Laki-laki misterius itu tidak bisa menghilangkan senyumnya.
Aah, mungkin seandainya dia masih memiliki ekor sekarang, pasti ekor panjangnya sedang bergerak-gerak ke kanan kiri. Sebagai tanda bahwa laki-laki yang dulunya adalah kucing itu sangat senang dan penasaran dengan apa yang akan dilakukan oleh majikannya setelah ini. Dia segera berdiri dari posisi jatuhnya dan menatap antusias gadis di depannya. Sementara sang gadis... hanya bisa menatapnya aneh.
"Kau kenapa sih? Senyum-senyum sendiri," begitu kata gadis bermahkota soft pink tersebut. Nada bicaranya terdengar dingin dan sinis, "Dasar aneh! Bukannya minta maaf, huh!" lanjutnya sembari berdiri lalu menepuk-nepuk bagian belakang rok yang dikenakannya.
Pemuda berambut raven itu memiringkan kepalanya bingung, "Minta maaf?" sepertinya karena mendengar suara laki-laki di depannya, Haruno Sakura menghentikan kegiatannya yang sedang merapikan bajunya, "Itu apa? Apa enak?" tanya laki-laki itu polos—atau malah bodoh? Sakura langsung menaikkan sebelah alisnya.
"Hah?"
"Daripada itu... Sakura, aku senang bertemu denganmu lagi!" mengabaikan pertanyaannya, laki-laki yang memakai baju serba hitam itu langsung berjalan mendekatinya lalu memegang tangannya dengan cepat. Wajah Sakura terlihat kaget bukan main ketika pemuda itu menggenggam tangannya semakin kencang. Bodoh. Bodoh. Siapa laki-laki sialan ini? Setelah menabraknya tanpa minta maaf, sekarang dia memegang tangannya tanpa ragu? Lancang sekali!
Ah tapi... walau marah, tetap saja Sakura tidak bisa menyembunyikan wajahnya yang memerah.
Lain halnya dengan Sakura yang masih tenggelam dalam gejolak batin karena masih bingung dengan keadaannya sekarang, laki-laki itu menatap tangan Sakura yang digenggamnya, "Oh, jadi ini rasanya memegang tangan manusia dengan tangan manusia? Kupikir tangan manusia itu besar, tapi ternyata kecil juga ya," pikirnya lugu. Tanpa sadar, pemuda kucing itu memainkan tangan majikannya dengan senyum polos di wajahnya.
Dia belum tahu saja kalau tangan manusia berjenis kelamin laki-laki memang lebih besar dari manusia yang berjenis kelamin perempuan. Tapi, kucing bernama Sasu di sini memang tahu Haruno Sakura adalah perempuan—karena sering mendengar percakapan antara Sakura dengan ibunya. Namun dia tidak mengetahui kalau perempuan itu sama saja artinya dengan 'betina' di bangsanya dulu.
Tenang saja, nanti juga dia akan mengetahuinya perlahan-lahan.
"Ke-Ke-Kenapa kau memegang tanganku!?" pertanyaan Sakura yang tiba-tiba dilontarkan membuat laki-laki misterius tersebut mengangkat kepalanya. Dan tanpa sempat pemuda itu menjawab, Sakura langsung menarik tangannya, "K-Kau ini sebenarnya siapa? Aku tidak mengenalmu, tapi kau langsung memegang tanganku, apa maumu!?" teriaknya sembari menudingkan jarinya di depan wajah laki-laki beriris onyx itu.
Sakura melihat laki-laki di depannya itu mengernyitkan kedua alisnya lalu memegang dagunya sendiri. Dia terlihat berpikir serius, bahkan sampai memejamkan kedua matanya. Sakura menelan ludahnya, "Siapa kau?" tanyanya. Laki-laki ini tampan tapi aneh—begitu yang ada di pikiran Sakura. Dan yang lebih aneh adalah—
"Kenapa... kau bisa tahu namaku?" Sakura memejamkan kedua matanya erat lalu membukanya perlahan. Kedua tangannya mengepal di depan dadanya, "Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"
Pertanyaan itu jelas membuat pemuda di depannya diam seribu bahasa. Bagaimana mengatakannya? Masih terlalu cepat untuk membuat Sakura mengingat semuanya, dia belum mempunyai cukup bukti untuk membuktikan kata-katanya. Lagipula... tidak mungkin Sakura akan langsung percaya begitu saja dengan ceritanya. Kucing menjadi manusia? Kucing yang menukarkan nyawanya dengan majikan yang disayanginya? Cih, mana ada yang mau percaya dengan bualan bodoh seperti itu di zaman modern seperti sekarang.
Di saat yang sama, suara yang kemarin datang ke dalam mimpinya saat dia masih menjadi kucing kini kembali menghampiri kepalanya. Kedua bola matanya membulat. Didengarnya baik-baik suara misterius tersebut.
"Sasu... namamu dalam wujud manusia ini adalah—"
"Sasu...ke."
"Eh?" Sakura yakin dia mendengarnya. Laki-laki yang memiliki rambut berwarna dark blue itu menunduk dan dia bicara dengan berbisik. Ketika Sakura bingung harus bertanya apa, laki-laki itu mengangkat kepalanya. Gadis tersebut sedikit tersentak melihat pemuda di depannya tersenyum, tapi entah kenapa Sakura bisa merasakan senyum tipis itu terasa menyakitkan. Seolah senyum itu untuk menutupi kesedihan sang pemuda yang begitu mendalam.
Dan lagi-lagi... Sakura harus bisa menunggu waktu yang tepat dimana dia akan mengerti arti senyum yang menyakitkan itu.
"Namaku... Sasuke."
Karena semuanya akan dimulai kembali.
.
.
.
.
.
Naruto © Masashi Kishimoto
Story © Kira Desuke
Warnings : AU, OOC with reason
Genres : Fantasy/Angst/Romance/Supernatural
Main Pair : SasuSaku
(Dimulai dari chapter 2 sampai seterusnya akan memakai author's POV)
.
.
.
FRIST
.
.
.
~ KAPITEL ZWEI ~
Ich Will Mit Dir Sein
.
.
.
"Forehead, jangan melamun terus dong!"—CTAK! Suara sentilan telak pada dahi Sakura yang dilakukan Yamanaka Ino sukses membuat beberapa anak menoleh ke arah dua sahabat itu sebelum meneruskan kembali kegiatan mereka. Sakura meringis kesakitan dan langsung memegangi dahi lebarnya yang mulai memerah sementara Ino berkacak pinggang tanpa menghilangkan ekspresi kesalnya.
Setelah meringis cukup lama, Sakura menatap sangar sahabatnya sejak SD tersebut, "Kau bisa menegurku seperti biasa, Pig! Aku masih punya telinga!" balas Sakura tak kalah sengit. Gadis itu pun mendengus lalu mengalihkan perhatiannya pada pemandangan di luar jendela yang berada di samping tempat duduknya.
Ino memutar kedua bola matanya bosan, "Aku juga sudah memanggilmu beberapa kali sebelum menyentil dahi lebarmu itu, tahu!" gadis yang memiliki rambut berwarna pirang pucat itu menarik kursi agar dia bisa duduk di samping Sakura, "Kau sedang memikirkan apa? Tidak seperti biasanya, ternyata kau bisa juga melamun, Forehead."
"Tidak... tidak ada, aku juga tidak tahu apa yang mau kupikirkan," jawab Sakura sembari mengendikkan bahu. Ino mengangkat sebelah alisnya tak mengerti, "aku merasa aneh," Sakura mendesah pelan di akhir kalimatnya.
"Aneh?" tangan Ino kini menopang dagunya di atas meja, "Apa maksudmu?"
Sakura terdiam. Iya, dia merasa aneh. Tapi, tidak tahu mengapa. Seakan ada sesuatu yang paling penting di dalam hidupnya kini terlupakan begitu saja. Tapi apa? Meskipun Sakura memejamkan matanya, mencoba mencari tahu apa yang membuatnya resah sejak pagi tadi, tetap saja dia tidak menemukan jawabannya. Gadis beriris hijau emerald itu menghela napasnya pasrah.
"Entahlah," menyandarkan kepalanya di atas meja, Sakura kemudian memejamkan kedua matanya, "lupakan saja, Ino-Pig. Mungkin hanya perasaanku."
Ino hanya mengangguk asal—tanda bahwa dia sebenarnya tidak terlalu peduli dengan topik cerita saat ini. Kekasih dari laki-laki bernama Sai tersebut memainkan poni yang menutupi sebelah matanya, "Ya sudah lupakan saja kalau kau memang tidak bisa mengingatnya, Forehead," tidak mendapat respon, Ino merotasikan kedua bola matanya, "daripada itu, sudah mengerjakan PR Matematika? Kalau sudah, aku mau lihat dong Sakura-chan~" rayu Ino.
Sakura mendengus malas. Tanpa perlu menutup ekspresi sebalnya, Sakura menyerahkan buku latihannya pada sahabat di sampingnya, "Di saat seperti ini saja baru kau mau menyebut namaku dengan benar, dasar Pig."
"Oh ayolah," Ino tertawa puas. Tidak peduli jika gadis di depannya keberatan meminjamkan tugas padanya. Toh, Sakura yang memberikannya, terima saja—justru akan terlihat bodoh jika gadis beriris aquamarine tersebut menolak kesempatan yang ada, benar 'kan? Masih sembari tertawa kecil, Ino mulai membuka buku latihannya sendiri, bersiap menyalin tugas Sakura seperti hari-hari sebelumnya.
"Lagipula mana ada babi secantik diriku. Ahahaha!" Ino kembali tertawa keras tanpa mengalihkan perhatiannya dari buku latihannya sendiri.
Sementara Sakura hanya memutar kedua bola matanya bosan sebelum memukul keras kepala Ino hingga teriakan kesakitan sahabatnya itu menggema di dalam kelas mereka.
#
.
.
.
#
Bel pulang telah berbunyi. Seperti anak-anak lain di kelasnya, Sakura segera membereskan isi tasnya dan bersiap untuk pulang. Gadis yang memiliki rambut dengan warna bubble gum itu kemudian berdiri dari kursinya lalu mengenakan tas slempangnya. Belum sempat dia menghampiri kursi Yamanaka Ino, gadis berambut pirang itu sudah lebih dulu menghampiri kursinya dengan ekspresi memohon yang tersirat jelas di wajahnya.
"Sakuraaa maaf beribu maaf! Aku tidak bisa pulang denganmu hari ini!" ucap Ino sedikit keras lalu menepukkan kedua telapak tangannya di depan wajahnya sendiri.
Wajah Sakura datar—benar-benar datar. Seakan sudah tahu apa yang menyebabkan teman berisiknya itu tidak bisa pulang bersamanya hari ini, Sakura hanya mengangkat bahunya, "Ya sudah."
"Heh? Hanya itu reaksimu?" tanya Ino. Dia langsung mengangkat kepalanya yang sempat menunduk lalu menatap Sakura bingung, "Kau tidak mau bertanya apa alasanku kenapa tidak bisa pulang bersamamu hari ini?" lanjut Ino sedikit ragu. Kedua matanya mengedip cemas. Jangan-jangan Sakura marah padanya...
Namun, reaksi Sakura tetap tidak jauh berbeda dari awal. Gadis manis itu melipat kedua tangannya di depan dada dan menatap Ino sinis, "Kemungkinan pertama adalah Sai menjemputmu, kedua Sai mengantarmu pulang, lalu yang ketiga Sai ingin mengajakmu pergi kencan," Sakura memicingkan kedua matanya sebal, "intinya kau tidak bisa pulang bersamaku karena si penggila senyum palsu itu."
Fuh, sepertinya Ino memang tidak bisa berbohong pada Sakura lagi. Gadis Yamanaka tersebut langsung terkekeh pelan sembari menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Sebenarnya dia memang tidak mau memberi tahu Sakura perihal Sai—kekasihnya yang satu angkatan dengan mereka tapi berbeda sekolah—akan menjemputnya hari ini. Hubungan kekasih dan sahabatnya itu sedikit kurang baik. Dulu saat mereka bertiga satu SMP, Ino selalu menjadi penengah di antara keduanya dan mengambil peran untuk menenangkan Sakura jika dia sudah mengamuk.
Kenapa bisa begitu? Salahkan Sai yang terlalu jujur dengan kata-katanya hingga membuat siapapun dengan senang hati akan menonjok poker face miliknya itu. Salahkan pula Sakura yang terlalu sensitif dan emosional.
Yah, memang salah dua-duanya sih.
Sedikit mengingat masa-masa saat dia, Sakura, dan Sai waktu di SMP dulu, Ino menghela napas, "Iya kau benar, maaf ya Forehead," anak penjual toko bunga tersebut mengambil Hp dari dalam saku roknya, "Sai juga baru mengirim pesan padaku tadi siang, sih..." gerutu Ino pada akhirnya.
Sakura tersenyum tipis kemudian tertawa kecil, "Tidak perlu khawatir begitu, Pig. Kalian memang sudah pacaran, justru aku tidak mau jadi pengganggu yang menghalangi kencan kalian," setelah mengatakan itu, Sakura pun berjalan melewati Ino yang sempat berdiri di depannya, "aku juga bisa pulang sendiri. Kau terlalu berlebihan tahu," lanjut Sakura setelah melewati Ino.
Aah, ternyata sahabatnya ini memang pengertian. Kedua mata Ino berkaca-kaca dan bibirnya bergetar karena terharu, kedua tangannya saling mengait di depan dadanya, "Aaa, kau baik seka—"
"Oh ya, satu lagi. Bisakah kau mengirimkan pesanku padanya?"
Kata-kata Ino terhenti ketika Sakura menyelanya dengan nada yang... entah mengapa membuat Ino mendadak tegang. Aura di sekitar Sakura berubah, bahkan sepertinya Ino sempat melihat ada warna hitam yang menguar di sekujur tubuh sahabatnya tersebut. Ino menelan ludahnya pelan, tubuhnya merinding. Benar saja, Sakura menoleh dengan senyum palsu seperti Sai... tapi jauh lebih mengerikan.
"Tolong sampaikan padanya, aku masih belum puas menghajarnya setelah dia mengataiku dada rata waktu itu."
Keringat dingin mengalir dengan lancarnya dari pelipis Ino. Setelah mengatakan itu, Sakura melambaikan tangannya lalu berjalan meninggalkan Ino yang hanya bisa tertawa kaku. Aah, sepertinya Ino harus membeli persediaan perban lagi untuk kekasihnya yang bodoh dan malang tersebut.
#
Haruno Sakura menggerutu pelan di tengah perjalanan dari kelasnya menuju gerbang luar sekolah. Setelah ditinggal sahabatnya yang akan pergi kencan dengan kekasihnya, di perjalanannya kemudian yang terasa panjang, hampir di setiap sudut gedung sekolahnya selalu ada sepasang kekasih yang saling bermesraan ria. Tawa genit menjijikkan dengan beribu gombalan yang membosankan memenuhi perbincangan para pasangan tersebut. Membuat Sakura merutuk sebal tak karuan.
Hei, apa mereka tidak memikirkan perasaan para single yang belum beruntung, hah!?
Cih, benar-benar hari yang sial. Gadis bermahkota soft pink itu sekarang hanya ingin segera melampiaskan kekesalannya. Tidak lebih. Minimal menggulingkan gedung sekolah ini saja.
Dengan wajah yang masih merengut, akhirnya Sakura berhasil melewati gerbang sekolah. Sedikit lega, Sakura menghela napasnya. Tapi, belum sempat Sakura melangkah lagi, gadis itu harus memicingkan matanya kembali. Sekarang apa? Laki-laki aneh yang tadi pagi sempat menabraknya tanpa minta maaf kini sedang berada di pojokan jalan dengan kucing-kucing liar di sekitarnya. Seolah mereka sedang membicarakan hal yang seru—terlihat dari ekspresi laki-laki tersebut yang begitu cerah.
Yang pasti, Sakura langsung menghapus kemungkinan pemuda bernama Sasuke itu benar-benar sedang berbicara dengan para kucing di sekitarnya.
Heh, mana mungkin manusia bisa bicara dengan kucing.
Tapi... tetap saja penasaran. Sakura berjalan mendekati Sasuke dengan langkah yang sedikit ragu. Setelah jarak mereka kurang lebih satu meter, Sasuke sudah lebih dulu menyadari keberadaan Sakura. Laki-laki berambut raven tersebut menoleh lalu tersenyum melihat gadis yang sedari tadi ditunggunya, "Kau sudah pulang!" belum sempat Sakura bertanya, Sasuke menoleh pada kucing-kucing di sekitarnya, "Itu manusia yang kutunggu, sudah ya. Sampai jumpa lagi."
Dan Sakura hanya bisa terpaku dengan mulut menganga melihat Sasuke yang seperti orang gila melambaikan tangannya pada lima kucing yang ada di sana. Bahkan seakan merespon Sasuke, kucing-kucing itu mengeong lalu bubar—masing-masing pergi ke arah yang terpisah. Sasuke masih tersenyum saat dia sampai di depan Sakura sementara gadis tersebut masih menatapnya dengan horror.
"Kau... jangan bilang kau baru saja bicara dengan kucing-kucing itu."
"Hm? Iya aku baru saja sedikit berdiskusi dengan mereka, kenapa?" Sasuke bertanya balik sembari mengangkat sebelah alisnya. Seolah pernyataan Sakura tadi hanyalah hal yang sudah biasa terjadi di kalangan umum. Tidak mempedulikan Sakura yang masih menatapnya dengan aneh, Sasuke terus berkata, "habis menunggumu pulang lama sekali. Untung mereka lewat, jadi aku tidak merasa terlalu bosan."
Sakura masih bingung. Dia benar-benar kehabisan kata-kata maupun komentar. Tidak bisa menerima kenyataan kalau Sasuke benar-benar baru saja berbicara dengan kucing-kucing itu. Sakura memegang kepalanya yang terasa pening. Tidak. Jangan terlalu dipikirkan. Anggap saja semuanya hanya halusinasi. Ya. Dia lagi tidur siang dan bermimpi. Anggap saja begitu. Dengan langkah gontai, akhirnya Sakura berjalan menjauhi Sasuke yang kemudian berinisiatif mengikutinya.
Sasuke berjalan santai sembari menolehkan kepalanya ke kanan dan kiri. Memperhatikan keadaan lingkungan sekitarnya yang sedikit berubah semenjak dirinya kini telah berjalan dengan dua kaki. Sekarang penglihatannya tak setajam dulu—mata manusia yang normal. Sasuke harus memicingkan matanya untuk melihat benda-benda jauh. Itu juga tidak sejelas saat dia masih memiliki mata kucing.
Senyum tipis tak hilang dari wajah pemuda beriris onyx tersebut. Sakura yang berjalan di depannya sesekali melirik ke belakang untuk memperhatikan ekspresi yang masih tergolong polos untuk laki-laki yang secara fisik seumur dengannya. Ada apa sih dengan laki-laki ini? Ekspresinya seperti anak kecil yang baru saja berkenalan dengan dunia luar. Dari tawanya, dia terlihat tidak memiliki beban hidup apapun.
Siapa sebenarnya dia?
Dan yang lebih penting...
"Kenapa kau mengikutiku?" Sakura berkata sengit membuat Sasuke mengalihkan perhatiannya dari kupu-kupu cantik yang terbang di sekitarnya. Mungkin jika seandainya Sakura tidak bertanya, Sasuke akan mengikuti naluri kucingnya dan bermain dengan kupu-kupu tersebut.
Sakura menaikkan sebelah alisnya melihat Sasuke yang memiringkan kepalanya tanpa menghilangkan senyumnya, "Tentu saja untuk pulang bersamamu," jawabnya santai.
Gadis Haruno itu terdiam sesaat, "Memang rumahmu dimana?"
"Rumah?" Sasuke kembali berpikir, "Itu apa?"
"Tempat tinggalmu! Ada apa dengan kepalamu, sih!?" tanya Sakura yang mulai kesal. Dia menghentak-hentakkan kaki kanannya di atas aspal jalan. Kedua tangannya mengepal di samping tubuhnya. Gadis itu sedang berusaha sabar, "Dimana rumahmu? Kau benar-benar tidak beres. Sepertinya aku memang harus mengantarmu pulang," ketus Sakura. Kedua tangannya dilipat di depan dadanya.
Akhirnya Sasuke mengangguk mengerti. Tapi kemudian, senyumnya kembali terlihat sedih seperti pagi tadi. Hal ini membuat Sakura menatapnya heran untuk yang ke sekian kalinya, "Aku..." suara Sasuke membuat Sakura menaikkan kedua alisnya. Mencoba menunggu jawaban meskipun dirinya sudah sangat gatal untuk menarik Sasuke ke rumah pemuda itu sendiri sekarang juga. Kesialannya hari ini benar-benar membuat Sakura ingin cepat-cepat tidur seharian di kamarnya yang nyaman.
"...hanya ingin tinggal bersamamu."
.
.
.
A...pa?
Butuh waktu satu menit untuk Sakura mencerna kata-kata Sasuke. Tinggal... bersamanya. Sasuke ingin tinggal bersamanya. Ingin tinggal bersamanya.
Bersamanya.
Bersamanya.
Bersamanya...
BLUSH!
"A-A-A-A-APA MAKSUDMU, BODOH!?" Sasuke sedikit kaget mendengar teriakan Sakura. Belum lagi ketika wajah Sakura tiba-tiba memerah sepenuhnya dan gadis itu mundur dari posisinya secara reflek. Tangan kanan anak tunggal Haruno tersebut berusaha menutupi wajahnya yang memerah dan sudah terasa sangat panas, "PIKIR DULU SEBELUM BICARA!" lanjutnya—masih berteriak.
Tapi perkataan Sakura justru membuat Sasuke semakin bingung. Apa yang salah dengan kata-katanya? Memang kenapa jika dia hanya ingin tinggal bersama Sakura? Salah? Sasuke benar-benar tidak habis pikir. Kenapa manusia begitu sulit dimengerti?
"Aku... tidak mengerti kenapa kau jadi berteriak begitu hanya karena aku ingin tinggal bersamamu," ucap Sasuke jujur. Jari telunjuk kanannya menggaruk pipinya sedikit canggung. Situasi ini membuatnya semakin bingung, "tapi aku boleh tinggal bersamamu, 'kan?" tanyanya lagi dengan wajah setengah memohon.
"H-Hah?" jujur, rasanya otak Sakura tidak berpikir untuk saat ini. Wajahnya benar-benar merah dan terasa panas. Bohong jika Sakura tidak tertarik pada Sasuke yang jelas-jelas memiliki wajah tampan dan manis untuk laki-laki yang seumuran dengannya. Tapi... kelakukan aneh Sasuke tentu harus membuatnya berpikir dua kali.
Dan lagi... tinggal bersama? Laki-laki dan perempuan remaja yang tidak memiliki hubungan apapun apalagi hubungan darah...
Tidak mungkin! Apa Sakura mau merusak nama baiknya sendiri!?
"Ti-Tidak. Itu tidak mungkin," Sakura menggelengkan kepalanya panik. Gadis itu menggigit bibir bawahnya sedikit keras, "maaf, aku benar-benar pusing. Aku mau pulang," setelah mengatakan itu, Sakura langsung berbalik dan berlari kencang lalu berbelok ke dalam suatu gang.
"Eh? Tunggu!" Sasuke berusaha mengejar. Namun sial, Sakura sudah berlari cukup jauh di depannya. Meskipun Sasuke bisa mengejarnya, kemungkinannya besar Sakura akan terus menggunakan jalan berputar untuk memisahkan diri darinya. Sasuke mendecih. Sekarang waktunya menggunakan naluri kucing yang masih dimilikinya.
Sementara itu, Sakura terus berlari. Napasnya memburu begitu cepat. Setelah sampai di belokan terakhir rumahnya, Sakura menoleh ke belakang. Dia tersenyum senang melihat tidak ada sosok Sasuke yang mengejarnya dari kejauhan. Bagus. Pasti laki-laki aneh itu kehilangan jejaknya lalu tersesat. Dan sekarang dia pasti sedang kebingungan mencari Sakura. Membayangkan wajah bingungnya saja membuat Sakura ingin tertawa puas.
Semoga saja mereka tidak bertemu lagi.
Sudah cukup mengatur napasnya, Sakura berjalan dengan riang menuju pintu rumahnya. Tangannya sudah terjulur menyentuh pegangan pagar ketika suara seseorang menyahutnya dari atas, "Sakura!"
Su-Suara ini...
Sakura segera mengangkat kepalanya ke atas. Dugaan yang menakutkannya benar-benar terjadi. Sakura menatap panik Sasuke yang sedang berdiri di atas dahan pohon besar di halaman rumahnya. Dan yang lebih mengagetkan adalah ketika Sasuke lompat begitu saja dari atas pohon yang tinggi itu ke bawah tanpa pelindung apapun.
Gila!
Laki-laki ini benar-benar gila!
Sengaja, Sasuke memaksa tangan Sakura agar terpisah dari pegangan pagar rumah gadis itu sendiri. Sehingga kini Sasuke berdiri membelakangi pagar rumah Sakura dan Sakura sendiri berdiri di depan Sasuke. Gadis itu memicingkan kedua matanya waspada, "Apa sebenarnya maumu!?" tanya Sakura sedikit berteriak karena frustasi.
"Aku sudah bilang, 'kan? Aku ingin tinggal bersamamu!" sekarang Sasuke yang memicingkan kedua matanya karena kesal, "Justru harusnya aku yang bertanya, kenapa kau tiba-tiba lari meninggalkanku? Kita kan bisa pulang bersama!"
Ukh, Sakura tidak tahan lagi. Tangan kanannya menarik baju hitam Sasuke dengan kasar, "Aku benar-benar tidak mengerti dengan omong kosongmu!" menggeser Sasuke secara paksa, Sakura berusaha menerobos untuk masuk ke dalam rumahnya, "Jangan menghalangi jalanku!" ucap Sakura sedikit terengah-engah. Meskipun hampir dengan seluruh tenaganya yang tersisa, tetap saja Sasuke tidak terlihat bisa digeser meskipun hanya satu centimeter dari posisinya. Membuat Sakura kelelahan sendiri.
Dia ini monster, alien, atau apa sih!?
Sekarang ditambah dengan aksi Sasuke yang merentangkan kedua tangannya. Mengambil posisi menutupi pagar Sakura dari gadis yang malang tersebut, "Kau tidak boleh masuk sampai kau mau mengizinkan aku untuk tinggal bersamamu!" teriak Sasuke. Sakura mulai menggertakkan gigi-giginya menahan amarah.
"Haa!? Memangnya kau anak kecil? Minggir, Sasuke!"
"Tidak mau!"
"Sasuke!"
"Kenapa sih? Kau saja bisa membiarkan kucing tinggal bersamamu, kenapa manusia yang justru satu jenis denganmu tidak bisa?"
Hah? Sakura benar-benar emosi sekarang. Laki-laki gila yang baru saja datang ke dalam kehidupannya tadi pagi kini sudah mulai mencoba menghancurkan hidupnya. Sungguh, apa maunya? Dan lagi... kucing? Apa maksudnya? Maksudnya Sakura memelihara kucing? Sejak kapan? Gadis beriris zamrud tersebut tak tahan lagi dan akhirnya berteriak tepat di depan wajah Sasuke.
"Jangan sok tahu! AKU BAHKAN TIDAK PERNAH MEMELIHARA KUCING SEUMUR HIDUPKU!"
Ah.
Skak mat.
Kedua bola mata Sasuke membulat kecil seakan baru saja mendengar pernyataan sederhana yang mampu membuat dunianya berhenti saat ini juga. Meskipun begitu, Sakura tidak menyadari perubahan ekspresi yang sangat jelas pada wajah Sasuke. Gadis itu terus berkata kasar melampiaskan kekesalannya yang sedari tadi ditahannya. Dia sudah terlalu masa bodoh dengan apa yang akan terjadi setelah ini. Atau apakah kata-katanya akan menyakiti laki-laki di depannya. Yang penting dia puas.
"Lagipula... sampai sejauh apa kegilaanmu hingga kau membandingkan dirimu sendiri dengan kucing, hah?"
Telinga Sasuke berdengung, rasanya indra pendengarannya hilang begitu saja. Dia sedikit menunduk sehingga poninya menutupi kedua matanya. Laki-laki beriris obsidian itu menggigit bibir bawahnya pelan dan nyaris tak terlihat. Sementara Sakura mulai sadar tidak ada respon sama sekali dari Sasuke yang terlihat hanya berdiri mematung di depannya. Sakura mulai memelankan volume suaranya.
"...Hei, kenapa jadi diam?" gadis itu melipat kedua tangannya di depan dada. Risih juga rasanya jika terus berbicara tapi tidak ditanggapi oleh lawan bicara. Sakura menatap Sasuke dari bawah ke atas, "Hoy! Kau mendengarku, 'kan? Jangan membuatku terlihat seperti orang idiot!" bentaknya lalu memukul dada Sasuke cukup keras.
Sakura menghentikan niatnya untuk memukul dada Sasuke lagi ketika laki-laki itu kembali berbicara—walau masih menunduk, "Mana mungkin aku tidak bisa dengar..." kedua bola mata Sakura membulat, "...suara jelekmu itu."
Bagus. Sekarang pemuda ini malah mencoba menghinanya. Sasuke masih diam tak berkutik di saat Sakura mulai menyiapkan kepalan tinjunya, "Kau memang mau mencari masalah denganku," tangan Sakura membuka dan menutup—menyiapkan diri agar tangannya tidak terasa kaku saat memukul nanti, "dengan begini aku akan memukulmu lalu kuseret tubuhmu paksa agar kau segera pergi dari sini!" teriak Sakura.
Bahkan meski dengan ancaman seperti itu, Sasuke tetap diam dan tidak mengelak sama sekali. Perasaan Sakura campur aduk antara kesal, marah, dan sakit karena merasa diremehkan. Sekarang Sakura tidak perlu memikirkan lagi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang menyangkut laki-laki bernama Sasuke itu. Kedua matanya sudah terlanjur tertutup kabut emosi. Menyebalkan. Menyebalkan. Menyebalkan!
"JANGAN PERNAH DATANG LAGI!"
Teriakan gadis itu menggema. Bahkan meskipun tahu pukulan keras akan mengenai wajahnya, Sasuke sama sekali tidak menghindar. Perkataan Sakura sebelumnya benar-benar membuatnya syok. Padahal dia tahu... dia sudah tahu. Kalau Sakura memang sudah tidak mengingat lagi apapun tentang dirinya. Semua kenangan mereka. Berbagai hal suka duka yang mereka lakukan bersama... semuanya berharga. Dan Sakura tidak terlihat mengingatnya satupun.
"Tapi Sakura... apa kau benar-benar melupakan semuanya?"
Ingin bertanya seperti itu, tapi semuanya tertahan di mulutnya. Lidahnya terasa kelu. Sasuke menarik napas dalam. Sudah berulang kali di kepalanya dia mengucapkan untuk siap menerima kenyataan yang ada. Ini kesempatan terakhirnya. Jika seandainya waktu itu dia tidak mendapat kesempatan ini, Sasuke sekarang pasti sudah mati. Nyawanya yang berharga diberikan pada majikan kesayangannya.
Jadi, satu-satunya pilihan yang Sasuke miliki sekarang... hanyalah bertahan sampai dia bisa mengembalikan ingatan Sakura tentang dirinya perlahan-lahan.
Tapi ternyata... tetap menyakitkan.
"Sakura?" suara seseorang dari belakang Sasuke menghentikan kepalan tinju Sakura yang sudah sampai tepat di depan hidung pemuda yang dulunya adalah kucing tersebut. Baik Sakura dan Sasuke sama-sama menoleh, mereka mendapati Haruno Mebuki yang baru saja membuka pagar rumah Sakura, "Ada apa? Kok ribut-ribut di luar? Ah, dia temanmu Sakura?" tanya ibu itu sembari menatap Sasuke.
"I-Ibu," Sakura buru-buru menarik tangannya yang dalam posisi siap memukul. Gadis itu terlihat panik dengan menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinganya, "dia... bukan temanku," jawab Sakura pelan. Tapi, Sasuke tidak mendengarnya. Kedua bola matanya sudah terlanjur terpaku pada ibu Sakura yang menatapnya bingung.
"Ibu..." gumaman pelan Sasuke membuat Sakura menoleh kaget. Tatapan terkejut Sasuke terlihat seperti dia telah mengenal ibunya sejak lama dan baru saja bertemu lagi. Tapi, ibu Sakura justru sebaliknya. Hanya saja... entah kenapa suara Sasuke terdengar begitu akrab di telinga wanita yang telah menginjak umur empat puluhan itu.
Mebuki menatap Sasuke penasaran lalu tersenyum kaku, "Kita... pernah bertemu nak?"
Sasuke langsung terkesiap kaget, sadar dari kata-kata bodohnya. Dia langsung menggeleng cepat, "Ti-Tidak, aku—"
"Ibu, namanya Sasuke dan tadi dia bilang dia ingin tinggal bersamaku! Dia tidak memperbolehkanku masuk sampai aku mau menerimanya!" Sakura langsung memotong ucapan Sasuke sembari menunjuk ke arah laki-laki itu, "Secara tidak langsung, bukankah itu pelecehan seksual!?" tanya Sakura dengan emosi.
Pelecehan seksual? Apa lagi itu? Sasuke mengernyitkan keningnya. Bahasa manusia benar-benar menyusahkan.
"Ooh, pantas saja kau terlihat marah," Mebuki menganggukkan kepalanya mengerti lalu menatap Sasuke ragu, "memangnya... mengapa kau ingin tinggal bersama Sakura?" tanya ibu Sakura dengan lembut membuat Sasuke sedikit kaku. Padahal waktu dia adalah seekor kucing dulu, ibu Sakura terlihat sangat keras dan mengerikan—tak jauh beda dari anaknya—apalagi jika Sasuke (Sasu) tidur bersama Sakura dimana bulunya bisa saja terhirup masuk ke dalam hidung anaknya.
Sasuke menunduk dan menjawab pelan, "Aku... tidak punya tempat yang dinamakan rumah dan di dunia ini manusia yang kutahu hanya Sakura dan ibu," Sakura mendelik kesal. Mengarang cerita lagi, eh? Sementara itu Sasuke kembali melanjutkan, "maaf, aku benar-benar tidak mengerti apa yang sedang terjadi dan apa alasannya, aku tidak mengerti. Sungguh..."
Sasuke memejamkan kedua matanya erat lalu memegang kepalanya dan meremas rambutnya. Mebuki memperhatikan penampilan Sasuke. Laki-laki itu hanya memakai celana dan baju yang serba hitam. Dia tidak memakai alas kaki apapun membuat kakinya kotor karena tanah dan debu. Tapi, mengesampingkan itu semua, Sasuke terlihat seperti laki-laki biasa pada umumnya. Dia memiliki kulit putih yang bersih, bentuk tulang wajah yang sempurna, tatapan mata tajam dan warna iris onyx yang indah. Sulit sekali untuk menganggap laki-laki di depannya hanyalah seorang anak jalanan gila seperti yang dideskripsikan Sakura.
"Mungkin... kau lupa ingatan?" tanya Mebuki mencoba menebak. Sasuke mengangkat kepalanya, menatap ibu Sakura penuh harap, "Jika memang begitu, kau bisa tinggal bersama kami sampai ingatanmu kembali."
"Apa!?" Sakura langsung berteriak kaget. Ibunya mengizinkannya? Tidak mungkin! "Tapi bu—"
"Tenanglah Sakura, ibu yakin Sasuke bukan anak yang jahat."
"Apa maksud ibu!? Ibu bahkan belum mengenalnya sama sekali! Kenapa ibu bisa semudah itu mengizinkan dia tinggal bersamaku? Bagaimana jika sesuatu terjadi padaku di saat ibu tidak ada?" tanya Sakura bertubi-tubi. Tidak. Dia tidak mungkin bisa menerima keputusan ibunya semudah itu. Mengingat sebelumnya dia mati-matian mencegah Sasuke agar tidak mengikutinya.
Haruno Mebuki pun diam. Dia memang tidak bisa membantah perkataan Sakura yang tidak sepenuhnya salah. Tapi... ada yang lain. Ada yang lain dalam diri Sasuke. Baik dari tatapan mata dan suaranya, Mebuki seakan yakin dia pernah mengenal anak ini jauh sebelumnya. Dan sesuatu di dalam hatinya menuntut untuk mengizinkan laki-laki misterius tersebut untuk tinggal bersamanya. Sama sekali tidak ada kekhawatiran apapun di dalam dirinya.
Ah... Entahlah.
Mengabaikan Sakura yang masih tidak terima, Mebuki membuka pagarnya lebar, "Ayo masuk, Sasuke. Sakura. Makan siang sudah kusiapkan," ucapnya ramah.
Sakura menggelengkan kepalanya tidak percaya apalagi saat melihat Sasuke yang langsung tersenyum lebar dan merasa lega. Tapi, belum sempat Sasuke melangkah masuk, Sakura sudah lebih dulu mendorong Sasuke sebelum dia lari dengan cepat ke dalam rumahnya. Mebuki hanya bisa menghela napas. Kali ini dia tidak bisa memarahi Sakura karena aksi kasarnya. Sakura memiliki alasan yang bagus sekarang untuk marah padanya.
Tapi, tak lama setelah itu, Sasuke mendekati Mebuki yang masih berdiri di depan pagarnya. Mebuki sedikit terkejut ketika Sasuke tersenyum tipis padanya lalu berkata...
"Aku pulang, ibu."
Hanya tiga kata. Tapi sanggup membuat Mebuki terpaku di tempatnya berdiri. Sementara Sasuke sudah melewatinya dan masuk ke dalam rumahnya, Mebuki masih mencerna kata-kata Sasuke tersebut. Tapi pada akhirnya ibu Sakura itu memilih untuk melupakannya. Mebuki menggeleng-gelengkan kepalanya kemudian melihat keluar seakan mencari sesuatu. Dia bergumam pada dirinya sendiri.
"Ngomong-ngomong, kok Sasu belum pulang ya?"
#
.
.
.
#
Sasuke mengamati keadaan rumah Sakura. Tidak ada yang berubah dari sejak kemarin. Hanya saja karena dia sudah berubah menjadi manusia dengan ukuran tinggi seratus tujuh puluh lima centimeter, rumah ini sekarang terlihat lebih kecil. Dengan langkah lebar, Sasuke berlari menaiki tangga dimana lantai dua adalah tempatnya dulu bermain bersama Sakura.
Pemuda yang dulunya adalah seekor kucing hitam itu menatap ruangan di depannya dengan ekspresi yang tidak bisa diartikan dengan kata-kata. Rindu sekali rasanya. Meskipun baru sehari saja berpisah dari rumah ini. Sasuke tersenyum tipis menahan kesedihan yang menyakitkan di dalam dadanya. Saat sedang berkeliling, Sasuke menemukan bantal yang dulu dijadikan tempatnya tidur kini diletakkan di pojok ruangan.
Berjalan pelan, dipungutnya bantal dimana bau khas miliknya telah membekas. Sasuke menatap bantal yang telah kusut tersebut. Banyak benang-benang mencuat karena dulu dia sering menarik-nariknya dengan kuku panjangnya. Mengingat bagaimana dulu dia sering bergelayut manja di atas bantal kecil namun empuk ini membuat Sasuke tertawa kecil lalu dipeluknya bantal tersebut.
Sekarang... bantal itu hanya bisa menjadi sandaran kepalanya. Tidak mungkin seluruh tubuhnya bisa tidur di atas bantal tersebut.
Sasuke menaruh bantal itu kembali di tempat sebelumnya lalu menoleh ke belakang. Di sana ada kamar Sakura. Sasuke melangkah pelan dan begitu sampai, dibukanya pintu kamar tersebut. Terlihat tubuh Sakura di atas kasurnya. Didengar dari deru napasnya, sepertinya gadis itu jatuh tertidur karena kelelahan setelah memarahinya habis-habisan.
Tadinya Sasuke akan membiarkan Sakura tidur sampai suara Mebuki menyahut dari bawah. Memberi tahu pada dua penghuni rumah lainnya waktunya untuk makan siang sekarang. Itu artinya Sakura harus dibangunkan. Sasuke menggoyangkan tubuh Sakura tapi percuma. Dia tahu, sejak dulu Sakura memang paling susah dibangunkan.
Waktunya menggunakan jurus andalannya.
Sasuke menaiki kasur Sakura sehingga kini dia berada di atas tubuh gadis yang sedang terlelap dalam mimpinya itu. Sungguh posisi yang berbahaya untuk laki-laki dan perempuan remaja—jika Sasuke tahu. Sekarang Sakura terlihat begitu kecil di matanya dan hal itu membuat Sasuke merasa dia bisa lebih melindungi Sakura daripada saat dia masih menjadi kucing. Sasuke tersenyum tipis mengamati Sakura yang meringkuk di antara dua tangan yang menahan tubuhnya. Didekatkannya wajahnya pada wajah Sakura lalu... dia menjilati pipi putih gadis tersebut.
Rasanya... lain. Menjilati wajah Sakura dengan lidah manusia ini.
Sesuai harapannya, Sakura langsung bangun setelah Sasuke menjilati pucuk hidung, pipi, dan dahi gadis bermahkota soft pink tersebut berulang-ulang. Tentu saja gadis itu kaget bukan main, wajahnya juga ikut memerah seperti sebelumnya. Mulutnya membuka menutup tidak tahu harus berkata apa. Tidak ada suara apapun yang keluar dari mulutnya. Semua tertahan di dalam tenggorokannya.
Tambahan. Mungkin Sakura akan sedikit memaafkannya jika laki-laki yang menjilati wajahnya saat tidur ini akan langsung panik begitu melihat dia terbangun. Tapi... Sasuke justru tersenyum senang dan polos seperti anak kecil yang akhirnya berhasil membangunkan ibunya atau semacamnya.
"Bangun Sakura, waktunya makan siang!" ucap Sasuke dengan keras tanpa merubah posisinya sama sekali yang berada di atas tubuh Sakura. Empat siku-siku muncul di dahi Sakura tak lama kemudian. Kedua tangannya mengepal dan bergetar. Giginya digertakkan dengan keras. Sasuke sendiri hanya bingung melihat reaksi majikannya itu.
Sama sekali tidak terpikirkan oleh Sasuke kalau Sakura akan marah hanya karena dia menjilati wajahnya. Dulu waktu dia adalah seekor kucing, Sakura justru senang dijilati dengan penuh kasih sayang seperti sekarang.
'Dulu waktu dia adalah seekor kucing'
"Kenapa Sakura?"
Tapi sekarang... akan terlihat bodoh jika Sakura senang dijilati oleh laki-laki remaja seumuran dengannya yang bahkan belum dikenalnya sama sekali. Tak peduli apa yang akan dikatakan ibunya tentang Sasuke, Sakura harus selalu waspada. Kalimat yang akan ditekankan di dalam kepala Sakura mulai dari sekarang...
Sungguh. Laki-laki ini sangat—
DHUAAAK!
—berbahaya.
.
.
.
Even this world is so cruel and give me so much pain
.
I won't lose it because I love those precious pain
.
.
.
.
...
Fortgesetzt Werden
...
.
.
.
Kapitel Zwei : Chapter two
Ich Will Mit Dir Sein : I want to be with you
Besonderer Dank für :
Retno UchiHaruno, Mari Chappy Chan, iya baka-san, Gin Kazaha, srzkun, SugarlessGum99, Ihylia Kiryu, AN Narra, me, Sparyeulhye, skyesphantom, Always sasusaku, Regichann, Dita-hime, Ah Rin, Kiki RyuEunTeuk, Brown Cinnamon, Fara-chan, pichi, Ai Nekozawa Dark Angel, kuromi, FuRaHeart, Males login, Uchiha The Tomato Knight, Hime Kazekhawa, Mizuira Kumiko, akmal, karimahbgz, mika, AcaAzuka Yuri chan, Karasu Uchiha, aikuromi, firuri ryuusuke, Neko Darkblue, Akuro Hayami, Nagi Sa Mikazuki Ananda, syarah, Azizah Primadani, WatchFang, Guess
Dan untuk yang lainnya juga terima kasih :) yang belum ninggalin jejak kutunggu yaa :D
Akhirnya selesai... #capek Ngerjain di sekolah lagian, sembunyi dari guru-guru yang ngajar wkwk #ditabok
Yah pokoknya udah nih ahaha semoga feel-nya dapet. Jangan lupa, di sini yang tidak ingat Sasu hanya Sakura. Jadi jangan heran jika ibu Sakura dan mungkin nanti ke depannya teman-teman Sakura masih ingat kucing Sakura bernama Sasu—yang sayangnya sudah menjadi manusia bernama Sasuke :')
Setelah ini mungkin saya bakal ngerjain Review and Art sampai tamat. Jadi, kalau bisa jangan minta update yang lain dulu yaa biar saya bisa konsentrasi ngerjain dua chapter terakhir itu hehe. Walau pastinya bakal ngaret seperti biasa lol #dibunuh
Yup, kurang lebihnya saya minta maaf. Males ngecek ulang~ ha to the ha. Mind to review? :3
