Disclaimer: I do not own Vocaloid. I only own the idea for this story~


#2-

-The Girl-


The murderer stood a few meters behind me. She smirked and said, "Are we playing hide-and-seek~?"


-.-

~Chapter 2~

Sinar matahari pagi yang masuk melalui jendela kamar membangunkanku dari tidurku.

Kepalaku terasa sangat sakit. Seolah-olah baru saja dipukul dengan sebuah palu raksasa.

Dengan terpaksa, aku bangkit dari tempat tidur, berjalan ke arah jendela kaca di samping tempat tidur, lalu membukanya — membiarkan angin pagi yang sejuk berhembus memasuki kamarku.

Aku menarik napas dalam-dalam.
Paling tidak, rasa sakit di kepalaku sedikit berkurang setelah aku menghirup udara segar.

Aku membiarkan jendela kaca itu terbuka lebar, lalu kembali membaringkan tubuhku di tempat tidur.

Entah kenapa, aku merasa ada sesuatu yang 'kurang' dari diriku…
Seolah-olah ada 'sesuatu yang sangat penting' yang ditarik keluar, atau dihapuskan dari diriku…

Aku merasa "kosong" dan "aneh"

Sesuatu dalam diriku mengatakan bahwa saat ini aku tidak seharusnya bersantai seperti ini… Ada sesuatu yang sangat penting yang sudah terjadi…
Dan aku harus lari… Lari sejauh mungkin… Tinggalkan tempat ini…

Tapi…

Lari dari apa?

Berapa kalipun aku mencoba untuk mengingat kejadian semalam, yang muncul di otakku hanyalah hari biasa, seperti yang biasa ku alami…

Aku baru pindah ke kota ini untuk bersekolah, lalu menaiki taksi dan sampai ke apartemen ini. Aku kemudian memesan kamar pada gadis resepsionis, lalu menaiki lift menuju lantai 13. Karena kelelahan, sesampainya di kamar aku langsung tidur…

Dan bangun di pagi ini…

.

'Tidak ada yang aneh sedikitpun… Semuanya normal…'

Kata-kata itu terus terulang di otakku,..

Semuanya normal… kan?

.

Aku menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan.

.

'Mungkin ini hanya perasaanku saja…'

.

Aku bangkit dari tempat tidur, dan beranjak ke kamar mandi.

Kamar mandi di kamar ini merupakan sebuah ruangan persegi kecil yang terletak di salah satu sudut ruangan.

Aku mengambil handuk biruku dari dalam koper, lalu membuka pintu kamar mandi, dan masuk ke dalamnya.

Di dalam, hanya ada sebuah shower, toilet, dan wastafel dengan sebuah kaca oval berukuran sedang yang tergantung di dinding di atas wastafel.

Aku menyalakan shower, membuka bajuku, lalu mandi.


Aku mengenakan kaus putih dan jaket biru favoritku.

Melihat koper dan ransel yang berserakan di lantai, aku memutuskan untuk menyusun barang-barangku.

Aku mengambil pakaian-pakaianku, lalu membawanya menuju lemari.

Aku membuka pintu lemari.

Tapi,

Di dalam lemari, aku menemukan 'setumpuk tulang kerangka manusia yang sudah membusuk' tergeletak begitu saja.

"A—"
"APA-APAAN INI?!"

Secara refleks, aku langsung membanting pintu lemari — membatalkan niatku untuk menyusun pakaian-pakaianku.

Aku kembali memasukkan pakaianku ke dalam koper, lalu duduk di tempat tidur, mengatur napasku — berusaha menenangkan diriku.

Dan saat itu, aku baru menyadari sesuatu.

Terdapat 'bercak-bercak darah' yang berasal dari pintu hingga bagian samping tempat tidurku.

"DARAH?! Kenapa ada darah di sini?!"

.

'Apa memang tidak terjadi apapun semalam?!'

'Mungkin sebaiknya aku menanyakannya pada gadis resepsionis di bawah…'
'Dia mungkin mengetahui sesuatu…'

.

Aku menarik napas panjang, lalu berjalan ke arah pintu keluar, sambil berusaha untuk menghiraukan bercak darah di lantai dan kerangka manusia di lemari.

Aku membuka pintu, dan…

Di hadapanku adalah sebuah koridor yang gelap—

.

ZZAP!

Seketika, pandanganku mengabur, dan kepalaku terasa sakit lagi.

Aku memejamkan mataku dan bersandar pada dinding koridor — berusaha menahan rasa sakitnya.

.

Tak lama kemudian, rasa sakit itu perlahan menghilang.

Aku membuka mataku, dan…

.

Di hadapanku adalah sebuah koridor mewah, yang dihiasi dengan barang-barang antik berbagai bentuk dan warna.

Lantainya dihiasi dengan karpet merah, dan langit-langitnya dihiasi dengan lampu-lampu gantung yang juga berkesan mewah.

.

Dan sekali lagi, aku merasakannya…

Perasaan seperti ada sesuatu yang 'kurang' dari diriku…
Seolah-olah ada 'sesuatu yang sangat penting' yang ditarik keluar, atau dihapuskan dari diriku…

Dan lagi, aku menghiraukannya dan berjalan menuju lift.

.

Tubuh serta kelima indraku menghiraukan segala keanehan yang ada di sekitarku, walaupun alam bawah sadarku berteriak bahwa semua ini salah…

Tubuhku bergerak sendiri seolah-olah aku sudah kehilangan kendali terhadapnya…

.

Sesampainya di lobby, tubuhku membawaku menuju meja resepsionis.

Mayu — gadis resepsionis itu — tersenyum saat melihat kedatanganku, lalu bertanya,
"Selamat pagi, Shion-san! Ada yang bisa kubantu?"

"Ah, aku ingin menanyakan sesuatu…"

"Soal apa? Aku akan menjawabnya sebisaku…"

"Umm… Mayu-san, apa kau tau apa yang terjadi se—"

.

ZZAP!

Lagi.

Aku merasakan rasa sakit itu lagi…

.

Aku memejamkan mataku dan mencengkeram pinggiran meja resepsionis — berusaha menahan rasa sakitnya lagi.

.

"S-Shion-san? Anda baik-baik saja?"

.

Rasa sakit itu kembali menghilang perlahan-lahan.

Aku menarik napas panjang beberapa kali.

Dan setelah rasa sakit itu hilang, aku menjawab,
"Ah, maaf. Aku tidak apa-apa…"

Mayu mendesah lega.
"Baguslah kalau begitu…"
"Ngomong-ngomong, apa yang ingin Anda tanyakan tadi, Shion-san?"

"Eh?"

.

Hilang.
Semuanya hilang.

Aku tidak bisa mengingat apa yang ingin kutanyakan…
Aku bahkan tidak bisa mengingat alasan mengapa aku harus bertanya pada Mayu.

.

"A-Ah, soal itu…"

"Shion-san?"

Aku berusaha mencari alasan dan pertanyaan lain.
Tidak mungkin aku mengatakan kalau aku tiba-tiba kehilangan ingatan, kan?

"A-Ah…"
"A-Aku hanya ingin tau… err… A-Apa… Apa ada… Supermarket di sekitar sini?"

.

Kuakui. Itu pertanyaan bodoh.

-Tapi kalau saat itu aku tidak menanyakan hal itu, aku pasti akan menyesalinya seumur hidupku. -

.

Mayu tertawa kecil.

Dia tersenyum, lalu berkata,
"Ah, tentu saja."
"Letaknya kira-kira 10 menit berjalan kaki dari apartemen ini."
"Anda hanya perlu berjalan terus ke kiri setelah keluar dari sini hingga perempatan jalan. Supermarket itu ada di salah satu sisinya."

Aku mendesah lega.
"A-Ah, baiklah kalau begitu… Terima kasih, Mayu-san…"

Mayu hanya membungkuk kecil sambil tersenyum.

.

'Yasudahlah.'
'Lebih baik aku mencari udara segar daripada mengurung diri di dalam kamar..'

.

Aku pun berjalan keluar apartemen.

Tanpa menyadari bahwa senyuman Mayu berubah menjadi seringai tajam.


—10:00—

.

Sesampainya di luar, aku meregangkan tubuhku beberapa kali sambil menarik napas dalam-dalam, mengisi paru-paruku dengan udara segar yang sepertinya sudah lama sekali tidak kurasakan.

Aku berjalan santai menuju pinggir jalan, dan melihat kiri-kanan — memeriksa kendaraan yang lewat.

Kosong.
Tidak ada tanda-tanda kendaraan.

.

'Yah.. Ini adalah kota kecil…'
'Jadi mungkin jalanannya selalu sepi seperti ini…'

.

Aku bisa melihat perempatan jalan yang dikatakan Mayu, terletak cukup jauh ke kiri.
Dan ya, di salam satu sisi badan jalan terdapat sebuah bangunan berukuran sedang, yang di depannya terparkir beberapa kendaraan.

.

'Itu supermarketnya, ya?'

.

Karena udara dingin yang menusuk tulang, aku mengancingkan jaketku dan memakai hoodie-nya.

.

Aku berlari menyusuri jalan raya yang sepi itu.

Ada dua alasan kenapa aku harus 'berlari'.

Pertama, aku ingin menjaga kesehatan dengan sedikit berolahraga.

Kedua, aku takut.
Di sebelah kiriku berjajar bangunan tua yang tidak terurus. Di sebelah kananku adalah hutan, dengan pepohonan raksasa dan kegelapan yang mencekam di dalamnya.

Aku berani bersumpah bahwa aku melihat gorden yang disibakkan dari bangunan-bangunan tua itu (bukankah bangunan itu 'tidak terurus'?!)
Serta siluet-siluet dari 'sesuatu' yang bergerak di dalam hutan (kuharap itu hanyalah hewan liar..)

Jadi, wajar saja kalau sekarang aku 'berlari' dengan pandangan lurus ke depan, tanpa memperhatikan 'hal-hal' di kanan-kiri ku sama sekali.


Karena aku 'berlari', aku sampai di perempatan jalan itu hanya dalam waktu 6 menit.

Keadaan di perempatan jalan ini cukup ramai.
Walaupun tidak banyak juga kendaraan berlalu-lalang di sini.

Bangunan-bangunan di perempatan ini masih berkesan 'tua'.
Tapi berbeda dengan bangunan di sekitar 'apartemen'ku, bangunan-bangunan di sini nampak terurus.
Aku masih bisa melihat orang-orang yang mabuk di bar yang terletak di seberang jalan, juga sepasang suami-istri yang berjalan-jalan di halaman rumah mereka.

Tidak ada 'hawa dingin' ataupun 'hawa misterius' yang kurasakan di sekitar sini.

.

Satu hal aneh yang kutemukan, adalah saat aku melihat ke belakang,

Dan menemukan daerah yang bisa disebut 'menyeramkan'.
Ya, itu adalah jalan yang kulewati barusan.

Dan aku baru menyadari betapa menyeramkannya daerah itu.

Coba saja bayangkan,
Di salah satu sisi jalan, terdapat hutan dengan pepohonan raksasa dan rerumputan tinggi, serta kegelapan yang mencekam di dalamnya.
Dan di sisi lainnya, berjejer bangunan-bangunan bertingkat yang nampak tua dan tidak terurus, dengan dinding berlumut yang dihiasi dengan berbagai retakan, pagar yang hancur, halaman dengan rerumputan tinggi, kaca jendela yang pecah, serta warna-warna gelap dari cat yang sudah luntur.

Dan ironisnya, 'apartemen'ku adalah salah satu dari bangunan itu.


Dengan napas yang masih terengah-engah, aku berjalan menuju supermarket.

Aku mengatur napasku, lalu membuka pintunya.

"Irrasshaimase!" ujar salah satu pegawai supermarket itu sambil tersenyum ramah padaku.

Aku membalas senyumannya, dan melihat-lihat isi supermarket ini.

Tidak banyak yang bisa dilihat.
Isinya sama saja seperti supermarket pada umumnya.

Aku mengambil salah satu keranjang belanjaan, lalu mulai mengisinya dengan beberapa snack ringan.

Seperti yang biasa kulakukan saat pergi ke supermarket, aku berjalan menuju bagian minuman dingin dan makanan beku,

Dan tersenyum lebar saat menemukan yang kucari.

ICE CREAM!

.

'Yah.. Mungkin ini terdengar lucu…'
'Tapi sejujurnya, dari dulu, aku ini maniak ice cream~!'

.

Dengan sigap, aku memenuhi keranjang belanjaku dengan berbagai jenis ice cream yang tersedia.

Saking semangatnya, aku sampai tidak menyadari bahwa sejak tadi ada seorang gadis yang memperhatikanku.

Dia tertawa.

Dan tawanya menyadarkanku.
Aku berhenti dan membalikkan badanku.

Di hadapanku, berdiri seorang gadis yang kira-kira seumuran denganku.
Dia memiliki rambut berwarna pink yang sangat panjang, berdada besar (oke. lupakan bagian ini) dan memiliki sepasang mata azure yang sangat indah.

Jujur saja, dia sangat cantik.
Aku hanya bisa berdiri menatapnya dengan mulut menganga seperti orang bodoh.

Dia tersenyum kepadaku, sambil berkata,
"Hallo!"

.

'Ah… Bahkan suaranya terdengar bagaikan alunan musik…'

.

Melihat reaksiku yang tetap diam memandanginya, dia mulaimelambai-lambaikan tangannya di wajahku.
"Hallo?"

Aku tersadar dari lamunanku, dan tanpa sadar menjatuhkan keranjangku.
"Ah!"

Dengan kikuk, aku memungut barang-barangku yang terjatuh.
Gadis itu ikut berjongkok dan membantuku memunguti barang-barangku.

"Kau suka ice cream?" tanya gadis itu padaku.

Aku mengangguk.
"Y-Ya, begitulah…"

Sebenarnya aku malu mengakui hal itu…
Tapi mau bagaimana lagi? Dia sudah melihatku memenuhi keranjangku dengan ice cream berbagai jenis.

Gadis itu kembali tertawa kecil.
"Kau pria yang menarik!"

.

Aku bisa merasakan wajahku yang memanas, dan jantungku yang berdetak lebih cepat dari biasanya, saat mendengar perkataannya dan melihat senyumannya.

.

Aku mengucapkan terima kasih padanya saat kami selesai memunguti barang-barangku.
Aku berjalan ke kasir untuk membayar belanjaanku, lalu keluar dari supermarket itu, meninggalkan gadis yang belum kuketahui namanya itu di dalam supermarket.

.

Saat aku baru saja ingin berjalan kembali ke apartemenku, aku kembali mendengar suara gadis itu.

"Ah, kau! Tunggu sebentar!"

Aku menoleh ke belakang.
Gadis itu berlari ke arahku, sambil membawa sebuah kantong plastik.

"Aku?" ujarku sambil menunjuk diriku sendiri.

"Ya, kau... Ini, kau melupakan sesuatu." jawab gadis itu sambil menyerahkan sebuah kunci padaku.

"Ini… Kunci apartemenku! Di mana kau mendapatkannya?"
Aku merogoh-rogoh kantong celanaku. Dan aku baru menyadari kalau kunci itu tidak ada di dalamnya.

Gadis itu tersenyum.
"Sepertinya terjatuh saat kau memungut barang-barangmu tadi…"

"Ah.. Terima kasih!"

Gadis itu tertawa kecil. Dia memperhatikan kunci apartemenku sejenak.
"Kau… Apa kau tinggal di apartemen tua itu?" tanya gadis itu sambil menunjuk apartemenku yang terletak di antara bangunan-bangunan tua.

Aku menganggukkan kepalaku.
"Ya.. Aku baru saja pindah ke kota ini semalam… Dan supir taksi yang kunaiki mengantarkanku ke sana…"

Gadis itu tersenyum pahit. Dia memalingkan wajahnya.
"Ah, begitu ya… Sayang sekali…"

"Apa ada sesuatu tentang apartemen itu?" tanyaku, penasaran.

Gadis itu mendesah lalu menggelengkan kepalanya.
"Maukah kau menemaniku pergi jalan-jalan sebentar?"

.

Aku merasa kalau dia akan memberitahuku sesuatu jika aku pergi menemaninya.
Mungkin, dia tidak bisa mengatakannya di sini…

Mungkin, ada yang mengawasinya di sini…

.

Aku mengangguk.
"Tentu saja, dengan senang hati!"

Gadis itu tersenyum.
"Namaku Megurine Luka. Kau?"

"Aku Kaito. Shion Kaito."

"Baiklah, Kaito. Kau boleh memanggilku Luka."
"Ayo pergi!"

.

Luka menggenggam tanganku dan menuntunku menelusuri kota.
Dia memperkenalkanku pada beberapa orang dan tempat-tempat bagus di kota ini. Sepanjang perjalanan, kami bercerita satu sama lain.

Dan setelah berjalan kaki cukup jauh dari supermarket tempat kami berada sebelumnya, Luka menuntunku menuju sebuah taman yang sangat indah — dipenuhi dengan bunga-bunga berbagai jenis dan warna.

Di siang hari seperti ini, taman ini sepi tanpa pengunjung.

Kami berjalan menelusuri jalan setapak taman yang terbuat dari batu-batu kerikil yang digabungkan.

Luka menarik napas dalam-dalam.
"Terima kasih sudah menemaniku, Kaito…"

Aku hanya tersenyum membalas perkataannya.

.

Selama beberapa menit, kami hanya berjalan santai mengelilingi taman, menikmati angin sepoi-sepoi yang berhembus.

Hingga tak lama kemudian, Luka memecah keheningan itu.

"Ano, Kaito..."

"Ya?"

Aku menoleh menghadapnya. Luka tampak gelisah.

Dengan ragu, ia menjawab,

"S-Soal... A.. Apartemenmu itu..."

.

Dugaanku benar.

Dia mengetahui 'sesuatu' soal apartemen itu..

.

Berpura-pura tidak tau apa-apa — dan karena aku memang tidak tau apa-apa — aku menjawab,

"Ada apa dengan apartemen itu? Apa ada yang salah?"

Luka menundukkan wajahnya. Dia berhenti berjalan.

"Apa... Apa kau... Merasa aneh saat ini? A-Atau... Apa ada yang... Berubah saat kau disana...?"

Aku mendesah dan ikut berhenti di sampingnya.

"Sepertinya begitu... Aku sendiri tidak yakin, tapi... Sejak tadi pagi... Rasanya... Seolah-olah ada yang kurang dari diriku..."

Luka nampak kaget mendengar jawabanku.

"S-Sejak tadi pagi?"
"A-Apa ada... S-Sesuatu yang terjadi semalam?"

Aku menggelengkan kepalaku.

"Aku tidak yakin soal itu..."
"Tapi sepertinya ada sesuatu yang sangat penting yang terjadi semalam..."

Luka kembali diam. Dia menundukkan dan memalingkan wajahnya, lalu melipat tangannya di dada, seolah takut akan sesuatu.

"Luka? Ada apa? Apa kau mengetahui sesuatu?"

Hening.

"Luka?"

Tetap tidak ada jawaban...

Aku memutuskan untuk tetap diam.

Selama beberapa menit berikutnya, keheningan kembali menyelimuti kami...

.

"Kau harus pergi dari apartemen itu - ah, tidak - kau harus pergi dari KOTA ini sekarang juga.." ujar Luka tiba-tiba.

"Kenapa? Kenapa aku harus pergi? Apa ada sesuatu yang berbahaya di kota ini?"

Luka berbalik dan berjalan menuju sebuah pohon rindang. Secara spontan, aku mengikutinya.

Dia menyandarkan tubuhnya pada batang pohon, sambil menundukkan kepalanya. Rambut pink panjangnya tergerai di sisi wajahnya sehingga aku tidak bisa melihat ekspresinya.

"Kau harus pergi... Kota ini terlalu berbahaya bagimu..."gumamnya.

.

Baiklah. Aku tidak tahan lagi.

Aku HARUS tau apa yang sebenarnya terjadi.

.

Aku berdiri di hadapannya. Aku menumpukan tangan kiriku pada batang pohon, dan memegang dagu Luka dengan tangan kananku - membuatnya menatap wajahku.

"Luka. Apa sebenarnya yang terjadi? Kau tau, kan? Tidak bisakah kau memberi tahuku?"
"Kalau ini menyangkut keselamatan nyawaku, aku berhak tau soal itu, kan?"

Luka nampak kaget akan perbuatanku. Tapi dia kembali memalingkan wajahnya dan menggigit bibir bawahnya.

"Kumohon?"

Luka ragu sejenak. Dia menatap wajahku selama beberapa detik, memejamkan matanya, lalu akhirnya berkata,

"Baiklah. Akan kuceritakan padamu..."


Kami duduk berdampingan di bangku taman. Semenjak Luka memutuskan untuk memberitahuku, suasana di antara kami menjadi agak canggung.

"Jadi... Sebenarnya, apa yang salah dengan apartemenku?" tanyaku, untuk memulai pembicaraan.

"Sesuatu... Suatu tragedi pernah terjadi di apartemen itu..."

"Tragedi?"

Luka menganggukkan kepalanya, lalu mulai bercerita.

.

Dulu, apartemen itu hanya dibangun hingga lantai 13. Saat itu apartemen itu cukup populer karena interiornya yang mewah dan biaya menginap yang terlampau murah... Setiap hari, apartemen itu selalu penuh oleh pengunjung.

Beberapa tahun berlalu, dan keadaannya tetap sama...

Hingga suatu hari, sebuah keluarga - atau lebih tepatnya, seorang ayah dan anak datang ke apartemen itu. Mereka baru datang dari luar kota, sama sepertimu.

Aku tidak ingat siapa ayahnya. Yang kuingat, anak itu bernama 'Yuki Kaai'. Dilihat dari segi manapun, dia hanyalah anak kecil yang baik dan pemalu.

Mereka tinggal di lantai 13, tepatnya di kamar nomor 49.

.

Aku tertegun.

Lantai 13 kamar 49?! Itu kamarku!

.

Beberapa hari berjalan lancar tanpa masalah.

Tapi tiba-tiba, suatu malam, penghuni lantai 12 mendengar suara-suara tangisan, teriakan, sayatan pedang dan berbagai suara debaman dari lantai di atas mereka.

Paginya, seluruh penghuni lantai 12 memutuskan untuk mengecek apa yang terjadi.

Dan mereka sangat kaget saat menemukan seluruh penghuni lantai 13 telah dibunuh dengan keadaan yang sangat naas di kamar mereka masing-masing. Koridor yang sebelumnya nampak mewah telah menjadi koridor yang dihiasi dengan cipratan darah dan potongan daging serta berbagai organ dalam yang tersebar di sepanjang koridor.
Nomor kamar yang sebelumnya hanya berupa kertas yang ditempelkan di setiap pintu kini berubah menjadi kikisan besar yang menghiasi setiap pintu kamar.

Tapi entah karena alasan apa, saat mereka memasuki kamar nomor 49 tempat Yuki berada, mereka menemukan Yuki sedang tertidur pulas di tempat tidurnya dalam balutan selimut seolah tidak terjadi apa-apa. Tidak terdapat goresan sekecil apapun pada tubuh mungilnya itu.

Mereka menemukan tubuh ayahnya di dalam lemari, dalam keadaan yang sama dengan mayat penghuni lainnya..

.

Di dalam lemari kamar 49?

Sepertinya...

Apa pagi ini aku menemukan sesuatu dalam lemari itu?

.

Tapi saat itu, mereka belum bisa mencurigai anak kecil yang nampak polos seperti Yuki...

Akhirnya mereka memutuskan untuk menganggap ini sebagai pembunuhan terencana dari orang luar, dan menganggapnya sebagai suatu kesialan karena terjadi pada lantai 13.

Tapi apartemen itu terlalu bagus untuk ditinggalkan...

Mereka semua akhirnya merencanakan untuk membangun apartemen itu hingga lantai 24, untuk mengatasi kesialan angka 13 - karena 24 dianggap sebagai angka keberuntungan.

Sementara itu, lantai 13 dibiarkan begitu saja.

Entah apa yang mereka pikirkan, tapi mereka bersikeras untuk membiarkan mayat-mayat itu begitu saja dalam kamar masing-masing, sementara Yuki tinggal bersama "Mayu", pemilik apartemen itu sekaligus gadis resepsionis.

Hingga lantai 23, pembangunan berjalan lancar tanpa masalah. Lift juga sudah berfungsi hingga lantai 23. Untuk menuju lantai 24 yang masih baru dibangun, dibuat sebuah lorong tangga khusus di lantai 23 yang menuju lantai 24.

Keganjilan mulai terjadi saat para pekerja mulai membangun lantai 24. Beberapa pekerja, secara sengaja - atau tidak sengaja- menjatuhkan diri dari lantai 24 ke bawah, membuat mereka meninggal dalam keadaan mengenaskan.

Akhirnya para pekerja yang frustasi mengundurkan diri. Dan akhirnya pembangunan lantai 24 itu tidak terselesaikan.

Meskipun begitu, para penghuni lantai 1-23 tetap menjalani kehidupan sehari-hari mereka seperti biasa - melupakan tragedi lantai 13 yang terjadi 4 bulan sebelumnya.

Tapi 1 tahun kemudian, di hari yang sama saat tragedi lantai 13 itu terjadi, keanehan yang sama dialami kembali oleh penghuni lantai 23.

Tapi keanehan kali ini sedikit berbeda.

Mereka mendengar suara tangisan anak kecil. Suara itu sudah sangat familiar dengan mereka, karena mereka mendengarnya setiap hari di meja resepsionis.

Suara tangisan Yuki.

Sejak tinggal bersama Mayu, Yuki setiap hari ikut berdiri di meja resepsionis dan melayani para penghuni apartemen.

Suara tangisan Yuki itu diselingi dengan suara tebasan pedang, serta suara sebuah kotak musik.

Para penghuni lantai 23 yang mendengar itu tentu saja langsung keluar menuju lantai 24 dengan menaiki tangga.

Di sana, mereka menemukan Yuki yang duduk di salah satu tumpukan batubata abu-abu. Dia menangis, dengan sebuah kotak musik hitam di tangannya.

Kotak musik itu memainkan lagu yang biasanya diputar di pemakaman.

Dan di hadapan Yuki, berdiri seorang gadis. Matanya berwarna merah darah, dan rambut teal nya yang sangat panjang diikat twin mengenakan yukata sederhana berwarna hitam, dengan sedikit corak merah gelap di sekitarnya.

Tangan kanannya memegang sebilah katana hitam, sementara tangan kirinya diulurkan ke kepala Yuki.

Sebuah seringai psycho terbentuk di bibirnya.

Para penghuni lantai 23 yang kaget melihat itu tentu saja langsung berlari menerjang gadis itu.

Tapi entah bagaimana, hanya dalam hitungan detik, mereka semua disapu bersih oleh gadis itu dengan katananya, menyisakan potongan-potongan daging yang tersebar dimana-mana.

Yuki hanya menatap potongan-potongan daging itu dengan ekspresi datar dan tatapan dingin.

Dia menyeringai pada gadis pembunuh itu, lalu berkata,

"Miku. Aku sudah bosan. Kau boleh membereskan semuanya sekarang."

Mendengar hal itu, gadis pembunuh bernama Miku itu menyeringai lebar dan berjalan menuruni tangga.

Dan sepanjang malam itu terdengar teriakan, tangisan, dan suara tebasan pedang berkali-kali di seluruh lantai apartemen.

Tidak ada yang selamat.

Keesokan paginya, apartemen itu resmi ditutup, dan dianggap anker oleh para penghuni bangunan di sekitarnya. Bahkan para polisi tidak sanggup untuk masuk kedalamnya untuk menyelidiki ataupun membersihkan mayatnya, sehingga sisa-sisa darah dan bagian tubuh dari pembantaian itu terserak begitu saja di seluruh bagian apartemen.

Malam-malam berikutnya, para penghuni bangunan sekitarnya terus dapat mendengar suara teriakan yang berasal dari apartemen itu, meskipun apartemen itu seharusnya sudah kosong.

Sehingga tak lama kemudian, perlahan penghuni bangunan lainnya pindah rumah. Bahkan tidak sedikit yang pindah ke luar kota akibat trauma akan terror teriakan itu setiap malamnya.

Setelah seluruh penghuni sekitar sudah pindah, akhirnya jalan menuju daerah itu ditutup dan tidak ada kendaraan yang berani melewati daerah itu.

Begitulah keadaannya hingga saat ini.

.

Tepat setelah Luka mengakhiri penjelasannya, Keringat dingin mengucur dari tubuhku.

"Akh!"
Rasa sakit itu kembali menyerangku. Rasa sakit seolah kepalaku mau pecah.

"K-Kaito! Kau baik-baik saja?!"

Aku memejamkan mataku.

Secara tiba-tiba, ingatan-ingatan yang tadinya dikunci dalam memoriku diputar ulang dalam kepalaku.

Kamar sebelah. Suara tangisan. Teriakan. Sayatan pedang. Suara debaman.
Pintu yang dibuka. Siluet. Seorang gadis. Teal. Mata merah. Yukata hitam bercorak merah. Katana hitam. Darah.

Lemari. Kerangka manusia. Bercak darah. Koridor.

Semua ingatan itu menyerang sekaligus, membuatku dapat merasakan kembali rasa takut yang menghantuiku semalam.

"Akh!"
Tangan kananku mencengkeram kepalaku, sementara tangan kiriku mencengkeram pinggiran bangku. Aku menggigit bibir bawahku, berusaha menahan rasa sakitnya.

"Kaito!"

Luka melihatku dengan tatapan khawatir.

"Kaito! Apa yang terjadi?"

Aku membuka mataku. Sedikit demi sedikit rasa sakit itu mulai mereda.

"Luka, aku... Semalam, aku... Bertemu dengan... Miku..." ujarku di sela-sela napasku yang terengah-engah akibat kurangnya oksigen yang dapat kuhirup saat ini.

Mata Luka membulat mendengar pernyataanku.
"Kau sudah bertemu dengan Miku?! A-Apa yang dilakukannya padamu?!"

Luka tampak panik.

"Tadi malam..."

DEG!

Sebelum aku sempat menceritakannya pada Luka, tiba-tiba hawa dingin menyelimutiku.
Hawa dingin yang sama seperti yang kurasakan saat berada di dalam apartemen.

Dan tiba-tiba saja, suasana disekitar kami yang sebelumnya cerah kini berubah gelap akibat cahaya matahari yang tertutup oleh awan. Angin pun tiba-tiba berhembus ke arah kami - membuat kami bergidik.

Aku kembali merasakan rasa takut yang sama seperti yang kurasakan tadi malam.

Rasa takut seperti saat kau berada di ambang kematian.

!

Aku mendengar suara tapak kaki yang diseret, tak jauh dari tempatku berada - sama seperti semalam.

Aku dan Luka membatu di bangku taman.

Kami membelalak tak percaya saat sosok itu menampakkan wujudnya.

...

Dalam jarak kurang dari 10 meter dari bangku taman tempat kami duduk, seorang gadis berambut teal panjang dengan sepasang mata berwarna merah darah yang mengenakan yukata hitam bercorak merah berdiri dengan sebilah katana hitam di tangannya.

Miku.

Dia hanya berdiri diam dengan kepala tertunduk.

Aku dan Luka terlalu takut untuk bergerak.

Hingga tiba-tiba, Luka berbisik, "Kaito. Larilah."

"Eh?" Otakku belum dapat memproses perkataannya.

"Larilah ke dalam hutan." bisiknya lagi.

Tepat setelah aku mengerti maksud dari perkataannya, Miku menengadah dan menatapku lekat. Dia menyeringai lebar, dan berkata,

"Aku menemukanmu~"

!

"Kaito-kun, LARI!" teriak Luka.

Dengan sigap aku bangkit dari bangku dan langsung berbalik lalu berlari menuju hutan yang terletak di belakang taman tempat kami berada secepat yang kubisa.

Masih sambil berlari, aku menoleh ke belakang, dan mendapati Miku yang mengejar di belakangku, serta Luka yang menatapku dengan tatapan khawatir dari bangku taman.

.

'Tunggu dulu.'

'Dia tidak melukai Luka?'

'Ah, kalau dipikir-pikir, bagaimana bisa Luka tau kisah soal apartemen itu hingga sedetail-detailnya, padahal dia bilang tidak ada orang yang selamat dan semua penghuni sudah dibantai?'

.

Hutan sudah berada di hadapanku.

Aku langsung berlari memasukinya dan berlari menuju bagian hutan dengan pepohonan yang paling besar dan lebat.

Sekilas aku melihat ke belakang.

Miku berhenti beberapa meter dariku.
Masih dengan seringainya itu, dia berkata,

"Baiklah. Kita bermain petak umpet, ya~?"

Aku tidak mempedulikannya dan tetap berlari sejauh yang kubisa.


*End of Chapter 2*

*to be continued*