Disclaimer : Naruto milik Masashi Kishimoto.

Pairing : ItaFemKyuu, SasuFemNaru, JiraTsuna, KakaAnko dan Lainnya.

Rated : T+

Warning : Jika tidak suka tolong jangan dibaca! Fic ini mengandung unsur Gender Switch, Straight Pair, OOC, OC, typo (s)

Genre : Romance, Comedy dan lainnya.

Note : Dilarang mengcopy keseluruhan ataupun sebagian dari karya tulis saya!

.

.

.

Chapter sebelumnya :

Perlahan suara desingan yang sedari tadi mengganggu pendengaran itu menghilang, lalu setelahnya diikuti dengan berhentinya putaran bola chakra tersebut. Berdegup sekali layaknya jantung, chakra tersebut kemudian membentuk tulang belulang, lalu organ dalam, kemudian urat nadi yang menjalar keseluruh bagian tulang, lalu dengan perlahan tumbuhlah daging yang menutupi tulang belulang beserta isinya.

"Apa-apaan ini." Gumam sang Yondaime Raikage A saat melihat kejadian unik yang baru pertama ia lihat semasa hidupnya.

Setelah proses pembentukan itu selesai, maka terlihatlah seorang gadis berkulit putih dengan rambut jingga panjang tengah memeluk lututnya sendiri sambil terus melayang dalam penjara air milik Kakashi.

.

.

Another Story of Shinobi World

Chapter 2 : Awal dari segalanya

By : TheB1gBoy

.

.

-Selamat Membaca—

.

.

"Loh, bagaimana bisa chakra tadi berubah menjadi sosok wanita seperti ini." Tanya Jiraiya yang entah ditujukan kepada siapa.

"Sudahlah, kita tak punya banyak waktu. Sekarang sebaiknya kita bawa gadis ini kerumah sakit agar bisa diperiksa." Sahut sang istri yang ternyata sedang berjalan kearahnya.

"Mei... bisa kau tolong ambilkan aku selimut tebal yang ada di laci meja itu." Ucap Tsunade ke sang Godaime Mizukage yang tengah berdiri dibelakangnya.

"Oh ya, tentu." Jawab Sang Godaime Mizukage enteng.

Setelah menyerahkan selimut yang diambilnya dilaci lemari kepada Tsunade. Mei lantas berdiri disamping Tsunade dan terus menatap heran kearah sang gadis yang tengah melayang-layang didalam penjara air milik Kakashi.

"Baiklah. Buat kalian yang merasa pria sejati harap tutup matanya karena aku akan mengeluarkan gadis ini dari penjara air milik kakashi." Ucap Tsunade keras agar seluruh orang diruangan tersebut mendengarnya.

"Hei, kakek tua, cepat tutup matamu, kau melihat gadis itu seolah makanan saja." Ucap Jiraiya kepada sang Sandaime Tsuchikage.

"Aku bukanlah pria mesum sepertimu Jiraiya. Dan jaga ucapanmu atau kau akan kuubah menjadi salah satu bagian tembok digedung ini."

"Uhhhh... menakutkan sekali." Balas Jiraiya kembali dengan nada meledek.

Kemudian mereka pun menutup mata mereka secara bersamaan setelah sebelumnya mendapat deathglare gratis dari Tsunade.

"Kau juga. Tutup matamu! Dasar tua-tua keladi." Seru Mei Terumi kepada A sang Yondaime Raikage.

"Baiklah, tapi dengan satu syarat, kau harus berkencan denganku malam ini, bagaimana?"

"Boleh, tapi sebelum itu kulelehkan dulu kelaminmu dengan jutsu lavaku, bagaimana? adil bukan?"

"Oohh... jadi kau seorang Sadomasokis ya Mei," balas A tak mau kalah. "Sepertinya kita memang jodoh. Karena aku juga menyukai hal-hal yang berbau kekerasan." Tambah A sambil menyeringai mesum kearah Mei.

"Ck, sudahlah, aku malas meladenimu." Balas Mei mencoba mengalah, Mei tau jika ia terus melanjutkan debat ini, maka ia hanya akan mendapatkan jawaban mesum dari A dan karena itu Mei mecoba menjadi pihak yang kalah.

Setelah memastikan dan melihat seluruh pria diruangan itu sudah menutup mata mereka, Tsunade segera memerintahkan Kakashi untuk melepas jutsu penjara airnya.

"Kai..." Ucap Kakashi masih dengan posisi mata terpejam.

Kemudian, air yang semula berbentuk bola raksasa itupun pecah ―meleleh― turun kelantai yang diikut oleh tubuh polos wanita berambut jingga yang sejak tadi melayang didalamnya. Dengan cekatan Tsunade dan Mei membopong tubuh wanita itu dan meletakannya diatas kursi panjang tepat di mana Tsunade tadi duduk. Kemudian ia menutupi tubuh polos wanita itu dengan selimut yang ia bawa tadi.

"Cantik sekali." Gumam Mei lirih.

Tsunade hanya mengangguk menyetujui gumaman lirih sang Godaime Mizukage. Tsunade akui bahwa wanita yang sekarang tengah berbaring dihadapanya itu memang terlihat sempurna. Rambut jingganya yang panjang, kulit putih bersih, bulu mata lentik, bibir tipis kemerahan, leher yang jenjang, payudara yang berukuran sedikit diatas rata-rata, walaupun tak sebesar miliknya, namun bentuknya indah layaknya buah melon. Lalu pinggangnya yang ramping, perutnya yang rata dan tentu saja pantatnya yang montok itu bisa saja membuat pria jatuh pingsan karenanya.

"Hallo... Tsunade, apakah sekarang kami boleh membuka mata?" Tanya Jiraiya yang sedari tadi menyadari bahwa ruangan terasa sangat sepi.

"Oh, tentu, maaf tadi aku sedang melamun." Jawab Tsunade cepat setelah tersadar dari lamunannya.

Kemudian semua pria yang berada diruangan itu membuka mata mereka. Semua mata tertuju pada sosok gadis yang tengah tertidur di kursi panjang didekat dinding, menatap dengan seksama makhluk cantik yang tercipta dari segumpal chakra milik Kyuubi. Itachi menyentuh dadanya saat ia merasakan semacam sengatan kecil dihatinya ketika melihat wanita cantik dihadapannya. Ia berjalan mendekati wanita tersebut, tangannya bergerak turun untuk menyentuh pipi si wanita, membuat pipi wanita tersebut bergetar pelan karenannya. Ia terkekeh geli didalam hati saat melihat pipi tembem sang wanita bergetar akibat sentuhannya.

"Cantik." Gumamnya pelan sambil tersenyum. Bahkan karena pelannya gumamman tersebut tak terdengar oleh yang lain.

"Mohon permisi tuan, kami mau membawa wanita ini ke rumah sakit." Panggil pihak medis yang berada disebelahnya. Tersadar dari lamunannya, Itachi pun menyingkir dari hadapan sang wanita.

Dengan cekatan dua orang ninja medis tersebut mengangkat sang wanita dan memindahkannya ke atas brangkar, kemudian membawanya keluar dari ruangan basement tersebut. Itachi menatap kepergian sang gadis dengan senyum penuh arti, mungkin mulai besok ia harus segera mengucapkan selamat tinggal pada hari-hari membosankannya. Ia telah jatuh cinta, jatuh cinta pada pandangan pertama pada sang wanita yang begitu cantik layaknya malaikat yang turun dari surga, dan... oh... jangan lupa, ingatkan ia besok untuk membeli krim wajah yang mampu menghilangkan keriput pada wajahnya. Ia kemarin sempat melihat sponsor krim tersebut muncul ditelevisi saat ia sedang menonton acara lawak dimana Killer Bee yang menjadi host-nya.

"hoii, baka-aniki, kenapa kau senyum-senyum sendiri? kau terlihat seperti orang gila. Kau tidak sedang berfikir macam-macam pada wanita itu, kan?" cerocos Sasuke setelah dirinya berada disamping sang kakak.

"Hmmm... sepertinya aku memang sudah gila Sasuke. Dan aku juga sudah berpikir macam-macam mengenai gadis itu." Balasnya santai sambil tersenyum dengan mata yang tertuju kearah sang gadis yang tengah didorong diatas brangkar.

"APA?" teriak Sasuke terkejut atas jawaban sang kakak yang ternyata membenarkan semua dugaannya. Kemudian ia menggeleng heran. "Inilah akibatnya kalau kau telalu sering bergaul dengan kakek Jiraiya-mesum itu."

"Ck. Sudahlah kau diam saja. Kau hanya perlu membantuku untuk mendapatkannya atau r-a-h-a-s-i-a-mu yang selama ini kau simpan rapat akan kubongkar didepan umum."

"Apa maksudmu? dan rahasia apa yang kau tau mengenai diriku?" tanya sasuke kembali dengan wajah ketakutan yang hanya bisa ia tunjukan dihadapan sesama Uchiha.

Itachi mendekat kearah Sasuke, kemudian menatap dalam mata sang adik, saling pandang dengan penuh tanda tanya, lalu ia pun berbisik pelan kepada sang adik.

"Aku tau alasan kenapa kau menolak semua wanita cantik disekitarmu," bisik Itachi pelan memberi jeda untuk kalimat pamungkasnya. "Kau menyukai... tidak, tidak, tapi mencintai sahabatmu sendiri yang bernama...,"

"Uzumaki Naruto." Ucap Itachi kemudian yang membuat mulut Sasuke terbuka serta mata membelalak terkejut atas perkataan sang kakak.

"B-b-bagaimana kau..."

"Sudahlah adikku yang memiliki kelainan, kau tak perlu tau bagaimana cara aku mengetahuinya. Yang perlu kau tau hanya satu hal, yaitu segera datang ketempatku saat aku membutuhkan bantuanmu." Jawab Itachi sambil menepuk pelan pundak sang adik. Ia kemudian segera berjalan menuju pintu keluar basement, meninggalkan sang adik yang masih membeku akibat perkataaanya.

"Kau... kau...,"

"KAU PASTI MENGGUNAKAN GENJUTSU-MU PADAKU KAN BAKA-HENTAAAIIII-ANIKIIIIIIII." Teriak Sasuke sekeras-kerasnya kepada sang kakak yang tengah santainya berjalan menuju pintu keluar basement.

"HUAHAHAHAHAHA." Tawa Itachi keras akibat mendengarkan teriakan frustasi sang adik.

"KAU MEMANG BRENGSEK BAKA-HENTAAAIIII-ANIKIII." Sasuke kembali berteriak setelah ia mendengar tawa kemenangan sang kakak.

"Ck, baiklah, aku akan menurut padamu untuk sekarang aniki. Tapi lihat saja nanti, aku pasti akan membalasmu." Gumam Sasuke pelan disertai seringan seram diwajahnya.

"HOOII... Teme,kau kenapa senyam-senyum gak jelas begitu, mana senyummu itu menyeramkan lagi." Ucap Naruto yang ternyata sudah berdiri disebelah Sasuke.

"Ck. kau mau membuatku jantungan dobe. Sejak kapan kau berdiri disitu? apa sudah dari tadi?" Tanya Sasuke pada Naruto, ia sedikit merasa takut kalau-kalau ternyata Naruto mendengar semua pembicaraannya dengan baka-hentai-anikinya.

"Oh tidak, aku baru saja berada disini. Aku menghampirimu saat aku mendengar kau berteriak ketika aku sedang memakai kembali pakaianku."

"Ck, sudahlah lupakan saja," balas Sasuke mencoba mengalihkan perhatian Naruto. "Jadi, apa kau lapar? aku mau pergi kekedai ramen Ichiraku, kau mau ikut atau tidak?"

"Ramen? bukannya kau tak suka makan ramen. Biasanya kau cuma mau makan sup tomat dikedai keluarga Akamichi."

"Kau ini cerewet seperti wanita Dobe. Jadi, kau mau ikut atau tidak? kalau tidak sebaiknya aku pergi sendiri saja."

"Hehehe... jangan marah dong Sasuke. Aku kan aku cuma tanya," jawab Naruto sambil menggaruk belakang kepalanya. "Tapi sepertinya aku tak bisa ikut, Sasuke. Aku harus kerumah orangtua Sakura untuk melihat anakku, sudah seminggu aku tak melihatnya."

"Baiklah... kalau begitu, sampaikan saja salamku pada kedua orangtua sakura dan ciumkan untukku pipi kiri-kanan Shinachiku." Ucap Sasuke sambil tersenyum tipis kepada Naruto.

"Hahaha... baiklah, aku akan melakukan semuanya." Jawab Naruto sambil berlalu menjauh dari Sasuke. "Oh ya... Sasuke, jangan lupa nanti malam kerumahku. Aku sudah mengajak Kiba dan Lee untuk tanding game bola ditempatku."

Tersenyum tipis melihat kelakuan sahabatnya itu, kemudian Sasuke berjalan bergegas meninggalkan ruangan itu, mengingat hanya dirinya sendirilah yang tersisa disana. Semua orang kecuali dirinya dan Naruto dari tadi sudah pergi untuk mengikuti wanita berambut jingga itu kerumah sakit. Mungkin ia juga akan kesana, tapi setelah ia mengisi perutnya terlebih dahulu, dan mungkin rencana makan di kedai paman Teuchi pun akan ia batalkan, mengingat Naruto yang tak jadi ikut dengannya.

"Sepertinya sup tomat dikedai keluarga Akamichi menjadi pilihan yang tepat sekarang." Gumamnya lirih disertai helaan nafas panjang.

Sementara itu dirumah sakit Konoha, terlihat beberapa pria sedang berdiri didepan sebuah pintu ruang operasi.

"Sekarang apa yang akan kita lakukan?" tanya Kakashi kepada seluruh pria yang berada disana.

"Ntahlah, mungkin sambil menunggu, kita bisa mencoba menerka-nerka berapa lama lagi umur Onoki." Celetuk Jiraiya sambil mengerakkan bahunya.

"Enam bulan lagi. Dan aku bertaruh satu juta Ryo untuk itu." Sahut A sambil melipat tangannya didepan dada.

"Baiklah, lalu kau, Kakashi. Apa kau tak ingin bertaruh?" tanya Jiraiya kepada Kakasih.

"Rupanya kalian semua sudah bosan hidup ya." Jawab Onoki tanpa membiarkan Kakashi membuka suara. "Baiklah, aku akan membuat kalian semua mati, dan kau Jiraiya, sepertinya kau akan mati sebelum bertemu anak ke-duamu."

"Hahahaha... senang sekali bisa menggodamu Onoki." Kata Jiraiya tanpa peduli pada ancaman bohong sang Sandaime Tsuchikage.

"Haaaaa... dasar orang-orang tua tak tau diri. Sudah tua tapi sifatnya seperti bocah saja." Kata Gaara menghentikan tawa Jiraiya.

"Sudahlah... Gaara, jangan hiraukan mereka. Mereka semua itu mencoba menghibur diri karena umur mereka tinggal sebentar lagi." Sahut Itachi yang berada disebelah Gaara.

"HEII. JAGA MULUTMU. BOCAH!" Seru serempak empat orang dewasa dihadapannya.

Tanpa peduli dengan teriakkan amarah empat orang tua dihadapannya, Itachi kembali menatap pintu ruang operasi sambil terus mencoba menerka-nerka apa yang sedang terjadi didalam.

"Apa kalian menemukan sesuatu? Tsunade... Shizune?" tanya Mei kepada dua orang dihadapannya yang tengah sibuk memeriksa tubuh wanita berambut jingga itu.

"Ntahlah, aku pun tak tau apa yang harus kami lakukan. Tubuh ini normal-normal saja, semua organ dalamnya lengkap, hanya saja... chakranya sama seperti chakra si ekor sembilan." Jawab Tsunade sambil terus melihat layar monitor yang memperlihatkan ogran dalam si wanita berambut jingga.

"Jadi... maksudmu, wanita ini adalah bentuk lain dari Kyuubi?"

Tak mengeluarkan sepatah kata pun, Tsunade hanya menjawab pertanyaan Mei dengan anggukkan. Kemudian ia kembali berjalan kearah Shizune yang tengah memeriksa tubuh si wanita berambut jingga.

"Shizune, aku titipkan gadis ini dibawah pengawasanmu. Hubungi aku saat ia sudah siuman."

"Tentu, Tsunade-sama, aku akan menjaganya dengan baik."

"Hmm... bagus," Ucap Tsunade sambil menepuk pelan bahu Shizune.

"Ayo Mei, sebaiknya kita keluar saja. Sudah dua jam kita diruangan ini."

Menundukan kepala tanda setuju, kemudian Mei pun mengikuti Tsunade keluar ruangan. Diluar ruangan terlihat enam orang pria berbeda usia tengah berdebat sesuatu yang tak penting. Tsunade dan Mei yang melihatnya hanya bisa geleng-geleng kepala karena heran dengan kelakuan kekanak-kanakkan enam orang pria tersebut.

"Ck. Bisa kalian semua berhenti. Kalian itu sudah tua, janganlah betingkah seperti anak kecil." Kata Tsunade kepada seluruh pria dihadapannya.

Lantas ke-enam pria tersebut pun terdiam. Itachi segera berjalan kearah Tsunade untuk bertanya apa saja yang terjadi didalam ruangan operasi tadi.

"Nenek Tsunade, apa yang terjadi? Dan siapa wanita tadi? Kenapa dia bisa muncul dari chakra Kyuubi?" tanya Itachi kepada Tsunade layaknya mengintrogasi penjahat.

"Tidak terjadi apa-apa, wanita tadi baik-baik saja, dia adalah wujud baru dari Kyuubi." Jawab Tsunade dengan tenang.

"Loh, bagaimana bisa sekumpulan chakra berubah menjadi manusia, mana wujudnya wanita lagi." Celetuk Gaara yang masih binggung atas pernyataan Tsunade.

"Kemungkinan karena serbuk tanduk Kaguya Ootsuki. Chakra Kyuubi yang ternyata mampu ber-sinkronasi dengan serbuk, membuat serbuk tumbuh dan mengikat setiap chakra hingga membentuk tubuh si wanita itu." Balas Tsunade atas kebinggungan Gaara. "sudahlah tak perlu dibahas lagi, apapun alasannya... sekarang Kyuubi sudah berubah menjadi seorang wanita normal."

"Baiklah, sebaiknya kita kembali kekantor, masih ada urusan mengenai Akatsuki yang mesti kita bahas." Kata Jiraiya kepada semua orang disana. "Dan kau Tsunade, sebaiknya kau pulang saja. Biar aku, A, Onoki, dan Mei saja yang kembali kekantor."

"Tak bisa! Aku juga salah satu anggota dewan di PDN, aku harus tau apa yang sedang terjadi didunia ninja."

"Tak ada alasan Tsunade! Apa kau mau aku yang menggendongmu pulang kerumah?"

"Baiklah, baiklah, aku akan pulang sendiri, tapi kau harus berjanji menceritakan semua hasil rapat nanti."

"Baiklah, aku berjanji akan menceritakan semuanya." Jawab jiraiya lembut sambil mengecup pelan bibir sang istri.

"Hei. Mesum. Bisa kau lanjutkan nanti malam saja, sekarang kita masih punya banyak urusan." Celetuk Onoki saat ia melihat Jiraiya tengah melumat bibir Tsunade.

"Ck. Dasar kakek tua penggangu." Gumamnya pelan setelah melepas ciumannya pada sang istri.

"Aku pergi dulu, sayang. Istirahatkan dirimu baik-baik, aku akan pulang sebelum makan malam." Ucapnya lembut sambil terus membelai pipi sang istri.

"Hm, baiklah, hati-hati dijalan." Balas Tsunade sambil tersenyum serta memegang tangan sang suami yang sedang mengelus pipinya.

Tersenyum tipis, Jiraiya lalu melangkahkan kakinya menjauh dari sang istri. Sementara Jiraiya dan para mantan kage lainnya pergi kembali kekantor PDN, Kakashi memutuskan untuk kembali kekantor Hokage untuk menyelesaikan pekerjaannya. Kini yang tersisa hanya Gaara dan Itachi saja, mereka berdua sedang menunggu kedatangan Naruto dan Sasuke.

"Apa kau tak punya pekerjaan yang mesti kau selesaikan, Kazekage?" Kata Itachi memncoba memulai obrolan.

"Tidak ada, aku selalu menyelesaikan pekerjaanku tepat waktu."

"Baguslah, kalau begitu."

Lima belas menit setelah obrolan singkat itu, muncullah pemuda berambut kuning cerah dari arah pintu masuk rumah sakit. Sambil melemparkan senyumnya kearah Gaara dan Itachi, Naruto langsung bergegas berjalan menuju ke-duanya.

"Apa yang terjadi? Apa nenek Tsunade sudah tau siapa wanita itu?" tanya Naruto setibanya ia disamping Gaara.

"nenek Tsunade bilang, bahwa wanita itu adalah wujud baru dari Kyuubi." Celetuk Itachi santai.

"Oh, begitu, sekarang bagaimana keadaannya, Itachi-nii?"

"Dia baik-baik saja, Naruto. Kita hanya perlu menunggunya siuman saja."

"Oh, baguslah. Ngomong-ngomong dimana Sasuke? aku tak melihatnya dari tadi."

"Ck. Kenapa hanya Sasuke sih yang ada dikepalamu, daripada kau mengurusi orang yang tak tentu keberadaannya, lebih baik kau periksakan dirimu bersama Shizune. Kau terlihat kesakitan tadi." Celetuk Gaara dengan nada dingin.

"Oh... ayolah, kenapa sekarang kau ikut-ikutan sifat Sasuke sih. Aku ini tangguh, kesakitan seperti itu adalah hal yang biasa bagiku."

"Haaa... terserah kau sajalah."

Beberapa menit kemudian Sasuke pun muncul dari pintu masuk rumah sakit. Wajahnya tampak segar, setelah ia menghabiskan tiga mangkuk sup tomat dikedai Akamichi.

"Apa yang terjadi?" tanya Sasuke saat melihat ketiga orang didepannya dari tadi hanya memandangi pintu ruang operasi.

"Tidak ada apa-apa, kami hanya menunggu wanita berambut jingga itu bangun." Jawab Naruto sambil memandangi Sasuke.

"Oh..." balas sasuke sambil menganggukkan kepalanya.

"Naruto, aku pulang dulu, ada pekerjaan yang harus aku selesaikan." Ucap gara sambil berdiri dari tempat duduknya.

"Ah... baiklah, sampaikan salamku pada Matsuri ya. Bilang padanya, kapan-kapan mainlah ke Konoha lagi."

"Tentu, aku akan menyampaikan salammu." Ucap Gaara sambil tersenyum tipis kearah naruto. "kalau begitu aku permisi dulu, Itachi... Sasuke."

Gaara berjalan menuju pintu keluar rumah sakit. Namun saat ia melewati Sasuke, ia menatap Sasuke dengan mata yang penuh amarah. Tak ada yang melihat tatapan sekilas Gaara, hanya Sasuke saja yang melihat dan membalas tatapan tersebut dengan tatapan dingin yang mematikan. Entah apa yang terjadi kepada mereka berdua, tak ada yang tau terkecuali mereka berdua dan tentu saja Tuhan.

'Bukannya tadi Gaara bilang dia tak ada pekerjaan lagi, tapi kenapa sekarang dia bilang ada pekerjaan? Atau jangan-jangan dia juga menyukai Naruto? Sehingga ia tak suka melihat kedekatan antara Sasuke dan Naruto dan memutuskan untuk pergi saja?' Gumam Itachi dalam hati sambil melihat kepergian Gaara.

"Ck. tak kusangka banyak orang abnormal yang berada disekitar Naruto." Lanjut Itachi pelan sambil menggelengkan kepala tanda heran. Tak perduli walaupun salah satu orang abnormal itu adalah sang adik.

Waktu menunjukan pukul empat sore, saat Shizune keluar dari ruang operasi. Shizune lalu memanggil Naruto untuk memberitahunya bahwa wanita berambut jingga sudah siuman. Dengan cepat Naruto langsung masuk keruang operasi, kemudian menundukan dirinya dikursi samping tempat tidur wanita berambut jingga itu.

"Hai, bocah, apa kabarmu? Sudah lama aku tak melihat dirimu." Kata Kyuubi sambil memiringkan kepala kekiri menatap Naruto.

"Aku baik-baik saja Kurama. Banyak yang terjadi saat kau memutuskan untuk melakukan tidur-panjang. Aku berhasil menikahi Sakura, kami sudah memiliki satu anak. Anak yang lucu dan menggemaskan bernama Shinachiku." Jawab Naruto sambil menahan air matanya yang siap keluar tatkala ia mengingat kembali mendiang sang istri.

"Wah, kalau begitu, aku ucapkan selamat kepadamu Naruto," balas Kurama sambil tersenyum lebut kepada Naruto. "Lalu, dimana Sakura sekarang, aku juga ingin mengucapkan selamat kepadanya."

"Dia sudah meninggal tiga bulan yang lalu, Kurama."

"Maaf, aku tak tau, Naruto."

"Sudahlah, tak apa, ini semua sudah takdir tuhan," Ucap Naruto mencoba tegar. "Oh ya, bagaimana keadaanmu, apa kau nyaman dengan tubuh barumu, Kurama?"

"Lumayan nyaman, aku tak pernah berpikir akan berakhir seperti ini. Aku pikir... aku akan selama-lamanya menjadi Biju." Kata Kurama sambil melihat sekujur tubuhnya. "Dan Naruto, jangan panggil aku Kurama lagi. Panggil saja aku Kyuubi, kurasa dengan wujud seperti ini... nama itu terdengar jauh lebih baik untukku."

Naruto terkekeh geli mendengar ucapan mantan Biju-nya itu, ia lalu berkata, "Sepertinya kau benar Kyuu-nee-chan."

"Kyuu-nee saja, jangan pake chan. Umurku ini sudah ratusan tahun, aku tak pelu embel-embel manja seperti itu."

"Baiklah Kyuu-nee. Sekarang hubungan kita bukan lagi sebatas Biju dan Jinchuriki-nya, melainkan sebuah keluarga, aku menganggapmu sebagai kakakku dan kau... anggap saja aku sebagai adikmu." Ucap Naruto sambil tersenyum lebar kearah Kyuubi. "Nama lengkapmu sekarang adalah Uzumaki Kyuubi, bagaimana? Kau suka?"

"Hmm... ya, aku suka." Jawab Kyuubi tersenyum sambil menganggukan kepalanya beberapa kali.

"Baiklah, kalau begitu aku pamit dulu, Kyuu-nee. Aku harus segera pulang. Aku ada janji dengan teman-temanku malam ini."

"Ah... tentu, hati-hatilah dijalan."

Naruto mengangguk pelan kepada Kyuubi. Ia lalu melangkahkan kakinya kepintu keluar ruang operasi. Saat tangannya menyentuh grendel pintu, Kyuubi kembali memanggilnya. Lalu Kyuubi berkata, "Naruto. Aku lupa bilang padamu. Besok bawakan aku ramen miso pedas ya, aku selalu ingin mencoba makanan favoritmu itu."

"Baiklah, Kyuu-nee. Besok jam sembilan pagi aku akan datang kembali kesini sambil membawa ramen miso pedas untukmu." Sahut Naruto didekat pintu keluar.

Setelah keluar dari ruang operasi Kyuubi, naruto lalu menatap Itachi dan Sasuke secara bersamaan.

"Itachi-nii dan Sasuke, apa kalian juga ingin masuk?" Tanya naruto kepada dua kakak-beradik itu.

"Tidak, tubuhku capek, aku mau langsung pulang saja." Jawab Sasuke Santai.

"Ha!... lantas kenapa kau datang kesini tadi, seharusnya kau tak datang kesini kalau kau merasa capek. Kau ini bodoh atau apa sih?"

Untuk sesaat ia merasa heran dengan tingkah laku temannya itu. Sasuke bilang ia lelah, tapi kenapa juga ia mau menunggu Naruto selama itu. ―mengangkat bahunya acuh― Naruto tak mau ambil pusing atas tingkah laku aneh sahabatnya itu.

"Kau ini cerewet sekali Dobe. Jangan sampai mulutmu kubekap dengan sapu tanganku, lalu kau...," Ucapan Sasuke terpotong oleh celetukan Itachi.

"...kubawa keapartemenku, kemudian akan kujadikan pasangan sehidup-sematiku." Celetuk Itachi dengan nada mengejek yang dibuat-buat. "Jangan Sasuke, jangan pernah berpikir untuk melakukannya. Kau tak maukan Naruto mengetahui tantang kelainanmu."

Gigi Sasuke bergemelutuk, kedua tanganya terkepal erat, matanya menatap tajam sang kakak. "Tutup mulutmu baka-hentai-aniki, sebelum aku merobek-robeknya dengan Katana-ku ini."

"Hahaha... aku cuma bercanda kok Sasuke, aku tak akan membongkar rahasiamu, asal kau menuruti semua perkataanku." Ucap Itachi sambil memeluk leher adiknya dari samping.

"Ck. Kalian berdua ini membicarakan apa sih? Kalau bukan hal yang penting sebaiknya kita segera pulang Sasuke, aku ingin membeli cemilan untuk nanti malam dulu di supermarket." Celetuk Naruto heran dengan omongan kakak-beradik Uchiha dihadapannya.

"Hn." Gumam Sasuke sambil melepas rangkulan sang kakak.

"Tunggu sebentar Naruto, aku ingin menanyakan sesuatu padamu. Apa yang tadi kalian bicarakan didalam? Aku harus mengetahui semuanya. Sebab, nanti aku harus melaporkannya kepada nenek Tsunade." Dusta Itachi kepada Naruto.

"Oh... tak ada hal penting yang kami bicarakan, aku hanya memberinya nama. Dan... oh ya, tadi dia meminta untuk dibawakan ramen miso pedas besok, katanya ia sangat ingin mencoba makanan itu."

"Nama? Kau memberinya nama apa Naruto?."

"Aku menamainya Uzumaki Kyuubi dan dia bilang ia sangat senang dengan nama itu."

"Oh... baiklah kalau begitu, kalian berdua boleh pergi." Seru Itachi sambil berjalan keluar dari rumah sakit. Sepertinya ia besok harus bangun pagi-pagi sekali. Sebab ia harus kerumah sakit dahulu sebelum berangkat ketempat kerjanya. Menyapa sang wanita pujaan bukanlah hal yang buruk untuk dilakukan sebelum ia memulai aktifitasnya esok.

.

.

-To Be Continued-

.

.

Author Note :

Saya Kembali... :D

Silahkan dibaca chapter terbaru dari cerita gaje saya ini, saya harap reader pada suka...heheh

Dan saya harap reader gak kebingungan dengan cerita saya :D

Pengalaman pertama jadi author ternyata seru juga, apalagi pas baca-baca review dari reader semua, jadi makin semangat saya buat update ceritanya dan terima kasih buat reader semua yang udah mau meluangkan waktu untuk ngebaca dan nge-review serta mem-follow dan mem-favoritin cerita saya yang super gaje ini. Sekali lagi terima kasih yang sebesar-besarnya, dukungan kalian benar-benar bearti buat saya. :)

Oh iya, buat balasan review yang pake akun langsung aku balas lewat PM ya, sedangkan yang gk pake akun aku balas dibawah.

Itakun : terima kasih ya buat reviewnya, ini sudah dilanjut, semoga kamu suka :)

Nitasyanur : thanks buat reviewnya, sorry ya kalau updatenya kelamaan :)

Fuchan : thanks reviewnya, semoga chapter ini bisa menghilangkan sedikit rasa penasaran kamu ya :) dan maaf kalau updatenya kelamaan.

Super siscon : thanks untuk reviewnya ya :) disini umur sasuke dan naruto 25 tahun, soalnya saya asumsikan bahwa umur naruto masih 16 tahun saat selesai perang shinobi keempat, jikalau salah tolong koreksinya nanti saya perbaiki :D

Guest : thank you reviewnya :) dichapter ini yang baru dijelaskan adalah perubahan kyuubi sedangkan tentang perubahan naruto nanti akan terbongkar sesuai alur certia :D

Unknown : thanks reviewnya, ini sudah dilanjut, silahkan dibaca :D

Sekian Author Note untuk chapter ini, jika suka dengan cerita saya silahkan vote, follow, komen dan sebagainya... :)

Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya...bye :D