CHAPTER 2
"Oh my god!"
Tadashi tersentak kaget dan segera mematikan layar di smartphone-nya. Ia menoleh untuk menemukan Honey Lemon sedang berdiri dibelakangnya dan pastinya telah melihat album foto Hiro yang dia pandangi selama beberapa menit itu.
"Dia manis sekali! Pacar?"
Tadashi tertawa kecil melihat ekspresi penasaran Honey dengan matanya yang berbinar. Cewek tinggi semampai itu menunggu jawaban Tadashi dengan tidak sabar.
"Hai, Honey. Dan tidak, bukan pacar."
"Aw, masa' sih? Kau terlihat sangat bahagia memandangi foto barusan. Lovestruck." Honey menusuk jari telunjuknya ke pipi Tadashi. "Jangan bohong deh. Screensaver smartphone-mu kau dan dia sedang berpelukan kan?"
Oke, sejak sebulan yang lalu disana memang terpampang foto dia dan Hiro berpelukan sambil tersenyum lebar kearah kamera. Tetapi dia telah men-setting bahwa screensaver itu tak bisa dilihat kalau bukan dia yang memegang?
Melihat ekspresi Tadashi yang malu-malu, Honey kembali memekik kecil "BENERAN? OMG SO CUTE! Aku hanya menebak loh!"
Tadashi menggeleng kepalanya terhibur. "Tidak, Honey. Dia bukan pacarku. Dia-"
"Siapa?"
Tadashi menoleh kesamping dan menemukan Wasabi, Gogo, dan Fred mendekat dimeja kerjanya. Wasabi terlihat begitu tertarik, Gogo juga tapi dia menyembunyikan ekspresinya, Fred membuat gestur aneh dengan tangannya sambil menaik-turunkan alisnya. Tadashi tak bisa menahan tawa melihat teman sekelasnya begitu penasaran hanya dengan topik 'siapa punya pacar'. Dasar kutu-buku…
"Calm down, guys! Dia Hiro. Kalau kau ingat siapa…" Tadashi tersenyum melihat teman-temannya saling berpandangan, mencoba mengingat nama Hiro. Well, sesekali Tadashi tak bisa menahan rasa bangganya pada Hiro dan kadang menyelipkan Hiro disetiap obrolan santai mereka. Honey dan yang lain lalu menatap balik Hamada tertua itu.
"HIRO SI JENIUS?" Honey berteriak kaget disertai ekspresi tertarik teman-temannya yang lain. "KAU MEMASANG FOTO CUTE DENGAN ADIKMU SEBAGAI SCREENSAVER?!"
Oh, crap.
"Ahaha, memangnya aneh…?"
"Sama sekali tidak! Manis sekali~" Honey dan Wasabi terlihat seperti ingin meleleh. Gogo tersenyum nyengir menatap Tadashi, "Brother-complex, huh Tadashi?" Fred mengernyitkan dahi sambil bergumam, "Yang terganteng disini pun tak punya pacar? Ckck."
"Aku tak pernah melihat wajah adikmu. Mana lihatkan!" Perkataan Wasabi membuat kumpulan nerd itu mengerubungi Tadashi dan berusaha untuk mengambil alih smartphone dalam genggamannya. Tadashi tertawa sambil menyembunyikan gadgetnya itu, lalu menyerah ketika Fred mulai menggelitikinya, dengan helaan nafas ia membuka kunci smartphone-nya yang menggunakan keamanan sidik jari. Tadashi hanya berharap tidak ada yang memintanya membuka album foto Hiro (yang diproteksi untungnya). Album penuh dengan Hiro dalam berbagai pose. Tak bisa membayangkan apa yang bakal dipikirkan teman-temannya kalau mereka melihat foto selfie Hiro yang sedang mencium kakaknya yang sedang tidur.
Sedetik kemudian suara teriakan teredam Honey dan Wasabi membahana diruangan. Mereka saling menyikut masing-masing, Tadashi berkali-kali dipeluk oleh Honey yang entah kenapa sangat bahagia melihat foto dirinya dan Hiro. Berkali-kali dia menyebut mereka cute brothers. Tadashi tak begitu mengerti tentang cewek dan apa yang mereka sebut cute.
"Lain kali ajak dia kesini, Hansamu! Dia bakalan cocok banget dengan kita 'nerd'!"
"Ah, dia tidak terlalu tertarik dengan Universitas." Tadashi memberi senyum menyerahnya, "Dia masih 12 tahun dan sudah SMA. Otaknya yang genius membuatnya cepat bosan kalau tidak ada tantangan baru. Aku menghabiskan waktu selain dikampus untuk menariknya dari Bot Fight liar yang ada disudut-sudut kota." Hamada tertua itu lalu menggeleng kepalanya dengan ekspresi yang penuh dengan cinta. "Dia… unbelievable."
"Aaww."
Sekelompok nerd itu akhirnya meninggalkan Tadashi sendiri diruang kerjanya setelah mereka puas membombardirnya dengan segala macam hal. Wasabi dan Gogo bercerita tentang adik mereka juga. Gogo dengan adik perempuannya yang menyebalkan. Wasabi yang ternyata punya 3 adik laki-laki dan 1 adik perempuan. Lelaki berkulit gelap itu curhat kepada Tadashi bahwa dia iri dengan kedekatan mereka karena adiknya yang tertua sejak puber malah semakin jauh. Tadashi mendengarkan dengan seksama dan sesekali memberi saran meskipun tidak banyak. Ia tidak punya trik spesial untuk dekat dengan Hiro. Mereka berdua sudah saling menarik masing-masing untuk mendekat, seperti layaknya magnet. Tadashi memutar kursi kerjanya sambil berpikir. Ia melirik jam di dinding yang menunjukkan pukul 8 malam. Ia ingin pulang cepat tapi Baymax masih butuh banyak upgrade-an. Ia berpikir tentang Hiro…
Salah satu alasan ia tinggal lama di laboratorium adalah selain merakit Baymax, dia punya masalah dengan kontrol. Seksual kontrol lebih tepatnya. Ugh, bagaimana tidak? Ketika orang yang kau cintai setiap malam naik keatas kasur untuk mencuri cium. Tadashi tahu Hiro sudah mulai memasuki masa puber, dimana bocah itu mulai membasahi celana dalamnya dengan mimpi basah. Beberapa kali ketika mereka berciuman lebih dari beberapa menit, Hiro akan mengalami ereksi dan kemudian menatap Tadashi malu lalu meloncat dari kasur dan masuk kekamar mandi. Ia ingin bilang bahwa apa yang terjadi padanya itu normal atau sesuatu, tapi Hiro tetap mengurung dirinya dikamar mandi sampai ereksinya hilang. Tadashi langsung merasa lemas menyadari bahwa Hiro tidak terlalu tertarik untuk meng-eksplore hubungan mereka lebih dari ciuman. Tetapi ia berkali-kali mengingatkan dirinya sendiri bahwa adiknya itu masih 12 tahun! Demi tuhan, dia masih bocah yang suka ikut Bot Fight hanya untuk mengetes kemampuan robotnya dan melihat lawan mainnya marah.
Tadashi tahu rasanya mengalami puber. Ia tidak ingat mengalami mimpi basah, tetapi bentuk tubuhnya berubah drastis. Dadanya menjadi berotot, tinggi badan yang tiba-tiba bertambah berpuluh senti, suaranya menjadi berat, dan sesekali ereksi yang tiba-tiba muncul. Sejak puber itu, Tadashi beberapa kali mencoba berpacaran, tetapi hubungan seks tak pernah membuatnya tertarik seperti layaknya sains dan robot. Dia sempat mencari tahu tentang keadaan dirinya dan memutuskan memanggil dirinya sebagai aseksual. Dan sepertinya sebutan itu sudah tidak berlaku lagi sejak ia merasakan yang namanya bibir lembut Hiro. Seakan dunia ini berputar 90 derajat. Hiro yang dulunya hanya ia lihat sebagai adik sekarang telah menjadi separuh hidupnya.
Oh hell. Ia yakin tubuhnya ingin meminta ganti rugi karena bertahun-tahun tak menikmati hubungan intim diantara manusia. Setiap ia bersentuhan dengan Hiro, mencium bau tubuhnya, bahkan hanya melihat senyum nyengirnya… tubuh Tadashi seperti dialiri listrik. Bayangkan! Makan malam innocent dengan bibi Cass dan Hiro saja bisa membuat dia mengalami ereksi ketika kaki Hiro tak sengaja menyentuh ujung jari kakinya. Seperti ia dalam masa puber lagi saja. Tadashi tak yakin bisa menahan dirinya lebih lama untuk tidak menerjang Hiro.
Tinggal larut malam di laboratorium sepertinya ide yang bagus…saat itu.
Siapa yang akan menyangka bahwa keesokan paginya Tadashi akan terbangun dengan Hiro dibalik selimutnya. Tidur dengan kepala diatas dadanya dan tangan Tadashi dengan santai melingkar memeluk tubuh adiknya. Ia terdiam kaku. Tangan kiri yang bebas ia perintahkan untuk mencubit pahanya keras.
Ow!
Bukan mimpi basah. Dan pahaku bakal sedikit biru nanti.
Tadashi mengintip lagi Hiro yang tertidur pulas, dengkurannya yang khas terdengar diseluruh kamar tetapi takkan ada yang bisa mengalahkan suara degupan jantung miliknya. Melirik jam weker disamping kasurnya menunjukkan pukul 4 pagi dan ia sekarang sudah terbangun dengan ereksi plus Hiro di pelukannya. Hamada tertua itu menarik nafas panjang lalu menghembuskannya pelan. Ia harus membangunkan Hiro. Ia yakin Hiro sengaja naik kekasur dan tidur disampingnya karena Tadashi tetap pulang malam walaupun ia tahu Hiro menunggunya. Balas dendam? Karena kangen? Ugh, yang pasti Tadashi merasa tersiksa merasakan penisnya meronta ingin bebas atau sesuatu yang puitis seperti itu.
Oke, tarik nafas lagi… hembuskan.
Tiba-tiba tubuh mungil di pelukannya bergerak. Kedua tangan Hiro yang ada diantara tubuh mereka sekarang berpindah tempat ke paha Tadashi. Terlalu dekat dengan daerah sensitifnya! Tadashi merasa nafasnya tercekat seperti terkena serangan asma mendadak. Ia membelalakkan mata, mengintip pelan kearah wajah adiknya yang tetap tertidur pulas, dengan liur yang sedikit menetes disana.
"Hiro-"
Adiknya sama sekali tidak bergeming.
"Oh tuhan."
Tadashi menyerah, ia sudah tidak tahan lagi untuk tidak menyentuh daerah sensitifnya. Membuka selimutnya sedikit, ia melihat tangan kanan Hiro berada jauh dari ereksinya. Ia memasukkan tangan kirinya yang bebas kedalam boxer dan mengelus pelan penisnya yang mengeras. Ia menggigit bibirnya agar tak mengeluarkan suara aneh yang akan membangunkan Hiro. 5 menit berlalu yang terasa seperti bertahun-tahun, ia mulai merasa bagian bawah dalam perutnya memanas, rasa yang familiar. Ia menggigit bibirnya lebih kuat, memejamkan mata dan mempercepat gerakan tangannya.
Sedikit lagi. Come one, sedikit lagi…
"Tadashi?"
Tubuhnya bergetar ketika mendengar suara serak familiar itu memanggil namanya. Tadashi mengerang keras, lupa dengan sekelilingnya saat ia mencapai puncak. Jantungnya berdentum cepat seakan ingin melarikan diri dari dadanya. Keringat bercucur dari dahi. Telinganya berdenging dan nafasnya tak beraturan. Butuh waktu lama untuk membuat detak jantungnya kembali normal, mungkin tahun depan.
Ia terjingkat kaget merasakan tubuh Hiro yang berada dipelukannya bergerak. Ia memejamkan mata erat berharap semua hanya mimpi, tetapi cairan lengket yang ada ditangan kirinya adalah bukti bahwa semua nyata.
"Um, Tadashi?"
Ia bisa mendengar bingung dan sesuatu yang lain ada dalam nada suara Hiro. Tadashi menyeka tangannya yang basah di boxernya lalu membuka mata pelan. Disanalah Hiro, dengan mata cokelat yang terbelalak, bibir merah karena digigit terlalu keras, pemandangan indah dihadapannya membuat kelelakiannya berkedut. Lagi.
"Hiro," Berdehem, ia kembali meneruskan perkataannya seperti biasa."Selamat pagi."
Adiknya masih memandangnya dengan ekspresi tidak percaya. Pipinya yang pink berubah menjadi merah maron ketika ia melirik boxer kakaknya yang basah. Pandangan mereka bertemu lagi dan Hiro menelan ludah. Tadashi mengikuti gerakan tenggorokan kecil itu dengan matanya. Sekecil apapun suara dikamar itu semua terdengar berkali lipat kerasnya, sama layaknya suara hela nafas mereka. Tadashi lalu mengangkat tangan kanan yang masih ada dipundak Hiro, membawanya pelan kearah depan untuk memegang pucuk dagu adiknya, menarik wajah manis itu mendekat padanya. Nafas Hiro tercekat tetapi Hamada kecil itu kemudian dengan cepat menindih badan Tadashi yang membuat sang kakak menarik nafas dalam.
Ciuman yang terjadi setelahnya terasa tanpa ampun. Hiro menyerang bibirnya dengan sedikit gigitan, membuat kelelakian miliknya berkedut lagi. Tadashi membiarkan Hiro mencumbunya dengan antusias. Ia membawa kedua tangannya kearah belakang tubuh Hiro, meremas pantat kecil itu dengan lembut. Hiro berhenti menciumnya dan mengerang kecil. Tubuhnya bergetar hebat selama beberapa detik disusul dengan ia jatuh diatas tubuh Tadashi lemas, menyembunyikan wajah dileher kakaknya. Tadashi seketika terdiam. Apakah Hiro barusan…
"Apakah kau barusan…orgasme?"
Hiro membuat suara erangan kecil. Ia menyembunyikan wajahnya semakin dalam dileher Tadashi.
"Diam kau. Aku sudah menahan lama sejak kau mulai memasukkan tangan kebalik selimut…" Hiro bergumam malu.
Jadi dia sudah bangun dari tadi?
Tadashi mengangkat tubuh Hiro agar ia bisa melihat wajah adiknya yang manis itu. Hiro menundukkan kepalanya malu dengan mulut cemberut. Tadashi harus menciumi alis dan hidungnya untuk membuat dia mau menatap wajahnya.
"Hei kenapa harus malu? Yang barusan terjadi padamu itu normal."
Hiro mendongak lalu menempelkan pipinya didada kakaknya. "Yeah aku tahu. Aku sudah…research. Aku hanya malu untuk telanjang dihadapanmu." Adiknya itu menyembunyikan wajahnya dengan tangan. "Kau terlihat sempurna dengan tubuh atletis, tinggi, dan ugh sangat manly! Sedangkan aku! Lihat badanku! Seperti anak kecil. Plus orgasme yang sangat cepat." Ia menutup perkataannya dengan gumaman, bersembunyi lagi dibalik tangan.
Tadashi hampir saja berteriak SO CUTE tetapi ia masih bisa menahan diri dan balik memeluk Hiro gemas.
"Bonehead. Kau bertingkah seperti ini itu sangat absurd. Aku sudah melihat tubuhmu sejak kau masih bayi. Huh, oke barusan itu terdengar sangat aneh. Yang jelas aku menyukaimu apa adanya. Termasuk rambut sarang burungmu ini." Tadashi mengacak rambut Hiro cepat yang dibalas dengan teriakan 'hei!'. "Jangan khawatir tentang tubuhmu. Masa pubermu masih berlangsung dan kau masih bisa tumbuh beberapa bulan kedepan. Apapun kau tetap adikku yang paling manis."
Mereka saling bertatapan dengan senyum kecil.
"Dan aku pikir, bagaimanapun bentuk tubuhmu nanti… kau tetap sukses memberiku reaksi positif." Tadashi menunjuk kearah celananya. Hiro mendengus menahan tawa.
"Real romantis Tadashi."
"Yep."
Hiro menggeleng geli, ia kemudian mengangkat badannya untuk duduk diatas Tadashi. Tiba-tiba wajahnya meringis jijik ketika merasakan celananya yang basah."Ew, aku pikir aku butuh mengganti celana dalamku." Ia lalu melihat ekspresi kakaknya yang sama. "Dan kau juga. Ayo bangun sebelum Bibi naik keatas."
Tadashi merinding membayangkan Cass naik keatas dan menemukan mereka berdua dalam kondisi begini. "Duluanlah kekamar mandi, akan aku bawakan baju ganti untukmu."
Hiro mengangguk lalu meloncat dari kasur dan berjalan kearah tangga. Ia kemudian berhenti dan membalik badan.
"Tadashi."
"Hm?"
"Kapan kau akan bercinta denganku?"
Tadashi terbatuk kaget. Ia membelalakkan mata melihat ekspresi Hiro yang menaikkan bahunya santai.
"Hanya bertanya."
Ia lalu tersenyum nyengir dan turun tangga dengan cepat. Tadashi mengerang kecil dan menutup mukanya.
Bocah puber dengan hormon yang naik turun. Dia bakal membuatku lelah. Yakin deh.
FIN
SOMEHOW THIS HAMADACEST IS NOT THAT INNOCENT at all.
Hope you enjoy it. Dan maybe aku akan membuat extra chapter atau yang lain.
Sampai jumpa di fic yang lain!
