Beijing, 1997
Upacara kematian Baixian telah berlalu sekitar seminggu yang lalu. Namun suasana kesedihan serta kehilangan masih begitu terasa dikediaman keluarga Bian. Kedua orang tua Baixian sama sekali tidak melarang sahabat mendiang putrinya untuk datang kerumah, berkunjung untuk sekedar menghibur wanita yang sudah seperti ibu mereka sendiri itu.
Xiao Lu adalah yang paling sering datang berkunjung karena ibu Baixian tahu betapa dekatnya hubungan diantara putrinya dengan simanis bermata rusa itu. Luhan akan datang disore hari, mengobrol bersama ibu Baixian diteras belakang sambil menikmati oolong tea lalu ia akan pamit menuju ke kamar Baixian dan berbaring dikasurnya.
Aroma tubuh Baixian tertinggal dengan jelas pada lembaran tebal selimut yang selalu menjadi penghangat bagi tubuh mungil yang tak tahan akan dingin itu. Xiao Lu menarik selimut hingga menutupi hidungnya. Hanya bola mata berkaca-kacalah yang tampak sementara hidungnya menghirup aroma lembut pewangi pakaian yang berbaur dengan aroma khas Baixian.
Dari pintu yang terbuka secelah Chanyeol berdiri menatap sendu kedalam kamar Baixian, dimana Xiao Lu sedang berbaring diatas kasur sahabat mereka, gadis yang dicintainya, gadis yang kini telah menjadi peri di surga.
Kriett
Chanyeol mendorong pelan pintu kamar Baixian membuat Xiao Lu meliriknya sekali namun sama sekali tak menggerakkan badannya untuk bangkit menyambut Chanyeol. Lelaki jangkung itu menghampiri pinggiran kasur dan duduk bersila dilantai. Ia bawa telapak tangannya mengusuk lembut puncak kepala Xiao Lu. Xiao Lu memejamkan mata merasakan elusan lembut Chanyeol dikepalanya yang mana menyebabkan aliran liquid bening mengalir pada kedua sudut matanya.
Xiao Lu adalah sahabat yang paling dekat dengan Baixian, keduanya sudah seperti saudara kembar dengan Qian sebagai kakak sulung, lalu Jay sebagai kakak lelaki dan mereka akan menyebut Chanyeol orang asing karena ia satu-satunya yang berdarah Korea. Chanyeol dapat merasakan betapa kehilangannya Xiao Lu akan kepergian Baixian yang begitu tiba-tiba. Begitupun dirinya yang merasa kehilangan separuh jiwanya saat mendengar langsung berita tersebut dari ibu Baixian malam itu. Tapi sebagai seorang lelaki, Chanyeol harus menunjukkan bahwa dirinya kuat. Meski tak jarang air matanya akan luruh setiap kali ia menatap potret dirinya dan Baixian yang ia pajang dikamarnya bersama foto yang lain. Rasa penyesalan dimana ia tak sempat mengungkapkan perasaannya pada Baixian serta ia yang tak bisa menjemput Baixian malam itu membuat rasa sakit itu semakin menjadi.
Andai aku mengatakannya sedari awal
Andai aku bersikap lebih pemberani
Andai malam itu aku yang menjemput Baixian
Andai…andai...andai…
"Aku rindu…" suara Xiao Lu terdengar serak dari balik selimut yang menutupi separuh wajahnya.
"Aku juga," angguk Chanyeol. "Sangat."
Keheningan terasa begitu kental diantara keduanya, dan disaat seperti itu mereka berharap Baixian hadir diantara mereka untuk memecahkan keheningan seperti yang biasa ia lakukan, dengan bibir mungilnya yang mengoceh ini dan itu.
"Qian sudah menceritakan semuanya padaku," Chanyeol akhirnya lebih dulu membuka suara. Bola mata rusa Xiao Lu bergulir pelan mengelak tatapan dari bola mata bundar Chanyeol. "Ayo pulang." Xiao Lu menggelengkan kepalanya menolak.
"Jika Qian tidak bisa menampungku lebih lama lagi, Jay bersedia melakukannya."
"Dan membuat orang berfikir bahwa Jay adalah ayah dari bayimu?" Xiao Lu tercekat.
Sudah dua hari Xiao Lu meninggalkan rumahnya setelah ibunya menemukan sebuah testpack di laci meja belajar Xiao Lu yang menunjukkan dua garis merah pertanda positif. Ayahnya tak pelak marah besar dan ibunya juga terlihat kecewa pada apa yang telah terjadi pada putri tunggal mereka. Masih dalam suasana berduka membuat Xiao Lu lebih sensitive. Menanggapi itu Xiao Lu memutuskan pergi begitu saja dari rumah.
"Aku sudah menemui baba dan mama mu Xiao Lu, jadi mari kita pulang."
"Kenapa kau menemui kedua orang tuaku?" tanya Xiao Lu bingung.
"Setelah ijazah SMU kita keluar kau akan ikut denganku ke Korea," dahi Xiao Lu semakin mengeryit dalam tampak sekali ia tak mengerti arah pembicaraan Chanyeol.
"Kenapa aku harus ikut denganmu?"Chanyeol membawa telapak tangannya pada pipi Xiao Lu dengan kepingan bundar miliknya menatap Luhan begitu dalam dan tenang.
"Kau tahu, ketika Xiao Lu mengatakan bahwa dia hamil aku berfikir semalaman."
"Apa yang kau pikirkan?"
"Kenapa aku tidak terlahir sebagai lelaki, dengan begitu aku bisa menjadi ayah dari bayi Xiao Lu."
"Hei, apa-apaan itu," yang memiliki mata sipit tersenyum lucu hingga matanya menyipit membentuk sebuah lengkungan yang akan membuat siapapun memuji betapa manisnya senyuman itu.
"Karena aku tahu kau tidak bisa melakukannya," Baixian melirik Chanyeol dengan senyuman kecil, sebelum ia mengalihkan tatapannya pada senja yang menggantung dilangit. Chanyeol tersenyum sebagai tanggapan dari ucapan Baixian.
"Aku tahu kau hanya memikirkannya bukan mengharapkannya," jawab Chanyeol. "Lagipula aku memiliki alasan untuk itu."
Ada makna tersembunyi disetiap untaian kata yang terlontar dari bibir kedua anak manusia yang tengah menikmati fenomena matahari terbenam itu. Namun, tak satupun dari keduanya memiliki keberanian untuk mengungkapkan maksud hati yang tersembunyi.
"Aku akan menikahimu Xiao Lu."
Aku mencintaimu itulah kenapa saat itu aku tak dapat melakukannya dan untuk alasan yang sama pula kini aku memutuskan untuk melakukannya.
o)(o
RedApplee
present
YUANFEN
o)(o
Park Chanyeol x Byun Baekhyun
Oh Sehun
Other Cast :
Xiao Lu Victoria Song Jay Chou
Wu Yifan Jessica Jung Lee Junki
Nam Joo-Hyuk Ji Soo
o)(o
Genre : Drama with a little bit Family story
Length : Multi-Chapter
Warning : Genderswitch and Typoss
o)(o
- Impossibilities Possible -
Gangnam, Seoul – 2016
"Da da ra da ra da ra ra ra da ra,"
Bibir tipis milik seorang lelaki berkaos putih polos mendendangkan alunan nada dari salah satu soundtrack sebuah drama yang belakangan ini sangat sering diputar diradio. Ia bukan penikmat drama tetapi berkat seorang gadis – sebut saja pacarnya - sangat menyukai lagu ini dan kerap mendengar lagu tersebut, bahkan dengan sengaja mendownload lagu tersebut menggunakan ponselnya. Jadi itulah sekiranya kronologis kenapa lagu ini dapat terputar lewat playlist pada mp3 ponselnya.
With you…
"Neoreul wihaeso."
For you
"Geudaeyeo nareul barabwajwoyo."
My love, look at me
"Yeojeonhi geudaedo nareul… saranghanayeo."
Do you still love me
"Appa selalu mencintaimu," suara berat itu berhasil membuat lelaki yang tengah disibukkan dengan kegiatannya memasak omlet menoleh kearah lelaki yang entah sejak kapan telah berada di bingkai pintu ruang makan yang menyatu dengan dapur.
Ia mendengus kecil untuk menutupi rasa malunya karena ketahuan bersenandung lagu cinta-cintaan yang sangat tidak cocok dengan image-nya. Lelaki yang lebih tua tampak sudah rapi dengan kemeja putih membalut tubuh tegapnya, dipadukan celana bahan berwarna abu-abu pada tungkai jenjang yang dimiliknya, serta dasi berwarna abu-abu tua melingkar rapi pada kerah kemeja dan tak lupa jas yang ia sampirkan pada punggung kursi.
"Pilihan yang bagus, adeul-ah," yang lebih muda memutar bola matanya mengetahui dengan sangat makna ejekan pada senyuman yang lebih tua.
Lelaki yang lebih tua ialah Park Chanyeol yang kini telah berusia 37 tahun dan berprofesi sebagai seorang direktur pada perusahaan keluarganya Settledom Inc. Dan yang lebih muda adalah Park Sehun, empat bulan lalu ia baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke 19 tahun.
"Kopi appa," ia menyorongkan secangkir kopi yang masih mengepulkan sedikit asap pada sosok yang dipanggilnya 'appa' itu. Yang mana pertanda bahwa Park Chanyeol adalah ayah dari Park Sehun. Lantas dimana keberadaan nyonya rumah Park?
"Kau menyapa mama mu lebih dulu hari ini hmm?" Sehun menoleh dengan senyuman arogan dibuat-buat dan bersedekap sambil memegang spatula pada tangan kanannya.
"Yepp, kurangilah begadang dan pulang larut malam wahai Park senior, anda memberikan contoh yang tidak baik pada putra anda," Sehun berbicara sok bijak menirukan neneknya kala menegur sang ayah. Chanyeol hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Sehun. Ia memiringkan badannya sedikit kebelakang dan melambai kearah sebuah bingkai foto yang terpajang pada ruang keluarga. Potret nyonya Park yang telah tiada.
"Morning Deer."
"Senyuman mama tidak secerah biasanya, ia tidak senang appa bangun terlambat dan membiarkan aku menyiapkan sarapan," seloroh Sehun.
"Senyumnya tidak pernah berubah sejak foto itu diambil dan dipajang disana Sehun-ah," Chanyeol tertawa kecil.
Xiao Lu adalah sosok yang fotonya terpajang pada dinding ruang keluarga kediaman Park. Ia adalah nyoma rumah yang tak pernah merasakan secara langsung kehangatan dari rumah yang dihuni oleh keluarga kecilnya itu. Kediaman yang berlokasi di Gangnam ini baru sekitar 4 tahunan ditempati oleh Chanyeol dan Sehun. Sehun lahir di Seoul namun menginjak usia setahun ia dibawa oleh Chanyeol ke California karena Chanyeol melakukan transfer perkuliahan pada salah satu universitas terbaik disana. Saat Sehun memasuki bangku sekolah menengah, Chanyeol pun memutuskan untuk kembali ke Korea dan bekerja untuk perusahaan milik keluarganya, dan tinggal berdua dengan Sehun dirumah ini.
"Dari mana kau mendapatkan lagu dengan lirik manis begitu hmm?" tanya Chanyeol seraya menerima piring berisi omlet dan sandwich yang disodorkan Sehun.
"Itu lagu favorit seseorang," jawab Sehun sok misterius.
"Ah! Seseorang yang memiliki status pacar didalam buku kehidupanmu?"
"Appa, kau berbicara seperti seorang malaikat yang membawa buku catatan kebaikan dan kejahatan manusia."
"Jadi, siapa dia?"
"Seorang gadis."
"Oh jinja, appa kira dia seseorang yang memiliki jakun pada lehernya," Sehun mendelik.
"Aku normal appa, jebal," lengos Sehun. "Mama, lihat suamimu ini," ia mengadu pada foto sang ibu yang tersenyum.
"I'm doing nothing Deer," sahut Chanyeol sambil menusuk telur dengan garpunya setelah menikmati egg sandwich yang rasanya lumayan, buatan putranya.
Hidup tanpa seorang pendamping sejak Sehun masih bayi merah membuat Chanyeol belajar mandiri untuk mengurus dirinya sendiri dan Sehun. Saat memutuskan pindah ke California, ibunya mengusulkan agar Sehun ditinggal di Korea, ibu dan ayahnya akan menjaga Sehun untuk Chanyeol. Namun Chanyeol menolak dengan halus, ia tidak ingin membebankan kepengurusan Sehun pada kedua orang tuanya. Sejak Xiao Lu meninggal ketika melahirkan Sehun kedunia, Chanyeol telah berjanji akan mengemban tugas membesarkan Sehun pada pundaknya.
Saat berada di California Chanyeol sempat memakai jasa nanny untuk menjaga Sehun saat ia harus kuliah. Namun diluar jam kuliah ia akan berada diapartemen merawat Sehun dan memperhatikan tumbuh kembang putranya, ya anak lelakinya. Meski tak setetespun benih Chanyeol turut ambil andil dalam penciptaan seorang Sehun namun baginya Sehun adalah putranya.
"... aku hanya khawatir Park Junior ini hanya omong besar tentang gadis yang disebutnya pacar, Deer," ucap Chanyeol menambahkan.
"Appa, aku tidak berbohong," Sehun duduk didepan ayahnya sambil meraih ponselnya yang ia geletakkan sembarangan diatas meja makan. "Aku akan menelponnya."
Chanyeol mengangguk sambil menunggu, putranya ini memiliki wajah tampan dengan garis rahang tegas dan dagu lancip menawan. Ia tak mewarisi bola mata rusa Luhan, namun ia memiliki tatapan tajam dan ekspresi poker face yang sangat khas. Entah dari mana ia menuruni itu. Chanyeol sempat berfikir kemungkinan itu dari ayah kandung Sehun. Sehun sendiri tak pernah menanyakan ketidakmiripannya dengan Chanyeol karena meskipun matanya tak mirip dengan ibunya Xiao Lu, namun wajahnya menurun dari ibunya.
"Aigoo," Chanyeol geleng-geleng kepala ketika nada sambung yang berbunyi sama persis dengan lagu yang tadi didendangkan oleh Sehun. "Apa itu lagu favoritnya?"
"Ya," angguk Sehun sambil menunggu panggilannya dijawab.
"Yeoboseyo..." suara serak menyambut dari seberang sana. Sehun terkekeh pelan sementara Chanyeol menaikkan alisnya. Sehun sengaja memasang mode loudspeaker pada ponselnya dan menaruhnya diatas meja, agar Chanyeol dapat mendengarkan suara kekasihnya.
"Hei chagi, aku membangunkanmu ya?" Chanyeol mengulum belah bibirnya untuk menahan tawa mendengar bagaimana nada Sehun bertanya pada si suara serak yang baru saja terbangun dari tidurnya diseberang sana.
"Hm-hm."
"Aigoo~ anak gadis mana yang membiarkan ayam bangun lebih dulu darinya hmm?" Chanyeol yang tengah mengunyah omletnya tersedak potongan telur. Sehun melebarkan pupil matanya agar sang ayah tak bersuara dan mengacaukan semuanya. Maka Chanyeol hanya bisa menutup mulutnya untuk meredam suara batuknya sambil menepuk-nepuk pelan dadanya sementara Sehun menyodorkan air putih miliknya pada sang ayah.
"Hm.. gadisnya Sehunie oppa hihi," jawab suara diseberang dalam nada agyeo dan kekehan suara serak yang menggemaskan. Untuk beberapa detik Chanyeol terdiam dalam gerakannya meminum air putih dan suara tawa Sehun menyadarkannya untuk menelan air yang tertahan didalam mulutnya.
"Ya! Jangan beragyeo begitu."
"Waeyooo~?"
"Ehemm.. karena..."
"Karena?" beo suara diseberang membuat telinga Chanyeol yang berukuran agak lebar serupa tokoh Dobby dalam film Harry Potter itu bergerak-gerak bermaksud untuk memperjelas pendengarannya akan suara gadis dari putranya itu.
"... karena... ucapkan salam pada appa, oppa," terdengar krasak-krusuk diseberang sana membuat Sehun segera meraih ponselnya dan mendekatkan layarnya pada bibir. "chagi.. chagiya, gwechanha?"
"Oppa~ bercandamu tidak lucu, aku sampai jatuh dari kasur," rengeknya. Sehun meringis mendengarnya namun disisi lain ia tertawa kecil. "Aihh jangan tertawa, pinggangku sakit."
"Maafkan oppa ya chagiya, tapi oppa tidak berbohong," Sehun melirik Chanyeol yang tampak mengerutkan alisnya. Ia sangat mengenal ayahnya dan ia tahu itu adalah eskpresi dimana ayahnya sedang memikirkan sesuatu hanya saja Sehun tidak terlalu penasaran ingin tahu apa itu.
"Oppa serius?"
"Ya."
"Ommaya!" diseberang sana kembali terdengar krasak-krusuk dan deheman pelan. "Ehem... annyeong hasimnika, aku Wu Baekhyun salam kenal."
Chanyeol bergeming dengan tatapan tidak fokus, telinganya agak berdenging seakan sesuatu baru saja menghentak indera pendengarannya. Suara ini terasa tidak asing ditelinga Chanyeol. Tapi dimana ia pernah mendengarnya?
"Appa?" panggil Sehun. "Appa!"
"Huh.. oh.. ya salam kenal kembali, Baekhyun," Sehun dapat menebak diujung telpon sana Baekhyun pastilah sudah salah tingkah bukan main. "Jadi, kau pacar Sehun?"
"I.. iya ahjussi."
"Kau bisa memanggil ayahku abeonim, bukan begitu appa?"
"Senyamanmu saja Baekhyun."
"Terima kasih ahjussi," semakin lama mendengar suara itu semakin membuat Chanyeol yakin bahwa ia pernah mendengar suara ini disuatu tempat. Namun Chanyeol tak dapat mengingat dengan jelas.
Sehun mengalihkan mode loudspeaker ke mode biasa dan ia menempatkan ponselnya pada sisi kanan telinganya. Meneruskan obrolan tanpa ingin membaginya dengan sang ayah. Chanyeol menatap putranya dengan tatapan teduh. Putranya, Park Sehun telah dewasa. Sudah merasakan bagaimana indahnya jatuh cinta dan menjalin sebuah hubungan percintaan. Chanyeol tak pernah melarang Sehun untuk berpacaran asalkan dirinya tidak mengabaikan pendidikannya.
Xiao Lu, putramu, putra kita Park Sehun telah dewasa batin Chanyeol tersenyum lembut masih tak mengalihkan tatapannya dari Sehun yang tengah mengobrol dengan kekasihnya yang bernama Wu Baekhyun di telpon. Jika kau disini, maka kau pasti akan menjadi orang pertama yang berseru gembira dan menggerecokinya tentang gadis bermarga Wu itu.
"Oppa akan menjemputmu nanti, sampai bertemu," Sehun berbisik pada ponselnya bermaksud agar tidak didengar oleh Chanyeol yang pura-pura tidak peduli. "... saranghae."
"Nado saranghae," sahut Chanyeol dengan senyuman menggoda.
"Nah! Sudah percayakan kalau aku berpacaran dengan seorang perempuan," ucap Sehun.
"Jadi namanya Wu Baekhyun dan ia lebih muda darimu," angguk Chanyeol. " Sudah berapa lama kau berpacaran dengannya?"
"Sejak dibangku SMU."
"Sudah selama itu dan appa baru tahu?" Chanyeol menaikkan alis sambil bersedekap sementara Sehun menggosok tengkuknya nyengir kecil.
"Aku hanya belum siap memberitahukan appa, saat itu aku ditahun terakhir sekolah menengah dan Baekhyun berada ditahun pertamanya," jawab Sehun.
"Park Sehun kau sudah menjalin hubungan backstreet selama itu dibelakang appa?"
"Aishh appa membuatku terlihat seperti lelaki yang ketahuan selingkuh saja," sungut Sehun. "Lagipula appa sekarang sudah mengetahuinya."
"Appa kira tidak ada yang kau sembunyikan dari appa."
"Aku tidak bermaksud menyembunyikannya, hanya menunggu waktu yang tepat untuk memberitahukan appa."
"Arraseo, jadi sekarang dia sudah kuliah?"
"Ya, tahun ini dia resmi menjadi mahasiswi di Cheongchun."
"Berarti usianya sekitaran 17 atau 18 tahunan?"
"Ya, 17 tahun dan dia mahasiswi fakultas seni musik, apa appa pernah mendengar tentang penulis bernama Wu Yifan?" Chanyeol menggali ingatannya tentang nama itu namun ia tak mengingat pernah mendengar nama itu sebelumnya. "Sudah kutebak appa tak tahu, ia salah satu penulis terkenal yang karyanya sudah diterjemahkan kedalam beberapa bahasa, Inggris, Korea, China dan Jepang. Dan ia adalah ayah dari Baekhyun," mendengar penjelasan Sehun itu membuatnya menganggukkan kepala. Ternyata anaknya ini tidak sembarangan memilih. Bukan berarti Chanyeol pemilih. Ia sama sekali tidak memberikan batasan atas pilihan Sehun.
"Kalau begitu belajar dengan benar agar kau tidak dianggap tak pantas untuk putri penulis terkenal seperti Wu Yifan-ssi ini, jangan membuat appa malu okay!"
"Memangnya kapan aku membuat appa malu, sih," jawab Sehun.
"Belum dan semoga tidak," jawab Chanyeol lugas. "Baiklah, terima kasih untuk sarapannya putra appa yang tampan."
"Ohh appa keumanhae, rasanya aneh mendengar appa mengucapkannya," Chanyeol sukses tertawa mendengar ucapan Sehun.
"Baiklah, appa berangkat dulu," ucap Chanyeol dan Sehun mengangguk.
Chanyeol meraih jasnya dan memakaikannya pada tubuh tegap dengan tinggi 185 sentimeter miliknya. Diam-diam Sehun menatap kagum figur sang ayah. Park Chanyeol tergolong masih muda untuk memiliki anak seusia Sehun. Sehun tak pernah bertanya tentang masa lalu kedua orang tuanya mengingat ibunya telah tiada jadi ia tak ingin mengungkit kenangan yang sekiranya dapat membuat ayahnya sedih. Pikir Sehun karena itulah sampai saat ini ayahnya masih betah menyendiri.
"Hati-hati dijalan appa."
"Ya, kau juga, ohh dan sepertinya appa akan menginap diapartemen karena sedang sangat sibuk sekali."
"Itulah yang menjadi alasan appa pulang terlambat dan juga bangun terlambat pagi ini?"
"Yepp, maafkan appa," Sehun mengedikkan bahu ringan tampak tidak masalah.
"Aku bukan anak kecil lagi appa."
"Appa tahu itu, tapi selama kau belum menikah kau masih dalam pengawasan appa," Chanyeol membuat gerakan dengan telunjuk dan jari tengahnya terarah pada matanya lalu pada Sehun, sebuah gesture yang menegaskan ucapannya.
"Baiklah, baiklah, bukankah appa harus kekantor."
"Annyeong Park junior!".
"Annyeong Park senior!".
Begitulah keseharian yang selalu dilewati oleh Sehun dan ayahnya Park Chanyeol. Keduanya akan bergantian menyiapkan sarapan pagi. Tergantung dengan siapa yang akan bangun lebih dulu. Sehun tidak terlalu mahir memasak seperti Chanyeol. Namun ia bisa membuat makanan sederhana seperti omlet dan sandwich. Maka hanya itulah yang dapat disiapkannya untuk sarapan mereka dan Chanyeol juga tidak akan protes.
Keduanya belajar untuk mandiri, saling berbagi dan melengkapi meskipun tanpa kehadiran sosok wanita yang berperan sebagai seorang istri dan ibu. Chanyeol adalah lelaki yang ia panggil appa ketika ia terjatuh dalam percobaannya berjalan untuk pertama kalinya. Ia adalah orang yang menggendong, menggantikan popok, meninabobokkan Sehun dengan suara beratnya yang sangat khas. Sehun tak mengenal sosok ibu. Namun ia mengenal sosok ayah yang begitu tangguh dan tegar dalam membesarkannya dengan begitu tekun dan sabar. Ia adalah sosok Park Chanyeol, ayah yang belum pernah mengecewakannya. Karena bagi sang ayah, kebahagiaan Sehun adalah prioritas hidupnya.
"Dimana mama menemukan lelaki seperti appa,?" tanya Sehun pada sosok difoto yang tergantung di ruang keluarga. "Aku sangat beruntung bukan, mama?"
Foto itu bergeming dengan senyuman yang lengkungannya tak pernah berubah. Senyuman favorit Sehun sebelum ia mengenal sosok gadis yang kini telah menjadi dunianya, Wu Baekhyun. Sambil tersenyum kecil mengingat betapa lucunya tingkah gadisnya Sehun bangkit membereskan piring bekas sarapannya dan sang ayah lalu menaruhnya di bak cuci untuk dicuci dan kembali menyalakan musik pada mp3 player ponselnya untuk mengusir keheningan yang begitu terasa didalam rumahnya.
o)(o
Motor sport berwarna putih memasuki kawasan Universitas Cheongchun yang mana berhasil menarik perhatian mahasiswa lain yang tadinya tengah sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Meskipun sang pemilik motor tak sendiri, karena dibelakangnya sosok mungil berkemeja putih tampak memeluk pinggang sipengemudi dengan erat, hal itu tak sedikitpun membuat mata-mata mereka menyerah akan rasa ingin tahu.
Ckitttt
Sang pengendara menghentikan motornya tepat pada garis batas parkir lalu menarik lepas helm putih yang melindungi surai brown miliknya. Park Sehun adalah sosok dibalik helm yang menjadi alasan bagi para gadis menghentikan kegiatan mereka hanya demi melihat sipemilik motor sport putih itu. Meskipun mereka sebenarnya sudah patah hati sejak mengetahui bahwa simungil berkemeja putih dengan rok span berwarna peach yang hanya mampu menutupi separuh pahanya itu adalah kekasih Sehun. Wu Baekhyun yang dikenal sebagai mahasiswi tahun pertama fakultas seni musik.
"Cck..aku menyesal tidak menerima tawaran appa untuk dibelikan mobil," decak Sehun seraya membantu kekasih mungilnya turun dari motor sportnya itu. Sementara si mungil berkuncir itu nyengir lucu sambil melepaskan jaket Sehun yang melingkar dipinggangnya.
"Hari ini ada pertemuan Ahn sonsaeng, beliau selalu melarang mahasiswa perempuan menggunakan celana," jawab Baekhyun dengan wajah lucu meminta pengertian Sehun. "Memangnya ini jaman Jeoson apa."
"Gwechanha, mungkin aku yang harus prepare menggunakan kendaraan yang membuatmu merasa lebih aman dan nyaman."
"Eyy oppa," Baekhyun meraih lengan Sehun untuk dipeluk. "Aku tidak masalah kok naik motor, sangat menyenangkan merasakan angin menerpa rambutku dan aku bisa memeluk oppa hihi."
"Hm-hm gadis nakal," Sehun meletakkan helmnya diatas motor begitu pula dengan helm yang dikenakan Baekhyun. Lalu menggandeng sang kekasih untuk masuk kegedung kampus.
"Oppa, yang tadi itu benar appanya oppa?" tanya Baekhyun.
"Iya chagiya, wae?"
"Suaranya sangat menyenangkan untuk didengar ditelpon."
"Eyy, jadi maksudmu suara oppa tidak?" tanya Sehun.
"Hihi bukan begitu," geleng Baekhyun. "Oppa dan ahjussi memiliki tipe suara yang berbeda, suara ahjussi sedikit lebih berat dan sangat lelaki."
"Kelelakian seseorang tidak dinilai dari suaranya chagiya," Sehun berujar. "Tapi memang harus kuakui appa memiliki suara yang keren. Menurut cerita haelmoni dulu appa tergabung dalam band sekolah saat ia masih sekolah menengah di Beijing."
"Benarkah, whoa alat musik apa yang dimainkan ahjussi?" Baekhyun jadi penasaran.
"Appa bisa memainkan semua alat musik."
"Jinja?" single eyelid Baekhyun meregang dikarenakan diameter bola matanya membesar mendengar ucapan sang kekasih tentang kemampuan dari 'ahjussi' yang tak lain adalah ayah dari Sehun sendiri.
"Yepp, gitar, piano, drum, appa bisa memainkannya."
"Lalu kenapa oppa tidak bisa memainkan satupun dari alat musik itu?" gemas dengan pertanyaan bernada penasaran Baekhyun membuat Sehun menarik lembut hidung mancung simungil.
"Ngg.. oppa hidungkuuu~" Sehun menanggapinya dengan mengusuk lembut ujung hidung Baekhyun yang memerah.
"Oppa tidak terlalu tertarik dengan alat musik, oppa lebih suka menari."
"Aku juga suka saat melihat oppa menari," jawab Baekhyun. "Saat oppa menari, oppa tampak begitu keren."
"Tentu saja, dan itu yang tidak bisa dilakukan oleh appa."
"Ahjussi tidak bisa menari?"
"Tidak, appa sangat kaku seperti robot," Sehun menirukan gerakan robot yang membuat Baekhyun terkekeh. Keduanya memutuskan untuk duduk dikursi taman yang tidak jauh lokasinya dari gedung fakultas seni musik dan gedung fakultas manajemen bisnis dimana Sehun mengambil jurusan.
"Oppa, jika aku menanyakan tentang kehidupan oppa dan ahjussi apa oppa akan marah?" tanya Baekhyun. Sehun menggeleng dan meraih jemari Baekhyun untuk digenggam.
"Tentu saja tidak," jawab Sehun. "Kau berhak mengetahui apapun itu tentang diriku."
"Bagaimana rasanya hanya tinggal berdua dengan ahjussi?"
Sehun menarik nafas pelan dengan bibir tipisnya membentuk senyuman kecil. Ia bawa kepalanya untuk sedikit mendongak memandang langit yang biru dengan awan putih menggumpal sebagai hiasan yang begitu indah.
"Sangat menyenangkan," jawab Sehun. "Appa dapat menjadi apapun untukku, seorang ayah yang mencari nafkah untuk kepentingan keluarga. Seorang ibu yang memasak, melakukan laundry serta menyiapkan kebutuhan sekolahku. Juga menjadi teman dan saudara lelaki yang bisa diajak bercerita dan berdebat."
"Bagaimana ahjussi itu?"
"Appaku?"
"Hmm."
"Wajahnya?"
"Ya, apakah ia mirip dengan oppa?" tanya Baekhyun. "Oppa tidak pernah memajang foto oppa dan ahjussi. Aku bahkan tak menemukan foto ahjussi di galeri foto oppa."
"Tentu saja karena galeri fotoku penuh dengan fotomu chagiya," Baekhyun nyengir malu mendengar penuturan Sehun. "Appa tidak terlalu senang berfoto jadi kami jarang berfoto, itulah kenapa aku tidak pernah mengunggah fotoku dan appa ke media sosial."
"Apa oppa mirip dengan ahjussi?"
"Aku lebih mirip mamaku," jawab Sehun. "Mungkin tinggi badan yang diturunkan oleh appa kepadaku."
"Berapa tinggi badan ahjussi?"
"Sekitar 185 dan aku 183."
"Whoaa oppa dan ahjussi sangat tinggi, aku hanya seperti smurfie," Baekhyun menjebikkan bibir menyadari kenyataan bahwa tinggi badannya hanya 164 cm. Meskipun untuk ukuran perempuan bisa dikatakan tidak terlalu pendek namun tetap saja jika disandingkan dengan Sehun dan ayahnya ia adalah yang terpendek.
"Smurfie kesayanganku," goda Sehun. Baekhyun yang memalu mencubit gemas pinggang Sehun yang dicubit meringis main-main.
"Oppa dan ahjussi pasti begitu dekat ya."
"Hmm, meskipun mama telah tiada namun karena appa aku tak pernah merasakan kekurangan baik itu dari segi materi ataupun kasih sayang," Sehun kembali menerawang mengingat masa-masa kecilnya dulu.
California, 2004
Si 7 tahun Park Sehun menuruni tangga kediaman keluarga Bruce –sahabat Chanyeol di California- dengan riang saat mendengar suara mobil ayahnya yang telah tiba untuk menjemputnya. Karena Sehun masih dibawah usia untuk ditinggal sendirian maka ada kalanya setelah menjemput Sehun disekolah ia akan menitipkan Sehun dikediaman sahabatnya tersebut. Dan saat pulang kerja ia akan menjemput putranya itu.
"Ayo pamit pada paman dan bibi."
"Hunnie pulang dulu ya paman, bibi," ucapnya sopan.
Sepanjang jalan ia akan bercerita apa saja yang dilakukannya hari ini selama disekolah, pelajaran apa yang disukainya, siapa guru favoritnya, apa menu makanan di kantin sekolah dan siapa teman sebangkunya.
"Appa, Hunnie ada tugas prakarya dan harus dikumpulkan besok," ucap Sehun. "Tadi bibi Jane membantu Hunnie mengerjakannya tapi belum selesai."
"Nanti appa akan bantu Hunni mengerjakannya."
"Yeayy!"
Namun yang terjadi sepuluh menit kemudian adalah Sehun tertidur didalam mobil karena kelelahan. Chanyeol dengan hati-hati mengangkat tubuh putranya kedalam gendongan dan membawanya masuk kedalam apartemen mereka.
Setelah memastikan Sehun tertidur lelap dan nyaman didalam kamarnya, Chanyeol meraih tas Sehun dan mengeluarkan tugas prakarya yang tersimpan didalam tas ransel berwarna biru itu. Tugas prakarya membuat bangau dari kertas origami. Maka tanpa mengganti pakaiannya terlebih dahulu Chanyeol mulai melipat kertas origami untuk dibentuk menjadi bangau dan dimasukkan kedalam sebuah toples kaca.
Sepanjang malam Chanyeol mengerjakan keterampilan tangan tersebut menghiraukan kantuk dan rasa kebas pada tangannya karena melipat origami. Begitu seluruh bangau telah jadi ia memasukkannya kedalam toples kaca lalu menggunting beberapa kertas sisa dengan bentuk bulan, bintang, matahari dan menempelkannya dengan lem pada toples kaca yang bening.
"Selesai," desah Chanyeol lega dan ketika ia melirik arloji ditangannya, waktu telah menunjukkan pukul 1 malam. Maka Chanyeol membereskan sisa dari kertas origami dan memasukkan prakarya yang telah jadi kedalam tas sang anak.
Keesokan paginya Sehun hampir menangis karena ia melupakan tugas prakarya miliknya dan justru tertidur. Namun sang ayah memintanya membuka ranselnya dan Sehun memandang toples penuh berisi bangau dengan bola mata membesar takjub.
"Terima kasih appa," Sehun memeluk leher Chanyeol yang membungkuk.
"Apapun untuk Hunnie."
"Appa menghabiskan hampir seluruh waktunya untukku dengan mengesampingkan waktu untuk dirinya sendiri," ujar Sehun. "Ia masih begitu muda ketika memilikiku tetapi ia dapat menjadi seorang lelaki muda yang bertanggung jawab dan begitu telaten mengurusku. Terkadang aku bertanya-tanya dimana mama bertemu dengan appa. Aku dan mama benar-benar beruntung."
"Aku jadi penasaran ingin bertemu dengan ahjussi."
"Nanti, oppa akan mengajakmu untuk bertemu dengan appa," ujar Sehun. "Saat ini appa sedang sangat sibuk jadi sulit menemukan waktu yang tepat untuk bertemu."
"Gwechanha, nanti saja kalau ahjussi memiliki waktu luang."
"Kau ini benar-benar unik, kebanyakan gadis akan gugup bahkan menghindari bertemu dengan keluarga pacarnya."
"Aku gugup juga kok," jawab Baekhyun. "Hanya saja rasa penasaran mengalahkan rasa gugupku hihi."
"Geureh, nanti saat appa ada waktu luang aku akan mengajakmu kerumah, hmm?" Baekhyun mengangguk dua kali dengan kuncirannya bergoyang-goyang lucu seperti bocah. "Aihh manisnya uri Baekhyunie."
"Memangnya kapan aku tidak manis hmm," Baekhyun bersedekap sambil menaikkan dagu memasang gaya sombong yang dibuat-buat.
"Tidak pernah, itulah yang membuatku khawatir jika pacar manisku ini bekerja part time di restoran milik pamannya."
"Eyy oppa tidak perlu khawatir," Baekhyun menyenderkan kepalanya pada bahu Sehun. "Hatiku hanya milik oppa," setelah berkata begitu ia menarik jaket yang sedari tadi disampingkan Sehun pada pahanya lalu menutup wajahnya menggunakan jaket itu karena malu.
Sehun rasa ia tidak akan pernah bosan bersama Baekhyun, karena gadisnya ini selalu penuh kejutan dan juga sangat menggemaskan. Lihat sendiri tingkah manis, lucu dan malu-malunya itu. Semacam memakan permen dengan tiga rasa sekaligus yang akan membuatmu terkejut setiap kali lidahmu mencecap rasanya.
"Sepertinya oppa tidak bisa mengantarkanmu ke restoran, karena kelas oppa sampai sore."
"Gwechanha, aku bisa naik bus kesana."
"Apa Hera tidak bisa mengantarkanmu?"
"Ia memiliki janji kencan sepulang kuliah jadi aku tidak bisa menumpang padanya," jawab Baekhyun. "Jangan khawatir, ini kan bukan pertama kalinya aku naik bus oppa. Nanti setelah sampai di restoran aku akan mengabari oppa."
"Geureh, jangan lupa kabari oppa, kirim pesan saat kau sudah sampai di restoran."
"Yes oppa!" ia memasang pose hormat.
o)(o
Chanyeol baru saja mengecek kembali proposal kerja yang akan dikirimkannya pada salah satu klien, setelah yakin tak ada kesalahan dan kekeliruan didalam proposal tersebut iapun menekan tombol 'send' untuk mengirimkan email. Meregangkan sedikit otot punggungnya Chanyeol bersandar pada punggung sofa. Menanti waktu untuk bertemu investor dari Jepang sore ini. Chanyeol memasukkan tangannya kedalam saku celana untuk mengeluarkan sebuah pocket watch beraksen vintage dengan ukiran phoenix pada bagian penutupnya. Ia membuka penutup jam saku tersebut, memperlihatkan deretan angka romawi dan jarum jam yang tak lagi bergerak.
Beijing, 1996
Chanyeol menatap sebuah kotak mungil terbungkus kertas kado berwarna merah yang disodorkan Baixian padanya begitu keduanya sampai didepan kediaman Baixian.
"Apa ini?"
"Tentu saja kado," jawab Baixian.
"Tapi tadi…"
"Ini kado dariku yang tadi kan dari kami berempat," jawab Baixian.
Hari ini adalah ulang tahun Chanyeol yang ke 16. Ia mendapatkan sebuah kejutan kecil-kecilan dari Baixian, Xiao Lu, Jay dan Qian. Tak hanya itu mereka juga memberikan sebuah kado berupa sepatu sport yang sangat Chanyeol impikan. Chanyeol begitu terharu mendapatkannya karena Qian mengatakan bahwa mereka mengumpulkan uang mereka berempat untuk membelikan kado tersebut.
"Terima kasih," Chanyeol menunduk memandang kotak mungil itu dengan senyuman sumringah yang tak dapat ia sembunyikan.
"Bukanya dirumah saja, semoga Chanyeol menyukainya."
"Aku akan menyukai apapun yang kau berikan, Baixian," Baixian menyampirkan rambutnya kebelakang telinga dengan senyuman malu-malu.
"Terima kasih sudah mengantarku Chanyeol, hati-hati dijalan," Chanyeol mengangguk.
Menunggu sampai Baixian masuk kedalam rumahnya Chanyeol tak berhenti tersenyum sama sekali. Ia menaiki sepeda motornya dan mengendarainya dengan senyuman lebar di sepanjang jalan pulang kerumahnya yang memang searah dengan komplek perumahan yang ditempati oleh para staff kedutaan.
Begitu sampai dirumah Chanyeol melempar tasnya keatas kasur, memandangi kotak mungil yang berada digenggamannya dengan detakan tak menentu pada jantungnya. Dilanda rasa penasaran ia menarik pelan pita keemasan yang mengikat kotak mungil itu lalu membuka bagian penutup kotak mungil tersebut yang mana memperlihatkan sebuah bandul berukiran phoenix. Ya, tadinya Chanyeol mengira itu mungkin sebuah bandul dari liontin. Ia menarik keluar bandul tersebut dan mendapati rantai sepanjang 20 sentimeter menjadi pengait dari bandul tersebut.
Klikk
"Ohh!" mata bunda Chanyeol mengerjap. Itu bukanlah sebuah liontin melainkan jam saku. Jarum jam serta angka-angka yang berbentuk romawi dibalur dengan tinta emas cantik. Chanyeol menebak jam saku ini pastilah tidak murah.
Chanyeol memeriksa bagian bawah dari jam tersebut dan mendapati bahwa jam saku ini terdiri dari tiga bagian. Maka ia menarik keatas pada bagian jam yang berdetak mendapati ada ruang kecil untuk menyimpan foto. Dan disana telah terpajang dengan manis fotonya dan Baixian. Debaran didada Chanyeol semakin menjadi. Ia bangkit dan menerobos pintu kamarnya sendiri untuk turun kelantai satu, menarik gagang telpon dan memutar nomor rumah Baixian.
"Wei," jawab suara diseberang, suara yang sangat dikenalinya.
"Aku menyukainya," Chanyeol menjawab langsung. Diseberang sana Baixian tersenyum senang mendengarnya. "Baixian, terima kasih."
"Hmm, aku senang kau menyukainya."
"Kau pasti menyisihkan banyak uang jajanmu untuk ini," suara kekehan merdu terdengar diseberang.
"Tidak perlu dipikirkan, kita tidak boleh perhitungan dan memperhitungkan kembali apa yang telah kita berikan untuk seseorang yang… berarti didalam kehidupan kita," sesuatu yang hangat menjalari hati Chanyeol mendengarnya ucapan Baixian.
"Kalau boleh tahu, kenapa kau memberikanku jam saku?"
"Apa kau tahu ada 3 hal didalam hidup yang tidak dapat kembali?"
"Apa?"
"Perkataan, karena setelah kau mengatakannya kau takkan bisa menariknya kembali," ujar Baekhyun pelan. "Momen setelah kau melewatkannya dan waktu setelah ia berlalu. Aku ingin kau selalu memanfaatkan waktu yang kau miliki sebaik-baiknya."
Setiap kali ia menatap jam saku ini maka kenangan hari itu akan menyeruak begitu saja didalam ingatannya. Perasaan hangat dan mendebarkan yang tak pernah ia rasakan lagi. Seakan telah pergi bersama dengan sosok yang menjadi akar terciptanya perasaan itu. Dan Chanyeol telah gagal melakukan apa yang diinginkan Baixian, untuk memanfaatkan waktu yang ia miliki. Ia telah menyia-nyiakannya, dulu.
Tok tok!
Bola mata Chanyeol bergulir menatap pintu ruangannya yang diketuk sambil memasukkan jam saku kedalam saku celananya.
"Masuk."
"Permisi sajangnim," asistennya, seorang wanita bernama Choi Sooyoung berujar setelah mendorong terbuka pintu ruangan Chanyeol. "Sudah saatnya berangkat untuk bertemu Takuya-san." Chanyeol memberikan anggukan pada asistennya tersebut.
Chanyeol melangkah keluar dari ruangannya diikuti oleh asistennya yang dengan sigap merendengi langkah Chanyeol hingga memasuki lift. Arlojinya menunjukkan sudah hampir memasuki pukul tiga sore. Ia memiliki temu janji dengan salah satu calon investor untuk perusahaannya disebuah restoran. Karena pesawat yang membawa investor dari Jepang itu tiba pukul dua siang maka mereka memutuskan untuk bertemu di restoran yang letaknya tidak jauh dari hotel tempat sang investor menginap.
Lift terbuka dan beberapa karyawan yang melihat sosok tertinggi Settledom Inc itupun segera membungkukkan badan sebagai suatu penghormatan. Chanyeol sebenarnya membawa mobil sendiri, namun biasanya untuk urusan kantor begini ia akan menggunakan mobil kantor dengan diantar pula oleh supir.
"La Vince Restaurant di Hongdae, Namjoon-ssi," asisten Chanyeol yang duduk pada kursi disebelah supir memberitahukan.
o)(o
Baekhyun melangkah turun dari dalam bus begitu kendaraan yang ditumpanginya berhenti. Jam tangan bermerk Guess yang melingkar pada pergelangan tangannya menunjukkan pukul tiga kurang dua puluh menit. Restoran tempat Baekhyun bekerja paruh waktu adalah restoran milik pamannya Lee Donghae, salah seorang sepupu dari ibunya. Baekhyun berasal dari keluarga yang mampu, bekerja paruh waktu begini hanya untuk mengisi waktu luangnya dan juga menambah uang jajan. Bukannya ia tidak mendapatkan uang jajan yang cukup. Tapi Baekhyun sangat suka membeli barang dengan uangnya sendiri. Ia belajar itu dari ibunya, Jung Seoyeon yang seorang penggila fashion sejak masih muda.
Ibunya kini dikenal dengan nama Jessica Wu dan ia telah meluncurkan sebuah brand fashion miliknya beberapa tahun lalu. Sang ibu bercerita bahwa dirinya tak pernah menyusahkan kedua orang tuanya saat dulu ia masih muda. Kegilaannya akan fashion membuat dirinya memutuskan untuk bekerja paruh waktu sebagai penyanyi di cafe disaat jam kuliahnya selesai. Dari sanalah ia mendapatkan uang lebih untuk membeli pakaian, sepatu, tas yang ia inginkan. Dan uang yang dikirimkan oleh kakek dan nenek Baekhyun dipergunakan untuk kuliah dengan sebaik-baiknya.
Baekhyun menyampirkan anak rambut yang mengganggu karena tertiup angin pada sisi kanan wajahnya. Disaat yang bersamaan bola mata beningnya menangkap sosok mungil berbulu abu-abu lembut yang terdampar ditengah jalan. Sosok mungil itu adalah seekor kucing yang mengeong seakan meminta bantuan pada orang yang berseliweran dikanan dan kiri jalan agar menyelamatkan dirinya dari lalu lintas jalanan yang ramai dan dapat mengancam keselamatannya.
Tungkai Baekhyun bergerak secara naluriah melihat alarm tanda bahaya ketika kucing mungil itu mencoba untuk bergerak namun sebuah mobil melintas didepannya membuat ia mundur beberapa langkah dengan kepala mungil berbulunya kembali menengok kekanan dan kekiri.
"Ya! Tetap disana!" Baekhyun berseru seakan simungil berbulu abu-abu dapat mendengar dan mengerti bahasa manusia.
Tap
Tap
Baekhyun berhenti karena sebuah mobil berhenti mendadak ketika ia baru saja menuruni undakan antara trotoar dan aspal. Baekhyun membungkukkan badan meminta maaf pada sipengemudi mobil lalu ia kembali melangkahkan tungkainya, sedikit berlari menuju simungil berbulu abu-abu.
Baekhyun berjongkok dan dengan kedua tangannya ia meraih simungil yang mengeong padanya seakan mengucapkan terima kasih. Baekhyun tersenyum kecil mengelus bulu lembut si abu-abu dengan mata amber nan lucu.
"Kyeopta," namun senyuman Baekhyun menghilang hanya dalam dua detik ketika ia mendengar suara raungan motor dari arah kiri. Ia menoleh dan seketika menegang dengan mata terbeliak. Baekhyun ingin bangkit dan berlari untuk menyelamatkan dirinya tetapi kakinya terasa begitu lemas hingga tak sanggup bangkit. Baekhyun memeluk erat kucing dipelukannya untuk memberi perlindungan. Setidaknya jika sesuatu yang buruk terjadi padanya, kucing mungil ini tidak akan kenapa-napa.
Tiitttt
Grep
Kejadiannya begitu cepat ketika Baekhyun merasakan desingan angin dan tubuhnya terangkat begitu saja. Baekhyun memejamkan matanya dengar erat, bersiap jika dirinya akan merasakan kokohnya tembok atau bahkan aspal yang kasar jika ia terpelanting.
Brakkk!
Kelopak mata Baekhyun semakin memejam erat mendengar suara tabrakan benda padat itu hingga tanpa sadar ia menenggelamkan kepalanya pada cerukan yang menguarkan aroma maskulin musk yang menenangkan. Dalam sekejap jalanan di Hongdae menjadi begitu ramai. Karena baru saja terjadi tabrakan.
"Hhh.. hh..h.." itu bukan engahan suara Baekhyun. Engahan suara itu lebih berat dari suara Baekhyun. Baekhyun memberanikan diri untuk membuka kelopak matanya yang terpejam erat. Disaat itulah ia menangkap pemandangan motor yang menabrak tiang jalanan dan kini tengah menjadi sumber keramaian orang yang berkumpul dengan ponsel ditangan, merekam bahkan memotret. Ada pula yang telah mencoba menelpon ambulans.
"Gwechanha?" suara berat itu bertanya dengan kepala menunduk untuk melihat wajah dari gadis yang barusan diselamatkannya. Dengan gerakan pelan Baekhyun menoleh dan mendongakkan wajahnya untuk menatap penolongnya.
Pernahkah kau merasakan seolah waktu berhenti, dimana keadaan disekitarmu tak bergerak dan telingamu kehilangan kemampuannya untuk mendengar? Park Chanyeol merasakannya saat ini, detik dimana retina matanya bertatapan dengan bola mata bening nan sayu milik seseorang yang kini ia gendong di trotoar jalan. Bola mata bening dengan bulu mata lentik yang selalu mampu membuat kinerja jantung Chanyeol melebihi batas normal. Ya, seseorang yang baru saja menyelamatkan Baekhyun dari tabrakan adalah Park Chanyeol.
Deg
Deg
Deg
Suatu ketidakmungkinan yang membuat Chanyeol hampir meragukan kemampuan indera penglihatannya. Namun segalanya terasa begitu nyata. Bagaimana tidak jika Chanyeol dapat merasakan bobot dari tubuh yang digendongnya dengan kedua lengan kokohnya. Dan tatapan itu… tatapan lucu menggemaskan menyerupai puppy yang menjadi ciri khas gadis yang dikenalnya 19 tahun lalu. Gadis yang mengisi lembar kisah cinta pada masa remajanya.
Baixian
Seakan kedua tatapan mereka memiliki daya magnet yang saling tarik-menarik dan enggan untuk dilepas ketika sudah saling terhubung. Karena perasaan tak karuan itu bukan hanya milik Chanyeol seorang, tetapi juga…. dirasakan oleh Baekhyun.
To be continued
Thanks to :
jhnxsnt Bun ye na nggtwlndr PeterChan lanarava6223 redeyeglass exoindridwiyanti12 Byunaf riskaagustinaputri nabilasahda fvirliani rilla1127 ParkJitta neniFanadicky Gianty581 azzuradeva yoyokin pcyyeoja kumaberry utarigunawan14 elisabethlaurenti12399 RahmaIndirawati fks24 rahayuanisa756 arishimaByun chankybaek indi1004 Deedamonia Incandescene7 sunflower6002 Lee seohyun galaxyhyung chika love baby baekhyun ChiakiBee TKsit pandaabee BAEKBAEK04 erry-shi Maksute925 2095 babybaek AwesomeCB TrinCloudSparkyu Ervyanaca Fahira880 Chanbaekhunlove uriwormi NLPCY taolinna6824 BabyKaihunnie biggirldiary byunbaekhee614 cici fu Kareninna babybaek61 laxytao weiweichan deboramichailin leeminoznurhayati lee ooh on Fairoza byunie AthayaTalithaohh ahh umh ooh ahh yeahName Alindah junghyemii maxiemaxie Guest lalice chanbaekus guest guest parkobyunxolily kim ace Kanata Hanwei Choi kaila chanbaek lovers yurin popcorn fwxing Byeoliesa KimMoon cb GuestLQ Thunderlight21 nalaB 1992 bbhyun06 Name chanbaek parkbyunCBKHKHnHS zyxlynadek ipar sehun kookiesue bakkie shellapcys18 bbhyun92 ChanBMine Hyunra byunbaekhill Guest xoloveaeri LavinaChoi21parkDobiie Real Paochan wawasehuniiie94 exobbabe Jung Minji Lucky8894 Byunae18 BabyByunie Guest Taeoh NaomiRB DesiiDesmin restuuexcbyn Chaca Maniezt761 Nia Chanhyuniie acc94 Galaxy Aquarius
Kepo :
Well, gimana chapter 1 nya hehee
Beberapa pertanyaan dan tebak-tebakan reader telah terjawab ^^ terima kasih untuk reader yang telah mereview, memfavoritkan, memfollow Yuanfen ^^ supportnya memberikan saya semangat selama mengerjakan ff ini, maaf jika ada nama yang terlewat diatas. Dan selalu, thanks untuk Dee Stacia ibu kandungnya Yuanfen karena telah nge'Beta'in chapter 1 ini ^^
Prolognya adalah cerita Park Chanyeol, Bian Baixian dan Xiao Lu dimasa lalu bersama dua sahabat mereka Victoria Song dan Jay Chou. Para tokoh lainnya akan muncul sesuai dengan kebutuhan cerita. FF ini akan terfokus pada pair ChanBaek – HunBaek. Untuk itu bagi kedua Shipper saya memberikan peringatan sejak dini /plakkk ini dapat menjadi ChanBaek dapat pula menjadi HunBaek. Dan untuk couple lain, setelah membaca chapter 1 ini maka reader tentunya mengetahui bahwa ada crack couple lainnya yang saya masukkan menjadi tokoh. Saya harap reader dapat bersikap bijaksana dengan tidak memberikan review negative akan pemilihan tokoh yang saya buat. Saya sudah pernah mendapatkan review tidak menyenangkan dan menurut saya sangat tidak bijaksana untuk di berikan jika reader memang tidak menyukai pair yang saya pilih. Maka cukup lewati atau close tab dari pada bersusah-susah untuk memberikan review yang sekiranya tidak mengenakkan. Saya sangat berterima kasih atas segala masukan dan komentar yang tentunya jika readerpun menggunakan bahasa yang sopan ^^
Well, saya tidak akan memberikan hint apapun lewat kolom 'Kepo' saya hihi tapi saya ingin reader menikmati ceritanya dan menebak-nebak bagaimana kiranya nanti ff yang baru bermula ini akan berakhir. Saya selalu takut dan khawatir untuk berekspektasi yang berlebihan, harapan saya cerita ini dapat diterima dan tidak membuat reader yang menunggu kelanjutannya kecewa ^^ dannnn malam ini saya update bareng oppa'nya Yuanfen hihi Baekbychuu jangan lupa untuk mampir dan sapa POD Oppa yahh hihi dan takk lupa bersama rombongan author kesayangan para reader lainnya, Railash61, Exorado, Byun Min Hwa, Baekhyeol, Sigmame, Flameshine, JongTakgu88, Oh Yuri dan Cactus93, cek list story mereka yahh ^^
Last but not least, see u in next chapter ^^ and don't forget to leave ur review ^^
RedApplee
