Yaah, finally I released the first chap! Dan gaada yang bisa nebak jalan ceritanya ya? Ehm, agak drama korea gitu sih, terus kayaknya memang agak lebay lebay labih gitudeh. Jalan ceritanya, liat aja nanti(?)

Warning: rating T, genrenya angst, pairing Yaya x Yaya as a friend, gatau apa ada cinta cintaannya atau nggak.

Boboiboy charas are Animonsta's

Happy reading!

.

.

.

Pagi telah datang kembali. Semua rutinitas manusia kembali dimulai, seperti roda berputar tanpa akhir. Tak peduli apakah sudah bosan hidup , capek, atau apapun itu, ia tetap berjalan. Hidup terus berlanjut.

Itulah yang terlintas di benak Yaya. Tak peduli semenyerah dan secapek apapun dirinya, hidup terus berjalan dan dia tidak mungkin diam saja, kecuali jika ia ingin mati. Tidak, ia tidak ingin mati mengenaskan seperti itu. Jadi, di pagi ini ia kembali menjalani rutinitasnya— pergi ke sekolah dengan sepeda tua bekasnya. Sebenarnya ia lelah harus pergi dengan naik sepeda tua seperti ini.

PSSSSH

Yaya melongok ke bagian ban depan. Sial, bannya bocor terkena paku. Terpaksa ia turun dan menuntun sepeda malang ini ke sekolah. Ia berjalan di bagian jalan yang paling pinggir sambil memandangi jalanan dengan lesu.

"Aah, aku harus lebih rajin bekerja untuk membeli sepeda yang baru." Ia hanya bergumam pelan sambil memandangi sepedanya tersebut.

Belum 60 detik, sesuatu mengenai bajunya.

CREEESSH!

Yaya kaget dan spontan ia melirik bajunya yang basah terkena genangan air. Ia menggeser pandangannya pada orang yang kira kira sudah mencipratkan air itu ke badannya. Benar saja, di depannya berhenti sebuah sedan putih yang mewah dengan seorang gadis yang mengendarainya. Dan ia tahu betul siapa gadis itu.

Gadis itu membuka kaca mobilnya. "Hei kau, minggir!"

Yaya mengernyitkan dahinya. "Loh, jalan kan luas."

Geram dengan kepolosan Yaya, gadis itu menatap tajam padanya dan mukanya terlihat kesal. "Ish, kau ini. Dasar orang miskin."

Bukannya polos, tapi Yaya sudah lelah meladeni gadis dihadapannya ini. Sungguh, ini masih pagi, dan Yaya tidak mau mencari keributan. Gadis itu menutup kaca jendelanya lalu pergi melesat menjauhi Yaya. Ia sengaja melesat di air dan sekali lagi, genangan air membasahi bajunya.

"Yah," Yaya melihat sekali lagi baju seragamnya yang sudah basah dan kotor terkena air genangan. Sepertinya ia harus ke sekolah dengan keadaan seperti ini, karena baju seragamnya hanya satu. Ia tak akan mau membolos hanya karena masalah seperti ini, banyak hal yang harus ia capai. Maka Yaya mencoba lebih bersabar dan mengelus dadanya. "Mau bagaimana lagi? Ingatlah Yaya, dia itu orang yang cukup berpengaruh di sekolahmu."

Maka ia kembali menuntun sepedanya sampai ke sekolah

I

Sebuah mobil putih telah terparkir dengan apik di parkiran sekolah. Seorang gadis turun dari sana, mengeluarkan hpnya lalu sedikit berkaca di sana. Setelah merasa semuanya beres, ia berjalan melewati koridor utama sekolah.

"Selamat pagi, Ying!"

Gadis itu, Ying, hanya tersenyum singkat lalu melambai pada teman teman dan para fansnya. Ia menghampiri kedua teman satu gengnya, Amy dan Suzy yang ia tebak pasti sedang mengobrol di koridor ujung sekarang.

Di lain tempat, Yaya memarkirkan sepedanya lalu buru buru ke toilet untuk membersihkan sedikit bajunya. Ia pun berjalan tergesa gesa lewat koridor ujung. Saking terburu buru, ia tak menyadari kalau ia menabrak seseorang – atau tepatnya beberapa orang.

"Hey!"

Yaya menoleh. Ia menabrak Ying, Amy, dan Suzy. Masalah besar.

"Ish, kau habis mandi di got ya? HAHAHAHA! Hey semuanya, lihat anak ini. Dia mandi di got! HAHAHAHA!"

Yaya hanya bisa diam melihat Ying mengkomandoi semua orang yang berada di lorong untuk menertawakannya. Toh, yang seperti ini sudah biasa. Bukan pertama kali dia dibully Ying seperti ini.

"Ma— maaf, aku Cuma mau lewat, Ying."

Ying menghalangi jalannya. "Eiy," lalu mendorong bahunya, "tidak segampang itu lepas dari kami."

KRIIING!

"Ck, kenapa harus ada bel masuk? Baiklah, kau harus berterima kasih pada bel itu."

Ying dan teman temannya meninggalkan Yaya di lorong. Yaya menghela nafas lega, memang ia harus berterima kasih pada bel tadi. Sekarang ia tinggal ke toilet lalu segera masuk ke kelas.

I

Sepulang sekolah, Ying merasa lelah sekali. Ia menolak ajakan teman temannya untuk pergi ke Mall, rasanya ia ingin segera makan siang lalu tidur di kamarnya yang nyaman. Ia melajukan mobilnya langsung ke rumah. Namun saat memasuki halaman rumah, ia kaget semua barang barang rumahnya sudah di luar.

Ying yang kaget pun keluar dari mobil dan mencari bibi pembantunya, untuk meminta penjelasan. Ia melihat bibi pembantu sedang berbicara dengan seorang pria paruh baya.

"Bibi, ada apa ini? Kenapa semua barangku ada diluar?"

Bibi pembantu hanya mendengus dan menatap Ying sinis. "Kau tau? Ayahmu meninggal dengan meninggalkan hutang yang sangat besar." Ying kaget setengah mati. Ayahnya... meninggal?

"Ti— tidak mungkin. Bibi jangan mengada ngada."

"Mengada ngada apanya? Kau sudah miskin sekarang. Ambil barangmu dan pergi! Dan satu lagi," bibi pembantu menajamkan pandagannya pada Ying, "jangan panggil aku bibi, karena aku bukan pembantumu lagi. Aku bahkan lebih baik darimu sekarang! Dan tinggalkan mobil mu." Lalu bibi menolak tubuh Ying kasar.

Ying terdiam, tak guna ia melawan. Maka dengan sangat berat hati ia memilih untuk membawa barang barangnya dan pergi meninggalkan rumahnya yang nyaman selama ini. Pergi tak tentu arah dengan perasaan yang campur aduk.

I

"Wah, Yaya, kerjamu bagus. Nanti akan kutambahkan uang jajan lebih untukmu!"

Yaya hanya dapat tersenyum, mengangguk pelan dan segera melesat melayani pelanggan. Ya, sepulang sekolah ia bekerja sampingan di sebuah rumah makan kecil. Namun walau kecil, pelanggannya luar biasa banyak. Makanya ia pun diterima bekerja disini sebagai pekerja paruh waktu, dan hasilnya juga lumayan untuk memenuhi kebutuhannya sehari hari.

Yaya sedang mengelap meja ketika matanya menangkap sosok yang tidak asing di matanya. Ia kaget. Kaget karena orang yang tidak asing tersebut sangat berbeda dari biasanya. Yaya mengernyitkan dahi heran.

"Y— Ying?"

Ying sedang berjalan di trotoar sembari membawa tas dan menyeret koper dengan lesu. Ia masih memakai seragam sekolah yang berantakan, dan mukanya pucat.

"Aku... aku harus kemana? Hiks..." Ying hanya bisa menangis pelan memikirkan nasibnya sekarang. Tak punya apa apa, bahkan tempat untuk bertahan hidup sekalipun. Mungkin, lebih baik ia mati di kolong jembatan saja.

Yaya melihat badan Ying limbung. Tentu saja, badannya yang ramping tersebut membawa koper dan tas yang sangat besar. Instingnya yang suka menolong membuatnya berlari secara spontan menyebrangi jalan, menghampiri Ying.

"Ying!"

Ying menoleh, dan kaget ketika melihat Yaya. "I— itukan Yaya. Si anak miskin itu pasti akan mengejekku."

Dengan tenaga yang tersisa, ia berlari sekuat tenaga dan pura pura tidak mendengar Yaya. Namun percuma saja, badannya yang sudah lemas takkan mampu berlari menjauhi Yaya. Beberapa saat kemudian, Yaya sudah berada di hadapan Ying.

"Ying?" Yaya melirik koper dan tas yang dibawa Ying. "Kenapa kau membawa koper?"

Ying hanya bisa menunduk dan menyembunyikan matanya yang sudah mulai basah. Tidak, ia tak mau Yaya mengetahui kondisinya. "Bukan urusanmu. Pergilah." Ia berusaha mati matian untuk terdengar normal. Sementara badannya semakin lemas karena kehabisan energi.

"Uhm, baiklah." Yaya agak ragu, namun mengiyakan saja dan pergi menjauhi Ying.

Tapi, ia tetap ragu. Yaya berhenti agak jauh dari tempat Ying berdiri.

"Aku lapar..." suara Ying sangat lirih. Pandangannya mulai kabur, dan ambruk begitu saja.

Yaya yang sudah menduga hal ini akan terjadi, segera berbalik menuju Ying. Ia melihat mata Ying terpejam dan kulitnya sedingin es. Yaya menepuk pipi Ying pelan.

"Ying... kau tak apa?" Yaya menghela nafas khawatir. "Ah, sepertinya tidak."

Yaya mengeluarkan ponselnya dari saku rok. Ponsel yang biasa, itupun hadiah pemberian majikannya di rumah makan. Ia menelepon majikannya.

"Halo, bu?"

"Ya, ada apa Yaya? Mengapa menelepon?"

"Begini bu, saya harus pulang sekarang, mendadak. Bisa saya izin?"

"Yasudah, tidak apa apa. Lagipula kamu sudah bekerja keras."

"Ah, iya. Terima kasih bu!"

"Sama sama."

TUUUT

Sambungan terputus. Mata Yaya kembali beralih pada Ying. "Nah, sekarang bagaimana aku akan membawamu? Ah—"

Yaya mendudukkan badan Ying di atas koper dan mendorong koper tersebut dari belakang, sambil membawa tas yang satunya. Beruntung, badan Ying tidak jatuh. Mereka pun sampai dengan selamat di kosan Yaya. Yaya terus mendorong Ying seperti itu sampai ke kamarnya. Beruntung masih siang, rumah masih kosong. Kalau tidak, ibu kos pasti banyak tanya.

Yaya merebahkan tubuh Ying di kasur, lalu mengecek suhu badannya. "Tidak panas... oke, sebentar." Yaya berjalan ke dapur dan memasak 2 bungkus mi instan. Tangannya dengan cekatan merebus air dan menuang bumbu.

Ying mengerjapkan matanya, dan saat sudah terbuka sempurna, ia menyadari ia bukan berada di jalan, dan bukan pula di kamarnya, melainkan berada di sebuah kamar yang kecil, tapi rapi. Terlihat warna pink mendominasi kamar ini.

"Di... dimana aku?"

Yaya yang sedang membawa 2 mangkuk mi rebus menuju kamarnya terkejut melihat Ying yang sudah sadar. Ia meletakkan mangkuk tersebut di meja belajarnya dan menghampiri Ying.

"Eh, sudah sadar?"

Ying mengerjapkan matanya berkali kali, pertanda kaget. "Yaya?! Kau yang membawaku kesini?!"

Yaya hanya dapat terdiam, lalu menjawab dengan suara pelan. "Ma— maaf. Tadi kau ambruk di jalan."

"Dan kau membawaku ke kamarmu yang jelek ini?! Aku—" Ying terdiam mencium bau makanan. Ia menoleh, melihat 2 mangkuk mi berada di sana. "Itu, untukku?"

Yaya mengangguk. "Iya. Maaf ya jika makanannya tidak seenak punyamu dan kamarku tak sebagus rumahmu. Makanlah, lalu kau boleh pulang."

"Pu— pulang?"

Yaya sedikit aneh mendengar pertanyaan Ying. "Iya. Memangnya kau mau disini terus?" Ucapnya setengah bercanda.

"Ya, aku mau pulang!" Ying menghentakkan kakinya dan pergi menjauhi Yaya. Namun saat menggapai gagang pintu, matanya berair. Ia tiba tiba sadar apa yang terjadi pada dirinya.

Ia... tidak punya rumah lagi.

Ying menutup mukanya lalu terisak. Yaya heran melihat punggung Ying yang bergetar. Yaya meraih pundak Ying lalu mendudukkannya di lantai. Ia menarik kedua mangkuk mi dari meja belajarnya dan menyodorkan semangkuk pada Ying.

"Makanlah..."

Mata Ying berkaca kaca menatap semangkuk mi tersebut. Ini bukanlah pasta, pizza, ataupun bistik yang setiap hari menjadi santapannya. Namun sekarang mi ini terlihat lebih lezat dari apapun di matanya. Ying meraih sumpit lalu langsung makan dengan lahap.

"Aku... aku tidak punya rumah. Ayahku bangkrut. Aku sudah diusir."

Yaya kaget mendengar pernyataan Ying. Ying... diusir?

"Diusir?"

Ying menyeka air matanya dan berhenti makan. "Ya, diusir. Aku miskin sekarang dan tidak tahu harus kemana. Kau puas, hah?!"

Yaya hanya dapat tersenyum lembut mendengar ucapan Ying. "Kenapa aku harus merasa puas karena penderitaanmu? Makanlah, dan kalau kau mau kau boleh menginap disini beberapa hari dan selanjutnya terserah padamu."

"Yaya," Ying menghela nafas pelan, "kenapa kau tidak pernah marah? Kenapa kau tidak pernah memberontak ketika aku bully dan hina? Kenapa... kenapa kau begitu kuat?"

"Karena aku ingin menjadi orang hebat. Untuk menjadi orang hebat, aku harus hidup dengan baik. Aku harus kuat."

Ying terdiam. "A— aku..."

"Berhentilah menangis. Habiskanlah makananmu, lalu kita akan mencari solusi untukmu." Ying hanya mengangguk dan melanjutkan makannya. Ying menatap Yaya yang makan seperti biasa.

'Kenapa... kenapa harus kau yang menolongku? Rasanya aku menjadi banyak berhutang padamu' batin Ying.

Beberapa menit kemudian, makanan keduanya habis.

"Nah, sekarang kita pikirkan masalahmu—"

"Aku sudah memikirkannya."

Yaya mengernyitkan dahi.

"Aku memikirkannya saat kita makan tadi. Kalau kau tidak keberatan, aku— aku boleh tinggal denganmu?"

Yaya terlihat kaget pada awalnya, namun hanya sekejap saja karena kemungkinan yang ini juga ia pikirkan tadi. Namun, ia tak mau mengatakannya pada Ying, takut gadis itu tersinggung. "Boleh kok. Tapi kau harus bekerja juga untuk memenuhi kebutuhanmu sendiri."

"Ke... kerja?"

" Karena kalau aku saja yang bekerja, tak akan cukup. Karena, mulai sekarang kau harus menghidupi dirimu sendiri. Uang sekolah, uang makan, uang kos, dan yang lainnya harus kau cari sendiri."

Ying terdiam.

Ya, dia harus menjalaninya sendiri, mulai sekarang. Suka tak suka. Mau tak mau. Daripada mati di kolong jembatan?

Ying mengulas senyum. Tak pernah di benaknya untuk tersenyum di hadapan Yaya sebelumnya. Namun, mulai hari ini mungkin setiap mengingat Yaya, ia akan tersenyum.

"Baiklah. Mari mulai kembali dari awal."

.

.

.

TBC

A/N: uwaaaaa! Selesainya tengah malam masa! xD

Nggak tau kenapa ya, aku ngerasa FF ini kubuat dengan sangat matang, beda sama FF aku yang lain. Perasaan aku aja kali ya-_- tapi aku sendiri ngerasa puas sama FF ini, entahlah kalau kalian gimana ya. Aku harap kalian juga puas sama cerita ini xD karena aku buatnya dengan penuh cinta(?)

Btw, kayaknya prolog kemarin sama yang ini nggak nyambung, ya? Hehe, maaf. Maklumilah author gesrek yang satu ini :') yang kemarin itu entah kenapa aku mikirnya jadi kayak gitu

Daaaan, terimakasih buat yang udah baca! Jangan lupa review! ^^