CHANGMIN'S PARENTS
Saat ini, secara ajaib, pasangan kamuflase sudah ada di dalam mobil milik super idol dengan tinggi badan super, Shim Changmin. Changmin menyetir sambil pucat, sementara Minnie yang duduk di samping Changmin tidak menampakkan tanda-tanda ketakutan dan gugup.
Satu jam sebelumnya…
Flash back:
"Minnie! Kamu mandi dulu sana! Pakai sabun yang kita beli kemarin!" pekik Jaejoong panik. "lalu, pakai ini dan ini, dan, AH! Tunggu dulu! Pakai baju dalam yang ini!" Jaejoong menyodorkan pakaian dalam wanita yang imut bermotif polkadot warna-warni dengan renda-renda yang imut.
Semua yang melihat pakaian dalam itu terdiam kaget, sementara Minnie secepat kilat menyambar pakaian dalam itu dan memeriksa ukurannya. Dan, SUNGGUH TAK TERDUGA ukuran pakaian dalam itu sama dengan ukuran pakaian dalam yang biasa Minnie pakai.
"Beli di mana?" Tanya Minnie datar dan tenang.
"Ah! Beli di butik yang kemarin. Aku beli sebagai hadiah buat kamu." Jawab Jaejoong dengan sinar mata mengharapkan kata terimakasih.
"Tau darimana ukuran ku?"
"Waktu kita beli baju, aku kan sempat memelukmu, jadi aku tahu kira-kira ukuran cup mu, bagaimana? Kau suka?"
"Ya!" Minnie tersenyum lebar. "Aku suka banget." Minnie berjalan pelan ke arah Jaejoong. "Trims, ya" Minnie mengedipkan mata, membuat Jaejoong berdebar. "sebagai hadiahnya,.. aku kasih INI!" BAGH.. BUGH.. BUAAAGGHHHH…..!
Minnie memberikan hadiah paling indah buat seorang cowok yang sudah BERBAIK HATI membelikannya PAKAIAN DALAM, yaitu: BOGEM MENTAH
Setelah Jaejoong pingsan, Minnie –dengan amarah yang luar biasa— berjalan ke kamar mandi sambil menghentak-hentakan kakinya dan menutup pintu kamar mandi dengan dahsyat (tapi baju dalamnya tetap di bawa masuk ke kamar mandi)
End flash back~
Dan sekarang…
Mengingat kejadian satu jam sebelumnya, Changmin jadi gusar. Dia kembali menatap gadis yang sedang memandang keluar itu, dalam-dalam.
"Apa liat-liat?" kata Minnie tiba-tiba dengan nada tajam yang mengejutkan Changmin. "Kalo lagi nyetir liat ke depan!"
Tanpa bicara Changmin langsung melihat kedepan. Ia mendesah sendu. Padahal, dia hanya ingin libur dengan tenang di bulan desember ini. Natal sudah lewat, dan sebentar lagi tahun baru. Di tahun selanjutnya dia akan berusia 19 tahun, dan saat musim panas dia akan pergi ke Paris. Tapi… tapi… "libur yang tenang" dan "perjalanan INDAH ke paris" tinggi kemungkinan hanya tinggal kenangan. Dan… dan… yang paling menyedihkan… mungkin… dia akan segera dipaksa keluar dari TVXQ… ahh~ mimpi buruk.
"Hei," Minnie memanggil. "Ayahmu itu, Marganya Shim bukan?"
"Eh? Pastinya"
"Dia… guru bahasa korea bukan?"
"Eh? I, iya. Tahu darimana."
"Bawel! Aku Cuma nebak!" sergah Minnie ketus.
"Kamu masih marah karena Jaejoong melakukan pelecehan padamu ya?" sindiran Changmin menghasilkan cubitan keras dipahanya.
Setibanya dirumah Changmin, aura hitam keluar dengan dahsyat dari rumah besar itu membuat Changmin merasa takut masuk kedalam rumah.
"Rumah mu gede banget ya?" kata Minnie kagum. "Kalo dah kaya kek gini ngapain kamu malah jadi artis? Mendingan kamu ngelanjutin sekolah baik-baik daripada jadi artis gak guna." Ujar Minnie sambil memeriksa parcel buah yang mereka bawa sebagai oleh-oleh.
"B'risik! Aku cuma mau mencoba cari pekerjaan sendiri kok!"
"Ooh…" Minnie cuek.
Untuk beberapa menit, ditemani dengan hujan salju yang tiba-tiba turun perlahan, mereka berdua terdiam. Satu menit… Changmin menciba mengangkat jari telunjuknya untuk menekan bel, tapi dia menurunkan tangannya lagi.
Dua menit… setelah merasa berhasil mengumpulkan keberanian, Changmin mengulang hal yang sama, dan membatalkan hal yang sama juga.
Tiga menit…
Lima menit…
Sepululuh menit…
Dua puluh menit…
Tiga puluh menit… "anu…" Minnie mulai bicara sambil menghangatkan tangannya yang mulai membeku di balik sarung tangannya dengan nafasnya. "kapan kamu bakal mencet bel itu?"
"Uuuuuukkkh~ aku takut. Sabar sebentar lagi ya?"
"Lama amat sih! Tinggal pencet satu tombol kecil aja! Aku mati beku niiih~"
"Ha, habisss…. Aku merasa kalau mencet tombol itu, bumi akan langsung meledak…"
"Ga mungkin! Duuuhh…. Aku kedinginan niiiih~ aku aja yang pencet!"
"eh? JA…" TIIIINGG… TOOONG… dengan mantap tanpa sedikitpun keraguan, Minnie memencet bel rumah itu.
Habis sudah pikir Changmin putus asa.
"Kenapa kau seenaknya saja mencet bel rumah orang!" pekik Changmin
"Soalnya aku kedinginan…" Minnie cuek.
"Aku 'kan lagi mengumpulkan keberanian!"
"Kalo mau mengumpulkan keberanian, cukup tarik nafas dalam-dalam dan hembuskan! Habis itu langsung pencet tombolnya doonk!"
"Ah! B'risik! Aku…" Changmin berhenti.
Seorang wanita cantik paruh baya membukakan pintu untuk mereka berdua. "Silahkan masuk" katanya lembut.
"Ah, aku pulang bu." Kata Changmin gugup.
"Permisi nyonya." Kata Minnie sopan sambil menganggukkan kepalanya dengan penuh rasa hormat dan kagum pada ibunya Changmin.
Nyonya Shim tertegun sejenak mendengar sapaan sopan sekaligus malu-malu dari gadis mungil dengan mata tegas. Ia memperhatikan gadis cantik itu mulai dari ujung kaki sampai ujung rambut, kemudian dia tersenyum ramah. "selamat datang di rumah ini. Wah, wah, kamu lebih cantik daripada yang di TV kemarin ya?"
"Ah, terimakasih." Minnie tersenyum malu-malu. Sementara Changmin bergidik mendengar tutur bahasa Minnie yang tiba-tiba berubah 180 derajat.
"Changmin, gantungkan mantel milik pacarmu itu. Ayahmu menunggu di ruang keluarga."
"I, iya." Changmin menyahut gugup, wajahnya semakin lama, semakin pucat.
Sementara menunggu Changmin selesai menggantungkan mantel, Nyonya Shim bertanya pada Minnie: "kau… Nona Fitzegarld bukan?"
Minnie terkejut. "Eh? Darimana anda tahu?"
"Ohohohohoho~ Tentu saja aku tahu! Waktu melihat wajahmu diTV aku bisa langsung mengenali mu. Tapi ayahnya Changmin itu lho~" Nyonya Shim mendesah. "Dia sama sekali tidak percaya kalau itu kamu, Nona Fitzegarld, dia bilang bahwa Nona Fitzegarld bukan wanita murahan seperti wanita yang ada di TV!" Nyonya Shim menjelaskan, saat Changmin selesai menggantung mantel, kemudian Nyonya Shim kembali melanjutkan pembicaraan sambil berjalan kearah ruang keluarga. "Aku kesal sekali, Nona Fitzegarld, aku sudah mengatakan padanya bahwa itu adalah KAU, Nona Fitzegarld, tapi dia tak mau dengar. Jadi, aku biarkan dia terus salah sangka, nanti juga dia pasti akan mengenali anda saat melihat anda, Nona Fitzegarld."
Nyonya Shim sekonyong-konyong berhenti dan memegang tangan Minnie dengan penuh kasih sayang, dan tatapan penuh kerinduan. "Anda semakin cantik Nona Fitzegarld, ah, bukan, maksudku… Natasya, dulu aku memanggilmu seperti itu kan?" Minnie meangguk setuju. "Aku senang sekali kalau kau yang akan jadi menantu ku, No… –ah, salah— Natasya. Tadinya, aku mau menjodohkan anakku ini dengan mu kalau-kalau kalian tidak kunjung bertemu. Siang malam aku berdoa agar kalian bertemu, untunglah Tuhan mendengar doa ku. Jodoh memang tidak kemana ya?" Nyonya Shim menambahkan.
Mendengar pembicaraan itu, Changmin bingung. Apa maksudnya? Kenapa ibunya mengenal Minnie? Bahkan memanggil nama asli! Dan, ayahnya juga kenal pada Minnie?
Daripada pusing soal itu, di sana… dibalik pintu ruang keluarga… ada aura hitam yang sangat menakutkan, yang membuat Changmin yang memiliki tinggi badan 190 cm ini merasa kecil bak semut.
"wah, wah, suamiku ini benar-benar tidak sopan. Mau sampai kapan mengeluarkan aura menakutkan seperti ini" Nyonya Shim membuka pintu.
Di balik pintu, tampak sesosok pria dewasa yang tampan dengan wajah yang belum di setrika duduk bersimpuh menunggu seseorang.
"Suamiku, berhentilah berwajah masam! Anak sulung mu sudah susah payah datang kemari sambil bawa oleh-oleh buah. " Nyonya Shim mengambil tempat di sebelah suaminya yang berwajah masam, Tuan Shim.
"Ah, Ayah…" Changmin gugup. Dia duduk bersimpuh kemudian memberikan penghormatan. Minnie ikut duduk bersimpuh. "Aku pulang." Kata Changmin lirih.
Tuan Shim menatap tajam anak lelakinya. "Angkat wajahmu." Perintahnya tegas. Changmin mengangkat wajahnya. Kemudian menyodorkan oleh-oleh nya. "Ini sekedar oleh-oleh" katanya gugup.
"Letakkan itu di meja."
Setelah selesai meletakkan oleh-oleh, Changmin kembali duduk. Baru saja Minnie ingin memperkenalkan dirinya, tiba-tiba Tuan Shim berkata dengan nada rendah penuh dengan amarah.
"Aku mengijinkan mu jadi artis hanya untuk berprestasi!"
Changmin terdiam wajahnya pucat.
"Aku bukan mengijinkanmu jadi artis untuk main-main! Susah payah kau kubesarkan untuk mengikuti jejakku menjadi guru bahasa korea, dan akhirnya aku merelakan keinginanku itu untuk mengikuti kemauan mu menjadi artis. Awalnya kulihat kau cukup baik… nilaimu tak ada yang turun.. aku mulai mendukung keinginanmu itu.. tapi sekarang coba lihat.. apa yang kau lakukan? Hah? Kau malah main-main sama wanita pelacur yang tidak jelas asal-usulnya seperti ini!" Tuan Shim memekik. Kemudian dia menunjuk Minnie yang sudah mulai kesal.
"Coba lihat wanita yang kau jadikan pacar itu! dia hanya mengincar harta dan ketenaran mu saja! Pasti dia tak di didik dengan baik oleh orang tua-nya!" Tuan Shim terengah-engah. Lalu beliau melanjutkan, "Aku sudah salah mendidik mu Changmin. Apa boleh buat, kau tak ku ijinkan pergi ke Paris tahun depan, ah, tidak, kau HARUS berhenti jadi ARTIS mulai sekarang!"
"Tunggu dulu ayah, dengarkan aku sebentar…" Changmin berusaha menjelaskan.
"Tak ada alasan! Keputusan ku sudah bulat!"
"Bukankah sebaiknya anda mendengarkan penjelasan anak anda dulu?" Minnie memotong pembicaraan. "Bukankah mendengarkan alasan seorang anak harus didahulukan, setelah itu baru bicara? Bukankah ANDA BILANG jangan cepat percaya apa yang dikatakan orang lain? Kalau begitu, kenapa anda malah tak mau mendengarkan penjelasan anak anda terlebih dahulu? "
Changmin pucat pasi. Padahal, dia sendiri tak berani membantah ayahnya, tapi, Minnie malah menasehati ayahnya.
"Anda tidak sopan sekali terhadap saya yang merupakan tamu Tuan Shim. Anda mengejek saya di depan seluruh anggota keluarga anda tanpa mengetahui kebenarannya. Saya sangat tersinggung dengan ucapan anda yang kasar! Saya kecewa terhadap anda. Sudah lama kita tak bertemu, dan anda malah merendahkan saya. Apakah anda sudah tak mengenali saya lagi, Tuan Shim?"
Changmin kaget. Mengenali? Lho? Memangnya keluarga Changmin pernah ketemu Minnie sebelumnya? Siapa Minnie ini sebetulnya?
"Ka, kau…" Tuan Shim terkejut mendengar kata-kata Minnie. Kata-kata yang di ucapkan Minnie adalah kata-kata yang dulu pernah diajarkannya pada seorang siswi kesayangannya.
"Na… Natasya?" Tuan Shim tergagap. Minnie tersenyum penuh dengan kebanggaan.
"Anda sudah ingat? Tuan Shim?"
Changmin terkejut mendengar ayahnya memanggil nama asli Minnie dengan nada penuh hormat pada Minnie. Ibunya juga begitu. Dari sudut matanya, Changmin memperhatikan Minnie tersenyum angkuh pada ayahnya.
"Ma, maafkan kelancangan saya." Wajah ayah Changmin kembali tegas. Tapi Changmin dapat melihat bahwa ayahnya gugup.
"Tak masalah." Minnie melambaikan tangannya. "Jadi, apa kau mengijinkan kami?" Minnie mendelik ke arah Changmin. Changmin mengangkat alisnya terkejut.
"Tentu saja! Kalau Natasya yang jadi pacarnya, aku sangat setuju." Nada ramah terdengar dari suaranya.
"Bagaimana kalau kau bermalam di sini Natasya?" tanya ibu Changmin lembut.
"Ya, boleh saja. Ya, kan Changmin?" Minnie meminta persetujuan Changmin.
Changmin ragu sejenak, lalu menjawab, "Yah, terserah saja."
"Ibu, segera siapkan kamar untuk Nataysa, dan siapkanlah makanan yang paling enak. Ah, Natasya, apakah kau mau main catur dengan ku?" ujar ayah Changmin.
Mendengar itu, Changmin tiba-tiba tertikam rasa panik dan buru-buru memotong pembicaraan, "Ah, ayah, kami kan baru sampai dari perjalanan panjang, biarkanlah kami istirahat sejenak."
Tampak ketidak setujuan dari wajah ayah Changmin. Tapi, kemudian sepertinya dia menimbang-nimbang dan menjawab, "baiklah, aku juga tak ingin menyusahkan Natasya." Ayah Changmin melirik Changmin dengan ekspresi memerintah, "ajak dia ke kamarmu Changmin."
Changmin berdiri diikuti oleh Minnie yang menyunggingkan senyum angkuh bercampur hormat pada ayahnya.
Ibunya mengikuti Changmin dari belakang. Dia berbincang akrab dengan Minnie. Sampai di depan kamarnya, Changmin memutar kenop pintu kamarnya tapi pintu itu tak terbuka. "ibu, mana kuncinya?" tanya Changmin.
"nah, sebenarnya itu masalah yang ingin kubicarakan." Ibunya mendesah. "kunci kamarmu hilang. Sepertinya ditelan bulat-bulat oleh anjingmu itu, Changmin."
Changmin kaget, "lalu, bagaimana aku bisa masuk?"
Tanpa bicara, Minnie melepaskan jepit dari rambutnya dan memasukannya kedalam lubang kunci. Dia mengorek-ngorek lubang kunci itu sampai terdengar suara, klik, dan pintu terbuka dengan otomatis. "keahlian khusus ku yang kupelajari saat bekerja sebagai pembuka kunci." Ujar Minnie sambil mengangkat bahu karena melihat dua manusia yang melongo melihat tingkah ajaibnya.
"Yah, terserah saja." Kata ibu Changmin, melambaikan tangan. Kemudian ibu Changmin membuka pintu kamar Changmin. Memeriksa ruangan itu sebentar dan mendesah setengah puas. "Kamar ini –lumayan—bersih"
"Mungkin debu enggan mendekati ruangan ini karena tahu ada wanita tua yang akan ngomel begitu melihat mereka berkumpul di tempat ini." Changmin menyeringai pada ibunya. Dan ibunya hanya memberikan tatapan mengancam pada Changmin, yang membuat Changmin buru-buru mempersilahkan Minnie masuk kedalam kamarnya.
"Heee… tak kusangka kamarmu biasa saja." Ujar Minnie setengah meledek. Matanya mengamati setiap sudut kamar Changmin. Kamar itu tidak besar dan tidak juga kecil. Biasa saja. Sekonyong-konyong, Minnie mendekati rak buku pelajaran Changmin yang sudah dia biarkan beberapa tahun di sana. Minnie mengambil salah satu buku dan mendesah senang, "Buku pelajaran kelas 2 SMA!" Lalu Minnie membolak-balik buku itu dengan wajah riang. Changmin kebingungan.
"Memangnya kau tak pernah lihat buku pelajaran kelas 2 SMA?"
"Hmm… tidak."
"Hah? Kalau begitu—"
"Wah, ternyata kau suka penyanyi ini ya?" Minnie memotong ucapan Changmin sambil mengambil CD.
"Yah, aku suka lagu-lagunya. Sayang, album yang di keluarkannya selalu limited edition. Aku gagal membeli album terbarunya." Changmin mendesah.
"Aku bisa memperoleh CD terbaru itu." Changmin terbelalak. Minnie menyeringai jahil, "Tapi bayarannya lebih mahal." Tambahnya singkat.
"Dimana kau bisa membelinya? Tak ada lagi toko CD yang menjualnya lagi!"
"Rahasia." Minnie mengangkat bahu. "Mau, atau tidak?"
Changmin ragu sesaat. Menimbang-nimbang harga yang akan dibayarnya nanti. Kalau cuma nambah sedikit, mungkin tak masalah. Katanya dalam hati. Kemudian dia mengangguk perlahan. Minnie tertawa singkat dan duduk di sebelah Changmin. Mereka duduk meluruskan kaki di lantai berlapiskan karpet bulu lembut, dan bersandar di tempat tidur.
"Jadi," Changmin memulai. Dia tak lagi dapat menahan rasa penasarannya. "Kenapa orang tua ku memanggil nama asli-mu dengan begitu akrab."
Tak ada jawaban. Changmin tak berani menoleh untuk melihat ekspresi Minnie.
Gadis itu mendesah dan menjawab: "dengarkan aku Changmin, di dunia ini, hanya ada 2 jenis manusia yang aku perbolehkan memanggil nama panggilanku." Minnie mengangkat dua jarinya. "yang pertama, adalah orang yang aku percaya. Dan yang kedua…"
Jantung Changmin berdebar keras. Yang kedua apa? Diam-diam Changmin mengharapkan jawaban…. Changmin menarik nafas.
Apa yang kuharapkan? Changmin bingung sendiri.
"yang kedua adalah orang yang aku MANFAATKAN." Mata Minnie bersinar mantap. Changmin memutar matanya tak percaya.
"apaan tuh!" seru Changmin.
"dua jenis tipe manusia yang aku perbolehkan memanggil nama panggilanku." Minnie cuek.
"Bukan itu maksudku! Lalu kau anggap apa orang tua-ku—aku—dan teman-temanku?"
Alis Minnie terangkat tinggi. Ekspresinya tampak terkejut. Kemudian dia menggeleng-gelengkan kepala. "kau dan teman-teman mu JELAS aku anggap sebagai ORANG YANG AKU MANFAATKAN."
"ap—"
"dan orangtua-mu ku anggap sebagai orang yang sangat –teramat sangat—aku hormati."
Minnie dan Changmin sama-sama terdiam. "Lagipula ayahmu adalah guru bahasa Korea-ku saat aku pertama kali menjejakkan kaki di Korea di umur 11 tahun hampir 12 tahun." Lanjut Minnie.
Changmin terkejut. Baru saja ia ingin bertanya lebih dalam, tiba-tiba dia mendengar jendelanya dilempari batu kecil. Changmin berdiri dan melongok keluar jendela. Dia mendapati 3 orang pemuda tengah menyeringai padanya sambil melambai-lambaikan tangan. Awalnya dia bingung, tapi kemudian dia mengenali wajah-wajah itu.
"Hey! Lama tak jumpa!" kata pemuda yang berdiri di tengah."
"woi! Sombong ya? Mentang-mentang sudah jadi artis kamu jarang kirim SMS!" seru pemuda yang ada di sebelah kiri.
"kamu di marahin habis-habisan sama ayahmu kan? Gara-gara punya cewek. Kamu bawa cewekmu kerumah nggak? Aku mau liat dia kayak apa." Kata pemuda di sebelah kanan dengan nada mengejek.
"Hoomin! Joohi! Seungho!" Changmin sumringah. Tampaknya dia tidak dengar ejekan teman-temannya. "apa kabar?"
"Siapa?" Minnie ikut melongokkan kepalanya keluar jendela.
"Ah, ini teman akrabku. Dari sebelah kanan Seungho, Joohi, dan Hoomin." Changmin memperkenalkan.
"Changmin, mau main basket nggak?" Tanya Hoomin. Pria berambut jabrik dengan kulit kecokelatan.
"lapangan basket indoor di sekolah kosong banget lho!" seru Joohi penuh semangat. Pemuda itu bermata sangat sipit, sehingga kalau tertawa matanya tinggal segaris samar.
"Sebelum anak-anak cewek datang dan menyerbu mu" ujar Seungho malu-malu.
Changmin tak bisa menahan senyumnya. Dia melirik ke arah Minnie. "ikut?" Minnie mengangkat bahu, "lebih baik daripada diam di kamar sempit ini kan?"
"tapi bajumu…" Changmin melihat rok Minnie yang berkibar-kibar. Mengikuti arah pandang Changmin, Minnie melambaikan tangannya,
"nggak masalah," Ujar Minnie enteng. Dia mengangguk kearah tas besar yang dibawanya sebagai persiapan kalau-kalau mereka di suruh menginap. "aku bawa celana, akan aku pakai sekarang."
"Sekarang? Disini!" Changmin terkesiap.
Tanpa mendengarkan Changmin, Minnie mengambil sebuah celana panjang berwarna cokelat muda. Changmin terkejut, dan bersiap memalingkan wajahnya. Minnie tertawa.
"Memangnya siapa yang mau memperlihatkan celana dalam?"
Changmin tetap tak mau melirik Minnie.
"Hadap sini, aku sudah selesai." Merasa lega, Changmin menoleh dan terkejut melihat Minnie sudah memakai celana tanpa melepaskan rok. Kemudian Minnie menarik rok itu keluar dari kakinya, melipatnya, dan memasukkanya kedalam tas besar tadi. Lalu, ia tersenyum meledek pada Changmin.
"Cowok memang bodoh." Minnie melangkah keluar.
Merasa kesal, Changmin menjegal kaki gadis itu sampai terjatuh. Merasa puas mendengar suara gedebuk dan umpatan Minnie, Changmin melompati gadis yang tengah berusaha mengangkat tubuhnya.
Saat sudah sampai di pintu depan, Changmin dan Minnie memakai sepatunya. Setelah Changmin selesai, pemuda itu berdiri dengan semangat, dan tiba-tiba dia terjatuh dengan dramatis—dia terjatuh dengan wajah menghantam kenop pintu sampai pintu terbuka, dan akhirnya jatuh saat pintu terbuka dengan wajah menghantam tanah—dan Minnie melewati Changmin dengan anggun dan angkuh, sementara trio sahabat Changmin hanya bisa melongo melihat Changmin.
"Brengsek!" Changmin mengumpat.
"Mata dibalas mata, gigi dibalas gigi, kejahatan dibalas kejahatan." Minnie menyeringai ke arah Changmin.
"Jadi," Hoomin berdeham, "Ini cewekmu?"
Terkejut, Changmin mengangkat bahu dengan canggung dan menjawab asal, "Begitulah."
"ah! Kamu kan—" Joohi berteriak, "KAU NATASYA KAN!"
Changmin terkejut. "ah benar.." Seungho menambahkan.
"tahu darimana?" Changmin bertanya. Mereka mulai berjalan ke arah sekolah Changmin.
"Tentu saja! Seluruh angkatan kita KENAL Natasya! Dia mantan primadona sekolah kita, Min, masa kau nggak ingat? Dia kan pernah duduk di sebelah mu!" Seungho menerangkan.
Changmin berusaha mengingat-ingat, tapi tak berhasil. Akhirnya trio sahabat Changmin menjelaskan tentang keberadaan Minnie di sekolah mereka, seraya berjalan menuju sekolah.
Yunhoo hanya bisa diam memperhatikan soulmatenya cemberut seperti cumi-cumi seksi di atas sofa. Pasalnya, Jaejoong berbaring miring sambil menyangga kepalanya dengan tangan kanan bak seorang model berbusana bikini sambil cemberut seakan-akan si model tak puas dengan bikininya.
"Berhentilah cemberut Jae!" Yunhoo memutar matanya. Tapi Jaejoong tetap cemberut. Bibir malah semakin maju, alisnya bertemu dan pipinya gembung. Seperti ikan fugu. Yunhoo mendesah pasrah.
Alasan cemberutnya Jaejoong adalah, karena tak lama setelah duo ajaib 'ChangMinnie' pergi, Yoochun dan Junsu juga pergi ke dunia antah berantah tanpa pamitan. Yunhoo sudah meyakinkan Jaejoong bahwa mereka berdua pasti main kerumah Junsu untuk main game online, tapi si cumi-cumi seksi itu tetap cemberut.
Menyerah, Yunhoo menjatuhkan diri di depan kaki cumi-cumi seksi itu. Yunhoo membungkukkan badannya kedepan dan menyangga kepalanya dengan kedua tangannya. Kemudian dia merenung. Ia memikirkan banyak hal. Masa depannya—dan mereka berlima—seperti apa dirinya 10 tahun mendatang, kapan dia akan punya pacar, dan… diam-diam dia memimpikan dirinya dan 4 member DBSK berdiri di panggung Hollywood, dan—
"Apa yang kau pikirkan tentang Minnie Yun?" tanya Jaejoong memecahkan lamunan Yunhoo.
Terkejut, Yunhoo mengangkat bahunya dan berkata, "biasa saja." Yunhoo menengok ke arah Jaejoong yang sekarang duduk disebelahnya sambil memeluk kedua kakinya. "Kenapa?"
Jaejoong mendesah, "tadi, Yoochun bilang, kalau dia merasakan ada yang aneh pada diri Minnie."
"Apanya yang aneh?"
"Entahlah, hanya satu yang membuatku merinding." Jaejoong menarik nafas dalam-dalam, kemudian menghembuskannya, "Orang yang datang tiba-tiba, akan menghilang secara tiba-tiba juga dan membuat kegilaan pada yang di tinggalkan."
Yunhoo terbelalak. "maksudnya?"
"Mungkin, keadaan ini juga akan berlaku pada kita. Aku takut." Wajah Jaejoong yang putih menjadi semakin putih, dan membuat Yunhoo cemas.
Secara instingniah, Yunhoo menarik kepala Jaejoong untuk bersandari dipundaknya yang kekar, kemudian dia merangkul Jaejoong. "Jangan khawatir." Bisiknya dengan suara rendah yang bisa membuat gadis-gadis menggila. "semuanya akan baik-baik saja."
Terkejut dengan perbuatannya sendiri, Yunhoo jadi salah tingkah. Dia jadi malu luar biasa dengan kata-katanya, dan tak berani menoleh ke arah Jaejoong. Di sudut matanya, Yunhoo melihat ekspresi Jaejoong berubah menjadi merona. Detak jantung Yunhoo terpacu. Ia terpesona dengan dengan tengkuk putih yang terlihat di sela-sela rambut hitam Jaejoong, tergoda melihat bibir indahnya, terhipotis dengan harum badannya.
Perlahan, dia bergerak. Akal sehatnya sudah berhenti. Yang ada saat ini hanyalah hasrat dan gairah yang meledak-ledak dalam diri. Yunhoo berbalik ke arah Jaejoong, mengangkat wajah Jaejoong tepat di depan matanya. Dia menatap Jaejoong dan Jaejoong balas menatapnya.
Yunhoo menarik tangan Jaejoong dengan cepat, dan detik berikutnya, dia memutar badan tanpa melepas tangan Jaejoong dan membantingnya. Jaejoong mengumpat. Dia menatap Yunhoo dengan penuh kebencian sambil mengusap-usap punggungnya. "Apaan sih?" serunya kesal.
"Kau kurang olah raga, ayo lita ke gym dan berlatih. Aku akan mengajarkanmu beberapa teknik bertahan hapkido" Kata Yunhoo sambil menarik tangan Jaejoong hingga berdiri,
"Nggak perlu! Aku nggak mau!" Jaejoong menghentakkan tangannya yang di cengkram dengan kuat, tapi cengkraman tangan Yunhoo tidak lepas. Yunhoo mulai menariknya ke pintu. Jaejoong meronta-ronta dengan sia-sia, dan dia juga mengumpati Yunhoo sepanjang perjalanan ke gym.
Yoochun dan Junsu menengguk satu gelas cokelat panas dengan rasa syukur. Saat ini, mereka ada di sebuah kafe, setelah capek mengelilingi game center, toko buku, toko mainan, dan toko kaset.
Mereka berdua pergi tanpa bilang-bilang pada Jaejoong dan dan Yunhoo, alasannya karena tak ingin Jaejoong ikutan. Bukan Yoochun yang tak ingin Jaejoong ikut. Tapi Junsu yang nggak mau.
"Mmmhh…. Minum cokelat panas habis keliling-keliling enak banget ya?" Junsu mendesah lega.
"Hmmm…" Jawab Yoochun yang tidak terlalu memperhatikan. Kemudian, Junsu mulai berbicara tentang game yang sedang terkenal saat ini, dan setiap Junsu bertanya, Yoochun hanya menjawab asal-asalan.
Pikiran Yoochun melayang ke Minnie, seringai tipis gadis itu, dan rasa dingin yang menggerayangi tubuhnya.
Sebenarnya, saat pertama kali Changmin membawa gadis itu, Yoochun sudah merasa ada sesuatu dalam diri gadis itu. Dan, "sesuatu" itu sangat..
Yoochun menarik nafas.
MENGERIKAN.
Tapi kemudian, sudut pandangnya berubah begitu melihat Minnie bangun dari pingsannya. Rambut dan matanya yang sekelam malam, kulitnya yang putih bak salju, pipinya yang merona segar, setiap lekuk tubuhnya, caranya berjalan, caranya memandang. Semua itu sungguh sangat menggoda. Yoochun bertanya-tanya, berapa lelaki yang sudah dibuatnya tergila-gila dengan hanya melihat caranya berjalan.
Yoochun merasakan adrenalin yang aneh menyerbu dirinya. Dari ujung rambut sampai ujung kaki, kecantikan gadis itu sungguh sangat SEMPURNA. Dan betapa irinya dia saat melihat Changmin sangat serasi dengan gadis itu.
Kecantikan dan hal menakutkan dalam diri gadis itu, bercampur menjadi suatu pesona yang tak mungkin ditolak laki-laki.
Yoochun kembali membayangkan Minnie.
Chun… ochun…. "YOOCHUN!"
Yoochun tersentak dan mengerjap melihat wajah jengkel Junsu. "Ya?" tanyanya bingung.
Junsu memutar matanya. "Demi segala makhluk yang ada di dunia ini, HALOOO~! apa kau sudah kembali kedunia nyata tuan?"
"Sorry, tadi kita ngobrol soal apa?"
"Tak ada obrolan Chun, dari tadi aku hanya memanggil namamu." Junsu kelihatan jengkel sekali.
Yoochun hanya terdiam. Keheningan menghantam mereka berdua, dan Junsu menghancurkannya dengan bertanya penuh perhatian, "Apa yang kau pikirkan Chun? Kau rindu keluargamu lagi?"
Yoochun menggeleng.
"Kau memikirkan adikmu?"
Yoochun mengangkat bahu, "Nggak juga." Yoochun kaget menyadari bahwa sudah lama dia tak menelfon adiknya itu. Diam-diam Yoochun berencana akan menelfonnya nanti.
"Lalu apa? Kau boleh cerita apa saja pada ku kok."
Yoochun menimbang-nimbang. Akankah dia memberitahu Junsu tentang pikirannya tentang Minnie pada Junsu? Tapi… daripada menyimpannya sendiri, lebih baik dikeluarkan. "Aku memikirkan Minnie."
Sekilas Yoochun melihat ekspresi jijik dan benci pada wajah Junsu, tapi ekspresinya kembali netral. "Kenapa dia?"
"Yah, well, aku hanya merasa ada yang aneh pada dirinya. Apa aku tak merasakannya? Gadis itu memiliki aura mengerikan. Aku takut… lho? Su? Hei! JUNSU! Kau mau kemana?"
Junsu bangkit dan meinggalkan Yoochun. Yoochun berdiri dari kursinya, mengejar Junsu, dia mencekram tangan sahabatnya kuat-kuat dan memutarnya gara Junsu menghadap dirinya. "Kau kenapa sih?"
"KAU YANG KENAPA!" Tukas Junsu cepat.
"Apaan sih? Padahal aku sudah menunggu-nunggu waktu dimana kita bisa ngobrol bareng tanpa diganggu orang luar. Tapi kau malah membicarakan orang luar! Kalau kau meua menghabiskan waktu hanya untuk membicarakan orang luar, maaf saja!" Junsu menghentakkan tangannya agar cengkraman Yoochun lepas, tapi sia-sia.
Yoochun menunduk. Dia tak bisa menahan senyum yang mengembang begitu saja di wajahnya. Sejujurnya, dia senang sekali mendengar pernyataan cemburu Junsu. Entah sejak kapan, dia merasa bahwa kecemburuan Junsu itu penting, dan dia bisa gila kalau Junsu tak pernah sekalipun cemburu.
"Maaf, maafkan aku. OK? Maaf."
Junsu cemberut. "Baiklah, aku maafkan. Maafkan aku juga karena telah memaki mu."
Lalu keduanya terdiam. Yoochun menyadari bahwa mereka berdua ada didepan toko elektronik yang sedang memamerkan TV terbaru mereka di depan etalase toko. TV-nya sengaja dinyalakan untuk menarik pembeli.
Acara yang sedang di siarkan saat itu adalah pengumuman pemenang lomba matematika, fisika, biologi, dan kimia sedunia.
"Dan pemenangnya adalah….. MISS FITZEGARLD dari Paris Perancis!" kata MC bule itu. Yoochun bersiul, mengagumi pemenangnya.
Tunggu dulu…. FITZEGARLD? Sepertinya nama itu akrab ditelinga Yoochun.
Kemudian, saat wujud dari pemenang lomba itu disorot, Yoochun melongo. Dan Junsu tak sempat melongo, dia hanya membelalakkan mata sipitnya.
Yunho mendengar suara piring pecah, lalu ia berbalik dan melihat Jaejoong tengah melongo melihat TV. Jari-jari tangannya meregang, dan didepan kaki Jaejoong terdapat beling-beling kaca bekas piring bertaburan dan bercahaya seperi bintang.
Penasaran apa yang membuat sahabatnya sedemekian terkejutnya, Yunho menatap TV. Dan ekspresi yang terpampang diwajahnya, sama memalukannya dengan Jaejoong. Dua cowok tampan ini melihat seorang gadis berkulit putih, menggunakan kemeja puth dengan dasi kupu-kupu besar, dipadu dengan jas hitam berenda dan rok hitam kotak-kotak yang panjang dan agak mengembang. Topi bulatnya yang biasa dipakai oleh para lady di inggris pada jaman Victorian, menutupi rambut ikalnya yang tergerai.
Melihat senyum percaya diri gadis itu, tak diragukan lagi. Dia adalah MINNIE! Dengan tetap melongo, Yunho membaca judul siaran TV itu. Tulisannya berbunyi : PEMENANG OLIMPIADE MATEMATIKA, FISIKA, DAN KIMIA.
Dan yang membuat mulutnya makin terbuka lebar adalah ketika para wartawan berebut untuk memberikan pertanyaan, salah satu dari para wartawan itu berkata: "Pasti pak presiden sangat bangga terhadap anda nona Fitzegarld" dalam bahasa Perancis yang sudah diterjemahkan. Kemudian, Minnie terlihat sedikit berfikir dan akhirnya menjawab dalam bahasa Perancis: "Mungkin. Aku harap kakek bangga padaku."
Tunggu dulu, KAKEK! Berarti Minnie adalah cucu PRESIDEN PERANCIS. Tapi, kenapa—
"MINNIE CUCU PRESIDEN PERANCIS!" Jaejoong memekik memcahkan lamunan Yunho. "WOW! Dia hebat sekali!"
"I.. iya… tapi.." Yunho tergagap. Dia memutar otaknya. Berbagai macam asumsi dan spekulasi berputar dikepalanya.
"Tapi apa?"
Yunho tak mendengar pertanyaan Jaejoong. Matanya terpaku pada TV. Dia melihat Presiden Perancis memberikan medali pada Minnie dan mencium pipi gadis itu. Minnie tersenyum penuh kebahagiaan. Jantung Yunho menggila.
"Yunho?"
Yunho menarik nafas. "Kalau dia memang cucu Presiden Perancis," Yunho memulai, "Seharusnya dia orang BURJOIS bukan?"
Jaejoong menatap Yunho yang menatapnya dengan tatapan memohon untuk segera mengatakan bahwa dirinya sudah gila. Mata Jaejoong terbelalak dan mengerjap.
"Tapi, tapi dia bilang dia miskin." Protes Jaejoong. Tapi matanya goyah, dan nada suaranya memperdengarkan keraguan.
"Bisa jadi dia berbohong. Bisa jadi dia hanya mempermainkan kita. Bisa jadi dia—" Yunho berhenti. Ini adalah spekulasi terburuk yang sudah dipirkannya sedari tadi.
"Apa?" Mata Jaejoong terlihat tak sabar.
Yunho merinding. Dia memejamkan matanya dan berkata, "Bisa jadi dia minggat, atau diusir."
Jaejoong melotot tak percaya. Yunho memiringkan kepalanya dan mengangkat bahunya sambil tersenyum aneh karena ragu.
"CHANGMIN!" Changmin bereaksi dengan suara yang memanggil namanya. Sambil mengangkat bola yang di dribble-nya, memegangnya sejajar dengan dada, berputar menghindari guard dari Hoomin, dan melempar bola itu ke arah suara yang tadi memanggilnya.
Sosok kecil manusia menangkapnya. Minnie berkelit dengan lincah, melewati Joohi yang mengulurkan tangannya untuk merebut bola basket. Joohi mengumpat ketika gadis itu melewati dirinya, dengan susah payah Joohi berputar dan mengejar Minnie. Minnie melompat dan melempar bola tersebut.
Hoomin, yang entah kapan sudah berada di depan Minnie, melompat berusaha mengambil bola itu dengan sia-sia. Bola merah dengan garis-garis melengkung putih itu terbang dan masuk kedalam ring dengan mulus.
Seungho meniup peluit dengan mantap. Pertandingan berakhir. Changmin dan Minnie bersorak penuh kegembiraan, sedangkan Joohi dan Hoomin mengumpat sambil tertawa terbahak-bahak.
"A… aku nggak tahu kalau Natasya bisa main basket." Ujar Seungho malu-malu. "Biasanya kau 'kan tidak mau kalau diajak main basket bareng."
"O, Oi! Mana mungkin dia bisa main basket sama anak-anak cewek yang lain." Tegur Joohi. Sadar, wajah Seungho Nampak terluka dan hendak meminta maaf, tapi Minnie langsung memotongnya.
"Mana mungkin aku menunjukkan kemampuan basket-ku kalau bersama para pecundang itu!" Ujar Minnie ketus.
"Pecundang?" Changmin bingung.
"Dulu, aku ini mantan anak tertindas di sekolahmu." Minnie mulai bercerita dengan malas. "Entah apa alasannya anak-anak cewek memusuhiku, lama-kelamaan, akhirnya mereka mulai menindasku dengan berbagai cara. Dikunci di toiletlah, di cegatlah, kursiku di hilangkanlah, buku-bukuku di bakarlah, bahkan mereka sampai memukuliku dibelakang sekolah."
Changmin merinding. Dia heran kenapa dia tak ingat apapun tentang gadis ini, padahal dia sangat mencolok di sekolah.
"Lalu, bagaimana caramu mengatasi mereka?" Tanya Changmin.
"Yah, gampang aja. Kalau dikunci di toilet, aku melompat keluar, atau menedang pintunya. Kalau dicegat, aku biarkan mereka mencegatku dengan tatapan menghina mereka. Kalau kursiku dihilangkan, aku ambil kursi baru di gudang. Dan, setelah aku mencatat di sekolah, aku memindahkan catatan-ku ke laptop dirumah, jadi tak masalah kalau mereka menghanguskannya." Jelas Minnie cuek.
"Lalu, kalau kau dipukuli?" tanya Changmin sambil merinding.
"Kau nggak tahu ya, Changmin?" ujar Hoomin menghina. "Aku pernah melihatnya. Kalau dipukuli, dia akan memukul balik semua orang yang memukulnya dua kali lipat lebih kencang." Hoomin menerawang, begitupula Changmin.
"Ah, sudah jam segini," Kata Seungho. "Ayo kita pulang. Oh, iya! Hampir saja lupa! Changmin, nanti, jam delapan malam, di aula sekolah akan ada reuni, kau mau ikut?"
Changmin berfikir. "Kalau kalian?"
"Kami? Kalau kami pasti ikut." Kata Hoomin.
"Kalau Minnie?" Tanya Changmin. Kemudian dia melengkapi pertanyaannya. "Dia di undang juga kan?"
Seungho mengangguk. Tapi, Minnie menggeleng dengan tegas. "Aku harus menemani Tuan Shim main catur."
"Oh," Changmin berfikir lagi. "Kalau gitu ak—" Changmin tersentak melihat ketiga temannya tersenyum mengejek dan menggodanya.
"Ap, apa?"
"Yah, aku tahu deh... yang udah punya pacar.." Hoomin mencibir.
"Mentang-mentang sudah punya pacar…" Joohi menerawang.
"Malang sekali nasib kita.." Seungho ikut-ikutan.
"APAAN SIH!" pekik Changmin.
"Iya.. iya… kami Cuma bercanda. Jangan dianggap serius dong." Ujar Seungho.
"Eh, sudah jam segini, Hoomin, Seungho, ayo cepat! Kalian mau menginap di rumahku kan?" kata Joohi.
Changmin terbelalak, "Kalian nginap bareng? Nggak ngajak-ngajak aku?" Nada suaranya jelas-jelas terluka.
"Oh, maaf, kami kira kau sibuk. Makanya, kami nggak memberitahumu, kami takut kau terganggu. " ujar Seungho cepat-cepat.
"Oh gitu! Aku juga lupa ngasih tahu kalian kalau aku libur. Salahku juga. Ya sudah, nanti kirim foto kalian waktu nginap ya?" Changmin cengar-cengir.
Setelah itu, mereka berpisah di depan gerbang sekolah. Minnie memperhatikan asap putih yang berasal dari mulut Changmin. Dia sedang mendesah.
"Apaan sih? Jangan pasang tampang kayak 'gitu 'napa?" Protes Minnie ketus. "Kalau kamu mau pergi, pergi 'aja. Nggak ada yang ngelarang kok."
Changmin terdiam. Rasanya berat untuk membuka mulut. "A… aku… mungkin selama ini sudah terlalu angkuh." Ujarnya lirih, " Aku merasa, mereka teman-KU. Tak mungkin mereka melakukan sesuatu tanpa melakukan sesuatu tanpa memberitahuku. Sejak aku mulai jadi artis, jadwal-jadwal padat menerjangku. Biarpun mereka mengirimkan pesan padaku, aku sulit menjawabnya. Dan, lama-lama, aku mulai kesulitan mencari waktu untuk menghabiskan waktu dengan mereka—"
"Tak masalah bukan?" sela Minnie. "Wajar kalau kau berfikir seperti itu, wajar kalau kau berusaha mencari-cari waktu. Itu artinya kau masih memikirkan teman-temanmu. Dan untuk teman-temanmu, wajar kalau mereka berfikir bahwa mereka tak mau mengganggumu. Di saat mereka berkumpul bersama, mereka pasti merasa ada yang hilang. Itu terbukti ketika mereka langsung berlari mengalahkan angin setelah mendengar bahwa kau ada di sini." Minnie terdiam. Dia berbalik dan menatap Changmin dengan senyuman percaya diri. "bukankah, itu yang namanya teman sejati?"
Changmin terkesiap. Ia terharu dengan ucapan Minnie. Tanpa bicara apapun lagi, Changmin dan Minnie terus berjalan.
"Hei" panggil Changmin.
"Hm?"
"Kenapa kau membolehkan aku memanggil nama panggilanmu begitu saja?"
"Aku sudah katakan alasannya tadi"
Changmin terdiam. Mungkin, asyik juga kalau punya nama panggilan yang hanya orang-orang tertentu yang bisa memanggil nama itu.
Sekonyong-konyong, Changmin teringat alasan Minnie tentang orang yang boleh memanggil nama panggilannya. Ia mengingat cara ibunya memanggil Minnie. Ya, benar, ibunya memanggil Minnie dengan sebutan "NATASYA".
"Minnie.."
"Apa lagi?"
Pagar rumah Changmin sudah terlihat. "kau bilang, hanya orang yang kau sayangi, orang yang kau percayai, dan orang yang kau manfaatkan yang boleh memanggil nama panggilan yang spesial itu."
"Yaa.." Minnie menjawab dengan asal.
"Lalu, berarti, kau menghormati orang tua-ku, tapi tidak mempercayai mereka?" tanya Changmin dengan nada suara gemetar.
Minnie berhenti. Changminpun ikut berhenti. Rasa dingin yang menakutkan menggerayangi tubuhnya. Menakutkan.
Minnie berpaling. Ekspresinya dingin seperti biasa. "YA." katanya, "Aku menghormati mereka. Tapi aku tidak percaya maupun sayang pada mereka"
"KENAPA?" Changmin merasa, hal ini tak adil. Orang tuanya begitu menyayangi Minnie, seolah-olah Minnie adalah anak mereka sendiri. Tapi.. Tapi..
"Changmin... kau... terlalu lugu untuk jadi artis. lebih baik kau berhenti jadi artis saja. Karena... kau..."
Minnie mendekat, ia berjinjit dan menyentuh pipi Changmin. Ekspresi gadis itu datar dan menakutkan. Changmin sedikit takut, pandangan matanya goyah. Ingin rasanya lari, tapi kakinya seolah-olah tertancap begitu dalam ke bumi.
"Kau..." Minnie tersenyum. "tidak tahu..." ah, tidak, dia menyeringai. "bagaimana rasanya hidup di dunia, di mana semua orangnya memakai topeng tersenyum"
Setelah terdiam beberapa saat –yang bagaikan setahun bagi Changmin— keheningan yang bagaikan peringatan bagi Changmin itu dihancurkan oleh kedua adik Changmin. Mereka berdua membuka pintu dengan kasar, menabrak pagar, dan mendorong kakak kandung mereka yang sudah lama tak pulang kerumah dengan kasar, lalu menghambur ke pelukan Minnie.
"KAK NATASYAAA!" seru mereka berdua. Sementara Changmin yang terjatuh hanya bisa bengong.
"kapan sampai? Kok nggak kirim sms?" tanya Shim Sooyeon dengan suara termanisnya.
"Kakak, kenapa baru sekarang main ke rumah kami?" tanya Shim Giyeon sambil menggenggam erat tangan Minnie.
Tiba-tiba, ekspresi Minnie berubah drastis dari wajah imut menjadi wajah keren, penuh pesona dan percaya diri. Wajah seorang bishounen.
Minnie tersenyum, "Maaf." Katanya, sambil mengangkat wajah Sooyeon. Sooyeon merona. "Aku sibuk, jadi aku ga bisa sering-sering mengirimi kalian kabar. Semoga," Minnie mengambil tangan Guyeon, "Permintaan maafku di terima." Minnie mencium punggung tangan Guyeon. Wajah Giyeon menjadi semerah buah ceri.
"Aaahh… curang! Aku juga mau!" Pinta Sooyeon.
Minnie memberikan kecupan lembut di pipi Sooyeon. Sooyeon nyaris pingsan.
Changmin bengong. Ekspresi adik-adiknya mirip dengan para perempuan yang nyaris pingsan begitu mendapatkan fans service berupa lambaian tangan darinya.
"Kak, disini kan dingin, ayo kita masuk aja." Ajak Giyeon.
"Iya kak, mama masak sup ayam yang pernah kakak ajarkan pada mama lho~" Sooyeon menimpali.
"Oke kalau begitu… Changmin, ayo kita masuk!" Kata Minnie sambil melirik changmin yang terbengong-bengong.
"HAH! Kakak! Sejak kapan kakak ada disitu?" tanya Sooyeon.
"EH? Kakak! Kapan sampai?" Giyeon tampak heran.
…
-hening—
Luar biasa… benar-benar luar biasa. Pikir Changmin saat mereka sedang makan malam. Di meja makan, ayah dan ibunya mengeluarkan aura penuh penghormatan pada Minnie. Dan, adik-adiknya mengeluarkan tatapan 'aku-jatuh-cinta' pada Minnie. Minnie juga, bisa-bisanya dia berbincang lancar dengan keluarganya.
Sangking syok-nya, makanan lezat yang masuk ke mulutnya terasa hambar. Sekarang ini, bukan perutnya yang lapar. Hati dan otaknya kelaparan dengan rasa PENASARAN.
"Natasya, mandilah terlebih dahulu, air panasnya sudah siap." Kata Ibu Changmin.
"Tapi, sebaiknya aku membantu merapikan meja dulu." Balas Minnie sopan.
"Nggak usah kak! Biar aku dan Giyeon saja yang kerjakan. Kakak santai saja." Sooyeon mengamit tangan Minnie.
"Baiklah kalau begitu, aku permisi dulu." Minnie berjalan keluar ruang makan.
Changmin menajamkan pendengarannya. Ia mendengarkan suara langkah kaki Minnie yang sudah mulai akrab di telinganya. Suarah langkah kaki yang pelan, melangkah lebar-lebar dan cepat. Changmin menunggu, sampai akhirnya suara itu berhenti. Terdengar suara pintu, pintu kamar madi, dibuka dan ditutup.
Changmin melompat dari tempat duduknya, mengamit tangan adik-adiknya, dan menyeret mereka.
"Apaan sih?" Sooyeon meronta.
"Hei! Ada apa?" Giyeon panik.
Changmin membawa kedua adiknya menuju kamar mereka, dan mengunci pintunya.
"Hei, aku mau tanya, memangnya, Minnie sering datang ke rumah kita?" Tanya Changmin tanpa bisa menyembunyikan rasa ingin tahunya.
"Minnie? Maksudnya Kak Natasya?" Tanya Sooyeon.
"Kalau Kak Natasya, dulu dia sering sekali datang ke sini." Ujar Giyeon.
"Eeeehh? Kok aku nggak pernah lihat?" Changmin bingung.
"Hah? Apa maksud kakak? Kakak sering ketemu kok!" Sooyeon protes.
"Masa sih?"
"Iya kak, tapi kalian hampir nggak pernah ngobrol." Giyeon menerangkan.
"A, aku nggak ingat."
"Kok bisa? Kan kalian satu sekolah dan sekelas." Sooyeon ikut bingung.
Changmin berfikir… kok bisa dia tidak ingat tentang Minnie? Daripada itu… Changmin melihat sekeliling kamar adiknya. Ada banyak poster. Di salah satu dinding, penuh dengan poster TVXQ yang sudah biasa Changmin lihat. Dan, di seluruh dinding sisanya, penuh dengan poster seorang gadis manis bermata gelap, berambut hitam ikal, dan berkulit putih. Gadis itu cantik bukan main. Sorot mata yang tegas, senyum yang memikat, pasti banyak orang yang memuja gadis asing tersebut. Kemudian, ia sadar, bahwa gadis yang ada di poster itu adalah MINNIE.
Changmin ngap-ngap seperti ikan yang kehabisan oksigen, dan menunjuk sebuah poster. Di poster itu, Minnie tengah duduk menyamping, kakinya yang mulus nampak indah, senyuman percaya diri terukir diwajahnya yang mungil.
"kenapa sih?" Sooyeon jengkel melihat kakaknya.
Guyeon mengikuti arah telunjuk Changmin. "ooh, itu kak Natasya lho, waktu dia masih aktif jadi penyanyi." Kata Guyeon dengan suara bangga.
PENYANYI?
"lho? Sekarang juga masih penyanyi kan?" tanya Sooyeon.
"berhenti sejenak. Ng, apa itu istilahnya? Ehmm… ah, ya! Vakum sementara."
VAKUM?
"hee…"
Tiba-tiba sebuah ketukan pintu malu-malu memotong pembicaraan mereka. "ya? Siapa?" tanya Sooyeon
"aku." Jawab sebuah suara manis nan merdu. Minnie.
"oh, kakak, masuk aja!" Jawab Giyeon.
Pintu terbuka perlahan. Sebuah tangan dan kaki seputih salju nampak. Minnie masuk. Changmin terkesiap. Matanya seperti terpaku pada Minnie. Seorang gadis dengan rambut basah, pipi merona, senyum yang manis, menahan mata seorang pria tampan yang dipuja-puja gadis se-Asia.
"ng, Tuan dan Nyonya Shim memanggil kalian." Kata Minnie.
"oh ya?" tanya Sooyeon. "kalau begitu, ayo kita keluar."
Changmin ditarik oleh Guyeon. "ayo kak, kita keluar."
"I, iya.." Changmin terbangun. Rasanya, ia terhipnotis sesaat. Perasaan yang aneh menjalari dirinya. Jantungnya berdebar-debar tak lazim. Selalu terbayang di benaknya, sosok Minnie yang baru selesai mandi tadi. Lamunannya sama sekali tak goyah, walaupun 3 gadis dibelakangnya tengah ribut tentang poster-poster di kamar.
Sampai di ruang keluarga, terlihat ibunya tengah menyusun pudding di meja, dan ayahnya sedang mengatur bidak-bidak catur barat yang disukainya.
Ayahnya menengok ke arah Minnie, "Natasya, ayo sini." Katanya tegas, dengan senyum khas yang jarang terlihat.
"Aduh, bapak ini, biarlah Natasya makan pudding ini barang sesuap saja." Protes Ibu Changmin saat Changmin dan adik-adiknya sudah duduk di kursi, dan menatap pudding-puding di atas meja itu dengan tatapan kepengen.
"ah, nggak apa-apa Nyonya Shim, sudah lama juga aku tidak main catur dengan Tuan." Ujar Minnie sambil duduk dihadapan Ayah Changmin.
"Huh, jangan terlalu percaya diri. Kali ini, kau pasti kalah." Dengus Ayah Changmin.
"Wah, gimana yaa?" Minnie menjalankan salah satu bidak catur dengan senyum manis menantang.
Sebenarnya, Changmin khawatir, apakah Minnie bisa mengalahkan ayahnya. Ayahnya itu sangat mahir bermain catur. Biarpun sudah diajarkan berkali-kali, Changmin tetap tak bisa menang dari ayah kebanggaannya itu. Sebagai hasil dari latihan yang luar biasa itu, Changmin jadi lebih mahir bermain catur daripada keempat rekannya. Tapi, tetap saja kekhawatiran itu tidak menghancurkan rasa enak luar biasa dari makanan kenyal buatan ibunya.
Selesai satu piring, Changmin mengambil pudding lagi. Ia menengok ke arah ayahnya dan Minnie yang sedang sangat serius.
Satu piring lagi…
Satu piring lagi…
….
Hebat… pikir Changmin saat melihat ayahnya dan Minnie sambil mengemut sendok. Dia sudah makan SEPULUH pudding sambil menunggu Minnie dan ayahnya selesai main catur. Belum pernah dilihatnya wajah pucat ayahnya saat bermain catur. Tapi kali ini… malah lawannya, yaitu Minnie yang tersenyum cerah bak matahari sambil mengangkat satu buah bidak.
"Skak matt!" Kata Minnie riang sambil meletakkan bidak itu.
Wajah ayahnya lemas dan pucat.
"OHOHOHOHHOHO~ lagi-lagi ayah kalah dari Natasya, padahl ayah sudah latihan mati-matian kan?" Ibu Changmin menertawakan kegagalan suaminya.
"wah, aku tak sehebat itu Nyonya Shim, kali ini, Tuan Shim sangat hebat. Sulit sekali menembus pertahannya." Kata Minnie seraya tersenyum sopan.
"Ah, jangan merendah. Ini, makanlah pudding." Ibu Changmin menyerahkan sepotong besar pudding yang disambut baik oleh Minnie.
"kalau kamu memang tak sehebat itu, masa kamu bisa juara satu di olimpiade matematika dan fisika?" lanjut ibu Changmin.
Changmin kaget.
"Kak Natasya memang hebat!" Seru Sooyeon dan Giyeon.
"itu baru namanya anak didikku" Ayah Changmin mengusap kepala Minnie.
"Lho? Memangnya kalian tahu darimana?" tanya Minnie bingung.
"oh iya ya… kamu dari tadi main sama Changmin makanya nggak tahu. Tenang saja, sudah aku rekam kok." Ibu Changmin memutar sebuah video yang sudah direkam.
Melihat rekaman itu, Changmin melongo.
"Presiden Fitzegarld pasti bangga sekali padamu ya?" Ibu Changmin memuji.
"hmm…" Minnie mendengus.
Changmin syok… sangat syok begitu mengetahui bahwa Minnie ternyata pintar. Eh, salah, bukan itu yang membuatnya kaget. Tapi… tapi… kenyataan bahwa…
Changmin merasa otaknya sudah bermasalah.
MINNIE ANAK PRESIDEN PERANCIS!
Sebuah langit-langit berwarna putih bersih menjadi pemandangan pertama Changmin ketika membuka mata. Terkejut, Changmin bingung kenapa langit-langit kamarnya terlihat lebih tinggi dari biasanya. Changmin mengayunkan tangannya keluar selimut, kemudian dia meringis kesakitan. Tangannya membentur sesuatu yang keras dan dingin. Yang dibenturnya adalah lantai kamarnya sendiri. Changmin sadar kalau dia tidur di tempat tidur bagian bawah kamarnya.
Lho? Kalau begitu, siapa yang tidur di kasur bagian atas. Dengan tubuh yang masih lemas, Changmin mencoba memutar tubuhnya. Kemudian, dia merasakan ada sesuatu di punggungnya yang menyebabkan dirinya tak bisa berbalik. Bingung, Changmin duduk dan melihat benda apa yang mengganggunya.
Betapa terkejutnya dia mendapati seorang gadis manis tengah tidur dibelakangnya dengan wajah polos.
MINNIE!
Barulah Changmin ingat. Kemarin malam, setelah mereka selesai bersendagurau dengan keluarga Changmin, ibu Changmin berkata bahwa kamar tamu tak bisa dipakai karena pemanasnya rusak dan kamar Sooyeon dan Giyeon tak bisa menampung tiga orang karena kasurnya kecil. Akhirnya, dengan kepercayaan penuh dari orang tua Changmin, Minnie tidur di kamar Changmin –walaupun sepanjang malam aura kegelapan ibu Changmin menguar terus—
Seharusnya, Minnie tidur di kasur atas, tapi kenapa sekarang dia ada di kasur bawah? Itu berarti, cara tidur Minnie itu serampangan. Dengan kesal, Changmin melirik jam. Jam 1 pagi. Changmin langsung menggoyang tubuh Minnie yang berbalut piyama dengan malas, "Minnie, bangun… sana balik ke kasur yang diatas."
Minnie menepis tangan Changmin. "Minnie, ayoo banguunn… aduuh…" Minnie tetap tidak bangun. Yah, apa boleh buat, Changmin harus mengangkat gadis ini. Perlahan, Changmin membalik Minnie yang sedang bergelung di atas tempat tidur, menyelusupkan tangannya ke tengkuk putih yang menggoda dan kaki mulus. Dengan mengumpulkan setengah tenaga, Changmin mengangkat Minnie. Ternyata gadis itu cukup ringan. Ia teringat saat pertama kali menggendong gadis ini. beratnya sama sekali tak berubah. Tak bertambah berat… ataupun bertambah ringan…
Saat hendak menidurkan Minnie di tempat tidur atas, kakinya terselip seprai sehingga keseimbangnnya goyah. Changmin berusaha menyeimbangkan, tapi tak berhasil, kakinya malah keseleo karena berusaha menyeimbangkan tubuh sambil membawa beban di tangan. "aw. Aduh.. ah? UWAAAAHH!" akhirnya, diapun jatuh juga.
"adududududuuhh~" kakinya sakit, dan Minnie gagal dibaringkan ke kasur atas. Tiba-tiba, pintu kamar yang tak terkunci itu dihantam seseorang, ibu Changmin, yang langsung berteriak: "ADA APA? Hah!" wajah ibu Changmin seperti baru melihat benda menjijikan. Penasaran, Changmin mengikuti garis pandang ibunya yang ternyata menuju sesuatu dibawah tubuh Changmin—yang saat itu sedang bersimpuh—
Changmin terkejut luar biasa saat mendapati ternyata ada Minnie dibawah tubuhnya. Tentu saja pose itu membuat ibu Changmin salah paham. Mengapa? Karena, gaun tidur Minnie—yang dibelikan Jaejoong—talinya sedikit melorot sehingga bra dan belahan dadanya terlihat, kemudian tangan Changmin ada di samping paha mulus Minnie, dan piyama Changmin sendiri sedikit melorot karena berat badan Minnie. Sadar, Changmin langsung gelagapan saat ibunya—dengan ekspresi gelap— berjalan mendatanginya.
"buk, bukaaann… bukan seperti itu!" kata Changmin.
Tapi ibunya tak peduli dan terus berjalan mendekatinya, kemudian… telapak tangannya pun dilayangkan. "KELUAAAAAAAAAAAAAARRR!"
Sinar matahari yang temaram, menyelusup masuk kedalam mata Minnie. Minnie menatap langit-langit kamar Changmin yang putih polos. Polos… Minnie tersenyum. Menyenangkan sekali mengingat ekspresi panik dan ketakutan Changmin kemarin malam. Sayang sekali kenikmatan itu terganggu oleh kedatangan adik-adik manis Changmin.
Setelah terkikik beberapa saat, senyum menghilang dari wajahnya. Ia menyadari kalau Changmin tak ada didalam kamar itu. kemana dia? Apa sekarang sudah siang? Minnie merangkak melihat jam dinding. Baru jam 6 pagi… kemana Changmin?
Dengan malas, gadis manis ini mengambil sweater-nya, dan berjalan keluar.
"JANGAN TERTAWA!" Changmin memperingatkan gadis berambut hitam legam yang tengah menahan tawanya.
"ini semua gara-gara kamu tahu!" Changmin merajuk… seandainya ibunya tak salah paham, dia pasti tidur di kasur yang nyaman dan hangat… bukan di lorong depan kamar yang keras dan dingin!
"me, memangnya apa yang kau lakukan?" tanya Minnie dengan mimik dan nada suara meremehkan.
"huh! Gara-gara kau! Ibuku jadi salah paham tahu! Dasar menyebalkaaaannn!"
"phuh, huhuhuhu…. Memangnya aku ngapain heh? Yang terhormat tuan muda Changmin?" Minnie menggodanya. Gadis manis itu mengangkat wajah Changmin dengan ujung-ujung jemarinya yang indah.
"pokoknya gara-gara kamu!" Changmin menepis tangan Minnie.
"sudahlah, jangan merajuk" Minnie kembali menyentuh dagu Changmin, tapi ditepis lagi. Kemudian, Minnie berjongkok dan menatap Changmin dengan riang. "ayo masuk kamar, pasti disini dingin kan?"
"ngomong 'sih gampang, tapi kalau aku ketahuan balik ke kamar, aku bisa kena damprat ibuku lagi!"
"tenang saja, biar aku yang atasi itu."
"caranya?"
"fuh, aku akan bilang ke nyonya Shim: 'aku tak bisa tidur tanpa Changmin'" Minnie berakting dengan mata berbinar-binar.
"makasih nggak usah!" sergah Changmin.
"lhooo~? Kenapaaa? Tenang saja, nyonya Shim percaya seratus persen padaku"
Terdiam. Minnie tersenyum serius. "tenang saja, kau akan baik-baik saja." Minnie berdiri dan mengulurkan tangannya, "ayo, kita kembali, ke kamar kita"
Seakan terhipnotis, Changmin menyambut tangan itu…
TANPA SEDIKIT PUN KERAGUAN.
Kata-kata Minnie terbukti benar. Ibu Changmin bisa dibujuk dengan hanya satu kalimat kebohongan dari mulut beracun Minnie.
Saat sarapan pun Minnie sangat lancar berbincang dengan orang tua Changmin. Yang membuat Changmin merinding adalah kemampuan berbohongnya yang luar biasa. Apalagi, saat orang tua Changmin bertanya bagaimana mereka bisa jadi pasangan? Lagi pula, menurut orang tua Changmin, Minnie adalah anak baik yang selalu menceritakan tentang kehidupanya diamana pun gadis itu berada, maka mereka heran mengetahui bahwa Minnie dan Changmin diam-diam berpacaran. Saat itu, Minnie berkata dengan mudahnya:
"Tuan dan Nyonya Shim… cinta itu, terlahir dari hubungan rahasia." Dengan tersipu malu, Minnie telah memukau kedua adik Changmin dan kedua orang tua Changmin.
"Ternyata mulut itu sudah terbiasa mengucapkan dusta ya?" Kata Changmin pada Minnie saat mereka sedang merapikan barang-barang mereka.
Minnie tersenyum, "Changmin, apakah kau tak pernah diajarkan bahwa berbohong adalah salah satu keahlian yang harus dimiliki manusia?"
"Nggak tuh, berbohong itu kan dosa."
"Tapi, berbohong itu salah satu jenis perlawanan dan pertahanan terkuat lho~"
"Tetap saja itu salah…"
Minnie diam… dengan tetap tersenyum dia menarik nafas, dan menghembuskannya kembali. "Lalu, siapa ya? Yang sering bolos dengan alasan menghadiri pemakaman keluarga?"
Kaget, Changmin melompat, "KOK TAHU?" pekiknya.
"Waduh, ingatanmu masih belum balik ya? Duh, kasihan…"
"Aduuuuh~ kenapa sih semua orang yang kukenal mengenalmu dan mengatakan bahwa aku juga seharusnya kenal denganmu?"
"Karena itulah yang seharusnya terjadi. Justru aneh kalau kau nggak ingat. Aku 'kan sering keluar masuk rumahmu dulu."
"aku nggak inget tuh!"
Minnie menatap Changmin untuk beberapa saat. "yah, sudahlah kalau nggak ingat. Toh, kita hanya sekelas selama setahun, setelah itu, aku berhenti"
"berhenti?"
"Mau diceritakan nih?"
"I, iya…"
"harganya mahal lho~"
"Jangan bercanda deh.."
"begini ceritanya. Waktu aku kelas satu SD, ayah dan ibuku meninggal dunia, dan aku ditampung oleh tetanggaku. Dengan pikiran tak ingin menyusahkan, aku belajar sekuat tenaga dan akhirnya lompat kelas. Dari kelas satu SD ke kelas tiga SD, lalu, lanjut ke kelas empat SD.
Saat kelas empat, aku ditemukan oleh keluarga ayahku, kakekku menemukanku. Dia bilang padaku bahwa dia ingin membawaku ke Perancis. Tapi, aku menunggu sampai aku lulus SD, aku baru pergi. Ah, ya, aku nggak pernah duduk di kelas lima lho~
Nah, di Perancis, aku lulus ujian masuk SMP ternama disana, dan aku lulus setelah belajar selama dua tahun.
Setelah itu, aku mendaftar di SMA Korea dan lulus dengan nilai SEMPURNA. Saat itu aku berumur dua belas tahun. Bahasa Korea-ku tak terlalu lancar, akhirnya aku dititipkan kepada teman kakek, seorang guru bahasa korea, yaitu ayahmu.
Tapi aku tak mau merepotkan keluargamu dengan tinggal di rumah itu, apalagi dengan status 'numpang' jadi, aku memutuskan untuk tinggal di sebuah apartemen. Aku kerumahmu setiap hari untuk menambah perbendaharaan kata-ku. Aku juga melihatmu setiap hari kok. Dan karena BEBERAPA HAL, aku jadi akrab dengan adik-adikmu.
Aku lulus SMA di umur 13 tahun, setelah itu kembali lagi ke Perancis, untuk belajar privat."
"Tunggu dulu," sela Changmin. "Waktu kau umur 13 tahun, berarti aku umur 15 tahun kan?"
"begitulah,"
"t'rus? 'gimana caranya aku bisa sekelas dengan mu? Waktu itu, aku kan masih kelas 3 SMP."
"itu baru mau aku ceritakan, begini, setelah itu, setahun kemudian, aku dipanggil oleh ayahmu lagi. Dia ingin minta tolong supaya aku bersekolah di SMA yang sama dengan mu untuk satu tahun saja, supaya kau terpacu."
"Terpacu?"
"Ya, ayahmu bilang, nilaimu sedikit menurun. Jadi, mungkin nilaimu akan menanjak lagi kalau ada 'pemicu'nya, yaitu aku. Kalau kau iri dan kesal dengan nilai-nilaiku, kau pasti akan belajar 2 kali lipat lebih keras untuk mengejarku, begitu maksudnya."
"tung, tunggu dulu, setelah itu, kau kembali lagi ke Perancis kan?"
"ya."
"ap.. apa kau jadi penyanyi?"
"wah, kok tahu? Iya, aku jadi penyanyi. Tapi cuma 2 tahun saja. Pertengahan umur 15 tahun, aku kembali ke Korea dan hidup miskin. Hahahahhaa~"
"kenapa?"
Senyum Minnie redup, ekspresinya menjadi serius dan dingin. "Changmin…" katanya dengan suara yang tak memiliki ekspresi. "aku… nggak suka tidur di kamar yang terlalu luas." Katanya dengan serius.
"ALASAN APAAN TUH?" Changmin merasa dipermainkan.
"lho? Aku serius kok!" Minnie ngotot.
Akhirnya, mereka berdebat tidak jelas. Pertengkaran mereka kemudian dipecahkan oleh kedua adik Changmin yang masuk kedalam kamar Changmin tanpa permisi.
"curaaaaaaaang~ kaka curang! Jangan monopoli Kak Natasya sendirian donk!" Giyeon, anak termuda, memukul punggung Changmin.
"Huh, jangan mentang-mentang pacarnya lalu seenaknya ya!" Ancam Sooyeon.
"aduuhh! Apaan sih kalian? Kalau masuk kamar orang itu ketuk pintu dulu!" Changmin ngamuk.
"apaaa? Memangnya buat apa aku ngetok pintu kamar kakak? Aku kan masuk kamar kakak setiap hari." Guyeon mengejek sambil memeluk Minnie
"Betul! Lagipula, hampir setiap hari kakak nggak ada dirumah. Hari ini aku nggak inget tuh, kalau kakak ada di rumah..." Sooyeon memanaskan suasana.
"kaliaaaannn~" akhirnya mereka bertiga bertengkar mulut. Pertengkaran mereka sangat dahsyat. Kakak dan adik sama saja, mulutnya setajam silet dan sepanas api. Saat situasi makin memanas, akhirnya Minnie mengambil tindakan.
"Sudahlah kalian bertiga." Minnie berusaha melerai. Kemudian dia memeluk Sooyeon dari belakang, "maaf ya?" katanya lembut. "padahal sudah lama kita tak berjumpa harusnya aku mendahulukan kalian berdua."
Sooyeon merona. Giyeon juga merona, wajah mereka jadi semerah buah apel.
"nggak apa-apa kok kak" Kata Sooyeon sambil tersipu.
"habis, kami kan kangen sekali sama kakak." Giyeon bergelayut manja di tangan Minnie.
Changmin merinding. Minnie dan adik-adiknya jadi kelihatan seperti pasangan lesby. Akhirnya, mereka berempat ngobrol di kamar Changmin.
"ngomong-ngomong, Minnie, kau betul-betul cucu presiden Perancis?" tanya Changmin penuh minat.
"aduh, kok kakak nggak tahu sih? Kak Natasya ini memang cucu presiden Perancis kok. Ya kan kak?" Sooyeon memberitahu Changmin dengan nada meremehkan.
"Ya~" Minnie dan kedua adik Changmin saling balas tersenyum.
"tapi… kenapa kau malah hidup miskin di sini?" Changmin masih penasaran.
"nanti saja kuceritakan kalau sudah sampai apartemen. Oh ya!" Minnie kemudian teringat sesuatu. "Sudah jam berapa sekarang? Ayo kita cepat pulang." Minnie menperingatkan Changmin.
"Hah? Oh iya! Ayo kalau bagitu." Changmin bergegas mengambil tas dan kunci mobil.
"Eh? Kakak sudah mau pulang?" tanya Sooyeon. Changmin menoleh, dan melihat wajah adiknya yang sedih. "padahal, kakak kan baru saja pulang."
"maaf ya? Banyak yang harus aku lakukan." Kata Changmin sendu. Sebenarnya, dia sendiripun ingin lebih banyak menghabiskan waktu dengan keluarganya. Tapi, apa boleh buat. Pekerjaannya tak bisa ditinggal seenaknya.
Setelah berkemas, Changmin dan Minnie akhirnya pergi dari rumah itu. sebelum pergi, kedua adik Changmin memandang Changmin dengan sedih. Keluarga itu… memang hal yang istimewa.
Saat Changmin hendak masuk ke mobil, Minnie menyelengkat kakinya, sehingga Changmin terpeleset dan kepalanya menghantam atap mobil. Suaranya sangat dahsyat. Dengan cepat, Changmin mengangkat kepalanya dan mengelus dahinya, berputar, lalu berteriak pada gadis manis dengan wajah tanpa dosa itu: "APA-APAAN KAU?"
"aih, sakit ya?" Minnie prihatin tanpa ekspresi.
"MEMANGNYA AKU INI APA SAMPAI-SAMPAI TAK MERASAKAN SAKIT!" Changmin menjerit
"wow, histeris" Kata Minnie datar
"KAU—"
"aih, jangan marah dong honey," kata Minnie genit.
"JIJAY!"
"ya, ya, ya" Minnie mendekati Changmin. "Minggir, BODOH!" Minnie menggeser Changmin dari pintu mobil, dan membuka pintu mobil itu.
Kesal, dengan cepat Changmin menahan tangan Minnie.
"ma, mau apa kau heh?" tanya Minnie ketus. Gadis ini melakukan perlawanan dengan tetap menarik pintu mobil.
"kau yang mau apa." Changmin ngotot. Dia menahan pintu mobil agar tetap tertutup. Pintu mobil yang malang itu sudah sedikit terbuka.
"aku mau masuk kedalam mobil." Kata Minnie dengan ceria dan manis, tapi tak mengurangi tenaganya.
"kalau mau begitu, tempat dudukmu bukan disini, tapi disebelah kiri 'kan?" Changmin ceria juga, tapi tenaganya sedikitpun tak mengendor.
Akhirnya, mereka berdua malah adu mulut sambil menahan tenaga mereka. Mereka bahkan tak peduli walaupun banyak orang yang bisik-bisik melihat tingkah mereka.
"kali ini aku mau duduk disebelah kanan, sayang" Minnie mencoba menggoyahkan Changmin.
"tapi kamu kan ga bisa nyetir, honey." Changmin nggak mau kalah.
"Bisa kok darling," Minnie tersenyum.
Changmin membalas senyum Minnie dengan senyuman yang bisa membuat banyak gadis tergila-gila.
"MINGGIR BODOH!" Minnie menginjak kaki Changmin sekuat tenaga dengan hak sepatu boot-nya. Changmin berteriak dan bergerak mundur. Dengan santai Minnie masuk kedalam mobil.
"APA-APAAN KAU HAH!" Changmin sewot sambil menggedor kaca mobil.
"'udah, 'udah, jangan b'risik… naik 'aja…" Minnie memasang seat belt. Pasrah, akhirnya Changmin masuk ke mobil sambil menggerutu. Dia memasang seatbelt dengan kesal.
"Kau memang pintar mengendarai mobil, tapi kau tidak bisa mengendarai mobil sport dengan baik. Jadi, aku 'aja yang 'ngendarain mobil ini ok?" ujar Minnie sambil mengedipkan mata lentiknya yang berwarna hitam kelam menggoda.
"TERSERAH!" Changmin ngambek.
"OK, kalo gitu, sudah diputuskan." Minnie melepaskan rem tangan, dan mobil melaju dengan sangat kencang. Changmin tersentak kebelakang. Dia menggenggam erat-erat jok mobil. Jantungnya berdebar, belum pernah dia menaiki mobil dengan kecepatan segila ini. changmin melihat Minnie dengan tatapan terkejut. Matanya terbelalak, dan mulutnya melongo lebar, dia sama sekali tak terlihat seperti artis yang sedang tenar di Asia.
Sekilas Minnie melihatnya, kemudian Minnie terkikik, "apa yang kau takutkan? Dasar bodoh!" katanya enteng. Dia tak tahu perasaan Changmin yang adrenalinnya tengah mengamuk, karena apa? Karena senyum Minnie yang mempesona atau karena dia ketakutan? Changmin memperhatikan Minnie dengan termangu. Kemudian dia mengalihkan pandangannya kedepan, dan matanya langsung terbelalak.
KETAKUTAN!
Changmin memandang ngeri tikungan yang berjarak 25 meter didepan. Saat ini mobil sport sewaan itu tengah melaju dengan kecepatan ABNORMAL. Dengan kecepatan seperti ini, sudah pasti mereka tak bisa menikung dengan selamat! Apa lagi di depan tikungan itu SUNGAI!
"Mi, min.. min.. Miniii…ii..eee…" suara Changmin bergetar dramatis.
"ya?" tanya Minnie. Changmin menengok ke arah Minnie. Bukannya takut, Minnie malah tersenyum jahil dan menantang. Sinar matanya begitu pasti, tak ada satupun keraguan! Bola matanya bahkan tak bergetar!
"Minnie, demi hidupku, karirku, wajahku, dan orangtuaku, kumohon berhentilah…" kata Changmin dengan susah payah setelah menelan ludah lima kali.
"waduh Changmin, kau ini bilang apa sih? Biar kuajarkan bagaimana caranya jadi lelaki sejati!" Minnie tertawa seperti mak lampir.
Tikungan sudah didepan mata. "MINNIEEE!" Minnie sama sekali tidak mendengar, lebih tepatnya pura-pura nggak dengar.
Saat ini jalanan licin karena salju, nggak mungkin ada manusia yang selamat menikung dengan kecepatan gila seperti ini! ah… habislah sudah… bye-bye masa mudaku yang indah… by Max Changmin… Changmin membuat wasiat dalam hati. Dia merasa, kalau dia mati nanti, mungkin dia akan reinkarnasi jadi ikan di sungai itu.
"MULAAAAAIIIIIIII!" Minnie membanting setir ke arah kanan, dan dengan cepat membantingnya lagi ke kiri. Badan Changmin terbanting ke kanan dan ke kiri, kepalanya bahkan terjeduk kaca. Ban mobil berdecit-decit dramatis, sepertinya mobil itu berputar-putar. Changmin menutup rapat matanya. Kemudian, saat dirasa laju mobil kembali lurus, Changmin membuka matanya dan mendapati kalau mereka masih hidup. Minnie hanya tertawa terbahak-bahak di sebelah Changmin yang jantungnya nyaris keluar dari mulutnya.
"DRIFT YANG KEREN KAN?" Minnie tertawa.
"JANGAN BERCANDA!" changmin gemetaran. Badannya terasa lemas. Demi Tuhan! Apan-apan itu tadi?
"KAU NGGAK TAKUT MATI YA?" pekik Changmin.
Minnie tersenyum. Senyum misterius, dingin, mengandung banyak makna dan misteri. "tidak tuh." Katanya enteng, "aku kan nggak bisa mati."
Kata-kata itu membuat Changmin terdiam. Apa katanya tadi? Mana mungkin ada manusia yang ngggak bisa mati. Minnie memandang Changmin dengan tatapan mata jahil seperti biasa, "apa sih? Aku nggak serius bego! Kyahahahaahhahahaa!" Minnie tertawa terbahak-bahak.
Changmin kesal. Dia merasa dipermainkan. Akhirnya dia diam saja. Wajahnya kelihatan tenang, padahal jantungnya berkali-kali mencelos, dan perutnya serasa melilit saat Minnie melesat melewati truk-truk super besar dengan kecepatan tinggi. Tapi, kemudian, dia sadar. Jalan yang dilewati Minnie berbeda dengan jalan yang selama ini Changmin lewati.
"Mi, Minnie, kita mo kemana?" tanya Changmin.
"lho? Katanya kau mau DVD limited edition? Aku sudah memesankannya untukmu." Kata Minnie terheran-heran.
"heh? Bukannya dianatar ke apartemen?" tanya Changmin bingung.
Minnie tertawa, "ngomong apa sih kau? Aku kan sudah bilang soal si penjual, ya kan?" kata Minnie sambil menaikkan satu alisnya.
"nggak, kau nggak bilang apa-apa padaku."
"gitu? Ya sudah, nanti kau juga tahu sendiri. Satu peringatan untukmu Shim Changmin…" Changmin menunggu kelanjutan kata-kata Minnie.
"ANEH" kata Minnie dengan serius.
KAU ITU YANG ANEH! Umpat Changmin dalam hati.
Tapi, apa yang dikatakan Minnie ada benarnya. Memang ANEH. Baru sampai gerbang saja sudah terasa ke-ANEHAN-nya. Rumahnya seperti rumah hantu. Gerbangnya BUESAR SEKUALE dan amat tak biasa. Halamannya LUAS SEKUALE tapi tanamannya tak terurus dan banyak tanaman liarnya. Di tengah taman ada bekas pancuran dengan patung malaikat mungil yang tengah memainkan harpa sebagai hiasan di puncak pancuran itu. Tapi pancuran itu sudah rusak karena tak terurus. Wajah imut malaikat itu berubah horror dan bisa menyebabkan serangan jantung mendadak kalau dilihat saat tengah malam.
Gerbang BUESAR SEKUALE itu juga, berderit-derit mengerikan saat terbuka. Yang membut Changmin heran, segala sesuatu di rumah itu TUA dan KUNO tapi ada intercom di depan gerbang dan gerbang itu bisa terbuka secara otomatis. Tapi, yah, yang membuat Changmin lebih kagum lagi itu adalah nama 'FITZEGARLD' hanya dengan mengucapkan nama itu di intercom, detik berikutnya gerbang langsung terbuka lebar. Changmin nyaris melompat sampai terjeduk atap mobil saat mendengar derit mengerikan gerbang BUESAR SEKUALE itu.
Saat Minnie menjalankan mobilnya melewati rumah utama untuk parkir, Changmin terbengong-bengong melihat pintu utama rumah angker itu. Pintu utama rumah itu benar-benar hebat. Terbuat dari kayu pilihan yang sangat kuat. Pintu itu sudah termakan usia, tapi ukirannya sama sekali tak pudar. Tapi, horornya itu lho… rumah ini benar-benar mirip kayak setting cerita horror.
Yah, ada satu kesamaan yang Changmin temukan dari rumah ini. Semuanya, segalanya, apapun yang ada dirumah ini selalu BUESAR SEKUALE! Changmin jadi penasaran apa si pemilik rumah ini badannya segede kingkong?
Setelah memarkir mobil, mereka berdua menghadap pintu utama yang BUESAR SEKUALE itu. Ukirannya cantik sekali, kayunya juga tampak mahal, pegangannya berbalut kuningan hingga nampak seperti emas, tapi sayang, sudah mulai termakan usia. Warnanya sudah mulai kusam. Pilar-pilar yang menghiasi tampilan depan rumah ini juga BUESAR dan indah, tapi sudah dililit oleh tanaman menjalar.
Minnie menekan bel rumah yang lebih tepat di sebut istana itu. suara bel-nya nyaring sekali, tapi jelek. Suaranya parau sekali, seperti suara kakek-kakek yang sakit radang tenggorokan akut. perlahan, pintu rumah itu terbuka. Sebuah mata berkilauan terlihat dari sela-sela pintu yang hanya terbuka sedikit itu. Changmin bergidik. Mata itu sangat menyeramkan, berwarna semerah darah. Mata itu melihat Minnie sebentar, kemudian beralih pada Changmin. Mata itu memperhatikan Changmin dari atas kebawah. Setelah puas, pintupun dibuka perlahan. Pintu itu juga berderit-derit mengerikan seperti gerbang depan rumah itu.
Setelah pintu terbuka, tampaklah seorang pelayan, gadis muda, dengan wajah mungil tanpa ekspresi, kulit sebening kaca, sama beningnya seperti Minnie.
"silahkan masuk, nona Fitzegarld." Kata pelayan itu sambil mengayunkan tangannya ke dalam rumah.
Dengan angkuhnya Minnie berjalan kedalam rumah itu. Rumah itu temaram dan sama menakutkannya dengan halamannya, tapi lantainya berselimutkan marmer kelas atas, Changmin ketakutan menginjak lantai itu dengan sepatunya yang basah karena salju. Changmin terheran-heran melihat Minnie santai saja, padahal dia sudah menginjak-injak lantai super mahal itu dengan kejam.
Pelayan itu, sesuai sekali dengan rumah hantu ini. seragamnya adalah gaun hitam kelam, dengan celemek berenda warna abu-abu. Dasinya, dasi bertumpuk dan dihiasi dengan permata kelam berkilauan. Pelayan itu cantik sekali, walaupun tak secantik Minnie. Tapi, ekspresinya tak ada, menyeramkan sekali!
Sedangkan rumah hantu ini, seperti kekurangan listrik saja! Lampunya mungkin sudah terlampau tua, cahayanya redup sekali, sehingga suasana rumah itu begitu temaram. Padahal, sebenarnya rumah itu mewah. Disana-sini banyak barang-barang antic dengan harga yang tak terjangkau oleh kalangan biasa, dipajang seolah-olah itu adalah benda murah. Lampunya juga lampu antic –walaupun cahayanya kurang—. Segala sesuatu yang harusnya indah, berubah horror. Misalnya, gelas-gelas kaca yang dipajang di lemari besar, sangat indah, berkilauan dan terawat. Tapi dirumah itu–menurut Changmin— malah terlihat seperti gelas yang dipakai vampire untuk minum darah manusia. Lukisan replica 'MONALISA' yang sedang tersenyum dengan anggunnya, terlihat menyeringai dibawah cahaya temaram. Belum lagi patung-patung mahal yang berjejer di beberapa lorong. Changmin nyaris berteriak melihat pajangan baju zirah abad pertengahan yang tengah memegang pedang. Pajangan itu terlihat hidup dan sepertinya tak segan-segan menggorok leher Changmin dengan pedangnya kalau Changmin mencuri debu dari rumah itu.
Setelah melewati beberapa lorong berhiaskan lukisan antic yang mengerikan—bahkan Changmin bisa melihat lukisan 'SCREAM' yang membuatnya begidik (a/n: kalau ga tau lukisan 'SCREAM', cari di google ya? ^_^)— mereka akhirnya sampai di depan pintu besar yang kayunya masih bagus. Si pelayan membuka pintu itu. Changmin sedikit kecewa karena tak mendengar suara derit-derit mengerikan yang sudah mulai terbiasa didengarnya.
Dibalik pintu itu, terdapat sebuah ruangan yang luar biasa besar! Ada beberapa sofa empuk yang terlihat nyaman berwarna merah marun dari bahan beludru. Ditengah-tengah kumpulan sofa itu, terdapat meja kaca yang indah, dan ada bunga tulip berwarna biru muda yang indah didalam pot keramik mengilap yang kelihatannya sangat mahal itu. wallpaper ruangan itupun sangat menawan, tak dapat dijelaskan dengan kata-kata. Langit-langit ruangan itu berbentuk kubah, dan ada kaca disana, sehingga sinar matahari bisa masuk. Changmin akhirnya menyadari alasan ketidak adanya lampu diruangan mewah ini. Di depan sofa-sofa yang terletak dengan anggunnya, terdapat tangga elegan yang melingkar dengan jeruji tangga berukirkan bunga merambat.
"Silahkan duduk, tuan." Kata si pelayan menghancurkan lamunan Changmin yang tengah memandang dengan termangu ruangan indah itu.
Tanpa bisa berhenti menatap setiap inci dari ruangan indah itu, Changmin duduk di sofa merah yang empuk nan nyaman itu dengan kikuk.
"Saya sudah memberi tahu tuan besar bahwa anda ada disini nona, sebentar lagi tuan akan turun. Mau saya buatkan minuman?" tanya si pelayan dengan datar.
"ng, nggak 'usah…" kata Changmin dengan senyum yang dipaksakan. Jangan-jangan kami bakal diracunin. Changmin membatin sambil memperhatikan si pelayan.
"tolong ya, aku mau minuman yang hangat. Cokelat panas mungkin enak. Buatkan dua untuk aku dan dia." Kata Minnie santai sambil menunjuk Changmin dengan jempolnya. Changmin benar-benar tak percaya dengan apa yang Minnie katakan. Setelah si pelayan pergi, Changmin langsung mengomel, "Hey, Minnie! Nggak apa-apa tuh?"
"apanya?" tanya Minnie bingung.
"duh, aku takut dia bakal ngeracunin kita."
Terkejut dengan celetukan Changmin, Minnie terkekeh. "nggak mungkinlah, DJ nggak mungkin membiarkan siapapun membunuhku." Kata Minnie dengan percaya diri.
"DJ? Siapa?" Changmin heran.
"ahhh… dia… temanku." Kata Minnie. Nadanya misterius. Teman? Teman seperti apa? Dia laki-laki? Changmin merasa galau melihat pipi Minnie bersemu menyebut nama temannya itu.
Lama juga mereka berdua disuruh menunggu. Sudah sepuluh menit sejak cokelat panas yang nikmat dihidangkan, dan masih tak ada tanda-tanda dari si tuan rumah. Sepuluh menit kemudian, munculah seorang pria yang sama sekali tidak cocok dengan rumah horror ini.
Si tuan rumah berwajah asia, rambutnya hitam legam, begitu pula kulitnya. Rambut hitamnya panjang dan awut-awutan, diikat ekor kuda dibawah tengkuknya. Dia menuruni tangga dengan gontai dengan hanya menggunakan piyama tipis dan ditutupi dengan mantel merah. Sesekali Changmin bisa melihat sesuatu berkilat-kilat di telinga dan leher 'makhluk' itu. Anting dan kalung perak. Antingnya banyak sekali dikupingnya. Ada yang tindik permanent sampai giwang yang bergantung-gantung. Sekali melihatnya, Changmin tahu orang ini pasti hidup dengan segala kemewahan. Selagi dia tidur, uang terus mengalir ke dompetnya. Dan lagi, hanya orang ini yang bercahaya di rumah temaram ini.
Dia menuruni tangga sambil menguap beberapa kali. Kemudian, di tengah-tengah, dia berhenti dan memandang Changmin dengan malas. Dan saat matanya menangkap sosok Minnie yang sedang duduk dengan anggunnya, dia terbelalak, ekspresinya berubah bahagia bercampur rindu. "MINNIE!" teriaknya.
Heh, sebentar, apa katanya tadi? 'MINNIE'? , Changmin mengingat perkataan Minnie yang terngiang di telinganya.
"dengarkan aku Changmin, di dunia ini, hanya ada 2 jenis manusia yang aku perbolehkan memanggil nama panggilanku." Minnie mengangkat dua jarinya. "yang pertama, adalah orang yang aku percaya. Dan yang kedua adalah orang yang aku manfaatkan"
Changmin masih ingat jelas dengan perkataan Minnie saat dikamarnya. Berarti hanya ada dua kemungkinan, dia orang yang dimanfaatkan Minnie atau orang yang dipercaya Minnie.
"MINNIE!" kali ini dia berlari turun. Minnie pun bangkit dari tempat duduknya.
"DJ!" pekiknya riang.
Kemudian mereka saling berpelukan mesra. "Minnie! Dasar jelek kamu ya! Kenapa baru sekarang mengunjungiku?" DJ mempererat pelukannya.
"Aduh, dasar bodoh! Mana mungkin aku kuat ke rumah suram-mu tiap hari!" Minnie tertawa.
"setidaknya, kunjungilah aku saat pesta malam natal!" DJ menggosokkan pipinya di dahi Minnie.
"aahh~ aku kan sibuk!" Minnie menggosokkan dahinya di pipi DJ. Changmin hanya bisa melongo melihat tingkah mereka yang begitu intim seperti sepasang kekasih. Apa si DJ itu kekasih Minnie? Changmin merasa ingin melerai pelukan mesra si DJ itu dari Minnie.
"Minnie, aku kangeennn~" kelihatannya si DJ gemas. Pelukannya semakin erat.
"aku jugaaaa~" Minnie pun mempererat pelukannya. "ah ya," Changmin lega melihat Minnie menolak pelukan DJ –dengan halus— "yang kupesan sudah ada?" tanya Minnie, menjauh dari jangkauan tangan DJ. Dilihat-lihat, si DJ ini tinggi juga, setinggi Changmin?
"yaa… ada, seben— ng? siapa kamu?" tanya DJ pada Changmin seolah-olah Changmin adalah–menurut Changmin— pengemis menjijikan yang tak boleh masuk ke dalam rumahnya
"aku Changmin, PACAR Minnie." Kata Changmin dengan nada tulus namun menekankan kata-kata 'PACAR' yang –menurut Changmin—terdengar indah
"Pacarrr~?" DJ memicingkan matanya penuh curiga.
"IYA!" Changmin mendengus.
"Benar DJ! Ini pacarku Shim Changmin! Tampan kaan~?" kata Minnie genit.
DJ menatap Minnie. Tampaknya dia tak percaya dengan kelakuan Minnie yang centil. Changmin tidak terlalu memperhatikan sehingga dia tak sadar. Minnie memberikan tatapan dingin menakutkan pada DJ dan mengangguk ke arah Changmin. Terkejut, DJ melirik Changmin dan detik berikutnya menatap Minnie, komunikasi lewat pandangan mata yang sekejap itu langsung dimengerti oleh DJ.
"waah, iya, TAMPAN bangeett~!" detik berikutnya DJ langsung membalas kata-kata Minnie dengan sikap ceria untuk mengimbangi Minnie.
Mendengar itu, Changmin memalingkan mukanya. Wajahnya terasa panas membara.
"Hey, DJ, 'udah deh, jangan lama-lama mana pesenan ku?" tanya Minnie dengan bahasa slank nya yang kental.
"ok, ok… sebentar ya?"
DJ pergi meninggalkan Minnie dan Changmin dengan gontai. Changmin menatap Minnie, dan Minnie menatapnya juga dengan malas.
"hei." Changmin sudah tak dapat lagi menahan rasa penasarannya. Motto hidupnya yang sekarang adalah: 'MUNTAHKAN RASA PENASARANMU SEKARANG JUGA!' setelah menelan ludah dengan susah payah, Changmin melanjutkan, "DJ itu, orang yang kau manfaatkan?" Minnie terdiam. Ekspresinya menunjukkan kalau dia shock berat mendengar celetukan garing Changmin.
"Kenapa menurutmu begitu?" tanya Minnie sambil menyangga wajahnya dengan punggung tangan kanan.
"eehh… waktu itu, kau menyebutkan dua tipe manusia yang kau ijinkan menyebut nama panggilanmu kan? Dan.. dan…" suara Changmin terdengar seperti merajuk. Suara seperti inilah yang membuat Jaejoong gemas dan langsung mencubit pipi keras Changmin. "dia memanggil nama panggilan mu dengan entengnya."
Changmin berhenti, dia berharap Minnie akan segera merespon kalimatnya. Tapi ternyata, Minnie hanya menatap Changmin sambil membisu. Dia menunggu kelanjutan kata-kata Changmin. Ah, tidak, dia sengaja diam! Tatapan matanya seolah-olah mengatakan: 'la~lu?'
"yah, aku, ehm, pe, penasaran aja…" Changmin akhirnya meladeni jebakan Minnie. Puas, Minnie membuka mulutnya: "salah!" kata Minnie. Suaranya rendah dan terkesan dingin, sedangkan ekspresinya menggelap dan sulit dijelaskan.
"dia orang yang aku percayai." Kata Minnie sambil menghujamkan tatapannya ke mata Changmin.
Mendengar itu, Changmin bagaikan tersambar petir yang dahsyat. Rasa kecewa menyergap dirinya. Changmin tidak mengerti. Kenapa dia merasa kecewa? Apa yang harus ia kecewakan?
Lima menit kemudian, DJ datang dan memecahkan kebisuan di antara Minnie dan Changmin. Lelaki asia yang tampan dan eksotis itu memberikan sebuah kantong kertas kecil berwarna cokelat pada Changmin. Dengan bingung, Changmin mengambil kantong kertas itu, "untukku?" tanyanya.
DJ melongo, "tentulah! Minnie bilang di e-mailnya bahwa pesanan itu untuk TEMANNYA, jadi yang dimaksud TEMANNYA pasti KAU-kan?"
Changmin melihat kilat jahil di mata DJ. Sial! Cowok slenge'an itu menekankan kata 'TEMAN' di kalimatnya sambil memandang Changmin dengan remeh, seolah-olah Changmin itu –menurut Changmin— banci! "yah…" Changmin mempersiapkan bom balasan, "TEMAN SPESIAL yang dimaksudnya…" sambil memandang dengan pandangan remeh.
Bukannya marah, DJ malah cengengesan. Changmin jadi malu. Setelah itu, DJ dan Minnie mengobrol sebentar, terkadang mereka berdua menanyakan pendapat Changmin, sampai akhirnya mereka menyampaikan salam perpisahan.
DJ dan pelayannya mengantar mereka ke mobil. Dengan gaya gentleman sejati, dia membukakan pintu untuk Minnie.
"sudah ya? Nanti kalau ada waktu aku pasti menghubungimu." Kata Minnie pada DJ.
"ok…" DJ membuat tanda 'ok' di tangannya –membuat lingkaran kecil dari jempol dan telunjuk yang ujungnya dipertemukan, dan tiga sisa jari yang lain di angkat— "ah, Minnie, tahun depan aku akan menikah… masih rencana sih, tapi kau harus datang, ok?"
Changmin kaget ketika Minnie berseru heran, "MENIKAH?" Minnie melongo, "dengan siapa? Aku nggak pernah dengar kalau kau punya tuanangan. Punya pacar saja sudah mujizat untukmu!"
"aduh, teganya, masa' aku yang ganteng gini nggak punya pacar?" DJ mengeluarkan suara seksinya.
"yah, aku nggak bisa ngebayangin aja…" Minnie menurunkan setengah kelopak matanya. "Jadi, siapa orangnya?"
DJ cengar-cengir. "Masa' kamu nggak tau, siapa cewek yang paling deket sama aku?"
Changmin dan Minnie sama-sama terkejut, kemudian mereka berseru, "MAKSUDMU AKU?"
"MAKSUDMU DIA?" Changmin menuding Minnie. Entah kenapa, Changmin merasa bahwa Minnie adalah wanita yang paling dekat dengan DJ. Bagaimana tidak? DJ memang memiliki pesona dan karisma yang bisa membuat gadis tergila-gila, tapi, siapa yang mau jadi pacar orang serampangan macam dia? Kalau Changmin adalah wanita, maaf-maaf saja, dia NGGAK SUDI! Lihat saja penampilannya, dia masih pakai piama dan mantel tidur, rambutnya acak-acakan, dan matanya masih sayu karena mengantuk. Padahal ada tamu dihadapannya sedari tadi, tapi dia sama sekali tidak berusaha merapikan penampilannya. Kalau memang ada perempuan yang mau menikahinya, perempuan itu tidak diragukan lagi… dia butuh PENCERAHAN! Si DJ itu sudah beruntung bisa memiliki gadis SECANTIK Minnie sebagai sahabat wanitanya. Setidaknya, ada wanita yang mau mendekatinya.
"wah, wah, kompak sekali kalian." DJ masih nyengir. "tenang saja, bukan Minnie yang kumaksud. Jadi, jangan cemburu, bocah." DJ memberikan cengiran iseng pada Changmin. Sebelum Changmin protes, DJ melanjutkan, "yang kumaksud dia." DJ menuding seseorang menggunakan ibu jarinya pada seseorang di belakangnya.
Minnie dan Changmin sedikit memiringkan kepala untuk melihat lebih jelas siapa orang yang dimaksud cowok serampangan itu. Begitu melihat sosok yang di tunjuk DJ sebagai pasangan hidupnya, Changmin dan Minnie langsung berseru norak sambil menuding orang itu, "DIAAAAAA?"
Cengiran DJ makin melebar, "yup, cantikkan? Wah, sudah jam segini sudah waktunya aku buka toko. Pergilah kalian berdua, daaaah~" DJ melambai-lambaikan tangan cokelatnya. Changmin terus memperhatikan DJ dan tunangannya yang masih berdiri mematung dibelakang DJ. Dia pasti syok, duga Changmin.
Saat mobil yang dikendarai Minnie itu sudah memasuki jalan tol, barulah akhirnya Changmin angkat suara setelah sekian lama membisu, "aku nggak nyangka… sama sekali nggak nyangka…"
"ng, aku juga…" Minnie menyahut, "ternyata, yang dimaksud cecunguk itu…"
"PELAYANNYA SENDIRI…" Changmin memandang keluar jendela, mencoba menerawang langit biru yang tampak memesona.
Jaejoong bangkit dari sofa tempatnya duduk, dia berjalan lurus, kemudian balik lagi ke sofa dan duduk di sana. Baru lima detik dia meletakkan bokongnya di sofa, dia mengangkat bokongnya lagi dan pergi menuju kulkas. Dia melongok ke dalam kulkas dan mencari-cari sesuatu, kemudian duduk lagi tanpa hasil. Lima detik berikutnya, dia mengangkat tubuhnya lagi, hendak melihat jam. Jam empat sore.
"JAM EMPAT SORE!" pekik Jaejoong sambil mengangkat kedua tangannya tinggi keatas dengan cepat. "kalian lihat? Sudah jam empat dan mereka berdua belum kembali! YUNHO!"
Yunho tersentak kaget. "y—ya?" sebetulnya, dari tadi Yunho ada di sofa, dia capek melihat Jaejoong yang mondar-mandir nggak jelas sejak satu jam yang lalu.
"kau ingat apa yang mereka katakan sebelum pergi ke rumah Changmin?" nada Jaejoong berat, membuat Junsu dan Yoochun yang sedang main game merinding ketakutan.
"y—yah, mereka bilang, 'kami akan sampai di apartemen sekitar jam 3 sore'"
"ARRGGHHH~! Trus apa yang mereka lakukan? Sudah satu jam berlalu dari janji mereka! Kenapa mereka nggak sampai-sampai siiihh!"
"sabar saja Jae, ntar juga mereka pasti sampai."
"Tapi kapan Yun? Aku sudah SANGAT PENASARAN, aku HARUS MENGINTEROGASI mereka berdua!"
Yunho diam saja. Dia juga sudah sangat penasaran, mulutnya gatal ingin bertanya macam-macam.
Kemarin, setengah jam setelah dia dan Jaejoong saling bertukar spekulasi tentang Minnie, Yoochun dan Junsu mendobrak pintu apartemen dengan kelabakan seolah-olah mereka sedang dikejar-kejar –bukan hantu, ada yang lebih menyeramkan daripada hantu bagi mereka— RIBUAN FANS.
Dua orang gila itu rebutan mengemukakan pendapat mereka seperti orang kesetanan sampai akhirnya dibentak Yunho supaya diam. Sekarang, mereka tengah menunggu Changmin dan— ah tidak, lebih tepatnya mereka sedang menunggu Minnie SAJA. Sudah beberapa jam mereka tidak memikirkan Changmin yang sedang pergi bersama Minnie.
Tiba-tiba suara ketukan dipintu membuat Jaejoong langsung melesat seperti peluru ke arah pintu. Begitu cepatnya Jaejoong bergerak, sampai dia hampir terantuk pintu apartemen. Tanpa bertanya siapa yang ada di depan pintu, lelaki rupawan itu langsung membuka pintu dengan cepat. Begitu mendapatkan sesosok target yang diinginkannya, yaitu Minnie –yang saat itu baru saja menggerakkan bola matanya ke atas untuk melihat siapa yang membuka pintu— Jaejoong langsung menarik gadis itu masuk kedalam, membanting pintu hingga tertutup, dan menguncinya. Tanpa sadar, dia telah meninggalkan Changmin yang sangking terkejutnya sampai bengong di depan pintu.
"Jae, Chang—"
"JELASKAN! APA BENAR KAU CUCU PRESIDEN PERANCIS YANG PARLENTE ITU?" Jaejoong langsung nyerocos, membuat Minnie gugup.
"i—itu akan kujelaskan nanti, tapi Chang—"
"NANTI?" Jaejoong memutar bola matanya, "mana bisa aku menunggu lagi? Aku sudah nyaris gila karena KAU! JELASKAN SEKARANG JUGA!" Jaejoong mengguncang tubuh Minnie dengan tangan kekarnya.
"aku akan menjelaskannya, Jae, tapi Chang—"
"KALAU BEGITU KENAPA HARUS MENUNGGU NANTI?"
"soalnya Chang—"
"LANGSUNG SAJA KAU JELASKAN SEKARANG!"
"makanya, Changm—"
"JANGAN BERTELE-TELE LANG— ummpphh…" Minnie membekap mulut Jaejoong yang dari tadi mangap-mangap terus seperti ikan mas koki kekurangan oksigen.
"AKAN KUJELASKAAAANN!" Minnie memekik, sambil mengumpat lirih. "kalau mau kujelaskan, dengarkan aku dulu! Changmin masih ada di luar, suruh dia masuk dulu! MENGERTI?" Jaejoong langsung ngangguk-ngangguk seperti orang utan diberi pisang.
Setelah Changmin masuk dengan wajah cemberut, Minnie mulai menjelaskan tentang dirinya sendiri. Dia menjelaskan dengan jelas, seperti saat dia menjelaskan ke Changmin, agar Jaejoong dan antek-anteknya mengerti.
"oohh… begitu…" komentar Junsu, sedetik setelah Minnie mengakhiri ceritanya. "Kalau kau sudah kenal dengan Changmin sejak lama, kenapa kau pura-pura tidak kenal dengannya waktu kalian pertama kali bertemu kembali di gang kecil waktu itu?"
"oh, waktu itu…" Minnie kembali mengenang peristiwa sewaktu dia mengira Changmin adalah pemerkosa, "Jelaslah, aku lupa padanya. Aku ingat orangnya, tapi, aku agak lupa wajahnya."
"Tapi, kau juga biasa aja tuh waktu denger nama Changmin." Ujar Yoochun. Dia merasa, gadis ini setengah berbohong tentang masa lalunya. Saat menceritakan masa lalunya, suara Minnie begitu enteng, sama sekali tak ada beban, itu sedikit aneh bagi Yoochun. "Kenapa?"
"ah, waktu itu, aku kira dia SHIM CHANGMIN yang lain, waktu aku bertemu ayahnya, barulah aku yakin kalau itu dia!" Minnie terkekeh.
"Lalu," Junsu kembali akan meluncurkan sesuatu dari mulutnya, "Kenapa Changmin lupa sama sekali denganmu?"
"Nah, itu yang aku bingung. Apa dia terlalu sibuk dengan debutnya sebagai artis, atau dia sama sekali nggak memandangku? Aku juga nggak tahu." Minnie mengangkat pundaknya.
"Mungkin Changmin kebanyakan belajar." Celetuk Jaejoong.
"Bisa jadi tuh," Sambung Yunho, "biasanya, orang pinter itu, ingatannya tentang hal-hal di luar pelajarannya yang sedang dipelajarinya pasti akan dilupakan."
"Aku nggak gitu kok! Aku tetap ingat ibuku nyuruh aku belanja apa walalupun dia memberitahuku sejam yang lalu saat aku sedang belajar!" protes Changmin dengan wajah cemberut.
"iya… iya… jangan marah dong…"
"tunggu dulu," Yunho menyela pembicaraan. "kalau kau anak orang kaya, kenapa kau ketakutan masuk butik mahal? Aku dengar ceritanya dari Jaejoong waktu itu. Harusnya kau sudah terbiasa memasuki tempat-tempat berkelas dan baju-baju bermerk kan?"
"oh, itu…" Minnie mengenang kembali bagaimana dia mati-matian menolak memasuki sebuah butik yang ditunjuk Jaejoong. "kalau masuk ke tempat-tempat berkelas, memang sering. Tapi, aku nggak pernah pakai baju mahal!"
"memangnya baju yang kau pakai darimana?" Tanya Junsu menggantikan Yunho.
"dikasih kakakku. Dia pewaris perusahaan raksasa FITZEGARLD CORPORATION bagian fashion."
"apa merk baju itu?" Jaejoong ikut-ikutan.
"tunggu sebentar, apa namanya? Ah, ya! 'FITZ'" kata Minnie riang, "itu merk bajunya. Baju-baju yang dibuat kakakku selalu indah, aku senang memakainya!"
"'FITZ'?" Yoochun membeo.
Changmin sama sekali tidak mengerti fashion, dia bahkan tak mengerti kenapa ada baju yang harganya mahal sekali, padahal tujuan baju itu sama : menutupi tubuh telanjang.
"ada masalah apa dengan merk baju itu?" tanya Changmin seolah-olah itu hal yang tak penting, dan memang begitu menurutnya.
"dasar bodoh!" Jaejoong memaki, "itu merk baju termahal yang pernah aku dengar! Sedikit sekali artis beruntung yang bisa memakai baju itu, bisa mengiklankannya saja sudah bisa membuat kita terbang melayang. Bagaimana bisa kau bilang itu baju murah Minnie?"
"eh? Mahal ya? A… aku nggak tahu. Lagipula, baju itu dijahit sendiri oleh kakakku, jadi kurasa harganya tidak mahal." Minnie memelas.
"apalagi dijahit tangan oleh pemilik perusahaan! Harganya pasti mencapai jutaan Euro!"
"sudah… sudah…oh, ya, aku baru ingat," Yoochun menunjuk dua buah kardus besar yang ada di ruang keluarga. "Tadi, itu dikirim kemari. Katanya untuk 'NONA NATASYA', berarti, itu
untukmu kan Minnie?"
Mengikuti telunjuk Yoochun, Minnie memperhatikan dua kardus besar itu. "Kalau mereka bilang untuk 'Natasya', bisa jadi itu memang untukku. Kalian sudah membukanya?"
"Belum." Jawab Junsu, "tadinya sih, pengen kubuka, tapi Youngwoonhi hyung (Jaejoong) bilang, tunggu saja sampai Minnie pulang."
Changmin langsung menuju ke dua kardus itu dan mengangkat salah satunya. "Berat." Komentarnya.
Minnie mendatangi Changmin, diikuti oleh empat orang lainnya yang penasaran. "Hmm… kita coba buka saja…" Minnie memberikan usul.
"boleh juga tuh, tapi… emm…" Yunho berfikir keras. "Anu, Minnie, sebagai cucu Presiden Perancis, bisanya orang yang mengirim kardus-kardus kayak gini, isinya apa?"
"Hmm… aku belum pernah terima kiriman berupa kardus. Kalaupun ada, isinya bom ukuran kecil, surat kaleng, dan masih banyak lagi…" Jawab Minnie enteng.
"kalau gitu ga usah dibuka langsung buang aja." Ujar Jaejoong.
"ah, nggak apa-apa kok. Lagian, aku tinggal di Korea sambil menyembunyikan status sosialku kok, jadi, baik musuh maupun sahabat nggak ada yang tahu kalau aku ada disini. Jadi, isinya pasti bukan bom atau yang lain." Minnie mulai membuka lakban yang ada di kardus tersebut.
Changmin membantu Minnie, sedangkan Yoochun dan Junsu membuka kardus yang satunya lagi. Ternyata, isi kardus yang Minnie dan Changmin buka berisi buku pelajaran Minnie lengkap dengan raportnya sewaktu Minnie masih sekolah di Korea. Sedangkan isi kardus yang dibuka oleh Junsu dan Yoochun, berisi banyak piala, piagam, dan masih banyak penghargaan yang lainnya. Yoochun bersiul kagum melihat isi kardus tersebut.
"Siapa yang mengirimkan ini?" Tanya Jaejoong setelah menghembuskan nafas lega. Dia ketakutan kalau-kalau isi kardus itu memang bom atom.
"sepertinya…" Minnie akhirnya membuka mulutnya setelah tercengang selama satu menit, "pemilik apartemen yang lama yang mengirimkan barang-barangku ini."
"Dari mana dia tahu alamat apartemen ini?" tanya Changmin sambil membolak-balik raport Minnie dan mendesah kagum.
"yah, macam-macam, bisa jadi dia nanya sama 'Penjual Informasi'"
"'Penjual informasi'?" Junsu bingung. "apa itu?"
"Lho? Kalian nggak tahu Penjual Informasi?" Minnie heran.
Keempat pria dewasa itu menggelengkan kepala mereka. "waduh, susah kalau begitu." Lanjut Minnie, "yah, sesuai namanya, Penjual Informasi ya penjual informasi. Ngerti?"
Tak ada yang menjawab. Mereka berempat tak mengerti apa maksud Minnie. Penjual Informasi? Maksudnya orang yang menjual informasi? Tapi, informasi macam apa? Ada banyak tipe informasi. Lalu? Apa yang dimaksud dengan 'menjual'?
"daripada itu," Changmin berdeham-deham, "mau ditaruh dimana ini semua?" Changmin menunjuk dia kardus yang isinya penuh dan berat.
"hmm… buang aja." Kata Minnie enteng.
"BUANG?" Changmin membeo.
"ya iyalah, mau kalian taruh dimana semua buku-buku dan piala-piala nggak penting itu? apartemen kalian terlalu sempit!" Minnie menunjuk-nunjuk dua kardus yang isinya sudah berantakan.
"tapi… tapi… tapi 'kan sayang." Changmin mengelus salah satu piala seakan-akan benda itu miliknya.
"benar Minnie, ini 'kan hasil perjuanganmu, kamu nggak boleh membuangnya semudah itu." Yoochun membela Changmin.
"hmmm…. Sulit juga… ya sudah, kita pikirkan saja besok pagi, hari ini aku capek banget. Jam berapa sekarang?" desah Minnie.
"Jam lima sore," jawab Junsu. "Makan malam masih lama."
"Kalau gitu, aku boleh nyantai di kamar kalian sebentar?" tanya Minnie, "aku Cuma kepingin berbaring sebentar, kepalaku rasanya agak berat." Minnie buru-buru menambahkan ketika melihat kelima pria di depannya merona.
"yah, terserah kau saja, berbaringlah di salah satu kasur kami." Jawab Yunho setelah ditatap dengan tatapan menunggu jawaban dari keempat temannya. Mereka selalu begitu saat mengambil keputusan. Diam saja dan menatapnya seperti itu sampai Yunho menjawab. Terus terang, hal itu merupakan tekanan bagi Yunho. Terkadang, ia bingung harus menjawab apa karena teman-temannya hanya menatapnya saja.
"makasih," ujar Minne yang dibalas dengan terangkatnya bahu Yunho.
Setelah Minnie berlalu, Changmin menceritakan keanehan yang dihadapinya saat pulang ke rumahnya pada Yoochun—yang saat itu sedang senggang—dimulai dari betapa akrabnya Minnie dengan orang tua dan saudaranya, dan ketidak ingatan Changmin akan Minnie.
"Dulu kau lebih sering belajar daripada main?" Tanya Yoochun menyelidik.
"emm… yah… begitulah…" kata Changmin sambil mengingat-ingat.
"Kau hapal nama-nama teman sekelas mu?"
"eh? Enggak."
"Pantes aja…" Yoochun menopang kepalanya dengan malas.
"Ke… kenapa?" Changmin kebingungan.
"Kau lebih sering belajar daripada main, terus, kau nggak hapal nama-nama temen sekelas mu, mungkin saja kau lupa lantaran dua hal itu." Jelas Yoochun.
"kalau begitu, aku masih bisa terima. Tapi masalahnya, Minnie itu KELUAR MASUK rumahku setiap hari. Masakan aku bisa LUPA?" Changmin ngotot.
"hmm, sulit juga ya? Mungkin kau menganggap dia nggak penting?"
"NGGAK PENTING?" Changmin membeo dan memutar bola matanya keatas. "apanya yang NGGAK PENTING? Adik-adikku bilang, terkadang aku NGOBROL dengannya. Harusnya, aku INGAT dengan dia!" Changmin sedikit menaikkan nada suaranya.
Mendengar nada suara Changmin, Yoochun jadi emosi, "Ya udah dong, nggak usah ngomel-ngomel ke aku kayak gitu! Ini 'kan masalahmu, aku cuma ngebantuin aja, kok kamu malah ngomel-ngomel gitu sih? NGACA DONG!"
"APA?" emosi Changmin memuncak, "enak aja ngomong begitu! Kamu tuh yang harus ngaca! Kalau nggak tahu masalahnya, jangan ASAL NYAP-NYAP!"
"ASAL—?" Yoochun menarik nafas dalam-dalam, "'KAN KAMU YANG CURHAT DULUAN!"
"idih, ge-er, siapa juga yang mau curhat sama situ?"
"HEI!, jangan seenak kentutmu aja kalau ngomong ya, kamu duluan yang cerita-cerita soal si Minnie itu, 'eh, eh, denger deh Chun, si Minnie itu aneh banget loh'" Yoochun bertingkah seperti gadis centil.
Changmin marah melihat tingkah Yoochun "AKU NGGAK BEGITU!"
"MEMANG BEGITU!"
"AKU NGGAK BERTINGKAH KAYAK GITU!"
"DIAAAAAAAAAM!" satu kata dari Jaejoong membungkam kedua remaja tampan yang tengah adu mulut. Changmin dan Yoochun sama-sama menatap Jaejoong dengan tatapan protes sambil megap-megap menahan amarah.
"jangan natap aku kayak gitu," Jaejoong makin sebal ketika Changmin memberikan tatapan 'dasar sok tua' padanya. "apa sih masalah kalian? Jangan teriak-teriak kayak orang kesetanan gitu deh, ganggu tetangga tahu,"
Yoochun diam saja, sementara Changmin langsung membalas perkataan Jaejoong dengan ketus dan setajam silet, "memangnya kau pernah memperhatikan tetangga? Kalau kau memang memperhatikan tetangga, kau nggak mungkin bikin fashion show nggak jelas sampai kita diusir dari apartemen waktu itu."
Wajah Jaejoong langsung membara, "DIAM! Aku udah nggak kayak gitu kok…"
"nggak kayak gitu apanya?" Yoochun ikut-ikutan memindahkan amarahnya dari Changmin ke Jaejoong, "kalau gitu, beberapa hari yang lalu itu apa? Bentar lagi juga, kita pasti dapet surat peringatan dan harus segera pindah." Changmin ngangguk-ngangguk setuju.
"BRISIK! BRISIK! BRISIIIIIIK!" Jaejoong tampak seperti remaja manja yang tengah merengek, "daripada ngomongin itu, mending kamu mandi aja deh Min, air panas buat mandi udah mendidih tuh."
"yah, yah, yah…" Changmin meninggalkan Jaejoong dan Yoochun.
Changmin melewati Yunho yang sedang menonton TV. Yunho, pria itu memang tampan. Sebenarnya, Changmin iri sekali dengan Yunho. Mata sipit menggoda, bibir sensual yang menyenangkan, sangat maskulin dan bersifat pemimpin tapi terlalu jaga image di TV. Kadang-kadang Changmin merasa pingin muntah kalau melihatnya sedang ja-im nggak jelas tujuannya di acara-acara TV.
"ah, Changmin!" panggil Yunho saat Changmin hendak membuka kenop pintu kamar. "kalau baju, kayaknya bajumu sudah disiapin sama Jae di kamar mandi, kamu tinggal mandi aja."
Setelah terdiam sesaat karena kaget, Changmin angkat bicara, "Yunho, apa kadang kamu nggak risih sama sikap Jae hyung?"
"yah, dibilang risih juga, aku butuh dia sebagai teman yang bisa bersih-bersih."
"bukan itu masalahnya." Changmin tanpa ekspresi.
"trus, maksudmu apa?" Yunho bingung menghadapi Changmin yang tanpa ekspresi. Anak itu paling muda, tapi tingkahnya lebih dewasa daripada Yunho sendiri. Changmin terkadang menasehati Yunho yang sok mimpin.
"sudahlah kalau nggak ngerti." Changmin berlalu, meninggalkan Yunho yang kebingungan.
Sampai di kamar mandi, Changmin terbelalak melihat Minnie yang mengejang kaget melihat dirinya. Baru saja Changmin hendak bertanya, dia melihat setumpuk pakaian di pelukan Minnie dan handuk tersampir di pundaknya.
"kau mau mandi?" tanya Changmin enteng.
"begitulah, tapi, mandi saja duluan kalau memang mau mandi." Ujar Minnie.
"nggak usah, mandilah duluan, kalau udah, ntar panggil aku ya?" Changmin pun kemudian meninggalkan Minnie. Sebenarnya dia ingin bergabung dengan Yunho, tapi kemudian dia mengurungkan niatnya dan masuk ke kamar.
"Yun, Changmin udah masuk ke kamar mandi?" Tanya Jaejoong sambil duduk di sebelah Yunho.
Yunho menggeser badannya, memberi ruang pada Jaejoong, "yah, sudah, baru aja."
Jaejoong menajamkan pendengarannya, didengarnya suara air yang menjebur-jebur di kamar mandi. Setengah terkikik, Jaejoong mengambil kamera digitalnya kemudian berdiri.
"Mau kemana kau?" tanya Yunho, melihat gelagat mencurigakan dari sahabatnya. Jaejoong nyengir iseng mendengar pertanyaan Yunho.
"kemana? Jelas mau ke kamar mandi. Si Changmin itu punya kebiasaan nggak ngunci kamar mandi kalau lagi mandi, pasti seru kan kalau kita potret dia yang lagi nggak pake apa-apa?"
"Jangan macam-macam Jae," Yunho ngeri membayangkan betapa marahnya Changmin.
"tenang aja… kalau dia marah, towel-towel dikit aja, ntar dia nyengir lagi… dah~" Jaejoong melesat menuju kamar mandi.
Lelaki ini mengendap-endap sedikit saat di depan pintu. Dengan sangat berhati-hati, duputarnya kenop pintu itu, hingga terdengar bunyi 'klik' samar. Jaejoong masuk kedalam kamar mandi tanpa suara, bahkan suara langkah kakinya pun tak ada. Setelah menutup pintu kembali, Jaejoong melihat siluet seseorang tengah berendam di bathup dari balik tirai pembatas. Aneh, Jaejoong berfikir, Changmin nggak pernah berendam, mandinya selalu kilat kayak cowboy. Jaejoong memposisikan dirinya sedemikian rupa, agar kalau nanti Changmin membuka tirai pembatas, Jaejoong bisa langsung menekan shutter kameranya. Sekarang, pemandangan di depan matanya dilihat melalui kamera. Dia selalu menunggu kesempatan ini. Kesempatan untuk mengerjai Changmin yang menggemaskan dan menyebalkan.
Si anak termuda itu selalu membuat Jaejoong iri. Padahal, Changmin itu pendiam, ekspresinya jarang berubah di depan kamera, sedikit membosankan, tapi kenapa dia bisa menarik hati banyak penggemar seperti itu? yah, sebenarnya bukan itu yang membuat Jaejoong iri, dia bukan iri, tapi agak dongkol. Seperti Yoochun menyembunyikan perasaan hatinya, begitu pula Changmin. Tapi Yoochun sudah berubah, ia sudah mau mencurahkan isi hatinya. Saat semuanya berubah, Changmin tak berubah, waktu di sekelilingnya seakan berhenti. Terkadang, dia membuka mulutnya seakan ingin mengatakan sesuatu, tapi kemudian dia berhenti dan memalingkan wajahnya. Itu menjengkelkan! Makanya Jaejoong selalu mengerjainya agar sifat asli si Tengil itu kelihatan, tapi nggak pernah berhasil.
Satu menit berikutnya, siluet itu—yang dianggap Jaejoong sebagai Changmin—berdiri. Jaejoong semakin siaga, telunjuknya gemetar tak sabar. "cepatlah…" bisiknya lirih, "cepat…"
Dengan cepat dan mantap, siluet itu membuka tirai pembatas bersamaan dengan Jaejoong menekan shutternya sebanyak empat kali.
Jaejoong tertawa keras-keras, kalau Junsu ada disana, lelaki itu pasti akan berkata bahwa Jaejoong mirip vampire. "Akhirnya aku mendapatkan foto telanjangmu! Nah, kalau tidak mau foto ini disebarkan, kamu harus mematuhi kata-kataku.
Siluet itu diam membeku. Syok, duga Jaejoong. "kenapa diam heh? Kau nggak percaya akan kutujukkan buktinya!"
Jaejoong mengecek kembali foto hasil potretannya, dan betapa terkejutnya ia mendapat bahwa tubuh yang ia potret itu bukanlah badan pria dengan bahu lebar keras, badan kekar, dan pinggul sempit. Melainkan tubuh langsing dengan bahu mungil, dan kulit halus. Itu bukan badan Changmin, tapi badan Minnie!
Jaejoong terperangah melihat hasil potretannya, itu tubuh Minnie berbalut selembar handuk putih dengan rambut basah tergerai, ekspresi wajahnya jelas-jelas sangat terkejut. Jaejoong menatap Minnie yang ekspresinya menggelap, seakan-akan siap meledak.
"tung, tunggu Minnie, maaf, biar kujelaskan."
Tapi terlambat, dalam sekejap Minnie sudah ada dihadapannya, dia memutar badannya sambil mengangkat kakinya, telapak kaki gadis itu sekarang tepat berada di depan wajahnya. Dorongan keras dari telapak kaki itu membuat Jaejoong terpental, menghantam pintu kamar mandi sampai terbuka, dan berakhir di tembok lorong.
Rasa sakit membakar wajah dan punggungnya, Jaejoong merosot kelantai tanpa daya. Baru kali ini Jaejoong menyesali keisengannya, dalam hati dia bersumpah tak akan main-main dengan kamera lagi. Dia takut kena tendangan berputar lagi. Pandangannya menggelap. Dalam kegelapan, dia dapat mendengar suara-suara yang berseru memanggil namanya dengan cemas.
A/N: cihuyy! bab 2 dah ada... maaf ya lama... ^^
abis nie, ada dangerous mind, disitu bakal diungkap, siapa Minnie sebenernya.. byebye... ^^
