Min (Kim) Seokjin!GS – lecturer – 39yo

Min Yoongi – Seokjin's husband – 35yo

Kim Namjoon – 4th year college student – 22yo

Jeon Jungkook!GS – 4th year college student – Seokjin's student – 19yo

Kim Taehyung – 4th year college student – Seokjin's student – 21yo

Park Jimin – 4th year college student – Seokjin's student – 21yo

Im Nayeon – 4th year college student – Seokjin's student – 21yo

Jung Hoseok – 4th year college student – Namjoon's bestie – 21yo

All in Korean age

Other casts menyusul


©BTS and Twice member belongs to their parents and agency

©character, plot, story belong to me

Rated: M (underage please go away)


ROUGHEST DESIRE

Chapter 1: That Smile

Wajah mempesona, rambut indah, tubuh tinggi, badan langsing, kulit mulus, otak cemerlang, suara merdu. Paket lengkap itu ada pada Seokjin. Walaupun usianya hampir menginjak kepala-empat, ia masih terlihat seperti agassi berusia dua-puluh-lima-an. Hal inilah yang membuatnya sangat terkenal seantero BigHit Institute.

Matang. Seokjin sangat matang dan harus dipetik sesegera mungkin sebelum layu dan mulai membusuk.

Walaupun Seokjin terlihat sangat sibuk dan aktif dalam berbagai kegiatan institut, sebenarnya ia lebih suka kalau ia terlihat lebih dari sangat sibuk dan lebih dari aktif di mata semua orang di BHI. Ya, ia adalah attention-seeker. Semua perhatian harus selalu tertuju padanya.

Seokjin selalu memperhatikan pandangan orang lain mengenai dirinya, makanya, ia selalu tampil sempurna. Ia tidak perlu 'berusaha' untuk selalu tampil sempurna karena menurutnya ia memang selalu sempurna. Hanya, ya.. Ada, sih, satu hal yang membuat kesempuranannya sedikit tercoreng.

"Permisi. Selamat pagi, Min ssaem", sapa seorang mahasiswi yang sudah masuk ke dalam ruang dosen.

Detik itu juga Seokjin merasa ia takkan pernah menyukai anak yang sedang cengar-cengir tidak jelas di hadapannya itu.

Pertama. Anak itu tidak mengetuk pintu.

Kedua. Anak itu tidak mengucapkan salam. Ya, mengucapkan, sih. Tapi, untuk standar seorang Seokjin, seharusnya anak itu mengetuk pintu dulu, setelah diizinkan masuk baru lah ia diperbolehkan mengucapkan salam. Jadi Seokjin anggap anak itu tidak mengucapkan salam.

Ketiga. Anak itu rambutnya berwarna cokelat tapi tidak terlalu cokelat, dan jika dilihat dari sudut lain, sayup-sayup terlihat highlight merah. Oh, jangan lupakan gelombang keritingnya yang aneh. Bikin mata Seokjin sakit saja. Dan lihat! telinganya ditindik! Ada tiga anting-anting berwarna metalik di telinga kirinya dan dua anting-anting berwarna merah di telinga kanannya.

Keempat. Anak itu pakaiannya ketat sekali, Tuhan! Skinny ripped jeans, kaos v-neck pas badan, wedges 5cm. Seokjin bertanya-tanya dalam hati apakah orangtua anak itu tidak mengajarkan cara berpakaian yang sopan? Setidaknya untuk ke institut? Seokjin bersumpah dalam hati bahwa Yoonjin tidak akan ia biarkan tumbuh menjadi yeoja tak tahu sopan santun seperti anak itu.

Kelima. Oh, haruskah Seokjin memperjelas? Anak itu memanggilnya Min ssaem. Apakah ia tidak tahu bahwa Seokjin tidak suka dipanggil dengan nama marganya?

"Ya, ada perlu apa?", jawab Seokjin dengan wajah datar setelah puas men-judge anak itu.

"Saya mahasiswi baru yang akan melanjutkan S1 di jurusan English Literature, ssaem. Nama saya Jeon Jungkook.", kata gadis bertubuh bongsor di hadapan Seokjin itu lalu membungkuk sopan.

"Oh, jadi kamu. Kenalkan, saya yang akan menjadi wali dosenmu di kelas EL-01 dan kebetulan saya menjabat sebagai ketua jurusan Literature..", kata Seokjin dengan nada yang ia buat seramah mungkin. Berbanding terbalik dengan nada bicaranya sebelum Jungkook memperkenalkan diri. Seokjin tidak mungkin menghancurkan image yang selama ini ia bangun, bukan? "..dan panggil saya Seokjin ssaem saja, ya. Biar lebih akrab." Lanjutnya sambil tersenyum dengan senyuman yang selama ini telah dilatihnya—senyum manipulatif.

Bohong, Seokjin tidak ingin orang-orang di institut memanggil nama marganya karena ingin 'lebih akrab'. Ia hanya ingin menghindar sesaat dari realita bahwa ia adalah istri seorang Min Yoongi, pria kepercayaan keluarga Kim yang dijodohkan dengannya sembilan tahun yang lalu.

Ω

Di kelas EL-01

Jam sudah menunjukkan pukul 10.15. Seharusnya kelas sudah selesai lima-belas menit yang lalu. Akan tetapi Seokjin masih berada di kelas dan membahas segala hal yang diyakini oleh seluruh mahasiswanya tidak ada korelasi apapun dengan mata kuliah Literary Criticism.

"Iya, memang anak jaman sekarang sudah seperti zombie. Bangun tidur lihat gadget, ke kamar mandi bawa gadget, lagi makan pegang gadget, dan seterusnya kemana-mana pasti bawa gadget.", kata Seokjin sambil menggerakkan kedua ibu jari tangannya seakan-akan sedang mengetik di smartphone.

Beberapa mahasiswa Seokjin sebenarnya sudah terang-terangan menunjukkan wajah lelah yang mengindikasikan mereka sudah tidak nyaman berada di kelas itu, karena seharusnya mereka sudah bisa beristirahat di kafetaria atau taman institut. Tapi, entah sebenarnya mengerti tapi pura-pura tidak, atau benar-benar tidak mengerti, Seokjin terus saja melanjutkan ceramahnya tentang gadget.

Akhirnya, setelah cacing di perutnya tidak dapat lagi diajak kompromi, namja dengan surai merah stroberi bernama Taehyung memberanikan diri untuk menginterupsi Seokjin. "Ssaem, maaf. Tapi sekarang sudah pukul 10.20 dan kami ada kelas lagi pukul 12.00. Kalau diizinkan kami ingin meninggalkan kelas sekarang."

Seokjin mengecek arlojinya dan berkata, "Ah, kau benar Tae-ah. Kenapa kalian tidak ada yang bilang padaku kalau waktunya sudah habis? Aku jadi cuap-cuap selama 20 menit dan mengganggu waktu istirahat kalian yang berharga, kan.", sambil menunjukkan wajah sedih.

Ini. Jurus seorang Seokjin. Buatlah orang lain merasa bersalah, tidak peduli saat itu kau sedang dalam posisi benar ataupun salah.

"Maafkan kami, ya, ssaem. Tapi cacing diperutku sudah berdemo minta diberi makan, hehe, dan kurasa aku juga mendengar perut Jimin sudah ber-orchestra sejak tadi.", sahut Taehyung sambil menunjukkan cengiran kotak andalannya dan mengangkat tangan kanannya untuk mengelus-elus perutnya. Sedangkan anak yang namanya ikut-ikutan diseret tadi hanya melontarkan pandangan sebal pada Taehyung.

"Baiklah, pelajaran hari ini kita akhiri di sini, ya, anak-anak. Jangan lupa kerjakan tugas kalian... essay sepuluh halaman dari Vanity Fair karya Charles Dickens, menggunakan teori apa saja yang telah kita bahas pada semester ini. Oh, ya, deadlinenya minggu depan, okay?", kata Seokjin lalu berbalik untuk membereskan perlengkapan mengajarnya.

"Baik, terimakasih, ssaem.", seru seisi kelas sambil membungkuk.

Baru saja Seokjin akan merapikan kabel projector, beberapa mahasiswa sudah bangkit dari bangku untuk membantunya, jadi ia tidak perlu melakukan hal merepotkan seperti menarik-narik kabel. Bahkan sudah ada yang membawakan tas, buku, dan laptop Seokjin tanpa diminta. Memang kuasa seorang Seokjin sangat luar biasa.

Ya, Seokjin suka sekali diperlakukan layaknya seorang putri—ia menyangkal kalau harus mengaku bahwa ia seorang control-freak. Ia hanya merasa orang-orang sudah sewajarnya diluruskan olehnya dan sudah seharusnya orang-orang menjunjung tinggi dirinya yang merupakan pewaris tunggal BHI.

Ω

Di kafetaria BHI

"Huf.. Akhirnya keluar juga kita dari penjara itu.", sahut seorang namja bersurai hitam itu dengan agak keras yang mengundang sebuah sentuhan manis di kepalanya. Plak!

"Shhh, pelankan suaramu, Park pabo!", bisik namja pemilik surai merah stroberi. "Kita memang tidak tahu tepatnya, tapi 'telinga' dia ada di mana-mana. Lebih baik berhati-hati."

"Ah, kau benar. Mian, Tae-tae.. Habisnya, aku kesal sekali. Kamu tahu kan aku tidak sempat sarapan karena lupa mem-print tugas yang harus dikumpulkan sebelum belajar. Dan sekarang sudah masuk brunch, bukan breakfast lagi.", jawab Jimin.

"Iya, iya, aku juga kesal. Tapi mau bagaimana lagi? Dia kan selalu begitu..", Taehyung melanjutkan, "Btw, aku pernah tanya temanku yang di jurusan teknik, mereka juga sering keluar kelas melebihi waktu yang seharusnya. Tapi kau tahu?"

"Apa? Apa?", tanya Jimin tak sabar. Taehyung mendekatkan bibirnya ke telinga Jimin.

"Mereka menikmatinya. Me-nik-ma-ti-nya!", kata Taehyung sambil memegang sisi meja dan menggoyangnya frustasi, "Aku tidak mengerti, Chim. Apa mereka tersetrum saat sedang praktek merakit komputer sehingga otak mereka konslet? Apanya yang nikmat dari menerima siraman rohani dadakan seperti itu coba?", sahut Taehyung kesal namun masih dengan berbisik.

"Mungkin mereka jarang menemukan dosen perempuan, Tae. Kau tahu, kan, dosen teknik laki-laki semua, sudah tua-tua pula. Dan di kelas mereka 95% isinya laki-laki. Aku yakin mereka seperti menemukan oase di padang pasir saat bertemu dengannya. Aku juga yakin mereka malah ingin terus mendengarkan suaranya walaupun kelas telah usai.", kata Jimin penuh analisis.

Ω

Di meja lain di kafetaria

"Jungkook-ssi, kamu mau pesan apa? Biar sekalian.", tanya yeoja itu kepada yeoja bergigi kelinci di hadapannya.

"Aku mau kimbap dan es teh hijau. Dan panggil aku Jungkook saja, atau Kookie, biar lebih akrab. Aku juga akan memanggilmu Nayeon saja, otte?", tanya Jungkook kepada yeoja itu yang ternyata bergigi kelinci juga.

Tidak seperti perkataan Seokjin tadi pagi kepadanya, Jungkook tulus saat mengatakan 'biar lebih akrab' pada Nayeon. Ia memang ingin berteman dengan Nayeon.

"Call. 'Kookie' sepertinya lebih manis, hehe. Yasudah, tunggu di sini, ya, Kookie. Aku pesan dulu.", jawab Nayeon.

"Ne.", jawab Jungkook ceria.

Setelah menunggu sekitar lima-belas menit pesanan duo gigi kelinci itu pun datang. "Selamat makan!", sahut mereka bersamaan.

Jungkook merupakan mahasiswi ekstensi dari Daegu Language University—DLU. Ia sudah menamatkan D3-nya, tapi ia memilih untuk melanjutkan studinya ke jenjang S1 di Seoul, dan pihak universitasnya merekomendasikan BigHit Institute. Tidak seperti universitasnya yang dulu, mahasiswa jurusan English Literature BHI cukup banyak. Setiap kelas rata-rata berisi tiga-puluh orang, dan terdapat enam kelas setiap angkatan. Sedangkan dulu di DLU hanya ada dua kelas setiap angkatan, itu pun hanya berisi dua-puluh-an orang per kelas. Jungkook yang merasa culture shock saat masuk kelas EL-01 dapat bernapas lega saat seorang yeoja cantik menawarkan pada Jungkook untuk duduk di sebelahnya. Walaupun hanya berbasa-basi sebentar, mereka merasa cocok satu sama lain. Obrolan mereka pun berlanjut ketika jam istirahat di kafetaria.

"Nayeon-ah, apa dosen kita selalu begitu?", tanya Jungkook sambil menyeruput es teh hijaunya.

"Begitu 'gimana, Kookie?", Nayeon bertanya balik sambil mengunyah ramyeon.

"Hm.. Begitulah, tebar senyum, senang ngobrol dengan mahasiswa, dan.. sedikit lupa waktu?", jawab Jungkook agak ragu dengan statement-statement -nya.

Nayeon hampir tersedak ramyeonnya karena terkejut dan ingin tertawa di saat yang bersamaan. "Hahaha, bahkan kau yang newcommer saja langsung sadar. Aku heran mengapa makhluk-makhluk lain di sini tak dapat menyadarinya.", kata Nayeon sambil menggelengkan kepalanya pelan.

"Well.. Aku suka meng-observe orang-orang dilingkunganku, dan hasil observasiku terhadap dosen itu adalah: aku rasa dia sedang berpura-pura."

"Wow, kau jeli sekali, Kookie-ah. Aku, ah, tidak. Kami, seluruh mahasiwa kelas EL-01 pun merasakan hal yang sama.", jawab Nayeon antusias.

"Hehe," Jungkook terkekeh lalu melanjutkan, "Aku sadar karena senyumannya tadi pagi sangat aneh."

Nayeon menggerakkan alisnya ke atas, tanda meminta penjelasan lebih lanjut.

"Tadi pagi, saat pertama kali aku menemuinya di ruang dosen, dia terlihat sangat terganggu denganku. Mungkin dia pikir 'Siapa nih anak nyeleneh datang tanpa permisi'. Dia menatapku dari atas ke bawah, bertanya dengan wajah datar. Lalu saat aku mengatakan bahwa aku mahasiswi ekstensi, raut wajahnya langsung berubah menjadi ramah. Apalagi saat aku bilang aku akan berada di kelas EL-01, dia.. menunjukkan senyuman ini.", Jungkook mempraktekkan senyuman Seokjin tadi pagi kepadanya.

"Ah, senyuman itu! Ya, begitulah dia. Sangat suka memanipulasi orang. Tapi, lebih baik kau simpan untuk dirimu sendiri saja pendapatmu itu, Kookie-ah. Karena orang-orang di sini tidak menyadari, malah mungkin tidak tertarik untuk menyadari, bahwa Seokjin itu manipulator. Menurut mereka, Seokjin adalah goddess-nya BHI. And that's it, itu saja."

"Wow, Nayeon-ah, kau bahkan tak menyebutnya ssaem."

Nayeon menyeringai, "Ups, kebiasaan.", lalu ia melanjutkan, "Ini top secret loh, ya. EL-01 tak ada yang suka padanya. Tak suka loh, bukan benci."

Jungkook mengangguk-angguk saja. Nampaknya ia sudah cukup mengerti akan kondisi dosennya. Lalu, saat memalingkan wajahnya ke arah kanan, manik cokelat Jungkook menangkap sosok Seokjin yang sedang berjalan melintasi kafetaria. "Oh, panjang umur.", kata Jungkook sambil memajukan dagu ke arah Seokjin. Nayeon pun menangkap maksud Jungkook dan ber-hm-ria. "Mau ke mana, ya, dia?", tanyanya.

"Melakukan tugasnya sebagai dosen idola BHI, mungkin.", jawab Nayeon tak peduli.

Ω

TBC


Update chapter 1! Terimakasih yang sudah review. Seneng, deh, baru upload prologue udah ada yg review lagi :'3 /cium satu-satu/

Di chapter ini aku masih fokus ke karakter Seokjin, ya. Aku nambahin satu cast, Twice Nayeon! Haha. Aku suka banget sama dia soalnya imut banget. Kayaknya kalo Kookie beneran cewek pasti cocok sahabatan sama Nayeon, jadilah aku bikin mereka berinteraksi di sini. Haha

Buat yang nungguin rated M nya mungkin harus bersabar karena aku belum berniat menuliskannya di chapter-chapter awal, hahaha. /kabur/

Hope u enjoy it. /peluk tium/