Title: You are My Happiness

Author: Arisa Arizawa

Main Cast: HunHan

Genre: Angst, Romance, Hurt/Comfort

Rated: T-M

Warning!

GS, Typo(s), OOC, Crack Pair, Not-So-Sad-_-"

Don't Like? Read First:3

Flame for my story? Allowed. Flame for the cast? Please don't:)

oOo

Luhan's POV

"Luhan. Bagaimana kuliahmu tadi?" tanya Mama. Saat ini aku, Mama dan Kyungsoo sedang makan malam. Aku mengangguk sebagai jawaban.

"Ya! Menyenangkan sekali! Aku mendapatkan teman. Namanya Minseok. Dia baik sekali mau mengantarku mengenali gedung fakultasku."

Mama tersenyum.

"Syukurlah jika kau suka universitas baru-mu." Mama memalingkan wajahnya ke arah Kyungsoo. "Kyungsoo, bagaimana denganmu?"

"Kyungsoo juga seneng kok! Cuma, sepi aja, nggak ada Jongin," balas Kyungsoo sambil memakan makanannya.

"Tenang saja. Jongin pasti akan main kemari. Kamu sudah memberikan alamatmu pada Jongin, kan?" tanya Mama. Kyungsoo mengangguk.

Lalu kami melanjutkan makan dalam keadaan hening.

"Mama, kenapa kita harus pindah?"

Mamaku dan aku terdiam mendengar pertanyaan polos Kyungsoo. Pertanyaan yang sama seperti yang ia tanyakan kemarin padaku.

"Umm… kita pindah–"

"Kyungsoo, kau sudah selesai makan, kan? Lebih baik kamu cuci tangan dan kerjakan pr, ya? Nanti akan aku bantu mengerjakan pr."

Aku mencoba menengahi. Kyungsoo terlalu kecil untuk mengerti permasalahan yang sebenarnya dalam keluarga kami. Untung saja Kyungsoo mengangguk. Ia turun dari kursi meja makan lalu membawa piringnya ke wastafel dan mencuci tangannya.

Aku memperhatikannya hingga ia masuk ke kamarnya. Lalu aku dapat melihat Mama meremas tangannya sendiri.

"Ini salahku…" gumam Mama. Aku mengambil salah satu tangan Mama dari pangkuannya.

"Ini bukan salah siapa-siapa, Ma," ujarku sambil berusaha menenangkannya. Ia menggeleng.

"Mama bukan orang yang baik untuk Papa-mu. Mama terlalu mengandalkan Papa-mu hingga membuatnya terlalu bekerja keras demi keluarga kita." Mama mulai menangis sesenggukan. Aku mengusap punggungnya.

"Papa sangat sayang Mama. Papa sangat sayang aku dan Kyungsoo. Papa akan melakukan hal yang sama baik Mama meminta ataupun tidak karena Papa sangat menyayangi keluarganya."

Aku memeluk Mama sambil menahan tangisanku sendiri.

Dapat aku lihat, Kyungsoo mengintip dari celah pintu kamarnya. Aku tersenyum melihat ia mengerti dengan keadaan kami berdua. Ia pun masuk ke kamarnya lagi dan mengunci pintunya.

Luhan's POV End

Yang Luhan tidak sadari, setelah Kyungsoo menutup dan mengunci pintu kamarnya, Kyungsoo menangis di balik pintu tersebut.

oOo

"Baekhyun!"

"Hm?"

"Ya! Byun Baekhyun tatap aku!"

Baekhyun melirik sebal pada kakak perempuannya itu.

"Aku sudah menatapmu, Byun Taeyeon!" balas Baekhyun tak kalah keras. Ia menutup majalah yang sedang ia baca.

"Apa benar Sehun akan menggunakan Luhan sebagai modelnya?" tanya Taeyeon pada adiknya yang kurang ajar itu. Ia menduduki single sofa sambil memeluk bantal sofa. Ia menatap adiknya yang duduk berselonjor di sofa panjang.

"Mungkin," balas Baekhyun sambil membuka majalahnya lagi. Taeyeon mendecak lalu melemparkan bantal sofa yang ada di tangannya. Baekhyun mengaduh. "Aku harap kau punya alasan untuk ini!"

"Apa Sehun gila?! Astaga Luhan itu mahasiswi baru!" pekik Taeyeon. Baekhyun mendesah pelan.

"Dengar, yang punya proyek bukanlah aku, tapi Sehun. Kalau kau ingin protes, sampaikan pada Sehun langsung. Jangan padaku!"

Taeyeon memutarkan bola matanya.

"Argh! Aku hanya khawatir, oke? Sepanjang pengetahuanku, tema fotografi milik Sehun itu tidak jauh dari kata erotis. Luhan itu masih polos, kau mengerti?" jelas Taeyeon.

"Ya, mungkin sebentar lagi Luhan juga akan polos di atas ranjang Sehun," ujar Baekhyun sambil membaca majalah di tangannya lagi dan menyeringai. Tiba-tiba saja kotak tisu melayang ke arahnya yang untung saja sempat ia hindari.

"Dasar gila!" pekik Taeyeon sambil pergi meninggalkan adiknya.

oOo

"Sehun," panggil Junmyeon. Ia mengetuk pintu kamar adiknya itu.

"Ya! Oh Sehun!" teriak Junmyeon. Ia mulai menggedor pintu kamar Sehun hingga suara erangan terdengar dari dalam.

"Berisik!" balas Sehun dari dalam kamarnya. Ia masih bergulung di dalam selimutnya.

"Yasudah. Padahal Daddy ingin membagi harta warisan," balas Junmyeon asal. Setelah selesai ia berbicara, dari dalam kamar Sehun terdengar suara berisik.

Sehun membuka kunci pintu kamarnya dengan kasar. Dengan cepat, ia membuka pintu tersebut.

"Ia akan mati?" tanya Sehun dengan wajah kaget. Junmyeon menahan tawanya.

"Tentu saja tidak, bodoh. Ia ingin bicara dengan kita berdua," balas Junmyeon sambil menahan tawanya melihat wajah kaget adiknya itu. Ia pergi menuruni tangga terlebih dahulu dari Sehun.

Sehun menatap datar punggung kakaknya.

oOo

"Ada yang aku ingin bicarakan dengan kalian," ujar Kris, Daddy mereka berdua. "Tapi tunggu Mommy dulu."

"Dad! Kelamaan, aku masih mau tidur," erang Sehun sambil bersandar ke tangan sofa dan menselonjorkan kakinya ke arah Junmyeon. Iseng.

"Oh Sehun! Turunkan kakimu dari pahaku!"

"Tidak mau!"

"Sehun!"

Junmyeon terus mendorong kaki Sehun. Sedangkan Sehun berusaha mengukuhkan kakinya di paha Junmyeon.

"Ya! Berhenti kalian berdua!"

Teriakan tersebut membuat mereka berdua terdiam.

"Mommy!"

Sehun berseru dan berlari memeluk ibunya.

"Kalian ini! Sudah dewasa tetap saja kekanakan!" lalu ia mengalihkan pandangannya pada sang suami. "Kau juga! Bukannya melerai malah baca koran!"

"Lalu aku harus apa, Sica? Kau tahu sendiri dari dulu aku tidak bisa memisahkan mereka saat mereka bertengkar," balas Kris dengan tenang. Lalu Jessica menghampiri suaminya tersebut setelah melepas gelayutan Sehun.

"Setidaknya kau harus berusaha." Sica mengecup pipi sang suami lalu duduk di lengan sofa yang diduduki Kris. "Jadi, ada apa sehingga aku dipaksa pulang dari New York, hm?"

"Well." Kris memulai pembicaraan mereka. "Ada yang aku ingin bicarakan dengan kalian."

"Dad…" panggil Junmyeon dengan jengah. Bosan dengan perkataan Daddy-nya yang berulang.

"Oke. Kalian tahu jika perusahaanku ingin melakukan ekspansi?" Seluruh anggota keluarganya menganggukkan kepala mereka. "Perusahaanku sudah bekerja sama dengan beberapa perusahaan internasional lain kecuali perusahaan Jung."

"Ow… aku mengerti," sela Junmyeon. Ia menaikkan alisnya lalu memalingkan wajahnya dengan tidak tertarik. Sehun mengerutkan kening.

"Ow... aku tidak mengerti," kata Sehun menjiplak perkataan Junmyeon. Ia kembali memperhatikan Kris.

"Ya, kau mengerti, kan?" kata Kris. Junmyeon mengangguk.

"Siapa yang dipilih?" tanya Junmyeon.

"Oke, bisa jelaskan apa yang terjadi di sini?" tanya Jessica yang sama tidak mengertinya seperti Sehun.

"Aku ingin menjodohkan salah satu dari kalian."

"What?!"

Itu Sehun yang berteriak.

"Santai saja. Aku juga pernah seperti ini. Tapi gagal," kata Junmyeon. Sementara itu, Jessica menjewer telinga Kris.

"Ya! Kau tidak pernah belajar dari pengalaman, eoh?! Ini semua tidak akan berhasil!"

"Aduh! Mengapa kau menjewerku?!" teriak Kris kesakitan. Jessica pun melepas jewerannya.

"Karena kau tidak pernah bisa belajar dan keras kepala!" balas Jessica. Kris memutar bola matanya.

"Kali ini, aku yakin akan berhasil! Sehun tidak akan menolak–"

"Aku?! Daddy sudah gila?! Aku masih terlalu muda untuk menikah," rengek Sehun. Ia mengalihkan pandangannya pada sang Mommy, meminta pembelaan.

"Benar! Sehun masih 21 tahun! Saat kau menjodohkan Junmyeon, aku tidak keberatan karena ia sudah bekerja!" omel Jessica. Ia benar-benar tidak mengerti jalan pemikiran pengusaha seperti suaminya itu yang mengorbankan anaknya sendiri demi perusahaannya.

"Kalian ini! Aku ini sudah memikirkannya matang-matang. Aku yakin, gadis ini cocok untuk Sehun. Ia cantik dan pintar," jelas Kris. Ia memijat keningnya mendengar penolakkan oleh keluarganya.

"Tetap saja aku belum mau menikah!" Sehun kembali merengek.

"Sehun, bisakah kau berhenti merengek?" tanya Junmyeon dengan jengah. Ia bosan mendengar rengekan adiknya dan omelan Mommy-nya.

"Tidak bisa! Masa depanku terancam! Aku ini manusia bebas! Daddy telah melanggar hak asasi-ku! Aku bisa mhh!"

Junmyeon menutup bibir adiknya dengan telapak tangannya. Kris mengisyaratkan padanya untuk membawa adiknya yang manja itu ke kamarnya yang disanggupi oleh Junmyeon. Setelah kedua kakak beradik itu pergi, ia menyuruh sang istri duduk di sofa tempat kedua anaknya barusan duduk.

"Aku perlu bicara denganmu, Sica."

oOo

"Kau mau makan apa? Biar aku yang pesan," tawar Minseok pada Luhan yang ditanggapi dengan gelengan.

"Aku sudah bawa bekal," balas Luhan. Ia mengangkat kotak bekalnya. Minseok mengangguk.

"Oke, kalau begitu, aku pesan makanan dulu, ya," ujar Minseok. Ia berlalu meninggalkan Luhan sendiri di salah satu meja kantin. Luhan sendiri mulai membuka kotak bekalnya lalu memejamkan mata untuk berdoa.

Saat ia membuka mata–

"Hai!"

Luhan hampir melompat dari kursinya saat ia dikagetkan oleh Sehun yang telah duduk dihadapannya.

"Ha- hai," balas Luhan dengan gugup. Ia berkali-kali menelan salivanya.

"Aku boleh gabung, kan?" tanya Sehun sambil melirik ke nampan makanannya. Luhan menjadi sangat grogi. Ia mengangguk pelan. "Yes!"

"Ya! Oh Sehun apa yang kau lakukan di sini?!"

Sehun melihat ke arah belakangnya yang ternyata sudah ada Minseok.

"Aku ikut makan di sini, ya, noona~" rayu Sehun pada Minseok yang dibalas dengan tatapan datar Minseok.

"Lalu aku duduk di mana, Sehunnie~" balas Minseok dengan nada sarkasme. "Kau lihatkan meja ini hanya ada dua kursi~"

Sehun nampak berpikir sambil menatap sekeliling hingga ia melihat seorang laki-laki sedang duduk sendiri di pojokkan.

"Ah! Noona, ikut aku!"

Sehun menyeret lengan Minseok diiringi dengan tatapan bingung dari Luhan dan pekikan dari Minseok sendiri. Dari jauh, Luhan bisa melihat Sehun seperti mengenalkan Minseok pada seorang laki-laki berkulit putih yang sedang duduk sendiri. Setelah beberapa lama, Minseok pun pasrah dan duduk dengan lelaki tersebut.

"Masalah beres! Kita bisa berduaan sekarang!" Luhan merasakan pipinya memanas setelah mendengar perkataan Sehun.

"Umm… Sehun, sebenarnya, apa yang kamu lakukan pada Minseok?" tanya Luhan mengalihkan pembicaraan yang membuatnya gugup.

"Oh, aku hanya memperkenalkannya pada Lay hyung. Dia itu dancer terbaik dari fakultas kami. Dan yang kudengar, ia memiliki perasaan suka pada Minseok noona. Tidak salah, kan, jika aku menjodohkan mereka?" jelas Sehun sambil memulai acara makannya. Tiba-tiba, Luhan memegang lengannya, menahan laju makanan ke mulutnya.

Sehun menatapnya dengan pandangan bertanya. Luhan, dengan gelagapan, melepas pegangannya.

"Itu… kau belum berdoa," bisik Luhan. Ia menyelipkan rambutnya di belakang telinganya, tanda ia gugup. Sehun tertawa.

"Astaga, aku hampir lupa! Terima kasih, Luhan!" Sehun memejamkan kedua matanya dan menangkupkan kedua tangannya di depan dadanya. Luhan diam-diam memperhatikan Sehun yang tengah memejamkan matanya. Ia merasakan waktu menjadi lebih lambat.

"…Han? Luluhaann~~"

Luhan tersentak mendengar namanya dipanggil oleh Sehun dengan nada. Pipinya memerah kembali setelah ia sadar jika ia telah ketahuan memperhatikan Sehun oleh Sehun sendiri. Sehun pun tertawa.

"Jangan terlalu terpesona olehku, Luhan," kata Sehun sambil menyuapkan makanannya ke mulutnya sendiri. "Makanlah. Nanti makananmu dingin."

Luhan mengangguk dan mulai memakan makanannya. Mereka pun makan dengan hening.

"Oh iya, Luhan, jam berapa kau selesai kuliah?" tanya Sehun membuka pembicaraan di antara mereka berdua. Jujur saja ia tidak nyaman dengan keadaan mereka yang saling mendiami satu sama lain.

'Seperti kekasih yang sedang bertengkar,' pikir Sehun.

"Umm… jam 2. Memang kenapa?" tanya Luhan balik.

"Tidak apa. Aku ingin mengantarmu pulang. Boleh?"

"Eh?"

Sehun mengangguk saat melihat wajah ragu Luhan.

"A- aku tidak langsung pulang," jelas Luhan. Ia meremas sendok makannya pelan.

"Ya, aku akan mengantarmu kalau begitu," kata Sehun. "Memangnya, kau mau kemana? Aku pasti akan mengantarmu."

Luhan terdiam.

'Tidak… Sehun tidak boleh tahu mengenai keluargaku,' pikir Luhan. Ia menggigit bibirnya.

"Umm… aku part-time job di mini market dekat rumahku," balas Luhan. Ia merasa bersalah karena telah berbohong pada Sehun. Ia melanjutkan makannya untuk mengalihkan pandangannya dari Sehun.

"Oh, memangnya kau butuh uang?" tanya Sehun. Ia terlihat antusias. "Jika iya, aku punya pekerjaan untukmu!"

Luhan menatap Sehun yang terlihat bersungguh-sungguh dan bersemangat. Ia nampak berpikir lagi.

"Memangnya pekerjaan apa?"

"Menjadi modelku!"

oOo

"Bagaimana 'kencan'mu dengan Oh Sehun, Luhan?" tanya Minseok saat mereka berada di kelas. Luhan tersenyum.

"Kami tidak kencan. Hanya makan siang, Minseok," balas Luhan. Ia mengeluarkan modul dan stabilo miliknya. "Bagaimana dengan dirimu dan Lay oppa?" Minseok memutar bola matanya.

"Oh Sehun benar-benar sialan! Ia mencoba untuk mendekatkan aku dengan Lay! Ugh, big no! Dia sama playboy-nya dengan Sehun. Hanya saja ia pintar menutupinya," ujar Minseok dengan bersungut-sungut.

"Sehun playboy?" tanya Luhan lagi. Minseok menatap Luhan.

"Ah, benar, aku belum cerita." Minseok menghadapkan seluruh tubuhnya pada Luhan. "Begini, Sehun itu punya kelompoknya sendiri. Mereka itu adalah Chanyeol, Baekhyun dan Sehun sendiri. Mereka bertiga adalah, well, player. Tapi, yang paling player yang kutahu itu Chanyeol karena dia bisex. Semua pasti dia embat."

Luhan mengangguk.

"Lalu, Sehun?"

"Nah, kalau Sehun, aku tidak tahu dia itu bagaimana aslinya karena ia selalu menampakkan sifat kekanakan. Tapi, yang kudengar, setiap perempuan yang ia jadikan modelnya pasti akan dijadikannya seperti perempuan murahan." Minseok mengeluarkan cermin dari tasnya dan bercermin sebentar. "Ya, kau tahu, berpakaian mini bahkan telanjang, lalu ia foto dan ia masukkan ke pameran tahunan. Bahkan kadang ia menyewa lelaki hidung belang untuk difoto bersama modelnya."

Punggung Luhan meneggang.

"Benarkah? Semua modelnya akan seperti itu?" Minseok mengangguk. Ia mengeluarkan maskaranya dari dalam tas make-up miliknya.

"Yang kutahu, sih, begitu. Dan akhirnya, kebanyakan para modelnya itu akhirnya terjun ke dunia prostitusi. Dia benar-benar jahat. Untung aku selalu menolak jika ia memintaku menjadi modelnya." Minseok memakai maskaranya.

"Kau sudah pernah ditawarinya?" tanya Luhan lagi. Ia masih tidak percaya dengan cerita Minseok.

"Ya, begitulah. Sepertinya sudah 3 kali. Tapi ia tidak menawariku lagi semenjak aku menjadi kekasih tangan kanan ayahnya beberapa bulan lalu hingga aku putus sekarang," jelas Minseok sambil mengambil 'senjata' wanitanya yang lain, lipbalm.

Mereka pun hening sesaat.

"Tunggu!"

Luhan terlonjak dari keterdiamannya.

"Jangan bilang kau ditawari oleh Sehun untuk menjadi modelnya!" pekik Minseok tertahan. Luhan mengatupkan bibirnya rapat-rapat.

'Bagaimana ini? Jika kau bilang, Minseok pasti melarangku. Tapi aku tidak percaya dengan ceritanya. Lagipula, aku tidak ingin mengecewakan Sehun dengan membatalkan kontrak dengannya," batin Luhan galau.

"Luhan! Demi Tuhan, kau ditawari menjadi modelnya?"

Luhan menatap Minseok lalu tertawa terpaksa.

"Tidak. Tentu saja tidak."

oOo

Reply for Review "You are My Happiness [Chap 1]"

Selenia Oh : Ya, ini event baru hehe~ iya nih harus GS dan Angst hehe~ udah lanjut ya~

Juna Oh : yaduuhhh Risa mah apa atuh cuma ikutin rules-nya'^' makasih ya udah suka(?) wkwk~ bias jadi sih chanbaek jadi gay di sini hehe~ tapi gak tau juga~ tungguin aja, oke? Oiya, BaekYeon bukan pacaran di sini. Tapi kakak-adik hehe~

Kitty Miu : pastinya harus aneane dan enaena(?) wakakakakak

Light-B : tau aja xD

Hiuhiu : ID nya? HunHan Indonesia

rikha-chan : yap, ini GA hehe~ ya gak tau lah~ author author yang ikutan, kan, cuma mematuhi rules~

candelyrufela28 : hmm… bias jadi~ masih dipertimbangkan~

Risa's Cuap-Cuap:

HAI HAI EPRIBADEH~ RISA'S BACK BACK BACK BACK(?) *dilempar swallow*

Huft, ff angst ini akan terus berlanjut saudara saudara'-')9 dan sekarang ditambah dengan yang yaoi! Sedang otw! Beuh gewla gak mungkin dilewatin lah GA nya HunHan Indonesia kali ini aaaaaaa!

Oiya, Risa gak nyangka iihhh banyak yang suka:3 semoga nanti pada sedih juga ya:3 semoga banjir air mata gegara ff Risa ini, amin(?) wkwk~ tapi jangan sampe Risa yang nangis xD kan gak lucu ngetik sambal nangis xD

Oke, nih Risa mau jelasin sesuatu yang sedikit mengganggu… mungkin ada beberapa yang salah paham tentang hubungan BaekYeon di sini. Mereka kakak-adik, gaes'-' jangan berharap Risa ngebuat straight kecuali untuk beberapa kapel xD (kayak Taotoria, TaoJia, ChangToria atau Krisica) hehe~ mianhae~

Last, review and flame are needed. Thank you^^

Thanks to

NoonaLu / LisnaOhLu120 / DEERHUN794 / KyuMinElfcloud / ruixi1 / Seravin509 / Selenia Oh / Lisasa Luhan / Juna Oh / Arifahohse / Kitty Miu / Light-B / hiuhiu / rikha-chan / sehundick / candelyrufela28 / Misslah