Donghae tahu pacarnya itu akan bekerja esok pagi. Demikian pula dirinya. Pukul duabelas malam sudah terlewat, ia sudah berbaring di ranjangnya sekarang. Namun ia memikirkan Eunhyuk. Tiba-tiba ia merasa merindukan kekasihnya itu. Wajar saja, mereka hampir seminggu tidak bertemu karena kesibukan masing-masing. Tapi ini sudah malam. Persetan dengan apapun, ia ingin mendengar suara kekasihnya itu sebentar saja. Jadi ia memutuskan untuk mendial nomer Eunhyuk dengan cepat. Dari cara bicaranya, sepertinya Eunhyuk akan mabuk. Walau tidak sampai teler sepenuhnya, belum. Kekasihnya itu berkata ia hanya meminum soju untuk memuaskan dahaganya. Sebentar menjadi sangat lama karena nyatanya mereka bertelepon hingga hampir tigapuluh menit. Tetap saja Donghae merasa itu sangat sebentar! Ia membiarkan kekasihnya itu bercerita apa saja yang terjadi kepadanya akhir-akhir ini. Eunhyuk menyebut atasannya Cho Kyuhyun yang mempesona, hampir membuat seluruh penghuni perusahaan tempat Eunhyuk bekerja terbius akan kecerdasannya. Jadi ia tak heran lelaki tinggi itu dengan cepat bisa meraih jabatan yang tinggi. Eunhyuk curhat, entah bagaimana jabatannya di divisi perencanaan jatuh ke tangan Kyuhyun. Eunhyuk sadar dan mengakui kesalahannya akan proyek pembangunan anak perusahaan tempatnya bekerja hampir berhenti karena kelalaiannya. Eunhyuk menyampaikan keluh kesahnya pada Donghae. Tapi Eunhyuk juga menyampaikan hal lain.

"Donghae, kau sudah menonton berita?" Suara Eunhyuk terdengar mengecil. "Tidak, Hyuk. Ada apa?"

Kali ini Eunhyuk membuang nafas lega, "Jadi benar, pembunuhan di kantor tempatku bekerja, kasus ini ditutup."

"Ada apa, Hyuk? Apa terjadi sesuatu?" Eunhyuk tahu gelengannya tak akan terlihat dari seseorang dalam seberang line teleponnya, jadi ia meneruskan ucapannya. Suaranya makin mengecil, "Tadi sore sebelum jam kantor usai aku sempat mampir ke restroom sebentar. Kau tahu? Seseorang berusaha memukulku dari belakang. Seseorang itu mandor yang posisinya kugantikan."

Donghae terkejut sampai bangun dari acara berbaringnya. "Kau baik-baik saja? Oh astaga! Lalu bagaimana, Hyuk? Kau jangan membuatku takut, demi Tuhan!" ia panik.

"Dengarkan aku dulu. Aku baik-baik saja, sungguh. Seseorang menyelamatkanku."

"Seseorang?" Donghae mulai tenang sekarang.

"Ya. Seseorang yang menyelamatkanku dari orang yang berusaha membunuhku tadi, Cho Kyuhyun. Tapi caranya terlalu ekstrim. Cho Kyuhyun merebut tongkatnya dan terus memukuli seluruh tubuhnya sampai kepala hingga mati."

.

PSYCHOPATHIC STORIES

Summary : Menjadi mahasiswa psikologi yang ambisius membuat Sungmin menyetujui tawaran Kyuhyun. Sungmin yang masih labil tidak berpikir hal mengerikan apa yang akan terjadi pada dirinya kelak.

Chapter 2

Kiyoko Yamada present.

.

"Pancake madu?" Kyuhyun mengangkat alis. "Aku mau muffin cokelat!"

Satu piring lebar berisi pancake yang masih mengepul Sungmin letakkan di atas meja. Menghiraukan tuntutan Kyuhyun, ia mengambil pisau dan garpu, memotongnya, lalu hendak menyuapkan potongan pancakenya pada Kyuhyun. Ia meniupinya sebentar. "Oven di rumahku rusak. Kalau kau tidak mau, kau bisa makan pie susu didalam toples. Lagipula kau belum sarapan, kan?" Lalu menyuapkannya karena Kyuhyun membuka mulut tak menolak. Suapan pertama ia kunyah lamat-lamat. Merasakan manis dari madu dan asam dari potongan blueberry dan rasberry yang Sungmin tambahkan sebagai topping.

"Yah, tidak buruk. Aku juga tidak ingin memaksamu membuat cheese cake gagal lagi." bahu Kyuhyun terangkat sekilas. Selesai mengunyah, ia melahap lagi satu suapan dari Sungmin.

Sungmin yang mendengar sindiran Kyuhyun menatapnya sebal. Dengan ujung garpu, Sungmin menusuk satu buah stroberi. Topping khusus. Sedikit tergesa dan memaksa Kyuhyun menelannya bulat-bulat. "Aku lupa pesan Leeteuk hyung dari klub tataboga dulu, ia pernah mengatakan kalau membuat kue dengan metode kukus kemungkinan berhasilnya hanya lima persen." Bahu Sungmin mengendik. "Well, aku tak akan mengulanginya lagi. Aku sudah membuang banyak susu dan keju." tekadnya.

Kyuhyun sedikit mendesis saat ia mau tak mau mengunyah dan merasakan asamnya stroberi, jadi tangannya menuntun tangan Sungmin untuk menyuapinya lagi satu potong pancake penuh madu dengan cepat. Sembari mengunyah, ia terdiam sejenak sebelum berbisik, "Aku mau jus jambu."

Sungmin sweatdrop. Namun tangannya tetap menunjuk ke arah dapur. Dari sofa tempat mereka berdua duduk, pintu kulkas terlihat jelas. "Aku punya dua kotak." Kemudian Kyuhyun beranjak. "Aku sudah minum air putih tadi, pagi-pagi sekali." katanya.

"Sungmin, kau pakai tonik herbal?" kening Kyuhyun berkerut melihat isi kulkas Sungmin yang tertangkap oleh sensor matanya. "Kau punya banyak sekali soju di kulkas." Kyuhyun menghela napas, "Dan tak ada jus jambu disini." Akhirnya ia meraih satu kotak jus stroberi. Sungmin hanya menyengir dari kejauhan, melihat Kyuhyun melongokan kepala kearahnya. "Maksudku dua kotak jus stroberi." Sungmin melanjutkan, "Lagipula jus jambu menjijikan, iyaks."

Kyuhyun tidak menyambungkan antara percakapannya dengan Sungmin, tapi ia tetap tidak mengabaikan lelaki manis itu. "Apa kombinasi dari alkohol dan tonik kesehatan?"

Akhirnya Sungmin memutuskan untuk beranjak juga, menghampiri Kyuhyun di dapur. Ia mengambil satu gelas untuk Kyuhyun menuang jusnya. Ia menyodorkan gelas tadi. "Kau punya soju lebih banyak dari aku. Kau mengatakannya karena itu bukan milikmu. Menyebalkan!"

Dengan patuh Kyuhyun menuang jusnya. Setelah penuh, ia mengambilnya dari tangan Sungmin. "Tidak. Aku hanya menyimpan beberapa botol wine di ruang bawah tanah khusus milikku. Aku tidak mengambil fasilitas apapun dari perusahaan." Kyuhyun mengangkat bahu. Lalu ia meminum jus stroberinya sekilas, beberapa tegukan. "Kau mau?"

Beberapa botol. Sungmin memutar bola matanya. Kedengarannya banyak, Kyuhyun menyebut ruangan khusus tadi. Lelaki yang lebih pendek dari Kyuhyun itu hanya menggeleng. Namun tangannya terulur mengambil satu botol kecil yougurt. Ia sempat mengangkat alis juga botolnya, menunjukannya pada Kyuhyun. Dan Kyuhyun berbalik kembali ke isi kulkas Sungmin yang menurutnya menarik. "Dominan dengan olahan susu. Beberapa batang cokelat, juga keju. Lima kotak susu stroberi. Dan kupikir satu lusin penuh yogurt." Kyuhyun menatap Sungmin sekilas. Kepalanya ia tengokan lagi ke arah benda di depannya, masih menelisik isinya. Ia menggeleng prihatin, "Pantas saja kau gendut, rabbit."

"Yah!" Sungmin belum sempat mengomel atas hinaan Kyuhyun untuknya yang menurutnya menyebalkan. Padahal Kyuhyun yang mengomel tadi soal isi kulkasnya. "Dan apa-apaan sarapanmu ini? Salad buah? Setahuku kau sudah makan nasi tadi. Lalu saus?" Sungmin sempat membuatnya tadi pagi, sebelum ia menemui Kyuhyun dan mengajak lelaki itu sarapan di rumahnya. Ia benar-benar tak bisa melewatkan sarapannya. "Kau bisa kena typhus!" Kyuhyun menutup pintu kulkas. Ia menyeret lengan Sungmin untuk kembali ke sofa depan TV. Sekarang gantian ia yang hendak menyuapi Sungmin. "Lebih baik kau makan sarapanku. Buka mulutmu!" berakhir sisa pancake Kyuhyun yang Sungmin buat khusus untuknya jadi ia makan sendiri. "Aku tahu aku bisa sakit, minimal sakit perut."

"Kau tahu itu." Kyuhyun memotong cepat. Sungmin lalu mendengus. Lalu ia terdiam, terlihat berpikir sejenak. Menimbang-nimbang apakah tindakan yang akan diambilnya kini benar. Ia tak suka berbohong. Terlebih, mengumbar kehidupan pribadinya. Ryeowook saja tidak tahu soal ibunya, tetapi untuk Kyuhyun, Sungmin merasa itu pengecualian.

Kyuhyun lelaki yang misterius. Selain dengan kata-kata bijak klasik yang keluar dari mulutnya, uhm, well, selain dengan sentuhan, ia memilih jalan ini. Ya. Ia memantapkan hati. "Kyuhyun. Asal kau tahu saja. Cokelat itu bukan milikku. Tapi Ryeowook. Aku tinggal berdua dengannya."

Melihat Kyuhyun masih berkonsentrasi menyuapinya, ia melanjutkan, "Aku berusaha keras supaya lulus tahun ini, lalu mendapat pekerjaan yang menghasikan banyak uang. Aku belajar mati-matian, bekerja, dan- tentu saja berhemat, meski sampai mengurangi jatah makanku." Ia jadi mendengus sendiri, mengurangi jatah makan apanya! Hela nafas Sungmin mengudara. "Kau… mungkin sama ambisiusnya denganku. Ingin kembali bekerja dan mati-matian mendapat jabatan tinggi di perusahaan. Tapi tidak dengan jalan yang kau ambil. Membunuh Eunhyuk, itu jelas salah, Kyuhyun. Kau tidak bisa selalu membenarkan tindakanmu."

Sedangkan Kyuhyun malah duduk terjongkok di atas sofa. Sudah meletakan garpu juga pisau. Ia mendengar Sungmin berbicara kepadanya, namun matanya memandangi jari-jari kakinya sendiri. Keningnya menyernyit, mendengarkan. Ia tidak mendengar Sungmin dengan baik. Tapi tidak ada yang tahu apa yang ada di otaknya. Juga tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya ia dengarkan. Meski begitu, Sungmin tetap melanjutkan.

"Sebaiknya kita kembali. Karena setelahnya, aku akan menjenguk ibuku." Kyuhyun mengangguk menyetujui Sungmin dengan mudah.

KRING. KRING.

Kyuhyun berbisik, masih memandangi jari-jarinya, "Angkat teleponmu dulu."

Sungmin cukup sabar menerima respons pasif Kyuhyun kali ini. Setidaknya Kyuhyun mendengarkannya dan memikirkan. Ia meraih ponselnya di atas meja, lalu mendapati nama Donghae sebagai ID caller yang tertera. Sungmin sempat menunjuk almari, berniat berbicara dengan Donghae di baliknya. Menunjukan pada Kyuhyun, ponsel sudah ditelinganya. Mulutnya bergerak melafalkan nama Donghae tanpa suara. Kyuhyun cukup terganggu tapi ia mengangguk lagi kali ini. Tidak membutuhkan waktu lama Sungmin kembali. Hanya sepuluh menit. Tapi bagi Kyuhyun sangat lama! Jadi ia juga tidak perlu membuang banyak waktu menanyai lelaki manisnya ini. "Ada perlu apa dia berbicara denganmu sampai sepuluh menit?" tembaknya cepat.

"Hanya basa-basi. Obrolan tak penting bagimu."

Suaranya terdengar aneh. Tapi dengan cepat Kyuhyun membalasnya. "Tak penting dan berbicara selama itu?" ya. Terdengar tajam. Menginterogasi sekali. Sangat Kyuhun sekali.

"Ya Tuhan! Hanya sepuluh menit, Kyuhyun!" tak seharusnya Sungmin terkejut karena ia sudah tahu persis sifat Kyuhyun yang satu ini. Sungmin mengambil nafas lalu mengatur kalimatnya. "Donghae, temanku. Dia sedikit curhat tadi. Dia bilang dia baru ditinggal kekasihnya. Well, aku kasihan, jadi kupikir aku hanya perlu mendengarkannya saja. Donghae juga hanya berkata demikian." Sungmin mengibas-ngibaskan tanyanya. Kali ini Kyuhyun serius mendengarkan Sungmin. "Apa kau berniat menjadi kekasih barunya?" tanyanya, jika Sungmin yang bertanya, harusnya itu terdengar hati-hati.

Lelaki manis itu tertawa mendengarnya, ia menggeleng-geleng sembari memandang Kyuhyun geli. "Tidak, tidak. Tentu saja tidak. Donghae itu hanya sunbaeku di sekolah menengah dulu. Kupikir dia seumuran denganmu. Dan astaga, pacarnya juga seumuran dengannya. Mana mungkin aku!" Sungmin masih mengontrol tawanya, "Apa kau cemburu?" Sungmin bertanya jahil namun ia tetap hati-hati.

Sedangkan Kyuhyun, ia menarik Sungmin kedalam pelukannya. Membuat Sungmin ada di pangkuan Kyuhyun sekarang. Ia berbisik di telinga Sungmin, "Aku belum pernah mendengar kisah seorang dokter yang jatuh cinta pada pasiennya. Tapi kau bukan dokterku, jadi membuat kisah kau menjadi pacarku itu tidak sulit." Sungmin masih bertahan dalam posisi itu. Tentu saja ia cukup terkejut. Ia bisa merasakan Kyuhyun menjilat singkat cuping telinganya. Membuatnya merinding seketika. Ia begidik. Mencerna kalimat Kyuhyun dalam satu waktu. Apa benar dia menyukai Kyuhyun? Beberapa kali ia bekerja kepada siapapaun dan sudah beberapa kali mengadapi berbagai macam dan sifat pasien ia tak pernah sampai berbuat demikian kepada mereka. Jelas sikap dan perlakuannya pada Kyuhyun diluar profesionalitasnya. Ia lebih dari sekedar menggunakan hatinya. Tapi ia memberikannya pada Kyuhyun. Iblis memang menggoda!

.

to be Continued…