Chapter 2 Up

.

.

.

ENJOY

.

.

.


~ナルトはサスケへ~

Kiba merasa deja vu dengan posisi Naruto yang saat ini duduk lemas dengan kepala di atas meja, bukankah Naruto seperti ini juga beberapa hari lalu, waktu uang bulannya habis?

"Naruto... Apalagi masalah yang sengaja kau jumpai?" Dengusan malas terdengar dari Kiba, sungguh ia tidak tahan melihat tampang Naruto yang sok tak berdaya itu. Bocah ini selalu saja terkena masalah.

"...Kibaaaa..." Naruto menatap Kiba dengan wajah memelas dan tampang kusut. Seolah-olah baru saja dikejar ular-ular peliharaan Orochimaru-sensei, guru biologi mereka yang nyentriknya, terkenal satu sekolahan.

"Aku pasti dipecat! Setelah menabrak petenis fenomenal incaran gadis-gadis, aku malah membentak dan membanting pintu keras tepat di depan wajahnya." Lanjut Naruto dengan suara merengek.

"Berhentilah merengek Naruto! Kau semakin mirip perempuan yang sedang patah hati!" Kiba mengorek kuping, malas mendengar Naruto yang selalu mendramatisir keadaan.

"...Sudahlah Naruto... Hal itu sering terjadi di lapangan... Lagian Uchiha Sasuke memang pantas dibentak." Gaara menepuk punggung Naruto, mencoba menenangkan.

"Sering terjadi?!.. Gaara! Yang benar saja..." Kiba melepaskan tawa keras, "Menabrak pemain sewaktu mengambil bola hanya terjadi pada Naruto. Dia memang fenomenal sial dan bodoh."

Mendengar itu Naruto semakin mengerucutkan bibirnya. Gaara yang melihat wajah tertekan Naruto, langsung melemparkan glared kearah Kiba, membuat yang diberi glare terbatuk pelan dan mengurangi volume suara tawanya.

"...Ya...ya... Maafkan aku bunda Gaara." Kiba bercicit pelan, "Damn! For Naruto's sake! Siapa suruh dia jatuh ci-..."

"Kyaaaaa..." Naruto berteriak histeris lalu buru-buru berdiri dan menutup mulut Kiba. "Holy shit! Jaga bicaramu, Kiba!"

Sumpah! Naruto belum ingin mendengar ceramahan Gaara akibat tahu bahwa ia terpesona pada pandangan pertama, lagian Naruto tidak mau mengakui kalau ia jatuh cinta pada petenis brengsek nan tampan itu, cinta? Apa itu? Memangnya selezat ramen?

Jangan salah paham ia cuma terpesona, bukan jatuh cinta.

"Bahasamu Naruto, Kiba..." Suara Gaara memberat. Aura-aura kelam mulai menyebar.

Naruto dan Kiba mendadak berjengit bersamaan.

"...Jelaskan soal Naruto yang jatuh cin-"

"OH YA NARUTO! Ka-kau tidak jadi dipecat loh..." Omongan Gaara dipotong cepat oleh Kiba.

"Hana-nee bahkan bilang kalau bisa terus bekerja sampai turnamen ini selesai. Se-selamat!" Lanjut Kiba sambil tertawa gugup.

"...O-oh ya? Syukurlah! Ucapkan terima kasihku ya, Kiba..." Naruto segera menarik tas, "Bu-bukankah sudah saatnya pulang? Ada pertandingan lagi sore ini, kan..?" Ia mengedipkan mata kearah Kiba, mencoba mengirim sinyal.

Sengaja mengalihkan perhatian Gaara.

Mengerti dengan sinyal itu, tas yang ditarik Naruto tadi dicengkram erat oleh Gaara.

"Tidak! Sebelum kalian menjelaskan!.. Dan Kiba!"

Kiba kembali berjengit mendengar panggilan Gaara.

"Jelaskan tentang Naruto yang jatuh cinta pada Uchiha Sasuke." Nada perintah terdengar mutlak dari suara Gaara.

Kiba mendelik, kenapa harus dia yang menjelaskan? Gaara memang pilih kasih.

Beda denganNaruto yang saat ini sudah tertunduk lemas, memikirkan nasip ia dan Kiba -terlebih dirinya- sudah jelas akan mendengar ceramahan panjang Gaara mungkin bisa sampai seminggu ke depan.

Ugh!...

~ナルトはサスケへ~


.

.

.

From Tennis With Love

Disclaimer :

Naruto, Masashi Kishimoto

Story :

Punya saya, semua karakter dipinjam dari punya om MK

Genre : Friendship, Romance, Drama & Humor

Rating : T, K+

Pairing : SasuNaru (Sasuke X Naruto)

Warning : AU, One Shoot, Typos, OOC, Mild Language, Boys Love Sasuke X Naruto, Don't like don't read! Feel free to leave this page if you don't like it. I've warned you already.

.

.

.


~ナルトはサスケへ~

Naruto duduk gelisah di ruang staff menunggu kedatangan Kiba, yang katanya ingin bertemu Hana-nee sebentar. Ia sangat bersyukur masih diijinkan menjadi ball person yang kata Kiba dan Hana-nee dengan kesalahan seperti itu seharusnya ia sudah dipecat.

Naruto tidak begitu mengerti kenapa dia dipanggil kembali? Apa mereka kekurangan ball person? Tapi, kalau dipikir-pikir rasanya tidak mungkin juga, mengingat banyak pemuda seumuran berkelimpangan di Konoha, tinggal pilih salah satu sebagai pengganti dan masalah beres. Lagian, kalau benar kekurangan orang, kemarin seharusnya Naruto tetap bekerja, tapi kemarin nyata-nya ada shift, jadi hari ini baru dia bekerja kembali.

"Selamat sore Naruto-kun..."

Suara familiar menyapa pendengaran Naruto. Pemilik iris biru jernih itu segera berbalik kearah suara tersebut.

Kakashi? Pria bermasker yang beberapa hari lalu menyambutnya di ruangan Sasuke? Kenapa si rambut perak ini ada di ruangan staff?

"...Kau sibuk?... Apa aku mengganggumu?" Lanjut Kakashi saat melihat wajah bingung Naruto.

Naruto menggelengkan kepala, "...Tidak Kakashi-san? Ada apa?" Ia menarik kursi di samping tempat ia duduk dan mempersilahkan Kakashi untuk duduk disebelahnya.

"Aku dengar, beberapa hari yang lalu Naruto-kun bertengkar dengan Sasuke." Kakashi tak merasa perlu berbasa-basi, ia langsung mengutarakan maksud begitu pantatnya mendarat mulus di kursi.

Ugh! Naruto meringgis.

"...Seperti yang kau dengar Kakashi-san. Beruntung aku tidak dipecat." Naruto mengosok tengkuknya yang tidak gatal.

Kakashi tertawa kecil, membuat mata itu terlihat semakin menyipit, "Yup! Kau tahu Sasuke yang meminta sendiri."

Iris Naruto melebar, sambil berkedip beberapa kali. Otaknya tiba-tiba terasa gagal fungsi.

"...A-apa maksudmu, Kakashi-san?" Cicit Naruto yang hampir tidak kedengaran.

Kakashi mengangkat bahu, "Entahlah. Aku juga tak mengerti dengan jalan pikiran Sasuke..." Pria bermasker itu menyandarkan kepala di sandaran kursi. "Bahkan dia meminta khusus agar kau bisa menjadi ball person pribadi saat dia bertandi-..."

"Jangan bodoh Kakashi!" Suara berat memotong omongan Kakashi, "Aku hanya ingin menjadikan dia babu, sejenis penebus kesalahan."

Sontak Naruto menoleh.

Uchiha Sasuke?!

Naruto merasa ingin menabrak tembok di belakangnya dengan keras hingga berlubang.

Alternatif jalan untuk kabur.

Pemuda emo itu mulai mendekat, keringat sebesar biji jagung mulai bemunculan di wajah Naruto.

"Bertemu lagi dobe." Seringaian tercetak di wajah itu.

Seketika Naruto ingin sekali melempar kursi kearah pemuda emo itu begitu mendengar kata dobe keluar dari mulut tak sopannya. Tapi, ia mengurungkan niat karena ruangan bukan hanya bisikan saja yang terdengar, sudah mulai ada yang berteriak histeris.

Tsk! Uchiha dan fansnya.

"...Terima kasih Uchiha-san. Saya mera-"

"Apa dobe? Merasa tersanjung jadi budakku, hn?"

Naruto mengeram menahan emosi. Padahal ia sudah mencoba bersikap ramah tapi, lihat Sasuke malah mengibarkan bendera perang.

Berusaha agar tetap terkontrol, Naruto mengelus dada dan terus mengingatkan diri kalau ia sangat membutuhkan uang saat ini.

"...Maaf Uchiha-san... Nama saya Naruto bukan DOBE, ttebayo..." Naruto sengaja mengeraskan suaranya pada kata dobe.

"Hn! Pura-pura menjadi ball person untuk mendekatiku, lalu sengaja menabrak untuk menyentuhku. Apalagi kalau bukan dobe?"

"Temeee..." Putus sudah urat kesabaran Naruto yang sudah menipis sedari tadi. "Sudah ku bilang aku ball person asli! Itu kecelakaan! Kau kenapa sih? Mau berkelahi, huh? Sini tunjukkan otot-otot mu!"

Naruto mulai memasang kuda-kuda ingin bertarung. Lengan bajunya digeser naik mengekspos kulit tan miliknya.

"Dobe, bilang saja kau mau melihat ototku lagi." Sasuke menyeringai.

Tersadar, Naruto menatap galak kearah Sasuke.

"Aku tak bermaksud begitu teme!!"

Sungguh Naruto menyesal, kenapa mulutnya berbicara lebih cepat dari otaknya yang berpikir, sih?!

Sasuke melangkah maju, Naruto mengeliat seperti cacing kepanasan berusaha mencari jalan keluar.

Sial! Kenapa harus ada tembok dan meja yang menjepitnya?!

Sasuke semakin mendekat sambil menaikkan lengan baju, memperlihatkan otot-otot miliknya.

Naruto menggelengkan kepala keras dan menutup mata erat-erat.

'Jangan terpengaruh Naruto. Jangan terpengaruh! Anggap saja itu tulang ayam.' Naruto mencoba mengabaikan lengan-lengan kokoh Sasuke yang mulai terlihat menggoda.

GAGAL!

Desahan Naruto akhirnya terdengar, ia membuka sedikit celah di antara jari-jarinya, mengintip otot-otot Sasuke dengan sebelah mata.

Sasuke, pemuda emo itu kemudian merenggangkan leher, memperlihatkan tato tiga koma kebanggaannya.

"Kenapa dobe? Bukankah kau ingin aku menunjukan otot-ototku?" Seringaian masih melekat di wajah Sasuke.

Naruto mendadak merasa butuh oksigen dalam jumlah besar, entah kenapa rasanya sulit sekali bernafas, nafasnya sesak.

Demi dewa apapun! Kenapa Uchiha Sasuke kelihatan semakin menggoda?!

Pandangan Naruto menangkap keberadaan Kakashi. Ia segera memasang ekspresi menderita meminta pertolongan, tatapan yang biasanya efektif untuk membujuk Gaara. Tapi, yang diminta tolong cuma tertawa kecil.

Sial!

Sasuke semakin melangkah mendekat, Naruto kembali menutup mata erat-erat, mulai merapalkan doa dalam hati, mulutnya berkomat-kamit tidak jelas.

"...Naruto?"

Mendengar namanya dipanggil, Naruto membuka mata dan melihat dewa penyelamat yang berdiri di depan pintu masuk.

Gaara!

Sekilas Naruto merasa bisa melihat cahaya yang mengelilingi Gaara dengan latar belakang paduan suara, terlihat indah dan berkilauan.

"Gaarraaa..." Naruto yang berhasil mendapat celah karena Sasuke juga mengalihkan pandangannya, dengan langkah cepat berlari memeluk Gaara dengan tubrukan.

"Gaara, kau penyelamatku! Aku berjanji tidak akan melanggar nasehatmu! Aku bahkan akan setia sampai mati padamu!" Lanjut Naruto yang semakin memperat pelukannya.

Gaara mengerjap bingung dengan tingkah Naruto tapi, sedetik kemudian tersenyum kecil dan membalas pelukan Naruto lalu mengelus surai pirang itu.

"Ya... Kenapa kau datang kesini sendiri? Tadi kan aku sudah menawari untuk menjemputmu?"

"...Maafkan aku Gaara... Aku tidak akan membantahmu lagi, ttebayo..." Naruto melepaskan pelukannya, "Aku berjanji Gaara! Sungguh! Aku tidak ingin bertemu monster pantat ayam yang punya otot seksi lagi." Ujung kalimat Naruto terdengar berupa cicitan.

"Huh?" Iris hijau Gaara kembali mengerjap bingung.

"Bu-bukan apa-apa Gaara..." Ia kembali memeluk Gaara. "...Aku sayang Gaara..."

Mendapat perlakuan seperti itu, Gaara tertawa pelan lalu kembali mengelus surai pirang Naruto.

BRAAKK!

Suara kursi yang terbalik, refleks membuat Naruto sedikit menjauhkan diri dari pelukannya.

Sasuke Uchiha berjalan tegas ke arah mereka berdua, begitu ia berdiri sejajar dengan Gaara, bahu itu menabrak keras bahu milik Gaara. Membuat si pemilik sedikit tersentak mundur.

"Jangan menghalangi jalan!" Sasuke menahan langkah, kemudian menatap lekat ke arah Naruto. "Dobe! Persiapkan dirimu." Dengan kalimat itu, Sasuke langsung meninggalkan Naruto.

"Yare yare..." Kakashi yang mengekori Sasuke memberi tepukan pelan dibahu Naruto, "Kau membuat kesalahan lagi Naruto-kun."

Naruto menatap Kakashi bingung. Bagian mana dari perbuatannya tadi yang salah? Dia kan cuma melepaskan diri dari... Uhuk... Pesona Sasuke?

"Kau tahu... Seperti yang tadi aku bilang, Sasuke memintamu sebagai ball person bisa dibilang asistennya saat pertandingan. Kau harus membawa barang-barang dan mengurus keperluannya sebelum dan sesudah pertandingan..." Kakashi tersenyum lagi, "Itu artinya masih ada enam* pertandingan lagi sebelum mencapai final. Berharap saja Sasuke tersingkir lebih awal."

Kakashi Benar! Dalam hati Naruto berjanji akan menjadi anak baik, makan ramen cukup dua kali seminggu kalau ia sanggup, rajin menabung dan belajar, rajin mandi, membantu Kiba dan patuh terhadap Gaara asalkan Sasuke kalah secepatnya dan uang tambahan tetap bertambah tanpa harus berurusan dengan pemuda arogan itu lagi.

"Tapi-..." Ucapan tertahan Kakashi membuat Naruto ikut menahan nafas. "...-Jika Sasuke kalah, berarti kau juga diberhentikan dari pekerjaan ini. Good luck Naruto-san!" Kakashi menepuk pelan bahu Naruto lalu berjalan keluar mengikuti Sasuke.

Ah~ Uang tambahanku..

Tulang-tulang Naruto lemas. Ternyata para dewa tidak mengijinkan ia menjadi anak baik.

.

.

.

"Apa aku melewatkan sesuatu yang menarik?" Kiba mengedipkan matanya polos ketika masuk ruangan staff.

Rasanya Naruto ingin menjadikan Kiba bola tenis begitu mendengar ocehan tanpa dosa itu.

~ナルトはサスケへ~

Dua puluh menit menjelang pertandingan, Naruto masih setia duduk dengan pandangan lurus, matanya menatap kosong, tanpa harapan di ruang staff.

Sesekali helaan nafas panjang terdengar, tsk! Naruto yakin dia pasti akan tersiksa secara mental, mengingat Sasuke sangat pintar membuat tekanan darahnya mendadak naik, emosi.

"...Kembalikan kebebasanku..." Sekali lagi Naruto menghela nafas berat, "Berikan aku pekerjaan lain selain bekerja bersama teme bermulut kurang ajar itu." Iris biru miliknya menatap Kiba yang sedari tadi duduk di sampingnya dengan tatapan memohon.

"...Aku ingin kebebasanku... Dan dua mangkuk ramen..." Lanjut Naruto, ujung kalimatnya benar-benar terdengar lemas.

Kiba memutar bola matanya jengah, "Tidak ada gunanya kau mengeluh padaku, Naru-baka... Katakan kalimat itu pada petenis idolamu, Uchiha Sasuke!"

"Aku sudah mencoret dia sebagai idolaku! Bahkan dari hidupku." Bibir Naruto mengerucut, "Aku yakin dia pasti lebih kejam dari yang terkejam sekalipun, ttebayo!"

Kali ini Kiba tidak bisa menahan dengusan kesalnya, lama-lama Naruto sudah mirip saja dengan aktor-aktor telenovela yang sering ditonton ibunya. Jangan salah paham Kiba menonton agar bisa mencuci matanya dengan gadis-gadis bohai disana.

"Tsk! Pantas saja dia memanggilmu dobe, baka Naruto... Tingkahmu memang mengesalkan seperti dobe."

"...KIBAAA!" Naruto membentak Kiba, enak saja dalam satu kalimat ia disebut bodoh sebanyak tiga kali, oleh Kiba lagi, orang yang sering dianggap sama bodoh dengan dirinya.

"Kau teman brengsek... Kau dipihak siapa sih, hah?!" Lanjut Naruto benar-benar merasa kesal.

"Melihatmu yang seperti ini, tentu saja aku dipihak Sasuke." Jawaban ringan terdengar dari Kiba, membuat asap imajiner mengepul di kepala pirang Naruto.

"Kiba... Kau... Kauu... Awas kau, aku doakan kau bertemu dengan siapapun yang menyebalkan..."

Kiba terkekeh pelan, "Oh ya? Sejak kapan doamu terjawab, Naruto?"

"Tsk! Pokoknya sampai kapanpun. Begitu kau bertemu lalu takdir akan berubah dan kau jatuh cinta padanya..."

Sontak tawa Kiba menggelegar, kenapa kata-kata bocah pirang ini terdengar sangat klasik?

"Aku kasihan padamu Naruto, sepertinya belum apa-apa otakmu sudah rusak terlebih dahulu."

Baru saja Naruto ingin membantah, bunyi pintu pertanda orang masuk terlebih dahulu membuat kalimat bantahannya tertunda.

"Dobe... Kenapa masih malas-malasan? Seharusnya kau sudah berada di ruanganku."

Uchiha Sasuke! Muncul dengan tangan bersedekap dada menunjukan arogansinya.

Yeah hari ini jadwal pertandingan babak ke dua untuk Sasuke, dan sepertinya hari-hari sialnya sudah dimulai. Naruto mulai mengerutu.

"Temee... Asal kau tahu saja, aku bekerja di sini sebagai ball person dan aku tidak ingin bekerja bersamamu, ttebayo!" Naruto mengeram kesal.

Sasuke melangkah maju, menarik kursi lalu duduk di antara Naruto dan Kiba.

Terpaksa Kiba sedikit menggeser kursinya, mau tidak mau Kiba setuju juga dengan ucapan kakak perempuannya, lihat tiga siku sekaligus muncul di kepala Kiba akibat ulah Sasuke yang terkesan memaksanya untuk bergeser. Apa dimata Uchiha sialan itu dia tidak ada?

"Katakan sekali lagi dan kau dipecat dari ball person." Lanjut Sasuke begitu ia berhasil mengeser posisi duduk Kiba, sehingga ia posisi duduk lebih dekat dengan Naruto, tepatnya di samping pemuda pirang itu.

Naruto mendengus, mengeser kursi menjauh.

"Kau beruntung teme! Kalau gaji bulanku sudah kuterima, dengan senang hati aku akan mengundurkan diri."

"Dan sampai waktu itu tiba, kau tetap menjadi pembantuku, dobe!" Sasuke menarik kursinya mendekat ke arah Naruto lagi.

"Maaf saja, siapa yang sudi menjadi pembantu-..."

"Naruto, akan segera berhenti menjadi pembantumu, Uchiha-san! Aku akan memberikan gajiku sebagai gantinya."

Ucapan Naruto terpotong, sontak membuat Naruto, Sasuke dan Kiba berbalik menatap pintu masuk.

Gaara berdiri diambang pintu sambil bersedekap dada, persis seperti gaya Sasuke sebelumnya, bahkan arogansi mereka pun hampir sama.

Melihat posisi duduk Naruto dan Sasuke, Gaara berdecak kesal lalu melangkah mendekat dan berdiri diantara mereka. Dengan tangan kokohnya, Gaara mengeser kursi Naruto menjauh dari Sasuke.

Sekarang posisinya menjadi Sasuke, Gaara dan Naruto. Gaara berada pada posisi berdiri dan posisi Kiba benar-benar semakin jauh dari ketiga orang itu.

"...Naruto... Sebaiknya kau bilang pada orang ini untuk berhenti mengganggumu, sebelum aku menendangnya keluar dari sini!" Gaara menatap Naruto tanpa mempedulikan Sasuke yang ada di sampingnya, tangannya bahkan menunjuk Sasuke secara langsung.

"...Dobe... Bilang juga pada pengganggu ini untuk diam, sebelum ruangan ini menjadi lautan darah." Merasa tak mau kalah, Sasuke membalas ucapan dan perlakuan Gaara. Matanya pun hanya menatap mata milik Naruto.

"...Naruto... Bilang pada ayam ini, luatan darah itu adalah darahnya yang berhasil aku keluarkan."

"...Dobe... Bilang pada panda brengsek ini, kalau sebelum itu terjadi aku yang aka-..."

"STOPPP!" Naruto berteriak gemas. Matanya menatap Sasuke tajam, "Sasuke, kau temeee! Berhenti memanggilku dobe dan Gaara!..."

Bahkan Gaara kaget dengan nada bicara Naruto yang lebih keras dibanding biasanya.

"Aku akan segera menyelesaikan ini. Tunggu saja disini!" Naruto kembali menatap Sasuke tajam, "Teme! Kita keruanganmu sekarang!" Naruto menarik kasar tangan Sasuke meninggalkan Gaara.

"Apa aku sendiri yang tidak terlihat disini?" Kiba mendesah panjang, merasa dilupakan.

~ナルトはサスケへ~

Naruto bergerak-gerak gelisah. Akibat gerakan implusif tadi, sekarang cuma dirinya dan Sasuke, berdua diruangan milik Sasuke. Dimana Kakashi? Ia sangat berharap Kakashi segera datang lalu mengusir suasana canggung ini.

Sungguh berduaan dengan Sasuke adalah daftar pertama, hal yang paling dihindari Naruto saat ini.

"...Dobe..." Naruto berjengit mendengar panggilan Sasuke. "...Kau tahu kan kalau tangan itu aset penting petenis?"

Anggukan gugup diberikan Naruto sebagai jawaban atas pertanyaan itu.

"...Lalu kenapa kau mencekram erat tanganku tadi? Kau sengaja ingin memegang tanganku, hn?"

Urat kesabaran Naruto langsung putus tanpa melewati fase hampir putus. Rasa gugupnya hilang seketika.

"Temeee! Berhenti bertingkah seolah-olah aku semaniak dan seterpesona itu padamu! Aku tidak benar-benar menyukaimu dan sekedar peringatan, tanganmu bisa saja aku patahkan kalau aku mau, ttebayo!"

Sasuke menatap Naruto tajam, Naruto kembali gugup, berusaha menelan saliva. Apa Sasuke marah karena ia ingin mematahkan tangannya?

"...Ak-aku tidak serius untuk mematahkan tanganmu, ttebayo..." Naruto mencicit ketakutan lalu berusaha menyibukkan diri dengan membereskan baju ganti, air minum dan handuk ke dalam tas Sasuke.

"Teme... Perlu ambil handuk baru lagi? Air minu- SASUKE?! APA YANG KAU LAKUKAN, HAH?!" Teriakan histeris Naruto membuat Sasuke menghentikan kegiatan membuka baju.

Bahu Sasuke terangkat ringan, "Berganti pakaian. Lihat saja sudah tahu kan, dobe? Pertandingan akan segera dimulai." Iris malam itu menatap Naruto heran.

"Jangan buka pakaianmu sembarangan, Uchiha!" Naruto segera berbalik mengalihkan pandangan.

Demi Jashin yang selalu dipuja Hidan si maniak itu! Kenapa dimatanya seluruh bagian diri Sasuke begitu menggoda?

"...Kau kenapa dobe?" Sasuke mengangkat sebelah alisnya heran, ia berjalan mendekat ke arah Naruto.

"Holy shit!" Naruto mengumpat frustasi, "For Jashin's sake menjauh dariku, Uchiha Sasuke!" Kini Naruto memalingkan wajah kearah berlawanan.

"...Naruto?..."

Naruto kembali mengumpat, merasa suara Sasuke semakin keren waktu menyebut namanya.

Ini tidak baik bagi kesehatan mentalnya.

Sontak Naruto menutup kedua telinga, begitu pula matanya.

"...Siapapun tolong bilang pada Uchiha Sasuke teme ini untuk memakai bajunya!" Naruto mulai berteriak perlahan.

"Aku suka yang tak berotot daripada otot Sasuke, aku lebih suka desisan ular Orochimaru-sensei daripada suara Sasuke, aku lebih suka mata buta dari pada mata hitam Sasuke, aku lebih suka rambut ubanan Jiraya-sensei dari pada rambut Sasuke. Naruto Uzumaki dan ramen tak pernah terpisahkan." Awalnya Naruto bernyanyi dengan nadanya masih beraturan, namun lama-kelamanan nadanya semakin tidak beraturan, bahkan ia tidak peduli dengan suara cemprengnya, yang penting sekarang ia berusaha menenangkan diri dulu.

Mejernihkan pikiran. Istilah baru yang ia dapat hari ini.

Suara kekehan kecil menghentikan nyanyian 'ajaib' Naruto.

"Aku sudah memakai bajuku, buka matamu dobe."

Alis Naruto terangkat, perlahan memperlihatkan iris birunya takut-takut, tangan yang tadi menutup gendang telinganya pun kini sudah turun.

Iris itu kemudian berkedip cepat beberapa kali. Apa ia sedang berhalusinasi melihat Sasuke yang sedang tertawa? Dan kenapa ia menyukai suara Sasuke saat tertawa walaupun suara tawanya sangat pelan dan nyaris tak terdengar?

"Aku harus segera ke psi... Psi... Psiki..." Otak Naruto kembali terasa macet.

Naruto gagal paham dengan diri sendiri.

"Maksudmu psikiater?" Kening Sasuke berkerut tipis.

Naruto menggangguk, "Um! Psikiater untuk mengembalikan kewarasanku..." Gumam Naruto sambil menunduk.

"Bodoh..." Sasuke tersenyum tipis, ia mengacak surai pirang Naruto kemudian mengetuk kening tan itu, tidak kuat hanya sekedar benturan lembut.

"Bereskan segera perlengkapan. Pertandingan akan segera dimulai."

Suara pintu tertutup menandakan Sasuke telah meninggalkan ruangan.

Naruto tertegun. Tangan kanannya meremas baju di dada bagian kiri.

Apa ini? Jantungnya berdetak lebih cepat.

Apa ini yang sering dibilang teman-teman gadis di kelasnya ketika mereka menyukai seseorang?

Apa artinya ia menyukai Sasuke?

.

.

.

To Be Continued

.

.

.


Omake

Kiba membantu Naruto membawa tas milik Sasuke, pertandingan baru saja selesai lima menit yang lalu, sedang Gaara sedang menjadi ball person untuk pertandingan di lapangan sebelah yang masih berlangsung.

"Aku heran, apa sih isi tas Sasuke mu. Kenapa berat begini? Apa perlengkapannya terbuat dari batu, huh?" Mulut Kiba juga masih mengoceh sedari tadi, niatnya sih hanya ingin membantu Naruto karena kasihan, tapi kalau tasnya seberat ini dia kan malas juga.

"Sudah kubilang kan dia kejam?" Naruto ikut mengerutu, "Pasti dia sengaja membawa barang banyak untuk menyiksaku."

"Damn! Aku jadi kesal dengannya. Dia itu niat sekali menyiksa-..."

"Puppy?"

"-...Naruto kau brengsek! Sudah kubilang jangan panggil aku puppy hanya karena akamaru sudah kuanggap adik." Kiba menatap Naruto kesal. Yang ditatap balas menatap Kiba bingung.

"Eh?...Tapi bukan aku yang memanggilmu."

"Cuma kita berdua dilorong ini, bodoh... Siapa lagi kalau bukan ka-..."

Tepukan dibahu Kiba, membuat Kiba berbalik menatap pelakunya.

"Ternyata benar... Yo puppy."

Mata Kiba mendadak ingin keluar, "Kau?... Russaaaa?!"

"Tsk! Baru saja bertemu sudah ada panggilan sayang... Puppy~... Rusa~..." Naruto mencibir bibirnya.

"Siapa yang bilang itu panggilan sayang, Naru-baka!" Kiba menjitak Naruto gemas. "Dia cuma rusa tersesat disini. Ayo kita pergi!" Tas yang dipegang mereka berdua ditarik kasar oleh Kiba.

Pendengaran Naruto sempat menangkap gumaman "merepotkan" dari pemuda berambut nanas yang diteriaki Kiba tadi.

Tawa Naruto bertambah keras melihat Kiba yang semakin mengoceh. Tidak sadar doanya mungkin saja terkabul kali ini.

.

.

.

To Be Continued

.

.

.


Note

*Tujuh kali itu jumlah pertandingan seorang pemain termasuk final di turnamen ini.

Yosh! Chapter 2 selesai, butuh waktu satu bulan dua hari ternyata.

Terima kasih banyak buat yang sudah membaca dan me-review (WOW dengan jumlahnya). Terima kasih juga saran-saran yang diberikan. Mudah-mudahan chapter ini tidak semakin aneh.

Mohon maaf ya kalau lama updetannya, maklumlah belakangan ini dunia nyata sengaja membuat saya lebih sibuk dari biasanya. Beruntung draft ch ini sudah ada, tinggal edit sana sini (pasti masih ada yang miss juga) dan akhirnya baru bisa di-upload hari ini.

.

.

.


Q & A

Bagi yang bertanya kapan lanjut, ini sudah dilanjutkan ya.

Q by choikim1310

A : Untuk pairs selanjutnya nanti akan ada seiring bertambahnya chapter. Mudah-mudahan saya bisa dapat ide secepatnya ya..

Q by Nikeisha Farras

A : Diusahakan untuk tetap ringan & fluff. Saya juga tidak terlalu suka dengan konflik yang terlalu rumit juga kok..

Q by SaphireOnyx Namiuchimaki

A : Nah untuk hubungan Gaara dan Naruto masih jadi rahasia saya saja..

Q by Kuroshiro Ringo

A : Terima kasih sudah suka dan me-review ff dadakan ini. Salam kenal juga.. ^^

Q by SNlop

A : Entahlah saya juga bingung dengan sifat Sasuke di ff ini #eh

Q by acca1

A : Terima kasih sarannya, nanti saya usahakan untuk edit.

Q by Kris hanhun

A : Soal perasaan khusus atau tidaknya Gaara ke Naruto, masih rahasia saya saja yak..

Q by Ogeretsu Tagame

A : Wow, review terpanjang nih.

-Sasuke tidak bermaksud untuk tarik ulur waktu, karena pertama pasti pertugas lapangan syok dulu kemudian baru sadar, nah waktu itulah yang mereka pakai untuk saling tatap menatap (cieh- kebanyakan berfantasi saya), atau jangan-jangan untuk waktu tersebut terlalu singkat untuk saling tatap?

-Bukan seumuran, tapi prediksi sepihak Naruto kalau mereka seumuran begitu maksud saya.

-Kalau soal unggulan dunia, maaf murni keselahan saya, maksudnya itu mau unggulan Konoha, tapi entah kenapa jadi salah ketik menjadi unggulan dunia. Dan dalam waktu dua tahun, sudah ada petenis yang masuk dalam jenjang prof dengan usia relatif muda, bahkan ada sekali masuk turnamen pelesetan itu sudah dibuat terpukau, karena mereka memang sudah dilatih dan dipersiapkan sejak balita. Coba tanya aja ke kakek gugel. Untuk selanjutnya bakal semakin jelas dipenghujung ceritanya.

-Terima kasih untuk pendapatnya.

Q by Akasuna no Akemi

A : Terima kasih, saya usahakan fic ini bisa sampai kata 'END'.

.

.

.


Special Thanks For Reviewers:

Akira Hikari406, Dahlia Lyana Palevi, Kuma Akaryuu, Aiko hara, Lejungs, sheren, choikim1310, shirota strain, Octa918, sanarue, SasuNaru Love, Jun-yo, Nikeisha Farras, kimidori Rg-Sn, miszshanty051, Arum Junnie, SaphireOnyx Namiuchimaki, yuvikimm97, rei diazee, Uzumaki Prince Dobe-Nii, yurika46, Indah605, Kuroshiro Ringo, yuki akibaru, SNlop, acca1, fysjelf06, Versya, gnagyu, efiastuti 1, Haruko Namikaze, Fuuin SasuNaru, AkaiHasami, Kucing manis, gici love sasunaru, Kris hanhun, zha08, rohmahclouds, Panpan894, Blueonyx Syiie, Ogeretsu Tagame, pristyagita, Aiko Vallery, Xhavier rivanea huges, gyumin4ever dan yuyu

Ada yang terlewat?

Untuk chapter selanjutnya, belum ada waktu pasti updet-nya mungkin akan lebih lama, soalnya belum ada draft cerita sama sekali.

Jangan bosan untuk RnR ya...

~10/18/2015~

.

.

.

Best Regards.