ALLLOOOO lagi!

Maaf deh, nggak bisa sampai 5000 kata... tapi kupercepat chapter 1 ya! Kuucapkan terima kasih kepada Zara Zahra, zhichaloveanime, dwinur. halifah. 9 untuk reviewnya! Untuk para follower da yang memfavoritkan ceritaku. hehehe...

Kupikir rada-rada mellow gimana gitu,,,, Yah, kuharap kalian suka...

Peryataan: KHR bukan miliku, Amano Akira adalah pemiliknya.

Perhatian: OOC, beberapa kesalahan, dan sebagainya

"Bicara."

"Italia."

'Thought'


Chapter 1-Puisi Sang Langit

Tsunayoshi POV

Aku terbangun ketika matahari sudah mulai naik. Jam menunjukkan pukul delapan dan bisa kudengar suara ibuku memasak dari lantai satu. Aku meregangkan tubuhku dan segera berjalan menuju ke kamar mandi, bergosok gigi, mencuci muka, lalu kembali ke kamarku dan memakai seragamku, Namimori Middle School, a.k.a Nami-chu.

Untunglah aku tak bangun kesiangan. Tadi malam aku tidur kemalaman gara-gara mengisi buku puisiku. Entah sejak kapan, menulis puisi dan menulis lagu menjadi kegiatan favoritku, dan itu menenangkanku.

"Selamat pagi, Mama." Aku tersenyum, menyapa satu-satunya orang di rumahku selain diriku. Seorang wanita, lebih tinggi beberapa cm dariku menoleh. Rambutnya pendek berwarna coklat, dan matanya yang juga berwarna coklat menunjukkan kehangatan seorang ibu. Ia tersenyum ke arahku.

"Selamat pagi, Tsu-kun!" Ia menyapa dengan riangnya. Aku segera duduk di meja makan seraya memakan sarapan pagi yang disiapkan ibuku.

Sarapn itu dimulai dengan keheningan, seperti biasa. Aku meneguk susuku dengan pelan sebelum menatap mata ibuku.

"Mama... masih belum ada kabar dari kak Gio?" Tanyaku akhirnya. Ibuku menatapku sebelum menggeleng sambil tersenyum.

"Aku yakin dia baik-baik saja, Tsu-kun. Lebih baik kau segera bersiap dan berangkat sebelum kau terlambat. Ini bekalmu." katanya. Aku tersenyum, mengangguk dan berdiri. Kuambil bekal makan siangku dan kumasukkan ke tasku sebelum akhirnya berjalan menuju ke pintu depan.

"Aku berangkat!" Sahutku sambil menutup pintu.

Kuhembuskan nafasku dengan berat dan menatap rumahku sekali lagi.

Ya, hal seperti itu sudah biasa terjadi. Aku selalu bertanya kepada ibuku tentang kabar Kak Gio, tetapi selalu jawaban yang sama yang kudengar. Aku tahu, bahwa aku bukan anak favorit ibuku, dan kenyataan bahwa ibuku lebih menyayangi kakakku ketimbangku. Aku tahu ibuku selalu menangis sedih karena sejak delapan lalu dengan hilangnya ayahku dan Kak Gio, mereka berdua tak pernah memberi kabar. Ya, tak ada yang bisa kulakukan untuk ibuku.

Anak payah.

Aku kembali menghela nafas dan kembali menatap langit. Kubayangkan jika seandainya aku bisa terbang, aku ingin bebas. Terbang di angkasa dan melihat dunia. Dunia yang luas. Cukup bagus.

Oke, aku mulai alay.

Aku sampai di depan gerbang Nami-chu beberapa saat kemudian. Kutemukan beberapa anggota DC (disciplinary committee) termasuk sang setan, Hibari Kyoya berdiri seraya 'menggigit orang sampai mati' bagi yang melanggar peraturannya.

Syukurlah aku berhasil masuk ke kelas tanpa kehilangan apapun.

Seperti biasa, aku tak menghiraukan pelajaran, bermimpi dan berkhayal sambil menatap keluar jendela. Kupandangi langit sambil meresapi warna birunya. Benar-benar indah.

Sejak dulu aku selalu mengagumi langit. Dia begitu misterius. Luas tak terhingga tapi pada saat yang bersamaan selalu menerimamu. Ketika kau menatapnya kau seakan terhisap ke dalamnya.

Ya, aku suka langit.

"SAWADA!" suara teriakan keras membuatku tersentak dan menolehkan kepadaku ke depan kelas. Nezu-sensei, guru IPA ku sedang menatapku. Dari pandangan matanya aku bisa melihat dia meremehkanku.

"Apa yang kau lakukan? Perhatikan kelas! Dasar! Benar-benar tak diuntung! Kau benar-benar bodoh dan idiot, tak bisa melakukan apapun! Siapa lagi kalau bukan Dame-Tsuna! Kau hanya menjadi-"

'Bla, bla, bla, bicaralah sesukamu, pak tua.' aku mengejek dalam hati. Aku tahu kebenaran dari Nezu. Dia bukan Elite, tak pernah bersekolah di universitas pilihan dan sejak di SMA maupun SMP selalu berada di rangking terbawah. Yah, sayangnya aku terlalu malas untuk membocorkannya. Hal itu bisa menjadi blackmail terbaik kan? hehe.

RIIIING!

Ocehan Nezu terhenti oleh bel makan siang. Aku segera mengambil bekalku dari dalam tas dan berlari dengan sekuat tenaga menuju ke atap, berusaha menghindari bullying sepanjang jalan.

Alhasil, aku kehabisan nafas ketika aku sampai di atap.

'Paling tidak makananku masih ada.'

Aku bersandar pada pagar pembatas seraya memakan makanannku dengan pelan. Langit hari ini untungnya cerah, hanya ada sedikit awan dan matahari bersinar dengan riang. Aku tersenyum seraya menikmati panas matahari mengenai kulitku.

Kata-kata pun terucap dari bibirku.


Matahari adalah bongkahan energi yang tak terbatas

Bagaikan penyemangat dalam kehidupan

Cahaya dalam kegelapan

Dialah sang pemberi keriangan dalam kesedihan

Sang petunjuk dalam kebingungan

Memberikan dukungan dalam keputusasaan

Ia memberikan kehangatan dengan panasnya

menghalau dingin dari dalam hati

menghalau keraguan dan memberikan keyakinan

Ya, sang penguat dan penyembuh,

Dialah Matahari


Aku menutup bekalku dan segera berlari kembali ke kelasku. Tanpa menyadari sepasang mata predator yang mengawasiku.


Bel pulang berbunyi lima menit yang lalu. Ya, harusnya aku sudah pulang, tapi lima murid yang lebih besar dariku menyudutkanku.

"Dame-Tsuna, berikan uangmu." Sahut Osamu, salah satu berandalan kelasku. Aku menghela nafas.

"Aku tak punya apapun, Osamu." Aku menjawab dengan nada tajam. Sebuah sentakan mendorongku dengan keras ke dinding. Aku melotot pada sosok di depanku.

"Jangan, sok, Dame-Tsuna." Osamu mengejek.

Beberapa pukulan, tonjokan dan berakhirlah seperti biasa. Aku berdiri dengan susah payah sambil bertumpu pada tembok di sampingku. Ada beberapa goresan di badanku dan bajuku tak beraturan di mana-mana. Aku menghela nafas.

'Hah, harus beli perban lagi deh.'

Dengan terpincang-pincang aku berjalan menuju ke gerbang sekolahku yang sudah sepi. Langit sudah mulai sore menandakan malam akan segera datang. Awan bergerak dengan bebas melintasi langit. aku kembali tersenyum.

Kata-kata kembali terucap.


Awan adalah kebebasan

Dia kebenaran

Tak ada yang mengekangnya

Tapi sesuatu akan menjadi pengingat akan batasannya

Diluar, dia akan terlihat keras

Tetapi di dalam, kau bisa merasakan kelembutannya

Awan menyukai kesunyian,

Tetapi, dia tak menyukai kesendirian

Dia meminta perhatian tertuju padanya

Dan menyukai segala yang epik

Sang Awan, sang penjaga


Aku tersenyum lega. Mood-ku sudah kembali dan aku bisa pulang tanpa mengkhawatirkan ibuku.

Aku menggenggam erat tasku dan segera berlari menjauh dari sekolah. Sepasang mata mengawasi dari kejauhan, sepasang mata yang melolongkan kata tolong.


Normal POV

Tsuna berjalan menyusuri jalannan dengan cepat. Rintik hujan mulai turun membasahi bumi. Rintiik itu perlahan berubah menjadi butiran air besar. Tsuna berhenti di bawah teras sebuah Toko Ramen yang tutup. Ia menghela nafas dengan tenang dan bersandar pada pintu sambil menungu hujan reda.

Naas, pintu itu tiba-tiba terbuka.

"HIEEE!" suara jeritan terdengar. Tsuna mengelus kepalanya yang membentur lantai dengan cepat. Ia menoleh ke sosok lain yang sudah menunggu di sampingnya. Ia menemukan sesosok pria dengan kacamata. Ia memakai Kimono berwarna hijau dan rambut yang juga berwarna abu-abu.

"A-ano, m-maaf." Tsuna berkata dengan pipi memerah karena malu.

"Berteduh karena hujan anak muda?" Lelaki itu bertanya dengan nada geli. Wajah Tsuna semakin memerah.

"M-maaf." Tsuna berkata lagi seraya ia segera berdiri. Lelaki di depannya hanya tertawa.

"Masuklah jika kau mau. Hujan ini akan bertahan cukup lama." Lelaki itu berkata.

"Ta-tapi..."

"Tak masalah, aku juga sedang bosan. Masuklah, duduklah di salah satu kursi." lelaki itu memaksa. Tsuna kembali menghela nafas, tahu bahwa ucapannya tak digubris.

Ia segera berjalan dan duduk di salah satu kursi. Lalu memerhatikan toko itu dengan lebaih baik.

Toko Ramen itu, hampir sama seperti toko ramen biasanya, hanya saja ada beberapa hiasan aneh yang menggantung yang di dinding. Seperti Tiga lukisan yang menggambarkan tiga benda berbeda. Dua lukisan menggambarkan satu set cincin dengan design yang berbeda terdiri dari enam cincin yang mengelilingi satu cincin. Sedangkan satu lukisan lainnya menggambarkan pacifier orange yang dikelilingi oleh pacifier lainnya dengan berbagai warna. Sebauh tulisan tertera di atas tiap lukisan.

Mare Ring.

Vongola.

Arcobaleno.

"Oh, kau tertarik dengan lukisan itu?" Lelaki itu tiba-tiba sudah berdiri di samping Tsuna sambil membawa dua mangkuk teh. Wajah Tsuna kembali memerah.

"Te-terima kasih."

"Tak masalah. Sudah lama aku tak mempunyai temam minum teh." Ujarnya. Tsuna mengangguk.

"Ah, kenalkan, nama saya Sawada Tsunayoshi. Tapi, panggil saja Tsuna." Tsuna memperkenalkan dirinya.

"Aku Kawahira. Tak perlu seformal itu, Tsunayoshi-kun." Kawahira berkata. Tsuna mengangguk. Ia mengalihkan pandangannya kembali ke lukisan-lukisan itu.

"Kawahira-san, lukisan apa itu?" Tanyanya. Kawahira terdiam beberap saat sebelum akhirnya menjawab.

"Itu? Aku menyebutnya Tri-ni-sette." Tsuna memirikannya kelapanya dengan tanda tanya.

"Tri-ni...sette?"

"Oho, kau mau dengar ceritanya?" Tsuna mengangguk dengan cepat.

"Ya, tolong?"

"Haha, baiklah. Kita mulai dengan sejak zaman dahulu kala." Kawahira berkata. Ia meletakkan cangkir tehnya, menaruh sikunya di meja dan menyangga dagunya dengan tangannya sambil melihat Tsuna dengan pandangan menyelidik.

"Sebelum manusia terlahir, bumi telah ditempati oleh sebuah bangsa yang memiliki umur panjang dan kekuatan yang melebihi kekuatan manusia biasa. Bangsa ini, bertugas menjaga keseimbangan dunia, di mana sebuah batu menjaid pusatnya. Karena kekuatan yang dibutuhkan untuk menjaga batu itu sangat besar, dipecahlah batu itu menjadi tujuh bagian. Setiap bagiaannya akan dijaga oleh seorang terpilih dari bangsa tersebut. Sayangnya, semakin zaman berlalu bangsa itu mulai mengalami kepunahan dan di saat bersamaan manusia mulai lahir, melahirkan era baru bagi bumi. Atas persetujuan antara dua orang terakhir dari bangsa itu, diputuskanlah untuk memecah batu itu menjadi tiga bagian lagi yang kemudian dikenal sebagai tri-ni-sette. Terdiri dari tujuh cincin Mare, tujuh cincin Vongola, dan tujuh Arcobaleno pacifier." Kawahira berhenti untuk mengambil nafas.

"Lalu?" Tsuna bertanya. Penasaran menyelubungi dirinya.

"Tujuh cincin Mare dipegang oleh salah satu yang terakhir, bernama Sephira. Tujuh cincin Vongola diputuskan akan diberikan kepada seorang manusia lelaki bernama Giotto. Sedangkan potongan terakhir, Arcobaleno Pacifier diserahkan kepada salah satu yang terakhir lainnya, yang kemudian dikenal sebagai Checkerface. Kono, siapapun yang berhasil menyatukan seluruh potongannya akan mendapatkan kekuatan yang besar dan tak terkalahkan." Kawahira menyelesaikan ceritanya.

Tsuna mengangguk-angguk mengerti.

'Itu cerita yang bagus. Dan aku suka.'

"Saynganya, orang yang memegang pacifier arcobaleno akan terkutuk." Kawahira berkata. Matanya melirik ke Tsuna. Tsuna mengerutkan alisnya.

"Dikutuk?"

"Ya, satu akan mengalami yang namanya pemendekan hidup dan yang lainnya akan dikutuk menjadi bayi." Kawahira berkata dengan cuek. Ia memperhatikan kilatan orange yang muncul di mata Tsuna. Ia menyeringai.

'Menarik. Kekuatan yang besar ada di tubuh sekecil ini. Dia bisa menjadi calon arcobaleno Langit selanjutnya.'

"Aku tak suka dengan bagian itu." Tsuna berbisik tenang. Kawahira tertawa lepas.

"Kau anak muda yang menarik kau tahu itu?" Ia berkata. Wajah Tsuna memerah karena pujiannya, tak seorangpun pernah memujinya seperti itu.

"Oh, hujan sudah reda."

Tsuna menatap keluar jendela dan benar, hujan sudah reda. Ia segera berdiri.

"Aku harus pulang, Kawahira-san." ujarnya sambil berjalan menuju pintu. Kawahira mengangguk.

"Tunggu, Tsunayoshi." Tsuna menoleh.

Laut memiliki hubungan yang tak terbatas

Kerang melindungi apa yang ada di dalamnya

dan Pelangi yang akan muncul dan kembali menghilang

Tsuna menatap Kawahira dengan bingung.

"Ingatlah puisi itu, mungkin akan berguna." ujarnya. Tsuna menatap Kawahira sebelum akhirnya mengangguk dan berlari pergi


Sasagawa Ryohei seperti biasa melanjutkan latihannya alias belari mengelilngi Namimori dengan berteriak EXTREME. Sayangnya, cuaca tak mendukungnya dengan turunnya hujan di tengah latihannya. Ia memutuskan untuk berteduh di salah satu emperan toko.

Saat itulah matanya menangkap sebuah buku kecil di lantai.

Ia mengambilnya dan memeriksanya. Tak ada nama, hanya buku kecil. Dengan semangat ia membukannya.


Dear Hujan, sahabatku

Kaulah yang memberikan kenyamanan bagi sekelilingmu

Memberikan ketenangan bagi yang membutuhkannya

Memberikan perasaan lega bagi sekelilingmu

Kau bisa menjadi sahabat

Disaat yang bersamaan kau menghargai hubungan

Kadang kau menangis

Kadang juga kau tersenyum

Salah satu hal berharga dari Langit

Hujan yang mencari teman


Pelindung yang sempurna

Menciptakan Ilusi dan mimpi

Tak berbentuk, tak juga bewarna

Tak memiliki hawa, tak juga memiliki tanda

Kau akan muncul lalu menghilang

Misterius, tetapi juga sangat melindungi

Kau tak akan membiarkan musuh mendekati intimu

Kau akan melindunginya dengan segenapmu

Kabut yang selalu merindukan kehangatan sebuah rumah


Persaudaraan antara badai dan petir

Tak sejenis tapi sangat kuat

Saling menyangkal satu sama lain

Tapi tak bisa berdiri tanpa satu sama lain

Mereka merasakan kepahitan dari penolakan

Mereka juga merasakan bagaimana dibenci dan disangkal

Jika badai akan menyerang musuhnya

Maka petir akan menjadi perisai bagi orang yang disayanginya

Itulah sifat mereka, dan Langit menerima

Wahai Badai, wahai petir

Janganlah bersedih

Langit menunggumu


Ryohei terdiam seraya ia terus meresapi kata-kata yang tertulis. Matanya bercahaya menunjukkan bagaimana ia menghormati orang yang menulis puisi itu. Ia membuka beberapa puisi berikutnya dan memutuskan untuk membawa puisi itu.

Ia mendongak dan menyadari bahwa hujan sudah berhenti. Ia meninju air dengan semangat dan berlari untuk melanjutkan latihannya.

Ia berhenti ketika ia melihat seorang anak lelaki yang lebih muda darinya, mempunyai rambut yang melawan gravitasi sedang melihat jalan dengan kebingungan, seperti sedang mencari sesuatu.

"EXTREMEEE!" Ia berteriak dan berhenti tepat di depan anak itu.

"HIEEE!" anak lelaki itu memekik kaget.

"EXTREME! APA YANG KAU CARI DENGAN EXTREME!?" dia berteiak. Anak ellaki itu menggaruk pipinya dengan gugup.

"A-ano, e-eto, aku sedang mencari sebuah buku kecil berisi puisi." ujarnya dengan memandangnya beberapa saat sebelum mengeluarkan buku yang tadi ditemukannya.

"!"

Anak itu langsung mengambil buku itu dari tangan Ryohei dan membuka isinya, lalu bernafas lega.

"Terima kasih, senpai. Ya, ini buku yang aku cari."

"JADI KAU YANG MENULIS PUISI EXTREME INI!?" Ryohei berteriak dengan bersemangat.

"...e-eh?" Ryohei menepuk bahu Tsuna dengan sangat keras, benar-benar keras.

"EXTREME! KAU BENAR-BENAR EXTEME! AKU HARUS MELANJUTKAN LARIKU! BYE!"

Dan itulah pertemuan singkat antara Ryohei dan Tsuna.


"Aku pulang." Tsuna mengucapkan salam.

"Selamat datang, Tsu-kun!" jawaban terdengar dari dalam. Tsuna segera berjalan menuju ke kamarnya, melempar tasnya secara sembarangan dan melemparkan tubuhnya ke kasur yang empuk.

"Tsu-kun! Waktunya makan!" suara ibunya memanggil. Tsuna segera berganti baju. Kaos orange dengan celana jeans oblong setelah itu turun untuk makan malam.

Malam itu, sebelum tidur, Tsuna terdiam selama beberapa saat sebelum akhirnya melihat langit malam.


Bagaikan horizon yang luas dan tak tercapai

Segala misteri dan rahasia yang tak terungkap

Walaupun begitu, menyatukan yang bertentangan

Menabjubkan di siang hari dan mengesankan saat malam hari

Langit, Sang Harmoni

S.T

Cielo


Dan begitulah Tsuna mengakhiri harinya.

[7 Hari sebelum kedatangan Reborn]


Oke, aku harap kau menyukainya...

Ja Mattane!