Disclaimer © Tite kubo
(Bleach bukan punya saya)
…
Ai
by
Ann
…
Peringatan : AU, OOC (Sesuai kebutuhan cerita), Typo (Saya sudah berusaha menguranginya tapi sepertinya tetap ada), Gaje (Silahkan anda berpendapat sendiri),
Tidak suka? Mungkin bisa tekan tombol 'Back' atau 'Close'
dan
Selamat membaca!
...
Cinta bukan sesuatu yang bisa kau paksakan. Ia lahir dengan sendirinya, tumbuh dan berkembang tanpa bisa kau cegah. Tapi cinta bukanlah segalanya. Hidup tak melulu tentang cinta, ada hal lain yang patut kau perjuangkan selain cinta.
...
note : Karakura dalam fic ini adalah sebuah kota di lereng pegunungan. Mata pencaharian utama penduduknya adalah berkebun teh. Dan Soul Society adalah sebuah kota yang berjarak delapan jam perjalanan dari Karakura, sebuah kota yang penghuninya lebih padat dan lebih maju jika dibandingkan Karakura.
...
Bab I : Luka dan Pertemuan Kembali
...
Delapan tahun kemudian :
Sinar merah lembut dari cahaya inframerah memenuhi ruang helikopter. Dengan berpakaian penyamaran lengkap dengan topi semak, enam anggota pasukan gabungan elite antiteror duduk berjaga-jaga dan siap sedia.
"Lima menit lagi," terdengar keretak pesan dari pilot melalui headphone mereka.
Kurosaki Ichigo memeriksa perlengkapannya sekali lagi. Segala sesuatu telah siap. Perlengkapannya diikat dan pengait senjata otomatisnya sudah diamankan sehingga senjatanya tidak akan meletus atau membuatnya tersangkut ketika tim menuruni tali ke zona berbahaya hutan Asia Tenggara.
Sekarang tidak ada yang bisa dilakukan selain menunggu. Selama momen yang jarang terjadi ini, Ichigo membiarkan pikirannya berpaling dari tugas suram di depan ke gambaran rumahnya−perkebunan teh keluarganya di lereng bukit hijau nan sepi, di daratan tinggi Karakura.
Ia banyak memikirkan rumah akhir-akhir ini, kabut di pagi hari, keributan yang diciptakan ayahnya, ibunya dengan celemeknya, lalu kedua adik perempuannya. Sudah lama sejak ia bertemu keluarganya. Karena bergabung dengan Angkatan Udara Khusus, ia telah ditempatkan di begitu banyak lokasi berbahaya yang asing dan jarang pulang.
Tepukan di pundak kembali menyentaknya ke masa kini. Abarai Renji, salah satu rekannya yang baru bergabung sekitar setahun lalu di tim, mencondongkan diri ke arahnya.
"Bisakah kau membantuku?" Renji berteriak mengatasi deru mesin dan raung baling-baling.
"Bantuan apa?" mata Ichigo menyipit untu melihat ekspresi Renji, namun itu hal yang sulit sebab wajah mereka dihitamkan untuk kesiapan misi kali ini.
"Ambil ini," Renji menyodorkan arloji ke tangan Ichigo, bukan arloji militer yang dibuat dengan teknologi mutakhir, tetapi arloji biasa yang kelihatannya sudah berumur puluhan tahun. "Bisakah kau menyimpannya untukku?"
"Kau tidak memerlukanku untuk menjaga barang-barangmu."
"Ayolah, Ichigo. Sekali ini saja, seandainya sesuatu terjadi padaku."
Ichigo mengerutkan dahi. "Jangan bicara omong kosong, misi ini mudah."
"Aku tahu, tapi tolong aku dan ambil arloji ini. Arloji ini adalah pemberian ayahku, dan aku ingin menjaganya untuk anakku."
"Untuk anak laki-lakimu?"
Renji mengangguk.
Anggota tim tidak berbicara terlalu banyak tentang keluarga mereka−entah bagaimana, membicarakan mengenai rumah membuat mereka lemah, dan dalam permainan mematikan ini mereka tidak boleh mendapat gangguan sekecil apapun. Tetapi Ichigo tahu jika Renji memiliki seorang istri dan putra di Soul Society−kota yang membawa kenangan buruk baginya. Ia pernah melihat foto bocah lelaki itu. Anak itu memakai topi sang ayah dan wajahnya tertutupi bayangan topi, tapi ia mendapat kesan anak muda itu kuat, dan pastinya sehebat sang ayah.
Ichigo mendorong kembali tangan Renji. "Kau simpan sendiri, benda itu akan aman bersamamu. Setelah misi ini kau bisa menyerahkannya padanya."
"Tidak!"
Urgensi dalam suara Renji mengirimkan tusukan dingin menuruni tulang punggung Ichigo.
"Lakukan untukku," Renji memohon. "Sekali ini saja. Aku ingin Raito mendapatkan arloji ini sebagai hadiah ulang tahunnya yang ke-tujuh."
"Jangan bicara omong kosong!" Ichigo berteriak marah. Apa yang mengganggu Renji? Pasukan khusus tak pernah dan tak boleh kehilangan ketenangan. Tidak pernah menunjukkan rasa takut. Atau bimbang. "Kau akan menyerahkannya sendiri pada putramu."
Tetapi, dalam lubuk hati Ichigo tahu apa yang coba Renji katakan. Perasaan yang kadang timbul dalam hati prajurit−pertanda akan terjadi kekeliruan.
"Kumohon, Ichigo," Renji berkeras. "Bukankah kita teman?"
"Tentu saja. Kita lebih dari teman, kita sobat."
Itu benar. Setahun perkenalan menjadikan mereka teman baik. Ichigo menyukai pria berambut merah itu meski awalnya mereka suka bertengkar. Renji adalah prajurit ulung dan serbabisa. Ichigo tak menyangka mereka bisa berteman dekat, tapi ia dan Renji sudah membentuk sebuah ikatan unik. Mereka saling menghargai, percaya pada kemampuan tempur masing-masing, mereka memiliki pandangan hidup yang sama, juga deretan medali kehormatan militer. Melebihi itu, mereka berbagi sesuatu yang penting, rasa humor, yah, lelucon absurd yang membantu mereka pada masa-masa suram.
Sampai sekarang.
Ichigo melihat arloji itu, terbuat dari emas tapi harganya pastilah tak seberapa. Hanya saja bagi Renji itu mungkin sesuatu yang sangat berharga.
"Satu menit lagi."
Itu adalah tanda yang diberikan pada tim untuk melepaskan sabuk pengaman dan bergerak ke jalur melandai di bagian belakang helikopter.
Helikopter mereka melayang turun dan para pria berdiri, menguatkan diri. Renji akan menjadi orang kelima yang menuruni tali dengan cepat. Sementara sebagai pemimpin tim, Ichigo akan turun paling akhir.
"Kumohon!" Renji berteriak sekali lagi, mengulurkan arloji pada Ichigo.
Salah satu prajurit melemparkan tali ke jalur melandai dan mencondongkan tubuhnya untuk mengawasi jatuhnya benda itu. Kemudian ia memberi tanda pada Ikaku, pria pertama untuk turun. Ikaku mengambil tali dengan kedua tangan, mengaitkannya dengan sebelah kaki, berputar, melompat bebas dari jalur melandai, dan meluncur ke bawah.
Ichigo mendesah. "Baiklah," ujarnya, megambil arloji dari tangan Renji dan menyimpannya cepat ke dalam sakunya. "Tetapi aku akan langsung mengembalikannya padamu setelah misi ini berakhir," tambahnya tanpa bisa dibantah.
"Terima kasih," ucap Renji. Kemudian ia berbalik dan bersiap meluncur turun.
...
Soul Society, beberapa hari kemudian :
Rukia mengulurkan tangannya ke seberang meja untuk memegang dahi putra semata wayangnya. Badan anak itu masih terasa hangat meski tak sepanas tadi malam.
"Apa tenggorokanmu sakit?" tanyanya, sambil memerhatikan Raito yang hanya memain-mainkan makanannya tanpa berminat memasukkannya ke dalam mulut.
Raito mengangguk, dan di bawah pinggiran rambutnya yang menutup dahinya, matanya yang coklat melontarkan tatapan sedih. Tatapan yang akhir-akhir ini sering dilihat Rukia dari mata bocah yang hampir berusia tujuh tahun itu.
"Kenapa tou-san belum pulang?" tanya Raito. "Bukankan tou-san akan pulang untuk merayakan ulang tahunku."
Rukia mendesah. Sejak menerima kabar jika suaminya dinyatakan M.I.A−Missing In Action− dan diduga tewas, ia berusaha menyembunyikan berita itu dari Raito. Ia tak ingin membuat anaknya khawatir. Lagipula belum pasti Renji meninggal, suaminya itu masih dinyatakan hilang dalam tugas.
Tetapi sepertinya Raito bisa merasakannya. Anaknya itu memang sangat peka. Raito pasti menyadari ketegangannya beberapa hari ini, juga perlakuan hati-hati orang-orang di sekitarnya.
Rukia memandangi Raito. Tahu cepat atau lambat ia harus menceritakan apa yang terjadi pada sang ayah. Tapi apa yang harus ia katakan? Terlalu sedikit yang ia tahu. Kabar yang diterimanya hanya bahwa Renji hilang di wilayah musuh, hanya itu tak ada yang lain. Sebagai istri seorang tentara, ia tahu sesuatu seperti ini mungki terjadi, dan kemungkinan itu semakin besar sejak suaminya bergabung dalam Pasukan Khusus, tetapi Rukia selalu menyimpan pengetahuan itu jauh ke bagian belakang benaknya. Ia tak pernah mau memikirkan kemungkinan kehilangan suaminya. Berpikir bahwa kehidupannya akan kembali tak sempurna.
"Ada apa, kaa-san?"
Suara itu menyadarkan Rukia, menariknya kembali ke alam nyata. Sambil memberikan seulas senyum, ia berkata, "sepertinya hari ini kau harus istirahat di rumah Raito. Kaa-san akan menghubungi wali kelasmu dan mengabarkan jika kau tidak sekolah hari ini."
Raito mengangguk lesu. "Bolehkan aku menonton tv, kaa-san?"
"Tentu saja," ujar Rukia. Lalu Raito turun dari kursinya dan melangkah gontai menuju ruang keluarga yang bersebelahan dengan dapur. Rukia mengikuti langkah anaknya, memerhatikan saat Raito mengambil remote tv dan menghidupkan alat elektronik itu. Bocah itu lalu duduk kursi busa berbentuk chappy, sementara matanya menatap layar televisi yang tengah menampilkan anime yang bercerita tentang sepak bola.
Setelah melihat putranya duduk tenang di depan televisi, Rukia melangkah kembali ke dapur, berniat merapikan meja makan. Tetapi saat ia hendak memulai pekerjaannya, bel pintu berbunyi. Ia urung merapikan meja makan dan melangkah menuju pintu sembari berpikir siapa yang datang bertamu sepagi ini.
Mungkinkah seseorang dari markas?
Pikiran yang tak ia inginkan merasuk ke kepalanya. Markas akan menyuruh seseorang dari markas−biasanya rekan satu tim− datang jika ada berita buruk menyangkut Renji.
Perutnya menjadi mulas saat tinggal beberapa langkah dari pintu. Dalam hati tak hentinya ia berdoa demi keselamatan suaminya.
Tangannya gemetar saat membuka pintu depan.
"Selamat pagi, nyonya Abarai..."
Seketika Rukia mengenali pria yang berdiri di ambang pintunya.
Ichigo.
Kurosaki Ichigo berdiri di hadapannya sambil menatapnya seakan melihat hantu.
Setelah delapan tahun akhirnya ia melihatnya lagi. Rukia tak dapat berkata-kata. Ia tak bisa berpikir, sesuatu menyumbat dadanya, lalu peti terkunci itu terbuka, membongkar kembali masa lalunya.
Rukia seakan kembali berumur dua puluh tahun. Ia dipenuhi ribuan kenangan manis tentang kebersamaannya dan Ichigo.
Delapan tahun tak banyak merubah Ichigo. Ichigo berpakaian rapi, celana panjang dan kemeja berwarna putih, dengan rambut jingganya yang dipangkas pendek seperti gaya militer umumnya.
Mungkin Ichigo terlihat lebih dewasa, tubuhnya lebih terlatih dan berotot, wajahnya terlihat lebih tegas, memiliki gurat dan lebih kurus dari yang diingat Rukia, tetapi selebih itu dia tetaplah orang yang sama. Matanya madunya tetap memancarkan semangat dan kerutan itu tetap menghiasi keningnya saat dia bingung atau terkejut, seperti sekarang. Pria itu pasti sama shock-nya seperti Rukia. Tapi jelas dia bisa menguasai diri lebih cepat dari Rukia.
Pria itu berdeham sebelum berkata, "aku kemari untuk menemui istri dari Abarai Renji."
Rukia menegakkan tubuh sembari berusaha menenangkan dirinya. "Kalau begitu, akulah yang kau cari."
"Kau?" Ichigo mengernyit. "Kau istri Renji?"
Ichigo tiba-tiba nampak begitu terluka. Tatap matanya berubah sendu dan ia mundur selangkah.
Rukia menguatkan hati. "Ya, aku Abarai Rukia sekarang."
"Aku tidak mendengar kau menikah," ujar Ichigo.
"Aku memang sengaja tidak mengundangmu," sahut Rukia.
"Riruka tak mengatakan apapun tentang pernikahanmu," Ichigo menambahkan.
"Kurasa kalian terlalu sibuk satu sama lain, sehingga tak mendengar kabar pernikahanku."
Mata madu Ichigo menyipit. "Apa maksudmu?"
Rukia melambaikan sebelah tangannya, pertanda ia tak ingin meneruskan pembicaraan tentang hal itu. "Jadi, apa yang membawamu kemari, Kurosaki?"
Wajah Ichigo nampak pias saat mendengar Rukia memanggilnya dengan nama keluarganya.
Rukia menggeleng pelan. Ia tak boleh terpengaruh. Pria ini dulunya adalah orang yang sangat ia cintai, seseorang yang membuatnya rela melakukan apa saja. Tapi balasan yang ia terima hanyalah perasaan sakitnya dikhianati. Ia patah hati karena Kurosaki Ichigo, dan perlu waktu lama untuk menyembuhkan luka itu.
"Aku ke sini untuk melakukan permintaan terakhir Renji padaku." Suara yang menjawab pertanyaan Rukia itu terdengar parau.
"Permintaan terakhir?" Mata violet Rukia melebar. "Apa Renji sudah−"
Ichigo menggeleng pelan. "Belum ada kabar jelas tentang Renji, tim pencari masih melakukan pencarian."
"Lalu kenapa kau berkata-kata seolah dia sudah meninggal? Apa kau memang berharap dia sudah meninggal?!"
Rahang Ichigo mengeras. "Rukia, Renji adalah sahabatku. Aku tak pernah berharap sesuatu yang buruk terjadi padanya."
Rukia melihat kesungguhan di mata Ichigo. "Maaf," ucapnya.
"Tak apa, aku tahu ini berat untukmu," ujar Ichigo.
Terlalu banyak perasaan yang berkecamuk di dada Rukia, ketegangan memikirkan nasib suaminya lalu pertemuan kembali dengan Ichigo, membuatnya tak bisa mengendalikan emosinya.
"Aku ke sini karena Renji menyuruhku menyerahkan sesuatu pada putranya."
Mendengar Raito disebut, Rukia merasakan gelombang kecemasan baru. Perutnya serasa melilit. Luka-luka itu seketika menganga, membuatnya merasakan kembali tahun-tahun penuh perjuangan saat ia mengandung, melahirkan dan membesarkan Raito sendirian.
Aku tak akan mempertemukan mereka. Ichigo tak boleh melihat Raito.
"Kau bisa menitipkannya padaku," ujar Rukia dingin.
"Bisakah aku bertemu dengannya? Sebentar saja..." pinta Ichigo.
Rukia menggeleng. "Dia sedang pilek, aku takut kau akan tertular."
"Kalau begitu aku akan kembali saat dia lebih sehat."
"Kau bisa menitipkannya padaku, nanti akan kuberikan padanya," kata Rukia.
"Kau tidak ingin aku bertemu dengannya?" selidik Ichigo.
Rukia menggeleng cepat. "Bukan begitu, aku hanya tidak ingin merepotkanmu."
"Atau kau tak ingin bertemu denganku lagi?"
Pertanyaan itu menohok Rukia. Membuat wajah wanita berumur 28 tahun itu nampak pias untuk sesaat, sebelum berubah dingin. "Sepertinya kau bisa menebaknya," ujarnya.
Ichigo menatapnya sesaat. Tatapan yang sulit ia artikan maksudnya. "Kalau begitu aku akan menitipkan ini padamu." Ichigo menyodorkan sebuah tas kertas berukuran sedang yang di dalamnya terdapat sebuah kotak yang dibungkus rapi.
"Terima kasih," ucap Rukia setelah mengambil tas kertas itu.
"Sebaiknya aku pergi sekarang," ujar Ichigo. "Aku tak mau kau membuang waktumu yang berharga untukku." Setelah mengatakan hal itu Ichigo berbalik dan melangkah menjauh.
...
Seharusnya aku tidak pergi!
Ichigo melangkah cepat menjauhi rumah berlantai dua yang baru saja ia kunjungi, rumah Renji dan Rukia. Bagaimana bisa takdir mempermainkannya seperti ini? Bagaimana bisa takdir mengarahkannya ke Rukia lagi setelah delapan tahun yang panjang, hanya untuk mengetahui jika wanita itu telah menikah dengan teman baiknya? Dan, sialnya, dia juga ibu. Ibu dari seorang bocah laki-laki, anak teman baiknya.
Persetan. Meski waktu sudah berlalu bertahun-tahun, wanita itu masih dapat membuatnya sakit hati. Rukia masih sama seperti dulu, cantik, bersahaja, dan istimewa baginya. Bahkan menjadi ibu tak mengurangi keistimewaannya di mata Ichigo, sebaliknya wanita itu terlihat memiliki pancaran feminim yang mampu membuatnya jatuh cinta sekali lagi.
Sambil menjejalkan kedua tangannya ke saku celana panjang. Ia meregangkan tangan dan mencoba menghilangkan ketegangannya. Namun percuma, bayangan itu kembali muncul. Bayangan Rukia-nya. Ia terkejut karena dengan bodohnya ia masih menganggap wanita itu miliknya.
Delapan tahun yang lalu Rukia memang miliknya selama lima bulan, sebelum wanita itu mencampakkannya. Ichigo selalu berusaha meyakinkan diri sendiri jika ia lebih baik tanpa Rukia, bahwa Rukia hanyalah kisah cinta masa lalu yang harus dilupakan. Tapi hari ini terbukti jika usahanya gagal. Perasaan dalam dirinya seperti bom waktu yang timer-nya belum dinyalakan. Dan hari ini, timer-nya menyala dan menghitung mundur dengan cepat, membuatnya harus menghadapi ledakan tanpa persiapan. Ledakan yang meninggalkan nyeri dan luka.
Ichigo menyeberang jalan utama yang sibuk dan melanjutkan perjalanan tanpa arahnya. Saat ia berjalan, matahari menyinari tengkuknya dan ia mendapati dirinya mengingat pagi musim panas bertahun silam.
Waktu itu ia berjalan keluar dari sebuah toko 24 jam sambil menenteng sebuah kantong plastik berisi minuman kaleng dan camilan dan menjumpai seorang gadis tengah memunguti buah apel yang bergulingan di jalan. Tanpa diminta ia membantu gadis itu memunguti apel-apel itu dan setelahnya gadis yang ia kira masih siswa SMA itu menyodorkan sebutir apel padanya. Karena ia tak kunjung mengambil apel itu si gadis buru-buru menjelaskan.
"Ini sebagai ucapan terima kasihku."
Sekarang pun ia masih bisa membayangkan penampilan gadis itu. Rambut gelap yang diikat ekor kuda, tubuh mungil yang dibalut gaun siang berwarna cerah selutut, wajahnya terlihat sangat muda dan sedikit memerah saat menyodorkan apel itu pada Ichigo.
"Kau tidak boleh menolak pemberian seseorang."
Kalimat itu membuat Ichigo mengulurkan tangan dan menerima apel itu. "Terima kasih," ucapnya.
Si gadis menggeleng. "Akulah yang berterima kasih."
Setelah itu Ichigo tahu gadis itu bernama Kuchiki Rukia, penduduk asli Soul Society yang dengan murah hati memberitahunya tentang berbagai hal yang harus ia ketahui tentang kota yang baru seminggu ditinggalinya itu. Ia dan Rukia menjadi akrab dalam waktu singkat. Rukia memperkenalkan diri sebagai seorang mahasiswa tahun ketiga jurusan Bisnis dan Pemasaran, yang membuat Ichigo lega karena gadis itu bukanlah siswa SMA seperti yang ia duga sebelumnya. Saat memperkenalkan diri Ichigo menyebutkan bahwa ia seorang tentara, tetapi Rukia sama sekali tak menyebutkan jika ayahnya juga seorang tentara. Ketika mereka akhirnya sampai di depan halte bus, ia menawarkan mengantar Rukia dengan motornya dan Rukia langsung menggeleng pelan sebagai penolakan. Gadis itu segera naik ke dalam bus yang baru datang tanpa memberi kesempatan Ichigo untuk bertanya tentangnya lebih jauh.
...
Rukia memandangi wajah putranya yang tengah terlelap. Wajah itu terlihat damai, berkebalikan dengan benak ibunya yang tengah berkecamuk dengan berbagai hal. Kecamuk yang disebabkan oleh satu orang yang datang pagi ini.
Sebelum pagi ini, Rukia pikir ia sudah berhasil menata hidupnya kembali.
Dan semua itu tidaklah mudah. Setelah melalui pertengkaran hebat dengan ayahnya sebab ia tak mau melakukan aborsi atau menikah dengan pria pilihan ayahnya, ia keluar dari rumah. Belajar hidup mandiri dan bertanggung jawab untuk hidupnya sendiri. Ia berjuang memenuhi kebutuhannya sendiri dengan membuka usaha dan bekerja di rumah. Sulit, apalagi dengan seorang anak yang harus diurusnya, tapi ia berhasil melaluinya. Dan dalam tahapan-tahapan sulit itu Renji masuk dalam kehidupannya. Tidak dengan kejutan, namun perlahan-lahan. Membantunya menata hidupnya kembali, menyusun kerangka yang sempat porak poranda setelah Ichigo meninggalkannya tanpa kabar berita. Saat Raito berusia tiga tahun, ia menikah dengan Renji. Membina kehidupan rumah tangga bersama pria itu membuatnya merasa kehidupannya sempurna. Dalam diri Renji ia menemukan teman, sahabat, tempat berbagi, kasih sayang, dan perlindungan, tapi tetap tak menemukan cinta. Ia mencoba, sungguh. Dengan segenap upaya yang ia bisa untuk mencintai Renji, namun tidak bisa. Hatinya masih untuk seseorang yang ia temui saat berusia 20 tahun. Seseorang yang ternyata seperti yang ayahnya katakan, hanya memanfaatkannya.
Segala usaha yang dilakukannya bertahun-tahun ini, ia pikir cukup untuk memperbaiki segalanya. Ternyata tidak. Hanya perlu bertatap muka dengan Ichigo sekali dan dunianya serasa runtuh. Pria itu membuka luka lamanya dan membuatnya ketakutan setengah mati. Ya, Rukia ketakutan. Apalagi saat pria itu meminta bertemu dengan Raito. Sampai mati pun ia tak akan memepertemukan mereka. Karena dengan sekali melihat Raito, Ichigo akan tahu siapa anak itu. Dia akan mengenali dari rambut jingga dan mata coklat madu milik Raito, jika anak itu darah dagingnya.
Tidak boleh! Aku harus berhenti memikirkannya. Toh, setelah ini Ichigo tidak akan datang lagi.
Dengan pemikiran itu Rukia beranjak dari kamar putrannya dan menuju dapur untuk membuat secangkir kopi, setelahnya ia melangkah masuk ke ruang kerja. Di sana, ia menyalakan komputer dan membuka e-mail-nya, bertekad berkonsentrasi pada kabar dari para kliennya.
Tetapi, dalam beberapa menit, kata-kata di layar seolah menghilang. Kenangan-kenangan memborbardir pikirannya. Ia duduk, sikunya bertumpu di meja dengann kedua telapak tangan menekan kedua matanya. Ia tidak ingin memikirkan Ichigo.
Tetapi semua itu tidak ada gunanya.
Ia menyerah mencoba mengusir bayang-bayang di dalam kepalanya, membiarkan pikirannya terseret kembali ke permulaan... Pada hari ia bertemu Ichigo di depan sebuah toko 24 jam.
Hari itu ia dipenuhi perasaan malu dan praktis berlari menjauh dari Ichigo. Bagaimanapun takdir memiliki rencana lain...
Tak terduga mereka bertemu lagi, di pesta ulang tahun seseorang yang bahkan tak Rukia kenal.
Riruka membujuk Rukia untuk menemaninya ke pesta ulang tahun teman kuliah gadis itu yang diadakan di sebuah klub, Rukia mengiyakan ajakan itu meski ia tak terlalu suka dengan pesta, karena sepupunya itu berjanji mereka hanya sebentar di sana.
Klub itu berisik, penuh sesak, dan remang-remang. Rukia, Riruka dan beberapa teman Riruka duduk satu meja. Sementara Riruka asyik mengobrol dengan teman-temannya, Rukia merasa begitu terasing dan ingin segera pergi dari tempat itu. Saat itulah ia melihat Ichigo berjalan menembus cahaya kerlap-kerlip lampu klub. Ia merasakan sentakan aneh yang mengejutkan saat melihat Ichigo duduk di bar bersama sekelompok teman.
Ketika Ichigo memandang ke arahnya dan mengenalinya, pria itu melontarkan senyum lamban dan seksi kepadanya, dan ia langsung merinding.
"Siapa itu?" tanya Riruka.
"Hanya seseorang yang kukenal beberapa hari yang lalu."
"Tentara, kan?"
Rukia mengangguk mengiyakan. Agak heran darimana Riruka tahu jika Ichigo seorang tentara atau mungkin sepupunya itu hanya menebak saja.
"Sudah kuduga. Satu lagi tentara tolol yang tertarik padamu," ujar Riruka.
Rukia heran kenapa Riruka berkomentar seperti itu, tapi ia tak tertarik untuk menanyakannya sebab saat itu ada hal yang lebih menarik perhatiannya. Pria itu menghampirinya, menyeberangi ruangan yang gelap dan sesak, menerobos pasangan-pasangan yang tengah berdansa, jantungnya berdebar hebat seketika.
Ichigo adalah ancaman baginya. Ancaman yang begitu tampan dan memikat, juga berbahaya. Saat Ichigo sampai di sisinya, band mulai memainkan musik berisik, sebab itu Rukia tak bisa mendengar Ichigo meskipun pria itu sudah mengeraskan suaranya.
Ichigo harus mencondongkan tubuhnya untuk berbicara langsung di telinga Rukia, dan ia bisa mencium aroma pria itu, harum sabun yang segar dan bersih, wangi menyenangkan dan ia menyukainya.
"Kau sepertinya takut padaku," kata Ichigo keras-keras.
"Benarkah?" Rukia balas berseru. Ia tahu apa yang dikatakan pria itu benar. Ia memang agak takut pada pria itu.
"Kau semestinya tidak perlu takut," Ichigo berteriak. "Aku dikenal dapat dipercaya. Kapan-kapan kau harus bertanya pada ibuku, dan dia akan mengatakan padamu bahwa aku adalah pemuda yang baik."
Rukia hanya tersenyum kecil. Ia tahu tak akan bisa menolak Ichigo untuk kedua kalinya. Ia sudah setengah jatuh cinta pada cara Ichigo memandangnya, dan sekarang pria itu membuatnya rileks, juga nyaman, perasaan yang jarang di dapatnya saat bersama lawan jenis.
Lalu mereka berdansa, bertukar senyum, dengan sangat sedikit sentuhan.
Ketika Riruka memberitahunya sudah waktunya pulang, Ichigo menawarkan diri mengantarkan mereka pulang. Namun Riruka berbicara atas namanya untuk menolak tawaran itu.
Pada minggu-minggu berikutnya, Rukia berusaha mengenyahkan Ichigo dari pikirannya. Apa gunanya memikirkan pria yang baru ditemuinya dua kali?
Tapi takdir memiliki cara tersendiri untuk mempertemukan mereka. Pada suatu sore ia pergi ke festival musim panas bersama teman-temannya. Karena terlalu asyik memerhatikan sekitarnya ia terpisah dari teman-temannya dan berakhir sendirian di depan sebuah kios yang menjual permen kapas.
"Bukankah tidak mengasyikkan pergi ke festival sendirian?"
Suara itu membuatnya berbalik. Ia menemukan Ichigo berdiri di dekatnya. Ia harus mundur sedikit agar bisa menenangkan jantungnya yang tiba-tiba berdebar kencang.
"Apa yang kaulakukan di sini?" ia bertanya.
"Melakukan sesuatu yang membuatku menjadi anak yang berbakti kepada orang tuaku." Jawaban Ichigo membuat Rukia bingung.
"Aku di sini untuk menemani ibuku. Ibuku datang berkunjung dan saat dia melihat pengumuman tentang festival kembang api, dia langsung memintaku menemaninya datang ke sini," jelas Ichigo kemudian. Tepat saat seorang wanita datang dengan membawa dua kotak kecil berisi takoyaki. "Nah, ini ibuku."
Rukia mengangguk sopan pada wanita itu dan memperkenalkan dirinya.
"Jadi ini gadis yang kau katakan itu, Ichi?" Masaki, ibu Ichigo, berseru girang. "Dia memang secantik yang kau ceritakan."
Pujian tak langsung itu membuat Rukia tersipu dan bertanya-tanya apa saja yang sudah diceritakan Ichigo pada wanita itu tentangnya.
"Senang bertemu dengan anda, Kurosaki-san."
"Tak perlu seformal itu," ujar Masaki sembari merangkul salah satu lengan Rukia. Awalnya Rukia sempat risih dengan perlakuan Masaki padanya tapi pembawaan Masaki yang menyenangkan membuat mereka cepat akrab. Dan akhirnya ia tak jadi mencari teman-temannya dan berkeliling festival dengan dua anggota keluarga Kurosaki.
"Jadi, apa yang membuatmu tidak menyukai anakku, Rukia?" tanya Masaki blak-blakan saat Ichigo berada jauh dari mereka untuk membeli minuman.
"A-aku..." Rukia tergagap dan wajahnya menjadi merah.
"Dia bukannya tak suka padaku, kaa-san. Tapi dia takut padaku," sahut Ichigo yang ternyata sudah kembali sambil membawa tiga gelas minuman dan menyodorkan salah satu gelas pada Rukia.
"Lebih tepatnya berhati-hati daripada takut," koreksi Rukia sambil mengambil gelas yang diberikan Ichigo dan menggumamkan terima kasih.
Masaki mengibaskan jemari di depan wajahnya. "Kau harus percaya pada anakku ini. Lihat betapa baiknya dia. Dia mau menemaniku ke festival, sementara kebanyakan pemuda seumurnya tidak akan mau pergi ke festival bersama ibunya. Anakku ini pemuda yang sangat baik."
"Apakah anda benar-benar yakin tentang hal itu?" tanya Rukia geli, sementara Ichigo tersenyum lebar dan mengedipkan mata padanya dari balik punggung ibunya.
"Tentu saja, dia anakku. Aku tahu segalanya tentangnya."
"Itu sangat menentramkan hati," kata Rukia, lalu ia tersenyum.
"Aku suka gadis ini, Ichi," ujar Masaki seolah-olah gadis yang dibicarakan tidak sedang berada di depannya.
Dan di sanalah Rukia jatuh cinta. Benar-benar jatuh cinta pada seorang Kurosaki Ichigo.
"Kaa-san."
Suara Raito menyentak Rukia dari lamunannya, sehingga ia hampir jatuh dari kursi putar. Raito berdiri di ambang pintu ruang kerjanya. "Kau sudah bangun?" ia bertanya. Raito mengangguk dan berjalan masuk menghampirinya.
Ia melirik jam dinding. Hampir satu jam sejak ia mengantar Raito ke tempat tidur. Cangkir kopi di sampingnya masih setengah penuh, tetapi sudah dingin. "Apa kau masih merasa pusing, nak?" tanyanya sambil memangku Raito.
Raito menggeleng. "Bolehkan aku pergi ke sekolah besok, kaa-san?"
"Tentu saja, dan besok kaa-san akan mengantarmu."
Ia harus melupakan kenangan itu, menguburnya dalam-dalam. Saat ini yang harus ia lakukan adalah fokus pada anaknya.
...
Bersambung...
...
Review's review :
Virgo24
Halo, Virgo. Iya, Rukia hamil dan punya anak. Chapter lanjutannya cerita tentang 8 tahun kemudian, di dalamnya nanti akan ada flashback2 tentang masa lalu mereka. Maksih udah RnR ya.
Darries :
Hai, Darries. Makasih dah RnR.
Hei, Ichigo. Kau harus cepat kabur sebelum dipentung sama Darries. :3
Untuk proses pemecatan ga semudah itu, ada prosedurnya, biasanya ada peringatan dulu sampai 3 kali baru dipecat. Lagipula Ichigo kan berprestasi, nah itu salah satu pertimbangan untuk tidak memecatnya.
Yah, untuk kali ini kamu salah. Rukia emang udah disentuh dan hamil. *Saya ga akan menuliskan detailnya*
Maaf, tapi saya ga pernah menelantarkan fic saya. Memang benar saya tidak mengupdate-nya selama berbulan2 tapi saya tidak menelantarkan fic saya, saya berusaha meneruskannya hanya saja ada berbagai kendala dalam melakukan hal itu. Untuk membuat fic banyak hal yang diperlukan, diantaranya waktu, peralatan (komputer/hp), dan imajinasi. Jadi, jika seorang author lambat mengupdate fic-nya, bukan berarti dia menelantarkannya, bisa jadi dia sedang mendapat kendala. Hidup seorang author bukan hanya untuk membuat fic, harap kamu mengerti tentang itu.
Guest
Makasih dah RnR. Ini udah lanjut, maaf agak lama dan tidak terlalu panjang.
...
Terima kasih sudah meluangkan waktu membaca fic ini. Jika ada kekurangan saya mohon maaf, saya hanyalah manusia biasa yang jauh dari kesempurnaan.
See ya,
Ann *-*
