A/N: Sorry for long update. Just came back from business trip. Hope you enjoy this chapter. Happy reading:))
I own nothing, Madam Rowling has unless some characters you didn't know
Chapter 2
Pancake yang semulanya menggugah selera seketika berubah menjadi seperti tumpukan terigu yang terbalut dengan susu dan telur saja tanpa makna. Ia hanya menghela napas sejenak sebelum kembali menyesap minuman paginya untuk selanjutnya mengantarkan Elle ke sekolahnya.
Baru saja bayangan puteri semata wayangnya itu lenyap dari tatapannya, Hermione langsung memacu sedannya menuju kantor tempat ia bekerja. Dalam hati ia terus berdoa agar kemacetan ala New York tak terjadi pagi ini. Kekhawatirannya bukan disebabkan oleh somasi oleh seorang senator yang merasa terusik kehidupan pribadinya karena ketahuan menyelewengkan dana, namun karena Chris. Ia merasa bersalah pada pria itu. Hermione tahu bila terjadi satu masalah pada departemennya, Chris akan menjadi tameng dari segalanya. Sangat disayangkan doa paginya kali ini tak dikabulkan karena Manhattan macet total. Suara keras dari klakson taksi kuning di jalanan ini bahkan terdengar olehnya sangat jelas di dalam mobil. Ia terjebak di jalan itu satu jam lamanya sebelum berhasil menghambur masuk ke kantornya. Bahkan lift terasa bergerak sangat lama saat ini.
Sosok yang ia dapati pertama kali saat memasuki lantai itu adalah Daniela yang tengah menatapnya pongo dengan dua gelas kopi di tangannya. "Pagi, Maam," sapanya lalu memberikan gelas itu kepada wanita yang terlihat belum sanggup mengendalikan napasnya.
Diterimanya gelas itu dengan senang hati lalu menatapnya sesaat. "Chris?" tanyanya.
"Apakah ia sudah datang?" tanya Hermione yang berjalan bersamanya ke ruangannya.
Ia mengangguk. "Bahkan ia sekarang tengah bersama Jane di ruang rapat."
Hermione tak dapat menutupi keterkejutannya. "Apa yang kau katakan tadi? Dia bersama Jane?"
Kembali Daniela mengangguk. "Apa yang ia lakukan sepagi ini?"
Daniela tersenyum sarkastik kepadaku. "Kantor kita disomasi pagi ini. Kau tak melupakan hal itu, bukan?"
"Aku tahu, tapi ini hal yang biasa bagi sebuah kantor berita," balasnya kesal seketika bila harus membayangkan Jane yang sekarang tengah berbicara dengan Chris.
Jane Ellys adalah CEO dari New York News Channel dan salah satu manusia yang tak pernah disukai Hermione dalam hidupnya. Ia tak memasalahkan wangi parfum yang menyengak dari dirinya yang akan tercium dalam radius 500 meter itu serta rambut sasakan tingginya yang selalu mengganggu pemandangan, namun karena sifat angkuh dan memandang sebelah matanya pada karyawan yang membuat Hermione mual seketika saat melihatnya.
"Hal ini menjadi sangat tak biasa karena Hunt adalah rekan bisnis Yang Mulia Jane Ellys dan salah satu investor di perusahaan tempat kau mencari nafkah, Nyonya Granger," ujar Daniela dengan gaya yang sangat menjengkelkan.
Beberapa saat kemudian, Daniela menghambur keluar dari ruangan itu untuk kembali ke pekerjaannya. Kubikel terlihat sangat sibuk di luar sana. Para pembuat berita itu berlalu lalang untuk saling bekerja sama menyiapkan berita yang akan disajikan. Suara telepn yang saling berdering satu sama lain seperti menjadi latar musiknya. Hermione mengambil smartphone-nya dan mengirim e-mail kepada Chris. Dalam hitungan detik pesan itu sudah mendapatkan balasan.
Aku sudah berada di ruanganku sekarang.
Bergegas wanita berambut cokelat itu keluar dari ruangannya menuju ruangan Chris. Chris sedang duduk di balik mejanya dengan selembar kertas di tangannya. Wajah kusut yang dibayangkan Hermione saat berjalan kesini tak ditemuinya. Chris tampak sangat biasa tanpa ada raut kesal atau marah atau frustrasi di wajahnya. "Hey," sapa Hermione.
"Hey," balas pria itu lalu meletakkan kertas yang tadi ia baca.
Hermione masih berdiri di hadapannya saat memulai celotehannya. "Apa yang dilakukan Jane padamu? Kenapa dia harus langsung turun tangan? Ini hanya kasus somasi biasa, bukan?"
Chris hanya mencebik. "Selamat pagi juga, Hermione," sindirnya.
"Ini bukan waktu yang tepat untuk saling sapa manja , Chris," balas Hermione kesal.
"Setidaknya bersimpatilah kepadaku yang baru saja mendengar ceramahan panjang lebar dari Yang Mulia Jane Ellys itu."
Mau tak mau Hermione tertawa mendengar candaan Chris. Yang Mulia Jane Ellys adalah sebutan mereka untuk CEO perusahaan ini.
"Jadi apa yang akan kita lakukan?" tanya Hermione yang mengambil tempat duduk di hadapannya.
Chris menggeleng. "Pihak kita akan mengajukan permohonan maaf."
"Chris."
Hermione tak percaya dengan apa yang didengarnya. Meminta maaf. Hal itu sama saja menyatakan bahwa mereka bersalah dan berita itu tak benar adanya. "Kau bercanda, bukan? Hal itu tak mungkin kita lakukan."
"Hermione."
"Tunggu dengarkan aku. Kita meminta maaf bila apabila yang kita beritakan tak benar adanya, tapi ini tidak Chris. Hal ini fakta dan aku punya sumbernya. Kita tak bisa melakukan itu. Bagaimana dengan kepercayaan masyarakat? Kau mau para penonton meninggalkan kita karena berpikir bahwa kita tak dapat dipercaya."
Chris hanya duduk tenang di hadapannya. Pengalaman bekerjasama dengan Hermione beberapa tahun belakanagan ini membuatnya tahu bahwa tak ada yang bisa ia lakukan untuk menghadapi Hermione Granger yang tengah dikuasai emosi.
"Sudah selesai?" tanya Chris sementara Hermione hanya menghela napas karena aksi berbicara tanpa putusnya tadi.
Chris menyodorkan gelas kopinya dan mengangkat sebelah alisnya. "Kau butuh minum?"
"Berhenti bercanda, Christian Alonso."
Chris tertawa. "Kau terdengar seperti ibuku."
Hermione hanya melotot melihat atasannya yang masih bercanda di saat seperti ini. "Lalu apa yang harus aku lakukan terhadap ini?" Chris mengangkat kertas yang ada di hadapannya itu.
"Kau dapat.."
Chris mengangkat tangannya. "Kali ini giliranku yang berbicara, Hermione Granger."
Hermione langsung mengunci mulutnya. "Hunt orang yang berpengaruh bagi hampir semua usaha Jane dan aku tak mau kau beserta timmu dikorbankan karena kasus ini."
"Korbankan?" tanya Hermione dengan kerutan di alisnya.
"Dipecat."
Hermione mengangguk. "Jadi, bagaimana menurutmu?"
Kembali Hermione menghela napas. "Kita bisa melakukan sesuai prosedur. Menunggu perkembangannya dan melakukan mediasi."
"Bila tak berhasil dan kasus ini merambat ke jalur hukum?" kali ini Chris mengungkapkannya dengan sangat serius.
"Perusahaan ini punya legal hukum."
"Bagaimana jika kita kalah?"
"Kalah tak ada di dalam kamus hidupku."
Ia hanya mengangguk-angguk. "Kau tak membantahku?" tanya wanita ini penasaran.
"Tak ada gunanya."
Hermione tertawa dan keluar dari ruangan itu untuk melanjutkan perkerjaannya.
000
Hari demi hari berganti dan sepertinya Senator Hunt telah melupakan kekesalannya pada berita yang dirilis oleh NYNC lalu. Seluruh tim news yang dipimpin oleh Hermione bekerja dengan sangat baik tanpa satu gangguan apapun sampai sebuah surat panggilan melayang ke kantor Chris pagi ini.
"Dia menuntut kita secara hukum?" tanya Hermione yang tak percaya pada kenyataan yang tengah dihadapinya.
Bertahun-tahun ia bekerja di industri ini tak ada satupun tuntutan hukum yang menghampirinya. Apa yang sebenarnya dipikirkan politisi itu? Seseorang menuntut seseorang bila orang itu melakukan kesalahan kepadanya, tapi hal itu tidak dirasakan oleh Hermione. Ia tak sekalipun merasa melakukan hal yang salah kepada senator itu. Hal itu akan menjadi salah bila yang diberitakannya adalah rekaan atau fitnah, namun kenyataannya hal ini adalah fakta.
"Duduklah," ujar Chris yang terlihat kusut sedari tadi.
Mendengar permintaan atasannya, Hermione mengambil tempat di sofa pojok ruangan ini. Sudah entah berapa kali Chris membaca surat dari panggilan dari kantor jaksa wilayah mengenai kasus ini. Wajahnya sekusut benang yang terlilit di mesin pintal dan dasinya sudah tak lagi terpasang dengan sempurna padahal waktu baru menunjukkan pukul dua siang.
"Kau mau kopi?" ujar Hermione menawari Chris yang benar-benar terlihat kacau.
Chris menaikkan kepalanya untuk menatap EP-nya sejenak. "Apa aku terlihat seperti butuh kopi?"
Hermione mengangguk dan Chris mengedikkan bahunya. Dia langsung menekan tombol intercom di pesawat teleponnya dan memesan dua latte untuk dirinya dan Hermione. "Lalu apa yang akan kita lakukan?" tanya wanita itu.
"Mendatangi panggilan dan mengatur strategi dengan kuasa hukum kita."
Wanita berambut cokelat itu mengangguk. "Kapan panggilan pertama dari kejaksaan?"
Chris kembali memandang kertas yang berada di hadapannya. "Tiga hari lagi."
"Kita masih memiliki beberapa hari untuk mengumpulkan bukti."
"Yaa, beberapa hari."
000
Draco berada di ruang meeting firma hukum dimana ia bernaung. Bukan untuk bertemu klien hanya untuk mempelajari kasusnya kembali. Besok ia harus kembali ke persidangan. Hal yang menjadi sangat rutin baginya. Berada di kantor dengan segudang kasus, bertemu dengan klien baik di kantor atau di balik jeruji besi, sampai berakhir di pengadilan, dan menghabiskan malam di akhir pekan dengan Elle.
Hannah Pierce menatap atasannya dari kejauhan sambil memastikan bahwa saat ini adalah saat yang tepat untuk mengganggunya. Dua tahun menjadi asistennya, ia tahu betul bagiamana watak dari seorang Draco Malfoy. Dia akan mengeluarkan jurus mata dinginnya dan mengusir Hannah tanpa berbasa-basi.
"Tuan Malfoy."
Draco menengadah setelah membereskan berkas kasus di hadapanya. Ia hanya mengangguk sambil menjepit kertas-kertas itu dengan penjepit kertas lalu memasukkannya ke dalam tempat semula.
"Aku hanya ingin mengingatkan bulan depan Eloise akan berulang tahun."
Tangan Draco terhenti sejenak kemudian melanjutkan apa yang tadi sedang ia lakukan. "Lalu?"
"Apa yang harus kusiapkan?" Hannah berbalik tanya.
Mata Draco mengerling sambil berpikir, namun ia belum memiliki ide untuk ulang tahun kelima puterinya itu. Elle memiliki segalanya. Apapun yang ia inginkan, ia dan Hermione tak akan segan untuk mewujudkannya, begitupula dengan paman dan bibinya. Blaise, Theo, Harry, Ginny, dan Ronald Weasley. Bahkan bila Elle meminta dibuatkan istana pasir setinggi gedung Empire State pasti akan mereka lakukan. "Aku akan mengabarimu secepatnya, tetap tulis di reminder agar aku mengingatnya."
Hannah menangguk. "Tuan Malfoy."
"Ada berkas baru yang masuk dan kau dijadwalkan untuk bertemu dengan mereka besok setelah selesai persidangan."
Draco Malfoy berdiri. "Setelah persidangan?" tanyanya yang disambut dengan anggukan oleh Hannah yang entah kesekian kalinya.
"Disini?"
"Di kantor mereka."
Tanpa ada kalimat menolak atau menerima dari dirinya, Draco keluar dari ruangan itu begitu saja.
000
Untuk sejenak Hermione dapat bernapas lega dengan Ginny dan Harry yang bersedia dengan sukarela menjaga Elle selama beberapa hari ini. Pekerjaan serta tuntutan hukum yang dihadapinya hampir sanggup menguras kewarasannya.
Hermione berada di aquarium room bersama dengan timnya saat salah satu koleganya mengatakan bahwa Chris memanggilnya ke ruangan. Rapat yang membahas outline dari berita nanti malam terpaksa ia tinggalkan dan dilanjutkan oleh Daniela. Langkahya sengaja dipercepat karena ia tahu bahwa kuasa hukum mereka tengah menunggu di ruangan Chris. Langkah yang cepat tadi terhenti di depan pintu saat mendengar tawa dari dalamnya. Kemudian ia langsung mengetuk sebagai formalitas dan masuk. Kali ini bukan hanya langkahnya yang terhenti namun napasnya. Napasnya tercekat dan matanya membelalak. Ia tak mampu menutupi keterkejutannya. Bukan karena ia telah lama tak berjumpa dengan orang ini, tapi lebih tepatnya ia tak berekspektasi bahwa orang ini yang akan membantunya untuk mengurusi masalah hukum yang tengah ia dan kantor tempat ia bekerja hadapi.
"Ini Hermione Granger, executive producers kami. Hermione, ini Draco Malfoy dan rekannya, kuasa hukum kita," ujar Chris memperkenalkan mereka untuk satu sama lain.
Hermione masih terkejut dan perasaan seperti terkena kejut jantung itu belum menghilang. "Senang bertemu denganmu, Hermione."
"Draco," kata itu begitu saja meluncur dari mulutnya.
Chris memandang mereka dengan kebingungan. Dia memandang kedua orang di hadapannya secara bergantian. "Kalian sudah kenal?" tanya Chris.
Draco mengangguk lalu menyeringai. "Sangat kenal," jawabnya cepat dengan tatapan yang tak lepas dari mantan istrinya itu.
Chris mengerutkan keningnya lalu menatap Hermione meminta penjelasan. Secepatnya Hermione menghilangkan keterkejutannya dan bersikap senormal mungkin. "Kami teman lama. Sangat lama," ujar Hermione yang seakan menantang mantan suami di hadapannya.
"Aku tak tahu kau bekerja dengan Christian Alonso," ujar Draco.
Kali ini Hermione yang menatap direktur penyiarannya ini. "Aku juga berteman lama dengan Draco Malfoy."
"Benarkah?" tanya Hermione yang menatap penuh arti pada Draco yang dibalas dengan kedikan bahunya.
"Chris dan aku bertemu saat ia menghabiskan waktunya di London bertahun-tahun lalu," jawab Draco.
"Dan sejak saat itu aku menganggap Draco sebagai saudara lelaki jauhku," tawa renyah Chris memecahkan ketegangan di ruangan itu.
Setelah itu mereka larut dalam perbincangan mengenai panggilan dari kejaksaan esok hari. Draco meminta Hermione untuk mengontak informannya untuk berita Senator Hunt ini dan menyiapkan berkas serta jawaban apa yang dibutuhkan untuk esok hari. Saat Chris izin untuk meninggalkan ruangan itu, Hermione menatap Draco dengan tak percaya. "Bagaimana mungkin kau tak memberitahuku? Kau tak bisa semena-mena datang kesini untuk menjadi kuasa hukumku."
"Kenapa?" tanyanya singkat.
"Karena kau mantan suamiku. Aku akan sangat tak nyaman bekerja sama denganmu begitupula dengan timku."
Dia tertawa. "Aku tak peduli dengan timmu, aku dibayar oleh perusahaanmu, lagipula bukankah kau mengatakan bahwa kita hanya teman lama pada Chris."
Hermione menghela napasnya sejenak. "Jadi tetaplah menjadi teman lamaku dan bukan menjadi mantan istriku."
Chris kembali masuk dan membuat mereka terdiam kembali. "Sampai dimana kita tadi?"
000
Hermione berjalan mondar-mandir di lorong kantor kejaksaan wilayah New York. Seperti biasanya ia tampil cantik dengan trouser hitam dan kemeja satin putih serta tas yang dijinjingnya. Dia memang lebih cepat beberapa belas menit dari waktunya dan hal itu tak menjadi masalah baginya. Menurut ibu beranak satu in, lebih baik menunggu daripada harus ditunggu dan kini ia sedang menunggu kuasa hukumnya untuk menampakkan batang hidungnya.
Suara derap kaki di lantai lorong ini membuatnya mencari darimana sumber suara itu. Pencariannya berakhir pada sosok yang tak asing lagi baginya. Draco Malfoy sedang berjalan ke arahnya dengan setelan khas dirinya dan tas yang berisi beberapa berkas dari kasus ini. "Kau sudah lama?" tanya pria itu saat telah berada di hadapan Hermione.
Hermione sedikit mengedik. "Baru saja," bohongnya.
Seorang penyelidik keluar dari sebuah ruangan di lorong itu. "Silahkan masuk."
Hermione melemparkan pandangan pada Draco yang telah berdiri di sampingnya. "Jangan tegang."
Hanya dua kata itu yang keluar dari bibir mantan suaminya itu. Dengan perlahan serta dengan degupan jantung yang tak karuan ia memasuki ruangan salah satu jaksa di kantor ini dengan Draco yang berada disisinya.
000
Penyelidikan berjalan tak seperti apa yang dibayangkan oleh Hermione Granger selama ini. Tak ada ruangan lembab dengan lampu menggantung di dalamnya apalagi algojo yang siap menghantamnya bila ia melakukan kesalahan. Penyelidikan yang berisi mendengar pembelaan dari NYNC dan pada kesempatan ini diwakili oleh Hermione. Selepas penyelidikan, Hermione dan Draco berpisah dan berjanji untuk kembali bertemu di kantor NYNC selepas berita malam mengudara. Mereka akan bertemu untuk mengumpulkan bukti yang ada, untuk Draco agar dapat bertemu langsung dengan informan pada kasus ini, dan menyusun strategi agar Senator Hunt dapat mengakhirinya dengan perdamaian.
Draco dan timnya sudah berada di aquarium room saat berita malam yang diproduksi Hermione berakhir. Mayoritas dari timnya belum ada yang pulang karena harus menyiapkan outline berita untuk esok hari. Hermione tampak sudah keluar dari control room dan masuk sejenak ke ruangannya. Ia tak peduli dengan keberdaaan Draco dan pegawai-pegawai wanita yang membicarakan mantan suaminya itu. 'Pengacara Seksi' itulah sebutan dari para timnya serta semua karyawan wanita yang pernah melihat dan berpapasan dengannya, kecuali Daniela tentunya yang sudah tahu siapa Draco Malfoy sebenarnya. Jika ia bukan mantan suami dari rekan sejawatnya ini mungkin Daniela yang akan memimpin barisan penggemar 'Pengacara Seksi' ini. Hermione duduk dengan tangan yang menopang dagunya. Nasibnya lumayan buruk akhir-akhir ini. Pertama, ia harus menerima kenyataan bahwa berita yang dipimpinnya mendapat tuntutan. Kedua, bila hal ini tak terselesaikan dengan sangat baik karirnya serta karir seluruh timnya akan hancur. Ketiga, kuasa hukum yang dipikirnya akan menyelamatkan hidupnya justru membuatnya sangat tak nyaman.
Chris melongok ke ruangan itu dan menemukan Hermione yang masih duduk dengan tatapan kosong dan kening yang sesekali mengerut. "Kau baik-baik saja?" tanyanya yang tanpa berbasa-basi masuk ke dalam ruangan Hermione.
Ia merenggangkan sebentar ototnya sebelum mengangguk pada Chris. "Ayo kita bertemu Draco."
"Chris."
"Yaa."
"Kau sangat dekat dengan Draco Malfoy?" tanya Hermione tiba-tiba yang bahkan ia sendiri tak tahu darimana pikiran itu.
Chris yang semula sudah akan keluar dari ruangan itu kembali masuk dan bersandar pada salah satu dinding. "Aku dan Draco?" tanyanya yang dijawab dengan anggukan dari Hermione.
"Saat masih bersekolah dulu, aku adalah salah satu murid di dalam pertukaran pelajar dan rumah Draco menjadi tempat tinggalku selama hampir setahun."
Hermione hanya menatapnya. "Kau di manor miliknya? Di Wiltshare?"
Chris mengangguk. "Kau sedekat itu dengannya?" Chris berbalik tanya.
Kali ini Hermione diam sejenak. Ia tak ingin mengakui secara gamblang bahwa Draco Malfoy adalah mantan suaminya, tapi ia juga tak bermaksud untuk menjaga rahasia ini lebih lama lagi dari Chris. Chris berhak tahu apa sebenarnya yang terjadi antara dirinya dengan Draco. Hermione tersenyum pada pria di hadapannya itu. "Seperti yang kukatakan, kami teman lama. Sangat lama."
Setidaknya ia tak berbohong. Mereka memang berteman sebelum akhirnya memutuskan untuk menikah dan bercerai lima tahun berikutnya. Chris tertawa setelahnya. "Tentu sangat masuk akal bila kau adalah temannya, aksen kalian."
Hermione menaikkan alisnya meminta penjelasan lebih lanjut dari kalimat menggantung yang diutarakan oleh Chris tadi. "Aksen kami?" tanya Hermione.
"Kalian sama-sama dari Inggris, bukan? Katakan bagaimana cara kalian saling mengenal. Apakah kalian bersekolah di tempat yang sama?" tanya Chris antusias.
Hermione hanya terkekeh mendengarnya sambil mengibaskan tangan ke hadapannya. "Kita punya banyak waktu untuk membahas bagaimana aku dan Draco bisa saling mengenal. Ada hal yang lebih penting kita lakukan sekarang. Draco dan rekannya sudah berada di aquarium room menunggu kita," Hermione berkilah.
"Yaa kau benar. Tetapi, aku masih sangat tak percaya dunia sekecil ini."
"Yaa aku juga tak percaya," balas Hermione
Saat Hermione bangkit dari kursinya dan berjalan ke arah Chris, pria itu kembali membuka suaranya. "Berbicara tentang masa pertukaran pelajarku dulu, aku jadi teringat Narcissa yang selalu membuatkan scone sebagai menu sarapan kami. Aku rindu rumah itu."
Hermione tak membalasnya. Ia hanya tersenyum dan keluar dari ruangan itu. Bukan hanya dirimu yang merindukan rumah itu, aku juga. Setidaknya seperti itulah yang digumamkan Hermione dalam hati saat ini.
000
Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam dan tim mereka masih berlalu lalang dari satu meja ke meja lain. Kebakaran yang terjadi di salah pemukiman elit di Manhattan menjadi headline dari breaking news malam ini. Demi menyukseskan kasus ini, breaking news dipimpin oleh Daniela sementara Hermione, Chris, dan beberapa orang dari timnya dan informan yang terlibat langsung dalam pemberitaan skandal dari Senator Hunt tetap fokus pada pertemuan mereka dengan tim kuasa hukum baru ini.
"Jadi aku harus bersaksi untuk kasus ini?" tanya salah seorang pria yang menjadi informan berita ini.
Namanya tak akan pernah terungkap sampai nanti bila ia diperlukan di persidangan. Pria ini telah bekerja dengan Senator Hunt bertahun-tahun dan tahu betul apa yang dilakukan oleh atasannya itu. Mendengar pertanyaan pria ini Draco mengangguk. "Tetapi, aku akan mencoba membawa kasus ini ke jalan damai," jawabnya enteng.
"Maksudmu?" Hermione bertanya.
"Sebisa mungkin kita adakan mediasi tanpa harus melibatkan pengadilan, seperti saran dari jaksa tadi."
Semua mata yang berada di ruangan itu tampak lega mendengar ucapan Draco. Persidangan merupakan momok menyeramkan bagi mereka semua. "Tapi bagaimana investasinya? Apakah ia akan tetap berinvestasi setelah kasus ini selesai?" kali ini Chris yang bertanya.
Draco meletakkan pulpen yang sedari tadi dipegangnya. "Apa ruginya bila ia berhenti berinvestasi?"
"Mungkin secara finansial perusahaan ini tak akan bangkrut karena kehilangan dia sebagai investor, tapi Jane Ellys akan memecat semua yang terlibat dengan kasus ini," jawab Chris.
Mata Draco melirik Hermione yang terlihat kusut di sebarang mejanya. Seringaian khas dirinya kembali terpancar. "Maksudmu, kau, Hermione Granger, dan seluruh timnya?"
"Tepat sekali," balas salah satu rekan mereka.
"Well, kalau begitu aku akan bekerja ekstra keras untuk membuat itu tidak terjadi. Kita tak boleh membiarkan Nyonya Ellys merebut pekerjaan favorit dari Hermione Granger, bukan begitu?"
Seisi ruangan itu tertawa mendengar celotehan Draco, kecuali Hermione. Ia hanya membalasnya malas dan melengos. Tak lama setelah itu, beberapa rekanan tim Hermione meninggalkan ruangan itu dan kembali lembur bersama teman-temannya untuk breaking news yang sedang ditayangkan. Telepon berdering tiada henti untuk mengabarkan langsung tentang apa yang terjadi dan jumlah korban yang jatuh pada peristiwa ini.
"Aku rasa pertemuan ini dapat dilanjutkan saat mediasi nanti," ujar Draco.
Hermione menatap Draco yang terlihat sedikit bingung. "Ada yang salah?" tanya wanita dengan rambut yang kini sudah ia ikat tinggi itu.
"Aku butuh cap dari perusahaan kalian untuk berkas ini."
"Aku akan menyuruh seseorang untuk mengambilnya di ruang penyimpanan," jawab Chris namun langsung disanggah oleh Hermione.
Hermione bangkit dari tempatnya. "Aku saja yang mengambilnya. Aku perlu ke toilet sebentar dan langsung mengambilnya setelah itu.
Tanpa menunggu persetujuan lagi, ia menghambur keluar dari ruangan itu. Beberapa saat kemudian listrik padam di gedung itu. Ternyata tak hanya di gedung itu, namun semua bangunan yang berada beberapa blok dari kebakaran tersebut. Dikabarkan bahwa aliran listrik menjadi terhambat karena ikut terbakarnya pos listrik terbesar di daerah itu. Semua orang di ruangan itu menjadi panik. Draco hanya mengeluarkan ponselnya dan menyalakan flash light yang ada. Tetiba pikirannya langsung teralih pada sosok yang akan takut setengah mati bila hal ini terjadi. Ketakutan terbesar Hermione Granger bukanlah mendapat nilai buruk di hidupnya, melainkan tempat gelap dan sempit. Dan hal itu dialaminya sekarang. Dengan panik ia menghubungi ponsel Hermione dan dengan sangat tidak beruntungnya, ia meninggalkan ponselnya di ruangan meeting ini. "Fuck," umpat Draco saat itu juga.
"Ada apa?" tanya Chris.
"Dimana toilet wanita yang digunakan Hermione?"
Wajah Chris yang tersamarkan oleh lampu berkekuatan baterai yang secara otomatis menyala saat listrik padam tampak bingung menatap Draco. "Belok kanan di ujung lorong ini"
Tanpa perlu mendengar kata selanjutnya, Draco berlari di antara kegelapan dengan penerangan seadanya. "Hermione!" teriaknya namun tak mendapatkan balasan.
Ia membuka satu per satu bilik di toilet itu, namun hasilnya nihil. Chris yang akhirnya berada di belakangnya masih tak tahu apa yang terjadi. "Dimana ruangan penyimpanan tempat ia akan mencari stempel perusahaan tadi?"
"Ikuti aku," ujar Chris tanpa tahu apa yang terjadi.
Listrik masih padam saat mereka sampai di depan ruangan sempit itu. Ruangan itu sangat kecil, hanya berukuran ruang sapu di asrama mereka dulu. Draco langsung mencoba membukanya, namun ia gagal. "Ruangan ini menggunakan sistem sensor kartu yang hanya dapat diakses saat listrik menyala."
"Damn it," desisnya.
Draco menggedor pintu itu. "Hermione kau ada di dalam?"
Tak ada teriakan, hanya suara sesenggukan dan tarikan napas yang tak teratur dari dalam sana. "Hermione tenanglah, sebentar lagi listrik akan menyala dan kau akan aman. Kau akan aman, kau mendengarku."
Tak ada respon dari dirinya dan hal itu membuat Draco semakin panik tak karuan. "Apakah tak ada genset di gedung sebesar ini?" tanyanya putus asa.
"Sebentar lagi sistem itu akan menyala," sahut seseorang yang tak ia kenal namanya.
Kembali ia menggedor pintu itu. "Hermione, kau mendengarku? Sebentar lagi listrik akan menyala dan aku akan mengeluarkanmu dari situ. Cobalah untuk tenang dan bernapas."
Semua orang panik dan memandang heran dengan apa yang mereka saksikan, tapi tak ada satupun yang berkomentar termasuk Chris. Perlahan listrik menyala dan suara 'klik' menandakan bahwa pintu sialan ini sudah siap untuk diakses. Chris melepaskan id card dan menempelkannya di sensor pintu itu kemudian secara otomatis terbuka. Hermione tampak gemetar dengan kepala yang dikubur di dadanya. Kedua tangannya memeluk erat kedua kakinya dengan keringat sebesar-besar biji jagung menghias keningnya. Draco langsung masuk dan menggendongnya keluar. Ia mendudukan Hermione di lantai. "Hey, hey lihat aku. Kau aman sekarang. Listrik telah menyala, kau tak lagi terperangkap di ruangan itu."
Hermione masih terlihat gemetar dan belum mau menegakan kepalanya. Draco memegang kepalanya. "Hermione, sayang. Dengarkan aku, kau aman sekarang. Lihat aku. Aku bersama denganmu sekarang."
Perlahan ia mengangkat kepalanya dan air mata bercampur keringat telah membasahi wajahnya. "Draco," ujarnya parau dan langsung memeluk pria yang sedari tadi mengkhawatirkannya setengah mati itu
"Shh, shh, kau aman sekarang. Lihat sekelilingmu, semua lampu telah menyala."
Hermione masih tak mengucapkan sepatah katapun. Tubuhnya yang gemetar masih memeluk erat Draco. Tanpa sadar mereka telah dikelilingi pasang mata yang sedari tadi memperhatikan mereka. Tanpa peduli dengan mereka, Draco kembali fokus pada Hermione yang masih berada di dekapannya. "Kau bisa berjalan? Kita bisa kembali ke ruanganmu?" hanya anggukan yang di dapatkannya.
Mendengar hal ini, Daniela langsung meningggalkan control room dan bergabung dengan Hermione di ruangannya. Merasa bahwa Hermione akan aman bersama Daniela yang telah ia kenal, Draco keluar dari ruangan itu setelah yakin bahwa Hermione telah tenang sepenuhnya. Chris sudah menunggu dengan pertanyaan-pertanyaan di kepalanya. Wajahnya tampak khawatir sama seperti Draco. "Keberatan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi?"
Draco mengerutkan alisnya. "Hermione Granger fobia akan gelap dan ruang sempit seperti tadi."
"Dan kau terlihat sangat tahu akan hal ini."
Draco tersenyum sesaat. "Tentu aku sangat tahu akan hal ini. Aku mantan suaminya."
000
to be continued
Thanks for reviews, alerts, and favorites. So glad to know that you guys still appreciate my story. Let me know what you think. So don't forget to leave your review. Thanks!
