Terimakasih untuk review. Syukurlah responnya untuk ff ini semuanya suka. Untuk alur mohon maaf jika masih terlalu cepat. Inspirasi cerita ini langsung muncul pas dengerin lagu nya UTOPIA – BENCI jadi langsung deh cepet-cepet bikin daripada kelupaan. Part ini konflik mungkin masih belum terlalu ekstrim. Kemungkinan ff ini ceritanya panjang tapi semoga saja gak malas lanjutin terus idenya berkembang terus. Untuk itu mohon review nya juga ya biar aku semangat terus lanjutin ff nya.
So, please enjoy, read and review. Thank you.
Disclaimer : all character is JK Rowling. Story is mine.
CHAPTER 2
WHAT'S WRONG LOVE
Aku berjalan cepat menjauh dari tempat itu. Draco kurang ajar. Pantas saja dia berubah seminggu ini dan aku tahu kenapa dia sekarang lebih sering menghabiskan waktu di Asrama Slytherin. Ternyata dia bersama Astoria Greengrass, wanita cantik berdarah murni dari Slytherin.
" Mereka berdua memang terlihat cocok."
Hatiku mencelos dan aku tak bisa menahan airmataku lagi. Dadaku benar-benar sesak. Aku kecewa dengan Draco. Dengan setengah berlari aku pergi menuju ke Menara Astronomi. Aku memang suka pergi kesini hanya untuk sekedar menenangkan diriku atau ketika aku mulai lelah dengan belajar mengingat menara ini adalah tempat yang jarang dikunjungi dan hanya akan di gunakan pada malam hari untuk belajar ilmu perbintangan. Sesampainya di Menara Astronomi Aku menangis sejadinya dan membiarkan perasaanku melega.
Tentu saja,tidak seharusnya aku jatuh cinta dengannya. Seharusnya aku tahu dari awal dia tidak pernah mencintaiku. Dia hanya memanfaatkanku. Hermione Granger, kau murid terpintar di Hogwarts, namun kau menjadi sangat bodoh melebihi troll ketika menghadapi seorang Draco Malfoy. Aku mengumpat berkali-kali dalam hati. Ya, aku sangat bodoh harus mencintai seorang Draco, memberikan seluruh perhatianku kepada seorang pria yang jelas tidak benar-benar menginginkanku. Aku menangis mengingat semuanya, semua perlakuannya dan kalimat manisnya. Aku benar-benar merasa menjadi seorang pecundang sekarang. Seharusnya aku mendengar kata Ron, seharusnya aku tidak tertipu oleh mulut manis Draco. Aku membencinya, aku membenci Draco Malfoy.
Cukup lama aku berada di sini. Maka ketika aku rasa sudah puas dan lelah menangis ,aku memutuskan untuk tidak pulang ke asrama ketua murid. Aku akan menginap di asrama Gryffindor. Lagipula sudah lama aku tidak berkunjung ke Asramaku. Menjadi kekasih Draco sedikit banyak membuatku melupakan sahabat dan teman-temanku. Aku merasa seperti orang jahat yang hanya mengingat sahabat ketika sedang sedih.
Aku memasuki asrama Gryffindor dan menemukan Harry, Ron,Seamus, Dean dan Neville sedang mendiskusikan sesuatu. Aku yakin pastilah mereka membahas tentang Quidditch. Terlihat juga Lavender, Ginny,Parvati dan seorang anak kelas 6 teman Ginny yang aku tak tahu namanya sedang asyik melihat majalah fashion sambil sesekali terpekik heboh ketika melihat sesuatu yang menarik, aku yakin pasti gambar pria tampan. Ya Tuhan, aku benar-benar merindukan mereka. Meskipun kami tetap bertemu saat makan di Aula, namun kebersamaan di ruangan inilah yang rindukan. Maka tanpa komando aku langsung mendudukkan diriku di antara Harry dan Ron. Aku langsung memeluk mereka berdua seolah aku baru saja datang dari perjalanan yang sangat jauh. Mereka yang melihat kedatanganku secara tiba-tiba tentu saja kaget.
"Aku merindukan kalian," kataku melepas pelukanku ke Harry yang masih kaget dengan sikapku dan kemudian aku berpindah duduk di salah satu kursi di dekat Parvati dan mendudukkan tubuhku di sana.
"Astaga,Mione, kita kan setiap hari bertemu," kata Ron yang terlihat heran dengan sikapku yang langsung memeluk mereka tiba-tiba. Ron, seharusnya aku mendengar kata-katamu tentang Draco. ucapku dalam hati. Lavender yang sekarang menjadi kekasih Ron lagi, terkikik mendengarnya. Dia memang sudah tidak cemburu lagi terhadapku dan aku bersyukur atas hal itu. Aku memang hanya menganggap Ron sahabatku tidak lebih.
"Ada apa Mione kau kemari? Apa partnermu tidak akan mencarimu?" sahut Ginny yang mengalihkan pandangannya dari majalah menatapku tajam. Aku paham maksudnya.
"Tidak Ginny, lagipula dia tidak mungkin mencariku kecuali aku menyihirnya menjadi kodok," Sahutku brusaha santai. Aku benar-benar malas bertemu dengannya. Aku juga tidak yakin dia mencariku. Apa peduliku dia mencariku atau tidak. Draco sialan!
"Kami juga merindukanmu, Hermione. Sudah lama kau tidak tidur dengan kami,' sahut Parvati kemudian. "Apa kau berencana menginap disini?" lanjut Parvati bertanya .
"Oh, tentu saja, aku akan menginap disini. Jika bisa aku ingin tidur disini lagi setiap hari," sahutku mantap sambil tertawa. Yah, aku sepertinya akan tidur disini lagi saja. Aku benar-benar tidak ingin bertemu Draco.
Ginny menatapku tajam. Dia sepertinya membaca ada yang aneh denganku dan Draco. aku langsung mengalihkan pandanganku ke Lavender yang hanya mendengarkan kami berbicara sambil masih melihat majalah dengan si murid kelas 6 teman Ginny.
"Baiklah, kau bisa menceritakan pengalamanmu saat satu ruangan dengan Draco Malfoy, Mione," sahut Parvati yang terdengar antusias campur ngeri. Ucapannya berhasil mengalihakan semua perhatian mereka kepadaku. Aku melongo menatap mereka. Oh ayolah, tidak mungkin kan aku bercerita tentang "romantisnya hubungan cintaku dengan Draco Malfoy". Shit, untuk hari ini mendengar namanya saja aku mual.
"Parvati, tak ada yang perlu aku ceritakan tentang si ferret sialan itu,satu ruangan dengannya membuatku ingin menggantungnya di langit-langit setiap hari," umpatku bersemangat dan lega rasanya bisa mengumpat Draco seperti dulu lagi. Yang lain hanya tertawa mendengarnya sementara Ginny terdiam menatapku tajam. Aku tersenyum padanya. Aku tahu, Ginny pasti tahu ada yang tidak beres dengan kami. Tidak, Draco yang tidak beres.
"Baiklah,Hermione. Aku senang kita bisa tidur bersama malam ini. Mungkin kau punya cerita lain tentang Draco. yah mungkin tentang kebiasaan buruknya atau apalah . Emm...Kau sepertinya terlihat sedang kelelahan dan matamu terlihat sembab, kau habis menangis ya?" Kali ini Lavender yang berbicara sambil melihatku heran.
Shit, aku lupa aku habis menangis. Argh, seharusnya aku ke toilet dulu untuk bercermin sebelum kesini. Hebat juga Lavender langsung tahu aku habis menangis padahal sedari tadi yang lain juga melihatku namun tidak ada yang menyadari aku habis menangis.
"Kau habis menangis, Mione?" tanya Harry yang kali bertanya sambil melihat ke arahku curiga. Sial, Ginny semakin menatapku tajam seperti Ibunya yang memergoki si Kembar Weasley menaruh toilet meledak di kandang ayam. Andai tatapannya bisa membunuh mungkin aku sudah mati sekarang.
"Tidak, aku tidak menangis ,Harry. Aku hanya kelilipan, sungguh hanya kelilipan," sahutku cepat dengan nada meyakinkan. Untunglah Harry tidak bertanya lebih lanjut.
"Baiklah, aku mau ke kamarku dulu, aku merindukan tempat tidur lamaku," Aku berdiri bersiap menuju ke dalam kamar perempuan. Namun Ginny menginterupsi langkahku.
"Hermione,tunggu. Ibu mengirimiku sesuatu dan dia ingin kau melihatnya, Ayo kita ke kamarku dulu" sahut Ginny yang berhasil menahanku untuk pergi ke kamar.
"Benarkah? Ibu mengirim mu apa Ginny? Ibu bahkan tidak mengirimkanku sweater baru Natal tadi." Kata Ron yang langsung melihat Ginny ketika mndengar Ibunya mengirimi Ginny sesuatu.
"Ini masalah wanita ,Ron. " sahut Ginny menatap Ron tajam.
Ron hanya mengangkat bahu dan kembali berbicara dengan teman-temannya.
Aku tahu Ginny hanya mengalihkan pembicaraan dan ingin mengajakku bicara. Sebenarnya aku malas membahas masalah ini tapi aku juga tidak bisa menyimpannya sendiri maka aku putuskan mengikuti Ginny ke dalam kamarnya.
Tidak ada siapa-siapa di kamarnya.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi tapi aku tahu pasti ada yang tidak beres antara kau dan Draco," Kata Ginny sambil mendudukkan dirinya di ranjangnya. Aku memilih berdiri di dekat jendelanya yang menghadap ke arah hutan terlarang dan terlihat juga pondok Hagrid dari sini.
"Aku melihat dia berciuman dengan Astoria," sahutku tenang. Sebenarnya hatiku sakit jika mengingatnya. Wanita mana yang tidak sakit hati melihat kekasihnya mencium wanita lain dan mengatakan bahwa dia mencintai wanita itu.
"Apa? Kurang ajar! Beraninya dia!" Ginny langsung mengumpat berdiri dari duduknya. "Dia harus dibri pelajaran, Mione. Kau jangan diam saja, lakukan sesuatu," sahut Ginny lagi yang kini wajahnya terlihat merah menahan marah. Wajar memang jika Ginny bereaksi seperti itu mengingat Ginny juga punya sifat emosional yang tinggi walau tak separah Ron.
"Tenanglah Ginny. Aku akan memutuskan nya secepatnya,"
"Bagus, Mione. Dia brengsek Mione, dan sebenarnya bagaimana bisa kau jatuh cinta dengannya,apa dia memasukkan ramuan cinta ke minumanmu, eh" sahut Ginny masih berapi-api.
"Aku juga tidak tahu, Dia benar-benar mempengaruhi hatiku,Ginny. Aku tak pernah seperti ini sebelumnya," Aku ingin menangis lagi namun aku yakin jika aku menangis lagi sepertinya kamar ini akan banjir. Lagipula aku sudah lelah menangis tadi.
Ginny berjalan mendekatiku dan membelai punggungku. Aku merasa senang memiliki Ginny, meskipun dia lebih muda dariku namun dia bisa mengerti keadaanku. Mungkin pengalaman cinta nya yang jauh lebih banyak dariku menjadikan dia pribadi yang lebih tangguh menghadapi persoalan cinta. Ginny memang memiliki banyak mantan di Hogwarts namun bukan berarti dia seorang yang mudah jatuh cinta ksana kmari. Semua keluarga Weasley juga tahu dia hanya mencintai Harry Potter dan beruntunglah Ginny, di tahun ke 5 nya, Ginny dan Harry mulai berpacaran. Cintanya ternyata tidak bertepuk sebelah tangan.
"Maaf jika aku terdengar sangat emosi. Hanya saja aku tidak ingin kau di sakiti, Mione. apalagi oleh seorang brengsek Malfoy," Ginny mengeram menyebut kata Malfoy. Aku tersenyum dan memeluk Ginny.
"Aku sepertinya akan menginap disini dulu untuk beberapa malam. Pagi-pagi sekali aku akan kembali ke asrama ketua murid untuk mengambil seragam dan bukuku. Aku merasa agak menyesal menjadi Ketua Murid. Tidak, sebenarnya yang ku sesali adalah seharusnya Hogwarts tidak membuat peraturan jika Ketua Murid harus satu ruangan," baru kali ini aku benar-benar mengeluh dengan peraturan Hogwarts. Aku memang senang menjadi Ketua Murid namun menerima kenyataan bahwa Ketua Murid harus berbagi ruangan benar-benar terlihat seperti peraturan yang sangat konyol yang pernah di buat Hogwarts.
Normal POV
Besoknya, pagi-pagi sekali Hermione sudah bangun dan bergegas kembali ke asrama ketua murid dan koridor masih terlihat sangat sepi. Tentu saja, jam 5 pagi begini paling-paling kau hanya akan menemui beberapa hantu sekolah yang berkeliaran sehabis pesta ala hantu mereka atau jika "beruntung" kau akan bertemu dan . Tidak masalah bagi Hermione toh para hantu juga tidak pernah ada yang berniat menakuti atau mengganggu para murid kecuali Peeves dan jabatannya sebagai ketua murid tidak akan membuat uring-uringan mencurigainya. Untunglah dia tidak harus bertemu Peeves atau siapapun.
Dengan sedikit mengendap-endap Hermione memasuki asrama Ketua Murid menuju kamar nya. Dia mencium wangi musk dan mint ketika melewati ruang rekreasinya. Hermione heran, apakah Draco menggunakan parfum nya untuk diminum atau disemprotkan ke semua ruangan karena meskipun dia tak berada di sana, bau khas nya akan tetap tercium dan tertinggal di sudut ruangan manapun di ruang rekreasi Ketua murid.
"Aku tidak peduli," gumam Hermione dalam hati.
Setelah mengambil seragam dan beberapa buku pelajarannya kemudian memasukkan buku-buku dan seragamnya ke dalam tasnya, Hermione bergegas kembali ke Asrama Gryffindor untuk menghindari bertemu Draco. Draco biasanya akan bangun sekitar jam 6 pagi. Tanpa menoleh lagi Hermione keluar dari asrama Ketua Murid dan berjalan cepat kembali ke asrama Gryffindor.
Hermione baru akan menuju ke arah meja Gryffindor dan melihat sekilas Draco menatapnya dengan tajam. Hermione buru-buru memalingkan wajahnya dan berjalan terus ke meja dan segera mengambil posisi duduk membelakangi meja Slytherin. Hermione makan dalam diam sambil sesekali tertawa mendengar lelucon Ron dan Seamus. Hermione merasa agak terbantu dengan kehadiran teman-temannya.
Baru akan meminum jus labunya, tiba-tiba Clara Divine, Prefect kelas 5 dari Hufflepuff mendatanginya dan mengatakan Draco tadi mencarinya dan mengatakan ada rapat Ketua Murid dan Prefect hari ini. Hermione hampir tersedak mendengar ketika Clara mengatakan Draco mencarinya dan dia hanya mengangguk kecil kepada Clara.
"Benar kan? Dia akan mencarimu, Mione," kata Ginny sambil memakan sereal susunya.
Hermione meneruskan minum jus labunya. Dia mencoba mengabaikan bagian pesan Clara yang mengatakan Draco mencarinya.
"Tugas Ketua murid," sahutku singkat sambil mendelik ke arah Ginny. Ginny hanya tertawa kecil dan terkesan meremehkan. Jelas dia juga masih kesal terhadap Draco.
Demi apapun, Hermione sekarang sedang tidak ingin dekat-dekat apalagi bertemu dengan Draco. Melihat wajahnya membuat Hermione marah. Dia jelas tidak bisa melupakan adegan dimana Astoria dan Draco berciuman dengan mata kepalanya sendiri. Hati Hermione sangat sedih jika mengingat itu semua. Namun mengingat mereka masih sama-sama Ketua Murid dan masih satu asrama, maka jelas sulit bagi Hermione untuk benar-benar menghindari Draco. Salah satu harus ada yang mundur teratur.
Pelajaran Sejarah Sihir berlangsung seperti biasa. Prof. Binns masih mengajar dengan gaya yang membuat murid-murid mengantuk. Hermione terlihat mendengarkan penjelasan Prof. Binns namun sebenarnya pikirannya tidak di sana sekarang. Dia masih memikirkan Draco dan kebodohan dirinya. Kata-kata Astoria kemarin masih terngiang-ngiang di telinganya dan adegan dimana mereka saling berciuman terus berputar-putar di pikiran Hermione.
"...aku juga mencintaimu,"
Brak !
Hermione tanpa sengaja memukul meja dengan tangannya dan berhasil mengalihkan seluruh pandangan kelas ke arahnya. Bahkan Ron yang sudah terlelap luar biasa terbangun dengan kepala bergerak kiri kanan mencari asal suara, sebagian jiwanya masih di alam mimpi sepertinya.
Hermione yang akhirnya sadar masih berada di kelas segera menundukkan wajah sambil bergumam kecil ke arah Prof. Binns sambil mengucapkan kalimat yang terlihat seperti kata maaf.
"Mrs. Granger ada apa denganmu? Jika kau tidak ingin mengikuti pelajaran ini atau sedang sakit, silahkan keluar sekarang tidak ingin kelasku di ganggu oleh keributan kecil tidak penting" Sahut Prof. Binns yang sekarang berada melayang di hadapannya.
"Maafkan saya Proffesor, saya hanya merasa agak pusing," Hermione menunduk dan kemudian Prof. Binns kembali ke tempatnya.
Hermione kembali menyimak pelajaran dengan agak kesal dan malu karena telah membuat keributan kecil dan yang lain juga terlihat sudah kembali sibuk dengan kegiatan "mengantuk dan tertidur" selama pelajaran berlangsung.
Sudah 3 malam Hermione tidur di asrama Gryffindor dan kembali ke ruang Ketua Murid pagi-pagi sekali untuk sekedar mengambil seragam dan bukunya. Dan sudah 3 hari ini pula Hermione menghindari bertemu dengan Draco. Dia akan cepat-cepat makan di Aula atau duduk membelakangi meja Slytherin. Bahkan jika harus satu kelas dengan Draco, Hermione memilih duduk di depan atau di dekat Harry dan Ron atau di manapun asalkan pandangan matanya tidak bertemu Draco. ketika rapat Prefect dan Ketua Murid, Hermione sama sekali tidak meanggap Draco ada dan hanya akan berbicara atau mengangguk jika di tanyai pendapat.
Harry dan Ron sempat menanyakan apa yang terjadi sehingga dia akhir- menginap di asrama Gryffindor namun Hermione selalu mengatakan dia hanya sedang merindukan kamarnya dan terlalu malas jika harus pulang ke Asrama Ketua Murid. Untunglah Harry dan Ron tidak curiga dan berhenti menanyakan hal itu toh lagipula apa salah nya jika dia memang merindukan kamarnya. Lagipula minggu ini dia memang sedang libur jadwal patroli Ketua Murid karena Minggu ini hanya jadwal para Prefect untuk patroli.
Hermione keluar dari Aula setelah makan siang dan berencana pergi menuju ke perpustakaan untuk mencari bahan referensi untuk tugas dari Prof. McGonagall. Hermione memisahkan diri dari Ron dan Harry yang akan melihat latihan Quidditch di lapangan. Baru beberapa langkah dari belokan di koridor Aula, Hermione dapat melihat Draco sedang bersandar di dekat tembok dekat belokan menuju arah Perpustakaan. Merasa Draco belum melihatnya, Hermione dengan cepat membalikkan badan dan merubah arah tujuannya. Namun,tiba-tiba Hermione merasa tangannya di tarik oleh orang lain.
"Mau kemana, Granger,"
TBC...
Terimakasih untuk reviewnya.
Dan untuk alasan mengapa aku selalu memilih Astoria sebagai the third person, karena aku ngerasa dia paling pas buat jadi orang ketiga di antara Draco dan Hermione. Mungkin karena terbawa suasana asli antara Tom Felton dan Pacarnya yang kebetulan meranin Astoria di HP versi on screennya jadi feelnya berasa banget. Hahahaa (walau sejujurnya aku juga gak rela Tom Felton sama dia, tapi apa daya mereka saling mencinta) hhahaha.
Terimakasih sudah mau membaca. Sekali lagi terimakasih reviewnya.
Aku juga berterimakasih untuk silent reader karena mau membaca ff ku tapi aku akan sangat menghargai jika kalian mau menyempatkan waktu untuk sedikit mengapresiasi karya kami para author. Review, kritik dan saran kalian sangat membantu kami untuk lebih bersemangat melanjutkan cerita. Sekali lagi terimakasih :D :D
_missgranger26_
