A/N: Ketemu lagi sama saya. Feelsnya gak dapet ya? Bagi saya sih memang agak susah buat genre drama. Pengen nyoba-nyoba doang. Dan hasilnya.. fail! oke, jangan berprasangka buruk dulu :v semangatin author yook!? /nggak!/

Akhir kata, Enjoy reading *tebar pesona* #DikeroyokReader.

Warning:

- Fluff?

- Bahasa gaul broo

- Typo suka narsis

- Garing

- Gaje

- Abal-abalan

Disclaimer: Author gak punya Vocaloid.

.


"B-boleh. Emang lu mau ke pemakaman juga?" tanya Miku gugup.

'Mengapa aku selalu gugup ketika berada didekat Len-kun?' gumam Miku khawatir.

Len mengangguk sambil tersenyum. Lalu mengulurkan tangannya. Wajah Miku semakin memerah. Lalu ia meletakkan tangannya diatas tangan Len.

"Hangat." gumam Len, tetapi suaranya masih bisa terdengar sedikit.

"... Huh? Bilang sesuatu?" tanya Miku sambil memiringkan kepalanya.

'Kenapa dia jadi lucu gitu sih? Bikin orang mau nyubit dia aja' gumam Len. Dipipinya terdapat garis pink-pink tersamarkan.

"T-tidak." jawab Len gugup. Lalu mereka berjalan menuju mobil Len yang sedang terparkir ditempat parkir.

Mereka pun masuk kedalam mobil dan Len mencoba untuk menghidupkan mesinnya. Miku duduk disamping Len yang berada didepan. Miku melihat kearah kursi belakang.

"Rin dimana?" tanya Miku.

"... Dia lagi pergi." jawab Len singkat dengan nada datar.

"..." Miku terkejut melihat Len berubah menjadi dingin.

Selama diperjalanan, keheningan mulai menguasai suasana diantara mereka. Hanya terdengar suara AC mobil. Miku memeluk lengannya. Ia kedinginan dengan AC dimobil itu.

Len melihat Miku memeluk lengannya, lalu Len memberhentikan mobilnya sebentar. Len melepaskan jaketnya dan memberikannya kepada Miku. Miku menoleh ke Len.

"Buat apa?" tanya Miku lembut.

"Lu kedinginan?" tanya Len mengabaikan pertanyaan Miku. Miku perlahan mengangguk.

Len pelan-pelan meletakkan jaketnya ke badan Miku. Miku menggigil dengan sentuhan tangan Len yang mengenai badannya. Kulit Miku begitu lembut dan sensitive. Putih pucat.

Wajah Miku merona dengan taburan pink-pink dipipi nya. Begitu pun dengan Len.

Setelah meletakkan jaket Len ke Miku, Len mulai melanjutkan perjalanannya. Keheningan terjadi kembali.

:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:

"Miku" ucap Len.

Miku sedang tertidur dalam posisi duduk. Len hanya pasrah dan mencoba membangunkan Miku.

"Miku, bangun. Kita sudah sampai" ujar Len dengan suara lembutnya. Len tetap mencoba membangunkan Miku tetapi tidak bisa. Miku sudah tertidur lelap. Wajahnya, seperti malaikat.

"Kau sangat manis ketika tidur" lirih Len sambil menatap Miku. Len mencoba berpikir sebentar.

Wajahnya langsung memerah dan Len langsung menutup mulutnya.

"Apa tadi yang baru saja gue katakan?" gumamnya.

:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:

Tidak lama itu, Miku bangun dari tidurnya. Rambutnya berantakan dan kuncirnya agak turun kebawah. Tetapi itu terlihat lucu bagi semua orang bahkan untuk author sendiri.

Miku tidak melihat Len dikursi pengemudi. Lalu Miku keluar dari mobil Len dan pergi entah kemana.

Len yang baru saja membeli makanan ringan terkejut melihat Miku tidak ada didalam mobil. Len benar-benar panik saat ini. Ia tidak ingin terkena oceh dari Rin. Rin sangat sayang terhadap Miku. Dan juga Rin suka menganggap Miku sebagai saudaranya sendiri. Beda orangtua, sama hati. Itulah kata-kata Rin yang selalu dilontarkan kepada Len.

Len langsung menaruh makanannya didalam mobilnya lalu pergi mencari Miku.

:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:

Setelah beberapa menit kemudian, akhirnya Len menemukan Miku berada didepan sebuah dua batu nisan. Miku hendak akan menaruh seikat bunga mawar itu ditengah-tengah antara kedua batu tersebut.

Len mulai mendekati Miku.

"Hai, mama, papa. Aku sudah kembali lagi. Apakah kalian senang?" ucap Miku tetapi tidak ada yang merespon. Miku merunduk kebawah dan melihat kakinya. "Aku tau. Aku juga merindukan kalian disana. Aku ingin menghabiskan waktu bersama kalian." tidak ada respon. "Sindrom ku semakin parah. Tapi, aku mencoba untuk tetap tegar menghadapinya." tidak ada respon lagi. Bulir-bulir air mata jatuh perlahan dari mata tealnya. Mengalir menuju pipi dan akhirnya jatuh ketanah.

"Ma, pa. Jawab aku" ucap Miku sambil mengusap air matanya. "Aku ingin bergabung bersama kalian disana. Apakah aku harus mati, dan bergabung bersama kalian?" Miku mengusap air matanya lagi. "Tolong, jawab aku. Aku benar-benar merindukan kali–"

"Tidak, Miku" suara seseorang menghentikan Miku yang sedang berbicara.

Miku pun menoleh kebelakang. Ia terkejut saat melihat Len berlari menuju arahnya dan memeluknya dari belakang. Semburat merah menghiasi wajah keduanya.

"Len-kun?"

"Jangan tinggalkan gue dan Rin. Tolonglah." Len memohon. "Kami menyayangimu, Miku." sambung Len. Air mata Miku mengalir kembali. "Kami menyayangimu apa adanya. Tapi, kami berdua menyayangimu dengan maksud yang berbeda." ucap Len sambil tersenyum lalu menenggelamkan wajahnya dipundak Miku.

"A-Apa maksudmu?" tanya Miku sambil mengusap air matanya lagi.

"R-Rin menyayangimu sebagai saudaranya. Sedangkan gue–"

Tes.. Tes..

Rintik-rintik air mulai berjatuhan. Len langsung menarik tangan Miku menuju mobilnya.

"Le– tunggu aku." teriak Miku sambil terisak.

:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:

Mereka berdua kembali pulang menuju rumah masing-masing. Tetapi Len mengantarkan Miku kerumahnya dulu.

"Len-kun.." sapa Miku.

"Hmm?" Len bergumam.

"Kenapa kau selalu dingin terhadap orang-orang?"

"..." tidak ada jawaban dari Len. Miku menoleh kearah Len.

"J-Jika tidak ingin menjawab, tidak apa-apa." Miku melihat pemandangan luar.

"Sebenernya, gue frustasi ketika orangtua gue dan Rin meninggal. Gue sebenernya gak rela mereka pergi begitu saja. Tapi, yah namanya juga takdir. Gue harus menerima apa adanya. Tapi gue tetep gak bisa nerima semua itu. Tapi, entah mengapa gue jadi dingin terhadap orang-orang. Rin biasa aja. Tapi gue gak tau apa yang terjadi pada diri gue sendiri." Len berhenti menjelaskan. Sepertinya ia tidak ingin masa lalunya diungkit kembali.

Hening terjadi kembali. Tetapi Len mencoba membuat suasana menjadi tidak membosankan.

"...Miku." sapa Len.

"Ya?" suara Miku begitu imut.

"Lo suka sama seseorang?" pertanyaan asing meluncur begitu saja dari mulut Len.

"Tid– 'ukh." Miku cegukan kembali.

"Kau bohong" cela Len dengan suara datar.

"Aku tidak boho– 'ukh." Miku cegukan lagi.

"BERHENTILAH BERBOHONG OKE!? Gue gak ingin ngelihat lo sengsara." teriak Len frustasi.

"Len-kun?" mata Miku sudah berkaca-kaca. Sebenarnya Miku tidak ingin membuat siapapun khawatir terhadap dirinya.

"Gue akan nganterin lo pulang." Len tetap melihat pandangannya kedepan.

"B-baiklah. Terima k-kasih."

:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:

"Tadaima~" ucap Miku riang. Tetapi tidak ada yang merespon. Miku sedih ia tinggal sendirian. Baginya, ia tampah tinggal disebuah kuburan. Rumahnya yang lumayan agak besar, membuat Miku semakin takut tinggal sendirian. Tetapi Miku pasrah. Dirumahnya juga tidak ada makhluk gaib.

'Srrrrrrr' suara shower terdengar. Miku sedang membersihkan dirinya sehabis dari kuburan. Miku menyikat giginya dan menatap kearah cermin.

Ketika Miku lagi menggosok giginya, ia kadang-kadang bergumam sambil menunjuk bibir tipisnya itu. 'Sampai kapan aku akan mendapatkan ciuman pertamaku? Siapa yang akan mengambilnya? Tidak sengaja atau sengaja?' pertanyaan itu terus diulanginya.

:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:

"Ohayo." ucap Miku sambil mengulurkan tangannya keatas. Tetapi tidak ada yang merespon. Hidup Miku benar-benar menyedihkan. Dia sudah kehilangan keluarga tercintanya. Dia tidak ingin kehilangan sahabatnya, Rin dan Len.

'Apa yang harus aku lakukan?' gumam Miku. Bulir-bulir jatuh perlahan dari pipinya. Miku terjatuh dan memeluk kakinya sambil menangis.

:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:

"Cepetan! Kita mau jenguk Miku!" suara cempreng Rin terdengar sampai ketelinga Len.

"Sabar dikit bisa gak!?" Len merendahkan suaranya. Rin pun menjadi takut dan diam sejenak.

'Sampai kapan Len menjadi dingin seperti ini? Gue sangat kangen sama perilaku Len yang dulu. Apa mungkin kunci utamanya itu Miku yah? Mungkin saja.. Soalnya Len selalu terlihat bahagia ketika bersama Miku' gumam Rin sambil menyeringai.

:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:

Bel rumah berbunyi tiga kali. Akhirnya Miku membuka pintu depan rumahnya.

"Ohayoo Mikuu!" sapa Rin sambil memeluk Miku.

"O-ohayo Rin-chan. Eh? Ohayo Len-kun." Rin melepaskan pelukannya dan berdiri dibelakang Len sambil tersenyum jahil.

Ketika Len akan menjabat tangan Miku, tiba-tiba Len didorong oleh Rin.

Terjatuh sampai kelantai.

Hidung bersentuhan.

Mata saling menatap satu sama lain.

Len diatas, Miku dibawah.

Untungnya, bibir mereka tidak bersentuhan.

Rin langsung mengambil handphone nya, lalu memotret posisi Len dan Miku yang sedang memerah. Rin memotretnya dari samping, sehingga kelihatan hidung mereka bersentuhan.

'Mantap' desis Rin sambil menyeringai.

.


A/N: Yosh! Lagi males bikin panjang-panjang. Huehehe #DitabokReader.

Mau curcol ;3

Satu lagu Rin sama Len yang cuma kusuka adalah Alluring Secret Black Vow~

Kok suka sama lagu RinLen sih, thor? Cuma satu doang gak masalah kok.

Kenapa, thor? Karena dilagu itu tidak ada yang menyangkut tentang RinLen *ngacir*

Emang author suka pairing siapa? Udah jelas kan? Ya LenKu lah *wink* Yang suka LenKu mana suaranya, eh ralat. Yang suka LenKu mana reviewnyaa! *slap* *slop* #DitamparSecaraMengenaskan.

Pertanyaan random dari host kita, Rin Kagamine!

Rin: Baiklah. Saya akan memulai beberapa pertanyaan.

Chie: Siap boss!

Rin: Pertanyaan pertama, kenapa anda males mandi kalo lagi liburan? Kenapa mandinya suka siang-siang?

Chie: Karenaa, saya suka malaass. Hp juga selalu menggoda. Tv kadang-kadang juga.

Rin: Pertanyaan kedua, kenapa anda menjadi seorang shotacon?

Chie: Karena shota itu suka bikin saya fangirling *wink* Iyakan, Len?

Len: I-iya *kabuur*

Rin: Pertanyaan ketiga, Kena–

Reader: Cepetan selesainya napa seh? Lama amat -_-

Rin: Baiklah. Kita tutup chapter kedua ini. Karena reader lagi marah. Uwehehe..

All: See yaa!