Naruto Masashi Kishimoto

Story © Original by Nue Uzumaki

.

Warning : OOC,Typo(s)?, Death Chara, DLDR!

Rated : T

Genre : Romance, Hurt/Comfort, little bit Action.

.

Don't be Siders, Please! (Silent Readers)

-Karna Reviewmu berarti semangat bagi Author-

.

-THE ONLY ONE REGRET-

(T.O.O.R)

.

.


Chapter 2 : The Journey

.

Suara kicauan-kicauan burung terdengar amat merdu di telinga. Aroma rumput pagi yang dapat melegakan nafas siapapun yang menghirupnya. Udara sejuk nan segar yang terasa dingin menerpa kulit.

Sayang, suasana pagi yang tenang di Konoha itu terusik oleh teriakkan keras sang Hokage wanita yang sepertinya tengah memaki beberapa bawahan-bawahan yang mungkin tak becus dalam melaksanakan tugasnya.

Di balik meja, terlihat Tsunade yang sedang memijit-mijit perlahan keningnya yang terasa sedikit pusing. Sedang di hadapannya terdapat lima orang shinobi berpenampilan identik dengan baju abu-abu mereka yang membuat mereka terlihat sebagai sebuah tim. Tidak seperti Tsunade yang jelas-jelas menunjukkan ekspresi marah, mereka (lima orang itu) tak dapat di baca ekspresinya karena wajah mereka tersembunyi di balik topeng (elang, harimau, kera, merpati dan singa) yang tengah mereka pakai.

"Sebenarnya apa yang di pikirkan bocah itu?" tanya Tsunade yang merasa kebingungan.

Kini Tsunade memutar kursinya menghadap lima orang di ruang itu. "Kalian ini Anbu, bagaimana bisa tak berhasil memaksanya kembali?" tanyanya setengah berteriak.

Salah satu dari lima anggota Anbu yang berada di tengah melangkah maju.

"Maaf Tsunade-sama. Perberdaan kekuatan kami terlalu jauh. Dan juga dia tidak meninggallkan desa sendirian tapi ada Sasuke yang membantunya," ujar si anggota Anbu yang menggunakan topeng kera itu.

*BRAKK*

Tsunade terkejut. Ia berdiri dengan cepat menyebabkan kursi dudukkan yang di pakainya kini telah terjatuh dan menyebabkan bunyi yang agak keras. Bukan hanya itu, ia juga memukul meja di depannya menandakan ia tak dapat lagi menahan emosinya.

"Sasuke?!" ujar Tsunade heran.

'Ada apa sebenarnya? Apa dia tinggal disini hanya untuk menghasut Naruto? Atau Naruto yang mengajaknya keluar desa? Apa sebenarnya tujuan mereka?'. Pertanyaan itu terus berputar dalam pikiran Tsunade. Merasa kebingungan sendiri, Tsunade mengalihkan pandangan wajahnya ke arah kanan. Disana berdiri seorang wanita muda yang membawa seekor babi. Sedari tadi ia selalu berada di belakang Tsunade dan sepertinya ia bertindak sebagai penasehat Hokage.

"Bagaimana menurutmu, Shizune?" tanya Tsunade pada wanita bernama Shizune itu.

"Maaf Tsunade-sama. Saya belum bisa menyimpulkan." Shizune memejamkan mata –berpikir. "Tapi sebaiknya anda bertanya pada murid anda?" ujarnya memberi saran.

"Hmm ... Baiklah," ujarnya.

Tsunade kembali mengalihkan pandangan ke arah lima orang di depannya. "Kalian berdua cari Sakura dan kalian berdua kumpulkan semua anggota Konoha 11 yang ada di desa. Segera!" teriaknya pada empat orang lain yang kini sudah menghilang dan hanya menyisahkan si topeng kera.

Kini Tsunade sudah kembali duduk.

"Sebenarnya aku kecewa. Kau sudah aku percaya untuk melindungi Naruto dan juga mengawasi Sasuke. Kau gagal dalam melaksanakan kedua tugas itu," Tsunade memijit pelan keningnya. "Tapi aku akan memberimu kesempatan. Pimpinlah tim yang akan aku bentuk untuk melakukan pencarian terhadap mereka berdua dan pastikan kali ini jangan sampai gagal. Kalau gagal-"

Tsunade menahan sedikit kalimatnya. " –Naruto bisa dalam bahaya," tambahnya.

.

"Baik, Tsunade-sama."

.

.


~The Only One Regret~

.

.

"Sebaiknya kita istirahat disana, Sasuke!" ajak Naruto yang sedang berdiri di sebuah dahan pohon besar yang berada di atas bukit. Dibawahnya terlihat sebuah desa yang tidak terlalu luas tapi juga tidak terlalu kecil. Tempat yang terlihat cocok untuk mengistirahatkan tubuh mereka setelah perjalanan yang melelahkan semalam.

"Aku benar-benar lelah karena pertarungan semalam," keluh Naruto. "Kita akan lanjutkan perjalanan sore nanti," tambahnya.

"Hn," balas Sasuke.

Mereka pun lari menuruni bukit menuju desa di bawah.

Dalam waktu singkat mereka sampai di gerbang desa itu. Tak ada yang aneh ataupun mencurigakan disana. Aktifitas normal yang biasa di lakukan masyarakat sebuah desa seperti kegiatan jual-beli, beberapa orang yang mondar-mandir dan terkadang terlihat anak-anak kecil yang tengah asik bermain.

Merasa asing dengan daerah itu, Naruto tak tau harus menuju kemana untuk mencari tempat peristirahatan. Akan melelahkan apabila harus berputar-putar mencari tempat yang diinginkan tanpa informasi sama sekali, lalu Naruto memutuskan untuk bertanya dengan beberapa orang yang lewat.

"Permisi paman, apa disini ada penginapan?" tanya Naruto pada seorang pria paruh baya yang tengah membawa cangkul di pundaknya. 'Petani?' tanya Naruto dalam hati.

"Bukankah ini terlalu pagi untuk tidur, anak muda?" tanyanya keheranan.

"Iya. Tapi kami habis melakukan perjalanan semalaman, jadi kami harus mengistirahatkan tubuh terlebih dulu," jawab Naruto.

"Hm. Kalau begitu, ikuti jalan ini lalu belok ke kanan dan disana ada sebuah kedai makan sekaligus penginapan kecil," ujar pria paruh baya itu.

"Baik, terima kasih paman," jawab Naruto seraya tersenyum. Dan Naruto pun bergegas menuju arah yang di tunjuk pria tadi, sedang Sasuke masih terus mengikutinya dari belakang.

Sejak tadi Sasuke masih diam seribu kata. Ia masih terus memasang wajah gelisah meski tak disadari oleh Naruto. Ada yang coba Sasuke katakan tapi sepertinya dia belum menemukan waktu yang tepat untuk membicarakannya.

Sesampai di depan sebuah kedai yang di tunjuk oleh paman petani tadi, Naruto pun menarik nafas panjang dan membuangnya perlahan."Huuh ... akhirnya bisa istirahat," ujar Naruto yang keningnya sudah dipenuhi peluh yang bercucuran.

Sedikit aneh memang jika di pagi hari yang sejuk Naruto malah bercucuran keringat. Tubuhnya yang sudah terbiasa bekerja keras itu tak mungkin kelelahan semudah itu. Tak berselang lama kemudian, tubuh Naruto seperti kehilangan keseimbangan. Berusaha berpegangan pada tiang terdekat tak dapat mempertahankan posisi berdirinya, Naruto pun jatuh berlutut.

"Ada apa Naruto?" tanya Sasuke khawatir.

"Ti-tidak," suara Naruto hampir tak terdengar.

'Hinata-chan.' Nama itulah yang terpikirkan oleh Naruto saat itu. Pandangannya mulai berputar dan tampak buram. Tak dapat lagi menahan berat tubuhnya, Naruto pun jatuh tersungkur tak sadarkan diri.

.

.

Naruto mengerjapkan kedua matanya. Memfokuskan pandangan mata biru langitnya yang masih terasa buram. Mengalihkan pandangan ke sekitar ruangan yang terasa asing baginya. 'Penginapan ya?' simpul-nya.

Naruto berusaha bangkit dari posisi berbaringnya. Tubuh itu terasa lebih berat dari biasanya. Dia mengangkat kedua tangan ke depan wajahnya. Memperhatikan kedua belah telapak tangannya, Naruto sedikit terkejut melihat kedua tangannya bergetar tanpa henti.

"Ada apa dengan tubuhku?" tanya Naruto pada diri sendiri.

Pertarungan dengan shinobi sekelas Anbu semalam pasti menguras tenaga Naruto lebih dari yang ia pikirkan. Ditambah lagi dengan perutnya yang sudah lama kosong sejak kemarin pagi –hanya terisi sedikit porsi ramen.

"Aku harus mengisi perut kosong ini dulu," ujarnya.

Naruto pun berdiri perlahan berusaha menyeimbangkan tubuhnya yang masih sempoyongan. Ia berjalan sambil menyandarkan tubuhnya pada tembok agar tidak kembali roboh. Menuruni tangga dari lantai dua membutuhkan usaha lebih apalagi tanpa ada siapapun yang membantunya berjalan. 'Cih ... kemana kau Teme?' rutuknya dalam hati.

"Maaf bibi, aku pesan satu porsi makanan," ujar Naruto (yang kini sudah berada di kedai lantai satu) pada seorang wanita yang terlihat seumuran dengan gurunya, Ero-sennin.

"Baik-baik. Tunggu sebentar ya, Naruto". Mendengar namanya disebut oleh orang asing yang tak ia kenal di depannya membuat Naruto sedikit waspada. Tangan kanannya bergerak ke kantong kanan belakang tempat biasanya ia menyimpan kunai –bersiaga.

Setelah pesanan siap, bibi itupun menyodorkan makanan yang terlihat asing bagi Naruto –terlalu banyak sayuran di dalamnya.

"Tidak usah takut begitu, temanmu yang memberitahu dan sepertinya kau tak mengerti dengan kepopuleran-mu sendiri ya," ujar wanita paruh baya itu seraya tertawa ringan. Naruto sama sekali tak mengerti dengan apa arti dari 'kepopuleran' yang dimaksud si bibi, Naruto celingak-celinguk tak jelas.

"Um ... populer ...?" tanya Naruto seraya menggaruk dagu-nya dengan telunjuk kanannya –masih tak mengerti.

"Iya, kau Uzumaki Naruto dari Konohagakure kan?" tanyanya seraya tersenyum. "Anakku selalu menceritakan sosokmu yang keren dan luar biasa saat perang," tambahnya.

"Jadi makanlah supaya tubuhmu kembali pulih. Sepertinya kau terlalu memaksakan diri hingga jatuh pingsan begitu."

Merasa sudah tak sopan atas tindakannya, Naruto pun meminta maaf dan segera melahap makanan yang tengah dihadapnya.

"Ittadakimasu," ucapnya memulai makan.

"Ngomong-ngomong bibi ingin menjodohkan kau dengan anak bibi, dia cantik dan baik, apa kau mau Naruto?" tanya wanita itu mencoba menawarkan sebuah perjodohan.

Naruto agak lama untuk memberi reaksi atas pertanyaan yang bisa dibilang sebuah lamaran tak langsung itu.

"Maaf bibi, aku sudah punya orang lain dan sekarang aku dalam perjalanan menemuinya," tolak Naruto berusaha sehalus mungkin.

Wajah bibi itu terlihat agak kecewa tapi kembali tersenyum. "Begitu ya, mau bagaimana lagi," ujarnya. "Wanita yang beruntung ya, sampai-sampai kau memaksakan diri hanya untuk menemuinya. Kalau boleh bibi tau, dia ada dimana?"

Naruto terkejut dengan pertanyaan bibi itu. Ia sendiri tak tau harus mengatakan apa, bisa-bisa dia di bilang gila jika ia mengatakan 'Alam Baka' sebagai jawabannya.

"Dia ada di tempat yang tak mungkin tercapai, hanya dengan perasaan kuat yang kumiliki-lah, aku yakin pasti ada jalan untuk menemuinya," ujar Naruto jujur.

Senyum si bibi semakin melebar mendengar jawaban yang penuh dengan keyakinan dari si Uzumaki di depannya.

*DUARR*

Tiba-tiba terdengar sebuah suara dentuman yang disusul teriakan-teriakan minta tolong yang sepertinya berasal dari penduduk desa setempat. Kaget mendengar ledakan yang tiba-tiba itu membuat Naruto harus menghentikan aktifitas mengisi perutnya sejenak.

"Bibi, ledakan apa itu?"

Si bibi terlihat tak senang, ia menggelengkan kepalanya.

"Sepertinya para bandit liar sedang melakukan penjarahan lagi di pasar," ujarnya agak murung.

Naruto pun bergegas memaksakan dirinya berlari meskipun tubuhnya belum sepenuhnya pulih –masih gemetaran.

Diluar terlihat para penduduk tengah berlarian pontang-panting seraya membawa barang-barang dagangannya. "Toloong!" teriak diantaranya.

Setelah beberapa lama memperhatikan sekitar, mata Naruto menemukan sosok berbaju putih yang berada di atap sebuah rumah sedang membelakangi dirinya.

"Sasuke!" panggil Naruto.

Sasuke hanya memutar kepalanya sedikit ke belakang dan menemukan Naruto-lah si pemanggil, Sasuke kembali mengalihkan pandangan ke depan dan agaknya seperti sedang memperhatikan sesuatu. Naruto yang merasa dirinya tidak diindahkan kini melompat ke atap tepat di samping kanan Sasuke.

Pemandangan tak mengenakan sudah ada di hadapan mereka berdua. Sebuah pasar yang rasanya cukup luas itu kini sudah tak beraturan bentuknya, hampir tak ada kios penjual yang berdiri tegak karena sebagian besarnya telah roboh dan sebagian ada yang telah hangus terbakar. Menghancurkan mata pencaharian para penduduk, siapa yang berani-beraninya melakukan perbuatan kejam seperti itu?

Disana terlihat seorang yang berbadan besar dan tegap tengah menghancurkan secara membabi-buta dagangan-dagangan yang sudah tak dijaga lagi oleh penjualnya itu dengan sebuah palu besar yang dililit rantai-rantai kecil. Dan masih ada lima orang lainnya yang tubuhnya tampak tak terlalu besar tengah berlarian mondar-mandir secara bergantian mengambil, atau lebih tepatnya menjarah barang-barang berharga yang berserakan di sekitar pasar.

Tak suka dengan pemandangan yang tengah dilihatnya, Naruto memukul pundak rekan di sampingnya seraya berkata, "Kenapa kau tidak menghajar mereka, Sasuke?"

"Kenapa aku? Lagipula aku harus melindungi sesuatu," ujar Sasuke.

"Melindungi sesuatu? Maksudmu apa?" tanya Naruto yang tak mengerti maksud Sasuke.

"Sudahlah, bukankah kau harus melakukan sesuatu terhadap mereka?" ujar Sasuke lagi.

"Kau ini."

Naruto pun langsung melompat turun. Baru beberapa meter ia berlari, kini ia sudah berdiri tepat di belakang si tubuh besar yang masih tampak mengamuk.

"Hentikan!" pinta Naruto, sayang sekali, permintaan baik-baik dari Naruto sama sekali tak digubris.

"Kalian semua! Berhenti!" teriak Naruto yang kini mendapat perhatian dari ke enam orang itu.

Si tubuh besar dan lima orang lainnya pun langsung menghetikan aktifitas penjarahan mereka. Merasa tersinggung karena aktifitasnya di ganggu oleh seorang bocah, si tubuh besar langsung menghantam tanah di depan Naruto dengan palu besar miliknya –mencoba menggertak.

"Apa yang kau inginkan bocah?" tanya si tubuh besar itu.

Suaranya yang terdengar keras dan berat menciptakan aura yang sangat sangar dan mampu menciutkan nyali siapapun yang memiliki mental lemah.

Naruto membuat segel tangan di depan wajahnya.

"Kage Bunshin no Jutsu."

Sebuah bayangan mirip Naruto muncul tepat di sampingnya. Naruto asli menjulurkan tangan kanan kepada kembarannya itu. Tanpa perintah apapun, bushin Naruto seperti sudah mengerti apa yang harus dia lakukan. Dengan menjulurkan kedua tangan di atas tangan Naruto yang asli, tangannya bergerak sesuai pola yang seharusnya dan terjadi sebuah putaran angin yang berbentuk semakin lama semakin padat –membentuk Rasengan.

Melihat sesuatu yang mengancamnya, tanpa membiarkan Naruto menyelesaikan jutsu-nya, dengan cepat si tubuh besar mengayunkan palu besarnya tepat ke arah Rasengan yang belum sempurna terbentuk itu.

*DUARR*

Mau tak mau Naruto harus menghindari ayunan palu itu jika tak ingin terluka dan membiarkan Rasengan-nya gagal terbentuk. Naruto dan bunshinnya pun melompat mundur beberapa langkah untuk memberi jarak.

Tanpa aba-aba mereka berdua (Naruto dan bunshin) kembali mendekat dengan berlari ke sisi kanan-kiri si tubuh besar. Naruto asli yang mendekat dari arah kiri langsung melesatkan sebuah tendangan keras ke arah perut, namun tendangannya di tahan dengan palu besar. Melihat sisi kanan yang tak terlindungi bunshin Naruto mengarahkan pukulunnya tepat ke wajah si tubuh besar.

*Slash*Slash*Pofft*

Dua buah shuriken tepat mengenai bunshin Naruto yang hampir menghajar wajah si tubuh besar dan menyebabkan bunshin itu menghilang.

*Slash*

Kali ini sebuah kunai melesat ke arah Naruto asli. Naruto pun menghindari kunai itu dengan mudahnya. Sepertinya ke lima orang yang lainnya pun ikut membantu si tubuh besar dari belakang.

Salah satunya kini berlari menuju Naruto. Mereka pun terlibat pertarungan fisik, kekuatan serta kecepatan pukulannya terlihat seimbang. Ini disebabkan karena fisik Naruto yang sedang tidak fit. Menyebabkan penurunan yang signifikan terhadap kekuatan Naruto yang sebenarnya.

Sebuah pukulan mengarah tepat ke wajah Naruto, namun masih bisa di tangkis. Ia pun membalas dengan tendangan ke arah pinggang kanan lawannya.

*DUAGH*

Tendangan itu telak mengenai lawan fisik Naruto, menyebabkannya terlempar beberapa meter. Kemudian ke empat orang lainnya kini melompat dan mengelilingi Naruto di empat sisi.

*Katon : Goukakyuu no Jutsu*

Teriak ke empat orang itu disusul empat buah bola api raksasa yang menuju Naruto dari empat arah mata angin yang berbeda. Naruto pun langsung melompat setinggi mungkin untuk menghindarinya. Saat di udara, Naruto kembali mengeluarkan seorang bunshin. Kali ini dia membentuk sebuah Rasengan raksasa dan langsung mengarahkannya pada si tubuh besar dengan bantuan pijakkan dari bunshin-nya.

"Oodama Rasengan", ujar Naruto.

*BLARR*

Sebuah ledakkan terjadi akibat benturan Rasengan dengan tanah. Si tubuh besar sempat menghindar dan tak terkena dampak serangan itu. Jarak pandan Naruto terbatasi oleh kepulan debu yang bertebaran akibat serangan tadi.

Tiba-tiba sebuah bola api raksasa kembali mengarah kepada Naruto. Ia pun melompat ke samping menghindari bola api itu seraya keluar dari kepulan debu yang menghalangi pandangannya. Namun sebuah batu berukuran sedang melesat cepat ke arahnya.

Naruto masih mencoba menghindar. Tapi kini pijakkan kakinya tak lagi seimbang, pandangannya mulai kembali tak jernih dan kepalanya terasa sedikit berputar.

*DAGH*

Meski berhasil melompat, batu itu melesat lebih cepat dari pergerakkan Naruto. Mengenai tepat lengan kanan Naruto, menyebabkan tubuh Naruto sedikit terputar dan akhirnya jatuh tersungkur ke tanah.

"Aahh," ujarnya kesakitan.

Si tubuh besar berjalan mendekat ke Naruto yang tengah tergeletak. Ia menyiapkan palu besar itu di udara seakan ingin melakukan sebuah eksekusi.

"Hyaaaa," teriak si tubuh besar seraya mengayunkan palunya ke arah Naruto.

*Chidori Nagashi*

Sasuke pun dengan cepat melesat dengan pedang Kusanagi-nya tepat ke arah si tubuh besar. Ia pun menahannya dengan palu itu, namun Chidori menyambar palu besar itu serta rantai-rantainya dan menyebabkan aliran listrik kejut mengenai si tubuh besar dan membuatnya pingsan seketika.

Setelah berhasil melumpuhkan si besar, Sasuke pun langsung melakukan serangan selanjutnya.

"Kage Shuriken no Jutsu," ucap Sasuke. Sebuah shuriken kini berubah menjadi ratusan dan mengarah ke empat orang musuh yang masih tersisa.

Ketiga orang lain menghindar ke berbagai arah dan salah seorangnya melompat ke udara, kembali melakukan jutsu api miliknya. Kini sebuah api raksasa mengarah ke arah Sasuke dan Naruto yang masih belum bangkit. Sasuke tak membalas serangan itu dan lebih memilih membantu Naruto untuk menghindar.

"Ayo bangun Naruto," ujar Sasuke seraya membantu Naruto berdiri dan mengaitkan sebelah tangan Naruto di pundaknya.

"Hn"

Sasuke yang melihat bola itu semakin dekat, menggunakan Sharingan untuk menghidarinya. Dan mereka pun melompat, tapi sebuah benda yang terlihat seperti benang tipis yang tengah di bungkus plastik kecil terjatuh dari balik baju Sasuke.

"Gawat!" ujar Sasuke yang melihat benda bawaannya itu akan terbakar oleh bola api raksasa. Tapi ia tak bisa kembali untuk mengambilnya atau tubuhnya akan ikut terbakar bersama benda itu.

*DUARR*

Sebuah ledakkan kembali terjadi karena bola api tadi. Bersama dengannya benda tadi kini hilang menjadi asap.

"Akan aku akhiri ini, tunggu disini Naruto," ucap Sasuke yang tubuhnya kini sudah di kelilingi oleh perisai pelindung tak tertembus –Susano'o.

"Tunggu, jangan sampai membunuh siapapun," ujar Naruto yang terlihat agak khawatir.

"Hn," jawab Sasuke dengan anggukkan.

Dengan Sharingan yang masih aktif, Sasuke lari mengelilingi empat musuhnya dengan kecepatan tinggi seraya membentuk segel tangan.

"Katon : Housenka no Jutsu." Shuriken yang terbakar api-api kecil kini melesat dan mengelilingi ke empat orang itu, mereka tersudut ditengah. Tak bisa lari ke bawah maupun kesamping, satu-satunya jalan adalah dengan melompat ke atas.

Mereka yang tengah terkepung pun lompat secara bersamaan, namun di atas mereka sudah terlebih dahulu ada Sasuke yang tengah menggunakan Susano'o dan *TAP*.

Sasuke berhasil menangkap mereka sekaligus dengan tangan Susano'o-nya itu.

Dan terlihat di kejauhan Naruto tengah tersenyum puas dengan aksi rekan sekaligus sahabatnya itu.

.

.

.


Sementara itu di sebuah ruangan ...

"Lepaskan aku!" teriak seorang gadis muda yang tengah terikat di sebuah kursi.

Suasana di ruangan itu terasa kelam karena gelap dan hanya ada beberapa lilin yang tak mampu menghilangkan kegelapan di dalam ruangan itu. Tak ada benda lain yang ada dalam ruangan yang terasa dingin itu, hanya sebuah kursi sang gadis dan sebuah pintu.

"Kenapa aku hidup, apa yang terjadi?" tanya si gadis kebingungan.

Gadis itu mengalihkan pandangannya pada pintu di depannya.

"Aku tau kau ada disana, cepat tunjukkan wajahmu!" pinta si gadis memaksa.

*KRIEK*KRIEK*

Suara pintu yang tak bisa di buka dengan lancar karena tersendat, mungkin karena ini bangunan tua.

Muncullah seorang yang berpostur tubuh seperti seorang laki-laki dengan hampir sekujur tubuh dan wajah yang tertupi oleh perban.

"Ada apa?" tanya pria itu singkat.

"Siapa kau? Apa yang sudah kau lakukan padaku?" tanya si gadis penasaran.

"Maaf aku tak bisa menunjukan siapa aku dan apa maksudku melakukan ini." Pria itu menahan sedikit kalimatnya.

"Tapi ... " ujarnya kembali memberi jeda.

"Akan ku beritahu setelah aku menghapus beberapa ingatanmu," tambah si pria.

Sang gadis membulatkan matanya mendengar perkataan pria de hadapannya.

Pria itu pun mengangkat kedua tangannya dan membuka sedikit perban pada mata kanannya. Menunjukkan mata yang tak asing bagi si gadis.

.

.

"Sharingan"

.

.

To Be Continued


Update telat akhirnya selesai ... ! Gomen ya minna, kelamaan update akibat tugas yang lagi kejar tayang(?)

Arigatou readers yang udah nge-review fict kedua saya ini

.

Sekarang time to reply review ...

naruhina love's : sudah lanjut :D, review lagi ya

uzumaki hinata : sudah saya lanjutkan :), review ya

guest 1 : maaf ya lama update-nya sudah lanjut :)

Imink-chan : sudah lanjut :D, review nya pliss

guest 2 : sudah nih, review ya

amexki-chan gak log : sekarang udah masuk cerita kok walopun masih awal-awal :d review lagi ya

nyuga totong : namanya lucu :d, sudah lanjut, review yah

.

Dan yg login akan saya balas di PM ya :D

Akhir kata : minna-san review nya! *teriak pake toa masjid*

.

.

Nue Uzumaki *Pofft*