Chapter 2

Day 1

Pagi ini aku mendapat tugas patroli berkeliling kota di distrik Trost. Aku akan pergi bersama Jean, Connie, Sasha, dan Krista. Tugas patroli kami akan berakhir sebelum jam makan siang. Aku bersyukur mendapat giliran pagi karena aku hampir kehabisan ide bagaimana caranya bisa mengusir rasa kantuk setelah sepanjang malam aku tidak bisa tidur.

"Hey, Eren! Bagaimana keadaanmu?" tanya Sasha yang berkuda di sebelahku. "Apa lenganmu masih sakit?"

"Ya, sedikit," jawabku. "Apa sengatan ini tidak bisa disembuhkan dengan cara apa pun, Sasha? Maksudku, apa aku harus menunggu sampai 3 hari baru akan sembuh?"

"Setahuku memang tidak ada cara lain, Eren. Reaksinya terhadap orang pun berbeda-beda. Di desaku, bahkan ada yang meninggal setelah 3 hari tidak tidur karena sengatan lebah itu."

"Kau jangan menakutiku, Sasha!" seruku terkejut dengan perkataan Sasha.

"Keh! Kau tidak akan mati, Eren!" sahut Jean yang berkuda di belakangku. "Aku yakin kau tidak akan mati hanya karena sengatan serangga."

"Jean, aku berharap kau adalah orang berikutnya yang terkena sengatan serangga sialan itu," balasku kepada Jean sambil menambah kecepatan kudaku.

"Kau bilang apa, Eren?!" dia pun akhirnya menyusulku.

"Hah? Menurutmu aku bilang apa?"

"Kalian berdua, tolonglah!" seru Krista mencoba melerai kami.

"Ayo kita berlomba!" sambung Sasha sambil mempercepat langkah kudanya. "Makan siang hari ini adalah kentang tumbuk dan sup bola daging. Siapa yang tiba di markas lebih dulu, akan mendapat sup bola daging lebih banyak!"

"Uwah! Hey, tunggu aku!" seru Connie tidak mau kalah memacu kudanya.

Aku tidak akan kalah! Aku akan tiba lebih dulu di markas! Paling tidak, aku bisa terbebas dari adu mulut dengan Jean. Aku menghentakkan kaki di kedua sisi perut kudaku agar bisa berlari lebih cepat. Puncak menara markas sudah mulai terlihat, aku menoleh ke belakang dan keempat temanku masih berusaha mengejarku.

"Sup bola daging, teman-teman!" seruku menyemangati mereka, juga memancing mereka agar bisa berpacu lebih cepat menyusulku. Namun ketika aku sudah hampir tiba di gerbang markas, tiba-tiba luka sengatan di tanganku kembali terasa menyakitkan. Aku sontak mencengkeram lenganku dan kehilangan keseimbangan. "Uwah! Aaargh!"

-000-

Aku tidak mencoba untuk tidur, bahkan tidak mencoba untuk memejamkan mata, tetapi rasa sakit itu kembali menyengatku. Akibatnya, aku jadi kehilangan kesempatanku menikmati menu makan siang yang disebut Sasha tadi. Saat ini, aku tengah berbaring di ruang rawat di bangsal rumah sakit. Aku mencoba untuk bangun dan melihat berkeliling.

"Sudah bangun?" aku mendapati Kapten Levi baru masuk ke ruang rawat. Dia kemudian duduk di dekat tempat tidurku.

"Kapten, saya bahkan tidak bisa memejamkan mata untuk tidur," balasku lesu.

"Aku dengar dari Jean kau tiba-tiba kesakitan dan ambruk dari kuda. Beruntung tidak ada luka serius yang kau alami saat jatuh tadi."

"Ya, maafkan saya…"

Kalau sudah berbicara dengan Kapten Levi, aku lebih baik tidak menatap balik kedua mata kelabunya. Entah kenapa, setiap kali kedua mata kami bertemu, jantungku seperti berhenti berdetak seketika. Aku memilih menunduk dan menghindari tatapan matanya.

"Apa yang kau rasakan sekarang, Eren?" tanya Kapten Levi tiba-tiba memecah keheningan.

Aku menggeleng dan menjawab, "Saya tidak mengerti, Kapten. Sebenarnya saya sangat lelah karena sepanjang malam tidak bisa tidur. Namun ketika rasa sakit itu hilang, saya merasa baik-baik saja. Saya akan merasa sakit jika saya sedang mencoba untuk tidur atau memejamkan mata. Reaksinya akan langsung mengejutkan dan menyakitkan sekujur tubuh."

"Hanji sedang mencoba mencari obat untuk bisa menghilangkan rasa sakitnya. Aku berharap dia bisa menemukannya paling lambat sampai hari ini."

"Begitu…"

Kapten Levi tiba-tiba mengulurkan tangannya dan memeriksa kedua kantung mataku. Satu alisnya naik, dia seperti terkejut mengetahui sesuatu yang tidak kuketahui. "Kau akan baik-baik saja," katanya.

"I-iya, Sir…" balasku sedikit gugup.

"Aku akan pergi patroli. Siang ini aku akan bertugas sampai sore," dia kemudian beranjak dari tempat duduknya.

"Kapten!" panggilku sebelum dia melangkah lebih jauh. "Anda akan tiba di markas sebelum matahari terbenam kan?"

"Ya, aku harap. Kenapa?"

"Saya akan menunggu Anda pulang!" tiba-tiba aku jadi sedikit bersemangat. "Lalu akan membuatkan teh untuk Anda minum selepas pulang patroli nanti. Bagaimana?"

Dia mendengus tertawa, "Terserahlah. Sampai nanti."

-000-

Malam tiba, dan aku masih belum bisa tidur…

Aku semakin gelisah di dalam kamar. Mencoba tenang di dalam balutan selimut pun aku tidak bisa. Rasa sakitnya semakin memilukan, entah bagaimana cara menghilangkannya. Badanku pun terasa dingin, selimut tebal di tempat tidurku ini bahkan tidak bisa memberiku kehangatan.

"Ukh…ya sudahlah!" dengan gusar, aku turun dari tempat tidur dan keluar dari kamar.

Aku sudah memutuskan untuk pergi ke perpustakaan kalau tidak bisa tidur. Aku akan mengambil beberapa buku dan membacanya sampai pagi. Seperti malam ini, aku mengendap-endap masuk ke perpustakaan. Penjagaan di sekitar sini tidak begitu ketat, sehingga aku bisa leluasa keluar dan masuk.

"Baiklah, Eren Jaeger," kataku kepada diriku sendiri. "Mari membaca supaya tetap terjaga sampai besok pagi…"

Kira-kira 30 menit setelah aku membaca, aku mendengar suara langkah kaki orang dari luar bergerak menuju perpustakaan. Dia kemudian masuk, langkah kakinya terdengar mendekati meja tempat aku membaca. Aku menoleh dan mendapati Kapten Levi sedang menghampiriku. Jantungku berdegup kencang melihat dia masuk.

"Aku sudah menduga kau akan kemari, Eren," katanya kemudian duduk di sebelahku.

"Maafkan saya, Sir," kataku sambil menunduk dan sedikit gugup. "Saya sungguh tidak bisa tidur. Satu-satunya cara menghilangkan rasa bosan dan kantuk adalah dengan membaca buku di perpustakaan."

Dia tidak membalas apa-apa, dan hanya menatapku dengan kedua mata kelabunya. Tak lama kemudian dia mengulurkan tangannya dan memegang pipiku. Jantungku semakin berdegup kencang ketika dia melakukannya. Aku berkata, "Err…Kapten?"

"Pinjam tanganmu," tiba-tiba dia menarik tanganku dan diletakkan di atas meja. Di luar dugaan, dia lalu merebahkan kepalanya di atas punggung tanganku dan mulai memejamkan mata.

"A-apa yang…" aku bergumam heran.

"Tanganmu dingin, enak rasanya dijadikan tidur," jawabnya tanpa melihatku.

"Tangan saya bukan bantal…"

"Sudah diam, jangan berisik. Aku mau tidur."

"Bukankah sebaiknya Anda kembali ke kamar, Sir?"

"Ada pertemuan di ruangan Erwin, aku malas sekali datang dan ingin tidur. Aku sudah mengunci pintu perpustakaan, jadi dia tidak akan tahu kalau aku ada di sini."

"A-Anda menguncinya? Tapi-"

"Jangan berisik, Eren," tukasnya cepat. "Aku mau tidur."

Dia tahu aku kedinginan. Sejak kapan? Apa mungkin dari siang tadi dia sudah tahu bahwa suhu tubuhku dingin? Err…bukan itu yang kupermasalahkan sebenarnya. Saat ini, dia sedang tidur di atas punggung tanganku. "Kap-" aku mencoba memanggil namanya, tapi nampaknya dia sudah terlelap. Dia menghadap ke arah lain. Kulihat punggungnya bergerak naik dan turun mengikuti nafasnya.

Aku menghela nafas dan tersenyum, "Selamat tidur, Kapten Levi…"

-000-

Day 2

Hari kedua ini, aku seperti mendapat pencerahan ketika Mayor Hanji mengabariku kalau dia sudah mendapatkan obat untuk menghilangkan rasa sakitnya. Aku akan segera mengakhiri mimpi burukku dan kembali melakukan aktifitas seperti biasa. Saat ini, aku sedang berada di ruang kesehatan ditemani Kapten Levi.

"Nah, Eren, coba minum ini," Mayor Hanji meletakkan segelas cairan berwarna cokelat transparan. Seperti teh, tapi ini bukan teh karena aromanya menyengat sekali. "Sebenarnya ini adalah obat pereda sakit. Sedikit campuran madu dan kayu manis supaya rasanya tidak terlalu pahit. Tablet atau kapsul sebenarnya lebih praktis. Tetapi obat cair seharusnya bisa diserap lebih cepat oleh tubuhmu."

"Anda yakin, Mayor Hanji?" tanyaku kemudian mengangkat gelas itu.

"Minum saja, Eren," kata Kapten Levi tegas. "Minumlah sekali teguk."

"Uuugh…tapi aromanya," keluhku sambil menutup hidung. "Kalau sampai tidak berhasil bagaimana, Kapten?"

"Ayolah minum dulu, Eren," sambung Mayor Hanji. "Aku ingin tahu apakah ini berhasil atau tidak."

"Anda sendiri bahkan belum yakin, Mayor…" aku tidak punya pilihan lain kecuali langsung meminumnya. Tidak peduli dengan rasanya, aku langsung menghabiskannya dengan sekali teguk.

Aku terdiam, belum ada reaksi apa pun dalam tubuhku. Aku memandang Mayor Hanji dan Kapten Levi bergantian. Mereka tengah menatapku cemas, menunggu apa yang akan terjadi berikutnya. Tiba-tiba aku merasa tubuhku lemas dan aku ambruk dari kursiku. Kepalaku pusing dan perutku mual. Rasa sakit di lenganku kembali menjalar ke seluruh tubuhku.

"Oh tidak, muntahkan dulu, Eren!" seru Mayor Hanji panik. "Muntahkan! Levi, bantu dia memuntahkannya!"

"Sial, kau benar-benar merepotkan, Mata Empat!" Kapten Levi kemudian mengangkat badanku dan menopangnya dengan satu tangannya. Dia langsung memasukkan dua jari ke mulutku, "Muntahkan, Eren! Cepat!"

Tidak butuh waktu lama, aku berhasil memuntahkan cairan aneh itu. Perutku masih mual dan kepalaku tambah pusing. Aku masih bersandar pada satu tangan Levi yang kini sedang menatapku cemas. Nafasku tersengal dan menoleh kepadanya. "Kapten…" kataku sedikit menahan isak tangisku.

Kapten Levi kemudian membentak Mayor Hanji, "Ini salahmu, Mayor sialan!"

"Aku tidak menyangka akan seperti ini reaksinya, Levi!" balas perempuan berambut cokelat itu cemas. "Aku memang belum yakin, tetapi dosis dalam ramuan itu sudah kuatur baik-baik. Demi Tuhan, Eren, maafkan aku…"

"Saya baik-baik saja, Mayor," jawabku lesu.

"Apa sakitnya hilang?"

"Sayangnya tidak, sakitnya masih terasa. Bahkan bekas sengatannya juga masih ada."

Mayor Hanji menghela nafas, "Satu-satunya cara untuk sembuh adalah dengan tetap bertahan untuk melewatinya. Sehari lagi, Eren. Setelahnya kau akan baik-baik saja."

Tidak ada obat satu pun yang bisa menyembuhkanku. Mayor Hanji benar, aku hanya perlu bertahan satu hari lagi untuk bisa sembuh. Aku tidak tahu apakah aku bisa melewatinya atau tidak.

Tidak tidur selama 3 malam itu melelahkan, kawan…sungguh…

-to be continue-


Chapter 3, final chapter, coming up next! Mari berdoa untuk kesembuhan Eren!