Part 2

Taehyung memasuki apartemennya dengan lesu. Berjalan dari halte bis hingga ke apartemennya memang tidak terlalu jauh, tapi tetap saja badannya terasa remuk sana sini dikarenakan tadi di sekolah ia mendapatkan hukuman.

Dia terlalu sering melamun. Walaupun sudah ditegur berkali-kali, Taehyung tetap saja melamun selama jam mata pelajaran berlangsung. Ya sudah gurunya dengan senang hati memberikan ia sebuah hukuman untuk membersihkan kamar mandi.

Ia melanghkahkan kakinya memasuki kamarnya yang cenderung terlalu sederhana dengan cat berwarna putih mewarnai permukaan dinding kamarnya. Karena terlalu lelah, ia langsung merebahkan badannya ke kasur.

Matanya masih enggan untuk tertutup. Pikirannya mulai melayang menyusuri kejadian-kejadian hari ini yang telah ia lewati. Ia teringat dengan lebam biru dipergelangan tangan kirinya. Dengan segera ia membuka jam tangan yang menutupi lebam tersebut dan memperhatikannya.

Aneh, ia tidak merasa terantuk sesuatu atau dicubit seseorang sebelum ini. Terlebih lebam ini baru ia dapatkan pagi tadi, dan ia masih ingat jelas malam tadi tangannya masih mulus-mulus saja.

Lelaki bersurai coklat itu menghela nafasnya. Ya, mungkin ini hanya pengaruh mandi air dingin. Hal sekecil ini tak perlu ia pikirkan, paling besok juga hilang.

Mata sipit itu mulai berat dan memanggil sang pemilik agar segera terlelap ke alam mimpi.

Tubuh itu sudah sangat lelah untuk sekedar melakukan hal kecil seperti menggerakkan atau mengedipkan matanya. Mungkin istirahat sejenak menunggu sang kakak pulang kerja bukanlah hal buruk.

.

Dan dalam hitungan detik, Taehyung terlelap.

.

.

.

baby VJ present

.

.

Title : Dream

Cast : BTS member

with Tahyung as Main Character

Genre : Mystery, Horror, Friendship, Romance (?)

Chap : 2

Warning; YAOI, BL, TYPO(s).

.

.

Pemuda bersurai Dirty Brown itu menyusuri perjalanannya menuju apartremen baru bersama sang hyung disampingnya.

"Ini jalan menuju apartemen kita, hyung?" sang adik bertanya pada lelaki dewasa yang ada disebelahnya.

Sang hyung menganggukkan kepalanya. "Ne. Tidak terlalu terpencil, kan? Kau bisa menaiki bis dihalte sebelah sana" Taehyung, sang adik hanya menganggukan kepalanya pertanda mengerti.

"Ah ya, Taehyung-ah.."

"Ne?"

"Kau mungkin harus menyesuaikan diri dengan apartemen ini"

Taehyung mengernyitkan dahi. Maksudnya Seokjin apa? Apa ia harus bisa menyesuaikan diri terhadap tetangga disebelah apartemen mereka? Kalau itu sih, mudah.

"Kau tenang saja hyung. Aku pasti bisa menyesuaikan diri dengan cepat" dengan percaya dirinya, Taehyung berkata seperti itu. Seokjin mengusak rambut sang adik dan tersenyum.

Sang hyung berjalan didepannya. Meninggalkan Taehyung yang memilih untuk melihat-lihat pemandangan disekitarnya dengan berjalan lebih lambat dibandingkan Seokjin.

.

Ditengah-tengah penglihatannya terhadap sekitar, matanya menangkap sesuatu yang aneh dibalik semak yang tak jauh dari ia berdiri.

Seperti ada sebuah rambut yang dibalik semak-semak itu. Apa ada orang yang bersembunyi disana?

Yang jelas Taehyung tidak terlalu ambil pusing. Ia kembali melangkahkan kakinya untuk menyusul Seokjin yang jauh dibelakangya.

"Seokjin Hyung, tunggu aku!" Ia mulai mempercepat langkahnya.

Sang hyung berbalik untuk memastikan posisi sang adik. Ketika ia berbalik, ia melihat sebuah mobil dengan kecepatan diatas rata-rata melaju tepat dibelakang sang adik. Sang adik masih belum menyadari, tapi entah kenapa Seokjin hanya bisa membulatkan matanya serta membisikkan nama sang adik pelan.

.

Taehyung yang melihat kelakuan aneh sang kakak hanya bisa mengernyit. Hyungnya aneh.

Karena merasa ada sesuatu dibelakangnya, ia mulai berbalik.

.

Sebuah cahaya yang menyilaukan mata.

Itu sangat cepat terjadi.

Bahkan Taehyung tidak menyadari kalau yang ada didepannya itu sebuah mobil dengan kecepatan tinggi.

Hingga tubuh itu terhempas jauh dari tempatnya berdiri semula.

"TAEHYUNG!"

.

.

.

.

.

.

.

.

SLAP

Mata itu terbuka. Dengan nafas yang tersenggal-senggal serta keringat disekujur tubuhnya, ia memandangi sekelilingnya.

Seokjin yang sedari tadi berada disana untuk membangunkan sang adik hanya menatap bingung. Dan ketika tatapan mereka bertemu, sang adik langsung memeluknya.

"Aku-aku tidak apa-apa kan? Aku sedari tadi hanya tertidur, kan? Yang tadi hanya mimpi 'kan hyung?" Taehyung menanyakan semua pertanyaan yang berkumpul dikepalanya pada lelaki yang da dihadapannya.

Seokjin hanya mengangguk masih dengan tatapan bingungnya.

"Kau kenapa, sayang? Mimpi lagi?" Seokjin mengusap rambut Taehyung yang sedikit basah karena keringat.

Sang adik mengangguk.

"Ingin cerita?"

"Tak usah. Sudah berapa lama aku tertidur hyung?" Taehyung lebih memilih untuk menyembunyikannya. Ia tidak ingin hyung-nya khawatir.

"Sekarang sudah jam 8, kau belum makan malam. Mandilah, lalu makan ya. Hyung tunggu kau diluar"

Taehyung mengangguk. Sang hyung berdiri meninggalkannya sendiri dikamarnya.

.

.

Semuanya terasa nyata. Rasa sakit ketika ia terhempas jauh oleh mobil itu, bahkan Taehyung masih merasakan sekujur tubuhnya terasa nyeri dan susah digerakkan.

Dan ketika ia ingin bangkit dari posisinya, ia merasaakan sakit luar biasa diperut sebelah kanannya. Sakit seperti ada luka basah disana.

Ia menyingkap bajunya untuk melihat apakah perutnya baik-baik saja. Dan betapa terkejutnya ia karena menemukan sebuah kejanggalan lagi.

.

Lebam biru. Kali ini lebih besar dari yang ada ditangannya. Juga ditengah-tengah lebam itu ada sayatan berbentuk tak beraturan serta mengeluarkan darah sedikit.

Taehyung meraba lebam itu. Sejak kapan ia mendapati ini?

Bukannya yang tadi ia alami hanyalah mimpi?

.

.

.

.

.

.

Taehyung bangun lebih cepat pagi ini. Ia memilih segera berangkat kesekolah untuk menceritakan segala kejanggalan yang ia alami pada Jimin.

Tadi pagi ketika ia bangun, Ia mendapati sebuah memar lagi. Kali ini terlihat jelas dari pandangan orang-orang. Tepat dipipi sebelah kanan dekat dengan bibirnya.

Ia bersumpah, ketika ia akan tidur semuanya terasa wajar. Dan tak ada orang yang memukulinya selama ini.

Dan tadi malam, ia mengalami mimpi yang sangat aneh lagi.

Seorang lelaki, dengan kulit pucat, rambut kemerahan serta tinggi yang tak jauh beda dengannya menarik tangannya memasuki sebuah kegelapan. Ia tidak tau saat itu ia berada dimana. Yang ia rasakan kala itu suasana mencekam disekitarnya serta dunianya yang terasa berputar-putar.

.

Dan dengan sekejap mata ia merasakan sebuah hantaman yang tak tau berasal dari mana dan benda apa yang menghantam tepat dikepalanya. Dan ketika ia tersadar, suasana kembali menjadi kamarnya.

.

.

Taehyung benar-benar tidak habis pikir, ini semua... Apa?

.

.

.

.

.

.

Ia memasuki kelasnya dan mengedarkan pandangan keseluruh penjuru kelas. Ia tidak mendapatkan Jimin. Mungkin anak itu belum datang.

Ia berjalan menuju kursinya. Ditengah perjalanannya, sebuah tangan menghentikanya. Ia berbalik dan melihat sang pelaku yang menahannya.

Itu Jeon Jungkook. Si anak misterius.

.

"Apa kau baik-baik saja?" Jungkook bertanya.

Taehyung mengernyitkan dahi, lalu menganggukan kepala.

"Apakah.. Ia menyakitimu?" Jungkook kembali bertanya dengan wajah datarnya.

"Siapa yang kau maksud?" Taehyung bertanya, tidak mengerti dengan pertanyaan Jungkook.

Jungkook menghela nafas, dan menggeleng. Ia melepaskan tangannya yang tadi menahan Taehyung.

"Sudahlah, lupakan."

Taehyung kembali mengernyit. Jungkook jarang sekali bicara. Dan, kenapa tiba-tiba ia bertanya hal ambigu kepada Taehyung?

Taehyung mengendikkan bahu dan kembali berjalan kekursinya.

.

.

"Ah, tunggu"

Belum satu langkah, langkahnya kembali terhenti oleh sebuah suara yang tak biasanya ia dengar.

"Wae?"

"Pakai ini" Jungkook memberikannya sebuah plester luka. "Untuk lebammu itu"

"Tapi in tidak sakit"

"Pakai saja. Hanya untuk menutupinya" Jungkook masih memaksa. Taehyung pun akhirnya menerima. Ia kembali berjalan menuju kursinya.

Semua berputar dikepalanya. Apa maksud dari pertanyaan Jungkook? Kenapa tingkah laku Jungkook sangat aneh?

Ia mulai mengenakan plester luka tadi pada wajahnya.

Jimin baru saja datang dan segera menduduki dirinya disebelah Taehyung. Melihat ada yang aneh pada sang sahabat, ia mulai berkomentar.

"Apakah kau mencoba untuk berkelahi? Apa-apaan plester yang ada diwajahmu?" Jimin mulai meraba plester yang ada pada wajah sang sahabat. Ia tau betul Taehyung anak baik-baik. Dia hanya merasa ada hal yang menganjal pada sahabatnya ini.

"Jimin-ah. Ada yang ingin aku ceritakan.." Taehyung mulai serius. Masalah yang dialaminya ini tidak mungkin ia pendam sendri, terlalu mengkhawatirkan.

"Katakanlah.."

"Aku.. Aku tidak tau darimana aku mendapatkan luka ini, dan juga luka yang ada di perutku ini." Taehyung menjeda perkataannya. Ia mulai menyingkap bajunya sehingga terlihatlah sebuah lebam biru dengan goresan luka yang tak beraturan ditengahnya.

Jimin tersentak melihatnya. Ia menatap luka yang ada pada perut Taehyung dengan teliti. Ia mulai memeriksanya dengan menekan lebam tersebut. "Apa ini sakit?"

"Ah! Ya, sedikit sakit." Taehyung meringis. Ia kembali menutup perutnya dan menatap Jimin yang kini tengah menatap Taehyung dengan pandangan khawatir.

"Kau kenapa Taehyung-ah? Apa kau disakiti? Kemaren lebam yang ada dilengan, sekarang ada lebam baru lagi? Apa kau berkelahi? Dan juga ada apa dengan wajahmu ini?" Jimin mulai kelabakan sekarang.

Ia menyayangi Taehyung, dan semua luka yang didapati Taehyung secara tiba-tiba ini sungguh membuat Jimin khawatir bukan main. Tentu, Taehyung sahabat baiknya. Tak mungkin ia membiarkan hal buruk terjadi pada lelaki berambut hitam kecoklatan ini.

"Ini lebam biasa, aku baru mendapatkannya tadi pagi entah kenapa." Taehyung meraba lebam yang ada dipipi sebelah kanannya yang tengah ditutupi plester.

"Apa kau tau penyebabnya? Jangan bilang ini tentang mandi air dingin lagi? Heol, aku tak bodoh Kim Taehyung! Pasti ada hal yang aneh tengah menimpamu!" Jimin entah kenapa jadi tersulut emosi.

"Tidak, ini tidak mungkin tentang mandi air dingin. Aku rasa ini ada kaitannya dengan mimpiku yang akhir-akhir ini menjadi aneh"

"Mimpi?"

"Ya," Taehyung menegakkan badannya. "Kemaren sepulang sekolah aku bermimpi dan disana ada Seokjin hyung. Aku dan dia dalam perjalanan ingin ke apartement baru kami. Ditengah-tengah kami berbincang, aku melihat ada yang aneh pada taman yang ada disekelilingku saat itu. Seperti ada yang mengintaiku. Aku tak tau persis bagaimana kelanjutannya lagi tetapi yang paling aku ingat aku seperti ditabrak oleh mobil dengan kecepatan tinggi sampai tubuhku terpental jauh. Dan saat itu juga aku terbangun.."

Jimin masih terdiam. Ia masih menunggu kelanjutan cerita dari Taehyung.

"Disaat aku terjaga, aku telah mendapatkan lebam ini. Dan juga, lebam yang ada dipipiku ini dikarenakan mimpiku juga. Aku merasakan ditarik kesebuah ruangan, dan tak tau darimana aku merasakan seperti sebuah benda besar yang menghantam wajahku. Ini.. Ini semua aneh, Jimin"

Jimin melihat ada pandangan ketakutan dari Taehyung. Ia mengacak rambutnya sendiri dan berdecak kesal. Dia tidak tau kenapa masalah sahabatnya ini sangat membuat dirinya takut?

"Kau, teruslah berhati-hati. Mungkin itu hanya mimpi buruk karena dirimu kelelahan. Cobalah berdoa dulu sebelum kau tidur, Ya?" Jimin mengusap rambut sang sahabat. Taehyung hanya mengangguk dan membalikkan tubuhnya kedepan karena bel mulainya pelajaran telah berbunyi.

Dan ditengah ia memperhatikan pelajaran, ia merasakan ada yang memperhatikannya. Tidak sengaja pandangannya terhenti dibangku depan, tepatnya pada murid misterius Jeon Jungkook yang tak tau kenapa tengah menatapnya. Dan tak lama setelah itu, ia kembali membalikkan wajahnya menghadap sang guru.

Taehyung hanya mengedikkan bahunya tak peduli. Jungkook memang aneh hari ini, entah kenapa.

.

.

.

.

.

"Selamat pagi anak-anak" seorang lelaki dengan senyum cerahnya memasuki ruangan yang dipenuhi dengan murid-murid itu. Murid-murid mulai berbisik-bisik karena kedatangan lelaki asing yang bisa dibilang tampan itu. Sang lelaki asing itu mulai tersenyum.

"Perkenalkan, nama saya Jung Hoseok, 23 tahun. Mulai sekarang saya akan mengajarkan kalian Biologi, menggantikan Shin Soesaengnim yang sudah pensiun. Salam kenal" Hoseok –si guru baru- mulai melemparkan senyum termanisnya. Murid wanita sudah menjerit-jerit sendiri ditempat duduk mereka. Jarang sekali 'kan mereka mendapatkan guru yang tampan.

"Soesaengnim! Boleh aku bertanya?" seorang wanita dengan rambut ikal berwarna cokelat itu mulai mengajukan pertanyaan. Semua murid kembali terdiam.

"Ne, silahkan. Ingin bertanya apa?" Jawab sang guru.

"Eum, apakah soesaengnim sudah menikah?"

Pertanyaan wanita tadi dibalas dengan teriakan teman-temannya satu kelas serta kekehan Hoseok.

"Saengnim, kenapa anda begitu tampan?"

"Boleh minta nomor Handphonemu?"

"Kau tinggal dimana Saengnim?"

Pertanyaan-pertanyaan lainnya mulai berdatangan dari murid-murid wanita lainnya. Tak jarang cemooh-cemooh murid laki-laki yang menyuruh agar murid wanita berhenti bersikap kecentilan.

Hoseok tak berhenti menampilkan senyumnya sedari tadi. "Sudah tenang semua. Sebelum kita memulai pelajaran, saya ingin mengabsen kalian satu-persatu."

Lelaki berhidung mancung itu mulai menyebutkan nama murid satu-persatu.

"Kim Minji?"

"Hadir saengnim~"

"Kim Myungsoo?"

"Ne"

"Kim Taehyung?"

".."

Merasa tak ada jawaban dari sang sahabat, Jimin menyenggol lengan Taehyung yang sedari tadi bermenung menatap jendela yang ada disebelahnya.

"Kenapa?"

"Soesaengnim mengabsenmu tuh. Jawab dong" Ujar Jimin kembali menghadap kedepan. Taehyung mengalihkan pandangannya pada lelaki yang tengah berdiri didepan kelasnya itu.

"Kim Taehyung?" Hoseok kembali menyerukan namanya. Dengan segera Taehyung mengangkat tangannya.

"Ne!"

"Ah, kau disana rupanya Taehyung-ssi" Ujar Hoseok. Taehyung hanya mengangguk-anggukan kepalanya dengan gugup.

"Apa dia guru kita?" tanya Taehyung pada Jimin yang mulai asyik mencoret-coret bukunya.

"Astaga Taetae! Kau kan sedari tadi disini! Bahkan tadi sempat terjadi keributan karena murid-murid wanita yang mulai kecentilan akibat wajah tampan sang guru baru, dan kau masih bertanya padaku apakah ia guru kita?" Jimin mengusak rambutnya. Ia hanya tidak habis pikir, kemana Taehyung sedari tadi? Apakan melamun sudah menutup kesadarannya kepada alam sekitar?

Taehyung membalasnya hanya dengan cengiran yang membuat Jimin harus menghela nafas lebih panjang.

"Ia Jung Hoseok, umurnya 23 tahun. Dia guru Biologi kita mulai saat ini" Jelas Jimin. Taehyung hanya mengangguk-anggukan kepalanya.

"Memangnya Shin Saengnim kemana?"

"Pensiun"

"Akhirnya!" Taehyung berseru senang –pastinya masih dengan suara kecil-. Jimin hanya terkekeh melihat sahabatnya itu. Ya, siapa yang tidak senang sihterlepas dari jeratan guru yang umurmya seabad.

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

baby VJ's Corner:

HALO! Duh maaf banget niih untuk late update~ serius. bikin cerita mysteri emang butuh nguras pikiran dua kali lipat!

ini aja kemaren sempet gak mood bikin ceritanyah. Heum, maaf ceman-ceman :(

.

Oiya, buat ang minta sequel Glasses Boy, DITUNGGU JUSEYO~ saya udah dalam otw pembuatan :)

Dimohon review nya yaa