Disclaimer : Tetep punya Bunda J.K. Rowling, ide dan ceritanya author yang buat.
Pairing : DraMione, HarMione, HInny
Warning : OOC, EYD berantakan, alur berantakan, cerita gaje, typo everywhere, dll
(Chapter 2)
Hermione bingung hendak ke Hospital Wing atau tidak. Sebenarnya ia menyesal dan ingin meminta maaf. Tunggu? Meminta maaf? Aaarrgghh... pastilah Hermione sudah gila. Kenapa ia harus meminta maaf? Toh, yang memulai masalah ini adalah Draco Malfoy. Namun, setelah dipikir-pikir, jika bukan ia yang menyelesaikan masalah ini, lalu siapa lagi? Malfoy? Tidak mungkin. Akhirnya, ia memutuskan pergi dengan menghela nafas berat.
Ketika Hermione hendak membuka pintu Hospital Wing, Pansy Parkinson, gadis Slytherin berwajah pug yang selalu membuntuti Draco, mencegatnya. Hermione memutar bola matanya dan memandang Pansy dengan pandangan mengintimidasi.
"Halo, Mudblood. Apa yang kau lakukan disini? Menyebarkan virus darah kotormu?" hina Pansy dengan tawa nyaringnya.
Hermione mendengus. Ia tak ingin mencari keributan dengan siapapun saat ini, ia hanya ingin mengunjungi Draco Malfoy agar semua masalah cepat selesai. Hermione mendorong tubuh Pansy ke samping hingga terjatuh dan melenggang masuk begitu saja tanpa menghiraukan umpatan kasar Pansy.
Draco sedang duduk bersandar di tempat tidur sembari membaca buku dengan serius. Hermione menghampirinya dan menyihir sebuket bunga mawar kering yang ada di vas menjadi segar kembali. Ia duduk di kursi samping tempat tidur Draco.
Hermione berdehem, "Malfoy." Panggilnya, namun Draco tetap bergeming. Sebelum Hermione hendak membuka mulut untuk memanggilnya lagi, pintu Hospital Wing menjeblak terbuka. Pansy menyeruak masuk menghampiri Draco dan bergelayut manja di dadanya. Draco tetap bergeming layaknya tidak terjadi apa-apa.
"Drakie..." panggilnya dengan manja, "kau kenapa? Aku dengar dari Theo kalau baby Drakie-ku ini masuk Hospital Wing. Apa yang sakit? Kau tahu, dari tadi aku mengkhawatirkanmu. Aku hendak menjengukmu, namun ada essay dari Professor Binns yang harus kukerjakan. Aaah... membosankan sekali. Aku heran, kenapa guru itu tetap diperbolehkan mengajar? Padahal dia sudah mati." Cerocosnya panjang lebar. "Aku merindukanmu, Drakie-poo." Ucapnya sembari menciumi pipi Draco.
Draco mendecak dan mendorong Pansy agar menjauh. "Pissed of, Pans." Tegas Draco. Ia menyibak selimutnya dan berjalan keluar Hospital Wing. Hermione menahan tawa melihat muka Pansy yang hendak menangis. Pansy berlari keluar dengan terisak. Tinggal Hermione sendiri di ruangan itu, ia bingung harus kemana. Akhirnya, ia memutuskan untuk melihat bintang di Menara Astronomi. Ia tak ingin kembali ke Asrama Ketua Murid maupun Asrama Gryffindor karena tak ingin bertemu Harry dan Ginny.
Hermione berdiri menghadap langit di pagar Menara Astronomi dengan mata berkaca-kaca. Ia merasa kesepian, ia tak pernah merasa sendiri seperti ini. Dulu ketika ada masalah, ia tak pernah menghadapinya sendirian, karena Ron, Ginny, dan Harry selalu berada di sampingnya. Tetapi sekarang, ia harus menghadapi ini semua sendirian, tanpa teman. Tak terasa, air mata jatuh membasahi kedua pipinya. Hermione terisak di dalam kedua telapak tangannya sambil menunduk.
Isakan Hermione mereda. Ia merasa ada seseorang di sampingnya. Hermione mengusap air matanya dan menoleh. Ia mendapati Draco sedang berdiri bersandar di pagar sambil bersedekap dan memandang Hermione dengan dingin. Hermione menunduk, ia tak ingin menatap iris abu-abu dingin Draco yang terus-menerus menatapnya.
"A-Apa yang kau lakukan disini, Malfoy." Tanya Hermione dengan sedikit terisak.
Draco mengangkat sebelah alisnya. "Melihatmu menangis." Jawab Draco sembari mengangkat bahunya dengan cuek.
"Kenapa?" pertanyaan bodoh itu meluncur begitu saja dari mulut Hermione.
"Dengan begitu kita empas." Jawab Draco sambil mensejajarkan diri di samping Hermione. "Kau juga pernah melihatku... yeah, seperti kau barusan."
"Menangis?"
"Tak usah disebutkan." Tegas Draco dengan dingin.
Hening. Mereka sama-sama terdiam sibuk dengan pikirannya masing-masing. Draco sangat benci dengan suasana hening dan canggung seperti itu. Apalagi, ia sedang bersama musuh bebuyutannya, Hermione, dengan posisi sedekat ini. Akhirnya, ia membuka mulut untuk memecah keheningan. "Granger.."
"Aku ingin meminta maaf, Malfoy." Potong Hermione tiba-tiba.
Draco bingung, "Untuk?" tanyanya.
"Untuk masalah tadi. Cuma gara-gara.. uhm... kau tahu, 'kejadian itu,'" Hermione membentuk tanda kutip di udara dengan jarinya, "aku tak sengaja memantraimu. Aku terbawa emosi." Sambungnya.
Draco menyeringai dan mendengus. "Cih.. Tak sengaja? Omong kosong." Celanya. "Yeah, bagaimana ya? Mengingat tadi aku hampir membeku kedinginan seperti baru saja melihat mata Basilisk dengan posisi tergantung terbalik dan lidah terlipat ke belakang sehingga aku tak dapat berteriak meminta pertolongan, tongkatku terjatuh dari saku mantelku, dengan begitu, aku harus menimbangkan permintaan maafmu. Yeah... aku bersyukur masih berdiri disini karena si raksasa Hagrid tak sengaja menemukanku dan membawaku ke Hospital Wing." Cerocos Draco dengan cepat.
Hermione mendesah pelan dengan posisi kepala menunduk. Ia membuka mulutnya untuk berbicara, "Apapun yang kau minta, akan kuturuti asalkan kau memaafkanku. Aku ingin masalah ini cepat selesai, Malfoy." Ucap Hermione dengan keras kepala.
"Berikan aku alasan kenapa aku harus memaafkanmu!" tuntut Draco.
"Baiklah, simple. Ini bukan karena aku menyesal memantraimu. Karena kau menciumku seenaknya saja tanpa seizinku. Ini semua murni salahmu, Malfoy. Aku hanya ingin meminta maaf karena, seperti yang kukatakan tadi, aku ingin masalah ini cepat selesai." Jawab Hermione dalam satu tarikan nafas.
"Begitu?" Draco mengelus dagunya pura-pura berpikir. "Ada syaratnya."
Hermione mendecih, ia tahu pasti bahwa Draco tak mungkin semudah itu memaafkan seseorang tanpa syarat. "Baiklah. Apa?"
Draco mengelus dagunya lagi, "Apapun ya?" gumamnya lirih. "Baiklah. Jadilah asistenku selama sebulan penuh. Kau harus menuruti semua keinginanku, tetap berada di dekatku, dan jangan membantah perintahku." Ujarnya dengan nada berpuas diri.
"Apa?" Hermione menyipit. "Tidak. Aku tidak mau. Aku bukan peri-rumah, Malfoy." Tolaknya.
Draco mendengus, "Begini, Granger. Bukankah kau pernah mendirikan organisasi tolol bernama SPEW..."
"S.P.E.W." ralat Hermione.
"Terserah. Tentang memperjuangkan hak-hak peri-rumah. Aku ingin kau merasakan betapa 'bahagianya' menjadi peri-rumah yang bekerja tanpa dibayar dan.. yeah... hitung-hitung membantu pekerjaan para peri-rumah yang malang itu. Lagipula, kau juga berkata apapun yang kuminta akan kauturuti asalkan aku mau memaafkanmu. Nah, itu yang harus kau lakukan."
Hermione mengerucutkan bibirnya dengan sebal. Ia menimbang-nimbang permintaan Draco. Ia berfikir, jika Prof McGonagall melihatnya dan Draco bersama-sama seperti itu, maka masalah ini akan cepat selesai. Yeah... meskipun ini semua tidak akan membatalkan detensi besok malam. Namun setidaknya, hal itu akan membuat Prof McGonagall mempercayainya lagi. Hermione mengangguk dan menyutujui permintaan Draco dengan berat hati.
Draco menyeringai penuh kemenangan. "Baiklah, peri-rumah, kau bisa memulai pekerjaanmu esok pagi." Ejek Draco. Ia melenggang pergi meninggalkan Hermione sendirian di Menara Astronomi.
Draco menyeringai terus-menerus. Blaise, Theo, Pansy, dan Daphne memandangnya dengan bingung. Draco tak sabar ingin membalas dendam kepada Hermione. Ia memakan sarapannya dengan cepat-cepat.
"Drakie-poo, kalau makan jangan terburu-buru, tak baik. Buburmu belepotan kemana-mana tahu. Sini aku bersihkan." Cerocos Pansy dengan genit dan suara nyaring. Ia mengambil sapu tangan hijau dari jubahnya dan hendak mengelap bibir Draco, namun Draco menepisnya.
"Thanks, Pans. Tak perlu kau lakukan itu semua. Sekarang, mulai detik ini, aku mempunyai asisten pribadi yang akan selalu melayaniku." Draco menjelaskan kepada Pansy. Ia menenggak jus labunya dengan cepat dan mengambil apel hijau kesukaannya. "Oy, asisten pribadi." Teriak Draco ke arah meja Gryffindor. Pansy menjulurkan lehernya untuk melihat siapakah orang yang beruntung menjadi asisten Draco.
Pansy memekik nyaring lantaran melihat Hermione Granger, Ketua Murid Putri, menghampiri meja Slytherin dengan ekspresi muram.
"Apa?" tanya Hermione dengan ketus kepada Draco. Murid-murid Slytherin lainnya tertawa melihat sang Ketua Murid dengan suka-rela diperbudak oleh seorang Draco Malfoy.
"Wow, men. Kau mendapatkan asisten cantik darimana? Apakah dari sampah yang dibuang para peri-rumah?" umpat Theo.
"Oy, Granger. Setelah Draco membebaskanmu, kau harus menjadi asistenku juga." Ejek Daphne.
Hermione menghela nafas berat mencoba sabar. Ia menatap Draco dengan pandangan 'Sudah puas?'. Draco menyeringai penuh kemenangan. Hermione menoleh ke arah meja Gryffindor. Harry memandangnya dengan datar, muka Ron memerah menahan marah, Neville, Dean, dan Seamus memandangnya dengan simpati, sedangkan Lavender dan Parvati berbisik-bisik di balik tangannya.
"Peri-rumahku tersayang, coba kau bersihkan mulut Tuanmu yang tampan ini." Perintah Draco dengan bergaya sok bossy.
Hermione menghela nafas dan menyahut sapu tangan Pansy. Ia membersihkan mulut Draco dengan kasar sembari mengumpat dalam hati.
"STOP, STOP, GRANGER, STOP..." bentak Draco sambil menepis tangan Hermione. Ia mengusap bibirnya yang memerah dan perih lantaran Hermione terlalu kasar mengusapnya. Hermione menyeringai dengan puas.
"Kalau begitu, lakukan sendiri, Ferret. Kenapa harus menyuruhku?" bentak Hermione dengan melempar sapu tangan Pansy di muka Draco. Draco membuang sapu tangan itu, sehingga Pansy menangis, dan ia menarik tangan Hermione keluar Aula Besar.
"Apa maksudmu?" tanya Draco sembari mendorong tubuh Hermione ke tembok dingin koridor lantai dua. Namun Hermione tetap memandang Draco dengan tatapan menantang.
"Maksudku, Ferret?Aku melakukan itu untuk memberi pelajaran kepada bibir sialanmu yang seenaknya saja menciumku." Jawab Hermione dengan ketus.
Draco mengangkat sebelah alisnya dan maju mendekati Hermione. Hermione tidak bisa melakukan apa-apa karena posisinya sedang dihimpit tubuh Draco. Hermione mencoba mendorong tubuh Draco, namun sia-sia. Tubuhnya terlalu kecil untuk mendorong tubuh kekar Draco.
"Hm... begitu, darling? Apa kau mau merasakannya lagi? Tak apa, tinggal minta saja kepada Tuan Malfoy." Goda Draco.
Hermione menginjak kaki Draco dan melarikan diri selagi Draco jatuh terduduk sambil meringis memegangi kakinya.
"GRANGER.." raungnya dengan murka.
Hermione duduk menyendiri di pojok kelas ketika pelajaran Transfigurasi. Draco berkali-kali mengirimi Hermione surat berbentuk burung-burungan, namun Hermione membakarnya. Ia masih marah kepada Draco. Ia hanya memikirkan detensi apa yang akan diberikan Prof McGonagall kepadanya nanti malam. Hermione berkali-kali mencuri pandang ke arah Harry, namun ia langsung memalingkan muka ketika Harry balik menatapnya.
Sepulang dari kelas Transfigurasi, ia keluar halaman dan duduk di pohon pinus tepi Danau Hitam seorang diri sambil membaca buku rune kunonya. Hermione melilitkan scarf Gryffindor di leher karena dinginnya cuaca. Draco yang kebetulan lewat dan melihat Hermione, menyeringai dan menghampirinya.
"GRANGER." Draco mengageti Hermione. Namun, Hermione tidak meresponnya.
"Oy, Granger." panggil Draco sambil melambaikan tangannya di depan wajah Hermione. Hermione tetap diam.
"GRANGER..." Teriak Draco di telinga Hermione. Hermione memekik kaget hingga bukunya terjatuh.
"Ferret, kau selalu menggangguku. Apa maumu?" bentak Hermione. Ia memegangi telinganya yang terasa berdenyut sakit. Draco menyeringai, ia mendudukkan diri disamping Hermione dan menyihir api biru terang yang bisa dibawa-bawa dalam botol selai. Ia menaruh botol selai berisi api itu diantara Dia dan Hermione supaya lebih hangat.
"Aku ingin kau melakukan tugasmu. Kerjakan essay Arithmancy ku sepanjang 5 meter sekarang juga." Draco melemparkan pena bulu elang, sebotol tinta, gulungan perkamen, dan buku Arythmancy di pangkuan Hermione.
Hermione mengerucutkan bibirnya dengan sebal, "Tidak mau. Kau bilang kau adalah murid terpintar kedua di Hogwarts setelahku, tentu saja, tetapi kenapa kau tidak bisa mengerjakan essay Arithmancy yang sangat mudah seperti ini? Apa nilaimu bagus karena mencontek?" cela Hermione.
"Hey, aku memang pintar, dan aku tak pernah mencontek. Ingat itu. Aku hanya sedang malas berfikir dan menulis sekarang. Dan kau bilang kau adalah The Brightest Witch di angkatan kita dan kau adalah asisten pribadiku, ingat?" Draco menyeringai. "Ayo, kerjakan sekarang juga. Jangan sampai ada yang salah dan tulisannya harus rapi."
Hermione berdecak sebal. "Ya, ya, ya, Tuan Malfoy." Hermione mengucapkan sumpah-serapah di dalam hati sambil mengerjakan essay Draco. Namun, perhatian Hermione teralihkan ketika Harry melewati tempatnya sepulang dari latihan Quidditch. Pikiran Hermione melayang-layang membayangkan tadi ia sedang duduk di tribun penonton untuk menonton dan memberikan semangat kepada Harry.
"Granger." Panggil Draco membuyarkan lamunan Hermione.
Hermione yang terkejut spontan menjawab, "Ya, Harry?"
"Hey, aku bukan si muka codet Potter. Aku Draco Lucius Malfoy, siswa tertampan, terkeren, sekaligus terpopuler di Hogwarts. Kenapa kau mamanggilku 'Harry'? Apa mukaku dan Potter mirip? Hah.. jelas tidak. Yeah.. semua orang tahu kalau aku lebih daripada Potter. Apa penglihatanmu sangat parah? Kukira tak ada yang lebih parah penglihatannya dari Potter, ternyata kekasihnya lebih buruk. Ups.. salah. Maksudku, mantan kekasih." Cerocos Draco panjang lebar dengan nada angkuh khasnya.
Hermione membekap mulut Draco. "Shut up, Malfoy. Dasar Ferret berisik." Desis Hermione. Mereka saling bertengkar dan melempar umpatan sepanjang siang di bawah pohon.
Hermione berjalan menuju Pondok Hagrid pada jam 8 malam untuk melaksanakan detensi. Ia memakai seragam dan jubah Gryffindor yang dilapisi mantel musim dingin. Ia juga memakai sarung tangan wol dan sepatu boots setumit. Sesampainya disana, ia melihat Prof McGonagall dan Hagrid sedang menunggunya di depan Pondok.
"Selamat malam, Professor. Selamat malam, Hagrid." Sapa Hermione dengan tersenyum.
"Selamat malam, Ms Granger." Balas Prof McGonagall.
"Selamat malam, Hermione." Hagrid membalas senyumannya. Ia memakai mantel bulu tikus mondoknya dan membawa busur besar di tangannya. Fang, anjing Hagrid, menggonggong keras di samping Hagrid menyambut kedatangan Hermione. Hermione membelai kepalanya.
"Bagaimana, Ms Granger. Sudah siap?' tanya Prof McGonagall. Hermione mengangguk. "Baiklah, akan kujelaskan apa detensimu. Kau harus mencari telur-telur Pixie yang ada di dalam Hutan Terlarang, kumpulkan telur-telur itu di toples besar ini sampai penuh. Cari sarang Pixie di dalam hutan dengan mengikuti jalan setapak yang sudah dibuat Hagrid. Jangan kembali ke kastil sebelum toples ini penuh dengan telur Pixie. Berhati-hatilah, sepertinya malam ini akan ada badai salju. Tetapi jangan khawatir, kau tinggal mengirim bunga api atau patronus dan Hagrid akan datang menjemputmu jika terjadi apa-apa. Mengerti?" jelas Prof McGonagall.
"Mengerti, Professor." Angguk Hermione. Ia mengambil toples yang diulurkan Prof McGonagall dan memasukkannya ke dalam tas manik-manik kecil yang sudah diberi mantera perluasan-tak-terdeteksi supaya tidak pecah. Ia pamit dan berjalan memasuki Hutan Terlarang dengan penerangan satu-satunya berasal dari tongkat sihirnya.
Hermione terus berjalan memasuki Hutan mengikuti jalan setapak yang tertutup salju sambil menoleh ke kanan-kiri untuk mencari sarang Pixie. Namun, meskipun ia sudah jauh memasuki Hutan, ia belum menemukannya. Yang ada hanyalah pohon-pohon besar yang menjulang tinggi dan tumpukan salju. Badai salju sudah mulai menerjang. Hermione menggigil kedinginan. Ia tidak memakai scarfnya. Tubuh Hermione lemas, kakinya mulai bergetar dan sepertinya tidak lama lagi dirinya akan pingsan dan membeku kedinginan.
"P-Peric-Per..." ucap Hermione terbata hendak mengirim bunga api. Namun, mulutnya sudah terasa mulai membeku. Ia tak bisa menciptakan patronus karena ia panik. Akhirnya, ia pasrah. Tubuhnya mulai ambruk dan menggigil kedinginan. Salju mulai turun dengan lebat dan angin semakin kencang. Mata Hermione terpejam dan hanya bisa merasakan dinginnya angin dan salju yang menerpa sekujur tubuhnya. Ia berharap seseorang datang dan membawanya ke kastil sebelum ia mati membeku.
Harapan Hermione terkabul. Secercah cahaya kecil bergerak menghampirinya, pastilah itu cahaya dari tongkat sihir seseorang. Ternyata benar, ada seseorang yang berlari menghampirinya, namun Hermione tak dapat melihat siapa orang itu karena pandangannya mulai kabur. Ia hanya bisa merasakan tubuhnya digendong ala Brydal style. Ia dapat mencium aroma maskulin dari tubuh sang penolong yang membuatnya sangat nyaman. Tak lama kemudian, Hermione pingsan.
"Hermione, kau tak apa? Kau sudah bangun?" panggil seseorang di samping Hermione. Hermione merasa ada yang menggenggam tangannya dengan lembut, ia pun membuka matanya. Cahaya matahari menyilaukan matanya. Kepalanya masih terasa pusing dan tubuhnya lemas. Ia menoleh ke arah seseorang di sampingnya, hatinya mencelos, tatkala melihat orang itu ternyata Harry Potter. Hermione bergerak bangun dan Harry membantunya.
"Ha-Harry apa yang terjadi? Aku dimana? Kenapa kau disini?" tanya Hermione dengan lirih. Mulutnya masih terasa membeku.
"Kau pingsan saat menjalankan detensi. Kau sekarang berada di Hospital Wing dan aku menjagamu selama kau pingsan." Jawab Harry seraya mengulurkan ramuan berwarna hitam pekat dan berasap kepada Hermione. Hermione menerima ramuan itu dan menenggaknya dengan cepat sambil mengernyit. Harry mengambil piala Hermione dan mendorong tubuhnya supaya kembali berbaring. Harry menyelimuti tubuh Hermione menggunakan selimut yang sudah diberi mantera penghangat.
"Terima kasih atas bantuanmu, Harry. Tapi, sebaiknya kau harus segera pergi dari sini, aku hanya takut Ginny salah paham. Aku tak ingin persahabatan kita lebih hancur lagi." Ujar Hermione dengan sedih.
Harry menunduk kelihatannya menyesal sekali. "A-Aku tahu, Hermione. Ini semua gara-gara aku. Aku yang menyebabkan ini semua terjadi. Maafkan aku, Mione. Sungguh, maafkan aku." Sesal Harry. "Jika aku boleh jujur, aku masih sangat mencintaimu lebih dari apapun. A-Aku hanya menganggap Ginny sebagai adik, Mione. Kau adalah penyemangat hidupku dan kau adalah bagian dari hidupku."
"Tetapi kenapa kau dan Ginny berciuman waktu di Three Broomsticks?" tanya Hermione.
"Karena kau tak pernah memberikan ciumanmu kepadaku, Mione. Aku ingin merasakan bagaimana rasanya. Tetapi kau malah memberikan ciumanmu kepada Malfoy." Harry merasa ada gelombang kemarahan setiap ia mengingat kejadian itu.
"Aku tak pernah memberikan ciumanku, Harry. I'm not a bitch. Malfoy lah yang menciumku dengan paksa. Apa kau pikir aku mau dicium oleh musuh bebuyutan kita? No, Harry." Tegas Hermione. Ia marah karena Harry menduga ia sengaja mencium Draco.
Harry terdiam. "Bukan maksudku begitu, Hermione. Oke, baiklah. Kita lupakan masalah itu, oke? Apa kita bisa memulainya dari awal lagi?" tanya Harry.
"Ya, sebagai teman." Jawab Hermione dengan singkat.
Harry hendak menyela, namun ia mengurungkan niatnya. Teman? Tak apalah. Toh, meskipun hanya menjadi teman, ia tetap bisa dekat dengan Hermione. "Terima kasih, Hermione. Kita memulainya layaknya pertama kali kita bertemu." Harry tersenyum, Hermione membalas senyumannya.
"Oh ya, Hermione, kenapa kau diberikan detensi oleh Professor McGonagall?" tanya Harry tiba-tiba.
Hermione menghela nafas berat, "Malfoy. Aku memantrainya. Dan Professor McGonagall tahu, jadi aku diberi detensi." Ujarnya dengan muram.
"Malfoy lagi, kenapa ia selalu mengganggumu?" umpat Harry. Hermione hanya mengangkat bahunya dengan cuek.
"Ah.. sudahlah. Biarkan saja. Dia juga menyuruhku menjadi bawahannya, jadi sudah impas." Sambung Hermione.
"APA?" bentak Harry. "Jadi benar? Sang Ketua Murid Putri menjadi bawahan si Ferret Malfoy? Kenapa kau sebodoh itu mau menerimanya, Mione?" tegas Harry.
"Supaya masalah ini cepat selesai. Begini, Harry, jika Professor McGonagall melihatku dan Malfoy dekat layaknya seorang teman, pastilah Professor McGanagall akan memaafkanku dan aku mendapat kepercayannya lagi untuk menjalankan tugasku sebagai Ketua Murid." Jelas Hermione dengan sabar.
Harry bangkit berdiri. "Aku tak terima, Mione. Pa-Pastilah ada cara lain asalkan kau tidak selalu berdekatan dengan Malfoy sepanjang hari. Ayolah, pasti ada cara lain."
Hermione menggeleng. "Sepertinya tidak ada, Harry. Kumohon, mengertilah keadaanku saat ini. Hampir saja jabatan Ketua Muridku terancam. Jadi, please, Harry. Aku mohon mengertilah." Pinta Hermione.
Harry menghela nafas berat dan diam untuk berfikir. "Baiklah, jika itu maumu. Tapi aku masih tidak rela kau berdekatan dengan Ferret itu." Ujarnya dengan keras kepala. "Oh ya, aku hampir lupa. Aku punya sesuatu untukmu." Harry mengeluarkan sebuah gelang rantai berwarna silver yang indah dan terdapat dua bandul huruf 'H' kecil dari dalam saku jubahnya. Ia memakaikannya ke tangan kanan Hermione.
"Wow, indah sekali, Harry. Trims." Hermione membelai gelang itu dan mengamatinya.
"Sama-sama. Apa kau suka?" tanya Harry sambil tersenyum.
"Yeah, tentu. Dan.. apa maksudnya dua bandul berbentuk huruf 'H' ini? Oh.. jangan bilang Harry dan Hermione." Canda Hermione, ia terkekeh.
"Oh tidak, aku terkena Legilimency." Balas Harry dengan bercanda. Mereka berdua tertawa dan bercanda bersama-sama sepanjang hari di Hospital Wing.
~To be continue~
Review nya, please.. ^_^
Terima kasih buat yang sudah baca :') Dan terima kasih juga buat yang sudah review dan ngasih kritik & saran :* (Maaf gk bisa balas satu2)
