Dari semua pengeluaran tak terduga yang telah diprediksi Nihongou, memiliki adik yang menderita gangguan jiwa bukanlah salah satunya.

Dia bisa membayangkan Hakata akan menderita patah lengan karena bergulat dengan teman sepermainan (meskipun, melihat karakter si bungsu yang anteng, susah untuk percaya hal itu akan sungguh-sungguh terjadi). Dia bisa membayangkan Hasebe, semenjak dulu paling ringkih di antara mereka bertiga, jatuh sakit sampai harus rawat inap (karena itu ketika dia benar-benar masuk Rumah Sakit Nihongou sudah punya tabungan cadangan). Dia bahkan mengantisipasi kemungkinan dimutasi dengan tidak banyak berinvestasi pada apartemen mereka; menghitung dengan teliti biaya kuliah Hakata; bahkan menyiapkan dana khusus kalau-kalau mereka kehilangan properti karena gempa. Semula pemuda yang senang hura-hura, Nihongou belajar menjadi kakak sulung sekaligus perencana keuangan keluarga semenjak ayah-ibu mereka tiada.

Namun kemudian vonis itu jatuh dan Nihongou hanya terperangah saja. Siapa yang menyangka bahwa kata gila ternyata berbanding lurus dengan bengkaknya biaya? Asuransi kesehatan mereka—yang telah dipilih Nihongou dengan sangat hati-hati—ternyata tidak mengkover penyakit mental dalam polisnya (tapi, untuk menghibur diri, tidak juga asuransi lain. Bagi sebagian besar orang, gangguan jiwa bukanlah ancaman yang nyata). Tiba-tiba saja ada potongan nyaris sepertiga penghasilan mereka sebagai biaya konsultasi rutin ke psikiater, itupun Munechika-san—salah satu pemegang saham utama dalam bisnis raksasa keluarga, menjadi dokter karena panggilan nurani semata—telah memberi banyak keringanan. Lupakan menabung untuk jalan-jalan. Mereka masih pikir-pikir untuk sekedar makan di restoran.

Patut diingat juga bahwa ekspens gila-gilaan itu belum termasuk obat-obatan. Bukan karena mereka mendapat bantuan dari dinas kesehatan, tapi karena Hasebe, dalam euforia manianya, menolak mentah-mentah mengonsumsi mereka.

"Saya tidak bersedia mengonsumsi lithium," ungkapnya tenang dalam kunjungan kedua mereka ke tempat praktek Munechika-san, lantai empat sebuah gedung pusat kesehatan dan pengobatan terapi dekat Stasiun Metro Nakano. Nihongou menoleh begitu cepat ke arahnya hingga lehernya pegal, terkejut pada pernyataan itu; tapi Hasebe tetap tersenyum seakan ia tidak baru saja menyatakan sesuatu yang—mengonfirmasi kondisinya—gila. "Saya sudah membaca tentang efek sampingnya, dan itu akan sangat berpengaruh pada profesi saya sebagai penerjemah."

Lithium, berdasarkan rekam jejak medis intensif selama lebih dari lima dasawarsa, adalah obat paling efektif bagi penderita bipolar. Ditemukan oleh seorang dokter Australia, John Cade, pada tahun 1940an, lithium telah dimanfaatkan dalam terapi pengobatan penyakit mental semenjak tahun 1950 dan terbukti mampu mengurangi berbagai gejala gangguan mental hingga tujuh puluh persen. Sifatnya sebagai garam mineral alami juga membawa keuntungan, di antaranya harga yang jauh lebih murah daripada obat-obatan rekayasa (bahkan versi generik sekalipun), serta efek sampingnya yang dinilai lebih aman daripada alternatif lain dalam jajarannya.

Namun demikian, kata "aman" merupakan sesuatu yang subjektif. Efek samping samping lithium, di antaranya gangguan konsentrasi, ingatan jangka pendek, gangguan koordinasi, dan gangguan linguistik; tentu sangat berpengaruh bagi pekerja industri kreatif seperti Hasebe. Seorang penerjemah, Hasebe pernah mengungkapkan, bukan hanya mentranskripsi kata-kata dalam satu bahasa ke bahasa lain. Ia juga harus mampu mempertahankan seni setiap karya, menyalurkan gaya si penulis yang membuat karya itu lain dari yang lain. Seorang penerjemah bukan hanya harus pandai berbahasa, ia juga harus pandai bercerita. Jika kreativitasnya tersumbat pengobatan, bagaimana mungkin Hasebe dapat melanjutkan karirnya?

"Saya mengerti," Munechika-san tersenyum sama tenangnya, mencatat preferensi Hasebe dalam notes biru muda dengan logo klinik terapi warna emas di sampul belakang. Nihongou kini melihat betapa penyakit mental yang dipopulerkan dalam berbagai media telah menimbulkan stereotipe salah kaprah. Sebelum ini, selalu ia mengidentikkan kata gila dengan histeria, dengan aktivitas-aktivitas di luar kata lumrah. Sulit ia mencerna bahwa seorang pasien dapat berbincang penuh senyum dengan psikiater yang sama kalemnya. Di ruangan ini, justru Nihongou-lah yang nampaknya panik sendirian, meski di luar pun ia tetap menjaga air muka.

"Tapi saya perlu mengingatkan bahwa, tanpa pengobatan, episode bipolar dapat muncul lebih sering dan akut," Munechika-san mengunci pandang pada Hasebe saat mengatakan ini, "saat ini ada beberapa jenis obat-obatan baru tersedia, tetapi saya tidak ingin memberikan itu sebagai percobaan pertama. Efek samping obat-obatan ini masih perlu riset lebih lanjut."

Dalam sebagian besar kasus, beliau melanjutkan, penderita bipolar harus mencoba berbagai macam kombinasi obat sebelum menemukan dosis yang tepat. Proses ini dapat memakan waktu bertahun-tahun, dan kesulitan semakin meningkat apabila penyakit si penderita bertambah parah.

Hasebe, seperti biasa, tidak melepaskan senyum dari otot bibirnya. "Saya mengerti, Dokter," balasnya, mengangguk mantap. Maka, meski Nihongou berharap sang psikiater bersikap lebih persuasif, Munechika-san tidak membahas obat-obatan lagi.

..ooOoo..

"Yo, Niho! Masakuni ulang tahun hari ini, ayo kita minum-minum!" Jirou merangkulnya dari belakang sembari meraih ke meja kerja dan menutup laptopnya. Nihongou menggerung pelan (untung saya pekerjaannya barusan sudah disimpan), menoleh pada koleganya yang kini meletakkan dagu di bahunya sambil cengengesan.

"Aku tidak bisa, Jirou. Maaf." Tidak ada sisa uang lagi untuk bersenang-senang bulan ini.

Pria nyentrik berambut panjang itu berdecak, mata diputar macam nona kaya antagonis dalam film drama. "Ayolah. Kau tidak pernah ikut gaul lagi sekarang."

"Nanti rambutmu ubanan," kekeh Otegine geli, melongok dari pembatas bilik kerjanya. Pria bongsor itu mengemut permen lolipop hingga yang terlihat hanya tangkainya saja, rambutnya sudah ditata dalam gaya "gaul" berantakan, tidak seperti saat jam kerja di mana ia bersisir klimis, sesuai jabatannya sebagai sekretaris. "Ayolah, Niho-kun. Sudah lama sekali kita tidak senang-senang bersama, ha? Pumpung Masakuni mau menraktir."

"Sembarang bacot!" Jebik Doudanuki Masakuni dari seberang ruangan, menyumpalkan folder ke dalam tas kerja dengan tampang kesal. Kentara sekali sepasang "pasukan hore-hore" itu memaksanya jalan, tuli terhadap segala protes dan umpatan.

Nihongou tertawa kering, menggaruk-garuk kepala. "Ah, aku benar-benar tidak bisa," tolaknya, nyengir kecut seakan ia sangat menyesal tak dapat ikut. "Aku masih ada pekerjaan. Lagipula aku sudah janji pulang cepat pada adik-adikku."

Tepatnya, janji akan selalu pulang cepat pada Hakata, yang sering kewalahan menemani Hasebe sendirian. Baru kemarin lusa si bungsu itu menelepon dengan panik, memberitahu bahwa Hasebe tiba-tiba memakai setelan olahraga lalu memutuskan untuk berlari keliling kota sebelum makan malam, tidak mengindahkan larangan Hakata bahwa hari telah gelap (tidak masalah jika hanya lari saja, tapi Hasebe punya kecenderungan untuk menyangkut di suatu tempat. Suatu kali pernah ia menelepon dari kota sebelah minta dijemput karena entah bagaimana ia terbangun di sebuah kamar tak dikenal, pening habis mabuk, dan kehilangan celananya).

"Tuh, dengar, Jirou," Otegine geleng-geleng sambil menyeringai, "Niho-kun memang sudah berbeda dari kita. Sudah jadi kepala keluarga yang bertanggung jawab." Bagi Nihongou caranya mengatakan itu terdengar seperti meledek, tapi ia tak dapat melakukan apapun selain ikut tertawa. Jirou mendengus kesal, melepaskan rangkulannya dan bergabung dengan Otegine di luar bilik.

"Benar tidak mau ikut nih, Niho?"

"Iya," pria itu menebahkan tangan kiri dengan lagak mengusir, "sudah, pergi saja sana. Kalau mabuk jangan pipis sembarangan!"

Kawan-kawannya keluar dari kantor, langkah mereka bergema di koridor bersama kekeh dan tawa (atau rutukan, dalam kasus Masakuni yang dirangkul oleh Jirou sambil diejek pendek). Nihongou menghela napas, menyisir rambut yang mulai berminyak dengan jemari. Membuka kembali laptop, mengerjakan satu pekerjaan tambahan lagi.

Ponsel di samping gelas kopinya mendadak berbunyi. Nada dering khusus dari ponsel Hasebe. Hatinya langsung mencelos, segala skenario bertubrukan di kepala, tapi ternyata itu hanya pesan dari adiknya.

CEPAT PULANG! HARI INI KITA MAKAN OMELET! :DDDD

Lengkap dengan foto omelet yang tersaji cantik di meja makan, dekorasinya tidak kalah dengan sajian dalam acara memasak yang fanatik diikuti Hasebe belakangan. Ia tak pernah absen mengirimi Nihongou gambar masakan, suatu kali Jirou pernah melihatnya dan berkomentar penuh kekaguman.

"Ah, adikmu manis sekali, Niho!"

Nihongou hanya mengiyakan pasrah, tak sanggup menjelaskan ironi bahwa adiknya tidak akan bertingkah demikian jika otaknya tidak salah.

..ooOoo..

Hasebe hampir selalu tidur larut malam. Dini hari, bahkan. Munechika-san menjelaskan bahwa itu disebabkan oleh hormon adrenalin berlebihan, membuatnya tidak hanya terjaga tapi juga penuh energi di luar batas kewajaran. Hasebe berkilah itu bukanlah sesuatu yang patut dikhawatirkan (ia dapat menerjemahkan satu buku dalam semalam!), hingga Munechika-san menukas halus, memperingatkan tentang berbagai komplikasi fisik lain yang mengancam. Setelah tawar menawar alot, Hasebe setuju untuk mengonsumsi satu jenis obat: klonopin, nama merek dari senyawa clonazepam yang dijual dalam bentuk pil. Dalam kasus Hasebe, obat ini digunakan sebagai obat tidur sekaligus penenang hiperaktivitasnya.

Namun tentu saja, bukan anak kedua Kuroda namanya kalau tidak sering bandel. Kerap ia sengaja "lupa", membiarkan baterai tubuhnya hidup semalaman kemudian teler di pagi hari. Seperti malam ini, misalnya. Nihongou keluar kamar pukul satu dinihari untuk buang air kecil dan si tengah itu masih duduk di kursi makan, mata terkunci pada layar laptop, jemari mengetik frantik hingga mengeluarkan efek suara hujan di atas seng.

"Hasebe. Tidur," perintahnya datar, tegas. Yang dipanggil mendongak kaget, matanya sejenak nyalang seperti maling tertangkap basah, tapi kemudian dia tertawa kecil.

"Niho. Bikin kaget saja," celetuknya, lalu kembali pada laptop seakan tidak terjadi apa-apa. Nihongou menghela napas kesal, mendekat lalu mencengkeram bagian atas layar laptop seperti mengancam akan menutupnya.

"Hei. Sudah jam satu malam. Tidur," ulangnya, menatap Hasebe lekat-lekat. "Besok pagi harus ke tempat Munechika-san, kan?"

Mereka sengaja mengatur agar kontrol rutin Hasebe diadakan pada hari Sabtu, sehingga Nihongou bisa mendampinginya sewaktu-waktu. Namun itu juga membuat Hasebe sembarangan: akhir minggu, ia memutuskan secara sepihak, adalah jatah pribadinya untuk begadang.

"Nah, justru itu!" Hasebe menjentikkan jari dan menunjuk Nihongou, seolah sang kakak adalah peserta kuis yang baru saja menjawab pertanyaan dengan tepat. "Aku sedang mengerjakan tugas dari Munechika-san!"

Satu alis terangkat. "Tugas?"

"Mmhm," Hasebe mengangguk sekenanya, menyeruput minuman dari cangkir gratisan bergambar logo supermarket (Nihongou melongok isinya dan merengut jengkel. Kopi! Astaga, sudah berapa kali dia dinasehati untuk mengurangi kafein?). "Munechika-san memintaku membuat jurnal kronologis tentang fase emosiku selama lima tahun terakhir. Untuk melacak sumber masalah dan merancang metode terapi, katanya."

"Oh." Kini perhatian sang kakak ikut terserap. Seperti halnya sang psikiater, sejujurnya ia pun penasaran kenapa Hasebe, bocah cemerlang dengan sederet prestasi menjunjung namanya, bisa mengalami sesuatu yang terasa luar biasa. Nihongou dan Hakata keduanya sama-sama menyandang predikat "berbakat" (IQ masing-masing 168 dan 155) tetapi mereka tidak menunjukkan tanda-tanda abnormal. Atau—ini yang ditakutkan Nihongou—belum. Diam-diam sesungguhnya ia juga sedang melacak sejarah penyakit keluarga, kalau-kalau Ayah atau Ibu membawa gen resesif pelabil mental. Memang ada cerita tentang bibi dari darah ayah yang menghanyutkan diri di sungai setelah bertahun-tahun bicara pada sosok-sosok tak kasat mata; tapi kisah itu terlalu samar dan subjektif, banyak bumbu menyarukan fakta-fakta (terlebih kenyataan bahwa setiap keluarga hampir selal u punya cerita "kerabat jauh yang gila").

Mungkin, dengan melihat pekerjaan Hasebe, Nihongou bisa lebih memahami masalah adiknya.

"Kelihatannya menarik. Boleh aku ikut membaca?" Ia menggeret kursi untuk duduk samping Hasebe. Sedikit banyak ia mengira adiknya akan menolak, mengeluarkan alasan macam "data konfidential", tapi ternyata pria muda itu lebih dari bersedia untuk menunjukkan hasil kerjanya sejauh ini, seperti anak kecil yang begitu bangga akan prakaryanya.

Dalam layar tampil sebuah tabel yang tengah diisi Hasebe, berisi tanggal, tahun, tempat kejadian, peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekitar tanggal itu, dan deskripsi singkat mengenai keadaan emosi Hasebe. Nihongou ber-hmm pelan, heran sekaligus kaget akan dua hal: satu, bahwa Hasebe masih ingat betul kronologi emosinya selama lima tahun terakhir; dua, bahwa ternyata pergolakan emosi Hasebe, bagaimana ia dapat berubah dari sangat bahagia menjadi sangat depresi, telah dimulai semenjak akhir masa SMA—ketika orangtua mereka masih hidup.

"Ingat waktu kelulusan SMA dulu?" Hasebe mengekeh pelan, menunjuk satu kolom dengan tanggal akhir. Matanya berkilau mengingat jaman lama, suaranya ditunggangi nostalgia. "Aku begitu senangnya... sampai berkeras mengajak kalian liburan dua hari tiga malam di onsen. Ibu sangat marah saat tahu aku menghabiskan hampir seluruh tabunganku untuk itu."

Mau tak mau Nihongou ikut mendengus tertawa. "Ya. Aneh sekali melihatmu bertengkar dengan Ibu."

Menjadi anak bungsu selama hampir lima belas tahun cukup untuk membuat Hasebe sebagai penguasa perhatian Ibu. Selama bertahun-tahun ini menjadi sumber rasa cemburu: Hasebe, bayi prematur yang lahir tanpa didampingi ASI (entah kenapa payudara Ibu kering setelah melahirkan, baru menetes setelah sekitar satu bulan—ketika Hasebe sudah terlalu terbiasa dengan susu formula), menjadi objek permanjaan keluarga. Tubuhnya yang kurus kecil sakit-sakitan, sifatnya yang manis memanja, karakternya yang penurut, selalu ingin menyenangkan orangtua; menjadi daya tarik tersendiri bagi orang dewasa di kediaman Kuroda. Ditambah dengan mata biru-kelabu gelap (kadang dibesar-besarkan sebagai "ungu") yang memesona—bukan dari Ayah, asli Jepang bermata hitam; maupun Ibu, setengah Perancis beriris kelabu—Hasebe praktis mengundang semua orang untuk mencubit pipinya. Nihongou, baru masuk TK dan sedang nakal-nakalnya; kehilangan status sebagai raja cilik dan menerima kenyataan pahit seorang kakak: menjadi kambing hitam hanya karena dia lebih tua.

Kompetisi kakak-adik ini berlangsung hingga Hasebe beranjak remaja, ketika akhirnya Ibu melahirkan si bungsu Hakata. Mengalami pergeseran status, Hasebe merasakan sendiri sensasi disisihkan yang dipikul Nihongou semenjak ia masih lembut, maka secara naluriah timbullah rasa hormat pada sang kakak, lebih daripada sebelumnya. Keduanya menjadi pasangan yang akur, membantu membesarkan Hakata seperti orangtua kedua, hingga akhirnya kecelakaan maut itu terjadi. Tidak hanya meninggalkan mereka tanpa orangtua, tragedi itu juga membuka kembali jurang di antara Nihongou dan Hasebe yang telah terjembatani.

"Dua ribu dua belas," Nihongou membaca, menunjuk angka itu di tabel Hasebe. "Itu tahun terakhirmu kuliah, kan?"

"Mmhm."

"Kamu..." Alis Nihongou berkerut membaca keterangan di sampingnya. Tertulis bahwa Hasebe mengalami nervous breakdown yang cukup parah hingga harus cuti selama setengah semester. Dalam deskripsinya Hasebe menjabarkan tentang "hari-hari penuh tangis, diwarnai kenangan pahit yang terasa lebih menghujam daripada seharusnya"; bagaimana ia kerap menderita sakit kepala hebat dan gangguan pencernaan akut sampai kehilangan sepuluh kilo dalam dua bulan.

Nihongou tidak pernah tahu. Ia tidak pernah tahu bahwa Hasebe sampai pada titik membutuhkan teman sekamar karena ia tidak dapat merawat dirinya sendiri, tidak sadar bahwa ada masa ketika Hasebe menolak untuk bangun dari tempat tidurnya selama tiga hari berturut-turut karena ia merasa "tak ada gunanya lagi berusaha". "Kenapa kamu tidak cerita?" Kenapa, di antara bulan April sampai Juni 2012, Hasebe sama sekali tidak menghubunginya; tidak menganggap penting bagi kakaknya untuk tahu ia dilarikan ke Rumah Sakit dua kali.

Hasebe mengangkat bahu seolah itu bukan perkara besar. "Oh, tahulah. Waktu itu kita masih tolol. Bertengkar sampai tidak bicara satu sama lain, ingat?"

Tentu saja ia ingat. Pertengkaran terbesar sekaligus terkonyol mereka, bermula dari secarik kertas kepemilikan rumah dan berakhir dengan mereka nyaris tidak mengakui masing-masing sebagai saudara. Setelah Ayah dan Ibu meninggal Hasebe ingin menjual rumah berhalaman luas mereka di Fukuoka, menginvestasikan sebagian uang untuk masa depan dan sebagian lagi untuk membeli apartemen. Di lain pihak, Nihongou; terlalu sentimentil terhadap kenangan masa kecil, tidak rela jika rumah tempat ia lahir dan besar itu jatuh ke tangan orang lain.

"Ini bukan cuma tentang rumah, Hasebe!" Sentaknya, nyaris tak percaya bahwa adiknya tak punya ikatan batin terhadap pepohonan di pekarangan mereka, ayunan yang dibuatkan Kakek di bawah pohon juniper sebagai hadiah ulang tahunnya, baret-baret di tiang kayu sebagai penanda ukuran tinggi.

Hasebe memutar bola mata, mulutnya menjeplak mengejek. "Jadilah orang berpikiran modern, Niho. Kalau kita terus terjebak pada sentimen masa lalu, kapan kita bisa maju? Memangnya kamu akan tinggal di sini seumur hidup?"

"Rumah ini tidak harus ditinggali! Bisa kita sewakan, penghasilannya kita bagi masing-masing."

"Dan apa yang menjamin para penyewa itu akan merawatnya dengan baik? Kau pikir berapa biaya merenovasi rumah sekuno ini?"

"Kau pikir kita akan bisa membeli rumah sama besarnya jika menjual ini?"

"Kita tidak akan membeli rumah. Apartemen sudah cukup."

"Yang benar saja! Kamu mau mengurung Hakata di rumah-rumahan sempit tanpa tempat bermain?!"

Pertengkaran itu begitu hebat hingga mereka tak lagi berkomunikasi satu sama lain. Mengunjungi Hakata pada waktu terpisah, berhenti bertelepon mengucapkan Selamat Tahun Baru. Hal itu diperparah ketika seluruh keluarga besar mendukung keputusan Hasebe yang lebih rasional, membuat Nihongou merasa tercoreng harga dirinya sebagai seorang kakak. Hanya pada akhir 2012, saat Hasebe mengirimkan undangan wisuda pada Nihongou sebagai ajakan damai yang pasif, Nihongou belajar merelakan permusuhan masa lalu.

Namun rupanya residual masa-masa gelap itu belum sepenuhnya sirna—barangkali tidak akan pernah. Kini Nihongou dihantam kenyataan bahwa ada dua tahun vakum di mana ia sungguh tidak tahu menahu tentang kehidupan adiknya, dan dalam kevakuman itu kondisi Hasebe terjadi sesuatu dalam otak Hasebe yang membuatnya lain dari yang lain.

"Mulai sekarang, kita harus selalu membicarakan segalanya." Mulai sekarang, ia tidak akan kehilangan adik-adiknya lagi.

Hasebe terkekeh-kekeh, mengangguk sekenanya. Nihongou bangkit untuk membuat kopi bagi dirinya sendiri (menolak mengisi ulang cangkir Hasebe dan memberinya susu kedelai), mencuci muka mengusr kantuk.

Ini akan menjadi malam yang sibuk.

..ooOoo..

Ketika Hasebe selesai mengetik kronologi, jam telah menunjukkan pukul lima pagi. Truk-truk menuju Tokyo mulai berlewatan, aspal basah bekas gerimis mendesah lembut di bawah gilasan ban. Lampu-lampu mulai meredup, dengung mesin penghangat air mulai hidup. Di jantung ibukota dan sekitarnya, dunia terbangun lebih cepat daripada matahari.

Kedua Kuroda mencetak pekerjaan Hasebe sebanyak dua kopi—satu untuk Munechika-san dan satu untuk Nihongou. Jarum jam terus berdetik sementara sepasang kakak-adik itu menggerutu panjang pendek tentang printer yang mendadak mati; dan ketika akhirnya mereka berhasil mengoperasikan benda terkutuk itu, jarum panjang sudah bergeser ke angka empat. Hasebe, merasa tidak perlu lagi membuang waktu, beranjak untuk menenggak pil tidurnya.

Nihongou langsung belingsatan.

"Menurutmu apa yang kamu lakukan?!" Bentaknya, menyabet botol pil dari tangan sang adik. Hasebe mengerjap kepadanya dengan bingung.

"Er," katanya, menelengkan kepala. "Minum klonopin?" Ia menjawab itu seolah Nihongou-lah yang tolol.

"Kamu baru saja minum tiga cangkir kopi," gerutu Nihongou, membawa cangkir mereka ke wastafel. "Menurutmu apa yang akan terjadi kalau kamu minum obat penenang?"

"Efek kafeinnya akan luntur?" Mungkin dia sedang berpura-pura bodoh.

"Kamu bisa terkena serangan jantung!" Semprot Nihongou jengkel, menggeleng-geleng tak habis pikir. "Tidurlah tanpa memakai obat." Lagipula, hari sudah terlanjur pagi. Obat itu akan membuat Hasebe tertidur paling tidak tujuh jam, sementara Munechika-san memintanya datang pukul sembilan.

"Tapi, aku sudah tidak pernah mencoba tidur tanpa obat," ada keraguan dalam suara Hasebe, sepenuhnya yakin bahwa ia telah begitu kecanduan hingga insomnianya tidak mungkin tanggal tanpa bantuan dari luar. Nihongou menggeleng, menganggukkan kepala ke kamar utama di mana ia biasa tidur sendirian.

"Tidurlah di kamarku. Aku pasang aromaterapi lavender."

Hasebe meledak tertawa. "Aromaterapi, Niho? Sungguh?"

Sang kakak mengangkat alis, meski senyum juga merekah di bibirnya. "Kenapa memang? Itu benar-benar membantuku tidur nyenyak." Wangi lavender yang hangat melemaskan otaknya dari stres, juga mengingatkannya pada masa-masa lama, di mana rumah mereka hanya sepuluh menit bermobil jauhnya dari padang bunga. "Sudah, sana masuk kamar. Akan kubuatkan teh chamomile."

Kamar Nihongou adalah ruangan kedua terbesar setelah ruang utama (yang merupakan gabungan dari dapur, ruang televisi, dan ruang makan). Satu sisi temboknya berupa kaca, tempat tidur didorong mepet untuk memberi tempat pada set kursi dan meja kerja. Hasebe berbaring menghadap jendela, kaca transparannya memamerkan atap-atap jauh di bawah, kerlap kerlip lampu bagai bintang terbalik. Langit musim gugur masih gelap, hanya sebaret ungu menyemburat di garis batas cakrawala.

"Pemandangan di sini bagus sekali. Aku baru sadar," gumam Hasebe, separuh pada dirinya sendiri, ketika Nihongou masuk membawakan secangkir teh hangat untuknya. Sang kakak meraih ke atas lemari pakaian untuk menyalakan lampu aromaterapi, benda berbentuk lampion kucing itu menyala keunguan. "Kalau melihat pemandangan begini, mungkin aku memang bisa tidur nyenyak."

"Hn, ya. Coba saja bilang begitu kalau sudah siang nanti," dengus Nihongou, "Jendela ini menghadap ke timur. Kamu tidak tahu apa itu murka sampai terbangun karena kesilauan matahari setelah semalam begadang."

Hasebe tertawa kecil. Ia menenggak habis tehnya sebelum dingin, berganti sandang dengan piyama hangat yang baru disetrikakan oleh Nihongou. Merangkak ke bawah selimut, mengulet nyaman menikmati empuk kasur. Si sulung menarik korden rapat-rapat, mematikan lampu.

"Tidur yang nyenyak, Hasebe. Tidak usah khawatir bangun telat, aku akan membangunkanmu."

..ooOoo..

Pukul enam pagi pintu kamar Hakata terbuka. Anak termuda Kuroda itu keluar dengan mata sipit dan kuap lebar, rambut pirangnya mengeriting ke mana-mana. Masih ada belek putih di balik kilau kacamatanya, baju tidur tergulung-gulung kusut tak berupa. Nihongou, tidak kembali tidur setelah berbincang dengan Hasebe, menyambut dengan sedap aroma telur goreng dan sosis.

"Selamat pagi, Hakata."

"Mmm, pagi." Digelayuti kantuk bocah itu memang sulit bersikap ramah.

Kehidupan telah mutlak menjalari pembuluh-pembuluh kota, bunyi klakson dan desau kereta menghinggap bersama angin. Televisi menyiarkan berita pagi tentang kebijakan terbaru menteri lingkungan hidup untuk mendekontaminasi area radiasi nuklir, suaranya dikecilkan hingga sekedar bisik agar tidak mengusik Hasebe yang mungkin hanya pulas-pulas ayam. Hakata menghabiskan sarapannya dalam diam, Nihongou membaca lekat-lekat tabel Hasebe, menandai bagian-bagian yang dirasa krusial dengan spidol warna (beberapa deskripsi Hasebe begitu absurd hingga lebih pantas disebut anekdot—seperti suatu malam di tahun ketiga kuliah di mana ia mengajak empat orang yang baru saja dikenalnya untuk menari kabaret, lengkap dengan kostum panggung dan sepatu hak tinggi. Yang benar saja).

Itu adalah pagi yang tenang. Ketenangan asing yang mereka rindukan tanpa disadari karena ia memudar perlahan, seperti kebiasaan yang tidak terasa telah mengakar hingga kau merasa canggung saat berhenti melakukannya. Biasanya Hasebe selalu bergabung dengan mereka, dan jika Hasebe ada suasana meja tak pernah absen kata-kata.

"Hakata, apa rencanamu hari ini?" Akhirnya setelah mereka selesai sarapan Nihongou bertanya. Si bungsu, yang tengah membereskan piring-piring kotor, mengedik singkat.

"Tidak ada. Paling membaca buku, atau main game."

"Tidak main sama Atsushi?"

Sekilas, tapi tidak terlewat dari tangkapan Nihongou, mata Hakata berkilat dalam emosi yang asing. Alisnya berkerut, bibirnya menipis; tapi sebelum Nihongou menemukan reaksi yang tepat Hakata sudah nyengir, mengerutkan hidungnya.

"Tidak. Atsu sedang sibuk."

Kemudian dia meletakkan piring di wastafel dan kembali ke kamar.

TBC