Naruto © Masashi Kishimoto

Rated : T+

Genre : H/C/Humor/Romance/General/Mystery/Family/dan genre-genre lainnya yang ada di FFN*Dimasukinkejurang*

Warning : Semi-cannon, semi-AU, missTypo(s), OoC, Timelinenya up to me(?), dan sebangsanya.

So, amanat dari saya : DON'T LIKE, DON'T READ.

Oh ya, satu lagi. Rin selaku author yang lagi dalam masa labil sedang kahabisan 'hal untuk dibakar', jadi : SAYA TIDAK TERIMA FLAME.

Tapi kalau ada keritik dan saran, silakan saja sampaikan :D

P.S : Saya buat fic ini secara NEKAT*!

.

Enjoy!

.

[Opening: Abura Kadabra by Kotani Kinya-Gravitation OST]

.

Entah apa yang dirasakan gadis itu ketika melihat 'sesuatu' yang kini ada di dalam mangkoknya. Sesuatu yang tadi baru saya diteriakinya dan membuatnya mual seketika. Sesuatu yang tak jelas bentuk dan jenisnya. Mulutnya terkatup rapat-tak tahu harus berkomentar apa prihal sesuatu yang tersaji di depannya sekarang.

"Neji-san, tadi aku memintamu membelikanku makanan…" gadis itu memberi jeda, melirik pemuda yang tampak- atau mungkin selalu berwajah tenang di depannya,

"bukan, sampah." Menyelesikan kelimatnya dengan memberi penekanan yang terlalu dalam pada kata sampah yang mengekor di akhir kalimat.

Yang diprotes, atau mungkin dalam hal ini disindir hanya ber-'hn' ria. Malah dia mulai mengambil sendok dan memasukan sesuatu tak jelas di dalam mangkok ke dalam mulutnya. Tentu setelah mengucapkan kata ajaib penduduk yang lahir dan berdomisili di Jepang, itadakimasu.

"Rasanya cukup baik dibanding rasa masakanmu waktu itu."

Komentar singkat Hyuuga satu itu lantas membuat urat-urat di dahi Sakura muncul. Membentuk beberapa perempatan jalan.

"Kau menyidirku, hah? Dari bentuknya saja makanan ini tidak meyakinkan!"

Gadis itu berujar kasar, masih tidak bisa menemukan titik terang ataupun sedikit pencerahan tentang bagaimana Neji dapat membawa makanan- atau samapah tidak jelas ini.

"Menurutmu."

Emosi. Gadis yang sudah naik pitam itu langsung mangambil sendok dan memasukan sesuatu tak jelas dalam mangkoknya ke dalam mulutnya. mengunyahnya perlahan sambil tak lupa berdoa agar nyawanya diperbanyak oleh Kami-sama.

Dia tidak terima! Mana mungkin makanan tak jelas bentuknya seperti ini rasanya lebih enak dari makanan yang ia buat beberapa hari lalu. Makanan yang terlihat menggugah selera tapi rasanya bisa membuat seseorang masuk ruang ICU selama seminggu penuh.

Tapi-

"Ini… enak?"

Tercengang sesaat. Lidahnya sedang tidak bermasalahkan? Bagimana mungkin- bagimana bisa? Makanan yang seperti lumpur dicampuri gumpalan tanah dan lalu disiram dengan oli hitam ini, rasanya enak?

"Dari mana kau dapatkan makanan ini?"

Neji mengacuhkan pertanyaan itu, memilih terus meneruskan acara makannya, dan mengisi perutnya yang juga kosong sejak tadi.

"Neji-san, dari mana?"

Sakura menatap intens Neji, ayolah… dia benar-benar tidak mengerti kenapa makanan yang lebih mirip- er, apapun itu, rasanya bisa seenak ini?

"Yang benar dari siapa."

Pemuda itu mendesah pelan, merasa risih dengan tatapan gadis di depannya yang terarah padanya. Mengurungkan niatnya untuk memasukan sesendok lagi makanan dari dalam mangkok ke dalam mulutnya.

"Siapa? Maksudmu?"

"Hn, Tenten."

Mendengar jawaban itu, Sakura hanya bisa terkaget-kaget ria, mengatakan 'ups' pelan dan lalu tertawa canggung. Berharap dalam hati Neji tak akan memberi tahu apa yang ia katakan tadi pada Tenten.

.

.

.

Ini sudah ketiga kalinya dalam sehari, gadis itu masuk lagi keruangannya dengan muka memelas dan mata yang mengisyaratkan permohonan. Serangan yang tak akan mungkin menang melawan kokohnya dinding hati berbahan dasar besi-baja miliknya.

"Tsunade-samaonegaishimasu."

Tak lupa dengan kalimat dan kata yang sama. Tak tahu kah gadis ini? dia sudah terlalu bosan dengan setumpuk laporan yang harus ia periksa. Haruskah ia melihat pemandangan membosankan lainnya?

"Tidak Sakura. Hukumanmu dengan Hyuuga itu tetap 5 bulan, kalau kau masih bersikeras untuk meminta pengurangan, aku akan menambahnya menjadi 10 bulan. Kau mau?"

Airmuka Sakura langsung berubah pucat, bersama Hyuuga itu 5 bulan saja belum tentu kuat, bagaimana 10 bulan? Dia bisa mati karena darah tinggi!

"HIII- Dame yo Tsunade-sama(Jangan Tsunade-sama). 5 bulan sja sudah terlalu lebih untukku."

Tsunade menghela nafas pelan, mengambil salah satu berkas yang ia anggurkan sejak tadi. Memeriksanya.

"Hn, kalau begitu jalani hukumanmu untuk 5 bulan ke depan dengan baik."

Gadis berambut merah muda itu hanya bisa mengangguk pasrah dan kemudian menuju pintu keluar. Rasanya memang mustahil meminta sedikit saja keringanan pada Tsunade.

"Sakura."

Mendengar Tsunade memanggilnya, semangat Sakura langsung kembali. Apa Godaime mau memberinya keringanan?

"Apa Neji sudah memberi tahu sesuatu padamu?"

Neji…

Mendengar nama housemate-nya itu diesbut, Sakura langsung menunjukkan raut cemberut sambil menggeleng singkat.

"Oh, kalau begitu kau boleh pergi."

Di luar gedung Hokage, Sakura baru sadar. Nada suara Tsunade tadi 'agak' sedikit misterius dan berat ketika bertanya tentang sesuatu yang mungkin akan diberitahukan Neji padanya. Memangnya apa?

"Mungkin hanya perasaanku saja."

Ucapnya pelan dan kemudian berjalan menuju rumah sakit, menjalankan tugasnya sebagai medic-nin jaga. Sampai Tsunade memberi misi lapangan lagi padanya.

"Yahoo*~ Sakura!"

Suara melengking itu hampir membuat gendang telinganya pecah saat sang tersangka memeluknya erat dan berteriak-teriak kegirangan.

"He- Hei ada apa?"

Awalnya Sakura ingin berteriak 'Apa yang kau lakukan pig?'. Yeah.. awalnya, karena hanya Ino yang mungkin melakukan serangan dari belakang seperti itu. Tapi jelas ini bukan suara Ino. Dan tidak mungkin suara Hinata. Gadis itu selalu menjaga sopan santunnya di depan umum. Lagipula, Hinata punya sindrom bicara terbata-bata 'kan?

"Sakura~ aku senang sekali hari ini!"

Jadi kandidat terakhir… sudah pasti Tenten. Dan, gadis berambut pink itu sepertinya tahu apa yang membuat teman bercepol duanya ini begitu senang.

"Pasti ada hubungannya dengan Neji 'kan?"

Tenten mengangguk senang, semakin membuat gadis di depannya yakin dengan hipotesanya.

"Semalam- semalam KYAA~."

Sakura menghela nafas pelan, sepertinya dia harus menjadi pendengar setia curmen(curhatan mendadak) Tenten. Anggap saja sebagai permintaan maaf mengenai hal yang tidak diketahui Tenten.

Andai saja kemarin Neji memberitahu asalmuasal makanan itu, Sakura pasti tidak akan berkata sembarangan seperti kemarin malam.

.

.

Diruangan gelap itu, seorang gadis muda menyuntikkan sesuatu ke dalam tubuhnya. Mengeluarkan segala penat yang begitu menyesak dalam kepalanya, membunuh batinnya, berteriak histeris. Ketakutan. Limitnya sudah terlampaui, ketidaksanggupan yang tidak sanggup ia tunjukkan. Tenggelam terlalu jauh dalam rasa rindu dan penantian yang begitu menyesakkan. Sudah cukup baginya. Tapi tak pernah berakhir. Rindu itu menjadi luka. Penantiannya menjadi duri yang berbalik menyerangnya. Semua dystopia dan kesengsaraan semu yang memenjarakan jiwanya dalam sesak kehausan. Kehausan akan buah dari sebuah penantian.

"Sasuke-kun."

Rintihan yang selalu ia keluarkan untuk satu orang. Satu nama yang tak pernah bisa terhapus dari benaknya. Memabukkannya.

"Sakura?"

Tak ada logika, rasionalitas otaknya sudah hilang...

.

.

Mentari sudah dalam perjalan pulang saat sesosok pemuda tengah menatap statis kertas di tangannya. Kertas putih yang lalu ia remas sampai tak berbentuk. Berdiri. Matanya menatap awas segala sesuatu di sekitarnya. Memakai topeng putih yang hanya menganggur di tangannya sedari tadi, dan kemudian, menutupi sebagian wajahnya dengan tudung jaket yang ia kenakan.

Melakukan beberapa gerakan tangan-memberi kode entah pada siapa, kemudian hilang bersama dengan angin.

.

Ini untuk pertama kalinya, Sakura sampai 'di rumah' tanpa menemukan keberadaan Neji. Biasanya pemuda itu selelu sampai lebih awal, duduk di teras belakang ditemani secangkir teh hijau.

Tapi kema-

"Tadaima."

"KYAAAA-"

Di belakangnya, sosok seorang Neji Hyuuga sedang berdiri tegap dengan raut dingin dan datar andalannya. Salah satu tangannya menenteng bungkusan putih. Bisa dipastikan kalau isinya adalah makanan.

"Kau mengagetkanku!"

Tidak peduli dengan ocehan gadis yang masih tampak kaget dan kesal karena ulahnya. Pemuda itu langsung meninggalkannya begitu saja lalu berakhir ke kamarnya. Membuat Sakura benar-benar naik pitam dan langsung menggedor-gedor shouji kamar Neji.

"HOI! BUKA PINTUNYA, NEJI-SAN."

Gadis itu mengecam, berusaha sekeras mungkin mengontrol tenaganya. Rasanya tidak begitu etis kalau karena masalah sepele ia harus mendobrak pintu kamar si Hyuuga satu ini.

"Apa? Makanannya sudah kutaruh di meja makan, jangan ganggu aku sampai nanti malam, aku mau istirahat, dan kau tahu sendiri akibatnya kalu kau memakan jatahku."

Sakura melongo. Demi apapun. Dia berani bersumpah… itu- itu kalimat terpanjang yang pernah ia dengar kelaur dari mulut Neji! Dan untuk pertama kalinya dia mendengar kalimat Neji 'berintonasi'.

Mundur teratur dari tempat awalnya, mendudukan diri di kursi ruang makan. Dia jadi teringat perkataan Tsunade tadi siang. Memangnya apa yang mau dikatakan Neji? Sesuatu yang pentingkah? Atau apa?

Berusaha menenangkan pikirannya gadis muda itu membuka bungkusan putih yang dibawa oleh Neji, isinya 2 kotak bento berwarna hitam dengan gamabr bunga sakura.

Mengambil salah satu bento dan membukanya. Wajah Sakura langsung berubah bahagia melihat isinya. Makanan kesukaannya!

Sepertinya Hyuuga satu itu sedang berbaik hati hari ini. Menghabiskan makanan itu dengan cepat. Hari ini sampai minggu depan adalah bagiannya membereskan rumah. Minggu berikutnya, diharus betukur posisi dengan Neji dan menyiapkan makanan untuk sarapan, dan makan malam.

Tak sadar, waktu sudah berjalan beberapa jam, membuat sepasang mata Sakura terasa berat. Berusaha memaksakan tubuhnya yang terasa lelah, tinggal sedikit lagi dan pekerjaannya malam ini selesai.

"Istirahatlah."

Menguap lebar saat suara baritone Neji memasuki gendang telinganya. Sepertinya pemuda itu sudah selesai dengan sesi hibernasinya.

"Tumben sekali tadi kau pulang dan langsung ke kamar. Biasanya kau akan membuatku naik pitam baru kabur ke kamarmu."

Neji menatap bosan gadis itu mengangkat tangan kananya dan mengacak-acak rambut pendek Sakura. Kemudian berlalu begitu saja, membuat Sakura terbingung-bingung karenanya.

"Dia sedang kerasukan apa sih?"

.

.

[Ending song: Yuugao by Mamiko Noto-School Rumble OST]

.

.

*: yahoo disini artinya bukan yahoo(dot)com tapi yahoo yang artinya halo

Ah… Domo arigatou gozhaimasu atas review dan tanggapan minna-san untuk fic ini. Semoga minna-san suka dengan lanjutannya! Er- Rin sebenernya bingung banget buat publish fic ini di rated apa. Soalnya cepat atau lambat pasti bakal nyerempet rated M. yeah… kalau menurut reviewer sekalian gimana?

Oh, dan buat Tenten lovers, gomen nasai… Rin gak ada maksud bashing loh. Tapi kalau kelihatannya nge-bashing, Rin mohon maaf yang sebesar-besarnya. Juga buat semua kesalahan yang terkandung dalam fanfiction hasil buatan otak Rin yang rada ini.

And, big thanks & hugs for Haza ShiReifu, Ernabloom, Mrs. X, Kikyo Fujikazu, Riku Aida, Dijah-hime, risa-chan-amarfi, Aikuro no Runa-chan, ILA, UzUchiHaru Michiyo, Hadei-chan chibi.

Untuk Kikyo Fujikazu, apa yang dibawa sama Neji sudah dijelaskan di chep ini!

Untuk risa-chan-amarfi & Hadei-chan chibi, eng- untuk itu mungkin setiap chapter akan diberi 'hint' akan dibuat per-part 'kejadiannya' diketiknya pakai italic.

Dan buat yang lain, ini updatenya! Semoga minna-san suka dan Rin menunggu review kalian yang berikutnya!

Maaf kalau ada kesalahan kata dan hal-hal yang kurang berkenan. Silakan masukan saran, kritik, feedback, dll melalui kotak ripiu!

So, Review please?