Kode merah: OOC (Out Of Character)–DOC (Death Of Character), CCD (CaCaD), AU (Alternative Universe), pedo, EruMin.
Tak biasanya Armin mendengar ada yang membunyikan bel.
Apa itu pamannya? Bukan, orang itu pasti sedang sibuk saat ini. Langsung saja daripada ragu, dari tempatnya di dapur ia berjalan perlahan menuju pintu.
Tapi hatinya masih tak yakin, maka maniknya yang biru mengintip dahulu lewat lubang cermin cembung kecil yang ada pada pintunya. Betapa kagetnya ia melihat dan menyadari siapa yang sebenarnya berdiri di sana. Langsung saja dibukakan olehnya.
"Eren?!"
Eren hanya diam sambil tersenyum dengan rautnya yang nampak lelah, mungkin perjalanannya jauh. Sedikit keanehan dari sekujur tubuhnya pun langsung disadari Armin.
Anak laki-laki berambut cokelat itu mengatur nafasnya yang terasa sedikit tersengal, "apa aku boleh masuk..?"
"Tentu saja!"
Bukannya tidak senang, hanya saja dirinya terkejut. Armin datang dari dapur membawakan segelas air, karena hanya itu yang diminta tamunya. Biru langit yang cerah pada matanya menatap sosok Eren di seberangnya hingga ia duduk, lalu disajikannya minuman.
"Eh, Eren kenapa kelihatannya kamu lusuh sekali?" Langsung saja ditanyakan Armin sambil menatap lawan bicaranya.
Eren dengan penuh dahaga masih menenggak air hingga sepenuh gelas bening itu habis. "Ah!" Ucapnya penuh dengan kenikmatan.
Ditaruhnya kembali gelas itu ke meja kopi di antara mereka, lalu ditatapnya Armin.
"Apa? Aku terlihat lusuh? Mungkin karena perjalanan ini," jawabnya dengan cerah.
Armin hanya dapat memberikan senyum tipis.
"Lalu ada masalah apa dengan kakimu, Eren?" Wajah itu mulai cemas.
Eren nampak biasa saja dengan pertanyaan yang cukup bertubi ini, "iya... kaki kananku terjatuh tadi," dengan senyum untuk menyatakan dia baik baik saja.
"Apa itu cukup parah...?"
"Tidak usah mencemaskanku! Ini biasa saja!" Sanggah Eren.
Keduanya masih bertatapan agak canggung. Eren nampak kelelahan seperti ia habis menempuh ribuan mil jauhnya, nafasnya yang menggebu masih terasa oleh Armin, dan celana yang dikenakannya agak kotor. Sementara pemilik rumah hanya berharap semoga kawan lamanya ini sedang dalam keadaan baik-baik saja.
Sebenarnya kalau boleh dikatakan, mereka berdua teman yang sangat akrab 6 tahun yang lalu. Tetapi setelah mereka menjadi remaja, mereka saling berpisah dan menyibukan diri masing-masing.
"Ngomog-ngomong Armin, kamu masih tinggal di sini, ya?" Sambil Eren mengarahkan pandangannya ke seisi rumah, yang penampaknya itu-itu saja semenjak 6 tahun yang lalu.
"Iya... begitulah," dia tersenyum, "aku masih tinggal di sini."
Sejak dari dulu, rumahnya memang tidak pernah pindah.
"Di mana pamanmu itu?"
"Sedang tidak ada di rumah."
Dan paman itu juga sama, masih sering jarang keberadaannya terlihat ketika ia berkunjung ke rumah Armin. Hanya ada sesosok anak di sana bermain sendiri dalam dunia khayalnya.
"Ah Eren, kalau kamu mau datang tadi kenapa tidak bilang-bilang?" Armin mengungkapkan apa yang ada di kepalanya. "Aku bisa mempersiapkannya lebih baik."
"Tidak perlu repot-repot, dulu aku juga sering ke sini," layaknya sedang terjebak di ruang nostalgia.
Setelah mengambil pandangannya dari seisi rumah, Eren menaruhnya pada Armin. "Oiya, bagaimana dengan Mikasa? Ada di mana dia sekarang?"
Kepala berambut kuning itu kian kembali teringat dengan nama yang disebutkan, teringat pula dengan hubungannya di antara mereka bertiga.
"Aku juga kurang tahu..." Ia berhenti sejenak, "Sejak tahun lalu aku kehilangan kontak dengannya," Armin menarik senyum yang sedikit sedih.
"Apa kamu tidak pernah mengunjunginya lagi? Rumahnya tidak begitu jauh dari sini kan?" Eren serasa ingin tahu.
"Kudengar dia pindah," Armin menolehkan bola matanya kepada yang lain.
"Oh..." , "Baiklah," Eren serasa dikunci mulutnya.
"Lain kali kita harus berkumpul lagi bersama, bertiga, lalu mengobrol sepuasnya."
Armin menaruh pandangannya kepada Eren, Eren menyunggingkan senyum mendengar kata-kata itu. "Benar juga," sebuah helaan nafas darinya. "Mungkin suatu hari nanti kita akan bertemu lagi dengannya."
Armin hanya diam mendengarnya.
"Armin..." panggil Eren.
"Apa?" tanya pemilik nama, apakah itu sebuah kata-kata yang harus disebutkan? Sebutkanlah.
"Aku punya permintaan..." , "Mungkin ini permintaan terakhir, yang bisa kukatakan padamu."
Wait a sec, Eren memperdalam kata-katanya. Armin tidak dapat berkata apa-apa selain menatap manik hijau itu dengan sejuta rasa, "Permintaan terakhir?" Kecuali mengulang kata-kata lawan bicaranya.
"Ah tidak, lupakan saja kata 'terakhir' itu!" Armin tersenyum simpul mendengar perkataan Eren.
"Lalu apa?"
Eren pun memajukan posisinya agar terlihat lebih meyakinkan, ia tatap dalam-dalam biru langit di depannya. Sebuah meja kopi pendek yang lebar menjadi penghalang mereka.
"Apa aku boleh menginap di sini? Untuk 1 atau 2 hari?"
"Menginap di sini?" , "Tentu saja boleh!" Armin mulai antusias. Bagai dalam hatinya, apakah itu masih perlu dipertanyakan?
Mereka pun tampak senang.
"Aku selama ini sering sendirian di rumah, mungkin kalau ada Eren akan ramai," seulas senyum tersungging di wajahnya.
Entah apa yang akan terjadi nantinya.
Tapi tiba-tiba telepon rumahnya berdering, Armin terpanggil. Tetapi itu tidak jauh, ia hanya perlu berjalan selanghkan untuk mengangkat dering di meja sebelahnya.
"Tunggu sebentar ya," Eren hanya diam menjawabnya.
Tetapi ternyata cukup lama, Eren hanya memerhatikannya dari belakang. Ada suara-suara Armin yang terdengar bagai penolakan, rajukan, dan akhirnya ia terdiam bergumam setelah di awal sempat senyap.
Tangannya lalu melepaskan gagang, namun ia tak langsung beranjak dari sana. Tidak dengan itu, waktu berjalan cepat, harus seirama dengannya. Eren masih ada di baliknya.
Armin pun menoleh menatap Eren, dengan wajah ragu sambil mendekatkan kaki ke arahnya. Tatapannya mengindikasi bahwa ada sesuatu yang tidak diharapkan terjadi, sementara manik hijau memberikan pandangan dengan tanya.
Begitu mereka berdua duduk berhadapan kembali, "hei."
"...?" Eren hanya menatapnya.
"Hei Eren," kata Armin lagi.
"Ada apa? Aku mendengarmu," ya Eren terus memperhatikanmu dari tadi.
"Sebenarnya aku harus pergi."
Terjadilah jua perubahan raut wajah pada lawan bicaranya, "Sekarang?"
Armin mengangguk sekali, lalu menatap manusia di depannya ragu, "bagaimana..?"
"..." Eren pun tidak langsung menjawab, untuk beberapa saat dia menatapnya dengan pandangan yang sulit ditafsirkan artinya.
"Kenapa tanya padaku?" Eren tahu perasaan Armin sebenarnya, tentu.
Tapi Armin juga tidak bisa meninggalkannya begitu saja. "Apa aku harus pergi?"
Setidaknya ada manner di antara mereka berdua untuk membuatnya terlihat lebih indah dan halus.
"Pergilah, tidak masalah!" Kedengarannya mengusir.
"Apa tidak apa-apa aku meninggalkanmu di sini?" , "Padahal kan Eren baru datang."
"Armin..." Eren pun menarik nafas dalam, mencoba masuk ke dalam mata biru itu.
"Aku hanya ingin singgah sebentar di sini," perlahan nada suaranya berubah, sedikit Armin terhenyak.
"Aku tinggal di sini, ya?" , "Sebentar saja, tanpamu."
Bagaimanapun juga Armin masih menatap Eren penuh dengan keraguan, sementara manik hijau itu terlihat berubah ke arah seolah dia ingin meyakinkan orang... tatapan yang dalam namun halus.
"Tenang saja, aku tidak akan membakarnya," Eren tersenyum.
"Oke...?"
"Baiklah."
Waktu yang dihabiskan oleh kedua orang itu pun tidak berlangsung lama lagi. Sebentar saja, Eren melihat Armin menelepon seseorang di depannya kembali. Dalam waktu yang singkat pula tuan rumah terlihat sibuk mendadak. Setelah mereka bertukar id chat room yang aktif untuk dihubungi, tuan rumah benar-benar meninggalkan sarangnya.
Pada saat momen Armin keluar dan dijemput pun, Eren tetap berada di dalam rumah. Mereka berdua hanya memberikan salam perpisahan di dalam lalu meninggalkan diri masing-masing. Sebenarnya Eren malas berjalan keluar karena suatu alasan.
Kenapa mereka sempat berpisah dan menghentikan persahabatan itu? Armin benar tidak pernah pindah, atau meninggalkan tempatnya. Tetapi terkadang ialah yang merasa ditinggalkan oleh orang-orang. Dan sekarang ketika ia memiliki sebuah kesempatan untuk bertemu lagi, waktu itu sangat singkat.
Ia harap, kepergiannya ini adalah untuk alasan yang tepat.
Armin merasa harus mengatakan sesuatu kepada seorang di sebelahnya yang sedang menyetir. Sesungguhnya ragu dia dari tadi untuk mengatakan, tapi dengan itu juga pikirannya terus terganggu. Berkali-kali matanya melirik mungkin akan menimbulkan kecurigaan juga.
"Paman..."
"Aku turut menyesal," , "atas apa yang terjadi padamu."
Armin tidak menatapnya, begitu pula juga dengan dia, hanya ada sebuah bayangan jalan raya di kedua pasang manik masing masing.
"Sebenarnya siapa yang meninggal?"
Dia tahu dia mendengarnya, kata-kata menyedihkan itu sulit dijawab. Sehembus nafas berat yang sedikit disembunyikan menjadi pembuka pembicaraan, Armin menantikan sebuah jawaban pasti.
"Bukan siapa-siapa," , "itu hanyalah beberapa karyawan."
Langsung Armin menyerngitkan dahi, "maksudnya...?"
"Apa Armin tidak menonton berita?"
Hanya wajah penuh tanya. "Memangnya ada apa?"
Dibalaslah ketidaktahuannya dengan seulas senyum tipis, "tidak salah aku mengaajakmu."
Mendengarnya Armin pun diam saja, karena kalau jawabannya memang seperti itu, maka dia memang harus mengikuti perjalanan ini sampai selesai.
Tetapi ada sebuah pertanyaan inti yang masih belum terjawab. Sejenak Armin memejamkan mata, namun dengan maksud prihatin dan jengkel. "Kenapa... Paman mengajakku pergi?" Dia berikan tatapan kepadanya.
"Aku sering meninggalkanmu di rumah selama ini, kupikir Armin akan suka kalau diajak pergi bersama."
Armin tidak bisa mengatakan kalau sebenarnya ada seorang di rumah kalau begini jadinya, kalau ini bukan saat yang tepat untuk uncle and nephew time.
Singkat kata, awalnya dia dikagetkan dengan berita duka dari keluarganya, katanya begitu. Lalu diajak pergilah Armin untuk melayat, tetapi entahlah nampaknya itu hanyalah penipuan lewat telepon.
Akhirnya setelah menempuh perjalanan yang lama hingga Armin sempat tertidur, tibalah.
"Eh, sudah sampai...?" Armin seketika terbangun dan menyadari, seseorang tengah menatapnya dari tadi. Dia lalu melihat ke jendela, melihat bahwa inikah tempatnya? Melihat seseorang keluar dari mobil lebih dulu membuatnya mengikuti.
Armin hanya bisa memberikan pandangan yang terkejut lagi miris sekaligus prihatin.
Sebenarnya tempat yang Armin pijak sekarang adalah pabrik penyulingan minyak, atau bisa dibilang kilang minyak Bukanlah sebuah kilang yang ada di tengah lautan atau di atas air, namun di antara pabrik-pabrik lainnya di Industrial Park ini. Ya mungkin dulu masih terlihat kilangnya.
Namun kini hanya tersisa bekasnya saja. Jalur-jalur pipa yang sudah tak karuan, bentuk tabung-tabung besar yang sudah meledak, bagunan hancur, dan apapun itu... kebesarannya tiada yang tersisa kecuali warna hitam dan abu. Benar- benar itu adalah sebuah ledakan besar.
Tak lupa garis polisi masih menghadang melintang, begitu pula beberapa tenaga ahli masing-masing masih mengerubungi bangunan itu mencari serpihannya. Ada beberapa barang yang terlontar tapi dibiarkan begitu saja.
Armin tidak pernah mengetahui urusan bisnis Erwin di belakang, bahkan sekedar tahu lewat menonton berita pun. Ia tak tahu. Tetapi ia tahu apa tempat ini, apa pabrik ini. Sekarang dia benar-benar mengerti setelah sampai di perjalanan.
"Masih ingat tempat apa ini?"
"Ini tempat... pertama kali aku bertemu dengan Paman," mendengarnya, laki-laki disebelahnya hanya tersenyum.
Selama ia masih kosong dengan pemandangan itu, ia menoleh dan menyadari orang yang tadi ada di sebelahnya sekarang telah meninggalkannya.
"Bagaimana caranya semua ini bisa terjadi...?" Gumamnya
Langit yang mendung di atas kepalanya membuat perasaannya makin mendramatisir. Waw, kalau saja mungkin laki-laki kaya itu tidak pernah membawa seorang anak hilang dari pabrik ke rumahnya, mungkin Armin akan terus menjadi gelandangan di sana hingga sudah menjadi abu kemarin.
Sedih sih iya, itu adalah nilai historis. Tapi yang lebih pedih lagi pastilah Erwin, lihatlah bencana yang menimpa bisnisnya ini. Walau Armin tidak tahu sebenarnya dia masih punya aliran dana dari mana lagi untuk makan sehari-hari. Apapun itu yang bisa terukir di wajah yang sudah tak muda lagi, nampaknya ia masih tenang, atau tabah menjalani.
Yang lebih pedih adalah waktu yang berlalu dan Armin hanya bagaikan ekor yang mengikuti ke mana pun Erwin pergi dengan segala urusannya, lelah mungkin merasa diachukan juga iya tapi jujur saja sebenarnya dia empati dan ingin tahu tentang kejadian ini.
Dia belum pernah melihat sebuah kejadian yang biasanya hanya dapat digambarkan atau dilihatnya saja, dimana ada orang-orang asing yang terlihat keren melakukan pekerjaan mereka. Apakah itu detektif? Apakah itu polisi? Nampaknya ini bukan baru kejadian.
Akhirnya tiba pula di mana Armin memisahkan diri dari kepalanya dan duduk diam di sebuah tempat tak jauh dari TKP. Mulai malamlah langit itu, kakinya bergoyang goyang dari atas tempat duduk mengisi keheningan, tak tahu apa yang harus dipikirkannya.
Ern
Hei, ada charger tidak sih?
Ada... Di depan di meja dekat tv.
Hanya sebuah pesan singkat dari Eren di sana, ingin ia menanyakan hal-hal demi membunuh waktu. Namun selanjutnya ia merasa tempat ini mulai terkutuk karena koneksi mendadak tidak tersedia.
"Armin, kalau merasa lelah atau mengantuk katakan saja."
Ia tak sadar dirinya dihampiri.
"Ah, belum sama sekali!" , "Aku... akan menunggu di sini."
SAMA SEKALI.
Bagai memang tak mengerti, hanya seulas senyum tanggapan Paman. Setelah ia pergi, keheningan kembali menjadi teman sejati.
Kadang-kadang Armin jadi memikirkan sedang apa Eren di rumahnya, sungguh kan baik-baik saja? Apa ia akan memporak-porandakannya? Membakarnya? Semoga saja Eren tidak menceracau, apalagi kalau itu bukan barang miliknya.
Ingin mencoba untuk tidur pun tak bisa, mencoba untuk melakukan hal lain juga tidak ada yang bisa dilakukan.
Ia sedikit mengirim pesan akhirnya pada Eren, sekedar bertanya ada apa tapi tak dijawab, sampai juga mungkin tidak. Kenapa rasanya tempat ini agak terkutuk. Melihat waktu yang tak kunjung bertambah cepat membuatnya menajdi bosan sendiri.
Yang namanya pekerjaan seperti itu tidak akan sebentar.
Akhirnya hingga malam sungguh pekat, Armin tetap setia di sana.
"Armin?"
Akhirnya mungkin penderitaan ini akan segera berkhir. "Ya?"
"Kupikir ini sudah larut, sebaiknya kita mencari tempat untuk istirahat."
Pada akhirnya, terucap juga kata-kata yang menghibur. Armin memanggut pelan, walau sebenarnya senang lebih dari itu.
Mungkin lebih mudah baginya untuk mencari tempat yang dekat dengan pabrik daripada harus pulang-pergi, karena jarak dari rumah ke pabrik memang terbilang jauh. Armin semakin jadi buntut saja hanya mengikuti ke mana kepalanya pergi.
Erwin pun menemukan sebuah tempat yang tak jauh dari sana, mungkin ini namanya sekalian jalan-jalan atau menginap di luar rumah bagi Armin. Tempat itu adalah penginapan di tepi pantai, bukan hotel karena letak mereka tak jauh dari sebuah pesisir pantai. Mungkin tujuan tersembunyi Erwin itu sekalian liburan juga.
Begitu sampai, Armin lekas bahagia karena tidak lagi harus duduk di bawah pohon sambil dikerubungi nyamuk.
Awalnya ia membiarkan Erwin masih sibuk sendiri, begitu juga dengan dirinya. Karena Armin sempat diberitahu bahwa perjalanan ini mungkin akan lama, maka ia telah membawa baju ganti seperti untuk saat ini. Begitu ia selesai dan ingin mengakhiri kelelahannya pada sebuah ranjang king size di ruangan, Erwin terlihat sedang duduk di pinggir tempat empuk itu sambil menyasap secangkir kopi. Setelah pandangan mereka bertemu, Armin menghampirinya. Pertanyaan-pertanyaan yang sedari siang sudah dikumpulkannya masih ingin ia tanyakan.
"Apa aku boleh menanyakan sesuatu...?" Begitu Armin ada di depan matanya.
Sebentar, ia taruh cangkir itu di meja nakas di sebelah, "apakah itu soal kebakaran pabrik?"
"Iya..." Armin mengalihkan pandangannya ke bawah sedikit. "Bagaimana caranya pabrik itu bisa terbakar?"
"Duduklah," perintah itu lekas dijalankannya, ia duduk tepat di sampingnya.
Begitu mereka bersebelahan, kedua manik yang sama-sama biru itu saling bertatapan. "Apa yang bisa kuatakan padamu, Armin?" Kalimat pertamanya.
"Pencarian akan sulit kalau bukti yang ada telah terbakar, tidak ada korban yang selamat, dan..." , "maaf aku belum bisa menjawab pertanyaanmu."
"Paman sedang tidak di tempat kejadian saat itu?" Kelihatannya masih penasaran.
"Aku sedang keluar kota."
Kalau hanya itu jawaban dari pertanyaan-pertanyaannya, maka Armin tidak akan bersuara lagi. Sungguhkah hal yang seperti ini terjadi kepada mereka? Armin tidak pernah menyangka kehidupan duniawinya yang indah suatu saat akan hancur. Mungkin itu bukan apa-apa baginya, tapi apapun yang dirasakan oleh orang tersayangnya ini, apalagi pabrik itu dengan semua kenanagannya... ia tidak ingin menjadi terlalu dramatis, tapi...
"Ya... aku mengingatnya" Armin mulai menutup pembicaraan. "Terimakasih sudah mengajakku ke sini."
"Sekarang kamu yang senang kan?" Walau itu tidak bisa dikatakan sebagai 'senang'. Armin hanya tersenyum tipis sementara pucuk kepalanya mulai dielus orang itu.
"Sebenarnya ada kecurigaan terjadinya insiden penembakan," kepala yang mulai menunduk itu kian terangkat lagi menatap ke arahnya.
"Penembakan?"
"Iya."
Tangan itu sekarang berpindah pada bahunya. "Seorang saksi mengatakan ada bunyi tembakan beberapa kali sebelum ledakan."
"Apa di sini daerah yang rawan penembakan?" Tanyanya cukup serius.
Mendengar pertanyaan itu, Erwin tersenyum kepadanya, "apa Armin takut...?"
"Tidak, bukan begitu!" Sanggahnya, "hanya saja... mungkin itu berarti yang membakar pabrik itu orang jahat, bukan begitu?"
"Maksudku... orang yang terlibat dalam tindakan kriminal."
Mereka kian saling bertatapan dengan maksud masing-masing. "Armin berpikir sejauh itu? Wah."
"Aku hanya mengira," ucapnya merasa tak pantas dipuji. "Kalau itu memang benar... mungkin bisa disangkutkan dengan kegiatan kriminal yang terjadi belakangan ini," curah apa saja yang ada di dalam kepalanya tiba-tiba.
Walaupun anak itu kelihatannya bersemangat, tetapi hanya ada seulas senyum tipis yang tak dapat berkata apa-apa. "Mereka sudah melakukannya, persis seperti yang kamu katakan," , "ada ide lain?"
Kini Armin yang merasa mulutnya terkunci.
"Dariku pun, baru seperti itu saja, aku belum mendengar adanya perkembangan terbaru," tambah Erwin.
"Oh... baiklah," , "Tapi mungkin... misalnya kalau kita bisa menemukan bekas selongsong peluru, bahkan pistol atau senjata sejenis... kita bisa melacaknya."
"Aku senang melihatmu bersemangat begitu," tangannya akhirnya terlepas seutuhnya dari tubuh Armin. "Tapi tidurlah sekarang, besok kita akan melanjutkannya lagi."
"Maaf... pasti Paman lelah dengan... dengan semua pertanyaan ini," ayolah jangan menundukan kepalamu dengan suara yang seprti itu.
"Apa masih ada pertanyaan lain?" Erwin memberikan kesempatan kedua kepadanya.
Sehembus nafas berat menjadi awalan, "sebenarnya iya..." Ucap Armin, yang sebenarnya tidak ingin diucapkannya namun sudah. "Bolehkah aku mengatakannya?"
"Apapun itu."
"Kalau begitu," pergerakan matanya mulai ragu, "kapan kita akan..."
'Pulang ke rumah.'
"Menemukan pelaku kasus ini?" kata-kata yang sesungguhnya hanya mampu dikuburnya dalam-dalam dalam hati.
Lagi-lagi, seulas senyum itu terukir.
"Pasti, kita pasti akan menemukannya cepat atau lambat," ucap laki-laki yang sudah dalam usia pertengahannya seraya mencium kening anak di depannya, si anak hanya terdiam sambil memberikan tatapannya seolah merajuk.
Setelah semua-muanya selesai, dan sungguh tak ada lagi yang bisa diucapkannya, Armin tertidur dengan cepat pada satu-satunya ranjang yang ada di sana. Sementara Erwin nampak masih menyibukkan diri terlebih dahulu sebelum ia benar dapat tidur bersama dengan malaikat kecilnya.
Tebeceeeee~
EAAAA WARN PEDO IS BACKKKKK, WARN ERUMIN IS BACKK, WARN AUTHOR IS BACK YOOO. Sekarang lagi chepi EruMin, so calm down. Ship mereka juga xD #sorry otepe gue banyak :b# nanti baru kasih RiRen di chepi sekian :v
Karena howa menyadari betapa bodoh dirinya sendiri di chepi kemaren, sekaligus telah menghilangkan tradisi ff howa, maka howa masukin lagi Kode Merah, maksudnya kayak warn gitu :v ada di paling atas.
Sebenrnya percakapan spt pesan antara Eren dan Armin pengen dibikin satu rata kanan satu rata kiri, tapi ffn ga bisa bikin rata kanan, yaudah ketengahin aja :'v
Sekira-kiranya author bisa update sekitar semingguan sekali,
Very special thanks to En Leciel & Nocturno318
Keeping Lines Blurry
Mission 0,5
Glimpse in to Old Oil Refinery
By
Keadaan Howa Mempersulit
Disclaimer
Hajime Isayama
Rate
T aja dulu
Pairing
Lagi EruMin
Genre
Crime, Tragedy, & Romance
Maaf apabila ada kesalahan pada penulisan nama/gelar saudara/i
Untuk mendukung author, Anda bisa menyumbangkan kuota seikhlasnya dan waktu sedikit untuk menekan tombol "review" di bawah, fave atau follow juga bisa banget :D
