[iKON|All OTP]||iKON Familys|[series] Chapter 1
Tittle : iKON Familys – Chapt.1
Author : Rae
Genre : Family, MPREG, Yaoi, BoyXBoy, Romance, and Others
Rated : T, G, K
Cast : iKON's (my) OTP, iKON members, Monsta X's I.M, OC
Length : Chaptered-Series
Summary : "Bagaimana jadinya jika para ayah-ayah iKON mengurus anak-anaknya tanpa sang istri? B.I, Bobby, Junhoe, bagaimanakah hari-hari mereka dengan anak-anaknya? Lalu kemanakah perginya Jinhwan, Donghyuk, dan Yunhyeong selaku istri dan ibu?
Author's Note : Yoohooooo~~~~~~~ Saya suenangggggg pakee buangettttttt!^^...tahun 2015 adalah tahun ter-begitulah(?) dalam sejarah perK-POPan(?) saya. Sehun dapet part panjang di LMR, BTS yang sukses bikin tanda tanya besar lewat I NEED U sm Prologue, VIXX+BTOB comeback, Leo jadi sering senyum ^^, B.A.P sidang sm TS dan Luhan+Kris mediasi, GTD*nama grup saya* changed their members, Monsta X sama iKON debut, dan yang paling bikin bahagia adalah...B.A.P bakalan COMEBACK! Yeayyyyy\(^^)/. Oke, ini terlalu panjang -_- ff ini adalah ff iKON pertama saya, dan langsung ngangkat unsur mpreg, hehe...ini sebagai ucapan selamat untuk lahirnya anak pak YG alias iKON. Ini ff terinspirasi akibat usulan temen sejawat saya yang tiba-tiba ngomong kayak di summary, jadilah ff ini lahir ^^. Btw, ini dibikin sambil dengerin Rythym Ta, aneh lagi kan -_-. Oke, cuap-cuap saya terlalu panjang, padahal ini masih prolog. Oke, silahkan menikmati ff abal-abal ini. Enjoy it and Review juseyo~~~
TYPO(s), YAOI, DON'T LIKE DON'T READ, RnR PLEASE ^^
.
.
.
.
.
.
.
Hanbin sedang menemani Jinhwan berkeliling supermarket dengan Changkyun yang tertidur pulas digendongannya. Mereka baru saja pulang dari acara piknik bersama dan Jinhwan langsung menyeretnya ke supermarket.
"Hyung, jangan banyak-banyak belanjanya. Aku akan belanja lagi nanti kalau persediannya habis." Keluh Hanbin. Jujur saja, ia lelah dan bahunya terasa pegal. Ia menggendong beban 27 kilogram pada bahunya.
Jinhwan berdecak malas.
"Sini, biar aku yang menggendong Changkyun. Kau dorong trolly nya, aku akan menginterupsi."
Hanbin menyerahkan Changkyun pada Jinhwan. Bocah lima tahun itu sedikit menggeliat sebelum kembali anteng dalam tidurnya.
Hanbin mendorong trolly nya menuju rak makanan instan. "Beli ramen apa tidak hyung?"
"Tidak, beli beberapa roti tawar saja nanti."
Hanbin mengangguk dan kembali mejalankan trolly nya mengelilingi supermarket sesuai dengan apa yang Jinhwan perintahkan.
Ugh, ia jadi tambah capek. Tau seperti ini mending ia menunggu di mobil sampai istri mungilnya itu selesai berbelanja.
Kini keluarga kecil Kim Hanbin itu tengah dalam perjalanan pulang setelah menghabiskan satu setengah jam untuk berkeliling di supermarket.
Hanbin melirik Changkyun yang masih tertidur pulas di pangkuan Jinhwan.
"Jam berapa besok berangkatnya?"
Jinhwan mendongak menatap Hanbin. "Jam delapan mungkin...tergantung Ny. Goo dan "
Hanbin mendengus, "Kau juga , Jinannie -_-"
"Hahaha...maksudku Donghyukie, Han.."
"Oke, tak masalah. Tapi bukankah jam delapan anak-anak sudah bangun semua?" Hanbin kembali melirik putranya. Mengingat jika anaknya adalah salah satu dari sekian banyak anak yang seperti ia sebutkan diatas. Chankyun bangun tidur pukul tujuh jika ingin tahu.
"Kurasa membiarkan anak-anak melihat keberangkatan kita adalah hal yang tepat, Han." Jinhwan menatap lembut putranya.
"Tapi tidak untukmu sayang...kau akan menjadi berat untuk berangkat saat melihat I.M menangis besok."
Yah, dalam hati Jinhwan membenarkan ucapan Hanbin. Ia bahkan tidak yakin akan benar-benar berangkat besok jika ia melihat air mata putranya.
Keadaan mobil hening setelahnya. Hanbin fokus menyetir dan Jinhwan yang sibuk mengusapi surai coklat anaknya, sesekali mengecupnya pelan.
"Han,"
"Hmm...wae?"
"Kau bisa menjaga Changkyun dengan baik kan?" Nada suara Jinhwan terlihat sangsi akan kenyataan Hanbin yang sudah berjanji mejaga anaknya saat ia pergi nanti.
Hanbin menoleh sekilas, "Kenapa kau masih saja meragukanku hyung~~" Oke, sepertinya Kim Hanbin merengek.
"Bukankah sudah kukatakan aku ini ayah yang baik. Jadi aku akan menjaga I.M dengan sepenuh hati, dan dengan baik tentunya."
"Yah...aku percaya...hanya saja...masih tersisa keraguanku padamu..."
Penyataan Jinhwan dijawab oleh erangan frustasi Hanbin.
.
.
.
.
.
.
Junhoe sedang berdiri mengamati sang istri yang sibuk memasukkan beberapa potong baju kedalam almari kecil di kamar anaknya. Ia sudah berdiri sejak sepuluh menit yang lalu, dan tampaknya Yunhyeong tidak menyadari keberadaannya.
"Ehemm!"
Yunhyeong terlonjak kaget dan menoleh kebelakang, ia mendapati suaminya berdiri cuek di ambang pintu kamar anaknya.
"Sejak kapan kau berdiri disitu?" Yunhyeong menutup pintu almari dan berjalan menuju sang suami.
"Sejak sepuluh menit yang lalu." Junhoe menatap malas Yunhyeong.
Yunhyeong mendorong tubuh besar Junhoe keluar ruangan dan menutup pintu kamar dimana anaknya tengah telelap.
Tiba-tiba saja Junhoe memeluk pinggang Yunhyeong dari belakang, membuat Yunhyeong menghela nafas.
"Waeyo?"
"Apa kau akan benar-benar meninggalkanku dan Chanwoo besok?"
Yunhyeong mengangguk. Tangannya menepuk pelan lengan Junhoe yang bertengger manis di pinggangnya.
"Ahhhh~~ Lalu bagaimana aku harus mengurus bocah pecicilan seperti itu sendirian?" Oke, Goo Junhoe merengek.
Yunhyeong menggeplak pelan salah satu lengan Junhoe.
"Dia pecicilan karena bibitnya juga pecicilan! Dan kau harus ingat ini! Biarpun pecicilan, Chanu itu masih ada sifat alimnya. Dia juga penurut, jadi dia tidak akan se-pecicilan yang kau bayangkan!"
"Aihhh~~ tetap saja Song~~"
"Ck! Berisik! Sudah sana tidur, aku harus menyiapkan keperluanku untuk besok." Yunhyeong berjalan meninggalkan Junhoe menuju kamar mereka.
"Baiklah-baiklah. Doakan saja aku mengurus anakmu dengan baik nanti." Junhoe ikut menyusul Yunhyeong masuk kamar. Ia langsung merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur.
"Awas saja jika kau tidak mengurusnya dengan baik!" Dan Junhoe berhasil mendapat lemparan kaos dari Yunhyeong.
.
.
.
.
.
.
Rumah keluarga Kim Jiwon terlihat sedikit ramai dan berisik. Putri mereka, Kim Hyemi, masih saja setia membuka lebar mata indahnya, padahal jam sudah menunjukan pukul sembilan malam.
"Appa! Ayo bangunnn~~ Katanya mau nemenin Hyemi main sampai Hyemi ngantuk~~" Hyemi menggoyang-goyangkan tubuh Bobby yang tertidur disebelahnya.
"Appa lelah sayang...biarkan appa istirahat ne?" Hyemi menuruni tempat tidur dan menuju Donghyuk yang tengah menghapus make up tipisnya didepan cermin.
"Huft...Appa selalu saja tidur duluan!" Hyemi menumpukkan dagunya pada meja rias dan memainkan botol parfum milik sang ayah.
Donghyuk tersenyum mendengar ocehan putrinya. Ia menghadapkan tubuhnya pada sang putri.
"Apa Hyemi tidak mengantuk? Bukankah besok Hyemi akan kerumah Halmeoni?"
Hyemi menggeleng. Ia sedikit mengerucutkan bibirnya. Merajuk dalam diam.
Donghyuk tersenyum lagi. "Hyemi-ah, sudah lihat ini jam berapa?"
Hyemi refleks menengok jam dinding dengan cepat. Sedetik kemudian raut kecewa terpampang pada wajah cantiknya.
"Jam sembilan..." ucapnya lirih.
"Sudah malam kan? Ayo tidur, besok Hyemi dan Appa akan melakukan perjalanan jauh."
Meski tidak menjawab, Hyemi menuruti perkataan sang umma. Ia beranjak dari posisinya dan naik ke tempat tidur, berbaring disamping sang appa. Donghyuk tersenyum lagi, ia ikut berbaring disamping putrinya. Berbaring miring agar dapat memeluk Hyemi.
"Mau umma nyanyikan lullaby?" Hyemi mengangguk.
Suara halus Donghyuk mulai melantunkan bait demi bait lagu pengantar tidur untuk putrinya. Mungkin saking halusnya suara Donghyuk, belum ada tiga menit ia menyanyi, Hyemi sudah terbang ke alam mimpi.
"Hyung, bangunlah. Hyemi sudah tidur." Donghyuk mengusap sayang surai hitam putrinya.
"Benarkah? Ugh, mataku pedas harus terpejam selama tiga puluh menit tanpa rasa kantuk." Bobby menguceki mata sipitnya. Ia sedari tadi hanya berpura-pura tidur ternyata. -_-
"Hyung, jaga Hyemi baik-baik selama aku pergi nanti. Aku tahu kau ayah yang bertanggung jawab." Donghyuk berujar tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah cantik Hyemi.
Bobby tersenyum. Ia ikut menyingkirkan anak rambut yang menutupi dahi Hyemi.
"Ne, aku akan menjaganya dengan baik, Hyemi umma..."
Wajah Donghyuk bersemu, ia terlihat salah tingkah. Bobby hanya akan memanggilnya 'Hyemi Umma' pada saat-saat tertentu.
"A-aku percaya padamu Hyung."
.
.
.
.
.
.
.
.
"Go June! Bangun dan bergegaslah!" Suara merdu Yunhyeong menggema keseluruh sudut rumah.
Ia berkacak pinggang disamping tempat tidur. Mengamati sang suami yang masih setia memejamkan matanya. Ini sudah percobaan ke delapan Yunhyeong untuk membangunkan suaminya pagi ini.
"Sekali lagi, aku hitung sampai tiga kau tidak bangun juga, maka aku benar-benar tidak akan memasak sarapan untukmu!"
Hening. Junhoe masih tidak bergeming.
"Baiklah. Satu..."
"..."
"Dua..."
"..."
"Ti-"
"Ya! Ya! Ya! Aku bangun Song! Aku bangun!" Junhoe menyibak selimutnya dan langsung duduk. Matanya masih terpejam, mulutnya mendecak malas.
Yunhyeong tersenyum menang. Ditepuknya beberapa kali pucuk kepala Junhoe.
"Chanu sudah menunggumu dibawah, appa." Setelah mengucapkan itu, Yunhyeong beranjak meninggalkan Junhoe yang masih berdecak malas.
"Oh iya! Mandi dan berkemaslah Go! Anakmu tidak akan mau kau antar!"
Junhoe melempar bantal pada Yunhyeong yang tiba-tiba saja berbalik memasuki kamar sebelum dirinya beranjak menuju kamar mandi.
.
.
"Selamat pagi sayang~" Junhoe mencium sekilas pipi Chanu yang menggembung. Anak itu sedang mengunyah roti jika ingin tahu.
"Lama sekali! Appa mandi apa berenang..-_-" Chanwoo memandang ayahnya malas. Ia lelah menunggu ayahnya yang tidak turun-turun juga. Kebiasaan.
"Hei, appa lama juga karena appa ingin terlihat tampan saat mengantar umma-mu nanti!" Junhoe mulai tidak terima akan persepsi anaknya.
"Iyakah? Masih jelek buktinya!" Chanwoo memandang sangsi kearah ayahnya.
"Mwoya?!" Junhoe sudah bersiap akan mencubit gemas pipi anaknya sebelum jemari lentik milik Song Yunhyeong bertengger manis di telinga kanannya.
"Argghh~~"
"Mau kau apakan anakku hah? Kau ini sudah menjadi ayah, jangan seperti bayi!" Omel Yunhyeong tepat ditelinga kanan suaminya.
"Ya! Ya! Aku tahu Song! Tapi bocah pecicilan itu benar-benar tidak tahu sopan santun. Masa iya sama ayahnya send-auww auww!" Yunhyeong bukannya mendengarkan pembelaan Junhoe malah semakin menarik telinganya.
"Memang menurun siapa hah jika bukan menurun bapaknya?! Dasar! Jangan mengatai anakku sembarangan...blabablablabla..."
Oke, mari kita tinggalkan keluarga Goo Junhoe yang seharusnya sarapan dengan tenang namun malah berujung pada omelan.
.
.
.
.
.
.
.
.
Donghyuk tengah menyisir rambut lurus Hyemi di ruang tamu saat Bobby baru saja memasuki rumah.
"Appa! Kapan berangkatnya?" Hyemi melipat kedua lengannya didepan dada dan mengerucutkan bibirnya.
Bobby duduk disamping Donghyuk dan mengasak pelan rambut hitam Hyemi. "Hyemi mau berangkat kapan emangnya?" Tanyanya kemudian.
"Sekarang!"
Bobby dan Donghyuk terkekeh. Putri kecil mereka tidak sabaran rupanya.
"Bagaimana kalau setelah mengantar umma chagi?"
Hyemi menatap Bobby dengan dahi berkerut setelah mendengar pertanyaan sang ayah.
"Memang umma beneran mau pergi ya?" Hyemi menunduk, wajahnya terlihat kecewa. Hal itu membuat Bobby dan Donghyuk saling pandang.
"Chagi, umma tidak akan lama kok." Donghyuk mengangkat Hyemi dan mendudukkan bocah lima setengah tahun itu ke pangkuannya.
"Nanti Hyemi kan main bareng appa dan Halmeoni saat umma tidak ada."
Hyemi semakin menundukkan kepalanya. Sepertinya putri cantik Kim Jiwon ini benar-benar tidak ingin ummanya pergi.
"Hyemi kan sudah berjanji kalau Hyemi tidak akan sedih saat umma pergi, iya kan?"
Hyemi tetap diam. Hal itu membuat Donghyuk merasa sesak. Ia jadi tidak tega meninggalkan putrinya.
"Hyemi-ah.." Donghyuk memanggil, suaranya sedikit parau, tanda ia berusaha menahan tangisnya.
Hyemi masih saja menunduk. Ia benar-benar tidak ingin berpisah dari sang umma barang sejenak rupanya.
Pada akhirnya Bobby terpaksa harus menggendong sang putri dan menenangkannya. Ia membawa Hyemi keluar rumah dan membisikkan kata-kata penenang. Dan saat itu pula air mata Hyemi tumpah.
Donghyuk memandang pilu anak dan suaminya yang tengah mondar-mandir di teras depan. Ia benar-benar menjadi tidak tega harus meninggalkan Hyemi jika belum berangkat saja Hyemi sudah seperti ini. Bagaimana jika ia sudah berangkat nanti? Pikirnya.
.
.
.
.
.
.
"Changkyun-ah, berhenti menangis ne?" Jinhwan masih menepuki pelan punggung bocah lima tahun yang tengah menangis dalam gendongannya. Ini sudah empat puluh menit Jinhwan menggendongnya sejak ia pertama kali menangis pagi ini.
"Hiks...umma jangan pergi...hiks.." Changkyun semakin memeluk erat leher Jinhwan. Hal ini membuat Jinhwan menghela nafas.
Jinhwan menatap Hanbin yang tengah mengamati dirinya dan Chankyun dalam diam. Ia tahu suaminya itu juga tengah memikirkan cara untuk membujuk sang putra.
"Umma tidak akan lama sayang~ Jadi jangan menangis ne?"
Changkyun menggeleng kuat. Ia semakin sesenggukan.
"Han...bantu aku..." Jinhwan memandang melas pada Hanbin, berusaha meminta bantuan.
Mengerti kesulitan sang istri, Hanbin berdiri dari duduknya dan menarik paksa Changkyun dari Jinhwan. Alhasil bocah itu semakin menangis saat berpindah pada Hanbin.
"I.M berhenti tidak? Appa marah kalau I.M tidak berhenti." Hanbin berujar dengan nada yang dibuat dingin. Dan, gotcha!
Changkyun berhenti menangis meskipun masih sedikit sesenggukan. Ia tidak mau mengangkat wajahnya dari perpotongan leher dan bahu Hanbin.
Jinhwan tersenyum miris sambil mengusapi sayang punggung sang putra.
"I.M jangan nakal seperti tadi lagi ne? Kasian appa kalau I.M nakal terus, umma nanti diperjalanan juga tidak akan bisa tenang karena I.M. Arrachi?"
I.M mengangguk tanpa menatap ibunya. Jinhwan masih mendengar sedikit isakan dari bibir bocah yang mirip Hanbin itu.
"Hei jagoan! Ayo tatap umma-mu, jangan bersembunyi di bahu appa terus~~" Hanbin sedikit menggoyangkan tubuh I.M. Dan I.M menggeleng pelan, tanda ia tidak mau menuruti kata-kata Hanbin.
"Oke-oke, terserah."
"Jam berapa berangkatnya Hyung? Sekarang?"
Mendengar pertanyaan Hanbin, Jinhwan melihat jam dinding yang menunjukkan pukul delapan kurang seperempat.
"Sepertinya mereka juga sudah berangkat. Ayo kita juga berangkat Han." Jinhwan kembali mengambil I.M dari tubuh Hanbin dan membiarkan Hanbin berjalan lebih dulu menuju mobil mereka.
.
.
.
.
.
.
.
Incheon International Airport
.
"Mohon untuk penumpang pesawat jurusan 'xxxxx', untuk segera memasuki pesawat dikarenakan tiga puluh menit lagi pesawat akan lepas landas. Terimakasih."
Jinhwan, Yunhyeong, dan Donghyuk menghela nafas bersamaan. Sudah waktunya berangkat ya? Pikir ketiganya.
"Hyemi baik-baik dengan appa ne? Jangan nakal dan turuti semua perkataan appa. Ingat?" Donghyuk mengusap sayang rambut Hyemi. Hyemi mengangguk menjawab pernyataan ibunya.
"Umma~~ poppo~~" Tangan Hyemi menangkup kedua pipi Donghyuk dan menciumnya bergantian. Setelahnya ganti Donghyuk yang mencium kedua pipi, kening dan bibir mungil Hyemi bergantian.
"Hyemi umma..." Donghyuk mendongak saat suara berat Bobby memanggilnya. Booby tersenyum kemudian menarik tengkuk Donghyuk guna mencium sayang keningnya.
"Jaga diri baik-baik ne? Jangan keluyuran sendirian. Jangan lupa kabari aku setelah sampai disana."
Donghyuk tersenyum dan mengangguk.
"Aku akan meridukanmu Hyemi Umma..."
"Aku juga akan merindukan kalian berdua.."
.
.
Yunhyeong berjongkok didepan Chanwoo yang memandangnya tak ikhlas. Tak ikhlas melepasnya pergi.
"Hei tampan! Jangan pasang wajah seperti itu. Kau jadi jelek seperti ayahmu." Yunhyeong merengut sambil mengacak rambut Chanwoo.
"Umma...jangan lama-lama ya perginya..."
Yunhyeong mengangguk. "Ne, tidak akan lama. Umma janji, pulang nanti umma akan belikan Chanwoo miniatur keroro terbaru."
Chanwoo ikut tersenyum dan berhambur memeluk Yunhyeong. "Umma jaga diri baik-baik ne? Chanu juga akan jaga diri dengan baik disini." Yunhyeong kembali mengangguk dan membalas pelukan anaknya tak kalah erat.
"Tidak ingin mengucapkan salam perpisahan padaku Song?"
Suara berat dan serak itu sukses membuat Yunhyeong melepas pelukannya dan berdiri. Menatap malas paras tampan seorang Goo Junhoe.
"Jaga Chanu dengan baik. Perhatikan dia seutuhnya, jangan hanya memperhatikan pekerjaanmu saja! Perhatikan juga pola makannya!" Yunhyeong melipat kedua lengannya di dada dan semakin menatap malas suaminya.
"Ck! Aku tahu Song Yunhyeong -_-. Sekarang, mana salam perpisahannya?"
Yunhyeong menghela nafas dan menurunkan kedua lengannya dari dadanya. Sekarang lengan itu telah berpindah menjadi melingkari leher jenjang Junhoe.
Yunhyeong menatap menantang Junhoe yang dibalas seringaian tipis oleh Junhoe.
CUP.
Ciuman sekilas Yunyeong daratkan pada bibir tebal sang suami yang sukses membuat suaminya tersenyum sumringah.
"Sudah kan? Jadi jaga anakmu baik-baik Go!"
"Tentu sayang~"
.
.
Jinhwan mengusap sayang pipi Changkyun. Bocah itu tengah tertidur di pangkuan Hanbin.
"Han, suhu tubuhnya agak panas. Berikan penurun panas saat sampai dirumah nanti."
Hanbin mengangguk. Memang, suhu tubuh anaknya sedikit naik sejak tadi malam. Mungkin ini efek dari acara 'terjatuh'nya kemarin sore
"Changkyun yang nurut sama appa. Jangan nakal." Jinhwan mengecup sayang dahi Changkyun cukup lama.
"Han, perhatikan Changkyun dengan baik. Apalagi kondisinya sedang kurang baik. Perhatikan pola makannya, kau juga perhatikan pola makanmu. Jangan sering berkutat di ruanganmu selama aku pergi. Jika butuh bantuan hubungi eomma atau yang lainnya. Ara?"
Hanbin tekekeh dan mengasak pelan surai pirang istri mungilnya itu. "Ne..araseo yeobo..."
CUP.
Hanbin mengecup sekilas pipi Jinhwan.
"Kau juga jaga diri dengan baik. Jangan lupa untuk memberi kabar. Perhatikan juga kesehatanmu. Ara?" Jinhwan mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Hanbin.
Jinhwan kembali memandang wajah damai Changkyun. Terbesit sedikit raut khawatir di wajah cantiknya. Pasalnya, ia tahu anaknya itu sedang tidak enak badan. Terbukti dari wajahnya yang putih itu sedikit memerah dan berkeringat. Terlebih ia harus meninggalkannya hanya dengan suaminya saat kondisinya seperti ini.
Jinhwan mendekatkan wajahnya untuk kembali mencium pipi Changkyun cukup lama.
"Umma berangkat ne..."
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
Ja, Chapter 1 apdet! Gomawoyo readers-deul yang telah sudi membaca ff abal-abal ini. Jeongmal gomawoyo~~~ 3 3.
Maaf karena tidak bisa bales review satu", soalnya lagi dalam pekan ujian tengah semester dan pesiapan lomba dance cover ^^. Tapi ada satu review yang bakalan saya jawab. Dapet inspirasi dari mana anaknya BinHwan I.M Monsta X ? Oke, jawabannya: coba kalian liat deh, Hanbin sama I.M itu mirip lho. Mata mereka berdua sama, garis wajahnya juga hampir sama. Yang bikin aku ngebias Hanbin itu karena dia mirip sama I.M yg notabene adalah biasku di Monsta X. Mereka kayak bapak sama anak. Sekilas kalian bakalan liat I.M itu kyk liat Hanbin versi anak-anak. Nah kalau liat Hanbin itu sekilas kyk liat I.M pas udah mateng(?) nanti. Yang membedakan itu Cuma bibirnya saja, Hanbin tuebell, sedang I.M tipis. Jadinya aku punya keyakinan kalau I.M itu hasil persilangan(?) antara Hanbin sm Jinhwan. Temen" aku juga ngakuin kok. Jadi, udah pada tau kan kenapa aku punya inspirasi ngebikin I.M jd anaknya BinHwan. Hehe^^. Oke, mungkin next chapter bakalan agak lama karena yah, sudah disebutkan diatas, author masih dalam pekan UTS dan persiapan lomba. Tapi diusahain kok, cerita di chapt. depan juga udah nyampe setengah. Jadi tetep dukung dan tungguin ya~~
Gamsha~~
Rae#
