.

"Cih! Manis apanya? Kau ini sedang mengigau ya, Seokmin-ah?" Sahut Mingyu sambil meninju pelan bahu sahabatnya itu. "Sudahlah! Ayo kita berangkat!" Ucap Mingyu sambil berjalan mendekati Wonwoo yang masih setia berdiri di depan pagar rumah Seokmin.

"Yak! Tunggu aku!"

Suasana hening telah menyelimuti perjalanan Mingyu, Wonwoo dan juga Seokmin. Namun, hal itu tidak dapat bertahan lama setelah terdengar sebuah pertanyaan bodoh yang dilontarkan oleh Seokmin. "Jadi, kau itu siapanya Mingyu?" Tanya Seokmin pada Wonwoo yang berjalan di sebelah kirinya.

Wonwoo mengernyit bingung. Siapa yang sebenarnya sedang dibicarakan oleh namja ini? Wonwoo tidak tahu. "Mingyu?" Tanyanya yang langsung di balas sebuah anggukan oleh Seokmin.

"Itu namaku!" Sahut Mingyu.

Wonwoo menganggukan kepalanya mengerti. Jadi, nama namja menyebalkan itu adalah Mingyu. "Oh... Aku—"

"Sudah kukatakan, dia itu orang gila yang kutemukan di jalanan!" Sahut Mingyu dengan tidak sopannya. Membuat emosi Wonwoo yang telah mereda, kini kembali memuncak.

"APA KATAMU?!"

.

.

.

"V hyung tunggu!" Jungkook berusaha mengejar hyung manisnya yang kini berjalan mendahuluinya. Taehyung sedang kesal pada Jungkook. Itu terbukti, karena namja manis itu berjalan dengan sangat cepat. Ia sedang berusaha untuk meninggalkan Jungkook yang kini berusaha mengejarnya.

"Berangkat sendiri sana! Kau bilang aku menyebalkan" Ucap Taehyung kesal sambil mempoutkan bibirnya lucu.

"Kapan aku berkata seperti itu, hyung?" Tanyanya bingung.

Taehyung menghentikan kedua langkah kakinya. Membiarkan Jungkook berdiri tepat di sebelahnya. Kasihan juga kan, kalau namja tampan itu terus-terusan mengejarnya. "Tadi" Sahutnya. Lalu keduanya kembali melanjutkan perjalanannya menuju ke sekolah.

"Aku tidak bilang hyung menyebalkan. Aku kan hanya bilang Wonwoo hyung itu manja. Sama sepertimu" Ucap Jungkook sambil terkekeh.

"Sama saja!"

"Ayolah! Hyung jangan marah seperti itu! Jika terus seperti itu, kau hanya akan membuat dirimu terlihat semakin manis, hyung!" Ucap Jungkook sambil tersenyum. Kemudian ia merangkul namja manis di sebelahnya itu. Ia tahu, kekasihnya itu tidak akan bisa marah padanya dalam jangka waktu yang cukup lama. Ya, ia tahu itu tidak akan terjadi. Kecuali, jika Jungkook merusak koleksi komik Jepang miliknya!

Sungguh, sebetulnya hampir setiap saat Taehyung selalu kesal pada namja muda bermarga Jeon itu. Karena namja itu, selalu bisa membuat dirinya tersenyum dan tersipu malu. Seperti saat ini, tanpa disadari oleh Jungkook. Kedua pipi Taehyung telah merona. 'Sialan kau, Jeon Jungkook!' Batinnya.

.

.

.

Setelah melakukan perjalanan yang lumayan memakan waktu dan juga memakan banyak energi. Karena sejak tadi, selama di perjalanan dari rumah Seokmin sampai tiba di sekolah. Kim Mingyu dan Jeon Wonwoo terus saja berdebat hal yang tidak penting. Hal itu tentu saja, membuat Lee Seokmin yang berjalan di antara mereka berdua harus menutup rapat-rapat indera pendengaran miliknya itu. Karena ia tentu tidak ingin, indera pendengarannya rusak karena terus menerus mendengarkan perdebatan dua namja itu. Perlu kalian ketahui, sebenarnya Seokmin tidak akan mau berjalan di antara Mingyu dan Wonwoo, jika saja keduanya tidak memaksanya untuk melakukan hal itu. "Kita sudah sampai" Ucap Seokmin.

Wonwoo memandang sekitarnya. Sebuah gedung sekolah yang lumayan besar. Terdapat beberapa siswa dan siswi yang mulai berdatangan. Tapi, meskipun begitu tentu saja Wonwoo tidak mengenali mereka. Di sekolah yang lumayan besar ini, Wonwoo hanya mengenal tiga orang namja. Pertama, Jeon Jungkook, adik sepupunya yang kejam dan berani meninggalkan dirinya di tengah jalan. Kedua, Kim Mingyu, namja jangkung menyebalkan yang berstatus sebagai penunjuk arah ke sekolahnya itu. Dan ketiga, ada Lee Seokmin, yang Wonwoo ketahui adalah teman sekelas Mingyu yang terpaksa menjadi korban sekaligus pendengar setia perang mulut antara dirinya dengan Mingyu. "Bisakah kau—"

"Sekarang kau harus berhenti mengikutiku!" Ucap Mingyu menyela ucapan Wonwoo. "Ayo, Seokmin-ah! Kita pergi ke kelas!" Mingyu merangkul Seokmin.

"Kami duluan ya!" Sahut Seokmin pada Wonwoo yang masih terdiam mematung. Keduanya pun mulai berjalan menuju ke kelasnya.

"Bahkan aku belum sempat bertanya dimana letak ruang guru!" Ucap Wonwoo kesal. Rasanya ingin sekali, Wonwoo menimpuk Mingyu dengan sepatu yang ia kenakan itu. Tapi tidak! Wonwoo tidak mau. Karena sepatunya itu terlalu mahal untuk melakukan hal tidak penting seperti itu.

Di saat Wonwoo tengah bertarung pada pemikirannya sendiri. Tiba-tiba saja, ada tendangan sebuah bola yang berasal dari arah lapangan. Tanpa bisa dihindari lagi, bola berwarna hitam putih itu pun mendarat mulus atau lebih tepatnya menimpuk kepala Wonwoo dengan sangat keras. Membuat Wonwoo langsung merasa pusing seketika, namun tentu saja tidak sampai membuatnya kehilangan kasadaran, apalagi kehilangan ingatannya. Tidak, tidak akan! Wonwoo tidak akan pingsan hanya karena tendangan bola seperti itu. Karena sangat memalukan jika hal itu benar-benar terjadi. "Arghhh—" Pekiknya. 'Apa lagi ini? Apakah ini balasan atas kaleng soda yang ku tendang tadi pagi? Apakah bocah bernama Mingyu itu pelakunya?' Batinnya. Entah kenapa pagi ini terasa begitu menyebalkan. Jeon Jungkook yang meninggalkannya. Mingyu yang keras kepala sekaligus menyebalkan. Dan sekarang bola yang mengenai kepalanya, hingga terasa pusing sekali seperti ini. 'Sial sekali pagi ini!' Pikirnya. Tapi bagaimanapun juga, seharusnya Wonwoo bersyukur dan berterima kasih. Karena jika bukan karena bertemu dengan Mingyu, ia tidak yakin akan bisa tiba di sekolah ini dengan tepat waktu. Jadi sebenarnya, ini adalah keberuntungan miliknya atau mungkin sebaliknya?

.

.

.

TBC

.

.

.

Menurutku, Wonwoo itu termasuk member yang cukup tinggi. Tapi tetep aja, kalo aku liat masih tinggian Mingyu dari pada si Wonu. Mingyu itu kayak Chanyeol, yang dari dulu sering disebut sebagai tiang listrik di banyak FF. Sedangkan di BTS, aku rasa semua member tingginya hampir sama rata. Kecuali, aku tau siapa yang paling pendek #lirikJiminSuga. Kkkk~ Tenang, tenang! Aku ga bermaksud mengejek mereka kok. Lagian Suga, PCY sama Wonwoo itu ultimate biasku. Haha :D

Oh iya, untuk next chapter bakalan ada satu couple lain yang muncul. Dan aku mau nanya sama kalian. Kalau ada seorang namja yang agak kalem, ramah, baik hati, rajin menabung dan tidak sombong #plak. Maksudku, di chapter depan Wonwoo kan pasti punya temen baru, nah kira-kira namja yang cocok (agak kalem dan super baik) jadi temennya Wonu siapa? Pilih ya! Satu aja tapi! :D

- Hong Jisoo.

- Wen Junhui.

- Park Jimin.

Sebenernya aku udah dapet cast yang cocok, tapi aku mau tau siapa yang paling kalian suka untuk peran itu! Jadi pilih satu ya! Sampai jumpa di chapter berikutnya! :D