Past, Present, and Future
進撃の巨人 (ATTACK ON TITAN) FANFIC
By : EcrivainHachan24
Desclaimer by Hajime Isayama
WARNING!
Semi-canon, (maybe) OOC, Typo(s), etc
DON'T LIKE, DON'T READ!
.
.
.
.
.
Tidak biasanya pemuda bersurai hitam itu terjaga di pukul tiga dini hari. Tiga dini hari. Sembari menggeram kesal, Eren Jaeger mendecak kesal. Demi Titan, apa-apaan ini? Mengapa dia bisa bangun di pukul tiga dini hari?! Dan walaupun matanya terasa berat untuk kembali menyentuh alam mimpi, namun dia mengurungkan niatnya. Dia terlalu takut untuk merasakan alam mimpi yang selalu menerornya dan menghantuinya tentang masa lalu. Oh, bukankah dia terbangun dari tidurnya karena mimpi itu lagi? Mimpi buruk lagi.
Dirasakannya, baju yang dikenakannya basah oleh keringat. Padahal ia yakin, udara di luar sana begitu dingin. Apa karena lilin yang menyala di tepi mejanya? Ah tidak. Sudah hampir seumur hidupnya dia tidur didampingi oleh lilin-lilin kecil yang menjadi penerangan seadanya di malam hari. Bagaimana mungkin dia tidak terbiasa?
Lantas kenapa?
Pemilik manik mata sehijau emerald itu menghela nafas keras-keras. Sengaja. Untuk melepaskan memori yang sempat menggugatnya di dalam mimpi yang terasa begitu nyata. Seolah-olah dia kembali pada masa-masanya yang kelam. Dia tidak mau mengingatnya. Demi Tuhan, dia sudah lelah. Batinnya butuh istirahat…
Ditatapnya pemuda lain di ruangan itu. Tepatnya di tempat tidur yang berseberangan dengannya—seseorang berambut pirang, bertubuh kecil, dan pemilik iris kehijauan yang ada di balik kelopak matanya yang tertutup—tengah terlelap dalam buaian gelap malam. Armin Alert terlihat begitu damai dalam tidurnya, membuat Eren sedikit-banyak merasa iri. Kapan dia bisa tidur selelap itu lagi, sebenarnya? Sudah berhari-hari, tanpa alasan yang jelas, mimpi-mimpi buruknya kembali menerkamnya saat malam menjelang.
Dia memejamkan mata sesaat, sebelum menatap ke luar jendela yang ada di sampingnya. Pemukiman penduduk begitu tenang di balik perlindungan dinding Rose yang menjadi naungan mereka. Walau sudah berhasil merebut dinding Maria kembali, Eren memutuskan untuk tidak tinggal di rumahnya yang lama—walau sudah direnovasi—dan memilih untuk tinggal berdekatan dengan markas Survey Corps yang berada beberapa meter di sisi kanan rumah yang ditinggalinya bersama Mikasa dan Armin, agar memudahkannya menuju pertahanan saat dirinya dibutuhkan.
Sebenarnya itu semua ide Kopral Levi. Lelaki berwajah datar itu sungguh tahu bahwa Eren adalah aset berharga bagi mereka, sehingga setidaknya dia harus tinggal dekat dengan markas—haha, alasan yang sangat klise. Eren tidak bodoh. Jelas ada maksud lain dari ide sepihak kopralnya itu, adalah untuk mengawasi dirinya. Dia tahu lelaki itu belum bisa memercayainya seratus persen, walau dia telah menyelamatkan orang-orang dari titan wanita, Annie Leonhart, satu tahun yang lalu. Tersinggungkah ia? Tentu saja tidak. Eren sangat menghargai, menghormati, dan mengagumi pengabdian dan kesetiaan kopralnya itu terhadap perdamaian dunia. Sikap waspada yang sangat tinggi dimiliki oleh kopralnya itu—sekalipun itu artinya mencurigai teman sendiri.
Ah.
Matahari mulai terbit menampakkan cahayanya.
過去現在と未来
過去現在と未来
"Hahahahaha!"
Suara tawa yang meledak-ledak, dan—menurut Eren—sangat menyebalkan dan mengganggu itu adalah milik seorang pemuda bersurai cokelat terang, bertubuh tegap dan tinggi bernama Jean Kirstein. Kelereng karamelnya menghilang di balik kelopak mata yang tertutup rapat—saking gelinya ia tertawa—sampai ada titik-titik air mata yang menggenang di sudut matanya.
"Ahahahaha!"
Sementara itu, lelaki yang bertubuh lima sentimeter di bawahnya, sang pemilik surai hitam di hadapannya memandang lelaki tinggi itu dengan wajah cemberut dan jengkel. Siapa sih yang suka, jika tampangnya ditertawakan oleh rekan yang menyebalkan?
"Oh, Eren!" akhirnya Jean menghentikan tawanya. Telunjuknya yang ramping menunjuk wajah rekannya itu dengan tatapan geli. "Ada apa dengan tampangmu itu, hah? Kau salah memakai eyeshadow hitam milik Ymir, atau bagaimana sih? Hahahahaha!"
Eren menggeram. Biasanya, dia akan marah-marah—atau bahkan menerjang Jean sambil mengacungkan tinjunya tinggi-tinggi—namun kali ini, energinya seperti tersedot habis. Jadi, dia hanya memandang Jean dengan pelototan kejengkelannya. "Bukan urusanmu, Bodoh."
Jean berdecak. Lalu melirik sekilas seorang gadis cantik berambut hitam dengan poni yang sedikit lebih panjang di bagian tengah di sebelah Eren. Wajah cantiknya tampak sedikit khawatir dengan keadaan saudara angkatnya yang nampak pucat, namun lingkaran hitam di bawah matanya terlihat sangat mengerikan. Jean berdeham. "Yaa, sebaiknya kau beristirahat, bocah Jaeger," dia tersenyum kecil. "Kau harus dalam keadaan prima saat berangkat misi nanti."
Eren berjengit menatap sikap sok formal Jean yang tiba-tiba terasa seperti dibuat-buat. Manik emeraldnya mendelik curiga. Perasaannya saja, atau selalu saja si Jean ini bersikap aneh jika ada Mikasa Ackerman di sebelahnya? Kenapa sih dia?
"Dia benar, Eren," Mikasa akhirnya angkat bicara. "Kau juga tidak menyantap sarapanmu dari tadi. Ada apa?"
Perhatian teman-temannya membuatnya sedikit risih. Akhirnya Eren menghela nafas. "Aku tidak apa-apa. Mungkin Jean benar, aku butuh tidur." Lalu menghiraukan tatapan teman-temannya yang bingung, pemuda bersurai hitam itu bangkit, dan berjalan meninggalkan ruang makan.
Blam.
Gadis cantik berwajah oriental itu mengernyit. Dia sangat tahu ada yang salah dengan saudara angkatnya itu. Tidak biasanya Eren Jaeger terlihat begitu lesu, lunglai, dan tidak bersemangat. Dia sudah mengenal Eren nyaris seumur hidupnya. Dan Eren yang dia tahu bukanlah sejenis pemuda bermental tempe. Dia mengenal Eren dimulai dari cerita ayahnya mengenai Dr. Jaeger yang memiliki seorang anak lelaki seumurannya, atau saat hari itu… hari yang membuatnya menjadi seseorang yang tertutup dan pendiam. Hari di mana, untuk pertama kalinya gadis Ackerman itu berpikir untuk mengakhiri hidupnya.
Saat dia merasa begitu terpuruk kala itu, ada Eren di sana. Menyelamatkannya dari keputus-asaan, kesendirian, dan kesedihan. Bahkan keluarga Jaeger mengangkatnya menjadi anak. Menjadi saudari angkat dari lelaki yang sudah menyelamatkan hidupnya. Sejak hari itu, dia bertekad menjadi kuat. Dia akan melindungi lelaki yang sangat… sangat dicin—
"Ano…,"
Suara seorang gadis memecah keheningan di ruangan itu adalah Sasha Blouse, seorang gadis bersurai cokelat dikuncir kuda, memasang cengiran tertahan di wajahnya yang dipenuhi gurat-gurat jenaka. Telunjuknya menunjuk makanan Eren yang belum disentuh dengan ragu. "Daripada makanan itu terbuang sia-sia… bolehkah untukku saja?"
"Sasha!" tegur pemuda berambut pendek—nyaris botak—dan bertubuh pendek di sebelah si gadis kentang, menatap temannya itu dengan tatapan tidak percaya. "Kau baru saja menyantap sarapanmu, setengah jatah sarapanku, dan kini kau ingin menghabiskan jatah sarapan Eren?!"
Sasha nyengir lebar. "Memangnya kenapa? Sayang 'kan kalau tidak dimakan…" gadis itu melempar tatapan lapar pada sarapan Eren, lalu berpaling penuh harap pada Mikasa yang terdiam. "Boleh, yaa…?"
Gadis Ackerman itu menatap nampan sarapan Eren, lalu menghela nafas. "Tidak," tolaknya. Dia mengangkat nampan itu. "Aku akan membawakannya untuk Eren."
Lalu tanpa berbasa-basi lagi, Mikasa meninggalkan ruangan itu bersama nampan sarapan Eren di tangannya dengan tenang—menghiraukan jeritan kecewa Sasha, dan Connie yang berusaha menenangkannya dengan sepotong roti miliknya.
Eren… kau kenapa?
過去現在と未来
過去現在と未来
Baiklah, ini sudah ketujuh kalinya Eren Jaeger berusaha memejamkan matanya, keduabelas kalinya mengganti posisi tidurnya, dan kelimabelas kalinya dia mengumpat karena kegelisahannya. Siapa juga yang tidak gelisah karena kurang tidur? Belum lagi… mimpi-mimpi itu.
Memang, semua orang yang pernah berhadapan langsung dengan titan pastilah akan mengalami mimpi buruk yang terasa nyata dan sangat panjang, tapi hal itu benar-benar mengganggunya. Dia takkan pernah bisa melupakan bagaimana titan-titan itu membuka mulutnya, menghiraukan jeritan tubuh manusia yang ada di tangannya, dan menggigit putus tubuh orang-orang yang berharga dalam hidupnya… Sudah enam tahun dia mengabdi dan menjadi bagian dari Survey Corp di bawah pimpinan orang-orang yang dikaguminya sewaktu masih menjadi trainee… namun mengapa masih juga ia belum terbiasa?
Frustrasi, dia menjambak rambutnya sendiri. Mengapa…?
"Eren?"
Suara yang sangat dikenalinya membuatnya terkesikap. Sembari mengerjapkan matanya, pemuda itu menatap siapa yang datang dari arah pintu kamarnya.
"Mikasa…?"
Saudari angkatnya itu tidak mengatakan apa-apa. Suara langkah kakinya yang anggun membuat Eren terhipnotis dalam kenyamanan. Ya, gadis cantik bermarga Ackerman itu akan selalu membuatnya merasa nyaman… dan terlindungi.
"Ada apa denganmu?" tanya Mikasa. Gadis itu duduk di tepi tempat tidur Eren.
Pemuda itu menghela nafas. Dia menundukkan wajahnya. Setengah bergetar, dia mulai menggerakan kedua belah bibirnya. "Aku bermimpi buruk…"
Gadis oriental itu membisu. Seolah menunggu Eren menyelesaikan ceritanya.
"Tentang masa lalu, tentang ibu, tentang Marco," dia mendesah. "… tentang… Annie…,"
Kedutan garis menegang di antara kedua alis gadis oriental itu nyaris terlihat. Oh, tunding sajalah dia jika ia memang tidak suka. Silakan. Mikasa memang tidak pernah menyukai gadis Leonhart itu. Sejak dia menghajar Eren dan Reiner untuk pertama kalinya saat mereka masih menjadi trainee. Sejak gadis pirang itu nyaris membunuh seluruh teman-temannya. Sejak… Eren begitu terpukul atas pengkhianatannya… sejujurnya, Mikasa merasa ganjalan hatinya begitu pedih saat Eren menolak untuk mencurigai Annie sebagai titan wanita yang menjadi momok mereka waktu itu. Mengapa? Apakah… Eren memiliki semacam perasaan khusus pada gadis pirang itu? Mikasa bukanlah gadis yang emosional, apalagi sentimentil. Tetapi perasaan dan pikiran itu terus saja mengganggunya.
"Itu hanya mimpi," hibur Mikasa. Lantas, dia menaruh nampan sarapan Eren ke pangkuannya. "Makanlah. Aku membawakannya untukmu," gadis itu tidak menggunakan nada memerintah, tapi sanggup membuat siapa saja akan menurutinya. Namun Eren hanya menatap semangkuk sup kacang hijau, sepotong roti gandum, dan secangkir teh panas itu dengan kernyitan di dahi, seolah-olah dia baru melihat makanan sejenis itu.
"Aku tidak mau," tolaknya.
Mikasa menatap Eren dalam-dalam. "Makan."
"Aku tidak lapar," Eren menatap Mikasa dengan tatapan lelah. "Aku mengantuk. Lebih baik kaupergi."
"Tidak sebelum kau menyantap sarapanmu."
Yeah, terkadang Eren sangat kesal dengan sikap bebal Mikasa. Sikap bebal yang diakibatkan perasaan protektif gadis itu terhadap dirinya. Demi Tuhan, umur mereka itu sama. Kenapa Mikasa selalu memperlakukannya seperti seorang anak kecil? Dia sudah sering membicarakan ini dengan saudari angkatnya itu.
"Mikasa—"
"Aku tidak mau kausakit karena kekurangan asupan," gadis Ackerman itu menatap Eren yang siap meradang itu dengan tenang. "Bukankah kau yang berjanji pada ibu akan terus hidup?"
Deg.
"Kalau begitu, makanlah."
Eren mengernyit. "Kau banyak bicara hari ini," dia meraih nampan itu dari pangkuan Mikasa, dan mulai menggigit roti gandumnya.
Baru sadarlah dia, bahwa perutnya memang keroncongan. Terdengar suara rendah dari sana, membuat pipinya memerah saat roti itu menuruni kerongkongannya, dan mengisi perutnya yang kosong.
Selanjutnya, dia mengganyang habis jatah sarapannya.
過去現在と未来
過去現在と未来
Mikasa Ackerman tersenyum tipis melihat pemuda yang menjadi saudara angkatnya itu terlelap dengan pulas di atas tempat tidurnya. Suara dengkuran terdengar dari perbatasan hidung dan kerongkongannya. Jemari lentiknya menarik selimut yang ada di kaki Eren hingga ke bawah dagunya. Dia memerhatikan postur wajah Eren yang damai.
Dia begitu tenang saat tidurnya, dan meledak-ledak saat kedua kelopak matanya terbuka, ya?
Pikiran itu membuat senyumannya nyaris terlihat nyata—sebuah ekspresi yang jarang ditunjukkannya.
Alisnya yang memanjang, matanya, hidungnya yang tidak terlalu mancung namun enak dilihat, dan bibir tipis yang sedikit terbuka—mengeluarkan dengkuran. Ini bukan pertama kalinya dia melihat Eren tidur. Namun setiap kali ia melihatnya, selalu saja ada yang mengganggu pikirannya, hatinya, perasaannya… sampai kapan dia bisa terus menatapnya seperti ini? Terus bersamanya seperti ini?
Bohong kalau dia juga tidak mengalami mimpi buruk. Walau dia adalah lulusan terbaik, tetap saja bayangan titan-titan itu pernah menjadi mimpi buruknya. Dia telah menyaksikan sendiri bagaimana orang-orang mati… bagaimana teman-temannya berkorban, bagaimana atmosfer frustrasinya angkatan prajurit jika operasi dalam misi telah gagal…
Kapan dia akan mati?
Bagaimana dia akan mengakhiri hidupnya?
Bagaimana… Eren akan mati?
Pikiran itu menggerogoti hati dan pikirannya, namun dia harus terlihat lebih kuat saat bersama pemuda yang telah menjadi segalanya bagi dia. Ketakutannya terhadap titan tidaklah sebanding dengan ketakutannya jika kehilangan satu-satunya pemuda yang paling berarti dalam hidupnya.
"Eren…," panggil gadis itu, setengah berbisik. Diraihnya tangan Eren yang terkulai di sisi tubuhnya. Dirasakannya hangat tubuh Eren dalam genggamannya. Ditempelkannya punggung tangan lelaki itu ke salah satu pipinya yang dingin.
Dan tanpa sadar, matanya sedikit berkaca-kaca.
"Berjanjilah, kita akan terus bersama…"
過去現在と未来
過去現在と未来
To Be Continue
