Disclaimer :

Naruto © Masashi Kishimoto

Story © Keilantra Almeta

Happy reading!

"INO" Teriak Sakura saat melihat sahabat baiknya Ino Yamanaka di koridor sekolah.

Ino menatap geli sahabatnya yang berlari ke arahnya dengan wajah riang. Sangat mudah untuk mengenali sahabatnya yang selalu mengenakan asesories yang selalu identik dengan warna merah tersebut.

"Kenapa ?" tanya Ino begitu Sakura memeluknya tiba-tiba. Itu adalah kebiasaan Sakura sejak smp jika dia sedang sedih atau mendapat masalah.

"aku takut." Jawab Sakura pelan. Dari nada suInonya yang lemah, menunjukkan bahwa dia cukup tertekan sekarang.

"Ingin cerita?" Ino mengelus pelan rambut Sakura. Mencoba menenangkan hati sahabatnya tersebut. Ino memang sudah menyayangi Sakura seperti adiknya sendiri, karena dia dan Sakura merupakan anak tunggal. Mereka saling mengisi kekosongan hati dimana mereka kekurangan kasih sayang dari orang tua mereka yang sibuk dengan bisnis. Khususnya Sakura, dimana ibunya selalu sibuk dan meninggalkan Sakura dengan beberapa pelayan.

"Iya." Sakura kemudian melepaskan pelukannya. Kemudian menarik tangan Ino ke halaman belakang sekolah.

"Semalam aku mencari masalah dengan seseorang." Ujar Sakura memulai ceritanya. Halaman belakang sekolah memang selalu menjadi tempat favorit Sakura untuk bercerita.

"Masalah apa?" tanya Ino penasaran.

"Aku meminjam handphone salah seorang tamu, kemudian handphonenya tercebur ke kolam renang." Lanjut Sakura dengan wajah murung. Masih terbayang dengan jelas di benaknya ekspresi cowok yang entah siapa namanya. Karena terlalu shock Sakura melupakan namanya.

Ino menahan senyum mendengar pernyataan Sakura tersebut. "Memang handphone itu bisa tercebur sendiri?"

"Ada seseorang yang menabrakku, dan handphonenya lepas dan terjun bebas ke kolam renang." Sakura mengembungkan pipinya karena Ino yang menanggapi ceritanya dengan bercanda.

"OK, pemilik handphone itu cewek atau cowok?" Sakura kemudian mulai mengajukan pertanyaan yang bisa membuat Sakura melanjutkan ceritanya.

"cowok."

"Apakah dia tampan?" goda Ino begitu mengetahui korban dari keteledoran sahabatnya itu ternyata seorang laki-laki.

Setelah berpikir beberapa saat, Sakura kemudian menjawab dengan antusias. "Iya, ehm kalau di anime dia mirip Gray Fullbuster." Ujar Sakura dengan pose berpikir.

"Ampun, apa tidak ada tokoh dunia nyata yang lebih masuk akal?" Sakura hanya bisa menggelengkan kepalanya mendengar perumpamaan Sakura yang tidak jauh dari tokoh anime favoritnya.

"Dia menakutkan."

"Apa kau sudah minta maaf?"

"Tidak. aku tidak berai ketika dia menunjukkan tatapan menakutkan padaku, dan dia juga membisikkan namanya di telingaku." Sakura menghela nafas panjang, perasaan resah terus menghantuinya.

"Namanya siapa?" kejar Ino yang sepertinya sudah mulai memahami kenapa ini terasa berat untuk Sakura.

"Aku Lupa." Jawab Sakura dengan wajah murung. "kau sendiri tau aku kesulitan mengingat hal yang membuatku shock." lanjutnya dengan nada getir. Air mata mengalir dari pelupuk matanya.

Ino kemudian memeluk Sakura, mengusap punggungnya pelan. Dugaannya benar, Sakura pasti melupakan sesuatu yang membuatnya shock. Semenjak trauma pada masa lalunya yang selama ini selalu membayanginya. Sebuah kecelakaan yang membuat Sakura kehilangan sesuatu yang berharga untuknya.

"Sudah, tidak apa-apa. Ini bukan salahmu." Ino menghela nafas lega, saat tidak mendapati pergerakan berarti dari Sakura. Selalu seperti ini, setelah menangis, Sakura akan tertidur. Diliriknya jam tangannya yang ada di tangan kirinya, sepertinya dia harus bolos lagi saat jam pelajaran pertama.

"Sakura, kepala sekolah mencarimu." Ujar Kiba salah seorang teman sekelas Sakura dan Ino.

"Memang ada apa?" tanya Ino yang terlihat bingung. Di sampingnya Sakura masih terdiam, tidak peduli dengan perkataan Kiba barusan.

"Tidak tau." Jawab Kiba cuek.

"Perlu ketemani?" tanya Ino pelan. Dia masih khawatir melihat Sakura yang nampak murung.

"Tidak perlu, aku pergi dulu." Sakura kemudian pergi meninggalkan Ino.

Ino memandang kepergian Sakura dengan perasaan resah, entah kenapa dia jadi tidak terlihat tenang seperti biasanya, perasaan resah Sakura kini juga mempengaruhinya. Dia hanya bisa berharap agar tidak terjadi hal buruk di masa mendatang. Ino hanya berhInop Sakura bisa lepas dari rasa traumanya, kembali menjadi Sakura yang dulu dikenalnya.

"Permisi, apa Tsunade- sama mencari saya?" tanya Sakura setelah mengetuk pelan pintu ruang kepala sekolah.

"Iya, Sakura. aku ingin memberi tahu sesuatu padamu."

Sakura merasa sesuatu yang buruk akan keluar dari mulut kepala sekolah sebentar lagi. Melihat sebuah amplop yang dipegang oleh kepala sekolah di tangan kanannya. "Ada apa Tsunade sama?" Sakura merasa jantungnya terpompa dengan cepat menantikan penjelasan sang kepala sekolah.

"Maafkan aku Sakura." Ujar Tsunade sang kepala sekolah dengan raut wajah menyesal. Dia sebenarnya juga tidak tega mengatakan ini pada Sakura.

"Apa aku dikeluarkan?" tanya Sakura dengan senyum kecut.

"tidak, kami hanya bisa memberikan surat rekomendasi untuk memungkinkanmu diterima di sekolah lain yang lebih bagus dan cocok denganmu." Ujar Tsunade, sang kepala sekolah. "Ibumu sudah menyetujuinya."

Sakura membulatkan matanya kaget mendengar penuturan terakhir dari kepala sekolah,ibunya sudah mengetahui ini. Ibunya yang super sibuk dengan bisnisnya itu, yang entah sekarang berada dimana dengan entengnya menerima keputusan itu tanpa mau berkompromi dengan Sakura.

"Terima kasih Tsunade- sama." Sakura kemudian mengambil amplop tersebut dan segera berlari keluar dari ruangan kepala sekolah.

Ino yang melihat Sakura berlari dengan cepat dari ruangan kepala sekolah berusaha mengejarnya. Namun usahanya sia-sia saat melihat Sakura menaiki mobilnya dan melaju dengan kecepatan tinggi.

"Apa yang terjadi Sakura?" gumam Ino pada dirinya sendiri.

"Apa yang anda katakan pada Sakura?" tanya Ino saat dia berhadapan dengan kepala sekolah. Jika tidak mendapat jawaban dari Sakura, maka sumber yang paling mengetahui penyebab Sakura semakin kacau adalah orang yang ada di hadapannya.

"Dia dikeluarkan." Jawab Tsunade kalem. "kamu juga pasti mengetahui alasan kami mengambil keputusan ini."

"Dia masih bisa berubah Tsunade- sama." Ujar Ino dengan tatapan kesal.

"Ini sudah setahun Ino, dan kami tidak bisa memberi toleransi lebih dari itu." Tsunade sepertinya tetap teguh pada pendiriannya.

"Saya pikir kalian harusnya lebih bisa menyikapinya dengan lebih bijak, tapi ternyata saya salah."

"Kami sudah berusaha Ino, tapi nilai-nilai Sakura tetap tidak mengalami perubahan. Kalian sudah memasuki tahun ketiga di sekolah ini, jadi kami juga harus menghindari hal-hal yang dapat mempengaruhi reputasi sekolah ini."

Ino tersenyum masam. "reputasi yah?" Ino menatap kepala sekolahnya tersebut dengan pandangan jijik.

"Anda mengorbankan sahabat saya untuk reputasi kotor tersebut?"

"Keluar dari ruangan saya sekarang!" perintah Tsunade dengan wajah merah padam, dia sebetulnya kesal mendengar ucpan Ino yang terang-terangan menghinanya. Namun, mengingat ayah Ino yang merupakan donatur penting buat sekolah, dia membatalkan niatnya.

. "SIALAAN." Sakura kemudian meraih sebuah topeng, dan menangis dalam diam. Dia bersandar pada satu-satunya pohon sakura yang ada di pinggir sungai tersebut. Sebuah sungai yang dikelilingi dengan banyak pohon besar. Tempat itu merupakan salah satu tempat yang memiliki kenangan yang indah antara Sakura dengan ayahnya. Saat Sakura menangis ayahnya membawanya ke tempat itu kemudian memberinya sebuah topeng dan menyuruh Sakura bersandar pada sebuah pohon sakura yang disebut ayahnya dengan pohon kesedihan yang akan mengambil semua kesedihan itu untuk melindungi wajah Sakura agar tak ada seorangpun yang tau dia menangis dan suara sungai yang mengalir deras akan mengalahkan suara tangisan Sakura. Begitulah kenangan Sakura kecil dengan ayahnya.

"Aku merindukanmu ayah. Hiks..hiks.." Sakura menengadahkan kepalanya ke langit. Teringat papanya yang sekInong entah berada dimana. Sakura merindukan papanya yang kini telah berada di tempat yang tidak bisa dijangkaunya.

Sakura melangkah dengan gontai memasuki rumahnya.

"Ada apa nona Sakura?" tanya salah seorang pelayan Sakura yang bernama Chiyo. Melihat wajah Sakura yang pucat. Merawat Sakura sejak SMP sudah membuat Chiyo dapat mengetahui jika ada yang salah dengan majikannya tersebut.

"Aku lelah chiyo basan." Jawab Sakura singkat. Dia kemudian memaksakan dirinya untuk tersenyum. "Aku ingin istirahat." Sakura kemudian melangkah melewati pelayannya tersebut yang menatapnya dengan tatapan kasihan. Istirahat dan menyusul ayah secepatnya. Ucap Sakura dalam hati.

"Non, apa perlu basan siapkan makan malam?" tanya Chiyo lagi saat Sakura hendak menaiki tangga, karena kamarnya yang berada di lantai 2.

"Tidak perlu basan, aku tidak lapar." Jawab Sakura kemudian melangkah menaiki tangga.

Salah satu pelayan setia keluarga haruno itu hanya bisa memandang majikannya dengan prihatin. Tanpa perlu diberi tahu dia sudah tahu pasti terjadi sesuatu yang buruk sehingga Sakura pulang dengan kondisi seperti itu. bahkan dia sendiri juga sudah lupa kapan terakhir kali dia melihat majikannya tersebut tersenyum bahagia. Kepergian ayahnya, dan ibunya yang selalu sibuk sedikit banyak merupakan penyebab utama hilangnya senyum itu.

TOK TOK TOK

"Sakura, boleh aku masuk?" Ino akhirnya memutuskan untuk masuk setelah tidak mendapat jawaban dari Sakura. Keningnya mengerut saat tidak mendapati Sakura di kamarnya, dia kemudian berlari ke balkon, dan pemandangan yang tersaji di hadapannya membuat hatinya terasa sakit. Melihat Sakura yang duduk di sudut balkon dengan memeluk sebuah foto. Wajahnya dipenuhi air mata namun pandangannya kosong.

"Sakura, kau kenapa?" Ino tidak bisa menahan air matanya melihat Sakura seterpuruk kemudian memeluk Sakura, "Udah yah, aku tau kau lelah. Kita tidur yah." Ajak Ino kemudian membantu Sakura berdiri dan menggiringnya ke tempat tidur.

Ino menghela nafas lega saat melihat Sakura tertidur, setidaknya dia tidak sampai terkena demam seperti biasanya. Dimana ketika dia merasa shock, sekujur tubuhnya tiba-tiba terasa dingin, dengan kepala dan sekujur wajahnya panas.

Keesokan paginya Sakura yang lebih dulu terbangun sedikit terkejut melihat Ino yang masih tidur di sampingnya. Dia pun menyingkap selimutnya dengan pelan, agar tidak mengganggu tidur Ino. Dia kemudian bergegas ke kamar mandi.

"Ino, bangun! Ini sudah pagi, kau harus cepat ke sekolah." Ujar Sakura yang telah selesai dengan ritual mandinya dan telah berganti pakaian.

Ino mengucek pelan kedua matanya, kemudian memandang Sakura dengan malas. "aku masih mengantuk, hari ini aku ingin bolos saja." Gumam Ino kemudian kembali memejamkan matanya.

"Terserah. Tapi jangan menyalahkanku jika kau juga nanti dikeluarkan." Ujar Sakura yang akhirnya menyerah membangunkan Ino, karena Ino juga merupakan anak yang keras kepala, sekali dia mengatakan tidak maka itu adalah keputusan mutlak yang tidak akan berubah.

"hmmm" gumam Ino ditengah tidurnya.

Sakura menghela nafas panjang, kemudian bergegas keluar dari kamar. Dia ingin membantu chiyo basan membuat sarapan.

Ino tersenyum manis pada Sakura yang telah menantinya di meja makan. "Selamat pagi nyonya Sakura Haruno."

"Berhenti tersenyum nona tukang tidur!" ujar Sakura saat Ino duduk di salah satu kursi yang ada di ruang makan tersebut.

"Hei, harusnya kau senang aku disini menemanimu." Ino mengerucutkan bibirnya sebal.

Sakura menghela nafas panjang. "Aku akan sangat senang jika ini tidak mengganggu sekolahmu nona Yamanaka Ino." Sakura kemudian menyenddokkan sesendok nasi goreng buatannya ke mulutnya dan menatap Ino dengan tatapan serius. "Aku yakin ayahmu tidak akan setuju dengan tindakanmu ini Ino. Aku tidak ingin menjadi beban bagimu."

"Apa kau meragukan kemampuanku untuk merayu ayah untuk mewujudkan keinginanku." Balas Ino tak mau kalah. Dia menyantap sarapannya dengan penuh semangat. Seperti biasa dia tidak ingin kalah dalam adu argumen dengan Sakura.

Baru saja hendak membalas ucapan Ino, mereka dikagetkan dengan suara bel yang berbunyi. Ino yang hendak bangkit, dicegah oleh Sakura. "Lanjutkan sarapanmu. Biar aku saja yang membukanya."

"Memang Chiyo Basan kemana?" tanya Ino yang sejak tadi tidak melihat pelayan setia Sakura tersebut.

"Chiyo basan sedang belanja." Sakura kemudian bergegas untuk melihat tamu yang berkunjung ke rumahnya sepagi ini.

"Ibu tidak ada di rumah Shino- san." Ujar Sakura begitu mengetahui tamunya adalah salah seorang bawahan ibunya dari kantor pusat Haruno Corporation di Konoha.

"Saya kesini untuk berbicara dengan anda Sakura- san." Balas Shino tenang.

"Aa Silahkan masuk." Sakura sedikit bingung mendengar penuturan orang kepercayaan ibunya tersebut.

"Ibu anda sekarang masih berada di New York. Saya kesini untuk memberikan ini pada anda." Shino kemudian memberi sebuah amplop pada Sakura.

Sakura kemudian membuka amplop itu dengan rasa penasaran sekaligus tegang. "I...ini?" sakura menatap Shino dengan tatapan penuh tanya.

Shino yang mengerti raut kebingungan di wajah Sakura, berujar tenang. "Itu berkas anda Sakura- San. Sekarang anda telah resmi terdaftar di Stanislaw Konoha High School."

Sakura tidak bisa menutupi rasa kagetnya. Diremasnya berkas-berkas yang ada di tangannya tersebut. Tanpa perlu bertanyapun Sakura tau ini semua adalah perintah ibunya. Sakura menggigit bibir bawahnya dengan keras, berusaha meredam tangisnya. "Jadi kapan aku harus mulai belajar di sekolah baruku ini?" tanya Sakura yang sekarang harus mengubur mimpinya untuk lulus di Valeska Konoha High School, tempatnya menuntut ilmu selama dua tahun ini.

"Sekarang. Ini seragam anda." Shino kembali menyerahkan sebuah kantong plastik yang baru Sakura ketahui adalah seragam barunya. Sakura benar-benar ingin mati sekarang juga, apakah tidak ada waktu yang diberikan untuknya menyiapkan mentalnya sebelum menginjakkan kaki di salah satu sekolah elit di konoha tersebut.

Ino memandang Sakura prihatin, saat ini mereka sedang di kamar Sakura. Ino benar-benar tidak habis pikir, kenapa sahabatnya itu harus mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan secara beruntun selama beberapa hari ini. Sakura sepertinya masih belum siap untuk berbicara pada Ino.

"Aku berangkat Ino." Sakura yang telah siap dengan seragam barunya tersebut berpamitan pada Ino.

Sakura memandang malas lingkungan sekolah barunya, ini adalah pertama kalinya dia menginjakkan kaki di Stanislaw. Namun yang menjadi masalahnya adalah beradaptasi dengan lingkungan sekolah barunya. "Permisi, apa kau bisa menunjukkan padaku ruangan kepala sekolah?" tanya Sakura pada seorang gadis yang melintas di depannya.

"kau murid baru yah?" tanya cewek itu dengan senyum ramah. Sakura pun hanya mengangguk singkat sebagai jawaban."Ikut aku, aku akan mengantarmu." Ujarnya memberi isyarat pada Sakura untuk megikutinya.

"Eh iya, kenalin aku Hinata Hyuga." Karena bosan dengan sikap Sakura yang diam, Hinata berinisiatif untuk membuka percakapan di antara mereka mengingat ruangan kepala sekolah masih agak jauh.

"Aku Sakura Haruno." Balas Sakura singkat.

"Pindahan dari mana?"

"Dari Valeska Konoha High School."

"Terima kasih." Ucap Sakura singkat sesaat sebelum memasuki ruang kepala sekolah.

"Sama-sama." Balas Hinata kemudian melangkah menjauh, untuk kemudian menuju ke kelasnya yang memang tidak terlalu jauh dari ruangan kepala sekolah.

"Anak-anak kalian hari ini kedatangan teman baru. Pindahan dari Valeska Konoha High School." Kalimat singkat dari Kurenai sensei selaku wali kelas dari kelas X11 IPA 1 tersebut, membuat anak-anak menghentikan sejenak kegiatan belajar mereka.

"Aku sakura Haruno." Ucap Sakura singkat, kemudian melangkah menuju salah satu bangku kosong yang telah disediakan untuknya, mengabaikan tatapan heran teman-teman barunya tersebut. Samar-samar dia mendengar beberapa anak berbisik kecil mengatakan dia cantik namun aneh. Sakura tidak menyadari ada seseorang di kelas itu yang menyeringai begitu mengetahui Sakura bergabung di kelas tersebut.

Selamat datang di dunia kejam ini Sakura

TBC

Gomen, kalo lanjutannya makin gaje. Review please.