Pull Me Under, Wake Me Up

.

.

.

o.o

.

.

.

An EXO Fanfiction

.

.

.

o.o

.

.

.

- HunKai -

- ChanKai -

- SooKai -

.

.

.

Hurt/Comfort, Angst, School Life

.

.

.

PG-18

.

.

.

WARNING!

.. Yaoi, BxB, MxM, No Child, OOC, AU ..

.. bahasa kasar dan vulgar ..

.

.

.

DLDR!

.

.

.

.

.

.

.

Disclaimer: Karakter dalam cerita bukan milik saya. Cerita; alur dan plot adalah asli dari hasil pemikiran saya sendiri.

.

.

.

.

.

.

Segalanya aku ingin cepat berakhir.

Aku ingin Si Berengsek itu cepat lulus dan aku juga ingin cepat lulus dari sekolah neraka ini. Kemudian aku sekolah di perguruan tinggi di luar negeri mungkin ide yang bagus.

Atau setidaknya, sekarang aku bisa pindah sekolah. Berbeda sekolah dengannya dan hidupku akan damai sedikit.

Pernah sekali aku mencoba untuk pindah dengan mengatakannya kepada Ayah dan Ibu lewat telepon sekolah sebab kami tidak diperbolehkan memakai alat komunikasi apapun kecuali pada hari minggu. Namun waktu itu aku sudah tidak sabar menunggu datanganya hari minggu.

Sayang sekali, Si Bangsat itu tahu, dia merebut gagang telepon yang aku gunakan. Dan dengan segala macam cara liciknya, dia menggagalkannya.

Dia bilang pada Ayah dan Ibu bahwa kami akur di asrama, saling menyayangi dan saling menjaga. Bahwa adik manisnya ini hanya sedang mengada-ada. Lalu, bla bla bla... Mulutnya busuk!

Aku sangat membencinya!

Dia marah besar padaku. Mengatakan bahwa aku akan jadi lebih menyedihkan lagi jika aku pindah sekolah, tidak menuruti keinginannya, dan mengadu lagi kepada Ayah dan Ibu.

Aku harus selalu berpura-pura pada Ayah dan Ibu. Membohongi mereka akan segala kenyataan yang aku alami. Itu perintah Si Bajingan, Park Chanyeol Sialan

Awas saja nanti, Park Sialan Chanyeol! Hidupmu akan lebih menderita dariku! Tinggal tunggu saja waktunya dariku.

"Hei, Kau! Kim Jongin!" Aku tersentak ketika seseorang memanggil namaku dengan galak. Di depan, Guru Lee memandangku tajam. Ah, sialan.

"Kerjakan soal di papan tulis yang nomor tujuh!" Perintahnya.

Ugh, aku tidak mengerti satu soal pun di papan tulis itu, apalagi nomor tujuh, benar-benar tidak mengerti. Aku hanya berdiri mematung di depan soal di papan tulis sambil tanganku yang memegang spidol mengambang di udara.

Kepalaku pening dan mataku berkunang-kunang hanya dengan melihat soalnya. Ada garis-garis, huruf-huruf acak, lalu angka-angka yang merangkai sebuah soal untuk kuselesaikan. Ini sungguh menjengkelkan!

Aku rasa, di sekolah hanya aku yang paling bodoh. Si Bangsat Chanyeol seolah tidak mengijinkan aku untuk belajar lebih sebab hampir setiap malam aku habiskan hanya untuk mendesah menjijikkan di bawahnya. Bangsat!

Lalu, pada akhirnya Guru Lee tahu bahwa aku tidak bisa menyelesaikan soalnya. Aku kena hukuman, berdiri di depan kelas selama pelajaran.

Dengan pantat sakit dan kaki masih pegal pula, aku berusaha tetap berdiri dengan satu kakiku. Susah payah aku menstabilkan posisiku agar Guru Lee tidak memberiku hukuman yang lebih berat dari pada ini.

Seperti, mengerjakan banyak soal-soal, atau parahnya membersihkan kamar mandi gedung olah raga yang berarti itu termasuk toiletnya juga. Tidak! Aku tidak mau!

Di luar terdengar dengan jelas suara langkah kaki memenuhi lorong karena semuanya sibuk menyalin tulisan Guru Lee di papan tulis dengan tenang.

Saat pintu kelas digeser, perhatian Guru Lee teralihkan. Aku pun merasa lega dan kesempatan itu aku manfaatkan untuk menurunkan kakiku.

Guru kesiswaan masuk dengan siswa yang tidak dikenal. Kemungkinan besar adalah siswa baru. Aku belum pernah melihat wajahnya sebelumnya ada di sekolah maupun di asrama. Jadi, kesimpulanku bahwa dia adalah siswa baru.

Dan benar saja, dia siswa baru. Namanya Oh Sehun, itu yang saja yang aku ingat saat dia memperkenalkan diri. Guru Lee memukul-mukul bokongku terus saat yang lain memperhatikan Sehun memperkenalkan dirinya karena aku menurunkan kakiku ke lantai.

Ah, benar-benar sialan. Bokongku terasa berdenyut-denyut.

Rupanya dia duduk di bangku sampingku yang berada di belakang sana.

Dia menatapku terus-terusan.

Mungkin dia heran, atau merendahkanku karena dihukum?

Entahlah.

Meskipun aku benci ditatap seperti itu, aku akui dia tampan. Dan aku suka diperhatikan olehnya seperti itu. Dia tampan, dan beruntungnya aku dapat duduk bersebelahan dengannya.

"Hai." Sapanya saat aku kembali duduk, masa hukuman sudah selesai.

Aku menoleh, awalnya kupikir dia bukan menyapaku tetapi menyapa orang lain.

Ini pertama kalinya ada orang ramah di sekolah ini yang menyapaku.

Sebenarnya aku benar-benar canggung. Aku sangat jarang mengobrol baik-baik dengan siswa lain selama aku bersekolah di sini.

"Kau dihukum?" Aku membuang muka. Bocah ini benar-benar tidak tahu atau pura-pura bodoh. Aku hanya diam saja.

Pantatku sakit dan perih terasa kembali. Aku tidak nyaman duduk, dan orang di sampingku sangat sok akrab sekali.

"Kenapa? Bokong kamu pasti sakit gara-gara dipukul Pak Guru tadi? Apa sesakit itu? Kelihatannya tidak terlalu keras juga Pak Guru memukulmu." Cerocosnya tidak tahu apa-apa.

Wajahnya yang datar sedatar tembok itu ternyata tidak sinkron dengan mulut berbibir tipisnya. Orang tampan tidak melulu pintar. Dari pertanyaannya aku berpikir bahwa dia siswa idiot.

Aku tersenyum miring, karena aku tersadar dari ketidaksadaranku telah memperhatikan wajahnya, dan bibirnya. Oh, dia memang sangat tampan dengan otak idiotnya.

Dia memegangi wajahnya. "Kenapa?" Tanyanya sambil mengerjap-ngerjap polos.

Ada juga orang seperti ini ternyata ya? Tampan, otak idiot, dan polos.

"Tidak. Tidak ada apa-apa." Jawabku mengalihkan pandanganku ke arah lain.

"Apa ada sesuatu di wajahku? Hei!"

Aku tertawa kecil melihatnya kebingungan.

Oh, Tuhan... Aku belum pernah merasakan senang seperti ini sebelumnya. Aku selalu terkurung dengan Si Bangsat itu setiap hari, 24 jam dalam sehari. Bahkan di hari libur sekalipun.. Kini aku bisa merasa ringan dengan beban hidupku.

"Kenapa kau tersenyum-senyum sendiri?"

"Tidak. Bukan apa-apa. Tidak usah dipikirkan."

"Apa kamu gila?"

Mungkin. Iya, mungkin saja. Aku sudah gila.

Dia orang yang banyak bicara ternyata selain sok akrab.

Dia bilang dia akan tinggal di asrama karena merasa bosan di rumah. Katanya ingin mencari suasana yang baru. Berbeda sekali denganku yang ingin sekali tinggal di rumah saja. Aku ingin bersama Ibu. Dan Ayah. Bukan bersama Si Berengsek satu itu.

Telingaku terasa memanas. Dia banyak bicara, menanyakan dan bertanya ini dan itu. Walaupun tidak aku tanggapi, dia tidak kapok. Sesekali dia memainkan ponselnya, kemudian dia akan bicara lagi.

Namun entahlah.., dia membuatku merasa nyaman. Aku suka ketika dia berbicara denganku, meskipun aku tidak menanggapinya. Bukan apa-apa, susah sekali mulutku mengutarakan sesuatu yang sedang aku pikirkan.

Dia mengajakku berkeliling sekolah saat istirahat. Aku menolak pada awalnya, namun penolakkan itu seperti bukan apa-apa baginya. Tarikkan tangannya sangat kuat untuk aku berontak. Jadi aku pasrah saja diseret-seret.

Tubuhnya yang tinggi menyeretku berkeliling lingkungan sekolah dan aku dipaksa menjelaskan ini dan itu.

Tiba-tiba aku menyadari sesuatu.

Dia juga setinggi Si Berengsek, postur tubuhnya lebih besar dariku.

Apa sifatnya juga sama seperti Si Berengsek itu? Aku tidak bisa membayangkannya jika iya.

Kuharap mereka berbeda, Sehun lebih baik. Dia baik, tampan, dan ramah. Aku ingin sekamar saja dengannya meskipun itu tidak mungkin akan terjadi. Sial!

"Kamu tidak mendengarkanku, ya? Kenapa tidak menjawab?"

Aku menatapnya bingung. Dia menghela napas.

"Kamu itu kenapa? Apa kamu ada masalah?" Tanyanya perhatian. "Kamu boleh membaginya denganku. Mungkin aku bisa membantumu. Kita kan teman." Dia sangat baik. Bolehkah aku selalu bersamanya? Dan apa tadi dia bilang? Teman?

Aku tersenyum. Senang sekali rasanya ada yang menganggapku sebagai teman.

"Tidak. Memang tadi kamu bertanya tentang apa?" Aku mendongak untuk bisa menatapnya. Tidak beruntungnya punya tubuh pendek.

"Oh, itu gedung apa?" Tanyanya mengulangi.

"Itu gedung serba guna sekolah." Jawabku.

Kemudian dia menanyakan hal-hal lainnya. Aku menjelaskan apa-apa saja yang dia tanyakan selama istirahat, meskipun banyak yang tidak aku ketahui.

Aku tahu dia sedikit kecewa atas jawaban-jawabanku yang kebanyakan tidak memuaskan. Dan aku menyesal kenapa aku tidak tahu apa-apa dengan lingkungan sekitarku. Padahal lingkungan ini juga sekolahku.

Dia mentraktirku minuman dingin. Dia tersenyum padaku. Dia, Oh Sehun, mampu membuatku sedikit melupakan masalah-masalah dalam hidupku. Terutama Park Chanyeol, Si Bangsat itu.

Kuharap dia tetap polos seperti ini, dan akan selalu mau berteman denganku. Sekalipun dia tahu bahwa aku dibenci semuanya di sekolah.

Saat aku kembali ke kamar asrama, aku masih merasa sangat senang. Tidak hanya karena Sehun tadi siang, tapi juga karena Si Berengsek tidak ada di kamar asrama.

Aku tidak peduli dia ke mana, yang penting dia sedang tidak di kamar asrama.

Kuharap dia tidak kembali lagi ke sini selamanya.

Kuharap dia mati di luar sana dan mayatnya tidak pernah ditemukan oleh siapapun.

.

.

.

.

.

.

.

tbc