Truth or Dare? [ Jisoo Side]

Chapter 3:
New Rules

Main Pairing: Seungcheol x Jisoo (Cheolsoo)

Cast: Choi Seungcheol, Hong Jisoo, etc.

Rate: 16+

Warn: OOC, banyak umpatan, BoyxBoy, Gaje, Typos(?), DLDR.

©Yyenass

"Udah siapkan?" tanya Sejeong sambil membenarkan posisi poni Jisoo yang sebenarnya sudah rapi.

Sudah lebih dari 5 jam gadis itu tersenyum lebar, tingkahnya pun berubah menjadi aneh semenjak ia menginjakan kaki disekolahnya. Sepertinya dianatar kelima orang disana, hanya gadis itu yang benar-benar semangat menyambut hari senin ini.

Sementara yang ditanya hanya mengangkat kedua bahunya acuh bahkan tidak perduli akan hal tersebut, tangan lelaki tersebut hendak meraih ponselnya, namun gadis tersebut langsung mencengkram tangannya dan berkata "Eit, No, jangan, sampai nanti drama kita di mulai, Jisoo" peringat Sejeong.

Tangan Jisoo yang sudah terulur untuk mengambil ponselnya kembali ketempatnya dengan keadaan hampa, Wonwoo mulai main lirik kearah Yunhyeong, sementara Hyungwon hanya memutar matanya malas. Mungkin, kalau saja Jisoo tidak meminta bantuan kedapa Sejeong ketiga temannya dapat dengan bebas mengatur rencana sesuka mereka. Tidak seperti sekarang, mereka hanya dapat menjadi babu dari seorang tuan putri Kim Sejeong.

Sejeong mengambil sebuah map kemudian menyerahkannya santai kepada Wonwoo, sementara si lelaki sipit itu hanya dapat mengangkat kepalanya bingung "bagikan! Sianya tempel dimading"

"apa-apaan?!" protes Wonwoo menepis map tersebut dari hadapannya, Sejeong melotot lalu kembali menyodorkan berkas tersebut kepada Wonwoo.

Jisoo yang duduk disamping Wonwoo hanya dapat mengalihkan pandangnya kepada Wonwoo dan Sejeong bergantian, tergantung siapa yang sedang berbicara saat itu.

Sadar akan penolakan Wonwoo membuat Jisoo langsung sama merebut map tersebut "biar aku saja-"

"Jis, kamu ini aktor utama disini, bisa kah kau hanya diam dan menunggu sampai take one dimulai?"

"take one?!" sewot Hyungwon yang langsung membuat Sejeong terpekik pelan.

Gadis itu menyugihkan senyuman mematikan "Well, ini hanya permulaan" kata gadis itu kembali merebut map yang sedang Jisoo genggam.

"Kim Sejeong, ini ajang balas dendam Jisoo, bukan kau! Jadi tolong jangan memanfaatkan Jisoo dan membuat semua seolah salahnya! Jika kau mau membalaskan dendammu kepada Seungcheol cari cara lain!"

Yunhyeong melipat kedua tangannya begitu ia menyelsaikan kalimatnya, membentak seorang gadis memang bukan stylenya, namun jika sudah menyangkut sahabatnya ia tidak bisa hanya diam saja. Sementara Sejeong membatu untuk beberapa saat, karna ini kali pertamanya ia dibentak oleh seorang lelaki –selalin Seungcheol of course-.

Tangannya yang asalnya sudah terjulur didapan Wonwoo kembali kepada posisi awlanya, wajahnya memerah sempurna pertanda buruk karna seorang Kim Sejeong mulai narik darah. Dan tanpa disangka Sejeong yang dikira akan membalas bentakan itu malah membalikan tubuhnya dan pergi dari tempat tersebut dengan langkah yang kuat.

"Ok, aku gak akan manfaatin Jisoo lagi, tapi please untuk kali ini, bantuin aku buat suksesin acara balas dendam kali ini" itu kalimat terakhir yang ia ucapkan sebelum pada akhirnya tubuh mungilnya berjalan menjauh dari tempat itu.

.

.

.

"Hong Jisoo, kamu bisa lihat hasil perbuatanmu? Kamu tau, aku sama sekali tidak memintamu mencari bantuan kepada siapapun, termasuk Sejeong" Omel Yunhyeong melipat kedua dadanya.

Jelas saja ketiga temannya itu marah kepadanya, bagaimana tidak? Sejak awal Yunhyeong berniat membantunya, Yunhyeong sudah merencanakan sesuatu yang luar biasa agar Jisoo tidak bersedih hati lagi, namun apa yang kini keempatnya dapat? –Ralat ketiga orang itu dapat? –Jisoo tidak dihitung disini, dia hanya aktor-.

"dan kamu tau, kamu itu secara gak langsung udah ngasih Seungcheol kesempatan, karna kamu udah bertingkah manis ke dia –Ok kamu boleh bertingkah manis kepadanya, tapi jangan lupa ini masih dalam misi balas dendam Jis.."

Hyungwon berdiri dihadapan Jisoo yang sedang menekuk wajahnya sebal, ditambah lagi ceramahan Yunhyeong seperti seorang ibu yang sedang menceramahi anaknya yang baru saja turun ranking "gak usah dengerin dia, tapi dengerin aku" bisik Hyungwon sambil menoleh kepada Yunhyeong, memastikan bahwa sahabatnya satu itu masih menghadap kepada pembatas rooftop sekolah.

"kalo gini caranya, ada kemungkinan Seungcheol malah balik bales dendam Jis, kamu tau? Karna kamu baru saja bohongin dia dengan attitude, dan itu fatal"

Jisoo mengangguk mengerti, ia mengalihkan pandanganya dan menatap pada lantai rooftop sebagai tanda menyesal atas perbuatannya, baiklah untuk masalah selanjutnya mereka memang akan mulai terlepas dari Sejoeng, masalahnya aksi balas dendam Sejeong ini cukup mematikan juga.

Dan suara bel isitrahat pun berdering, keempatnya yang sedang kabur dari kelas kosong tadi saling tatap bingung. Namun Wonwoo menengahi "sekarang kita jalanin dulu apa yang Sejeong mau, tapi untuk sesuatu yang gak diduga, kita bisa tanggung itu nanti"

"aku percaya padamu Wonu!" Hyungwon menepuk dada Wonwoo lalu menyeret Yunhyeong yang masih sibuk mengomel menuju kantin.

Sementara Jisoo hanya dapat menghela dan mengikuti ketiga temannya.

Kantin ramai seperti biasanya, dan tempat yang bisanya mereka pakai pun masih kosong, mungkin murid lain tahu kalau kursi tersebut memang sudah menjadi kepemilikan geng yang diketuai oleh Jisoo tersebut.

Mereka duduk kemudian menghela serempakan, Jisoo melirik Wonwoo begitu ekor matanya melihat Sejeong yang sedang tersenyum lebar, berjalan kearah meja keempatnya.

Wonwoo yang mengerti akan tatapan Jisoo hanya dapat mengangguk pelan "ikuti saja permainannya dulu"

"tapi aku sama sekali merasa ini aksi balas dendamku, Wonu"

"itu salah siapa ya?" tanya Yunhyeong dengan nada sarkasme tanpa lupa meniup poninya.

Dan lagi, Jisoo menunduk merutuki dirinya yang bodoh "sudahlah! Kau masih ada ide kan?"

Yunhyeong mengangguk menanggapi Hyungwon, dan membuat wajah kusam Jisoo berubah menjadi sedikit lebih cerah dihiasi oleh senyuman manis andalannya.

Melihat itu, Sontak ketiga temannya langsung mengalihkan pandangnnya dari wajah Jisoo, mereka bukan jijik.. hanya saja mereka sedang menahan diri agar tidak meleleh akibat terlalu lama melihat senyum Jisoo itu.

Hanya sekilas saja sudah membuat ketiganya gemas, apa lagi berlama-lama.

"Hey Guys, sudah siapkan?" Tanya Sejeong duduk diantara Jisoo dan Wonwoo sambil menyimpan toa di atas meja.

Sebentar.. kapan dia bawa toa?

Tak ada jawaban dari keempatnya, Sejeong mengerti. Setidaknya tolong keempatnya bantu menyukseskan rencananya kali ini saja.

Mata kucing Jisoo tanpa sengaja bertemu dengan mata seseorang yang sedari tadi memperhatikannya dari kejauhan, dengan senyum tampan berhiaskan dimple yang membuat siapa pun itu akan melelh akan ketampanannya.

Jisoo tak dapat membalas tatapan itu lama-lama, karna ia masih marah kepada pria itu, ia sudah 2 kali mengambil ciumannya –tiga sebenarnya, kalau saja Jisoo tidak tersandung batu setelah Seungcheol mengantarnya pulang.

Dan semejak detik itu Jisoo memungut batu tersebut dan ia jadikan jimat yang selalu ia bawa-bawa sampai detik ini.

Belum lagi dendam Jisoo yang belum bisa tersalurkan.

"Waktunya beraksi!" kata Sejeong tiba-tiba yang langsung saja berdiri pada meja yang tengah keempat orang itu gunakan. Keempatnya sontak membulatkan matanya, melihat kelakuan gadis tersebut.

Di antara keempatnya hanya Jisoo yang berani menyentuh kaki Sejeong, Jisoo mengguncangnya pelan memberinya sebuah peringatan "Sejeong.. kamu pake rok!" peringan Jisoo dengan suara pelan namun penuh penekanan, ia berkata seperti itu karena melihat ketiga temannya mengalihkan pandangan dan bersiul cangnggung sendiri.

Sejeong menunduk dan berkata "sebentar!"

"Semuanya boleh minta perhatian?!" tanya Sejeong sedikit berteriak.

Seisi kantin yang sudah pasti mengenal suara itu langsung mengalihkan pandangannya kepada meja tempat biasa geng Jisoo. Merasa malu menjadi perhatian, Jisoo pun mengikuti teman-temannya, berkelakuan seperti itu.

Setelah mendapat cukup perhatian, akhirnya Sejeong turun dari meja dan berjalan menuju tengah kantin. Wonwoo, Yunhyeong, dan Hyungwon langsung membuang nafasnya lega.

Ia pun mulai mengangkat toanya dan berkata "Kalian sudat tahu kan? Kalau sejak tahun pertama sekolah ini dimulai, aku sudah memiliki seorang musuh?"

Seisi kantin mengangguk kompak, kecuali Seungcheol yang sedang berkerut kening begitu sadar bahwa yang Sejeong maksud adalah dirinya.

"Bagus, kalian semua tahu.. dia adalah sorang Bad boy dan Play boy sekolah, yang selalu bertingkah sok keren, dan berpamor tinggi, tapi tahukah kalian? Bahwa sebenarnya itu bukanlah sikap asli Choi Seungcheol, kalian perlu bukti?"

Seisi kantin mulai saling berbisik mendengar penjelasan Sejeong, dan tak sedikit diantara mereka mulai melirik Seungcheol.

Entah kenapa Jisoo tidak ingin semua ini terjadi, ia ingin pergi tapi Sejeong terus meliriknya seolah berkata 'Diam disitu! Pemainan sebenarnya akan dimulai'

Bukan beararti Jisoo menyesal telah membantu Sejeong, karna Jisoo benar-benar benci kepada Seungcheol. Masalahnya ini berbeda, ini mengatas namakan Sejeong yang berstatus sebagai musuh bebuyutan Seungcheol, dan Jisoo yakin tanggapan Seungcheol nantinya berbeda.

Jika ini benar-benar perbuatannya mungkin Seungcheol akan mendapatkan efek jera, tapi kalau Sejeong? Jisoo berani taruhan Seungcheol akan membalas pebuatannya.

Suatu rakaman suara pun berputar, seisi kantin mulai m\berputar mencari asal suara namun sebagian ada yang diam mendengarkan.

'kamu harus tau yang sebenarnya, aku hanya menjaga imageku agar tetap baik saja didepan seisi sekolah' sebuah tape berputar, dan Jisoo tahu percis tape apa yang beputar.

Percakapannya berasama Seungcheol saat Date sabtu kemarin.

Segala penyesalan pun datang, Jisoo menyesal telah mengajak Sejeong untuk membalas dendamnya –salah bukan dendam-'NYA', namun yang ada malah Sejeong yang membalas dendamnya.

'Sebenarnya aku itu lemah'

Ia menyesal telah mau mengikuti segala perintah Sejeong.

'apa lagi saat aku jatuh cinta'

Ia menyesal sudah bertingkah manis dan baik kepada Seuncheol.

'dan itu yang akan aku lakukan kepadamu'

Ia menyesal sudah mau menerima ajakan kencan bersama Seungcheol.

'aku berani melakukan apapun saat aku jatuh cinta'

Ia juga menyesal berada disini. Dan Jisoo pikir, Sejeong sudah-

"Kalian semua mendenger itu? Lihat kelemahan Seungcheol adalah cinta! Jadi, bagi siapapun yang memiliki dendam kepada Seungcheol.. kalian bisa datang kepadaku dan mari kita buat petisi untuk mengeluarkan Seungcheol dari sekolah ini!"

Sorakkan pun mulai terdengar diseluruh penjuru kantin, terutama Seungcheol hater dan Seungcheol lover –mereka berteriak tidak terima sebenarnya-.

Sejeong sudah keterlaluan!

Jisoo bangkit dari duduknya, ia hendak pergi dari tempat tersebut, namun Wonwoo menarik tangannya.

"tunggu sebentar lagi" katanya pelan yang membuat Jisoo mendesis kesal dan kembali duduk dikurisinya.

BRAGGG

Suara gebrakan meja tersebut membuat sorakan dan jeritan dikantin menghilang, pelakunya? siapa lagi kalau bukan Choi Seungcheol, si tokoh utama yang sedang dipermalukan oleh seorang sidekick sok keren.

Ia menyeringai kecil membuat Jisoo yang melihatnya merinding.

"Ehem, satu.. harus ada yang kalian tahu, aku memberi Sejeong big applous karna seniat ini dia mencari info tentangku, tapi.. yang aku lakukan hanyalah Dare yang diberikan dari Mingyu"

'Dare?' ulang semua orang yang langsung menatap kepada Mingyu, dan yang kini ditatap oleh ratusan pasang mata, ia menggaruk tengkuk malu plus bingung, namun setelahnya Minggyu tersenyum kecil dan megangguk.

Anggukan kepala Mingyu membuat Jisoo membulatkan matanya dan mengepalkan kedua tangannya kuat, dia marah sekarang, ditandai dengan wajahnya yang mulai memerah dan dada yang naik turun.

"Darenya adalah.. membuat Jisoo menjadi kekasihku" seringaian Seungcheol semakin melebar.

Dan sontak saja Jisoo bangkit dengan menundukan kepalanya dalam, ketiga temannya menatapnya penuh tanya "kamu menerimanya?" tanya Hyungwon memegang kedua tangan Jisoo.

Jisoo menepisnya. Bukannya menjawab pertanyaan yang di ajukan oleh Hyungwon, lelaki yang terlanjur dikuasai oleh amarah itu malah berkata "nanti sore kalian semua harus dateng kerumahku" begitulah katanya sebelum Jisoo pergi meninggalkan kantin yang mulai ribut.

.

.

.

Junghan

Kau dimana?

3.18 P.M (read)

Junghan

Jis, jawab aku..

3.19 P.M (read)

Junghan

Mengapa hanya di read?

3.19 P.M (read)

Junghan

Baiklah aku mengerti perasaanmu, hanya saja aku mengkhawatirkanmu

3.20 P.M (read)

Junghan

Dari awal Seungcheol hendak masuk ke ruang club, aku pikir dia akan berubah dan benar-benar tulus kepadamu, makanya aku santai saja, tapi kalau begini caranya aku akan melindungimu, aku berjanji!

3.21 P.M (read)

Jisoo

Terima kasih

3.22 P.M (read)

.

.

.

Jisoo masuk kerumahnya tanpa sepatah kata, ia langsung naik ke kamarnya tanpa melepas sepatunya. Ia tak akan perduli akan itu, walaupun sang ibu sudah berteriak-teriak menceramahinya tidak jelas, ia tak perduli.

Beginilah Jisoo saat ia sedang marah, dan cara menyembuhkannya? Tidak ada caranya.. tapi sedikit info, Jisoo sulit kembali kepada wujud asalnya jika ia sudah marah seperti ini.

Ia melempar tubuhnya pada ranjang berukuran single dikamarnya, lalu menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut, pikirannya penuh dan ia sama sekali tidak ingin berbicara, apalagi hal yang diucapkan oleh lawab bicaranya itu tidak penting.

Seperti sang ibu sekarang, ia sibuk memarahi Jisoo didepan pintu kamarnya sambil sesekali menggedor. Ibunya tidak tahu bahwa Jisoo sama sekali tidak mengunci pintunya.

Suara ibunya menghilang dan membuat Jisoo merasa lebih baik sekarang, sunyinya kamar membuatnya lebih leluasa untuk berfikir jernih –tidak Jisoo sama sekali berfikir jenih disaat seperti ini.

Pintu kamarnya terbuka, Jisoo menahan nafasnya sesaat saat dirasa satu sisi pada ranjangnya terasa lebih berat, seseorang membuka selimut tebal yang menyelimutinya.

"kamu kemana hari ini? Di rooftop, kamar mandi, ruang club, sama gudang juga gak ada"

Jisoo memandang ketiga temannya yang sudah berpakaian rapih dan wangi tentunya, berbeda dengan Jisoo yang masih menggunakan seragam, bahkan sepatunya pun belum ia lepas.

"Astaga Jisoo, ini bukan kau" komentar Hyungwon menggelengkan kepalanya.

Jisoo tak perduli akan itu, ia hanya perduli dengan tujuan utamanya meminta ketiga temannya untuk datang.

"sebagai leader aku memutuskan untuk membuat sebuah aturan baru" ucap Jisoo seenaknya, yang lain hanya berkerut kening melihat kelakuan Jisoo yang berubah sungguh pesat.

Ia tidak pernah diktator sebelumnya, karna itu yang lain memilih Jisoo sebagai ketua geng tersebut, biasanya ia akan bertanya/ meminta izin terlebih dahulu dan mendiskusikannya bersama, tidak seperti ini. Wah, Seungcheol benar-benar pria yang luar biasa, sampai-sampai bisa membuat Jisoo jadi seperti ini.

Awalnya Yunhyeong mau memprotes, namun ia mengurungkan niatnya saat mata Wonwoo yang sepertinya melotot –karna kelihatannya biasa saja.

"jadi apa aturan barunya?" tanya Hyungwon santai sambil mengoprek ponsel Jisoo "Oh ini Seungcheol minta maaf" tambahnya sembari membaca ribuan pesan line yang dikirim oleh orang-orang yang mengasihi Jisoo.

"paling juga cuma Dare dari Mingyu" kata Jisoo dengan nada yang sarkastik.

Jisoo berdiri ditengah kamarnya, ia mengabil papan tulis kecil berisikan rules bagi gang mereka dan menambah angka '5' untuk mengisi sebuah peraturan baru. "back to topic, peraturan barunya adalah, kalian semua, termasuk aku, gak boleh ada hubungna apa pun sama geng Seungcheol selain sebagai temen!"

"APA?!" jerit ketiganya kompak dengan wajah yang sama sekali gak woles.

"apa?" balas Jisoo dengan wajah polos tak mengerti.

Wonwoo mengacak rambutnya frustasi, jadi segala cara yang ia lakukan untuk merebut hati Mingyu hangus sia-sia hanya karna peraturan ini? Ayolah, Wonwoo pernah berani murah didapn Mingyu –if you know what i mean.

Sementar Yunhyeong, ia langsung mengigit bawah bibirnya dengan kencang, oh tidak.. setelah 2 tahun menunggu Bobby menoticenya kini ia harus menerima kenyataan bahwa bobby sudah menoticenya namun love storynya akan kembali terhalang oleh peraturan buatan Jisoo.

"Jis, aku-" nah yang satu ini yang paling menyakitkan, karna apa? Wonho dan dirinya sudah resmi menjadi sepasang kekasih semenjak seminggu yang lalu, menyedihkan bukan?

"aku gak perduli, intinya ini peraturan baru yang harus kita berempat jalanin bareng-bareng"

.

.

.

Hari baru cerita baru, begitu katanya, tapi bagi Jisoo tak ada cerita baru selama seminggu ini, ia melakukan kegiatan yang biasa ia laukuan tanpa mau bertatap wajah dengan seseorang penggila Dare. Setiap harinya ia harus saja tanpa sengaja bertatap wajah dengan pria menyebalkan itu.

Dan untunya Jisoo pintar mencari alibi, ataupun tidak canggung melakukan suatu kegiatan yang mendadak sehingga ia dapat dengan mudah menghindari Seungcheol.

Jisoo marah kepada Seungceol?

Oh terlalu naif jika Jisoo berkata tidak, tentu saja ia marah sangat bahkan. Lagi pula bagaimana tidak? Ia dipermalukan didepan umum, apa lagi Seungchol menyebut namanya dalam kalimat balas dendamnya. Dan akibatnya juga banyak, tidak sedikit murid-murid menatapnya jijik dan mencapnya murahan.

'Damn!' umpat Jisoo memukul dadanya kencang.

"kamu kenapa hmm?"

Jisoo membuka matanya dan mendapati seorang pria berambut sebahu tengah menunggunya diambang pintu sambil menggendong bassnya dipundak sebelah kiri. Senyum Jisoo tertarik sedikit, lalu ia menjawab "gapapa"

Junghan hanya tersenyum sebagai balasan untuk ucapan Jisoo tadi, ia masuk kedalam kelasnya dan duduk disamping Jisoo "Jihoon bilang hari ini gak ada latihan"

"oh, terus kenapa kamu kesini?" tanya Jisoo ditengah sibuknya ia mengemas buku kedalam tas.

Junghan ber'hmm' ria sambil mengangkat tangannya dan berakhir ketika tangan kanannya sudah merangkul pundak sempit Jisoo "mengajak pulang bersama 'mungkin'?"

Jisoo tertawa kecil mendengar suara Junghan tersebut, percampuran antara sok keren dan berharap membuat suara Junghan berubah dan terdengar lucu.

"sejujurnya mau, tapi aku ada les hari ini"

Raut wajah berharap Junghan langsung pupus, tergantikan dengan wajah kecewa namun sok cool khasnya. "oh begitu ya?" Jisoo mengangguk lalu memakaikan tas gendong dan tas gitarnya.

"kalau begitu besok bagaimana?"

"Deal, mau kedepan bersama?"

"buat apa aku menolak?"

Tawa Junghan langsung mengembang setelah Jisoo membuat reaksi dengan perubahan warna pada wajahnya, ia langsung bangkit dan berjalan terlebih dahulu keluar dari kelas. Dan ternyata Bad luck Jisoo datang hari ini, ahh ia lupa membawa batu jimatnya..

Di depan pintu kelasnya ia mendapat Seungcheol tengah menunggunya sambil melipat kedua tangannya didada, begitu menyadari keberadaan Seungcheol, Jisoo langsung berfikir keras apa yang harus ia lakukan setelah ini.

Tapi, ughh tubuhnya saja membeku apa lagi otaknya.

"Jis, aku mau bicara sesuatu" kata Seungcheol cepat, sebelum Jisoo kembali menghindar dan manjauh lagi.

"hmm, maaf aku gak ada waktu, aku mau pergi sama-" Jisoo diam menoleh kepada Junghan yang baru saja datang disampingnya, hati Jisoo pun tersenyum licik, ia tahu apa yang harus ia lakukan sekarang.

Tanpa menunggu lagi Jisoo langsung mengalukna tangannya pada tangan Junghan "ya.. aku mau pergi sama Junghan" kata Jisoo asal.

Pandangan Seungcheol langsung teralihkan kepada Junghan yang kembalu menatap Seungcheol dengan tatapan yang serupa setia saat Junghan ketahuan memperhatikannya –tajam, mengajak perang, dan licik.

"hahaha iya, kita mau nge-date hari ini" tambah Junghan mengusap rambut Jisoo tak lupa ia mengecupnya singkat.

Kedua tangan Seungcheol mengepal melihat Junghan yang asal sama mengecup puncak kepala Jisoo, sementara Jisoo kini makin meratkan tangannya.

Seungcheol cemburu? Ush sepertinya itu hanya Dare dari Mingyu.

"kalau begitu kami duluan ya" ucap Junghan ramah kemudian berlalu.

.

.

.

"kita butuh bicara!"

Tubuh Jisoo terpekik saat seseorang tiba-tiba saja menarik tangannya paksa, Jisoo menatap siapa pelakunya, dan ia harus dikagetkan oleh kenyataan yang menyebutkan "Seungcheol baru saja menarik mu Jisoo"

Jisoo berusaha untuk melepaskan genggaman tangan Seungcheol, namun genganggaman tangan itu sungguh erat sampai-sampai membuat satu sisi tangannya berubah warna menjadi kebiruan.

Dan kini Jisoo hanya dapat berdoa, semoga saja tangan Jisoo tidak mati karna kekurangan darah.

Seungcheol menarinya benar-benar kasar, tidak mengingat bahwa tubuh Jisoo yang ceking cukup rapuh karna jarang dipakai untuk berolahraga.

Dan tempat memberhentian keduanya berakhir di ruangan Janitor, tak lupa Seungcheol mengunci pintu tersebut dari dalam sehingga tak akan ada yang dapat masuk kedalam sana.

Pria bertubuh kekar itu mendorong tubuh Jisoo asal muju tambok, dan lagi Jisoo meringin untuk kedua kalinya karna ini kali keduanya Seungcheol mendoronya ke dinding dengan kekuatan yang luar biasa besar.

"kalo mau ngomong, ya ngomong aja! Gak usah banting anak orang sembarangan!" sewot Jisoo yang sama sekali tidak dihiraukan oleh Seungcheol.

Pria itu hanya fokus pada topik pembicaraan yang akan ia bahas kali in, maka setelah ia benar-benar mengunci pintu ruang janitor, ia langsung mencengkram kedua bahu Jisoo kencang dan menatapnya dalam.

Jisoo tak tahu apa yang Seungcheol inginkan samapi ia harus berperilaku seperti orang yang haus akan kasih sayang seperti ini, tapi ia selalu ingat ucapan Wonwoo 'ikuti saja permainannya'

"Ok, aku mau minta maaf atas kejadian seminggu yang lalu, aku tau itu parah banget dan kamu berhak buat marah sama aku, tapi please Ji, maafin aku.. aku tau itu keterlaluan banget-"

Jisoo tertawa picik, malas dengan semua perbuatan pria pencinta Dare dihadapannya ini "ini Dare apa lagi?" potong Jisoo, dengan nada yang tajam dan benar-benar menghujam hati. Di tambah lagi tatapan malas Jisoo yang menyebalkan.

"ini bukan Dare, Jisoo. Aku bersumpah akan hal itu"

"Bullshit" umpat Jisoo yang kini mengalihkan pandangannya karena bosan menatap wajah Seungcheol lama-lama.

Mengapa ia harus bertemu dengan pria macam ini? Benar-benar membosankan dan membuang waktunya yang sangat berharga.

"terus maksud kamu kemarin apa? Kamu nge-date sama Junghan? Jis, kamu itu masih pacar aku! Kenapa kamu malah selingkuh gini sih?" tanya Seungcheol frustasi.

Jisoo berkerut kening "Ha? Pacar? Itu kan Dare dari Mingyu Seungcheol, dan secara tidak langsung hubungan itu sama sekali tidak pernah ada" well, bagi siapapun yang mendengar cara Jisoo mengucapkan kalimat itu pasti akan merasa kesal, termasuk Seungcheol sendiri.

Mata Seungcheol membulat entah karna apa, Jisoo malas untuk mengetahui alasan tersebut lagi pula ia sama sekali tidak perduli.

"itu bukan-"

Ucapan Seungcheol terputus begitu lampu diruangan Janitor padam, huh bagus, stidaknya Jisoo tidak perlu melihat wajah mengesalkan Seungcheol sekarang.

Namun sesuatu yang janggal mulai terjadi, cengkraman tangan Seungcheol yang pada mulanya benar-benar erat mulai berubah menjadi lebih lembut hingga Jisoo tidak dapat merasakan keberadaan tangan Seungcheol lagi dipundaknya.

Oh No, Jisoo mulai takut.

Brugh!

Suara tersebut langsung sukses menggugurkan pikiran mesum yang baru saja Jisoo bangun tadi, kini otaknya penuh dengan pertanyaan "suara apa itu tadi?"

"Seungcheol?" panggil Jisoo pelan beraba kearah depannya, dan tangannya sama sekali tidak menyentuh apapun selain angin yang berhembus pelan disekitarannya.

Jisoo menelan salivanya pelan, ia sejujurnya takut gelap, namun tidak apa jika ada orang lain disekitarnya, entah apa niat Seungcheol sekarang, yang pasti ia tak boleh lengah sekarang.

Suara gemerutuk gigi pun terdengar tepat berada didepannya, Jisoo pun langsung mengerti apa yang terjadi dan secepat mungkin Jisoo langsung mendekati Seungcheol dan menarikanya kedalam pelukannya.

"Seungcheol kamu Achluophobia?!"

TBC

.

.

.

Yyenass note: huaaaaahh akhirnya selesai juga huhuhuhu T.T

Maaf banget telat update ya, salahin foto selca JeongCheol tuh kenapa muncul disaat yang gak tepat banget, aku tuh orangnya moody banget, kalo liat sesuatu yang menggnangu kelancaran hubungan Cheolsoo pasti aja jadi badmood sendiri. Miann T.T

Btw mau minta maaf banget sama kak fika.. aku malah telat update padahal jadwal kak fika update itu setiap hari minggu, jadi kalo seungcheol sidenya late update salahin yena aja/?

Ngomong-ngomong gimana kabar kalian? Semoga baik, terus maaf kalo ini alurnya agak lama,..

Gimana? Suka suka? Ada saran ato ada yang mau protes?

Hmm makasih ya yang udah stay nungguin Truth or Dare kita, semoga hasil akhirnya memuaskan kalian ya /Please ya ini masih chap 3 yen/

Makasih udah baca chap 3 ini semoga gak jadi penyesalan buat kalian semua.

So.. mind to RnR?

Yyenass present, 07 Mei 2016