MOONBEAM
~Chapter 1~
.
Main Cast
Park Chanyeol
Byun Baekhyun (GS)
Oh Sehun
Kim Yejin (OC)
Extended Cast
Members of EXO
OCs
Genre
Fiction historical/period, romance, drama
Rating
T+ (amannya)
Warning!
GS! ChanBaek, slight HunBaek/Kaisoo
(Might contain typos, OOC)
Please enjoy and give some building critics ^^
.
.
Jika bukan karena Ibu Suri, mungkin Chanyeol tak akan senekat itu untuk melompati pagar.
Atau mungkin iya.
Ketergesaan yang melingkupi membuat Chanyeol terpaksa harus menabrak dinding terlebih dahulu, sebelum Jongin turun kembali dan menawarkan punggungnya untuk menjadi pijakan. Namun, pada dasarnya Chanyeol hanyalah seorang lelaki dengan gengsi yang tinggi, sehingga ia menolak bantuan Jongin dan kembali mengambil ancang-ancang untuk melompat.
"Jeonha, mohon jangan seperti ini, kita tak punya banyak waktu." Jongin mendesah khawatir melihat rajanya hanya melompat-lompat tak jelas di depan dinding. Chanyeol memang masih sedikit berada di bawah pengaruh alkohol dari arak yang tadi diminumnya, sehingga hal yang biasanya dengan mudah ia lakukan pun menjadi kelihatan begitu sulit.
"Jeonha," batas kesabaran Jongin semakin menipis. Jika Chanyeol sampai terlambat menghadiri pertemuan dengan Ibu Suri, maka ialah yang harus menanggung semua akibat karena telah lalai membuat Sang Raja tetap berada di tempat semestinya.
"Jeonha,"
Chanyeol menatap Jongin yang masih berada dalam posisi merangkak. Ia melihat wajah Jongin yang kusut karena kurang tidur, dan itu tiba-tiba membuatnya merasa bersalah.
"Baiklah, baiklah. Tapi jangan mengeluh kalau aku terasa berat."
"Sejak pertama kali anda menginjak punggung saya, anda selalu terasa lebih ringan."
"Benarkah? Kupikir aku selalu ingat untuk makan dengan normal."
"Tapi anda selalu lupa untuk bahagia."
"Apa?"
"B-bukan apa-apa. Satu jam lagi Daebi-mama akan tiba, mohon untuk segera bergegas."
Chanyeol akhirnya menginjak punggung Jongin dan berhasil melompati pagar itu. Mereka mendarat di halaman Seojeonggak*, yang kebetulan selalu sepi sejak Chanyeol naik takhta dan membuatnya tak lagi menempati bangunan itu. Mereka berlari kecil menuju gerbang yang menghubungkan Seojeonggak dengan Huijeongdang, tetapi tiba-tiba Chanyeol berhenti dan menatap sebuah bangunan kecil yang masih berada di kompleks Seojeonggak. Ia tersenyum sedih, kemudian berlari menuju Huijeongdang di mana para kasim tengah heboh karena pria itu baru menampakkan batang hidungnya setelah kejadian semalam.
'Bin-gung*, apa kabarmu? Meski telah sembilan musim semi kulalui tanpamu, aneh rasanya saat aku tak menjumpai suaramu dari balik dinding itu. Janggal rasanya ketika aku melihat bunga ceri bermekaran tanpa dirimu menyertainya, bahkan setelah bertahun-tahun. Pohon ceri itu tumbuh, aku pun tumbuh, kami semua tumbuh. Kau pasti juga mengalami hal yang sama. Aku penasaran, akan jadi secantik apakah dirimu saat ini? Kau selalu berkata bahwa bunga ceri jauh lebih cantik, tetapi bagiku, kaulah yang tercantik dari seluruh bunga di dunia ini. Aku pun pernah berkata bahwa peoni cemburu akan kecantikanmu, tapi kau bilang aku hanya membual. Hah! Kau memang tak pernah bisa diam, kau selalu menyanggahku, bahkan kau akan selalu mendebatku. Namun entah bagaimana kita memiliki banyak kesamaan, bahkan kau bisa menyukai apa yang aku sukai. Kau menyukai bukuku, busur panahku, kuas-kuasku, dan itulah yang membuatku jatuh cinta padamu sedemikian dalam. Bahkan sejak hari itu, cintaku padamu terus bertambah, hingga aku sampai pada satu titik di mana aku tersadar bahwa cintaku memang milikmu seorang.'
.
.
"Jeonha, mohon jangan melakukan hal seperti itu lagi."
"Jeonha, kami semua khawatir terhadap keselamatan anda."
"Jeonha..."
"Jeonha..."
"Bisakah kalian diam, hah?"
Chanyeol menendang air dalam bak mandi dengan kesal hingga tumpah dan membuat lantai menjadi tergenang. Ia menggeram, jengah dengan kecerewetan Kasim Yoo yang menurutnya melebihi kecerewetan para nain penggosip di Chimbang*, meski ia sepenuhnya paham bahwa penyebab semua itu adalah dirinya sendiri.
Tak betah berlama-lama berendam, pria itu pun bangkit dari bak mandi dan menimbulkan suara kecipak besar, sehingga para kasim dan nain yang mendengarnyabergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk mengganti pakaian Chanyeol yang basah. Kasim Yoo menyadari bahwa Chanyeol semakin kurus ketika para nain melepas jeogori* putih basah yang melekat pada tubuh pria itu. Otot-ototnya yang membesar karena latihan rutin pun kini sudah nyaris tak tampak lagi.
"Berhenti," Chanyeol menahan nafas ketika para nain hampir menyentuh celananya. "Aku bisa menggantinya sendiri. Kalian keluarlah."
Para pelayan itu pun keluar, termasuk para kasim yang sudah benar-benar tahu kebiasaan Chanyeol. Berbeda dengan raja-raja sebelumnya, Chanyeol selalu bersikeras untuk mengganti bawahannya sendiri, entah untuk alasan apa. Banyak rumor beredar di dalam istana terkait hal itu, termasuk rumor yang menyatakan bahwa ia tak lagi tertarik pada wanita. Atau yang paling populer, ia malas jika harus mengambil selir dari kejadian yang tidak diinginkan yang dapat berujung pada pertikaian di kabinet, terutama masalah pewaris takhta. Namun Chanyeol sendiri tak pernah membantah atau mengklarifikasi rumor-rumor itu.
Setelah selesai, Chanyeol keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju kamar utama untuk dirapikan penampilannya. Para nain telah siaga di kamar sambil membawa segala macam perlengkapan, mulai dari sisir, sangtugwan* emas berukiran naga, manggeon* dengan gwanja* atau sepasang kancing emas, serta tak lupa, gonryongpo* merah yang menjadi jubah kebesarannya dan ikseongwan* yang menjadi mahkota-nya. Dua orang nain bergegas menghampiri ketika Chanyeol telah duduk, kemudian dengan lembut dan hati-hati sekali, mereka mulai melepas ikatan rambut pria itu, lalu menyisir rambutnya. Setelah itu, mereka mengikat rambut Chanyeol menjadi satu jalinan di atas kepala, memasang sangtugwan pada jalinan itu, dan memakaikan manggeon yang melingkar menutupi dahinya.
Selesai dengan urusan 'kepala', dua nain itu mundur, digantikan oleh dua nain lainnya yang membawa sebuah jeogori sutera berwarna putih yang melapisi baju dalam atas Chanyeol. Sembari jeogori itu dikenakan, datanglah seorang nain yang membawa sebuah tungku gantung kecil yang berisi wangi-wangian. Ia mengedarkan tungku itu di sekitar tubuh Chanyeol sambil memastikan bahwa pria itu benar-benar terkena asap wanginya. Kemudian dipakailah gonryongpo merah yang menjadi simbol kebesarannya, dan yang paling terakhir, ikseongwan hitam legam yang lebih gelap dari malam tergelap.
"Jeonha, sarapan akan disajikan sebentar lagi." ujar Kasim Yoo setelah Chanyeol selesai berpakaian.
"Tolong sajikan makan pagiku di Huwon*. Aku ingin bersantap bersama Daebi-mama. Dan aku tak ingin mengulur waktu."
"Ye, Jeonha." Kasim Yoo membungkuk, kemudian segera memerintahkan kepada Min Sang-gung* untuk menyampaikan permintaan Chanyeol kepada para gungnyeo* yang bertugas di Sojubang.
"Anda ingin pergi ke Huwon sekarang?" Kasim Yoo kembali bertanya.
"Ya. Aku tak punya banyak waktu. Kau bilang Daebi-mama akan berkunjung sebelum waktu membaca, 'kan?"
"Ye, Jeonha."
"Mungkin aku akan menggunakan waktu itu untuk berdiskusi dengan beliau. Ingatkan saja aku ketika waktu membaca habis." ujar Chanyeol, sembari melangkah ke luar ruangan. Namun tiba-tiba langkahnya terhenti ketika Min Sang-gung mengumumkan kedatangan seseorang.
"Jeonha, Jungjeon-mama* datang untuk mengunjungi anda."
Chanyeol menghela nafas kesal. Dengan berat hati dan emosi yang tertahan, ia menyahut, "Katakan padanya aku akan menemuinya di luar."
Pria itu berjalan dengan sedikit menggerutu. "Tidakkah ia tahu kalau aku harus bertemu Daebi-mama pagi ini?"
"Beliau hanya mencemaskan anda, Jeonha." ujar Kasim Yoo, yang langsung disahut masam oleh Chanyeol.
"Setidaknya carilah waktu yang tepat. Atau, ya ampun, kau ratu tapi tidak tahu bagaimana jadwal suaminya?"
Pria itu masih menggerutu hingga ia tiba di depan pintu utama. Sebelum keluar, ia memperbaiki ekspresinya menjadi senormal mungkin. Ia tak ingin reputasinya buruk hanya karena terlihat bersikap kurang baik di depan ratu, meski ia pribadi benar-benar tidak menyukainya.
"Jeonha, kami semua mengkhawatirkan anda," ujar Yejin, ratu berparas cantik itu, dengan wajah sedih.
Chanyeol tertawa. "Haha, dinding dan angin di istana memang pandai bicara."
"Tolong jaga kesehatan anda, Jeonha,"
Pria itu menghela nafas, kemudian berlalu. Ia sudah tak punya waktu untuk berbasa-basi.
"Jeonha, sampai kapan anda akan seperti ini?"
Langkah Chanyeol terhenti saat mendengar pertanyaan Yejin di belakangnya.
"Beri aku waktu."
"Setidaknya mohon berikan saya kepastian sepanjang apakah waktu itu."
"Aku tidak tahu." Pria itu menghela nafas berat. "Aku benar-benar tidak tahu. Jangan tanyakan itu lagi. Daebi-mama sudah menungguku, tidak tahukah engkau tentang hal itu? Jangan meminta sesuatu dariku jika dirimu sendiri belum dapat menempatkan diri secara pantas di posisimu itu."
Chanyeol tak dapat menyembunyikan kemarahannya. Ia pergi dari Huijeongdang dengan cepat, seakan-akan menampakkan dengan sangat jelas bahwa ia tak ingin lagi bertemu dengan wanita itu.
.
.
"Lain kali lebih berhati-hatilah. Itu tadi sangat berbahaya."
Wanita itu, Jang Yesun—atau terkadang dipanggil dengan nama aslinya, Yixing—berdiri di depan meja sambil berbicara dengan seorang gadis yang tengah membungkus jujube.
"Maafkan saya," Gadis itu menunduk. "Saya... saya hanya... saya sudah tidak sanggup menahannya lagi."
"Aku tahu perasaanmu," Yixing menghampiri gadis itu dan menepuk-nepuk punggungnya. "Tapi saat ini bukanlah waktu yang tepat. Jika beliau tahu, kau akan berada dalam bahaya, Baekhyun-ah."
Baekhyun menggeleng pelan sambil menyeka air mata yang menggenang di kedua pelupuk matanya. "Ah, apa yang saya pikirkan? Itu sudah lama sekali, tidak ada yang bisa saya harapkan. Dan itu adalah keinginan yang sangat berlebihan."
Yixing tersenyum tipis. "Kau sudah bekerja keras semalaman ini. Istirahatlah. Kyungsoo-agassi* akan menggantikanmu."
Gadis itu mengangguk lemah, kemudian beranjak menuju kamarnya. Ia mendapati Kyungsoo sedang merapikan tempat tidurnya.
"Sudahlah, tak usah dirapikan, Kyungsoo-ya. Aku akan menggunakannya untuk tidur sebentar."
"Ah, tidak apa-apa. Aku ingin kau bisa tidur dengan nyaman setelah semalaman mengerjakan operasi."
"Terima kasih. Oh, aku minta tolong padamu untuk mengecek kondisi pasien operasi tadi malam."
"Aku sudah mengeceknya. Kondisinya semakin baik. Setidaknya itu bisa meyakinkan masyarakat lain bahwa dengan sedikit tindakan, nyawa mereka bisa terselamatkan."
Baekhyun tersenyum. "Kuharap tak ada lagi yang memandang operasi seperti mereka memandang rumah pemotongan hewan."
Kyungsoo tertawa, ia membuka jendela kamar dan bau tanah basah langsung menyergap paru-parunya. "Ah, ternyata hujan memang turun pagi ini. Untunglah, aku sudah memanasi obat pagi buta tadi."
"Daegam sudah tidak rewel kali ini?" tanya Baekhyun, merujuk kepada ayah Kyungsoo. "Kau datang kemari saat bulan masih bersinar, dan aku tak yakin kau melalui itu semua dengan mudah."
"Aku sudah berhasil meyakinkannya sejak lama, tapi saat ini ada sedikit hal yang mengganggu."
"Pernikahanmu?"
"Bisa dibilang begitu."
"Dengan siapa?"
"Putra keluarga Gyeongju Kim*."
"Gyeongju Kim? Kim Jongdae?"
Kyungsoo menampik. "Bukan, bukan dia." Ia menghela nafas melihat Baekhyun yang antusias. "Dengan sepupunya."
"Apa? Sepupunya?" Baekhyun terkejut. "Dia ungeom, bukan?"
"Ya. Dia yang menyertai Sanggam-mama* pagi tadi."
"Bukankah kalian sudah saling mengenal? Kudengar kalian juga sudah lumayan akrab."
"Jangan mengarang," Kyungsoo memakai sepatunya sambil tertawa. "Kami baru bertemu beberapa kali. Itu pun karena paksaan ibu-ibu kami. Oh, omong-omong kau tidak ingin mandi? Aku akan menyiapkan airnya."
Baekhyun tergelak ketika Kyungsoo mengalihkan topik secara tiba-tiba. "Dia pria yang baik, Kyungsoo-ya. Jangan dilewatkan. Dan terima kasih, aku bisa menyiapkan airnya sendiri."
Gadis bermata lebar itu menggerutu disertai tawa. "Tolonglah, jangan membahas itu lagi. Aku tak ingin memikirkan sesuatu yang akan membuatku berhenti melakukan hal yang kucintai."
"Baiklah, baiklah."
"Oh, iya, masihkah kita punya danggwisok*?"
"Tinggal sedikit. Aku akan pergi mencarinya setelah ini, kau fokus saja ke pasien-pasien yang datang."
"Baiklah."
Kyungsoo berlalu, menyisakan Baekhyun seorang diri di kamar. Ia beranjak menuju lemari pakaiannya untuk mengambil baju ganti. Di antara pakaian-pakaian itu, ia menemukan sebuah binyeo* emas yang sudah lama tidak dipakainya. Baekhyun tahu, meski benda itu adalah miliknya dan dibuat khusus untuknya, tetapi memakainya di saat seperti ini akan menjadi tindak kriminal.
Baekhyun menatap binyeo itu dengan sedih. Bukan karena status apa yang akan tercermin dari benda itu, melainkan seseorang yang berada di baliknya. Seseorang yang selamanya akan mengisi hatinya, meski ia tahu bahwa sangat mustahil untuk mengembalikan semua itu pada tempatnya. Ia sudah lama mati, begitulah orang-orang akan mengingat dirinya, apalagi pernyataan itu telah dibuat secara resmi oleh mediang ayah orang itu. Hidup sebagai orang lain tak pernah terasa begitu menyiksa bagi Baekhyun, jika saja ingatan itu tak terus-menerus muncul. Terkadang gadis itu berharap, lebih baik ingatannya hilang sama sekali.
.
.
"Kurasa mereka benar. Kau kelihatan semakin kurus."
Ibu Suri Kim memandang jubah Chanyeol yang terlihat sedikit kebesaran, padahal saat kunjungan terakhirnya beberapa bulan lalu, pria itu masih terlihat gagah dengan proporsi tubuh yang ideal.
"A-ah, benar begitu?" Chanyeol tersenyum canggung.
"Ya, kau membuatku teringat pada mendiang ketika ibumu meninggal," ujar wanita itu. "Beliau tak menyentuh makanannya sama sekali selama beberapa hari, hingga akhirnya jatuh sakit. Setelah itu pun beliau masih selalu menyisakan banyak makanan di meja, hingga badannya kurus seperti tiang. Barulah setelah kau dinobatkan sebagai Putra Mahkota, beliau kembali makan dengan normal."
Chanyeol pernah mendengar cerita itu dari Kasim Yoo. Beberapa kali juga pria paruh baya itu berkomentar bahwa Chanyeol seringkali mengingatkan mereka pada ayahnya, entah secara fisik ataupun sifatnya. Namun ada sedikit hal yang membedakan mereka, seperti Chanyeol yang sangat berhati-hati dalam berpolitik dan tidak mudah dikendalikan oleh kabinet, sedangkan ayahnya cenderung menuruti keinginan kabinet sehingga terkesan bodoh, padahal ia melakukan itu untuk melindungi anak-anaknya. Chanyeol lebih keras kepala, ayahnya lebih terbuka kepada banyak pilihan. Sebanyak apapun persamaan dan perbedaan di antara mereka, Chanyeol selalu merasa tak senang apabila orang lain selalu membandingkan mereka. Ia tak ingin mengulang kesalahan yang sama dengan yang dilakukan ayahnya. Baginya, dirinya yang berada di atas takhta kini adalah kesalahan terbesar yang pernah dilakukan ayahnya. Bahkan ia juga beberapa kali beranggapan bahwa keberadaannya sendiri sudah merupakan sebuah kesalahan.
"Jadi, adakah yang mengganggumu akhir-akhir ini?" Ibu Suri Kim kembali bertanya, membuat Chanyeol tersadar dari lamunannya.
"Animnida," Pria itu tersenyum. "Saya hanya sedikit kesulitan mengendalikan Buwongun*."
Alis Ibu Suri Kim terangkat sebelah. "Dia mencari gara-gara lagi?"
"Bukan begitu," Chanyeol sebenarnya ragu, tetapi ia merasa tak punya lagi tempat untuk bercerita selain kepada wanita yang dulu sangat dekat dengan ibunya itu. "Beliau berencana untuk memasukkan seorang selir ke dalam istana. Saya tidak tahu apakah mereka akan berkomplot lagi dengan Haeju Oh, tapi istana sudah penuh dengan orang-orang seperti mereka dan saya rasa itu akan semakin memperkeruh situasi."
"Kau bertanya padaku bagaimana sebaiknya solusi untuk semua itu?"
"Kurang lebih begitu."
Ibu Suri Kim menghela nafas. Semuanya jadi terasa semakin sulit semenjak ia memutuskan untuk meninggalkan Istana Changdeok.
"Kau tidak sedang menyukai seorang gadis? Setidaknya ambillah satu yang bukan berasal dari Andong Kim atau Haeju Oh dan lawanlah mereka."
Chanyeol terperanjat mendengar pertanyaan itu. "Tidak. Saya tidak bisa mencintai wanita lain selain dia. Mau bagaimanapun, dia adalah satu-satunya istri di hati saya. Saya tidak bisa melupakannya, meski saya tahu bahwa itu kedengaran aneh karena kejadian itu sudah hampir sembilan tahun yang lalu."
"Tapi kau tahu apa yang sudah terjadi tidak bisa ditarik kembali."
"Ya, saya tahu benar akan hal itu."
"Kau juga harus tahu akan tugasmu: menyelamatkan garis takhta dan mendepak Andong Kim beserta kroni-kroninya."
"Ya, dan itu akan menjadi jauh lebih mudah jika dia masih ada di sini."
Tiba-tiba Ibu Suri Kim meraih tangan Chanyeol, menggenggamnya lembut. "Aku, atas nama mendiang ayahmu, meminta maaf padamu, Jusang*. Kami berdua telah menempatkanmu pada posisi yang teramat sulit hingga dirimu kehilangan seseorang yang sangat engkau cintai. Kami merasa tak ada orang lain yang lebih pantas untuk menyelamatkan Joseon selain dirimu. Tak ada. Kami yakin engkau bisa mengendalikan semua ini. Kami yakin engkau akan mampu menyaring mana orang-orang yang benar-benar mengabdi pada negara dan mana yang hanya memanfaatkanmu. Wanita tua ini tak akan bisa banyak membantu sekarang, jadi aku percaya padamu sepenuhnya."
Chanyeol semakin tersadar, beban yang dibawanya memang sangat berat. Ia tahu bahwa tak ada orang yang bisa membantunya sekarang, termasuk Jongin, karena pria itu berada pada bidang yang berbeda. Tak ada lagi tempat baginya untuk meminta masukan. Semua orang yang ia proyeksikan untuk membantunya saat ini telah digilas oleh Andong Kim dan kroni-kroninya. Chanyeol harus benar-benar mengandalkan dirinya sendiri.
"Ah, iya, kudengar kau punya sebuah permintaan."
Pria itu tersenyum. "Ya, saya harap ini bukan permintaan yang berlebihan."
"Permintaan apa itu?"
"Saya ingin memberikan gelar anumerta kepada mendiang Bin-gung."
"Kau sudah berkonsultasi kepada Gwansanggam* mengenai hal itu?"
"Saya menunggu persetujuan anda."
Ibu Suri Kim menghela nafas. "Tapi kau yakin ia sudah benar-benar meninggal?"
"Sembilan tahun menghilang tanpa kabar di desa yang sedang terkena wabah mematikan dan dilaporkan menjadi salah satu korban meninggal oleh ibunya dan dokter yang turun langsung di lapangan, tidakkah itu sudah lebih dari cukup?"
"Bukankah ada baiknya jika kita menemukan makamnya terlebih dahulu dan menempatkannya secara layak?"
"Saya sudah hampir putus asa mencarinya. Tidak ada yang benar-benar bisa dimintai keterangan bagaimana kondisi terakhirnya sebelum meninggal, selain fakta bahwa ia memakai sobok*. Tetapi kebanyakan korban memakai sobok saat itu, jadi meski kami menemukan makam seorang wanita yang memakai sobok, akan sulit memastikan bahwa ia benar-benar Bin-gung. Bahkan jika keluarganya dihadirkan pun, itu akan masih sangat sulit karena saat ini pasti sudah tinggal kerangkanya saja."
Ibu Suri Kim menggigit bibirnya. Ia mengerti akan keinginan Chanyeol, dan ia sendiri pun sudah lama menantikan itu terlebih karena mendiang putri mahkota adalah menantu yang sangat dicintainya. Namun selalu saja ada yang menghalangi niat itu, dan ia tahu bahwa itu akan berasal dari keluarganya sendiri, Andong Kim.
"Aku memberimu izin untuk melakukan itu, tapi tolong pertimbangkan kembali dengan baik. Aku berharap engkau bisa menemukan alasan yang sesuai sehingga kabinet tidak akan terlalu mempermasalahkan hal itu."
Chanyeol tersenyum tipis. "Saya harap saya bisa melakukannya."
.
.
Setelah selesai mandi dan mengenakan pakaian biasa, Baekhyun menyisir rambutnya dan membentuk sebuah kepangan besar, kemudian mengikatnya dengan jjok daenggi* membentuk sebuah sanggul jjokjin meori* dan memasangkan sebuah binyeo yang terbuat dari giok berwarna putih kehijauan. Ia segera bergegas untuk membeli danggwisok di sebuah toko obat-obatan yang terletak di tengah kota Hanyang.
"Memakai rambut itu lagi?" tanya Kyungsoo setelah gadis itu melihat rambut Baekhyun.
"Aku ingin menghindari gangguan para pria," tukas Baekhyun. "Lagipula secara teknis aku juga sudah menikah."
Kyungsoo tersenyum kecil. "Perlu kutemani?"
"Tidak usah. Kalau kau ikut, aku akan jadi tambah repot mengurusi pria-pria yang menggodamu. Lagipula kau sudah akan menikah, jadi kau harus benar-benar menjaga dirimu."
"Aish, itu masih lama. Jangan mengada-ada."
"Benar kok, lagipula dia sepertinya sudah lama suka padamu."
"Baekhyun," Kyungsoo memutar bola matanya kesal.
"Jangan lepaskan dia, Kyungsoo-ya, dia pria yang baik." ujar Baekhyun sebelum berlalu, membuat Kyungsoo tertawa kecil saking inginnya dia memukul sahabatnya itu. Namun di balik tingkah Baekhyun yang suka menggodanya, Kyungsoo benar-benar mengerti betapa pedihnya hati Baekhyun, mengingat gadis itu harus berpisah dengan sang suami untuk waktu yang sangat lama.
.
.
Dengan sedikit bersenandung, Baekhyun melangkah menuju pasar. Pepohonan di sisi jalan mulai menguning daunnya, membuat jalanan terlihat semakin cantik. Bau tanah basah yang disukainya menyegarkan paru-parunya, sehingga ia berulang kali menarik nafas dalam-dalam dan itu benar-benar membuat suasana hatinya membaik.
Baekhyun melangkah memasuki pasar, dengan susah payah berjalan di antara para pedagang, kuli, dan pejalan kaki dengan berbagai macam profesi—gisaeng*, tukang besi, tukang ramal, tukang tipu, bandit kelas teri, beberapa jungin*, peternak yang membawa ayam-ayamnya, pengembara, pelukis, budak kasar, penari jalanan, hingga para yangban* dengan pakaian yang amat mencolok—yang hanya sekedar lewat atau mampir sebentar di depan kios-kios non-permanen yang berserakan di sepanjang jalan. Mereka yang mampir ke kios-kios biasanya berdiri lama-lama tanpa mengenal situasi dan kondisi sehingga terkadang jalan menjadi buntu.
Meski begitu, tak sulit bagi Baekhyun untuk menemukan toko obat yang biasa dikunjunginya sebulan sekali. Bangunan permanen itu bercat putih, berlantai dua, dan terletak tepat di persimpangan dekat sebuah warung makan yang selalu ramai pengunjung.
"Naeuri*," Baekhyun memanggil pria paruh baya pemilik toko obat itu. Jonghyun namanya.
"Ah, Nyonya Muda rupanya," Jonghyun menyambut Baekhyun dengan ceria seperti biasa. "Apa yang engkau butuhkan? Jujube? Danggwisok? Atau yang lain?"
"Danggwisok, seperti biasanya."
"Baiklah. Bu-in*, danggwisok untuk Nyonya Muda, seperti biasa!"
Terdengar suara wanita paruh baya—istri Jonghyun—menyahut dari dalam. "Tunggu sebentar!"
"Tidak perlu yang lain?" tanya Jonghyun, membuat Baekhyun tersadar dari lamunanya.
"A-ah, kami belum membutuhkannya untuk saat ini."
Baekhyun mengarahkan pandangannya menuju warung yang berada di seberang persimpangan. Ia melihat seorang pria yang tampak tak asing baginya. Pria itu berkulit putih pucat dan memiliki alis tebal, perawakannya juga besar dan kelihatannya cukup tinggi. Baekhyun teringat akan seseorang, tetapi ia berpikir tak mungkin bagi seseorang yang memiliki posisi terhormat itu akan berpakaian seperti orang-orang kalangan bawah.
Tanpa sengaja mata mereka bertemu dan Baekhyun segera memalingkan wajahnya. Namun sayang, pria itu telanjur melihat wajahnya dan tampaknya ia juga sama penasarannya. Setelah mendapat danggwisok, Baekhyun sedikit mencuri pandang pada pria itu, dan ternyata orang itu masih memandanginya. Gadis itu buru-buru berlalu, tetapi baru beberapa meter ia berjalan, seseorang menepuk pundaknya. Dan ketika ia menoleh, itu adalah si pria yang ia lihat tadi.
"Apakah kita pernah bertemu?" Pria itu mengunci matanya, membuat Baekhyun tak bisa bergerak.
"Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?"
Baekhyun membeku. Ia kenal wajah itu. Wajah yang sangat familiar baginya belasan tahun yang lalu.
"M-maaf?"
"Tolong ingatlah, apakah kita pernah bertemu sebelumnya?"
.
.
TBC
.
.
Notes:
*Seojeonggak: Kompleks kediaman putra mahkota beserta istrinya di dalam Istana Changedok.
*Bing-gung: Secara harfiah merupakan sebutan bagi kediaman putri mahkota, tetapi dalam praktiknya biasa digunakan untuk memanggil putri mahkota dengan formalitas Mama (Bin-gung-mama).
*Chimbang: Suatu departemen di dalam istana yang bertugas dalam pembuatan pakaian dan aksesoris untuk anggota keluarga kerajaan.
*Jeogori: Pakaian atasan yang dikenakan baik pria maupun wanita; untuk pria biasanya hingga sepanjang lutut, sedangkan untuk wanita sebatas bawah dada atau perut bagian atas.
*Sangtugwan: Semacam 'mahkota' kecil yang digunakan raja untuk mengikat sangtu, yaitu gaya rambut seperti 'cepol' yang digunakan oleh pria yang sudah dewasa.
*Manggeon: Semacam headband yang digunakan para pria untuk menahan rambutnya agar tetap rapi. Benda ini digunakan untuk gaya rambut sangtu.
*Gwanja: Sepasang kancing yang digunakan untuk menahan topi ataupun benda di atasnya agar tetap berada di tepatnya. Bahan untuk gwanja ini bermacam-macam, tergantung status sosial penggunanya.
*Gonryongpo: Jubah kebesaran bagi raja dan putra mahkota dengan emblem lingkaran naga di bagian depan, belakang, dan masing-masing pundak. Biasanya berwarna merah untuk raja dan biru keunguan untuk putra mahkota.
*Ikseongwan: Semacam 'mahkota' berbentuk seperti 'sepatu boots' yang dikenakan oleh raja. Biasanya berwarna hitam atau terkadang warna-warna seperti biru gelap dan merah gelap.
*Huwon: Sebuah tempat di Istana Changdeok yang merupakan area privasi bagi raja. Orang-orang yang bisa memasukinya pun biasanya hanya orang-orang tertentu atas izin khusus, umumnya untuk sesama anggota keluarga kerajaan dan beberapa pelayan khusus. Terdapat kolam teratai, sebuah paviliun, dan pepohonan yang tumbuh pada tempat dengan kontur yang miring sehingga tampak sangat cantik dan alami.
*Sang-gung: Tingkatan wanita pelayan istana yang paling tinggi, biasanya diberikan kepada wanita yang telah lama mengabdi pada istana. Namun ada makna lain untuk Sang-gung, yaitu seorang wanita pelayan istana yang mendapat perhatian khusus dari raja dan pernah 'berhubungan' tetapi belum secara resmi ditetapkan sebagai selir kerajaan, disebut Sungeun Sang-gung. Kedua jenis Sang-gung ini memakai gaya rambut yang sama, jjokjin meori, tetapi Sungeun Sang-gung mendapat keistimewaan untuk memakai pakaian dengan warna yang disukainya, sementara Sang-gung biasa umumnya memakai pakaian berupa dangui hijau tua dan chima berwarna gelap.
*Gungnyeo: Sebutan umum bagi wanita pelayan istana.
*Jungjeon-mama: Secara harfiah, Jungjeon berarti Istana Tengah, sedangkan mama adalah panggilan formal yang umum untuk anggota keluarga kerajaan, terutama untuk para wanita. Jungjeon-mama dapat diartikan sebagai yang mulia ratu—yang mendiami Istana Tengah. Beberapa kasus merujuk pada nama kediaman untuk memanggil sebutan formalnya, seperti Bin-gung.
*Agassi: Panggilan untuk gadis bangsawan muda yang belum menikah, yang berarti 'Nona Muda'.
*Gyeongju Kim: Pada zaman Joseon, bon-gwan atau asal marga/klan sangatlah penting bagi identitas seseorang, terutama jika orang tersebut menjadi anggota kabinet atau terlibat dalam suatu hubungan dengan anggota keluarga kerajaan, dalam hal ini menjadi menantu kerajaan. Sebagai contoh adalah Gyeongu Kim. Gyeongju adalah nama daerah dimana marga/klan tersebut berasal, sedangkan Kim adalah nama marga/klan. Gyeongju Kim sendiri merupakan klan besar yang memiliki pengaruh kuat, tercatat ada banyak pejabat dan beberapa ratu yang berasal dari klan ini.
*Sanggam-mama: Sebutan yang terkadang digunakan untuk raja apabila orang yang menyebut tidak berada langsung di depan raja.
*Danggwisok: Angelica sp.; merupakan tanaman yang digunakan herbanya untuk pengobatan.
*Binyeo: Tusuk konde yang digunakan oleh wanita yang sudah menikah. Bentuk, ukuran, dan bahan yang digunakan tergantung kepada status sosial pemakainya.
*Buwongun: Sebutan bagi ayah mertua raja.
*Jusang: Sebutan bagi raja ketika yang memanggil berada di pangkat lebih tinggi, misalnya ibu suri.
*Gwansanggam: Kantor yang menangani masalah astronomi dan geografi (atau ilmu bumi), biasanya memberikan saran kepada anggota keluarga kerajaan mengenai nama-nama atau tanggal-tanggal yang diyakini baik berdasar perhitungan atronomi dan kebumian.
*Sobok: Pakaian sederhana berwarna putih, merupakan pakaian orang yang berkabung atau sedang menjalani masa hukuman.
*Jjok daenggi: Pita yang digunakan untuk mengikat kepangan menjadi gaya rambut Jjokjin meori .
*Jjokjin meori: Gaya rambut berupa sanggul rendah yang digunakan oleh wanita yang sudah menikah atau wanita pelayan istana yang memiliki kedudukan tinggi.
*Gisaeng: Wanita penghibur yang memiliki berbagai macam keterampilan di bidang seni, seperti menari, melukis, atau bersajak.
*Jungin: Masyarakat kelas menengah atas Joseon, biasanya merupakan separuh bangsawan atau bangsawan yang jatuh ke kelas di bawahnya, tetapi statusnya masih lebih tinggi dari sangmin.
*Yangban: Masyarakat kelas atas atau bangsawan Joseon, merupakan pejabat tinggi pemerintahan atau kerabat dari keluarga kerajaan.
*Naeuri: Sebutan lain untuk memanggil 'Tuan'.
*Bu-in: Sebutan untuk memanggil istri.
.
.
Pertama, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada realnaila (!), lovExokimbyun, HeeKyuMin91, Park Byun NurHabibah, dan Noona Jinjin yang telah bersedia memberikan review pada fict ini :') Your reviews are really uplifting, thank you very much :')
Kedua, saya minta maaf apabila notes-nya terlihat lebih banyak dari ceritanya :D dan fict ini pun masih jauh dari bagus, jadi kritik dan masukan akan saya terima dengan senang hati
Terakhir, mind to review?
