Without Glasses Chapter 2
Read 'n Review!
Selamat Membaca ^_^
Sore itu langit di atas Tokyo berwarna jingga bercampur lembayung bersemburat biru berawan. Matahari masih mengintip dari ufuk barat di belakang gumpalan awan – awan berbentuk seperti gumpalan kapas.
Dua orang pemuda berjalan menusuri jalan setapak yang sepi di antara perumahan. Midorima berjalan tertarih – tatih sembari dituntun oleh Takao.
"Awass ada selokan! Kiri, kiri, kiri!" Takao menggiring Midorima ke kiri.
"Iya, iya, aku sedang berusaha!" Midorima berjalan ke arah yang dimaksud Takao, melepaskan tangan Takao dari kaos putihnya.
"Eh, eh, bukan ke kanaaan! Tapi ke kiri!"
"Ya, ini ke kiri 'kan?"
"Bukaaan! Kamu sebenarnya ke arah ki—"
BYUUUURR!
Takao cepat – cepat menghampiri Midorima dan menariknya. Midorima melepeh – lepeh.
"Uhuk! Uhukk! Sial sekali hari ini... ini semua gara – gara kamu!"
"Lho, 'kan kamu setuju untuk jalan – jalan hari ini tanpa kacamata?"
"Tapi yang memulai ini 'kan kamu! Siapa juga orang rabun jalan – jalan seenaknya tanpa kacamata!? Sama saja seperti orang buta berjalan tanpa tongkat! Kau tak takut aku terserempet mobil atau sebagainya!?" Midorima ngos – ngosan antara karena mengambil nafas setelah terbatuk – betuk karena jatuh ke selokan atau karena marah - marah sama Takao.
"Tapi kamu 'kan mempercayai aku sebagai pemandu?"
"Sudahlah! Hari ini ke rumahmu saja sebentar untuk ganti baju."
Kebetulan, rumah Takao cukup dekat dengan daerah yang sedang ditempuh duo Shuutoku itu saat ini. Takao pun dengan susah – payah menggiring Midorima ke jalan pulang ke rumahnya. Setelah sampai, Midorima langsung mengambil sebuah T – Shirt bawaannya dan beranjak ke kamar mandi.
"Midorima, bagaimana kau tahu kalau sekarang kau akan nyebur ke selokan!? Pakai bawa baju ganti segala!"
"Lucky item hari ini kebetulan saja T – Shirt, tolol. Kalau lucky item – ku sekarang gunting, sudah kucabik – cabik kau sampai tinggal tulang."
"Oooh, begitu toh." Takao bergidik. Dia menggaruk – garuk kepalanya.
"Eng... jadi... aku minta maaf sudah menimbulkan kecelakaan bagimu, Midorima. Aku... sebenarnya tak bermaksud begini, eh, aku, hanya ingin kamu melalui suasana yang berbeda supaya tidak bosan."
"Untuk apa minta maaf?"
"Eh?" Takao berbalik menemui Midorima yang sudah memakai T – shirt dengan rapi.
"Ayo kita lanjutkan jalan – jalannya, nanodayo."
"Tapi... bagaimana dengan yang tadi...?"
"Tenang saja, aku tidak akan nyebur ke selokan lagi karena aku sudah memakai lucky item – ku."
"Bagus!" Takao langsung menyeret Midorima ke jalanan lagi.
Kali ini, Midorima lebih memperhatikan instruksi Takao supaya tidak terjadi kecelakaan. Benar saja, Midorima mampu melewati jalan – jalan dengan mulus. Tidak buruk juga. Ini suatu tantangan yang bagus, pikir Midorima. Satu – satunya hal yang disayangkan Midorima adalah dia tidak bisa melihat pemandangan indah di sekitarnya dengan jelas.
"Ayo kita menyebrang, nanodayo."
"Hah!? Kau serius!?" Takao tidak sempat memprotes ketika Midorima menggandengnya untuk menyebrang jalan. Jalanan itu sangan ramai, namun ajaibnya Midorima mampu menyebrangi jalan itu dengan lurus!
Lalu, tanpa diduga, Midorima berbelok ke arah sebuah toko kue di pinggir jalan, masih menggandeng tangan Takao, tanpa menunggu instruksi darinya. Takao terkejut.
"Kue tart satu. Yang nomor dua dari kiri, barisan etalase paling bawah."
Si penjaga toko kue mengangguk, memasukkan kue tart itu ke dalam kresek, dan menerima sejumlah uang kertas dari Midorima sembari menyerahkan kue tart dalam kresek yang dipegangnya.
"Eh, ngomong – ngomong, Midorima, kenapa kau membeli kue? Dan... bagaimana kau tiba – tiba bisa berjalan tanpa arahan dariku?" ujar Takao sambil duduk bersamaan dengan Midorima di bangku di samping jalan.
"Kau lupa ya? Dasar bodoh." Midorima tersenyum tipis misterius dan merogoh saku kanannya. "Hari ini hari ulang tahunmu, 'kan?"
Takao berteriak kaget dan memeluk Midorima erat.
"Kenapa tak bilang – bilang!?"
"Ini semua kejutan." Midorima tersenyum makin lebar. "Ayo ke rumahmu dulu, akan kuceritakan semuanya di sana."
Takao dan Midorima melahap kue tart kecil bertingkat dua itu bersama – sama di meja makan rumah Takao.
"Kue ini enak sekali." Takao mengomentari.
"Jadi, kau tahu, sebenarnya rabuh jauhku tidak sebegitu parah. Aku sekarang minus 2,5. Artinya, aku masih bisa beraktifitas sehari – hari tanpa kacamata. Aku memakai kacamata karena ibuku menyuruhku, juga untuk meningkatkan akurasi shooting – ku."
"Jadi..." Takao berhenti melahap kue tart – nya. "Ini semua hanya kejutan!?"
"Ya."
"Adegan jatuh ke selokan itu..."
"Itu hanya pura – pura. Makanya aku menyiapkan baju ganti."
"Kacamata yang kau beli itu..."
"Yang lama sebenarnya masih cocok."
"Diary salah tulis itu..."
"Hentikan, Takao. Itu semua sudah terencana olehku. Aku sengaja begitu supaya aku seolah – olah perlu mengganti kacamataku dan memancingmu untuk melepas kacamataku, karena dalam seminggu ini..." Midorima melahap sepotong kue. "Kau penasaran dengan tampangku tanpa kacamata dan berusaha melepas kacamataku. Jadi pada hari ini, aku wujudkan saja keinginanmu itu."
"Shin – chan..." mata Takao berbinar – binar antara mengagumi rapinya rencana Midorima untuk mengejutkannya atau betapa besarnya pengorbanannya untuk menjalankan rencana ini.
"Dan untuk memulai semua ini, aku sengaja membawa bola basket untukmu karena aku tahu kau suka bermain bola basket di ruangan keluarga rumahmu." Midorima menambahkan. Takao semakin berbinar – binar.
Midorima merogoh sebuah benda lain dari sakunya. Sebuah lilin bebentuk angka "17"
"Happy birthday, Takao" ujar Midorima sambil menancapkan lilin ini di atas kue yang sudah compang – camping, lalu mencium Takao.
"Thank you so much, Shin – chan" Takao balas mencium Midorima.
Sore ini, Takao menerima hadiah ulang tahun yang paling mengesankan dalam hidupnya
END.
Ingat, Read 'n Review guys! \ ^_^ /
