Disclaimer © Masashi Kishimoto

"OUR DESTINY"

Story by 'Ms. Hatake Yamanaka'

Pairing : Hatake Kakashi X Hanare

Warning : Semi Canon, OOC, Little bit Humor

Genre : Romance, Adventure, Drama

Rate : T

"Takdir. Aku tidak pernah mengerti tentangnya. Yang kutahu dia sangatlah kejam terhadapku. Takdir tidak pernah sekalipun berpihak padaku. Membuat orang-orang yang kusayangi selalu meninggalkanku. Orangtuaku, teman-temanku, dan guruku meninggalkanku karena aku tidak bisa melindungi mereka. Membuatku hidup dalam kesendirian, kesepian, dan rasa bersalah yang selalu menghantuiku. Namun, untuk sekali ini saja aku ingin takdir berpihak padaku. Aku tidak ingin merasakan yang namanya kehilangan lagi. Aku tidak ingin kehilangan wanita yang menyayangiku meninggalkanku karena aku tidak bisa melindunginya. Ijinkan aku merasakan kebahagiaan dalam hidupku bersamanya. Bersama wanita yang mau menerimaku dan mencintaiku. Bersama wanita yang ingin kulindingi dengan segenap kekuatanku." - HATAKE KAKASHI

"Aku di takdirkan selalu sendirian di dunia ini. Tidak ada seorangpun yang mencintai dan menyayangiku. Sampai akhirnya aku bertemu dengannya untuk pertama kalinya. Pria yang membuatku merasakan cinta, untuk pertama kalinya. Dan aku sangat bersyukur bisa bertemu dengannya kembali setelah sekian lama. Bertemu untuk ketiga kalinya. Untuk kembali melihat wajahnya. Kembali mendengar suaranya. Dan... Kembali jatuh cinta padanya untuk yang kesekian kalinya. Jatuh cinta kepada pria yang sama. Pria yang menjadi cinta pertamaku. Pria yang memenuhi pikiran dan hatiku. Dan kuharap dia di takdirkan untukku." - HANARE

Chapter 2

Enjoy My Story!

.

.

.

Mata mereka masih membulat memandang Kakashi dan Hanare yang sedang berjalan berdampingan menuju ke arah mereka. Kakashi memasukan kedua tangannya ke kantong celananya dan terlihat datar memandang mereka. Sedangkan Hanare hanya menundukan wajah yang sedikit memerah melihat reaksi mereka.

"Apa yang sedang kalian lakukan?" Tanya Kakashi sesampainya disana, disampingnya Hanare tersenyum manis ke arah mereka.

"Siapa dia sensei? Aku seperti pernah melihatnya-ttebayo." Naruto berdiri sambil menggaruk kepalanya.

"Halo semuanya.. Aku Hanare, senang bertemu kalian.." Hanare tersenyum dan membungkuk sopan.

"Halo, aku Uzumaki Naruto.. Senang bertemu denganmu-ttebayo.." Ucap Naruto cengengesan sambil menjabat tangan Hanare.

"Senang bertemu lagi denganmu Naruto-kun. Kau lupa padaku?" Tanya Hanare sambil tersenyum kecil. Naruto terlihat semakin bingung, ia memegang dagunya mengingat-ingat Hanare.

"Aku Umino Iruka, salam kenal." Iruka langsung mengenalkan dirinya dan berjabat tangan.

"Salam kenal Iruka-san.." Hanare tersenyum manis hingga membuat wajah Iruka memerah dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

"A-aku Yamato, senang bertemu denganmu." Yamato tampak tergagap saat berjabat tangan dengan Hanare.

"Senang bertemu denganmu Yamato-san.." Begitupula Yamato, pipinya memerah saat Hanare tersenyum ke arahnya.

"Namaku Nara Shikamaru, aku salah satu teman Naruto, salam kenal." Tampaknya Shikamaru biasa saja saat berjabat tangan dengan Hanare.

"Senang bertemu denganmu Shikamaru-kun.." Shikamaru kaget mendengar Hanare memanggilnya dengan akhiran 'kun'. Ia juga tampak sedikit salah tingkah melihat senyuman manis Hanare.

"Namaku Sai, aku juga teman Naruto. Senang bertemu denganmu." Sai tersenyum saat berjabat tangan dengan Hanare.

"Senang bertemu denganmu juga Sai-kun." Tampaknya Sai tidak terlalu terpengaruh melihat senyuman Hanare.

"Halo aku Haruno Sakura, senang bertemu denganmu."

"Halo Sakura-chan, senang bisa bertemu lagi denganmu.."

"Hm.. Sensei, bukankah Hanare-san mata-mata dari desa Jomae yang waktu itu?" Tanya Sakura ragu, yang mengingat Hanare.

"Ya, kau benar." Jawab Kakashi sekenanya, Hanare hanya bisa tertunduk menyembunyikan wajah cantiknya.

"Kau mata-mata?!" Tanya Yamato tidak percaya sambil menunjuk Hanare.

"Ah, benar, dia wanita yang waktu itu! Wanita yang berciuman dengan Kakashi sensei-ttebayo!" Naruto mengingatnya, dan membuat semua orang terkejut termasuk Kakashi dan Hanare. Muncul semburat merah di pipi Hanare.

"BERCIUMAN?!" Yamato dan Iruka berteriak histeris.

"Sungguh mengejutkan." Shikamaru menggelengkan kepalanya. Sai hanya terdiam mendengarkan dan sedikit terkejut.

"I-itu.. K-kecelakaan, Naruto yang melakukannya! I-itu tidak di sengaja.." Kakashi menjelaskan dengan tergagap, keringat membasahi pelipisnya. Ia menatap tajam Naruto yang tersenyum menampilkan giginya seolah-olah merasa tidak bersalah.

"I-itu benar, kami tidak sengaja melakukannya.." Jelas Hanare gugup, pipinya semakin memerah.

"Benarkah senpai?" Yamato mengangkat alisnya tidak percaya.

"Jadi, apa yang sedang kau lakukan disini Hanare-san? Apa kau sedang memata-matai desa kami lagi?" Shikamaru langsung bertanya menyelidik, matanya menatap tajam Hanare.

Semua orang langsung terdiam dan mengalihkan pandangan ke arah Hanare. Bibir Hanare terbuka akan menjelaskan pada mereka, namun Kakashi mendahuluinya.

"Dulu dia seorang mata-mata dari desa Jomae, dia pernah memata-matai Konoha dan tertangkap oleh ANBU Konoha. Namun, dia menghapus informasi tentang Konoha dari pikirannya dan berhenti menjadi mata-mata. Sekarang dia hanyalah penyanyi jalanan dan pergi mengembara ke beberapa negara. Aku sudah memastikannya sendiri dengan Sharingan-ku, aku yang akan bertanggung jawab jika dia melakukan sesuatu yang membahayakan Konoha." Kakashi hanya menatap datar ke arah mereka, tapi matanya terlihat serius saat menjelaskannya. Hanare menoleh ke arah Kakashi, dia sangat terkejut dengan penjelasan Kakashi.

"Lalu, kenapa kau datang lagi ke Konoha? Apa tujuanmu datang kesini?" Kali ini Yamato yang bertanya.

"Saat aku sedang di desa Suna, aku mendengar Konoha di serang Akatsuki. Jadi aku datang kesini untuk memastikannya sendiri. Aku tidak punya maksud apapun datang kesini, apalagi mematai-matai Konoha. Dan juga aku bukan seorang mata-mata lagi dan tidak bekerja untuk siapapun dan negara manapun. Aku bukan Shinobi dari desa Jomae lagi, aku adalah seorang ninja pelarian sekarang, tapi aku bahkan tidak pernah menginjakan kakiku di desa tempatku dilahirkan." Hanare menghela nafas, wajahnya terlihat sedih.

"Apa maksudmu tidak pernah menginjakan kaki di tempat kelahiranmu-ttebayo?" Kali ini Naruto yang bertanya, wajahnya terlihat bingung namun penasaran.

"Sejak kecil aku tinggal dan dibesarkan di luar desa, dan dilatih menjadi seorang mata-mata. Tujuannya adalah jika aku tertangkap saat melakukan misi, mereka tidak akan mengetahui apapun tentang desaku. Aku bahkan tidak pernah bertemu dengan orangtuaku dan tidak mengingat wajah mereka." Hanare terdiam dan menundukan kepalanya, matanya terlihat berkaca-kaca. Semua orang diam membisu dan menatap Hanare iba.

"Saat aku memata-matai desa kalian dan tertangkap, Kakashi-san bersikap baik dan mengajakku untuk mengelilingi desa walaupun dia tahu jika aku sedang memata-matai desanya. Naruto-kun dan temannya memberikan ucapan selamat padaku, aku merasa di terima di desa ini. Aku merasa desa ini adalah rumahku yang belum pernah aku miliki. Karena itu, aku tidak ingin mengkhianati rumahku." Kini Hanare tersenyum ke arah mereka semua, wajahnya menunjukan kesungguhan, matanya berkaca-kaca.

"Aku mohon pada kalian... Ijinkan aku untuk membantu membangun kembali desa ini!" Hanare membungkukan tubuhnya 90 derajat.

Semua orang terkejut melihat Hanare yang memohon dengan penuh kesungguhan. Mereka merasa tidak enak telah mencurigai dan memojokkan Hanare. Semua orang saling memandang satu sama lain, tidak tahu apa yang harus dilakukan.

"Hanare nee-chan, kau boleh membantu kami.." Ucap Naruto, wajahnya terlihat serius. Hanare mengangkat kepalanya memandang Naruto.

"Tapi, jika kau membahayakan desa Konoha, aku tidak akan membiarkannya-ttebayo." Semua orang memandang Naruto tidak percaya.

"Tapi Naruto.." Yamato terlihat tidak setuju.

"Aku dan Kakashi-sensei akan bertanggung jawab, percayalah pada kami-ttebayo."

"Naruto-kun... Terima kasih banyak.. Aku tidak akan mengecewakan kalian." Hanare tersenyum, wajahnya terlihat serius, matanya memancarkan kesungguhan. Naruto tersenyum menampilkan gigi-giginya.

"Baiklah, jika kau ingin membantu kami, apa kemampuanmu selain menjadi seorang mata-mata?" Kali ini Iruka yang bertanya.

"Aku bisa menggunakan ninjutsu medis, aku akan membantu merawat orang-orang yang terluka dan menghibur mereka."

"Kau bisa ninjutsu medis? Aku juga seorang ninja medis, kau bisa membantu kami sekarang Hanare-san? Kebetulan kami sedang kekurangan orang di bagian medis." Sakura tersenyum dan terlihat senang.

"Tentu saja, aku akan membantu kalian semampuku. Jadi, dimana orang-orang yang terluka?"

"Ah, mereka ada di posko medis, rumah sakit Konoha telah hancur akibat serangan Pain, jadi peralatan kami seadanya dan juga kami kekurangan obat-obatan. Mohon bantuannya Hanare-san."

"Kalau begitu, bisa antar aku ke posko medis sekarang?"

"Tentu saja, ayo kita pergi. Semuanya kami pergi dulu ya, Kakashi-sensei pinjam Hanare-san ya.. Tenang saja dia akan baik-baik saja bersamaku. Sampai jumpa.." Sakura mengedipkan matanya ke arah Kakashi, ia tertawa kecil. 'Senang sekali rasanya bisa menggoda Kakashi-sensei hihihi...' pikir Sakura. Kakashi terlihat terkejut mendengar perkataan Sakura, namun ia tersenyum karena mereka bisa menerima Hanare.

"Semuanya terima kasih banyak, kami pergi dulu. Senang bertemu dengan kalian semua." Hanare tersenyum dan membungkukkan tubuhnya ke arah mereka. Ia tersenyum tulus menatap Kakashi dan Naruto seakan berterima kasih. Kakashi hanya menganggukan kepalanya, sedangkan Naruto tersenyum konyol dan mengacungkan jempolnya.

Hanare dan Sakura berjalan menjauh, para lelaki terdiam dan terus menatap kepergian mereka. Mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing. Yamato menatap Kakashi dan Naruto bergantian, tampaknya dia tidak percaya mereka mengijinkan seorang mata-mata yang pernah memata-matai desa mereka, sekarang malah membantu desa Konoha dan membiarkannya begitu saja.

"Ada apa Tenzo menatapku seperti itu?" Kakashi mengangkat alisnya menatap Yamato.

"Jangan memanggilku dengan nama itu lagi senpai!" Yamato terlihat sewot, Kakashi tertawa melihat ekspresi kesal Yamato.

"Apa tidak apa-apa membiarkannya begitu saja? Bagaimana jika dia berbohong?" Tanya Sai, tampaknya Sai juga belum percaya sepenuhnya pada Hanare.

"Sudahlah ketua Yamato, Sai, jangan berprasangka buruk padanya. Setiap orang bisa berubah kan? Kita harus mempercayainya, dan jika perlu aku akan mengawasinya. Lagipula dia memang bisa membantu kita kan? Kakashi-sensei juga telah memastikannya dengan Sharingan, jadi jangan terlalu khawatir-ttebayo." Ucap Naruto meyakinkan mereka.

"Ya, Naruto benar. Aku juga akan mengawasi Hanare." Iruka terlihat setuju.

"Dan juga, dengan kemampuannya sebagai mata-mata mungkin dia bisa berguna untuk Konoha." Ujar Shikamaru, semua orang tampak menganggukkan kepalanya. Mereka terlihat setuju dengan keputusan Kakashi dan Naruto. Kakashi terus menatap kepergian Hanare.

- OUR DESTINY -

"Hmm, Hanare-san boleh aku bertanya sesuatu padamu?" Sakura mengawali pembicaraan.

"Tentu saja boleh Sakura-chan, apa yang ingin kau tanyakan? Dan juga jangan panggil aku seperti itu, panggil saja aku nee-chan seperti Naruto-kun."

"Baiklah Hanare nee-chan. Saat kami tiba di tebing itu, Kakashi-sensei bilang kau menyerah dan melompat dari atas tebing. Apa yang terjadi sebenarnya Hanare nee-chan?" Hanare terkejut mendengar pertanyaan itu, Sakura menatap Hanare penasaran.

"Saat itu aku memang terpojok, Kakashi-san mengetahui semuanya, aku menyuruhnya untuk segera membunuhku. Karena aku tahu, jika aku hanya dimanfaatkan oleh desaku. Setelah aku memberikan informasi tentang Konoha, mereka akan segera menyuruhku untuk menghapusnya dan mengeksekusi diriku. Maka dari itu, aku menyuruhnya untuk membunuhku, aku lebih baik mati ditangannya daripada mati dibunuh oleh desaku sendiri." Hanare menghela nafasnya pelan, ia menundukkan kepalanya. Sakura merasa bersalah telah bertanya tentang itu pada Hanare.

"Hanare nee-chan maafkan aku, aku.."

"Tidak apa-apa Sakura-chan.. Saat kalian mengucapkan selamat padaku, aku merasa di terima di desa dan aku merasa berada di rumah. Maka dari itu aku tidak mau mengkhianati rumahku dengan memberikan informasi pada desaku. Jadi, aku lebih memilih menghapus informasi tentang Konoha. Awalnya Kakashi-san tidak percaya padaku, dan Kakashi-san bilang dia tidak ingin membunuh orang yang telah kehilangan kebanggaannya sebagai shinobi dan ingin melawanku sampai akhir sebagai seorang shinobi. Pada akhirnya dia menyuruhku untuk pergi, aku tidak menyangka dia akan membiarkanku pergi begitu saja. Dia sungguh seorang shinobi yang luar biasa dan sangat mengagumkan."

"Kakashi-sensei juga bilang pada kami bahwa Hanare nee-chan adalah seorang shinobi yang mengagumkan." Hanare menghentikan langkahnya dan menatap Sakura dengan pandangan 'apa kau serius?'. Sakura tertawa kecil melihat ekspresi Hanare.

"Iya, Kakashi-sensei bilang begitu pada kami. Aku masih mengingatnya sampai sekarang, aku tidak berbohong." Semburat merah muncul di pipi Hanare.

"Hanare nee-chan.. Apa kau...menyukai Kakashi-sensei?" Sakura terlihat ragu menanyakannya tapi ia sangat penasaran. Hanare terkejut dan membulatkan matanya, ia tidak mengira Sakura akan bertanya tentang perasaannya.

"Ah, maafkan aku Hanare nee-chan, seharusnya aku tidak menanyakan itu. Aku sungguh minta maaf Hanare nee-chan!" Sakura membungkukkan tubuhnya meminta maaf.

"Tidak apa-apa Sakura-chan, sungguh! Tolong jangan seperti ini!"

"Aku minta maaf sekali lagi.." Sakura merasa tidak enak pada Hanare.

"Sungguh, tidak apa-apa. Hmm... mungkin sebaiknya kita segera bergegas Sakura-chan." Hanare belum siap untuk menjawab pertanyaan Sakura.

"Ah, hmm.. I-iya, sebaiknya kita bergegas.. A-ayo Hanare nee-chan!" Sakura tampak gugup, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Mereka melanjutkan perjalanan kembali.

"Sakura-chan.. Dimana teman kalian yang satu lagi, saat itu kalian bertiga bukan? Dan, siapa namanya? Bukankah kalian satu tim? Aku tidak melihatnya, menurutku dia anak yang tampan." Kali ini giliran Sakura yang terkejut dengan pertanyaan Hanare.

"Hmm.. D-dia sudah lama pergi dari desa.. Namanya Sasuke, ya kami bertiga adalah satu tim." Sakura tampak murung, Hanare bingung melihat perubahan wajah Sakura. 'Mungkin mereka sedang ada masalah' pikir Hanare.

"Oh begitu.. Hmm Sakura-chan, selain ninjutsu medis jutsu apalagi yang kau kuasai?"

"Aku sedikit menguasai taijutsu, ninjutsu, dan menggunakan senjata. Aku sedang berusaha mempelajari genjutsu, dan itu sangat sulit. Bagaimana denganmu?" Kini wajah Sakura tidak murung lagi, Hanare lega melihatnya.

"Kulihat kau sangat pandai menggunakan taijutsu hingga membuat Naruto sang pahlawan Konoha terkapar dan menyerah hahaha... Sebagai seorang shinobi aku juga kurang berbakat dalam menggunakan jutsu terutama genjutsu.." Mereka tertawa kecil dan terus mengobrol, mereka terlihat akrab satu sama lain.

Setelah berjalan sekitar 15 menit, Hanare dan Sakura sampai di posko medis. Terlihat puluhan orang yang terbaring di atas tandu, ada juga yang terduduk dan sedang di obati. Ninja medis terlihat sibuk, ada yang sedang membalut perban, ada yang mengobati dengan menggunakan chakra, dan ada juga yang sedang meneliti laporan medis.

"Aku tidak menyangka kejadiannya akan seburuk ini. Sakura-chan berapa banyak korban yang terluka?"

"Ada sekitar 300 orang yang terluka dan dibagi di 10 tenda. Sedangkan ninja medis yang ada hanya sekitar 60 orang. Jadi, kami kekurangan orang, peralatan medis, dan juga obat-obatan."

"Baiklah, apa yang harus kulakukan sekarang untuk membantu?"

"Ada beberapa orang yang terluka sangat parah dan harus di operasi. Tapi karena peralatannya seadanya, kami harus melakukan semuanya dengan ninjutsu medis dan membutuhkan chakra yang banyak dan keterampilan yang mumpuni. Hanya sekitar 15 orang yang bisa melakukannya. Jadi masih banyak korban yang kritis dan memerlukan operasi. Apakah Hanare nee-chan pernah mengoperasi sebelumya?"

"Iya, aku pernah melakukannya beberapa kali. Mengoperasi dengan peralatan seadanya memang sulit, dan itu memang membutuhkan chakra yang banyak, tapi aku akan mencobanya semampuku."

"Syukurlah, terima kasih banyak Hanare nee-chan." Sakura tersenyum senang sekaligus lega.

"Jangan berterima kasih dulu, aku bahkan belum melakukan apapun untuk membantu." Hanare terkekeh, ia senang bisa bertemu Sakura. Ia gadis yang ramah dan ceria, Sakura juga pintar sebagai ninja medis dan lebih terampil darinya. Mereka berdua tertawa, sampai akhirnya ada yang menghampiri mereka.

"Sakura.."

"Sakura-chan..."

- OUR DESTINY -

Kakashi menghampiri Sai yang baru keluar dari tenda Naruto. Dia terlihat terkejut melihat keberadaannya.

"Kenapa kau terlihat sedih?" Tanya Kakashi heran melihat raut wajah Sai.

"Kakashi sensei."

Mereka kemudian mulai berjalan menjauhi tenda Naruto, Sai segera menceritakan tentang kejadian yang menimpa Naruto hingga membuatnya babak belur.

"Begitu ya, Naruto melakukannya bukan?"

"Kakashi sensei."

"Hn?"

"Kenapa ikatan dengan Sasuke ini begitu penting, dan hanya menyakiti Naruto dan Sakura. Kenapa mereka berdua bertahan dengan rasa sakit itu?" Kakashi mengangkat alisnya mendengar pertanyaan Sai.

"Sai, kau ditugaskan mengawasi Naruto kan?"

"I-itu.."

"Tidak apa-apa, aku tahu itu."

"Mencoba menyelamatkan Naruto bukanlah bagian dari tugasmu. Kau harusnya mulai menyadari itu juga Sai." Sai mendongakkan wajahnya terkejut mendengar pernyataan Kakashi.

Sai sedang menempelkan perban di pipi Naruto, Kakashi memasukkan kedua tangannya ke saku celana dan Yamato melipat kedua tangannya di dada. Mereka tengah memperhatikan Sai yang tengah membalut luka-luka Naruto. Kakashi cukup terkejut melihat keadaan Naruto yang terlihat babak belur. Ia tidak menyangka kedatangan perwakilan dari Kumogakure akan melakukan hal seperti itu.

"Kau harus membiarkan Sakura melihatnya." Ujar Sai saat mengambil beberapa lembar perban.

"Tidak, tidak apa-apa. Jika dia melihatku seperti ini, hanya akan menambah masalah. Selain itu, aku sembuh dengan cepat." Balas Naruto dengan cengiran walaupun wajahnya yang penuh luka memar.

"Sai.." Lanjut Naruto, membuat Sai menghentikan pekerjaannya membalut lengan Naruto.

"Hm?"

"Untuk yang kau lakukan sebelumnya.. Terima kasih." Ucap Naruto tulus, membuat Sai sedikit terkejut.

"Tidak masalah." Jawab Sai sambil tersenyum, terlihat ketulusan pada senyumannya kali ini.

"Ya ampun, mereka terlalu keras padamu." Interupsi Kakashi membuat Sai dan Naruto menoleh padanya.

"Oww, ittai!" Pekik Naruto saat Sai kembali membalut lengannya.

"Oh, gomen.."

"Kau lebih baik menyembuhkan diri sekarang." Perintah Kakashi membuat Naruto mengalihkan kembali pandangannya pada Kakashi.

"Aku akan bertemu dengan Raikage!" Putus Naruto tegas membuat semua orang terkejut.

"Apa kau bilang?!" Kini Yamato yang menginterupsi.

"Pertemuan lima Kage sudah hampir dimulai! Setiap desa tersembunyi sudah setuju akan pelarangan meninggalkan wilayah dan melakukan misi berbau radikal!" Jelas Yamato panjang lebar, dia terlihat marah mendengar keinginan Naruto.

"Apa yang akan kau lakukan setelah bertemu dengannya?" Tanya Kakashi datar, ia tetap tenang mendengar keinginan Naruto.

"Aku akan meyakinkan dia untuk memaafkan Sasuke!" Jawab Naruto dengan yakin.

"Sekarang ini, kau bahkan tidak punya kalung yang menyegel biiju! Jinchuriki sepertimu tidak boleh keluar dari desa. Sudah cukup buruk, saat menjadi ekor 8 dalam pertarungan sebelumnya. Beruntung segelnya bekerja tepat waktu untuk mengekang Kyuubi. Tapi bagaimana selanjutnya? Selain itu, aku sedang bertugas dalam perbaikan desa. Aku tidak bisa bersamamu sepanjang waktu!" Yamato masih sedikit marah dan tidak setuju dengan Naruto.

"Aku bertemu dengan Hokage keempat. Sebelumnya, yang mengekang Kyuubi adalah Hokage keempat." Ujar Naruto tersenyum menjelaskan.

"A-apa yang dia maksudkan? Hokage keempat sudah lama meninggal.." Yamato menatap Kakashi disampingnya penuh tanya.

"Shiki Fujin, teknik penyegel itu masih banyak misteri. Dia mungkin menyegel energi kehidupannya sendiri dalam mantra segelnya." Jawab Kakashi mengerutkan dahinya dan menatap Naruto.

"Itulah saat Hokage keempat memberitahuku.. Anggota Akatsuki yang memakai topeng, terlibat dalam kejadian Kyuubi 16 tahun yang lalu. Dan dia juga sangat kuat, bahkan Hokage keempat tak sebanding dengannya! Yang terpenting, dia bilang orang itulah yang mendalangi dan mungkin mengendalikan Pain. Jika Sasuke bergabung dengan Akatsuki, maka pastilah dia juga dikendalikan." Jelas Naruto panjang lebar tentang pertemuannya dengan Yondaime Hokage.

"Inilah yang ditakutkan Jiraiya-sama. Insiden 16 tahun yang lalu.. Untuk berpikir dialah dibalik itu. Dia memiliki Sharingan. Dia anggota klan Uchiha yang meninggalkan desa dengan kebencian yang besar. Dan hanya Madara, yang mampu memanggil Kyuubi." Ucap Kakashi, matanya sedikit menyipit dan tatapannya berubah serius mengingat kejadian 16 tahun yang lalu.

"Semuanya jadi mungkin kalau melibatkan Madara. Jadi dia masih hidup." Timpal Yamato juga mengerutkan dahi dan terlihat serius.

"Siapa itu Madara?" Tanya Naruto menatap Kakashi.

"Orang yang sudah dikalahkan Hokage pertama. Mantan pemimpin klan Uchiha dari desa Konoha. Pemimpin kita harus diberitahu tentang ini. Sai! Laporkan ini pada Hokage!" Perintah Kakashi menolehkan wajahnya pada Sai.

"B-baik!"

"Naruto, apa yang Yondaime katakan padamu? Ayah akan mengatakan semuanya pada anaknya 'kan?" Tanya Kakashi pada Naruto. Kakashi jadi teringat pertemuan dengan ayahnya saat ia meninggal.

"Dia bilang.. Dia percaya padaku!" Jawab Naruto senang sambil tersenyum lebar.

"Bagus! Naruto kau akan menemui Raikage!" Putus Kakashi akhirnya sambil mengangkat jempol pada Naruto.

"Huh?!" Pekik Yamato kaget langsung menoleh pada Kakashi.

"Dengan Yamato dan aku sebagai pendampingmu." Tambah Kakashi lagi dan memegang pundak Yamato sambil tersenyum.

"Apa?! Ini ide yang buruk senpai!" Yamato membulatkan matanya sambil memundurkan langkahnya dan mengangkat kedua tangannya menyerah.

"Apa? Tidak dengar dengan apa yang akan kukatakan, Ten-zo?" Tanya Kakashi menggoda Yamato dengan menekankan panggilannya yang dulu.

"Hei! Kau tidak boleh memanggilku dengan namu itu, ingat?!" Teriak Yamato histeris membuat semua orang tertawa.

"Baik.. Baik..." Jawab Kakashi dengan acuh tak acuh.

.

.

.

- To be Continued -

Author Note :

Scene saat di tenda Naruto saya ambil dari Naruto Shippuden ep. 198. Bukan saya bermaksud untuk menjiplak, tapi saya hanya mengembangkan ide ceritanya dengan tambahan ide saya sendiri. Chapter 2 memang menceritakan sebelum pertemuan lima Kage untuk membahas soal Sasuke dan Akatsuki. Tapi, chapter-chapter selanjutnya akan fokus pada love story KakaHana :)

Terima kasih sudah menyempatkan waktu membaca lanjutan tulisan saya. Dan terima kasih banyak untuk para reader yang telah mereview, memfolow, ataupun memfavoritkan tulisan saya^^ See you in next chapter minna^^

Thanks To :

kamizukyz | lightning69 | Long Nulang | Sun Luck Donk

Sincerely,

Ms. Hatake Yamanaka