Baddest Male
Summary:
Park Chanyeol ialah seorang lelaki tampan yang mapan. Mansion, jaguar, dan wanita adalah hidupnya. Ia sangat tahu bagaimana cara bersenang-senang dengan uangnya. Hidupnya baik-baik saja bahkan nyaris sempurna sampai akhirnya Byun Baekhyun mantan kekasihnya datang dan memintanya merawat bayi mereka. Apa kau bercanda?
Rated:
T+ (dianjurkan untuk 15 tahun ke atas)
Cast :
Park Chanyeol
Byun Baekhyun
And other EXO member.
"Kenapa lama sekali? Apa kau butuh waktu dua jam hanya untuk makan roti di luar?", tanya Kris saat Chanyeol masuk ke ruang tamu. Hari ini mereka memang ada meeting di kantor untuk membahas soal kerjasama perusahaan. Jadi Chanyeol tidak terkejut melihat Kris bertamu sepagi ini untuk menjemputnya sekaligus meminta secangkir kopi.
"Aku bertemu teman lama", jawab Chanyeol singkat.
"Wanita?"
"Ya"
Chanyeol meletakkan mantel di sofa sembarangan. Kris mengernyit heran melihat Chanyeol yang berbaring di sandaran sofa.
"Kau tidak mau berganti pakaian? Tiga puluh menit lagi kita ada meeting tuan Park. Jangan mentang-mentang kau bosnya, kau jadi malas-malasan"
"Baiklah, aku bangun sekarang", Chanyeol bangkit berdiri dan membawa mantelnya bersama untuk di gantung di kamar. Ia berbalik saat mengingat sepupunya yang datang menginap sejak lima hari yang lalu. "Dimana Luhan?"
"Sedang jalan-jalan dengan Sehun. Katanya menonton film"
"Lagi? Berapa kali ku bilang kalau aku tidak suka Luhan bergaul dengan pecinta wanita seperti Sehun"
"Well, Sehun sama sepertimu"
"Karena itu aku mau melindungi Luhan. Aku tidak ingin dia sakit hati karena pada akhirnya Sehun akan mencampakkannya. Ku mohon telepon mereka dan suruh pulang"
"Sekarang?"
Chanyeol memutar bola matanya bosan, "Sekarang Tuan Wu"
"Baiklah"
"Lihat saja saat mereka pulang, aku akan meninju Sehun tepat di perutnya. Sudah kukatakan padanya untuk tidak mendekati Luhan dalam jarak satu meter", Chanyeol menggerutu saat naik ke kamarnya. Kris mengikutinya dari belakang dan mengeluarkan kalimat nasihatnya yang membuat kuping Chanyeol panas.
"Hei, kau terlalu paranoid. Sehun tidak akan menyakiti sepupumu. Ia bahkan menyebut Luhan manis dan sering memberinya hadiah. Ku rasa kali ini Sehun tidak main-main saat meminta ijinmu untuk mengencani Luhan"
"Dia menggoda Luhan. Jika waktunya tepat, dia pasti akan menyudutkannya ke tempat tidur"
"Aku bersumpah Sehun tidak akan berani melakukannya kecuali dia sudah bosan untuk hidup. Lagipula Luhan bukan anak remaja lagi, dia bisa mengurus dirinya sendiri"
Ya tentu saja Chanyeol tidak segan-segan membunuhnya jika Sehun benar-benar mengajak Luhan masuk ke hotel. Tidak peduli Sehun teman dekatnya sekalipun. Orangtua Luhan menitipkan gadis itu untuk menginap dan Chanyeol akan memegang tanggung jawabnya.
"Bisa mengurus diri sendiri? Aku bahkan sering kehilangan dia saat pergi ke mall atau taman bermain. Dia tersesat karena mengikuti topi beruang, badut, atau permen kapas. Entahlah"
"Wow, aku tidak percaya kau ke taman bermain"
"Dia memaksaku dan mengancam akan pergi dengan Sehun jika aku tidak menemaninya"
"Ku rasa dia pintar tawar-menawar denganmu", Kris tersenyum lebar.
Chanyeol mengganti kaos polonya dengan kemeja kerja, celana panjang, dan jas yang terlihat sangat pas di tubuhnya. Ia menyisir rapi rambutnya, memakai sepatu kulit lalu berjalan turun dengan Kris menuju garasi.
-Baddest Male-
Kurang baik apa Chanyeol untuk melindungi Luhan? Ia bahkan rela tidak pergi clubbing dan berburu wanita cantik demi sepupunya ini.
"Luhan buka pintunya atau aku akan mendobraknya?"
Luhan menggeram jengkel di balik selimutnya. Chanyeol berteriak penuh semangat di depan pintunya. Memukul-mukul permukaan pintu dengan kekuatan penuh dan membuat keributan.
"Berapa kali harus ku bilang aku tidak mau makan!"
Chanyeol mendesah. Luhan bahkan hanya berbeda dua tahun di bawahnya, tapi perempuan ini bertingkah seperti anak berumur lima tahun dan merajuk. Sejujurnya Chanyeol benar-benar jengkel, jika Luhan bukan keluarganya, sudah pasti ia tidak mau peduli. Ia bukan tipikal orang yang suka membujuk orang lain untuk makan malam.
"Jongin bilang kau belum makan sejak siang. Cepat keluar atau aku akan mendobraknya"
Chanyeol berteriak seperti orang gila. Grendel pintu berbunyi sangat berisik.
"Aku tidak peduli! Kau menghancurkan kencanku! Mengapa kau selalu mengancam akan memecat Sehun? Memangnya dosa dia pergi denganku? Kau tidak professional karena tidak bisa memisahkan urusan pribadi dan pekerjaanmu!"
Luhan menekan kepalanya dengan bantal. Berusaha meredam suara Chanyeol yang semakin menjadi-jadi.
"Aku akan menelpon orangtuamu agar kau kembali ke rumah"
"Terserah padamu, aku juga akan melaporkan orangtuamu kau bermain wanita setiap malam! Namamu akan di hapus dari daftar pewaris. Mana yang lebih buruk?"
Sial. Chanyeol memegang belakang lehernya yang terasa berat. Ia memandang pintu dengan jengkel.
"Baiklah jangan menyesal kalau kau mati kelaparan di dalam sana"
"Aku akan senang sekali. Aku bersumpah akan menggentayangimu seumur hidupmu!"
Chanyeol dan Luhan terus perang mulut. Luhan pikir Chanyeol sudah menyerah, namun melihat pintunya bergetar dan mendengar suara debaman sangat keras, Luhan yakin sepupunya sedang berusaha mendobrak pintunya. Baiklah Luhan tidak peduli. Toh ini mansion Chanyeol, dan pintu itu miliknya. Ia bisa menghancurkannya ataupun menggantinya dengan yang baru.
"Bisakah kalian berhenti teriak-teriak? Aku sakit kepala!", suara Jongin berteriak dari lantai bawah terdengar menggema.
Chanyeol melihat ke bawah, Jongin sedang duduk santai di sofa dengan laptop di pangkuannya. Ia mungkin sedang menyelesaikan beberapa proyek kerja.
"Apa salahnya membiarkan mereka berteman? Toh, Sehun tidak melakukan apapun pada Luhan. Kau berlebihan", ucap Jongin masih dari lantai bawah. Chanyeol tidak suka semua orang membela Luhan dan Sehun. Tadi pagi Kris, dan malam ini Jongin. Tidak adakah seorang pun yang berada di pihaknya?
"Apa yang salah? Aku melindunginya!"
"Kau mengekangku!", Chanyeol bisa mendengar suara Luhan dari balik pintu.
"Ini hanya soal makan malam tapi kalian bertengkar seperti perang dunia ke tiga, ku mohon hentikan", gerutu Jongin frustasi. Pria itu kemudian kembali fokus pada laptopnya saat ia tidak melihat Chanyeol lagi di tangga.
"Ini terakhir kalinya aku memperingatkanmu, keluar atau ku dobrak?"
Luhan menangis keras. Chanyeol bahkan bisa mendengar suaranya hingga keluar. Chanyeol benci ini. Ia tidak suka melawan wanita yang mengandalkan air matanya.
"Aku mau makan kalau kau memanggil Sehun kesini! Aku mau Sehun!"
Chanyeol tidak bicara apa-apa lagi. Ia turun dari tangga dengan menghentakkan kakinya keras. Ia malas berdebat dengan Luhan. Jika Luhan menangis, sudah dipastikan Chanyeol yang kalah.
Pria itu meraih telepon kabelnya dan bertolak pinggang menunggu sambungan teleponnya. Jongin hanya meliriknya dengan tidak minat.
"Ya brengsek cepat kemari! Luhan tidak mau makan gara-gara kau! Aku tunggu lima belas menit atau kau tidak akan ku ijinkan bertemu dengannya lagi"
Tanpa menunggu Sehun bicara, Chanyeol menutup teleponnya.
Sehun benar-benar datang kurang dari lima belas menit. Apa dia menjadi pembalap dadakan?
"Dimana Luhan?", Sehun datang dengan sekantong plastik makanan. Dari baunya, Jongin menebak itu sup daging.
"Di kamarnya", jawab Jongin. Chanyeol terlihat sibuk dengan televisi. Berpura-pura tidak melihat Sehun.
"Kau serius pacaran dengannya? Chanyeol begitu khawatir sampai-sampai ribut dengan Luhan setiap hari. Aku rasa aku akan pindah jika mereka terus seperti ini"
"Sudah kukatakan aku serius. Orang itu saja yang tidak percaya", gerutu Sehun sambil menunjuk-nunjuk Chanyeol.
"Serius? Bagaimana kalau kau melihat wanita yang lebih seksi dari Luhan? Aku bertaruh kau akan langsung melompat ke tempat tidur dengannya dan mencampakkan sepupuku. Jangan memanfaatkannya karena ia terlalu polos", kini Chanyeol meletakkan remot televisi dan membalas perkataan Sehun dengan nada membentak.
"Tidakkah kau sedang membicarakan dirimu sendiri? Aku bukan pria yang seperti itu"
"A—apa?"
Jongin hanya menggeleng pelan. Dalam hati ia berjanji akan masuk ke kamarnya bila Chanyeol dan Sehun saling membentak sekali lagi. Untungnya tidak ada perang lebih lanjut. Sehun berjalan dengan aman ke lantai atas tanpa pertumpahan darah. Jongin bisa mendengar suara melengking Luhan berteriak nama Sehun dengan senang. Berbanding terbalik saat Chanyeol yang bertamu kesana.
"Ini tidak bisa dibiarkan, akan ku buat mereka putus"
"Apa kau hobi merusak hubungan orang lain?", sindir Jongin.
Chanyeol sadar kemana arah pembicaraan ini. Lagi-lagi soal Kyungsoo. Tidak ingin memperkeruh keadaan yang sudah membaik, Chanyeol memilih menutup mulutnya dan menonton televisi walau ia sendiri tidak tahu apa yang sedang dilihatnya.
-Baddest Male-
Suho punya wajah yang tampan. Matanya kecoklatan dan rambut blonde-nya membuatnya terlihat lebih berkharisma. Tidak semua orang bisa cocok dengan warna rambut itu, tapi Suho seakan terlahir untuk itu. Dia punya kulit putih pucat yang membuatnya seakan menghilang.
Suho menyambut tamunya dengan hangat saat melihat Chanyeol, Kris dan Jongin berkunjung ke restorannya. Suho memang membuka usaha kuliner bersama istrinya Yixing. Hari ini adalah hari pembukaan cabang barunya. Ia sengaja mengundang teman-temannya secara eksklusif.
"Wow, CEO yang sibuk ternyata datang juga", tegur Suho saat melihat Chanyeol di depan pintu. Suatu kehormatan menerima kedatangan Chanyeol yang sangat terkenal akhir-akhir ini sebagai pengusaha muda yang sukses.
"Tentu aku harus datang, hyung mengundangku", jawab Chanyeol dengan senyum simpulnya. Ia hanya memanggil sebutan 'hyung' untuk Suho karena ia sangat menghormati seniornya itu.
"Restoran ini cukup bagus, kau mendekornya sendiri?", tanya Kris basa-basi.
"Tidak, aku mengerjakannya dengan istriku"
"Lalu dimana dia?", kali ini Jongin yang bicara.
"Kurasa melayani tamu yang lain", Suho menunjuk sebuah kerumunan wanita. Salah satu di antara mereka adalah Yixing, istri Suho. Ia terlihat cantik dengan gaun malam yang indah.
"Kau beruntung memilikinya, man", puji Jongin.
"Aku tahu"
Yixing menoleh ke arah Suho. Ia membungkuk dari jauh saat melihat teman-teman Suho. Ia terlihat meminta ijin pada teman-temannya untuk menemui Suho yang mengisyaratkannya mendekat.
Suho melingkarkan tangannya di pinggang istrinya dengan posesif. Seakan menyatakan wanita ini adalah milikku.
"Sayang, beri salam"
"Halo, lama tidak berjumpa"
Chanyeol, Kris dan Jongin balas tersenyum ramah.
"Kau terlihat cantik", puji Chanyeol.
Wanita itu terlihat merona mendapat pujian dari CEO terpanas tahun ini. "Terimakasih"
"Ah, kalian datang tanpa pendamping?"
"Hm?"
"Maksudku wanita"
Ketiga pria itu saling bertukar pandang. Kris lebih dulu menjawab, "Pacarku sedang berada di Cina"
"Aku sedang dalam suasana yang buruk dengan Kyungsoo"
Yixing tentu mengenal Kyungsoo. Dia wanita yang pernah Jongin ajak ke pesta pernikahannya beberapa bulan lalu.
"Sesuatu yang buruk terjadi?", tanya Yixing khawatir. Suho buru-buru berbisik di telinga istrinya, Yixing langsung mengatakan kata 'A' yang panjang.
"Lalu bagaimana dengan tuan tampan Park Chanyeol?", goda Yixing.
"Dia tidak pernah punya pacar, dia hanya bermain dengan wanita", timpal Suho. Kris dan Jongin mengangguk setuju. Chanyeol memberi tatapan tajam kepada pria-pria tersebut. Yixing hanya bisa terkekeh pelan.
"Kau mau ku kenalkan dengan seseorang? Kau mungkin akan langsung jatuh cinta dengannya dan memutuskan berhenti bermain-main melainkan menikah. Dia sangat cantik, cerdas, dan berkepribadian baik"
"Kedengarannya menarik", kata Chanyeol.
"Kau memang selalu tertarik soal wanita", sindir Jongin.
"Jadi dimana dia?", tanya Chanyeol dengan tidak sabar.
Yixing melirik ke arah panggung. Tepatnya orang yang duduk di belakang piano. Semua mata tertuju pada wanita itu. Kris dan Jongin bahkan tertarik padanya, sekalipun mereka memiliki kekasih, mereka juga lelaki normal yang tertarik dengan wanita cantik. Berbeda dengan Suho yang sudah terjerat ke dalam pesona Yixing, kehadiran pianis itu tidak begitu menghipnotisnya.
"Hei, dia pegawaiku", seru Kris setelah menyipitkan matanya untuk melihat panggung dengan jelas.
"Kau yakin?", Jongin menatap Kris ragu.
Chanyeol memilih menutup mulut dan hanya mendengarkan kedua temannya.
Wanita itu membungkuk kepada penonton sebelum duduk di tempatnya. Ia mengenakan gaun putih selutut dengan renda-renda di bagian roknya. Rambutnya tergerai indah. Sinar lampu membuat surai itu terlihat lebih mengkilap. Rasanya pria manapun ia membenamkan jari-jarinya disana.
Denting piano mulai terdengar. Lambat laun memasuki setiap indra pendengaran para hadirin. Pianis wanita itu memainkan nada-nada indah dengan sepenuh hati. Ia terlihat menjiwai membawakan lagunya. Suara merdunya seperti membelai telinga siapapun.
Chanyeol sangat fokus memperhatikan wanita tersebut. Darahnya serasa membeku mendengar suara orang itu mengalun lembut. Pandangannya tidak lepas sedetikpun dari wanita itu.
Setelah menunggu beberapa menit, lagu itu pun selesai dengan sempurna. Para audience memberikan tepuk tangan sebagai pujian atas permainan piano dan suara indahnya. Wanita itu membungkuk terimakasih dan tersenyum kecil. Ia menolehkan kepalanya saat mendengar Yixing yang tak jauh dari panggung memanggil namanya.
Dengan anggun ia menuruni anak tangga dan mendekati temannya. Wanita itu sibuk mengucapkan selamat atas pembukaan restoran baru Yixing dan suaminya Suho tanpa menyadari tiga pria lain sedang bersama mereka.
"Aku ingin mengenalkanmu dengan seseorang", ujar Yixing antusias.
"Siapa?"
Yixing menarik temannya hingga berhadapan dengan Chanyeol. Bisa terlihat jelas bagaimana terkejutnya wanita itu, namun ia bisa menutupinya dengan baik. Ia menatap Chanyeol lurus-lurus. Setelah kebetulan bertemu di toko roti, apa kali ini juga suatu kebetulan? Menarik sekali.
"Baekhyun, ini Chanyeol. Chanyeol, ini Baekhyun", Yixing masih dalam usahanya menjodohkan dua temannya tanpa ia tahu Baekhyun dan Chanyeol pernah berhubungan sebelumnya.
"Halo, namaku Byun Baekhyun, senang bertemu denganmu", Baekhyun menjulurkan tangannya lalu tersenyum ramah. Ia bersikap seakan-akan ini pertama kalinya ia bertemu Chanyeol. Tidak ada pilihan lain, Chanyeol memilih menjabat tangan Baekhyun. "Aku Park Chanyeol"
"Aku tahu"
"Kau tahu?", tanya Suho.
"Bukankah dia CEO muda yang sering diberitakan? Kau sangat populer, aku sering melihatmu muncul di artikel dan televisi", ujar Baekhyun santai. Di sisi lain, Chanyeol hanya termenung melihat akting Baekhyun. Mengapa wanita ini tidak jujur saja kalau ia dan Chanyeol saling mengenal? Apa untungnya berpura-pura ini adalah pertemuan pertama mereka? Mereka bahkan sudah pernah berbagi ranjang bersama.
"Nona Byun, kau mau jalan-jalan?", tanya Chanyeol dengan ekspresi datar.
"Aku tidak keberatan"
Yixing tersenyum saat melihat Chanyeol dan Baekhyun dekat dengan cepat. Berbeda dengan Kris yang mengeluh betapa beruntungnya Chanyeol. Sedangkan Jongin lebih terlihat kebingungan. Ia yakin pernah melihat Baekhyun di suatu tempat, tapi ia tidak yakin atau mungkin ini hanya perasaannya. Tapi ia yakin Baekhyun terasa tidak asing.
Chanyeol dan Baekhyun pergi meninggalkan pesta lebih dulu. Mereka berdiri di depan restoran yang lebih sepi dari suara bising.
"Mengapa kau pura-pura tidak mengenalku?", tanya Chanyeol to the point.
"Lalu aku harus bagaimana?"
Chanyeol mengernyit. Apa lagi? Bicara saja kalau mereka sudah saling mengenal.
"Kau mau aku mengatakan pada mereka aku pernah berhubungan denganmu? Kita tidur bersama lalu aku hamil anakmu, begitu?"
"Aku tidak menyuruhmu bicara begitu", balas Chanyeol. Entah mengapa pria itu merasa situasi di dalam sini semakin panas. Baekhyun tidak dalam mood yang baik untuk diajak bicara.
"Lalu?"
"Cukup katakan kita saling mengenal sebelumnya, jadi aku tidak perlu berpura-pura di depan mereka"
"Lalu kenapa tadi kau tidak mengatakan seperti itu?"
"Kau yang pertama kali membuat semuanya berjalan salah"
"Ya salahku, sejak dulu semua memang salahku"
Chanyeol menaikkan sebelah alisnya bingung.
"Salahku berkenalan denganmu. Salahku mempercayakanmu hal yang paling ku jaga. Salahku memberikan hatiku sepenuhnya. Pada akhirnya kau membuangnya seperti sampah"
"Ada apa denganmu?", Chanyeol menatap Baekhyun yang berkaca-kaca dengan bingung. Saat terakhir kali mereka membahas bayi Baekhyun, semuanya baik-baik saja. Tapi kenapa wanita ini tiba-tiba bicara soal perasaannya? Harusnya Baekhyun tahu kalau Chanyeol tidak suka berkomitmen sejak awal.
Wanita itu menghembuskan nafasnya berat lalu berjalan pergi. Chanyeol segera menyusul Baekhyun dan menjegatnya.
"Mengapa kau tiba-tiba seperti ini?"
"Kau ingat saat di toko roti kau bertanya apa aku baik-baik saja?"
"Ya"
"Aku berbohong saat aku bilang aku baik-baik saja. Baiklah, semua memang salahku yang mencintai orang sepertimu. Aku terlalu serius dan kau terlalu kekanakan. Seharusnya aku tahu kau kencan hanya untuk tidur denganku"
"Kita sudah membahas ini, oke? Jangan bilang kau berubah pikiran dan memintaku menikah dengan—"
"Tidak akan! Aku masih cukup waras untuk menyerahkan sisa hidupku menjadi istrimu"
Baekhyun berjalan pergi, kali ini Chanyeol membiarkannya begitu saja. Ia meninju udara. Entah mengapa ia merasa kesal karena seorang wanita. Biasanya ia tidak seperti ini. Tapi Baekhyun yang pergi begitu saja, membuatnya terlihat menyedihkan.
Jongin berlari ke arah Chanyeol. Jongin melihat punggung Baekhyun yang menjauh.
"Siapa wanita itu?"
Chanyeol menatap Jongin putus asa. Ia sudah menduga Jongin tidak mungkin melupakan Baekhyun begitu saja, mereka bertemu beberapa kali. Chanyeol memang jarang mengenalkan teman kencannya pada Jongin, tapi Baekhyun salah satu yang Chanyeol sebut beruntung dari sekian banyak wanita. Karena Chanyeol pernah mengajaknya menginap di villa bersama Jongin dan Kyungsoo selama sehari.
"Mantan teman kencanku"
"Aku yakin pernah melihatnya, tapi aku lupa. Terlalu banyak wanita yang kau kenalkan padaku", ejek Jongin.
"Kita pernah pesta barbeque di puncak dengannya"
Jongin terlihat berpikir. Setelah hampir satu menit, ekspresinya berubah terang. "Ah, mantanmu yang itu. Kau paling lama pacaran dengannya"
"Begitulah", jawab Chanyeol dengan tidak bersemangat.
"Apa yang kalian bicarakan? Kau akan kembali padanya? Atau kau di tolak?"
"Apa maksudmu aku di tolak?", sahut Chanyeol tidak terima. Itu tidak ada dalam kamusnya.
Jongin mengangguk pelan, "Kelihatannya kau di tolak"
"Ap—kau pasti bercanda"
"Kalau begitu ayo bertaruh kau akan mendapatkannya kembali"
"Itu mustahil", jawab Chanyeol cepat. Jelas-jelas Baekhyun sudah menegaskan tidak akan rela menikah dengannya. Bukankah artinya tidak ada kesempatan?
"Lihatlah, kau saja pesimis. Baekhyun sudah berubah, ia terlihat jauh lebih cantik, mana mungkin ia mau pacaran dengan laki-laki brengsek sepertimu?"
"YA!—Apa kekuranganku? Aku tampan, asetku dimana-mana, aku punya rumah, mobil, uang—"
"Kau tidak punya perasaan"
Chanyeol terdiam. Perasaan? Mengapa itu terdengar jahat. Jongin menepuk pundaknya pelan, penuh rasa prihatin.
"Kau tidak pernah melibatkan perasaanmu dalam berhubungan, semua materimu itu tidak akan membantu. Sadarlah Park Chanyeol. Sampai kapan kau akan menghabiskan waktumu untuk bermain-main dengan perasaan wanita? Sebenarnya aku tidak hanya kasihan pada wanita di luar sana yang sudah menangis karena dirimu. Tapi aku kasihan padamu. Kau tidak pernah merasakan yang namanya jatuh cinta"
"Kalian disini?", Kris entah bagaimana sudah menyusul Chanyeol dan Jongin.
"Ada apa dengannya?", Kris mengernyit melihat ekspresi kosong Chanyeol yang tidak biasanya.
"Patah hati, dia baru saja di tolak", jawab Jongin enteng.
"Sudah ku duga akan begini"
"Kris kau punya lem?", tanya Chanyeol dengan ekspresi dinginnya.
"Untuk apa?"
"Menutup mulut kalian berdua"
Chanyeol menatap dua temannya itu dengan kesal. "Berhenti bicara, ayo pulang"
-TO BE CONTINUED-
Terimakasih sudah membaca FF ini. Terimakasih atas dukungannya.
Chapter 2 sudah di lanjut.
Selamat menunggu chapter 3 dengan sabar ya.
FF ini menggunakan pairing official ya.
Terimakasih atas perhatiannya, mohon review-nya jika berkenan ya.
Sekali-sekali merasa berdosa dong baca tapi gak review itu apa banget deh.
Author yakin readers disini pada menghormati karya orang lain, jadi PLEASE REVIEW!
