Chapter 2

.

.

.

"Jinyoung? Apa yang kau lakukan disini?" tanya Mark sambil berjalan mendekati sofa di depan ruang Dokter Kyuhyun

Jinyoung diam seribu bahasa meski isi kepalanya berteriak kencang, 'KENAPA DIA BISA ADA DISINI!' tapi Jinyoung mengatupkan bibir rapat rapat sambil menghela napas berkali kali

Ingat Jinyoung, kau harus tenang—tidak boleh stress, jangan pikirkan si kurang-ajar-Mark-Tuan ada di depanmu sekarang.

"Hei? Kau baik baik saja?" Mark yang tidak bisa membaca raut wajah putus asa Jinyoung malah mengibaskan tangannya di depan Jinyoung,

Pikiran Jinyoung tersentak, ia mengerjap beberapa kali sebelum menatap lebih detail wajah Mark yang berada di depannya saat ini

"Kau melamun, bagaimana kabarmu?" Mark tersenyum lebar—seolah olah mereka adalah teman lama, seolah olah tidak pernah terjadi apa apa, seolah olah… hanya Jinyoung yang merasa gugup karena mereka kembali bertemu

TIDAK! AKU TIDAK BAIK BAIK SAJA! AKU MENGANDUNG ANAKMU BODOH! Batin Jinyoung sekali lagi berteriak kencang tapi seperti di depan Ibunya, Jinyoung juga tidak bisa mengungkapkan perasaannya di depan Mark

Apakah Mark tahu jika Jinyoung sampai diusir dari rumah karena dikira menghamili anak orang? Dan apakah Mark juga tahu bagaimana lelahnya Jinyoung harus menghadapi 'morning sickness' setiap pagi? Tenaganya terkuras hanya untuk muntah muntah sehingga tidak memungkinkan Jinyoung sekedar pergi ke kampus untuk melanjutkan skripsinya

Apakah Mark tahu tentang itu semua?

Jawabannya tentu, Tidak

Mark tidak tahu. Hidupnya tidak terganggu sama sekali dan pertemuan mereka sekarang mungkin hanya sekedar kebetulan

Memikirkan itu membuat Jinyoung tiba tiba merasa marah. Ia harus menanggung semuanya seorang diri sementara Mark? Mungkin dia masih bisa tidur nyenyak setiap hari

"Dasar pria kurang ajar" desis Jinyoung disudut mulutnya

"Hmm? Apa katamu?" tubuh Mark yang condong ke depan karena ingin mendengar lebih dekat membuat Jinyoung melihat lebih jelas wajah yang sekarang ia benci setengah mati

Lalu tanpa bisa ditahan, Jinyoung melayangkan tangan kanannya ke wajah Mark

PLAK

Tamparan Jinyoung nyaris membuat Mark tumbang, pria tampan ini terhuyung berpegang pada tembok rumah sakit sambil menatap Jinyoung dengan kedua matanya yang terbelalak lebar

"Apa yang—"

"Kau pantas mendapatkannya!" sela Jinyoung bernada menantang

"Mwo? Kenapa aku berhak mendapatkannya?! Apa salahku padamu Jinyoung!" balas Mark—amarahnya mulai mengambil alih, ia berdiri tegap membalas tatapan sengit Jinyoung

"Aku…" Jinyoung tidak menyelesaikan kalimatnya, perkataan menggantung di ujung bibirnya dan matanya mulai menunjukkan rasa putus asa

Bukannya ia tidak mau menuntut pertanggungjawaban dari Mark atas bayi yang dikandungnya, Jinyoung tahu jika ia bicara jujur, mungkin—masih kemungkinan, Mark bersedia bertanggung jawab

Tapi apakah Jinyoung mau anaknya berada dalam situasi dimana Ayah dan Ibunya sesama namja? Atau kalau anaknya menerima, apakah ia akan tumbuh dalam hubungan kaku Ayah dan Ibunya, karena sekarang—Jinyoung yakin seratus persen ia tidak ada perasaan apapun terhadap Mark yang bebas meniduri siapapun selagi dia ingin

"Kau mengambil kesempatan waktu kita berkencan" Jinyoung memelankan suaranya tapi tatapan marahnya tidak berhenti mengintimidasi Mark, "Kau tahu aku virgin, dan kau yang sedang horny mengambil kesempatan! Dasar pria kurang ajar!"

Mark tertawa sinis sebelum membalas, "Kau menyukainya Jinyoung" olok Mark, "Kalau aku merekam suara desahanmu waktu itu, kau akan tahu siapa yang memintaku melanjutkan terus menerus" sambungnya tanpa rasa malu, meninggalkan Jinyoung yang diam—tidak berdaya, wajah marah Jinyoung mengendur, dan dalam sekejap, Jinyoung merasa bersalah

Ia juga memegang andil kenapa ia bisa hamil sekarang

Tanpa bisa dikontrol, air mata mulai turun di wajah Jinyoung

"Hey? Kau menangis? Ya ya! Kenapa kau malah menangis?" raung Mark menatap tak percaya Jinyoung yang mulai basah penuh air mata

"Aku… hiks…" Tangis Jinyoung menjadi jadi, ia mengusap air matanya berulang kali. Jinyoung merasa malu harus menangis di depan Mark, sifat sensitifnya semenjak hamil membuat Jinyoung tidak bisa menahan diri

"Hei, oke, aku minta maaf dengan kejadian malam itu—jangan menangis, kau sudah besar Park Jinyoung" kata Mark setengah mengejek setengah kasihan

"Memang – hiks – ini – hiks – mauku?" ujar Jinyoung di sela isak tangisnya

Mark menghela napas panjang, ia tidak percaya bertemu dengan pria yang pernah berkencan dengannya sebulan lalu dalam keadaan menangis

"Aigo kita hanya tidur sekali, tapi kau menangis seolah aku sudah menghamilimu" komentar Mark sambil merogoh saku celanannya, ia tidak melihat tatapan melotot Jinyoung dari depan

Aku memang hamil bodoh!

"Ini" Ujung mata Jinyoung menangkap tangan Mark yang mengulurkan sapu tangan putih yang pada ujungnya terukir nama Mark Tuan berwarna emas

"Usap air matamu" kata Mark lagi

Jinyoung buru buru menghapus kasar air matanya dengan kedua tangan, "Tidak usah" katanya dingin

Mata Mark terpejam—berusaha menahan emosi, "Ya, aku masih baik padamu Jinyoung—aku bahkan pertama kali menyapamu tapi kau malah menamparku, menangis di depanku lalu sok bersikap kasar, kau benar benar—"

KREK

"Jinyoung-shi ini buku—" Sebelum Dokter Kyuhyun yang keluar, bicara lebih lanjut, Jinyoung buru buru meraih buku sakunya dari tangan Kyuhyun lalu menyembunyikannya ke belakang kantung celana

"Kenapa—ah" Kyuhyun langsung mengerti begitu melihat sosok Mark yang menatap ingin tahu ke arahnya dan Jinyoung, "Kau lagi, sudah kubilang Mark—aku tidak mau memaksa para pasienku mencicipi sample susu dari perusahaanmu, lebih baik kau bawa pergi nampan dari ruanganku" Kyuhyun menolehkan kepala ke dalam ruangan

Mark meringis kecil, "Kau sesekali menolongku hyung, hanya satu gelas kecil—itu tidak akan meracuni mereka bukan"

"Tapi aku tidak mau" tukas Kyuhyun sambil melipat kedua tangan di dada, "Para calon Ibu akan mengira aku yang merekomendasikan susu itu pada mereka"

Sekarang Jinyoung yang gantian menatap Kyuhyun dan Mark bergantian, "Hyung?" ucap Jinyoung ngeri sambil menunjuk ke arah Dokter Cho

Kyuhyun yang nyaris lupa Jinyoung masih berada di sana, langsung kembali bersikap profesional, "Maaf dia sepupuku, Mark Tuan, dia juga yang menaruh sample susu itu di dalam" jelasnya

"Kami sudah saling mengenal" Mark memberitahu Kyuhyun

"Eh? Kalian saling kenal?" Kyuhyun tampak terkejut sebelum tersenyum lebar, "Wah dunia ini sempit sekali"

Jinyoung balik menatap Kyuhyun lebih jelas, kedua matanya memandang nanar dokter yang baru saja memeriksa kandungannya

Jika boleh dihubungkan berarti… Kyuhyun bisa dikatakan adalah paman dari bayi yang dikandung Jinyoung

Omo!

Sontak rasa mual itu datang lagi membuat Jinyoung refleks menutup mulutnya sementara tangan kirinya memegang erat ujung sofa

"Kau kenapa Jinyoung-shi?" tanya Kyuhyun khawatir

"Wa—stafel?" bisik Jinyoung tidak kuat lagi

"Didalam ruanganku" jawab Kyuhyun sambil membuka lebar lebar ruangannya, Jinyoung nyaris berlari ke pojok kamar, di balik bilik tempat tidur

"HOEKKKKK" Dimuntahkannya seluruh isi perut hingga kembali kepala Jinyoung terasa pusing, "Hoeekk" Jinyoung menyerah, ia membiarkan rasa mual itu mengambil alih tubuhnya dan mendorong Jinyoung untuk terus muntah hingga tak bersisa

Dari luar, Mark menatap ke dalam, berdiri di dekat Kyuhyun sambil berkata, "Dia kenapa? Apakah sakitnya parah?" selidik Mark bingung

"Dia—" Kyuhyun nyaris mengatakan kata hamil tapi tak lama ia menggeleng—kode etiknya melarang untuk membocorkan masalah pasien, "Iya, dia sakit" jawabnya singkat

Mark masih merasa tidak puas dengan jawaban Kyuhyun, "Asam lambung?" tebaknya

"Lebih parah dari itu—tapi tidak membahayakan" koreksi Kyuhyun melihat tatapan shock di wajah Mark, "Apa kalian akrab?" katanya mengalihkan pembicaraan

Mark mengedikkan bahu—suara Jinyoung yang muntah di balik bilik masih terus terdengar, "Kami hanya teman biasa"

"Oh"

Kedua namja ini masih menunggu Jinyoung hingga 10 menit, tapi suara putus asa Jinyoung yang terus menerus muntah terdengar, hingga membuat Mark menatap tak sabar ke arah Kyuhyun

"Kau tidak bisa melakukan sesuatu? Dia sudah lebih dari 10 menit di dalam sana!"

Kyuhyun menggeleng pelan, "Aku sudah menawarkan obat anti mual tapi Jinyoung menolaknya lagipula tidak baik sedang ha—maksudku, dia tidak boleh minum obat sembarangan"

"Tapi—aishhh" Mark yang kasihan segera menyusul Jinyoung ke balik tirai, Jinyoung yang sampai berlutut di depan wastafel, terkejut melihat Mark mendekatinya

Mark makin iba mendapati wajah Jinyoung yang pucat, segera menariknya berdiri, "Sudah lebih baik?" tanyanya sambil memegang sikut Jinyoung

Jinyoung menggeleng pelan, tenaganya benar benar abis tapi rasa mual itu tidak hilang juga

"Oh God" desis Jinyoung sebelum kembali merunduk lalu muntah untuk kesekian kali sementara Mark bantu memegangi Jinyoung dari samping

"Muntahkan semua" kata Mark dengan sebelah tangan lagi mengurut leher Jinyoung membuat rasa mual Jinyoung makin menguat

"Hoeeekk" Setelah sedikit lega, Jinyoung kembali menegakkan diri, "Air… aku ingin air" bisiknya pada Mark

"Kau haus? Sebentar" Mark melepaskan pelan pelan tangan Jinyoung lalu mencuatkan kepala sedikit ke balik tirai, "Hyung kau ada air mineral?" tanyanya pada Kyuhyun yang sedang sibuk menulis sesuatu

"Tidak ada—tapi akan kucarikan ke ruangan sebelah, sebentar" Dengan gesit, Kyuhyun keluar ruangan sementara Mark kembali berdiri di samping Jinyoung yang sedang menghidupkan keran untuk membersihkan mulutnya

"Air…" pinta Jinyoung sekali lagi

"Hyungku—Dokter Cho sedang mencarikan, tunggu sebentar"

"Aku mau sekarang!" tuntut Jinyoung berani memarahi Mark

"Ya!"

"Hoeeeeek" Mendengar Jinyoung muntah lagi, Mark jadi tidak jadi membentak Jinyoung, ia malah mengacak rambutnya yang tertata rapi—merasa serba salah

"Air Mark Tuan bodoh! Hoeekkkk"

"Bahkan kau masih bisa menghinaku saat saat seperti ini" Mark berusaha menahan emosi, tapi ia tetap bergerak keluar tirai—berharap Kyuhyun sudah kembali

"Aisshh dia kemana!" Tiba tiba kedua mata Mark tertuju pada belasan gelas kecil dalam nampan, sample susu Ibu hamil dari perusahaannya di atas meja kerja Dokter Cho

"Tidak ada salahnya" gumam Mark tidak punya pilihan lain, ia mengambil satu gelas kecil lalu memberikannya pada Jinyoung yang langsung minum tanpa pikir panjang

GLEK

Eh? Jinyoung diam sejenak sambil dengan gerakan lamban menatap gelas kecil pemberian Mark, "Ini bukan air putih" gumamnya sambil menatap Mark yang meringis kecil

"Sample susu dari perusahanku—tapi tidak berbahaya, aku berani jamin!" tambah Mark takut dituntut oleh Jinyoung

"Bukan itu" sangkal Jinyoung kembali melayangkan pandangan kejauhan—merasakan tubuhnya menjadi rileks dan rasa mual yang mendadak hilang

"Aku tidak mual lagi" bisik Jinyoung masih memandang takjub gelas di tangannya

"Benarkah?" Mark menatap Jinyoung berbinar binar, "Memang susu kami diformulasikan untuk mengatasi ganguan ditrisemester pertama pada Ibu hamil, termasuk mun—" ucapan ala marketing dari bibir Mark terhenti, ia malah balik menatap Jinyoung terkejut

"Jinyoung" panggil Mark

"Hmm?"

"Kau tidak mungkin hamil kan?" ujar Mark nyaris tertawa

DEG

"Tidak" Jinyoung berteriak kencang sambil menggeleng kuat, "Ti—tidak mu—mungkin namja bisa hamil!" sanggahnya mendadak gugup

"Yeah aku juga hanya bercanda, mana mungkin namja bisa hamil" Mark mendelik jenaka ke arah Jinyoung yang balik menatapnya datar

"Aigoo… kalau membunuh tidak berdosa, aku ingin sekali membunuh pria ini" gumam Jinyoung sambil menggerakkan punggung tangannya mengusap ujung bibir

Mark yang melihat itu kembali menggelengkan kepala, "Kau jorok sekali, pakai sapu tanganku untuk membersihkan bibirmu sehabis muntah, ini" Ia mengulurkan sekali lagi ke depan Jinyoung, "Jangan ditolak" kata Mark bisa membaca raut wajah enggan Jinyoung

"Baik, tapi jangan harap aku akan mengembalikannya" malas berdebat, Jinyoung merampas sapu tangan dari tangan Mark yang menaikkan sebelah alis mendengar jawaban Jinyoung, "Aku sudah minta maaf Jinyoung"

"Tidak cukup" balas Jinyoung dengan kepala tertunduk, "Kau minta maaf seribu kali juga tidak cukup, oleh karena itu—sebaiknya kita tidak bertemu lagi, selamat siang Mark-shi" Jinyoung pamit, berlalu begitu saja meninggalkan ruangan Dokter Cho dan Mark yang menatap Jinyoung secara aneh

"Dasar mahasiswa" keluh Mark menggelengkan kepala tapi tak lama, mendadak ide muncul di dalam kepalanya—ia berbalik memandang pintu ruangan yang terbuka lebar saat kepergian Jinyoung

"Shit! Aku harus kembali ke kantor!"

.

.

.

.

"Bambam kumpulkan Jonghyun, Minho, Taemin dan Onew, kita rapat sekarang" perintah Mark begitu dia kembali ke kantor, alhasil Bambam yang sedang makan mie ramyun di mejanya sampai tersedak

"Uhuk, baik hyung" Bambam yang gesit segera menelepon beberapa nomor ekstension lalu berbicara cepat, setelah mendapat jawaban, Bambam menutup telepon—menatap ingin tahu pada Mark yang sibuk mengetik sesuatu di Macbooknya

"Uhmm" Bambam berjalan grogi—takut ganggu, "Terjadi sesuatu hyung?"

"Iya, sesuatu yang besar" jawab Mark sambil tersenyum lebar, jemarinya semakin cepat mengetik dan tidak meninggalkan layar laptop sama sekali, "Aku punya ide untuk iklan kita, pasti hasilnya akan sangat bagus"

.

.

.

Setelah keempat karyawan marketing dalam tim Mark berkumpul, tanpa basa basi Mark memutar layar proyektor lalu menceritakan terperinci mengenai ide iklan yang akan dia majukan ke rapat direksi

Baik Jonghyun, Onew, Minho maupun Taemin terkagum kagum dengan ide Mark, mereka bahkan sampai bertepuk tangan setelah Mark selesai presentasi

"Park Jinyoung-shi akan suka dengan idemu, hyung" puji Taemin yang membuat rasa percaya diri Mark melambung

"Ya, kita tinggal mematangkan rencana dengan memperbaiki latar belakang cerita, bagaimana jangan di rumah sakit, akan ganjil kenapa ada tiba tiba sample susu kita, ceritamu sungguh kebetulan yang menakjubkan hyung" Jonghyun geleng geleng kepala, masih tak percaya ide iklan mereka malah bisa diambil dari kejadian sehari hari

"Boleh boleh saja" terima Mark dengan tangan terbuka, "Kalian punya ide lain? Kita rundingkan bersama sama"

Mereka kembali serius mengolah ide cerita iklan sementara Bambam siap sedia mencatat notulen rapat sebagai bahan laporan

.

.

.

Mark mengerahkan seluruh tenaga dan pikiran untuk presentasi senin ini. Beberapa kali jemarinya tergenggam berusaha mencari rasa nyaman ketika pintu ruang rapat mulai terbuka lebar

Mark maju dengan mantap, membuka laptop sambil memulai rapat seperti biasa

.

.

.

.

Di apartement Yugyeom

.

.

Hari itu baik Yugyeom dan Jinyoung malas ke kampus. Yugyeom yang tidak tega menyuruh Jinyoung beres beres kamar, akhirnya mengalah—ia menghabiskan pagi hari dengan menjemur bantal, membersihkan sampah dapur dan terakhir memasak untuk dirinya dan Jinyoung

"Hyung, Fei mencarimu loh" ucap Yugyeom dari dapur

Jinyoung yang sedang duduk tenang sambil ngemil keripik kentang berkata dengan santainya, "Biarkan saja siapa suruh dia menolak judul skripsiku terus"

Tawa Yugyeom membahana ke seluruh ruangan, "Habis kau sudah hampir seminggu tidak ke kampus, kau yakin bisa lulus tahun ini?" Setelah memberesihkan seluruh piring, Yugyeom ikut bergabung dengan Jinyoung duduk di sofa sambil menonton TV

"Entahlah Yugyeom aku juga tidak tahu" Jinyoung menghela napas, "Bagaimana aku mau ke kampus kalau setiap pagi aku masih muntah muntah" Ia berpaling menghadap Yugyeom, "Bisa jadi gosip satu kampus nanti"

"Gara gara bayimu ya hyung? Aish menyusahkan saja" Diambilnya keripik dalam pangkuan Jinyoung sementara mereka menatap layar TV dengan bosan, "Kau yakin tidak mau mencari si Mark itu, hyung?"

DEG

Tubuh Jinyoung mendadak kaku sambil mengunyah keripik kentang lebih cepat, ia belum menceritakan pada Yugyeom tentang pertemuannya dengan Mark saat ke rumah sakit

"Tidak penting" jawab Jinyoung masa bodoh, "Aku tidak mau anakku punya ayah playboy seperti dia"

Untungnya Yugyeom tidak curiga, ia mengangguk setuju dengan pendapat Jinyoung, "Benar juga sih Hyung, lebih baik kau jauh jauh dengan orang yang bernama Mark" ujarnya seraya meraih remot dari sebelah Jinyoung untuk mengganti channel

KLIK

'Perkenalkan susu baru untuk Ibu hamil—' dalam layar TV, tampak dalam sebuah supermaket, seorang SPG berdiri di samping booth produk susu bernama 'Moonlight' sambil memperkenalkan produk yang ia tawarkan pada pengunjung supermarket

"Iklan baru ya?" gumam Jinyoung sambil menyeringitkan kening—agak familiar dengan produk susu yang diiklankan

"Mungkin" jawab Yugyeom

"Boleh dicoba samplenya bu?" tawar SPG itu pada ibu hamil yang kebetulan lewat bersama suaminya

'Tidak usah' tolak Ibu itu berlalu begitu saja, ia menggandeng suaminya melewati sang SPG sebelum mendadak

'Huk' Sang Ibu menutup mulutnya rapat rapat

'Yeobo kau tidak apa apa?' tanya sang suami langsung panik

'Was—tafel' pinta sang istri

SPG yang tidak jauh berdiri dari tempat sang istri, bergerak mendekat, 'Lurus saja ke depan—dia menunjuk ke arah kamar mandi supermarket

Sang istri berlari cepat sementara suaminya kebingungan sendiri, dari dalam toilet terdengar istrinya sedang muntah hebat

"Adegan ini seperti tidak asing" Jinyoung memiringkan kepala—berusaha mengingat ingat

Mendengar istrinya terus menerus mual, sang suami akhirnya menyusul dan memijat leher istrinya

'A—ir'

'Eh?'

'Ambilkan air bodoh!'

"Uhuk uhuk" Spontan Jinyoung batuk batuk saat mendengar kalimat suami istri dalam iklan, bukankah kejadian ini sama persis seperti yang terjadi di rumah sakit seminggu yang lalu?!

"Tapi bagaimana bisa-?" bisik Jinyoung masih terkejut setengah mati

"Kau bicara apa sih hyung?" sela Yugyeom saat melirik Jinyoung di sebelahnya tiba tiba bicara sendiri, "Kau harus lihat iklan ini hyung, lucu!" jemari Yugyeom menunjuk ke depan dimana sang istri yang tidak sabaran mulai menjambak rambut suaminya

"Ya! Aku tidak menjambaknya kemarin!" protes Jinyoung tiba tiba

"Kenapa kau yang malah ribut" Yugyeom menggelengkan kepala, sedang hamil—itu kesimpulan yang diambil Yugyeom setiap kali tingkah aneh Jinyoung keluar

Jinyoung memajukan bibirnya hendak membantah ucapan Yugyeom saat ia ingat jika Yugyeom belum tahu ceritanya bertemu dengan Mark kemarin

Di layar TV

Sang suami yang kelabakan menghambur keluar toilet lalu matanya menelusuri rak rak penuh kaleng susu dimana mana

'Ada yang bisa saya bantu?' tawar sang SPG ikut simpat

'Air? Kau punya air?'

'Kalau air mineral saya harus minta—'

Sang suami yang panik malah menangkap gelas kecil berisi sample susu 'Moonlight' lalu tanpa pikir panjang berlari membawa gelas itu ke dalam toilet, 'Yeobo aku datang'

"Aku akan membunuh Mark Tuan dimanapun dia berada" kutuk Jinyoung sambil membenamkan wajahnya yang malu setengah mati ke dalam bantal sofa

Wajah sang istri tampak pucat saat suaminya datang membawa segelas sample susu dari booth SPG diluar namun ketika ia meminum susu dari gelas itu, wajahnya berubah lega, 'Rasa mualku langsung hilang' kata istrinya menatap lembut ke arah sang suami

"Aku tidak menatapnya lembut!" protes Jinyoung lagi yang membuat Yugyeom asyik nonton jadi terganggu

"Hyung aku tahu kau sedang hamil, tapi dia bukan dirimu"

Jinyoung diam lagi daripada kena omel Yugyeom

Sang suami yang berterima kasih langsung memapah istrinya keluar lalu menghampiri SPG yang berdiri dekat boothnya, 'Terima kasih, sampel susu ini bagus untuk rasa mual istriku, apa nama produknya?'

Sang SPG menatap lurus ke layar sambil mengangkat tinggi satu kardus ukuran sedang ke dadanya

'Produk terbaru khusus Ibu hamil, Moonlight!' ucapnya menutup iklan

Terlihat pasangan suami istri memborong banyak susu untuk dibawa kerumah sementara terdengar suara yang menjelaskan keunggulan produk tersebut

"Hooaa iklannya lucu dan mudah diingat" puji Yugyeom sambil menoleh ke arah Jinyoung, "Kau tidak mau coba susu itu juga hyung?" tawarnya

'Aku juga mencobanya kemarin' Jinyoung ingin sekali menjawab begitu tapi ia hanya berkata, "Kapan kapan saja, aku harus mengirit uang karena kau tahu kan aku diusir dari rumah, tidak mungkin aku meminta uang pada Ibuku lagi" suara Jinyoung mendadak muram membuat Yugyeom jadi tidak enak hati

"Mau pinjam dariku?" tawar Yugyeom yang langsung ditolak oleh Jinyoung, "Tidak! Kau sudah cukup baik memberiku tempat tinggal, jangan! Aku akan cari akal"

.

.

.

"Yeah cari akal kemana?" gerutu Jinyoung yang pagi itu kembali pergi menuju rumah sakit untuk periksa kandungan

Saat berjalan dipersimpangan, Jinyoung sibuk berpikir sendiri. Selama tinggal di apartement Yugyeom, Jinyoung bisa berhemat, tapi tidak mungkinkan ia tidak patungan jika sekedar membeli bahan makanan atau snack untuk Yugyeom, belum lagi biaya untuk periksa ke dokter dan juga ongkos ke kampus. Memikirkannya saja membuat Jinyoung menghela napas panjang

"Untung uang dari si-bodoh-Mark-Tuan belum habis, jadi bisa kupakai untuk cadangan" gumam Jinyoung kembali berjalan cepat

Sepanjang perempatan di Seoul—billboard dan papan jalan menunjukkan satu layar ungu muda dengan tulisan besar besar

'Moonlight'

"Yeah kau jadi terkenal sekali" puji Jinyoung sarkasme

Memang benar semenjak peluncurannya bersamaan dengan iklan yang ditonton Yugyeom dan Jinyoung, produk Moonlight meledak dipasaran

Bukan hanya karena menyusung nama besar JYP dibelakangnya sehingga untuk ukuran kualitas dapat di jamin namun juga karena produk itu benar benar terbukti bisa mengurangi mual mual pada trisemester pertama Ibu hamil

Sebenarnya… Jinyoung juga ingin membeli susu tersebut, apalagi mual mual yang ia alami sama menyesakkan tapi apa daya, melihat harganya di pasaran tidaklah murah, tidak ada yang murah menyangkut susu untuk Ibu hamil

Ada harga ada kualitas, bukankah prinsip itu ada benarnya?

Kadang Jinyoung menatap iri ketika melihat para calon Ibu beramai ramai membeli Moonlight saat ia ke supermarket bersama Yugyeom, Jinyoung cemburu karena mereka tampak bahagia… tidak stress seperti Jinyoung karena harus menghadapi pembuatan skripsi dalam keadaan hamil, tidak bisa pergi pagi pagi ke kampus karena morning sickness dan tidak harus memilih—ingin menyetak bab 1 atau menyisihkan uangnya untuk periksa ke dokter

Memikirkan semua itu membuat Jinyoung muram, tanpa sadar bibirnya berkata, "Andai saja aku tidak hamil—tidak! Aku tidak boleh berkata begitu! Jangan salahkan anak ini, dia tidak bersalah…" tangan Jinyoung otomatis bergerak mengelus perutnya lalu membelok ke depan pintu masuk rumah sakit

.

.

.

.

"Bagaimana keadaanmu Jinyoung-shi?" tanya Dokter Cho seperti biasa

'Aku nyaris tidak punya uang untuk periksa kehamilan dan membuat skripsi pada waktu bersamaan, ah jangan lupakan aku masih diusir dari rumah dan hidup dalam belas kasihan Yugyeom' ingin sekali Jinyoung berkata seperti itu tapi sebagai gantinya ia hanya tersenyum tipis sambil menganggukkan kepala

"Aku baik baik saja Dok"

Kyuhyun tak lantas percaya, "Jangan dibawa stress, saya tahu jika—" Ia berdeham pelan, "Kau disini orangtua tunggal, tapi apapun itu—anak ini adalah anugerah, percayalah kehadirannya akan membuatmu bahagia"

Dan tanpa kau sadari, kau adalah paman dari anakku Dokter Cho. Gumam Jinyoung dalam hati

"Aku pasti menjaganya Dok" jawab Jinyoung lugas

"Baguslah" Dokter Cho menuliskan beberapa hasil pemeriksaan termasuk pantangan makanan, "Supaya kau jangan terlalu mual pagi hari" katanya menjelaskan

Jinyoung meringis kecil, "Aku rasa tidak ada gunanya Dok, mualku masih sama"

Dokter Cho menyerahkan kembali buku saku ke tangan Jinyoung setelah ia menuliskan beberapa petunjuk, "Ingat yang terpenting, jangan—"

"Stress, yeah aku tahu, terima kasih Dok" Jinyoung bangkit berdiri, menyalami Dokter Kyuhyun lalu keluar dari ruangannya

Jinyoung menghela napas sekali lagi sambil berjalan di lorong rumah sakit

"Jinyoung"

Langkah Jinyoung terhenti, tidak mempercayai telinganya—Jinyoung menoleh ke belakang tepat pada sofa di depan ruang Dokter Cho, disana duduk sosok Mark berpakaian kemeja hitam rapi sambil berdiri menghampiri Jinyoung

"Hai" sapa Mark bersahabat

Jinyoung mendengus keras, "Enyahlah sebelum aku membunuhmu" usirnya malas berdebat, apalagi mau Mark sekarang

Mark meringis kecil, "Tampaknya kau sudah menonton iklan produkku"

Jinyoung menaikkan sebelah alis, "Produkmu?" tanyanya heran

"Iya, aku adalah kepala tim marketing untuk produk terbaru JYP—Moonlight, sampel yang kemarin kau minum—"

"Dan kau menjadikanku sebagai bahan iklan" sela Jinyoung sengit

Wajah Mark tampak bersalah tapi senyumnya tidak berubah, "Aku minta maaf, aku tahu seharusnya aku tetap meminta ijinmu meski yeah kejadian dalam iklan sedikit aku rekayasa" melihat tatapan mematikan Jinyoung membuat Mark langsung to the point, "Jadi begini, aku memutuskan andilmu dalam iklan tetap harus kuperhitungkan bagaimanapun juga—ini terimalah" Mark mengeluarkan selembar amplop dari belakang saku celananya lalu mengulurkannya ke depan Jinyoung

"Apa ini?"

"Honormu—anggap saja sebagai 'kekayaan intelektual'" canda Mark masih tersenyum lebar—dari sana Jinyoung bisa menebak kalau penjualan produk Moonlight sukses besar

Jinyoung menatap ragu amplop dari tangan Mark

"Terimalah, ini bukan karena belas kasihan, tapi upahmu" Tanpa menunggu reaksi Jinyoung, Mark menaruh amplop itu di tangan Jinyoung

Jinyoung tidak bisa berkata kata, baru semenit yang lalu ia mengkhawatirkan masalah bagaimana ia bisa terus konsultasi ke dokter, atau tentang skripsi dan masalah mengenai ibunya tapi sekarang—Mark datang membawa solusi mengenai kebutuhan Jinyoung seperti peri penyelamatnya

Dan dalam sekejap beban di pundak Jinyoung hilang seketika

"Kau masih sering mual?" pertanyaan selanjutnya dari Mark kembali membuat perhatian Jinyoung teralih

"Mwo?"

"Yeah, kalau kau mau—aku tidak menghinamu sedang hamil atau apa! Tidak!" Mark memasang sikap defensif, "Tapi kalau kau menginginkannya, aku bisa memberimu produk Moonlight secara gratis, anggap saja sebagai rasa terima kasihku"

Jinyoung menatap nanar Mark sebelum kembali memandangi amplop di tangannya, sangat ironis karena justru Mark—pria yang dikutuk setengah mati malah datang menyelamatkan Jinyoung

"Iya" bisik Jinyoung masih menundukkan kepala, "Jika boleh"

"Sangat boleh" Diraihnya ponsel android dari kantung celana kemudian mengetik beberapa pesan pada Bambam, "Alamat rumahmu dimana Jinyoung?"

Sebelum Jinyoung bisa berteriak kenapa, Mark buru buru menjelaskan, "Aku akan mengirimnya lewat kurir"

"Memang seberapa banyak ingin kau berikan?" balas Jinyoung sinis

"Ok kalau kau bisa bawa sendiri" tantang Mark balik sambil mengantungkan handphone kembali ke dalam saku, "Apa kau bawa mobil?"

"Tidak"

"Motor?"

Jinyoung menggeleng pelan yang membuat Mark menghela napas berat, "Beritahukan saja cepat, aku akan mengirimnya hari ini juga"

Setelah itu Jinyoung mengalah, ia mengucapkan alamat apartement Yugyeom yang dicatat Mark ke dalam handphonenya

"Done" Jari Mark memencet tombol send sebelum menengadah ke arah Jinyoung, "Aku akan mengirimkan secepatnya"

Tatapan Jinyoung melunak, tanpa disadari Jinyoung mengulas senyum tipis untuk Mark, "Terima kasih, sungguh—ini" Ia mengacungkan amplop pemberian Mark, "Sangat berharga bagiku"

"No problem, kau juga sudah membantuku" Mark balas tersenyum yang membuat Jinyoung kadang bertanya tanya bagaimana reaksi Mark jika ia memberitahukan tentang kehamilannya

Apakah pria berambut cokelat gelap ini akan marah? Shock? Atau gembira?

Yang terakhir tampaknya mustahil.

Jinyoung sibuk dengan pikiran sendiri ketika Mark menyentuh pundaknya, "Kau tidak mau pulang?" tanyanya yang membuat Jinyoung sempat mengumpat pelan

"Aishh aku lupa Yugyeom menungguku" Ia memukul jidatnya lalu melirik Mark sejenak, "Aku duluan dan sekali lagi terima kasih—"

"Siapa Yugyeom? Pacarmu?" sela Mark

"Sahabatku" Dimasukkan amplop ke dalam saku celana sehingga Jinyoung yang baru sadar dengan pertanyaan Mark balik bersikap sengit, "Memang apa urusanmu kalau dia pacarku?"

"Tidak ada" Dengan enteng Mark menaikkan bahunya, "Baguslah kalau kau punya pacar" tambahnya masih memasang wajah penuh senyuman

Untuk kesekian kali, Jinyoung melemparkan tatapan jengkel pada Mark karena ternyata Mark itu lebih bodoh dari yang ia kira

"Amit amit—anakku mengenal Appanya" bisik Jinyoung sambil mengusap lembut area perutnya

Tanpa mau repot repot pamit dengan Mark, Jinyoung kembali berjalan lurus ke depan—meninggalkan Mark di belakang

"Hei—aku juga ingin pulang" gumam Mark mengikuti jejak Jinyoung, sambil menatap siluet Jinyoung dari belakang, Mark jadi berpikir sendiri—ia tidak menyangka pria yang pernah berkencan dengannya bersikap sangat emosional, kadang marah, kadang menangis dan kadang bisa bersikap jinak

"Dasar aneh, seperti Ibu ibu hamil" ejek Mark sambil menghela napas lagi

Mereka berdua berjalan dalam diam hingga ke depan lobby rumah sakit, saat Jinyoung hendak keluar dari pintu, sebelah tangan Mark menahannya kembali, "Kau mau kuantar? Karena jika kupikir pikir, jalan kita searah" jelas Mark yang mengetahui alamat apartement Yugyeom barusan

Jinyoung memandangi wajah Mark—sebenarnya ia berharap sekali ini adalah pertemuan terakhir mereka, Jinyoung tidak ingin Mark terus menerus hadir karena dengan begitu, rahasia yang Jinyoung simpan bisa terbongkar

ZING. Ada sentakan mendadak pada ulu hati Jinyoung yang membuat rasa mualnya muncul, sedikit meringis kecil, Jinyoung mengangguk karena tidak ada pilihan lain, ia harus cepat cepat sampai rumah untuk beristirahat

"Ok" Mark berjalan menjauh ke arah petugas parkir valet sementara Jinyoung duduk di tempat tunggu—sesekali menarik napas panjang untuk menahan rasa mualnya yang tiba tiba membuat kepala Jinyoung berputar putar

"Tahankan Jinyoung—ayolah" Sugesti Jinyoung berhasil, rasa mual dalam perutnya sedikit berkurang bertepatan dengan Mark yang memanggilnya, "Jinyoung!"

"Ya ya sabar sedikit" Sedikit tertatih tatih dengan peluh mulai membasahi keningnya, Jinyoung masuk ke dalam mobil

Mark memberi sedikit tip pada petugas sebelum mengendarai mobil keluar dari area rumah sakit

Sepanjang perjalanan Jinyoung terdiam, ia menyandarkan kepalanya ke badan kursi dengan kepala luar biasa pusing dan rasa mual yang kembali muncul

DUG, Mobil Mark melewati polisi tidur

"Pelan pelan!" nada suara Jinyoung meninggi—nyaris membentak Mark, "Aku—huk—" Buru buru Jinyoung menutup bibirnya, Mark yang melihat itu langsung menatap Jinyoung cemas, "Kau mual lagi?"

"Menepi" kata Jinyoung susah payah di sela sela bibirnya yang ingin memuntahkan sesuatu

Untung kali ini Mark bertindak tanggap, mereka berhenti di pinggir jalan—dekat pepohonan masih tak jauh dari rumah sakit, tanpa membuang waktu Jinyoung langsung keluar kemudian memuntahkan seluruh isi perutnya di balik pohon

Mark berdiri dalam posisi serba salah, ia tidak tahu harus berbuat apa mendengar lenguhan Jinyoung yang terus menerus muntah tanpa berhenti

Jinyoung batuk batuk pelan sebelum kembali muntah, ia terisak kecil ingin berhenti namun bibirnya otomatis terus mengeluarkan makanan yang ia makan pagi tadi sampai tidak tersisa apa apa

Dengan sebelah tangan Jinyoung berusaha menghapus air mata sementara suaranya perlahan berubah terbatuk batuk

"Ini" Jinyoung menoleh dan mendapatkan Mark mengulurkan sapu tangannya kembali

Jinyoung memandangi sapu tangan dalam genggaman Mark, "Sudah pakailah" paksa Mark membuat Jinyoung memegang sapu tangan lalu mengelap area bibirnya

"Lalu.. ehem—kau butuh air?" tawar Mark menelan ludah susah payah, ia takut sekali bergerak gegabah karena seperti yang bisa diduga—Jinyoung kadang tidak menginginkan bantuannya

Jinyoung menggeleng lunglai, "Tapi… apa kau sekarang punya susu seperti kemarin? Mungkin dengan meminumnya mualku bisa hilang" pintanya sambil melirik Mark sungkan, ia banyak merepotkan Mark, sudah baik Mark mau mengantarnya pulang

Tapi ini kan gara gara dia! Sisi jahat Jinyoung mengambil alih, dilihatnya sekali lagi Mark yang tampak ragu namun dalam beberapa menit, pria itu berlari ke sisi mobil

"Ouchh!" kepala Mark membentur atap mobil sementara dari luar, Jinyoung tertawa pelan, "Rasakan" katanya menyupahi Mark

Untung di kursi belakang, satu kardus ukuran sedang bermerk Moonlight masih disimpan Mark, "Nah sekarang—" Dengan tergesa gesa, takut Jinyoung menunggu, diraihnya botol tumblr samping mobil dan sebotol air mineral yang selalu tersedia di dalam mobil

"4 sendok untuk 600 ml" dibaca petunjuk dari balik kemasan, "Tapi aku tidak punya sendok? Aishh sudahlah dikira kira saja" Mark menyobek bungkusan berwarna silver lalu menuangkan isinya lumayan banyak, melihat itu Mark meringis kecil, "Tsk! Dan sekarang air hang—aigoo kenapa membuat sesusah ini, aishhh" Dengan masa bodoh, Mark tetap menuangkan air mineral yang kemungkinan cenderung dingin karena disimpan terus menerus dalam mobil

Setelah selesai Mark menutup tumblr, mengocok kuat kemudian berlari keluar mobil

"Ini" Diserahkan botol tumblr pada Jinyoung yang memandang Mark skeptis

"Aku membuatnya sebisaku" bela Mark melihat tuduhan dalam tatapan Jinyoung

Tidak ada pilihan lain, Jinyoung membuka tutup botol lalu meminumnya sambil berdoa dalam hati karena dari jauh, Jinyoung bisa dengar kegaduhan Mark saat membuat susu, semoga Mark tidak memasukkan bahan aneh aneh

Ajaib, Jinyoung langsung menghabiskan susu buatan Mark tanpa bersisa dan sekarang raut wajah Jinyoung membaik, ia bisa bernapas lega begitu merasakan rasa menusuk dalam perutnya perlahan lahan menghilang

"Jauh lebih baik?" tanya Mark mengamati perubahan mimik Jinyoung

"Yeah"

Mark mengangguk sejenak, "Ayo kuantar kau pulang"

Mereka berdua masuk kembali ke dalam mobil, Jinyoung bersandar lebih nyaman setelah rasa mual hilang, ia menggumam sebentar lalu pelan pelan memejamkan kedua matanya

.

.

.

30 menit kemudian

.

"Nah kita sudah sampai" Dengan selamat, Mark memberhentikan mobil di depan pintu masuk apartement Yugyeom, "Jinyoung—" Suara Mark terputus begitu mendapati Jinyoung tidur lelap di kursinya, melihat itu Mark menghela napas lagi, "Hei bangun—Jinyoung!" tanpa perasaan, Mark malah berteriak kencang tepat di telinga Jinyoung

Bukan terganggu, Jinyoung malah melenguh pelan lalu menggulung tubuhnya miring ke samping

Mark menutup wajahnya—frustasi, "Dasar menyusahkan" gerutunya sebelum menarik napas lagi lalu tanpa ada pilihan lain, Mark menghidupkan mobilnya kembali bergerak menuju area parkir

TING TONG

"Sebentar hyung" Yugyeom mengetik baris proposal terakhir sebelum bangkit berdiri

TING TONG TING TONG

"Iya sabar" Yugyeom mempercepat langkah menuju pintu depan lalu membukanya lebar lebar, "Tumben kau la—ma" suaranya mendadak hilang melihat hyungnya—Jinyoung berada di balik punggung seorang namja yang menatapnya kelelahan, "Anda siapa?" tanya Yugyeom bernada formal

"Bisa kita masuk dulu?" sela Mark dengan wajah penuh keringat karena harus menggendong Jinyoung yang tidak mau bangun bangun meski Mark sudah mencoba segala cara, akhirnya dengan enggan dan nyaris malas, Mark menggendong Jinyoung di balik punggung hingga naik ke lantai atas apartement Yugyeom berada

"Boleh silahkan" Buru buru Yugyeom membuka pintu lebih lebar, membiarkan Mark masuk kemudian menghempaskan tubuh Jinyoung ke atas sofa di ruang tamu

"Huh dia berat juga" komentar Mark sebelum duduk di sebelah kaki Jinyoung

"Aku ambilkan minuman dingin" kata Yugyeom cepat tanggap

Mark mengulas senyum penuh terima kasih dan saat Yugyeom datang membawa segelas penuh, Mark dengan cepat menghabiskannya dalam satu tegukan

"Wah kau haus sekali" kata Yugyeom duduk di seberang sofa

"Hyungmu sangat berat" keluh Mark yang membuat tawa Yugyeom pecah

"Yeah dia memang berat" setuju Yugyeom tapi tak lama ia menatap wajah Mark seksama, "Kalau boleh tahu anda siapanya Jinyoung hyung?"

"Teman biasa—kami bertemu beberapa kali di rumah sakit" Mark tersenyum kecil sebelum membenarkan posisi duduknya lebih tegak, "Dia juga menginsiprasiku untuk bahan iklan"

"Wow daebak—aku tidak tahu Jinyoung hyung punya kenalan orang ternama" puji Yugyeom terkagum kagum, "Ngomong ngomong apa nama produkmu?"

"Moonlight" jawab Mark secara otomatis bibirnya bergerak membentuk senyum lebar, ia sekarang tampak seperti seorang Ayah yang bangga memperkenalkan anaknya

"Bukankah produkmu laris sekali dipasaran! Hyung ingin sekali membelinya tapi sayang harga produkmu sangat mahal" tambah Yugyeom bicara terus terang untung saja dia tidak keceplosan menyebut mengenai kehamilan Jinyoung

Mark melirik wajah Jinyoung yang tampak damai dan tak berdosa—beda dengan Jinyoung yang suka marah marah terhadapnya, "Tenang saja sebagai honor karena sudah membantuku, selain uang aku akan mengirimkan beberapa dus Moonlight untuk hyungmu" penjelasan Mark sontak membuat tatapan mata Yugyeom berbinar binar penuh hormat

Yugyeom sendiri tahu bagaimana kondisi keuangan Jinyoung jadi bukankah bantuan Mark datang di saat yang tepat

"Terima kasih kau sudah banyak membantu hyungku" Yugyeom menunduk kecil yang membuat Mark agak tidak enak

"Tidak usah berterima kasih, dia juga sudah membantuku—kami impas sekarang"

"Oh ya maaf aku tidak menanyakannya dari tadi, tapi—siapakah nama anda?" tanya Yugyeom sopan

"Mark Tuan" jawab Mark sambil merapikan kemejanya yang sedikit kusut, ia tidak lihat bagaimana perubahan wajah Yugyeom yang menggelap

MARK TUAN?!

.

.

.

TBC

.

.

Huaaa ngga nyangka banyak yang komen T_T, padahal saya tahu pairing Markjin GOT7 kurang peminatnya, dan saya berharap hanya 10 orang yang komen saja, saya sudah senang T_T

Ini 26 orang, hiks kalian baik banget *peluk satu satu*

Anyway, ini adalah chapter keduanya, bagaimana pendapat kalian? Jangan lupa tinggalkan komentar lagi ya

.

.

With love,

Arisa